31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
in Cerpen
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga cabai, tiba-tiba mendadak puitis saat mendengar kata mudik. Seolah-olah kampung halaman bukan sekadar tempat lahir, melainkan semacam surga mini yang di dalamnya mengalir teh panas, gorengan hangat, dan masa lalu yang sudah lama dikubur tapi suka bangun sendiri menjelang Lebaran.

Begitulah yang dirasakan Jatmiko, karyawan percetakan di Bekasi yang gajinya cukup untuk hidup, tapi tidak cukup untuk hidup tenang. Setiap menjelang Lebaran, jiwanya terguncang oleh dua perkara besar: harga tiket dan pertanyaan ibunya yang tidak pernah pensiun.

“Miko, jadi pulang to tahun ini?” suara ibunya di telepon selalu terdengar seperti campuran rindu, tekanan batin, dan interogasi halus.

“Pulang, Bu. Ini lagi cari tiket.”

“Cari yang halal ya, jangan tiket bekas calo. Rizki mudik itu harus bersih.”

“Lha tiket kok haram, Bu?”

“Ya haram kalau bikin emosi.”

Jatmiko menatap layar ponselnya dengan wajah kusut. Harga tiket kereta sudah seperti harga saham perusahaan yang sedang digoreng. Tiket bus lebih manusiawi, tapi kursinya sering membuat tulang belakang merasa dikhianati negara.

Di kantor, teman-temannya sudah mulai membicarakan mudik seperti mau berangkat perang.

“Lu naik apa, Mik?” tanya Deni sambil menyeruput kopi sachet yang rasanya seperti air panas yang diberi kenangan kopi.

“Masih galau. Kereta habis. Bus mahal. Travel isinya orang semua.”

Deni mengangguk bijak. “Itulah Indonesia. Bahkan untuk pulang ke rumah sendiri pun kita harus rebutan.”

Jatmiko mencoba peruntungan lewat aplikasi. Ia buka kereta, penuh. Bus, penuh. Pesawat, ia tutup lagi dengan penuh kesadaran diri. Akhirnya ia menemukan satu tiket bus menuju Purwokerto, lalu sambung angkot, lalu ojek, lalu doa, baru sampai ke desanya: Desa Karangmlati, sebuah desa kecil di Jawa Tengah yang kalau dilihat dari jauh tampak teduh, tapi kalau sudah masuk ke grup WhatsApp warganya, isinya debat semua.

“Dapat!” seru Jatmiko.

“Berangkat jam berapa?” tanya Deni.

“Jam lima sore.”

“Nyampainya?”

“Kalau lancar, subuh. Kalau macet, mungkin pas cucu saya sunatan.”

***

Hari keberangkatan tiba. Terminal dipenuhi manusia yang wajahnya sama: lelah, pasrah, dan membawa kardus mi instan yang entah isinya baju, entah isinya harapan. Jatmiko datang dengan tas ransel, satu plastik oleh-oleh, dan satu keresahan sosial.

Bus yang akan ia naiki bernama PO Sinar Doa Ibu, nama yang membuat penumpang merasa keselamatan kendaraan ini lebih banyak ditentukan oleh restu orang tua daripada kualitas rem.

Kernet berteriak seperti penyanyi dangdut yang gagal masuk panggung.

“Purwokerto! Ajibarang! Wangon! Buntu! Bumiayu! Naik dulu, duduk belakangan!”

“Mas, kok naik dulu duduk belakangan?” tanya seorang ibu.

“Begini, Bu. Di hidup ini banyak yang harus dijalani dulu, paham belakangan.”

Jatmiko langsung tahu perjalanan ini akan panjang, bukan hanya secara jarak, tapi juga secara batin.

Ia duduk di samping seorang bapak berpeci hitam yang membawa tiga tas, dua bantal, satu termos, dan wajah yang menunjukkan beliau siap menetap di bus kalau perlu.

“Dari mana, Mas?” tanya bapak itu.

“Bekasi, Pak.”

“Oalah. Perantau. Kerja apa?”

“Percetakan.”

“Bagus. Nyetak undangan nikah orang lain dulu, nikah sendiri belakangan ya?”

Jatmiko tersenyum kecut. Orang Indonesia memang punya bakat alami menyulap pertanyaan pribadi menjadi olahraga nasional.

Bus mulai berjalan. Baru keluar terminal, macet. Baru masuk tol, macet. Baru mau tidur, bayi menangis. Baru bayi diam, ada penumpang buka bungkus ayam goreng. Baru ayam habis, sopir memutar lagu koplo religi remix.

Di kursi belakang, dua pemuda berdebat serius.

“Menurutku mudik itu ibadah sosial.”

“Bukan. Mudik itu ujian kesabaran dalam bentuk transportasi.”

“Kalau begitu macet itu apa?”

“Azab kecil yang dibayar tunai.”

