19 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
in Cerpen
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga cabai, tiba-tiba mendadak puitis saat mendengar kata mudik. Seolah-olah kampung halaman bukan sekadar tempat lahir, melainkan semacam surga mini yang di dalamnya mengalir teh panas, gorengan hangat, dan masa lalu yang sudah lama dikubur tapi suka bangun sendiri menjelang Lebaran.

Begitulah yang dirasakan Jatmiko, karyawan percetakan di Bekasi yang gajinya cukup untuk hidup, tapi tidak cukup untuk hidup tenang. Setiap menjelang Lebaran, jiwanya terguncang oleh dua perkara besar: harga tiket dan pertanyaan ibunya yang tidak pernah pensiun.

“Miko, jadi pulang to tahun ini?” suara ibunya di telepon selalu terdengar seperti campuran rindu, tekanan batin, dan interogasi halus.

“Pulang, Bu. Ini lagi cari tiket.”

“Cari yang halal ya, jangan tiket bekas calo. Rizki mudik itu harus bersih.”

“Lha tiket kok haram, Bu?”

“Ya haram kalau bikin emosi.”

Jatmiko menatap layar ponselnya dengan wajah kusut. Harga tiket kereta sudah seperti harga saham perusahaan yang sedang digoreng. Tiket bus lebih manusiawi, tapi kursinya sering membuat tulang belakang merasa dikhianati negara.

Di kantor, teman-temannya sudah mulai membicarakan mudik seperti mau berangkat perang.

“Lu naik apa, Mik?” tanya Deni sambil menyeruput kopi sachet yang rasanya seperti air panas yang diberi kenangan kopi.

“Masih galau. Kereta habis. Bus mahal. Travel isinya orang semua.”

Deni mengangguk bijak. “Itulah Indonesia. Bahkan untuk pulang ke rumah sendiri pun kita harus rebutan.”

Jatmiko mencoba peruntungan lewat aplikasi. Ia buka kereta, penuh. Bus, penuh. Pesawat, ia tutup lagi dengan penuh kesadaran diri. Akhirnya ia menemukan satu tiket bus menuju Purwokerto, lalu sambung angkot, lalu ojek, lalu doa, baru sampai ke desanya: Desa Karangmlati, sebuah desa kecil di Jawa Tengah yang kalau dilihat dari jauh tampak teduh, tapi kalau sudah masuk ke grup WhatsApp warganya, isinya debat semua.

“Dapat!” seru Jatmiko.

“Berangkat jam berapa?” tanya Deni.

“Jam lima sore.”

“Nyampainya?”

“Kalau lancar, subuh. Kalau macet, mungkin pas cucu saya sunatan.”

***

Hari keberangkatan tiba. Terminal dipenuhi manusia yang wajahnya sama: lelah, pasrah, dan membawa kardus mi instan yang entah isinya baju, entah isinya harapan. Jatmiko datang dengan tas ransel, satu plastik oleh-oleh, dan satu keresahan sosial.

Bus yang akan ia naiki bernama PO Sinar Doa Ibu, nama yang membuat penumpang merasa keselamatan kendaraan ini lebih banyak ditentukan oleh restu orang tua daripada kualitas rem.

Kernet berteriak seperti penyanyi dangdut yang gagal masuk panggung.

“Purwokerto! Ajibarang! Wangon! Buntu! Bumiayu! Naik dulu, duduk belakangan!”

“Mas, kok naik dulu duduk belakangan?” tanya seorang ibu.

“Begini, Bu. Di hidup ini banyak yang harus dijalani dulu, paham belakangan.”

Jatmiko langsung tahu perjalanan ini akan panjang, bukan hanya secara jarak, tapi juga secara batin.

Ia duduk di samping seorang bapak berpeci hitam yang membawa tiga tas, dua bantal, satu termos, dan wajah yang menunjukkan beliau siap menetap di bus kalau perlu.

“Dari mana, Mas?” tanya bapak itu.

“Bekasi, Pak.”

“Oalah. Perantau. Kerja apa?”

“Percetakan.”

“Bagus. Nyetak undangan nikah orang lain dulu, nikah sendiri belakangan ya?”

Jatmiko tersenyum kecut. Orang Indonesia memang punya bakat alami menyulap pertanyaan pribadi menjadi olahraga nasional.

Bus mulai berjalan. Baru keluar terminal, macet. Baru masuk tol, macet. Baru mau tidur, bayi menangis. Baru bayi diam, ada penumpang buka bungkus ayam goreng. Baru ayam habis, sopir memutar lagu koplo religi remix.

Di kursi belakang, dua pemuda berdebat serius.

