25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
in Cerpen
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis batu bata merah, bangunan kolonial dengan cat mengelupas, dan deretan pohon trembesi yang menaungi trotoar. Angin di kota itu selalu bergerak pelan, seolah menghormati usia tua bangunan dan warganya.

Di sebuah gang kecil dekat alun-alun, berdiri rumah tua milik Raka, lelaki berusia lima puluh lima tahun yang hidup seorang diri. Pagi harinya ia menyapu halaman, merawat bonsai, dan menyalakan radio tua peninggalan istrinya yang telah tiada. Kadang, saat senja jatuh, ia duduk di depan jendela sambil memutar piringan hitam One Year of Love.

Baginya, lagu itu bukan sekadar musik. Ada bagian hidupnya yang ikut bergetar setiap kali suara Freddie Mercury mengisi ruang tamu. Lagu itu mengingatkan bahwa cinta pernah membuat hidupnya terisi, dan betapa hampa empat tahun terakhir tanpanya.

Hingga suatu sore, ketika hujan turun lembut, seorang perempuan mengetuk pintunya. Ketukan yang mengubah sisa hidupnya.

Tok. Tok. Tok.

Raka mendekat dan membuka pintu.

“Assalamualaikum… Pak Raka masih ingat saya?”

Perempuan itu tersenyum. Matanya jernih namun memuat kerinduan panjang. Rambutnya beruban sedikit, namun tampak anggun.

“Dewi?” Raka tersenyum pelan, hampir tak percaya.

Dewi, teman masa mudanya di sanggar seni Karengan, berdiri dengan payung lipat yang meneteskan sisa hujan.

“Boleh saya masuk? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.”

Dan sore itu menjadi titik awal dari cerita yang perlahan menyalakan kembali hati yang lama padam.

***

Dewi datang membawa sebuah koper kecil berisi foto-foto lama sanggar seni: pentas tari tahun 1986, festival budaya kali pertama, dan gambar mereka berdua saat remaja, tersenyum canggung di halaman sanggar.

“Kita sedang buat buku kenangan untuk reuni akbar,” katanya. “Saya… terpikir untuk meminta bantuanmu memilih foto. Kau yang paling teliti.”

Raka memandang foto-foto itu. Usia muda mereka terlihat seperti milik dua orang lain: penuh cahaya, penuh harapan.

Hujan di luar berubah menjadi rintik lebih pelan, dan cahaya sore membias melalui jendela, menyoroti wajah Dewi. Entah mengapa, hati Raka bergetar pelan, sensasi yang ia kira sudah hilang selamanya.

Mereka duduk berdampingan di ruang tamu, membolak-balik foto sambil tertawa kecil, mengingat masa ketika hidup begitu ringan dan masa depan terasa panjang.

Dewi berkata sambil memandang sebuah foto lama, “Aku selalu mengingatmu sebagai lelaki yang penyendiri, tapi… hangat.”

Raka tersenyum. “Kau selalu mengingat yang baiknya saja.”

“Karena yang baik itu yang paling melekat.”
Jawaban itu membuat hati Raka diam-diam bergetar.

Sore merangkak menjadi malam. Tanpa direncanakan, mereka menghabiskan waktu berjam-jam seperti dua orang yang menemukan kembali sesuatu yang pernah terselip di masa muda.

***

Setelah kunjungan pertama itu, Dewi mulai sering datang ke rumah Raka. Kadang membawa onde-onde pasar pagi. Kadang membawa bunga kamboja yang ia temukan jatuh di trotoar.
Kadang hanya membawa cerita tentang kursus tari kecil yang ia buka.

Setiap kedatangan Dewi membuat ruang tamu Raka terasa lebih hidup. Bahkan radio tua pun seperti memutar lagu-lagu yang lebih ceria. Di balik itu, ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka: perasaan hangat, kerinduan yang tidak diumumkan, dan kesediaan saling mendengarkan.

Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak seperti remaja. Cinta itu menetes pelan, seperti hujan Karengan yang tidak pernah tergesa. Namun tiap tetesnya menyentuh hingga ke tempat paling sunyi dalam hati.

Suatu malam, setelah makan malam sederhana, Raka memutar lagu One Year of Love. Nafas Dewi melambat seiring alunan musik.

“Indah ya,” ucap Dewi. “Lagunya bicara seperti… cinta itu tidak butuh panjang umur. Butuh kedalaman.”

Raka menatapnya. “Kau percaya itu?”

Dewi tersenyum samar, menunduk. “Semakin tua, semakin mengerti.”

Hening yang membungkus mereka bukanlah canggung, tapi seperti selimut hangat di malam dingin.

***

Dalam setahun sejak kunjungan pertama itu, hubungan mereka tumbuh seperti cahaya lilin: tidak besar, tapi cukup untuk menerangi hari-hari yang pernah kelam. Mereka berjalan bersama di jalanan kota tua Karengan: melewati jembatan kayu yang memanjang di atas sungai kecil, berkunjung ke kedai kopi tua di dekat stasiun, duduk di bangku alun-alun sambil menatap bebek-bebek taman, sesekali melihat anak-anak memainkan layang-layang di tepi sawah.

Cinta di usia matang memang tidak membutuhkan banyak kata. Ketika Dewi memijat pelan pundak Raka yang pegal, ketika Raka menyiapkan selimut ekstra untuk Dewi, ketika mereka saling menatap lama tanpa suara,  itu adalah bahasa cinta yang sudah dewasa.

Suatu malam, di bawah lampu tunggul jalan, Dewi berkata lirih:

“Raka, aku sudah lama tidak merasa… diperhatikan seperti ini.”

Raka tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Dewi lebih erat. Di usia mereka, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

***

Pada peringatan setahun kebersamaan mereka, Raka mengajak Dewi ke bangunan sanggar seni lama, tempat mereka dulu belajar tari, membaca puisi, dan bertengkar kecil tentang siapa yang lebih berbakat.

Bangunannya sudah miring, dindingnya retak, tetapi dalam keretakan itulah kenangan terasa paling hidup. Di ruangan yang dulu digunakan untuk latihan tari, Raka mengambil napas panjang.

“Dewi…,” suaranya hampir goyah. “Aku mungkin tidak punya banyak masa depan untuk ditawarkan. Tapi aku ingin menghabiskan sisa hari-hari tenang ini bersamamu.”

Dewi menatapnya lama. Cahaya senja memantul di matanya.

“Raka,” katanya dengan suara pelan, “aku tidak butuh masa depan yang panjang… aku butuh seseorang yang membuat sisa hidupku lebih lembut.”

Ia meraih tangan Raka. “Dan itu kamu.”

Raka memejamkan mata, hampir tidak percaya bahwa setelah bertahun-tahun melawan sunyi, ia kembali diberi kesempatan mencinta. Di ruangan tua itu, mereka berpelukan, bukan seperti dua tubuh yang mencari gairah, tapi seperti dua jiwa yang akhirnya menemukan rumahnya.

***

Tahun berganti, dan Karengan tetap menjadi kota tua kecil dengan trembesi yang menaungi jalanan. Namun bagi Raka dan Dewi, kota itu menjadi saksi bahwa cinta tidak mengenal umur.

Dalam setiap pagi yang mereka habiskan bersama, dalam setiap cangkir teh hangat, dalam setiap langkah pelan di alun-alun, terdapat satu kenyataan sederhana:

Bahwa satu tahun cinta yang tulus lebih berharga daripada seumur hidup kesepian.

Dan seperti lirik lagu itu:One year of love is better than a lifetime alone. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Next Post

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co