Sekitar pukul delapan malam, bus berhenti di rumah makan yang namanya terlalu optimistis: RM Nikmat Selalu. Di dalam, nasi sudah dingin, sambal terlalu berani, dan toiletnya mengandung unsur pendidikan karakter.

Seorang ibu protes ke pelayan.

“Mas, ayamnya kok kecil sekali?”

Pelayan menjawab tenang, “Ayamnya mungkin capek mudik juga, Bu.”

Jatmiko membeli teh hangat. Di sampingnya, seorang bapak sedang menelepon istrinya.

“Ya, Mah, ini masih di Cikampek.”

Lima menit kemudian, istrinya mungkin bertanya sesuatu dari seberang sana.

“Iya, masih di Cikampek.”

Sepuluh menit kemudian, bapak itu menutup telepon dan menatap langit seperti sedang mencari makna kehidupan.

“Kalau mudik, kita ini sebenarnya bergerak atau cuma pindah titik macet, ya, Mas?”

Jatmiko menjawab, “Secara spiritual kita pulang, Pak. Secara fisik kita parkir.”

***

Menjelang subuh, bus akhirnya masuk wilayah Jawa Tengah. Hawa berubah. Pohon-pohon tampak lebih akrab. Warung-warung pinggir jalan mulai menjual ketupat, opor, dan bensin eceran dengan ekspresi yang sama-sama penting.

Sesampainya di pertigaan kecamatan, Jatmiko turun. Dari sana ia naik ojek yang dikendarai pemuda kurus bernama Prapto, yang motornya bunyi knalpotnya terdengar seperti batuk sapi masuk angin.

“Karangmlati ya, Mas?”

“Iya.”

“Rumah siapa?”

“Rumah Pak Kasan.”

“Oh, anaknya Bu Lastri? Yang dulu waktu kecil jatuh di got pas lomba 17-an?”

Jatmiko menatap pengemudi itu. “Kok tahu?”

“Lho, desa itu, Mas. Di sini yang tidak tahu masa lalu orang cuma pendatang dan kambing.”

Saat memasuki desa, Jatmiko melihat gapura bertuliskan: ”Sugeng Rawuh, Para Pemudik. Jaga Kebersihan, Jaga Hati, Jangan Pamer Gaji”. Ia tahu tulisan terakhir itu pasti hasil musyawarah yang pahit.

Ibunya sudah menunggu di depan rumah.

“Alhamdulillah, tekan uga!” katanya sambil memeluk anaknya.

“Nggeh, Bu.”

“Kurusan kamu.”

“Biasa, Bu. hidup di kota.”

Ibunya menatap dari atas sampai bawah. “Tapi perutmu kok maju?”

“Itu kurus yang makmur, Bu.”

Di ruang tamu sudah ada bapaknya, duduk sambil memegang gelas teh dan otoritas keluarga.

“Pulang juga,” kata bapaknya singkat.

“Iya, Pak.”

“Bagus. Tahun depan kalau bisa bawa menantu.”

Jatmiko baru saja meletakkan tas. Bahkan belum sempat membuka sandal sepenuhnya, hidup sudah melempar pertanyaan inti.

***

Hari kedua Lebaran adalah hari paling berbahaya bagi para perantau lajang. Karena di hari itulah mereka mulai keluar rumah, dan seluruh desa melakukan pengamatan terbuka.

Jatmiko berjalan ke warung kopi dekat lapangan. Warung itu masih sama: meja kayu panjang, gelas-gelas teh, toples rengginang, radio tua, dan percakapan yang isinya 40 persen politik desa, 30 persen harga pupuk, 20 persen gosip, dan 10 persen filsafat nganggur.

Di sana sudah berkumpul kawan-kawan masa remajanya: Bejo, Tukul, Kholik, dan Nanang.

“Wooo, si Miko Bekasi!” teriak Bejo.

“Lha iki to wong sukses kota!” sambut Tukul.

“Mana oleh-olehnya?” tanya Kholik tanpa basa-basi.

Jatmiko duduk sambil tertawa. “Kalian ini tetap ya. Belum nanya kabar, sudah nanya isi tas.”

Bejo menepuk bahunya. “Kabar itu formalitas, Mik. Oleh-oleh itu substansi.”

Nanang yang dari dulu paling puitis menyeruput kopi lalu berkata, “Mudik itu indah. Kita pulang untuk menemukan bahwa teman-teman kita masih jelek seperti dulu.”

“Termasuk kamu,” sahut Tukul.

Obrolan mengalir ke mana-mana. Tentang siapa yang sudah menikah dua kali. Tentang siapa yang dulu sok jago silat ternyata sekarang jualan frozen food. Tentang siapa yang dulu paling rajin salat jamaah sekarang jadi anggota panitia sound system dangdutan.

“Eh, kamu masih ingat Pak Ustadz Munir?” tanya Kholik.

