4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
in Cerpen
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis batu bata merah, bangunan kolonial dengan cat mengelupas, dan deretan pohon trembesi yang menaungi trotoar. Angin di kota itu selalu bergerak pelan, seolah menghormati usia tua bangunan dan warganya.

Di sebuah gang kecil dekat alun-alun, berdiri rumah tua milik Raka, lelaki berusia lima puluh lima tahun yang hidup seorang diri. Pagi harinya ia menyapu halaman, merawat bonsai, dan menyalakan radio tua peninggalan istrinya yang telah tiada. Kadang, saat senja jatuh, ia duduk di depan jendela sambil memutar piringan hitam One Year of Love.

Baginya, lagu itu bukan sekadar musik. Ada bagian hidupnya yang ikut bergetar setiap kali suara Freddie Mercury mengisi ruang tamu. Lagu itu mengingatkan bahwa cinta pernah membuat hidupnya terisi, dan betapa hampa empat tahun terakhir tanpanya.

Hingga suatu sore, ketika hujan turun lembut, seorang perempuan mengetuk pintunya. Ketukan yang mengubah sisa hidupnya.

Tok. Tok. Tok.

Raka mendekat dan membuka pintu.

“Assalamualaikum… Pak Raka masih ingat saya?”

Perempuan itu tersenyum. Matanya jernih namun memuat kerinduan panjang. Rambutnya beruban sedikit, namun tampak anggun.

“Dewi?” Raka tersenyum pelan, hampir tak percaya.

Dewi, teman masa mudanya di sanggar seni Karengan, berdiri dengan payung lipat yang meneteskan sisa hujan.

“Boleh saya masuk? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.”

Dan sore itu menjadi titik awal dari cerita yang perlahan menyalakan kembali hati yang lama padam.

***

Dewi datang membawa sebuah koper kecil berisi foto-foto lama sanggar seni: pentas tari tahun 1986, festival budaya kali pertama, dan gambar mereka berdua saat remaja, tersenyum canggung di halaman sanggar.

“Kita sedang buat buku kenangan untuk reuni akbar,” katanya. “Saya… terpikir untuk meminta bantuanmu memilih foto. Kau yang paling teliti.”

Raka memandang foto-foto itu. Usia muda mereka terlihat seperti milik dua orang lain: penuh cahaya, penuh harapan.

Hujan di luar berubah menjadi rintik lebih pelan, dan cahaya sore membias melalui jendela, menyoroti wajah Dewi. Entah mengapa, hati Raka bergetar pelan, sensasi yang ia kira sudah hilang selamanya.

Mereka duduk berdampingan di ruang tamu, membolak-balik foto sambil tertawa kecil, mengingat masa ketika hidup begitu ringan dan masa depan terasa panjang.

Dewi berkata sambil memandang sebuah foto lama, “Aku selalu mengingatmu sebagai lelaki yang penyendiri, tapi… hangat.”

Raka tersenyum. “Kau selalu mengingat yang baiknya saja.”

“Karena yang baik itu yang paling melekat.”
Jawaban itu membuat hati Raka diam-diam bergetar.

Sore merangkak menjadi malam. Tanpa direncanakan, mereka menghabiskan waktu berjam-jam seperti dua orang yang menemukan kembali sesuatu yang pernah terselip di masa muda.

***

Setelah kunjungan pertama itu, Dewi mulai sering datang ke rumah Raka. Kadang membawa onde-onde pasar pagi. Kadang membawa bunga kamboja yang ia temukan jatuh di trotoar.
Kadang hanya membawa cerita tentang kursus tari kecil yang ia buka.

Setiap kedatangan Dewi membuat ruang tamu Raka terasa lebih hidup. Bahkan radio tua pun seperti memutar lagu-lagu yang lebih ceria. Di balik itu, ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka: perasaan hangat, kerinduan yang tidak diumumkan, dan kesediaan saling mendengarkan.

Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak seperti remaja. Cinta itu menetes pelan, seperti hujan Karengan yang tidak pernah tergesa. Namun tiap tetesnya menyentuh hingga ke tempat paling sunyi dalam hati.

Suatu malam, setelah makan malam sederhana, Raka memutar lagu One Year of Love. Nafas Dewi melambat seiring alunan musik.

“Indah ya,” ucap Dewi. “Lagunya bicara seperti… cinta itu tidak butuh panjang umur. Butuh kedalaman.”

Raka menatapnya. “Kau percaya itu?”

Dewi tersenyum samar, menunduk. “Semakin tua, semakin mengerti.”

Hening yang membungkus mereka bukanlah canggung, tapi seperti selimut hangat di malam dingin.

***

Dalam setahun sejak kunjungan pertama itu, hubungan mereka tumbuh seperti cahaya lilin: tidak besar, tapi cukup untuk menerangi hari-hari yang pernah kelam. Mereka berjalan bersama di jalanan kota tua Karengan: melewati jembatan kayu yang memanjang di atas sungai kecil, berkunjung ke kedai kopi tua di dekat stasiun, duduk di bangku alun-alun sambil menatap bebek-bebek taman, sesekali melihat anak-anak memainkan layang-layang di tepi sawah.

Cinta di usia matang memang tidak membutuhkan banyak kata. Ketika Dewi memijat pelan pundak Raka yang pegal, ketika Raka menyiapkan selimut ekstra untuk Dewi, ketika mereka saling menatap lama tanpa suara,  itu adalah bahasa cinta yang sudah dewasa.

Suatu malam, di bawah lampu tunggul jalan, Dewi berkata lirih:

“Raka, aku sudah lama tidak merasa… diperhatikan seperti ini.”

Raka tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Dewi lebih erat. Di usia mereka, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

***

Pada peringatan setahun kebersamaan mereka, Raka mengajak Dewi ke bangunan sanggar seni lama, tempat mereka dulu belajar tari, membaca puisi, dan bertengkar kecil tentang siapa yang lebih berbakat.

Bangunannya sudah miring, dindingnya retak, tetapi dalam keretakan itulah kenangan terasa paling hidup. Di ruangan yang dulu digunakan untuk latihan tari, Raka mengambil napas panjang.

“Dewi…,” suaranya hampir goyah. “Aku mungkin tidak punya banyak masa depan untuk ditawarkan. Tapi aku ingin menghabiskan sisa hari-hari tenang ini bersamamu.”

Dewi menatapnya lama. Cahaya senja memantul di matanya.

“Raka,” katanya dengan suara pelan, “aku tidak butuh masa depan yang panjang… aku butuh seseorang yang membuat sisa hidupku lebih lembut.”

Ia meraih tangan Raka. “Dan itu kamu.”

Raka memejamkan mata, hampir tidak percaya bahwa setelah bertahun-tahun melawan sunyi, ia kembali diberi kesempatan mencinta. Di ruangan tua itu, mereka berpelukan, bukan seperti dua tubuh yang mencari gairah, tapi seperti dua jiwa yang akhirnya menemukan rumahnya.

***

Tahun berganti, dan Karengan tetap menjadi kota tua kecil dengan trembesi yang menaungi jalanan. Namun bagi Raka dan Dewi, kota itu menjadi saksi bahwa cinta tidak mengenal umur.

Dalam setiap pagi yang mereka habiskan bersama, dalam setiap cangkir teh hangat, dalam setiap langkah pelan di alun-alun, terdapat satu kenyataan sederhana:

Bahwa satu tahun cinta yang tulus lebih berharga daripada seumur hidup kesepian.

Dan seperti lirik lagu itu:One year of love is better than a lifetime alone. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Next Post

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co