“Menurutku mudik itu ibadah sosial.”

“Bukan. Mudik itu ujian kesabaran dalam bentuk transportasi.”

“Kalau begitu macet itu apa?”

“Azab kecil yang dibayar tunai.”

Sekitar pukul delapan malam, bus berhenti di rumah makan yang namanya terlalu optimistis: RM Nikmat Selalu. Di dalam, nasi sudah dingin, sambal terlalu berani, dan toiletnya mengandung unsur pendidikan karakter.

Seorang ibu protes ke pelayan.

“Mas, ayamnya kok kecil sekali?”

Pelayan menjawab tenang, “Ayamnya mungkin capek mudik juga, Bu.”

Jatmiko membeli teh hangat. Di sampingnya, seorang bapak sedang menelepon istrinya.

“Ya, Mah, ini masih di Cikampek.”

Lima menit kemudian, istrinya mungkin bertanya sesuatu dari seberang sana.

“Iya, masih di Cikampek.”

Sepuluh menit kemudian, bapak itu menutup telepon dan menatap langit seperti sedang mencari makna kehidupan.

“Kalau mudik, kita ini sebenarnya bergerak atau cuma pindah titik macet, ya, Mas?”

Jatmiko menjawab, “Secara spiritual kita pulang, Pak. Secara fisik kita parkir.”

***

Menjelang subuh, bus akhirnya masuk wilayah Jawa Tengah. Hawa berubah. Pohon-pohon tampak lebih akrab. Warung-warung pinggir jalan mulai menjual ketupat, opor, dan bensin eceran dengan ekspresi yang sama-sama penting.

Sesampainya di pertigaan kecamatan, Jatmiko turun. Dari sana ia naik ojek yang dikendarai pemuda kurus bernama Prapto, yang motornya bunyi knalpotnya terdengar seperti batuk sapi masuk angin.

“Karangmlati ya, Mas?”

“Iya.”

“Rumah siapa?”

“Rumah Pak Kasan.”

“Oh, anaknya Bu Lastri? Yang dulu waktu kecil jatuh di got pas lomba 17-an?”

Jatmiko menatap pengemudi itu. “Kok tahu?”

“Lho, desa itu, Mas. Di sini yang tidak tahu masa lalu orang cuma pendatang dan kambing.”

Saat memasuki desa, Jatmiko melihat gapura bertuliskan: ”Sugeng Rawuh, Para Pemudik. Jaga Kebersihan, Jaga Hati, Jangan Pamer Gaji”. Ia tahu tulisan terakhir itu pasti hasil musyawarah yang pahit.

Ibunya sudah menunggu di depan rumah.

“Alhamdulillah, tekan uga!” katanya sambil memeluk anaknya.

“Nggeh, Bu.”

“Kurusan kamu.”

“Biasa, Bu. hidup di kota.”

Ibunya menatap dari atas sampai bawah. “Tapi perutmu kok maju?”

“Itu kurus yang makmur, Bu.”

Di ruang tamu sudah ada bapaknya, duduk sambil memegang gelas teh dan otoritas keluarga.

“Pulang juga,” kata bapaknya singkat.

“Iya, Pak.”

“Bagus. Tahun depan kalau bisa bawa menantu.”

Jatmiko baru saja meletakkan tas. Bahkan belum sempat membuka sandal sepenuhnya, hidup sudah melempar pertanyaan inti.

***

Hari kedua Lebaran adalah hari paling berbahaya bagi para perantau lajang. Karena di hari itulah mereka mulai keluar rumah, dan seluruh desa melakukan pengamatan terbuka.

Jatmiko berjalan ke warung kopi dekat lapangan. Warung itu masih sama: meja kayu panjang, gelas-gelas teh, toples rengginang, radio tua, dan percakapan yang isinya 40 persen politik desa, 30 persen harga pupuk, 20 persen gosip, dan 10 persen filsafat nganggur.

Di sana sudah berkumpul kawan-kawan masa remajanya: Bejo, Tukul, Kholik, dan Nanang.

“Wooo, si Miko Bekasi!” teriak Bejo.

“Lha iki to wong sukses kota!” sambut Tukul.

“Mana oleh-olehnya?” tanya Kholik tanpa basa-basi.

Jatmiko duduk sambil tertawa. “Kalian ini tetap ya. Belum nanya kabar, sudah nanya isi tas.”

Bejo menepuk bahunya. “Kabar itu formalitas, Mik. Oleh-oleh itu substansi.”

Nanang yang dari dulu paling puitis menyeruput kopi lalu berkata, “Mudik itu indah. Kita pulang untuk menemukan bahwa teman-teman kita masih jelek seperti dulu.”