“Guru ngaji kita dulu?” kata Jatmiko.

“Iya. Masih sehat. Tapi sekarang pendengarannya agak pilih-pilih.”

“Maksudnya?”

“Kalau dipanggil warga biasa, pura-pura nggak dengar. Kalau dipanggil buat ngisi pengajian plus amplop, pendengarannya sembuh.”

Mereka tertawa bersamaan, lalu mendadak diam ketika melihat sosok berjubah sarung dan peci putih datang dari ujung jalan. Pak Ustadz Munir.

“Assalamu’alaikum, cah-cah sing biyen nakal kabeh,” sapa beliau.

“Wa’alaikumussalam, Pak Ustadz!” jawab mereka serempak dengan nada seperti murid ketahuan belum hafal surat pendek.

Pak Ustadz duduk di bangku bambu. Wajahnya tetap teduh, hanya sekarang ditambah kacamata tebal dan aura bahwa beliau sudah melihat terlalu banyak tingkah manusia.

“Lha, Jatmiko to? Wis gedhe. Kerja nang Bekasi ya?”

“Iya, Pak Ustadz.”

“Alhamdulillah. Masih salat?”

Pertanyaan itu selalu membuat manusia merasa kecil.

“Masih, Pak.”

“Bagus. Soalnya banyak orang merantau itu yang dibawa koper, yang ditinggal salat.”

Bejo mencoba mengalihkan suasana. “Pak Ustadz, dulu waktu kami ngaji, siapa yang paling bandel?”

Pak Ustadz langsung menunjuk Bejo. “Kamu.”

Mereka semua tertawa keras.

“Kok saya terus, Pak?”

“Lha iya. Yang lain ngapalna al-Fatihah. Kamu ngapalna anaknya Pak Lurah lewat terus.”

Bejo menutup muka dengan peci pinjaman suasana.

Pak Ustadz lalu memandang mereka satu per satu. “Kalian ini sekarang sudah pada besar. Ada yang kerja di kota, ada yang buka usaha, ada yang tetap nongkrong. Tapi ingat, wong urip kuwi aja mung golet sangu, nanging uga golet isine urip.”

Nanang langsung berbisik, “Nah ini. Kalau Pak Ustadz sudah bicara begini, jiwaku pengin tobat tapi dompetku belum siap.”

***

Sore harinya, di acara halal bihalal pemuda desa, bencana emosional itu datang juga. Mantan cinta monyetnya muncul. Namanya Ratri.

Dulu, waktu SMP, Jatmiko pernah menulis surat cinta untuk Ratri di kertas buku tulis bergambar pemandangan. Surat itu ia titipkan lewat Tukul. Tapi entah kenapa yang sampai ke tangan Ratri justru surat matematika punya Kholik. Akibatnya, kisah cinta itu gagal sebelum sempat tumbuh, kalah oleh pecahan desimal.

Kini Ratri berdiri di bawah pohon mangga dengan kebaya sederhana, senyum tenang, dan tatapan yang bisa membuat nostalgia tumbuh seperti gulma.

Bejo menyikut Jatmiko. “Tuh. Cinta monyetmu datang. Sekarang mungkin sudah jadi cinta primata dewasa.”

“Diam kamu.”

Ratri mendekat. “Miko?”

“Eh… Ratri?”

“Iya. Masih ingat?”

“Masih. Wong dulu kamu ketua kelas, mana mungkin lupa.”

Ratri tertawa kecil. “Kamu masih suka grogi ya kalau ngomong.”

“Enggak. Ini cuma tenggorokan saya mendadak demokrasi, banyak suara tapi bingung satu.”

Mereka duduk di kursi plastik yang sedikit miring, simbol paling jujur dari kehidupan desa: sederhana, goyah, tapi tetap dipakai.

“Kerja di Bekasi?” tanya Ratri.

“Iya. Kamu?”

“Aku guru PAUD di kecamatan.”

“Wah bagus. Dari dulu memang sabar ngadepin anak-anak.”

Ratri memandangnya sebentar. “Dulu aku juga sabar ngadepin kamu.”

Jatmiko merasa jantungnya seperti bedug kecil dipukul anak TK.

“Aku dengar kamu belum menikah,” kata Ratri.

Jatmiko menelan ludah. “Desa ini cepat sekali ya menerima data sensitif.”

Ratri tertawa. “Lha desa. Informasi bergerak lebih cepat dari internet.”

Belum sempat percakapan menjadi sinetron, datanglah ibu-ibu pembawa kue yang menyebarkan pertanyaan seperti drone pengintai.

“Lho, Miko sama Ratri? Wah cocok ini. Dulu kan memang dekat.”

Jatmiko tersenyum sopan, tapi di dalam hati ingin pindah kewarganegaraan.

