25 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekelumit Catatan SPMB SMK 2025, Antara Gengsi, Ketidaktahuan, dan Anomali Minat Jurusan

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
July 24, 2025
in Khas
Sekelumit Catatan SPMB SMK 2025, Antara Gengsi, Ketidaktahuan, dan Anomali Minat Jurusan

Suasana Lapor Diri/Dok. SMKN 1 Petang

MUSIM Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 kembali menyapa dunia pendidikan kita. SPMB seolah menjadi siklus tahunan yang menggairahkan, namun sekaligus penuh ironi dan anomali. Ribuan siswa SMP dan sederajat berlomba menentukan pilihan sekolah dan jurusan yang akan menjadi jalan hidup mereka. Namun benarkah semuanya paham betul akan apa yang sedang mereka pilih?

Tidak terkecuali dalam pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk jenjang SMK. Di balik gegap gempita semangat masuk sekolah kejuruan, terselip problematika sistemik yang patut menjadi catatan kritis. Apakah itu? Ya, pemilihan jurusan yang sepi peminat, jurusan yang justru melonjak tanpa logika industri terkini, serta pengambilan keputusan oleh siswa yang kerap hanya berdasarkan gengsi atau ajakan teman.

Salah satu keanehan paling mencolok adalah fenomena anomali jurusan Hospitality. Di tengah melesunya sektor pariwisata Bali pascapandemi Covid 19 dan menurunnya permintaan tenaga kerja hotel secara nyata, jurusan Perhotelan masih menjadi primadona pilihan siswa. Bahkan, sekolah-sekolah yang baru saja membuka jurusan ini langsung dibanjiri peminat—meskipun belum memiliki sarana praktik lengkap, apalagi guru yang memadai ataupun relasi DUDI yang kuat. Fakta ini menggelitik dan mengusik akal sehat. Mengapa jurusan yang infrastruktur dan SDM-nya masih minim bisa begitu menarik di mata calon siswa?

Jawabannya mungkin ada pada imajinasi glamor yang melekat pada dunia pariwisata, bahwa dunia pariwisata itu bersih, berbau harum, seragam rapi, dan (katanya) cepat menghasilkan dollar. Sebuah fantasi yang tentu saja membuat lulusan SMP sangat tergiur. Fantasi yang ditawarkan lewat media sosial dan narasi gaya hidup yang glamor. Namun kenyataannya, belum mutlak sesuai dengan realitas dunia kerja. Sementara itu, jurusan-jurusan seperti Agribisnis Tanaman, Peternakan, dan Perikanan—yang sejatinya sangat potensial dalam mendukung kemandirian pangan dan ketahanan ekonomi Bali—justru minim peminat. Ini merupakan sinyal bahaya bagi masa depan pertanian dan keberlanjutan pulau ini.

Boleh dikatakan, setiap tahun ajaran baru, pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMK di Provinsi Bali menjadi medan pertarungan senyap antar satuan pendidikan kejuruan. Tahun 2025 tidak terkecuali. Data terbaru dari dashboard Dinas Pendidikan menunjukkan ketimpangan yang mencolok antara jurusan-jurusan favorit dan jurusan yang sepi peminat. Bahkan beberapa kompetensi keahlian seperti Agribisnis Tanaman, Agribisnis Ternak, dan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan seolah kehilangan daya tariknya. Sementara itu, jurusan Perhotelan dan Tata Boga justru dibanjiri pendaftar meski sarana, prasarana, bahkan gurunya masih belum lengkap.

Sekali lagi, ini sebuah anomali. Jurusan-jurusan agribisnis yang jelas-jelas menjadi tulang punggung ketahanan pangan dan masa depan ekologi Bali justru makin terpinggirkan. Pada hal, banyak hotel dan restoran kelas dunia saat ini justru membutuhkan tenaga kerja yang paham pertanian organik, florikultura, peternakan berkelanjutan, dan pengolahan hasil pangan lokal. Apakah ini tidak terbaca oleh para calon siswa dan orang tua?

Fenomena ini juga diperparah oleh rendahnya pemahaman siswa terhadap pilihan jurusan. Banyak siswa meng-klik dua sampai tiga jurusan tanpa mengetahui dengan benar apa yang mereka pilih. Bahkan ada yang asal pilih sekolah hanya karena nama atau popularitasnya, tanpa mempertimbangkan jarak dan aksesibilitasnya. Ini jelas bukan keputusan berbasis bakat, minat, dan kemampuan, melainkan karena ikut-ikutan teman karib semasa SMP. Fenomena “asal bersama teman” ini justru memperbesar risiko salah jurusan, salah asuhan, dan pada akhirnya salah jalan hidup.

Belum lagi soal bagaimana SPMB menjadi semacam ajang “pamer performa” sekolah. Setiap sekolah, negeri maupun swasta, berlomba-lomba menampilkan citra terbaiknya. Mereka aktif melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah asal, memproduksi konten visual dan narasi yang menarik, bahkan menggaet alumni sukses sebagai role model. Namun, keputusan akhir tetap ada di tangan siswa dan orang tua. Tanpa literasi karier yang kuat, semua promosi itu bisa justru memperparah kebingungan.

Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi sistemik. Literasi karier harus dimasukkan sejak dini dalam kurikulum SMP. Para guru Bimbingan Konseling misalnya, tidak boleh bekerja sendirian. Perlu sinergi antar Dinas Pendidikan, sekolah asal, dan sekolah tujuan agar siswa mendapatkan informasi yang utuh. Pendampingan pemilihan jurusan harus berbasis data psikologis, minat, dan proyeksi masa depan, bukan sekadar ikut arus.

