15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
in Cerpen
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis batu bata merah, bangunan kolonial dengan cat mengelupas, dan deretan pohon trembesi yang menaungi trotoar. Angin di kota itu selalu bergerak pelan, seolah menghormati usia tua bangunan dan warganya.

Di sebuah gang kecil dekat alun-alun, berdiri rumah tua milik Raka, lelaki berusia lima puluh lima tahun yang hidup seorang diri. Pagi harinya ia menyapu halaman, merawat bonsai, dan menyalakan radio tua peninggalan istrinya yang telah tiada. Kadang, saat senja jatuh, ia duduk di depan jendela sambil memutar piringan hitam One Year of Love.

Baginya, lagu itu bukan sekadar musik. Ada bagian hidupnya yang ikut bergetar setiap kali suara Freddie Mercury mengisi ruang tamu. Lagu itu mengingatkan bahwa cinta pernah membuat hidupnya terisi, dan betapa hampa empat tahun terakhir tanpanya.

Hingga suatu sore, ketika hujan turun lembut, seorang perempuan mengetuk pintunya. Ketukan yang mengubah sisa hidupnya.

Tok. Tok. Tok.

Raka mendekat dan membuka pintu.

“Assalamualaikum… Pak Raka masih ingat saya?”

Perempuan itu tersenyum. Matanya jernih namun memuat kerinduan panjang. Rambutnya beruban sedikit, namun tampak anggun.

“Dewi?” Raka tersenyum pelan, hampir tak percaya.

Dewi, teman masa mudanya di sanggar seni Karengan, berdiri dengan payung lipat yang meneteskan sisa hujan.

“Boleh saya masuk? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.”

Dan sore itu menjadi titik awal dari cerita yang perlahan menyalakan kembali hati yang lama padam.

***

Dewi datang membawa sebuah koper kecil berisi foto-foto lama sanggar seni: pentas tari tahun 1986, festival budaya kali pertama, dan gambar mereka berdua saat remaja, tersenyum canggung di halaman sanggar.

“Kita sedang buat buku kenangan untuk reuni akbar,” katanya. “Saya… terpikir untuk meminta bantuanmu memilih foto. Kau yang paling teliti.”

Raka memandang foto-foto itu. Usia muda mereka terlihat seperti milik dua orang lain: penuh cahaya, penuh harapan.

Hujan di luar berubah menjadi rintik lebih pelan, dan cahaya sore membias melalui jendela, menyoroti wajah Dewi. Entah mengapa, hati Raka bergetar pelan, sensasi yang ia kira sudah hilang selamanya.

Mereka duduk berdampingan di ruang tamu, membolak-balik foto sambil tertawa kecil, mengingat masa ketika hidup begitu ringan dan masa depan terasa panjang.

Dewi berkata sambil memandang sebuah foto lama, “Aku selalu mengingatmu sebagai lelaki yang penyendiri, tapi… hangat.”

Raka tersenyum. “Kau selalu mengingat yang baiknya saja.”

“Karena yang baik itu yang paling melekat.”
Jawaban itu membuat hati Raka diam-diam bergetar.

Sore merangkak menjadi malam. Tanpa direncanakan, mereka menghabiskan waktu berjam-jam seperti dua orang yang menemukan kembali sesuatu yang pernah terselip di masa muda.

***

Setelah kunjungan pertama itu, Dewi mulai sering datang ke rumah Raka. Kadang membawa onde-onde pasar pagi. Kadang membawa bunga kamboja yang ia temukan jatuh di trotoar.
Kadang hanya membawa cerita tentang kursus tari kecil yang ia buka.

Setiap kedatangan Dewi membuat ruang tamu Raka terasa lebih hidup. Bahkan radio tua pun seperti memutar lagu-lagu yang lebih ceria. Di balik itu, ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka: perasaan hangat, kerinduan yang tidak diumumkan, dan kesediaan saling mendengarkan.

Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak seperti remaja. Cinta itu menetes pelan, seperti hujan Karengan yang tidak pernah tergesa. Namun tiap tetesnya menyentuh hingga ke tempat paling sunyi dalam hati.

Suatu malam, setelah makan malam sederhana, Raka memutar lagu One Year of Love. Nafas Dewi melambat seiring alunan musik.

“Indah ya,” ucap Dewi. “Lagunya bicara seperti… cinta itu tidak butuh panjang umur. Butuh kedalaman.”

Raka menatapnya. “Kau percaya itu?”

Dewi tersenyum samar, menunduk. “Semakin tua, semakin mengerti.”

Hening yang membungkus mereka bukanlah canggung, tapi seperti selimut hangat di malam dingin.

***

Dalam setahun sejak kunjungan pertama itu, hubungan mereka tumbuh seperti cahaya lilin: tidak besar, tapi cukup untuk menerangi hari-hari yang pernah kelam. Mereka berjalan bersama di jalanan kota tua Karengan: melewati jembatan kayu yang memanjang di atas sungai kecil, berkunjung ke kedai kopi tua di dekat stasiun, duduk di bangku alun-alun sambil menatap bebek-bebek taman, sesekali melihat anak-anak memainkan layang-layang di tepi sawah.

Cinta di usia matang memang tidak membutuhkan banyak kata. Ketika Dewi memijat pelan pundak Raka yang pegal, ketika Raka menyiapkan selimut ekstra untuk Dewi, ketika mereka saling menatap lama tanpa suara,  itu adalah bahasa cinta yang sudah dewasa.

Suatu malam, di bawah lampu tunggul jalan, Dewi berkata lirih:

“Raka, aku sudah lama tidak merasa… diperhatikan seperti ini.”

Raka tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Dewi lebih erat. Di usia mereka, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

***

Pada peringatan setahun kebersamaan mereka, Raka mengajak Dewi ke bangunan sanggar seni lama, tempat mereka dulu belajar tari, membaca puisi, dan bertengkar kecil tentang siapa yang lebih berbakat.

Bangunannya sudah miring, dindingnya retak, tetapi dalam keretakan itulah kenangan terasa paling hidup. Di ruangan yang dulu digunakan untuk latihan tari, Raka mengambil napas panjang.

“Dewi…,” suaranya hampir goyah. “Aku mungkin tidak punya banyak masa depan untuk ditawarkan. Tapi aku ingin menghabiskan sisa hari-hari tenang ini bersamamu.”

Dewi menatapnya lama. Cahaya senja memantul di matanya.

“Raka,” katanya dengan suara pelan, “aku tidak butuh masa depan yang panjang… aku butuh seseorang yang membuat sisa hidupku lebih lembut.”

Ia meraih tangan Raka. “Dan itu kamu.”

Raka memejamkan mata, hampir tidak percaya bahwa setelah bertahun-tahun melawan sunyi, ia kembali diberi kesempatan mencinta. Di ruangan tua itu, mereka berpelukan, bukan seperti dua tubuh yang mencari gairah, tapi seperti dua jiwa yang akhirnya menemukan rumahnya.

***

Tahun berganti, dan Karengan tetap menjadi kota tua kecil dengan trembesi yang menaungi jalanan. Namun bagi Raka dan Dewi, kota itu menjadi saksi bahwa cinta tidak mengenal umur.

Dalam setiap pagi yang mereka habiskan bersama, dalam setiap cangkir teh hangat, dalam setiap langkah pelan di alun-alun, terdapat satu kenyataan sederhana:

Bahwa satu tahun cinta yang tulus lebih berharga daripada seumur hidup kesepian.

Dan seperti lirik lagu itu:One year of love is better than a lifetime alone. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Next Post

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co