Ratri menunduk sambil tersenyum. “Ibu-ibu itu ya…”

“Di desa, Bu-eh, Tri privasi itu cuma teori.”

Tak lama kemudian, Bejo, Tukul, dan Nanang datang merubung seperti wartawan infotainmen.

“Eh, kami ganggu nggak?” kata Bejo, padahal mukanya jelas-jelas ingin mengganggu.

Tukul menatap Ratri lalu Jatmiko. “Masya Allah. Alumni surat cinta gagal reuni.”

Nanang menambahkan, “Ini bukti bahwa takdir kadang muter dulu lewat warung, lapangan, dan grup RT.”

Ratri tertawa lepas. Jatmiko pasrah. Persahabatan laki-laki di desa memang dibangun dari kesetiaan dan penghinaan ringan.

***

Malam terakhir sebelum kembali ke kota, Jatmiko duduk di teras rumah. Dari kejauhan terdengar suara takbir sisa, televisi tetangga, dan motor pemuda yang knalpotnya lebih vokal daripada pemiliknya. Pak Ustadz Munir kebetulan lewat sepulang dari musala.

“Belum tidur, Mik?”

“Belum, Pak.”

Pak Ustadz duduk di kursi bambu. “Besok balik?”

“Iya.”

“Hm. Gimana rasanya mudik tahun ini?”

Jatmiko berpikir sejenak. “Capek, Pak. Macet. Ribet. Tiket mahal. Ditanya nikah terus. Ketemu teman diejek. Ketemu mantan bikin salah tingkah. Tapi… ya anehnya, saya senang.”

Pak Ustadz tersenyum. “Ya itu namanya pulang. Tidak selalu nyaman, tapi selalu ada yang membuat hati ingin kembali.”

“Terkadang saya heran, Pak. Kampung ini kecil, jalannya sempit, orang-orangnya kepo, sinyal hilang muncul. Tapi begitu mau balik ke kota, kok berat.”

Pak Ustadz mengangguk. “Karena kampung halaman itu bukan soal fasilitas. Tapi soal siapa yang masih menyebut namamu tanpa jabatan.”

Kalimat itu membuat malam terasa lebih dalam.

Tak lama, ibunya keluar membawa teh panas dan pisang goreng.

“Ini diminum dulu. Besok sudah balik lagi ke kota, makan gorengan paling juga rasa oli.”

“Ibu ini kalau sayang selalu sambil menghina ya,” kata Jatmiko.

“Itu namanya kasih sayang orang tua. Biar kamu kuat.”

Mereka bertiga tertawa kecil.

Keesokan paginya, saat Jatmiko pamit, ibunya membekali beras, peyek, rengginang, sambal kacang, dan nasihat yang berat totalnya melebihi bagasi.

“Jaga diri. Salat yang rajin. Jangan boros. Jangan lupa makan. Kalau bisa tahun depan…”

“Iya, Bu. Bawa menantu.”

“Nah, kamu paham juga.”

Di ujung gang, Bejo dan kawan-kawan melambaikan tangan.

“Hati-hati di jalan, Mik!”

“Kalau ketemu macet, jangan dilawan, dia lebih berpengalaman!”

“Kalau ketemu jodoh di jalan, langsung salim!”

Dan dari kejauhan, Ratri berdiri di depan pagar rumahnya. Ia hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Tidak ada kata-kata besar. Kadang kampung memang tidak butuh drama berlebihan. Cukup satu senyum, satu jalan berdebu, dan satu ingatan lama yang kembali menyapa.

Di atas bus menuju kota, Jatmiko menatap keluar jendela. Sawah-sawah mulai menjauh. Pohon kelapa berbaris seperti penonton yang diam. Jalanan kembali penuh. Hidup akan kembali pada ritmenya: kerja, lembur, cicilan, notifikasi, dan makan malam yang kadang terasa seperti tugas administratif.

Namun ada sesuatu yang ia bawa pulang dari mudik kali ini, selain peyek dan pertanyaan tentang menikah.

Ia membawa pulang kesadaran bahwa perjalanan ke kampung halaman selalu lebih dari sekadar perpindahan geografis. Ia adalah ziarah kecil menuju diri yang pernah sederhana. Tempat kita diingat bukan karena jabatan, bukan karena gaji, bukan karena pencitraan, tetapi karena kita pernah jadi anak kecil yang jatuh di got saat lomba tujuhbelasan, pernah salah kirim surat cinta, pernah dimarahi guru ngaji, dan pernah percaya bahwa masa depan itu sejauh ujung jalan desa.

Bus melaju pelan di tengah kemacetan.

Seorang penumpang di belakang bertanya keras kepada kernet, “Mas, ini sudah sampai mana?”

Kernet menjawab enteng, “Sudah sampai tahap menerima kenyataan, Pak.”

Dan seluruh penumpang bus pun tertawa. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Next Post

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co