“Termasuk kamu,” sahut Tukul.

Obrolan mengalir ke mana-mana. Tentang siapa yang sudah menikah dua kali. Tentang siapa yang dulu sok jago silat ternyata sekarang jualan frozen food. Tentang siapa yang dulu paling rajin salat jamaah sekarang jadi anggota panitia sound system dangdutan.

“Eh, kamu masih ingat Pak Ustadz Munir?” tanya Kholik.

“Guru ngaji kita dulu?” kata Jatmiko.

“Iya. Masih sehat. Tapi sekarang pendengarannya agak pilih-pilih.”

“Maksudnya?”

“Kalau dipanggil warga biasa, pura-pura nggak dengar. Kalau dipanggil buat ngisi pengajian plus amplop, pendengarannya sembuh.”

Mereka tertawa bersamaan, lalu mendadak diam ketika melihat sosok berjubah sarung dan peci putih datang dari ujung jalan. Pak Ustadz Munir.

“Assalamu’alaikum, cah-cah sing biyen nakal kabeh,” sapa beliau.

“Wa’alaikumussalam, Pak Ustadz!” jawab mereka serempak dengan nada seperti murid ketahuan belum hafal surat pendek.

Pak Ustadz duduk di bangku bambu. Wajahnya tetap teduh, hanya sekarang ditambah kacamata tebal dan aura bahwa beliau sudah melihat terlalu banyak tingkah manusia.

“Lha, Jatmiko to? Wis gedhe. Kerja nang Bekasi ya?”

“Iya, Pak Ustadz.”

“Alhamdulillah. Masih salat?”

Pertanyaan itu selalu membuat manusia merasa kecil.

“Masih, Pak.”

“Bagus. Soalnya banyak orang merantau itu yang dibawa koper, yang ditinggal salat.”

Bejo mencoba mengalihkan suasana. “Pak Ustadz, dulu waktu kami ngaji, siapa yang paling bandel?”

Pak Ustadz langsung menunjuk Bejo. “Kamu.”

Mereka semua tertawa keras.

“Kok saya terus, Pak?”

“Lha iya. Yang lain ngapalna al-Fatihah. Kamu ngapalna anaknya Pak Lurah lewat terus.”

Bejo menutup muka dengan peci pinjaman suasana.

Pak Ustadz lalu memandang mereka satu per satu. “Kalian ini sekarang sudah pada besar. Ada yang kerja di kota, ada yang buka usaha, ada yang tetap nongkrong. Tapi ingat, wong urip kuwi aja mung golet sangu, nanging uga golet isine urip.”

Nanang langsung berbisik, “Nah ini. Kalau Pak Ustadz sudah bicara begini, jiwaku pengin tobat tapi dompetku belum siap.”

***

Sore harinya, di acara halal bihalal pemuda desa, bencana emosional itu datang juga. Mantan cinta monyetnya muncul. Namanya Ratri.

Dulu, waktu SMP, Jatmiko pernah menulis surat cinta untuk Ratri di kertas buku tulis bergambar pemandangan. Surat itu ia titipkan lewat Tukul. Tapi entah kenapa yang sampai ke tangan Ratri justru surat matematika punya Kholik. Akibatnya, kisah cinta itu gagal sebelum sempat tumbuh, kalah oleh pecahan desimal.

Kini Ratri berdiri di bawah pohon mangga dengan kebaya sederhana, senyum tenang, dan tatapan yang bisa membuat nostalgia tumbuh seperti gulma.

Bejo menyikut Jatmiko. “Tuh. Cinta monyetmu datang. Sekarang mungkin sudah jadi cinta primata dewasa.”

“Diam kamu.”

Ratri mendekat. “Miko?”

“Eh… Ratri?”

“Iya. Masih ingat?”

“Masih. Wong dulu kamu ketua kelas, mana mungkin lupa.”

Ratri tertawa kecil. “Kamu masih suka grogi ya kalau ngomong.”

“Enggak. Ini cuma tenggorokan saya mendadak demokrasi, banyak suara tapi bingung satu.”

Mereka duduk di kursi plastik yang sedikit miring, simbol paling jujur dari kehidupan desa: sederhana, goyah, tapi tetap dipakai.

“Kerja di Bekasi?” tanya Ratri.

“Iya. Kamu?”

“Aku guru PAUD di kecamatan.”

“Wah bagus. Dari dulu memang sabar ngadepin anak-anak.”

Ratri memandangnya sebentar. “Dulu aku juga sabar ngadepin kamu.”

Jatmiko merasa jantungnya seperti bedug kecil dipukul anak TK.

“Aku dengar kamu belum menikah,” kata Ratri.