Selain itu, citra pertanian, peternakan, dan perikanan harus diperbaiki. Jangan lagi dilabeli sebagai dunia “kotor dan miskin”. Sebenarnya sudah banyak alumni SMK bidang agribisnis yang sukses sebagai entrepreneur, eksportir tanaman hias, hingga influencer edukatif berbasis pertanian di media sosial. Bahkan, dengan sentuhan teknologi, sektor agribisnis menjadi seksi dan strategis untuk generasi muda.

Jika pola rekrutmen siswa hanya berpijak pada popularitas jurusan, bukan pada relevansi kebutuhan daerah dan daya saing global, maka pendidikan vokasi kehilangan arah. SMK bukan tempat mengejar mimpi glamor semata, melainkan ruang tumbuh untuk mewujudkan Indonesia sebagai kekuatan industri, pangan, dan teknologi masa depan.

Data dari Dashboard Dinas Pendidikan Provinsi Bali Tahun 2025 menunjukkan bahwa jurusan agribisnis hanya menempati kurang dari 10% dari total pilihan jurusan yang dipilih oleh calon siswa. Bahkan di kabupaten-kabupaten penyangga yang memiliki potensi pertanian tinggi, jurusan pertanian justru dilirik sebelah mata.

Fenomena ini semakin pelik saat dikaitkan dengan mekanisme sistem pemilihan jurusan yang bersifat digital dan terbuka. Banyak siswa yang memilih jurusan karena mengikuti pilihan teman atau sekadar ingin “coba-coba” alias “iseng”. Mereka memilih 2–3 jurusan tanpa pemahaman memadai akan bidang tersebut. Bukan hanya itu, mereka bahkan mendaftar ke sekolah yang secara geografis sangat jauh dari tempat tinggal mereka—sehingga kemungkinan untuk benar-benar bersekolah di sana sangat kecil. Pilihan ini bukan hanya membingungkan tetapi juga membuang potensi kuota sekolah dan menyulitkan pemetaan kebutuhan sarana belajar oleh Dinas.

Kondisi ini benar-benar menunjukkan bahwa literasi karier siswa SMP terhadap dunia vokasi masih sangat perlu untuk ditingkatkan. Mungkin saja, sosialisasi dan career guidance masih bersifat formalistik dan belum menyentuh pemahaman mendalam tentang dunia kerja berbasis kejuruan. Akibatnya, banyak siswa memilih jurusan hanya berdasarkan ikut-ikutan teman atau karena terdengar keren, tanpa mempertimbangkan minat, bakat, kemampuan dan prospek jangka panjangnya.

Sebenarnya, banyak lulusan SMK pertanian, perikanan dan peternakan sebenarnya sangat dibutuhkan industri, termasuk sektor pariwisata. Hotel-hotel kini mulai mencari tenaga kerja yang paham hidroponik, pertanian organik, landscape gardening, hingga pengelolaan limbah berbasis kompos. Konsep hotel eco-friendly bahkan menjamur dan mencari lulusan SMK bidang pertanian dan lingkungan hidup. Demikian juga sektor perhotelan berbasis farm-to-table, sangat mengandalkan lulusan agribisnis dan peternakan.

Oleh karena itu, perlu ada strategi sistemik yang solutif. Pertama, Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan wajib memperkuat sistem bimbingan karier sejak jenjang SMP. Kedua, perlu keterlibatan nyata dunia usaha dan industri (DUDI) untuk mempromosikan prospek cerah jurusan agribisnis, perikanan, dan peternakan secara konkret, bukan sekadar narasi. Ketiga, sekolah vokasi perlu membangun narasi baru yang mengangkat harga diri petani modern—yang melek teknologi, berdaya saing, dan berorientasi ekspor.

Jika hal ini tidak segera ditangani, maka bagi sebagian siswa,  SPMB hanya akan menjadi ajang coba-coba, bukan pilihan pendidikan yang strategis dan berkelanjutan. Dunia pendidikan vokasi akan terjebak dalam ilusi glamor yang menyesatkan, sementara sektor pangan dan ketahanan ekonomi yang sudah pasti dibutuhkan, akan terus kehilangan generasi penerusnya.

Saatnya menyelamatkan sektor strategis dengan narasi yang kuat dan sistem yang berpihak. Pendidikan vokasi bukan soal ikut-ikutan, tetapi tentang masa depan. Perlu akarnya diperkuat agar batang dan rantingnya juga kuat untuk menghasilkan buah yang manis dan menarik bagi kehidupan pendidikan vokasi itu sendiri. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I WAYAN YUDANA

SMKN 1 Petang: Dari Lahan Sekolah, Mencetak Generasi Muda Cinta Pertanian
Padupadan Pariwisata dan Pertanian di SMKN 1 Petang: Membangun Masa Depan Berkelanjutan
Mengelola Pertanian di Sela Riuh Pariwisata — Catatan Perjuangan dari SMKN 1 Petang
Belajar dari SMK Fest:  Ruang Kontemplatif untuk Merefleksikan Arah Pendidikan Vokasi di Bali
Tags: PendidikanSMKN 1 Petang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Next Post

Parade Lagu Pop Bali di Festival Seni Bali Jani 2025: Nada-nada yang Bertutur

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

Read moreDetails

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

Read moreDetails

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

Read moreDetails

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

Read moreDetails

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
0
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

Read moreDetails

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
0
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

Read moreDetails

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
0
Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

LOMBA Menyanyi Lagu Pop Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berlangsung bak "perang bintang". Hampir seluruh...

Read moreDetails
Next Post
Parade Lagu Pop Bali di Festival Seni Bali Jani 2025: Nada-nada yang Bertutur

Parade Lagu Pop Bali di Festival Seni Bali Jani 2025: Nada-nada yang Bertutur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”
Khas

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co