5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
in Cerpen
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis batu bata merah, bangunan kolonial dengan cat mengelupas, dan deretan pohon trembesi yang menaungi trotoar. Angin di kota itu selalu bergerak pelan, seolah menghormati usia tua bangunan dan warganya.

Di sebuah gang kecil dekat alun-alun, berdiri rumah tua milik Raka, lelaki berusia lima puluh lima tahun yang hidup seorang diri. Pagi harinya ia menyapu halaman, merawat bonsai, dan menyalakan radio tua peninggalan istrinya yang telah tiada. Kadang, saat senja jatuh, ia duduk di depan jendela sambil memutar piringan hitam One Year of Love.

Baginya, lagu itu bukan sekadar musik. Ada bagian hidupnya yang ikut bergetar setiap kali suara Freddie Mercury mengisi ruang tamu. Lagu itu mengingatkan bahwa cinta pernah membuat hidupnya terisi, dan betapa hampa empat tahun terakhir tanpanya.

Hingga suatu sore, ketika hujan turun lembut, seorang perempuan mengetuk pintunya. Ketukan yang mengubah sisa hidupnya.

Tok. Tok. Tok.

Raka mendekat dan membuka pintu.

“Assalamualaikum… Pak Raka masih ingat saya?”

Perempuan itu tersenyum. Matanya jernih namun memuat kerinduan panjang. Rambutnya beruban sedikit, namun tampak anggun.

“Dewi?” Raka tersenyum pelan, hampir tak percaya.

Dewi, teman masa mudanya di sanggar seni Karengan, berdiri dengan payung lipat yang meneteskan sisa hujan.

“Boleh saya masuk? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.”

Dan sore itu menjadi titik awal dari cerita yang perlahan menyalakan kembali hati yang lama padam.

***

Dewi datang membawa sebuah koper kecil berisi foto-foto lama sanggar seni: pentas tari tahun 1986, festival budaya kali pertama, dan gambar mereka berdua saat remaja, tersenyum canggung di halaman sanggar.

“Kita sedang buat buku kenangan untuk reuni akbar,” katanya. “Saya… terpikir untuk meminta bantuanmu memilih foto. Kau yang paling teliti.”

Raka memandang foto-foto itu. Usia muda mereka terlihat seperti milik dua orang lain: penuh cahaya, penuh harapan.

Hujan di luar berubah menjadi rintik lebih pelan, dan cahaya sore membias melalui jendela, menyoroti wajah Dewi. Entah mengapa, hati Raka bergetar pelan, sensasi yang ia kira sudah hilang selamanya.

Mereka duduk berdampingan di ruang tamu, membolak-balik foto sambil tertawa kecil, mengingat masa ketika hidup begitu ringan dan masa depan terasa panjang.

Dewi berkata sambil memandang sebuah foto lama, “Aku selalu mengingatmu sebagai lelaki yang penyendiri, tapi… hangat.”

Raka tersenyum. “Kau selalu mengingat yang baiknya saja.”

“Karena yang baik itu yang paling melekat.”
Jawaban itu membuat hati Raka diam-diam bergetar.

Sore merangkak menjadi malam. Tanpa direncanakan, mereka menghabiskan waktu berjam-jam seperti dua orang yang menemukan kembali sesuatu yang pernah terselip di masa muda.

***

Setelah kunjungan pertama itu, Dewi mulai sering datang ke rumah Raka. Kadang membawa onde-onde pasar pagi. Kadang membawa bunga kamboja yang ia temukan jatuh di trotoar.
Kadang hanya membawa cerita tentang kursus tari kecil yang ia buka.

Setiap kedatangan Dewi membuat ruang tamu Raka terasa lebih hidup. Bahkan radio tua pun seperti memutar lagu-lagu yang lebih ceria. Di balik itu, ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka: perasaan hangat, kerinduan yang tidak diumumkan, dan kesediaan saling mendengarkan.

Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak seperti remaja. Cinta itu menetes pelan, seperti hujan Karengan yang tidak pernah tergesa. Namun tiap tetesnya menyentuh hingga ke tempat paling sunyi dalam hati.

Suatu malam, setelah makan malam sederhana, Raka memutar lagu One Year of Love. Nafas Dewi melambat seiring alunan musik.

“Indah ya,” ucap Dewi. “Lagunya bicara seperti… cinta itu tidak butuh panjang umur. Butuh kedalaman.”

Raka menatapnya. “Kau percaya itu?”

Dewi tersenyum samar, menunduk. “Semakin tua, semakin mengerti.”

Hening yang membungkus mereka bukanlah canggung, tapi seperti selimut hangat di malam dingin.

***

Dalam setahun sejak kunjungan pertama itu, hubungan mereka tumbuh seperti cahaya lilin: tidak besar, tapi cukup untuk menerangi hari-hari yang pernah kelam. Mereka berjalan bersama di jalanan kota tua Karengan: melewati jembatan kayu yang memanjang di atas sungai kecil, berkunjung ke kedai kopi tua di dekat stasiun, duduk di bangku alun-alun sambil menatap bebek-bebek taman, sesekali melihat anak-anak memainkan layang-layang di tepi sawah.

Cinta di usia matang memang tidak membutuhkan banyak kata. Ketika Dewi memijat pelan pundak Raka yang pegal, ketika Raka menyiapkan selimut ekstra untuk Dewi, ketika mereka saling menatap lama tanpa suara,  itu adalah bahasa cinta yang sudah dewasa.

Suatu malam, di bawah lampu tunggul jalan, Dewi berkata lirih:

“Raka, aku sudah lama tidak merasa… diperhatikan seperti ini.”

Raka tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Dewi lebih erat. Di usia mereka, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

***

Pada peringatan setahun kebersamaan mereka, Raka mengajak Dewi ke bangunan sanggar seni lama, tempat mereka dulu belajar tari, membaca puisi, dan bertengkar kecil tentang siapa yang lebih berbakat.

Bangunannya sudah miring, dindingnya retak, tetapi dalam keretakan itulah kenangan terasa paling hidup. Di ruangan yang dulu digunakan untuk latihan tari, Raka mengambil napas panjang.

“Dewi…,” suaranya hampir goyah. “Aku mungkin tidak punya banyak masa depan untuk ditawarkan. Tapi aku ingin menghabiskan sisa hari-hari tenang ini bersamamu.”

Dewi menatapnya lama. Cahaya senja memantul di matanya.

“Raka,” katanya dengan suara pelan, “aku tidak butuh masa depan yang panjang… aku butuh seseorang yang membuat sisa hidupku lebih lembut.”

Ia meraih tangan Raka. “Dan itu kamu.”

Raka memejamkan mata, hampir tidak percaya bahwa setelah bertahun-tahun melawan sunyi, ia kembali diberi kesempatan mencinta. Di ruangan tua itu, mereka berpelukan, bukan seperti dua tubuh yang mencari gairah, tapi seperti dua jiwa yang akhirnya menemukan rumahnya.

***

Tahun berganti, dan Karengan tetap menjadi kota tua kecil dengan trembesi yang menaungi jalanan. Namun bagi Raka dan Dewi, kota itu menjadi saksi bahwa cinta tidak mengenal umur.

Dalam setiap pagi yang mereka habiskan bersama, dalam setiap cangkir teh hangat, dalam setiap langkah pelan di alun-alun, terdapat satu kenyataan sederhana:

Bahwa satu tahun cinta yang tulus lebih berharga daripada seumur hidup kesepian.

Dan seperti lirik lagu itu:One year of love is better than a lifetime alone. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Next Post

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co