25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
in Cerpen
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis batu bata merah, bangunan kolonial dengan cat mengelupas, dan deretan pohon trembesi yang menaungi trotoar. Angin di kota itu selalu bergerak pelan, seolah menghormati usia tua bangunan dan warganya.

Di sebuah gang kecil dekat alun-alun, berdiri rumah tua milik Raka, lelaki berusia lima puluh lima tahun yang hidup seorang diri. Pagi harinya ia menyapu halaman, merawat bonsai, dan menyalakan radio tua peninggalan istrinya yang telah tiada. Kadang, saat senja jatuh, ia duduk di depan jendela sambil memutar piringan hitam One Year of Love.

Baginya, lagu itu bukan sekadar musik. Ada bagian hidupnya yang ikut bergetar setiap kali suara Freddie Mercury mengisi ruang tamu. Lagu itu mengingatkan bahwa cinta pernah membuat hidupnya terisi, dan betapa hampa empat tahun terakhir tanpanya.

Hingga suatu sore, ketika hujan turun lembut, seorang perempuan mengetuk pintunya. Ketukan yang mengubah sisa hidupnya.

Tok. Tok. Tok.

Raka mendekat dan membuka pintu.

“Assalamualaikum… Pak Raka masih ingat saya?”

Perempuan itu tersenyum. Matanya jernih namun memuat kerinduan panjang. Rambutnya beruban sedikit, namun tampak anggun.

“Dewi?” Raka tersenyum pelan, hampir tak percaya.

Dewi, teman masa mudanya di sanggar seni Karengan, berdiri dengan payung lipat yang meneteskan sisa hujan.

“Boleh saya masuk? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.”

Dan sore itu menjadi titik awal dari cerita yang perlahan menyalakan kembali hati yang lama padam.

***

Dewi datang membawa sebuah koper kecil berisi foto-foto lama sanggar seni: pentas tari tahun 1986, festival budaya kali pertama, dan gambar mereka berdua saat remaja, tersenyum canggung di halaman sanggar.

“Kita sedang buat buku kenangan untuk reuni akbar,” katanya. “Saya… terpikir untuk meminta bantuanmu memilih foto. Kau yang paling teliti.”

Raka memandang foto-foto itu. Usia muda mereka terlihat seperti milik dua orang lain: penuh cahaya, penuh harapan.

Hujan di luar berubah menjadi rintik lebih pelan, dan cahaya sore membias melalui jendela, menyoroti wajah Dewi. Entah mengapa, hati Raka bergetar pelan, sensasi yang ia kira sudah hilang selamanya.

Mereka duduk berdampingan di ruang tamu, membolak-balik foto sambil tertawa kecil, mengingat masa ketika hidup begitu ringan dan masa depan terasa panjang.

Dewi berkata sambil memandang sebuah foto lama, “Aku selalu mengingatmu sebagai lelaki yang penyendiri, tapi… hangat.”

Raka tersenyum. “Kau selalu mengingat yang baiknya saja.”

“Karena yang baik itu yang paling melekat.”
Jawaban itu membuat hati Raka diam-diam bergetar.

Sore merangkak menjadi malam. Tanpa direncanakan, mereka menghabiskan waktu berjam-jam seperti dua orang yang menemukan kembali sesuatu yang pernah terselip di masa muda.

***

Setelah kunjungan pertama itu, Dewi mulai sering datang ke rumah Raka. Kadang membawa onde-onde pasar pagi. Kadang membawa bunga kamboja yang ia temukan jatuh di trotoar.
Kadang hanya membawa cerita tentang kursus tari kecil yang ia buka.

Setiap kedatangan Dewi membuat ruang tamu Raka terasa lebih hidup. Bahkan radio tua pun seperti memutar lagu-lagu yang lebih ceria. Di balik itu, ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka: perasaan hangat, kerinduan yang tidak diumumkan, dan kesediaan saling mendengarkan.

Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak seperti remaja. Cinta itu menetes pelan, seperti hujan Karengan yang tidak pernah tergesa. Namun tiap tetesnya menyentuh hingga ke tempat paling sunyi dalam hati.

Suatu malam, setelah makan malam sederhana, Raka memutar lagu One Year of Love. Nafas Dewi melambat seiring alunan musik.

“Indah ya,” ucap Dewi. “Lagunya bicara seperti… cinta itu tidak butuh panjang umur. Butuh kedalaman.”

Raka menatapnya. “Kau percaya itu?”

Dewi tersenyum samar, menunduk. “Semakin tua, semakin mengerti.”

Hening yang membungkus mereka bukanlah canggung, tapi seperti selimut hangat di malam dingin.

***

Dalam setahun sejak kunjungan pertama itu, hubungan mereka tumbuh seperti cahaya lilin: tidak besar, tapi cukup untuk menerangi hari-hari yang pernah kelam. Mereka berjalan bersama di jalanan kota tua Karengan: melewati jembatan kayu yang memanjang di atas sungai kecil, berkunjung ke kedai kopi tua di dekat stasiun, duduk di bangku alun-alun sambil menatap bebek-bebek taman, sesekali melihat anak-anak memainkan layang-layang di tepi sawah.

Cinta di usia matang memang tidak membutuhkan banyak kata. Ketika Dewi memijat pelan pundak Raka yang pegal, ketika Raka menyiapkan selimut ekstra untuk Dewi, ketika mereka saling menatap lama tanpa suara,  itu adalah bahasa cinta yang sudah dewasa.

Suatu malam, di bawah lampu tunggul jalan, Dewi berkata lirih:

“Raka, aku sudah lama tidak merasa… diperhatikan seperti ini.”

Raka tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Dewi lebih erat. Di usia mereka, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

***

Pada peringatan setahun kebersamaan mereka, Raka mengajak Dewi ke bangunan sanggar seni lama, tempat mereka dulu belajar tari, membaca puisi, dan bertengkar kecil tentang siapa yang lebih berbakat.

Bangunannya sudah miring, dindingnya retak, tetapi dalam keretakan itulah kenangan terasa paling hidup. Di ruangan yang dulu digunakan untuk latihan tari, Raka mengambil napas panjang.

“Dewi…,” suaranya hampir goyah. “Aku mungkin tidak punya banyak masa depan untuk ditawarkan. Tapi aku ingin menghabiskan sisa hari-hari tenang ini bersamamu.”

Dewi menatapnya lama. Cahaya senja memantul di matanya.

“Raka,” katanya dengan suara pelan, “aku tidak butuh masa depan yang panjang… aku butuh seseorang yang membuat sisa hidupku lebih lembut.”

Ia meraih tangan Raka. “Dan itu kamu.”

Raka memejamkan mata, hampir tidak percaya bahwa setelah bertahun-tahun melawan sunyi, ia kembali diberi kesempatan mencinta. Di ruangan tua itu, mereka berpelukan, bukan seperti dua tubuh yang mencari gairah, tapi seperti dua jiwa yang akhirnya menemukan rumahnya.

***

Tahun berganti, dan Karengan tetap menjadi kota tua kecil dengan trembesi yang menaungi jalanan. Namun bagi Raka dan Dewi, kota itu menjadi saksi bahwa cinta tidak mengenal umur.

Dalam setiap pagi yang mereka habiskan bersama, dalam setiap cangkir teh hangat, dalam setiap langkah pelan di alun-alun, terdapat satu kenyataan sederhana:

Bahwa satu tahun cinta yang tulus lebih berharga daripada seumur hidup kesepian.

Dan seperti lirik lagu itu:One year of love is better than a lifetime alone. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Next Post

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co