Jatmiko menelan ludah. “Desa ini cepat sekali ya menerima data sensitif.”

Ratri tertawa. “Lha desa. Informasi bergerak lebih cepat dari internet.”

Belum sempat percakapan menjadi sinetron, datanglah ibu-ibu pembawa kue yang menyebarkan pertanyaan seperti drone pengintai.

“Lho, Miko sama Ratri? Wah cocok ini. Dulu kan memang dekat.”

Jatmiko tersenyum sopan, tapi di dalam hati ingin pindah kewarganegaraan.

Ratri menunduk sambil tersenyum. “Ibu-ibu itu ya…”

“Di desa, Bu-eh, Tri privasi itu cuma teori.”

Tak lama kemudian, Bejo, Tukul, dan Nanang datang merubung seperti wartawan infotainmen.

“Eh, kami ganggu nggak?” kata Bejo, padahal mukanya jelas-jelas ingin mengganggu.

Tukul menatap Ratri lalu Jatmiko. “Masya Allah. Alumni surat cinta gagal reuni.”

Nanang menambahkan, “Ini bukti bahwa takdir kadang muter dulu lewat warung, lapangan, dan grup RT.”

Ratri tertawa lepas. Jatmiko pasrah. Persahabatan laki-laki di desa memang dibangun dari kesetiaan dan penghinaan ringan.

***

Malam terakhir sebelum kembali ke kota, Jatmiko duduk di teras rumah. Dari kejauhan terdengar suara takbir sisa, televisi tetangga, dan motor pemuda yang knalpotnya lebih vokal daripada pemiliknya. Pak Ustadz Munir kebetulan lewat sepulang dari musala.

“Belum tidur, Mik?”

“Belum, Pak.”

Pak Ustadz duduk di kursi bambu. “Besok balik?”

“Iya.”

“Hm. Gimana rasanya mudik tahun ini?”

Jatmiko berpikir sejenak. “Capek, Pak. Macet. Ribet. Tiket mahal. Ditanya nikah terus. Ketemu teman diejek. Ketemu mantan bikin salah tingkah. Tapi… ya anehnya, saya senang.”

Pak Ustadz tersenyum. “Ya itu namanya pulang. Tidak selalu nyaman, tapi selalu ada yang membuat hati ingin kembali.”

“Terkadang saya heran, Pak. Kampung ini kecil, jalannya sempit, orang-orangnya kepo, sinyal hilang muncul. Tapi begitu mau balik ke kota, kok berat.”

Pak Ustadz mengangguk. “Karena kampung halaman itu bukan soal fasilitas. Tapi soal siapa yang masih menyebut namamu tanpa jabatan.”

Kalimat itu membuat malam terasa lebih dalam.

Tak lama, ibunya keluar membawa teh panas dan pisang goreng.

“Ini diminum dulu. Besok sudah balik lagi ke kota, makan gorengan paling juga rasa oli.”

“Ibu ini kalau sayang selalu sambil menghina ya,” kata Jatmiko.

“Itu namanya kasih sayang orang tua. Biar kamu kuat.”

Mereka bertiga tertawa kecil.

Keesokan paginya, saat Jatmiko pamit, ibunya membekali beras, peyek, rengginang, sambal kacang, dan nasihat yang berat totalnya melebihi bagasi.

“Jaga diri. Salat yang rajin. Jangan boros. Jangan lupa makan. Kalau bisa tahun depan…”

“Iya, Bu. Bawa menantu.”

“Nah, kamu paham juga.”

Di ujung gang, Bejo dan kawan-kawan melambaikan tangan.

“Hati-hati di jalan, Mik!”

“Kalau ketemu macet, jangan dilawan, dia lebih berpengalaman!”

“Kalau ketemu jodoh di jalan, langsung salim!”

Dan dari kejauhan, Ratri berdiri di depan pagar rumahnya. Ia hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Tidak ada kata-kata besar. Kadang kampung memang tidak butuh drama berlebihan. Cukup satu senyum, satu jalan berdebu, dan satu ingatan lama yang kembali menyapa.

Di atas bus menuju kota, Jatmiko menatap keluar jendela. Sawah-sawah mulai menjauh. Pohon kelapa berbaris seperti penonton yang diam. Jalanan kembali penuh. Hidup akan kembali pada ritmenya: kerja, lembur, cicilan, notifikasi, dan makan malam yang kadang terasa seperti tugas administratif.

Namun ada sesuatu yang ia bawa pulang dari mudik kali ini, selain peyek dan pertanyaan tentang menikah.

Ia membawa pulang kesadaran bahwa perjalanan ke kampung halaman selalu lebih dari sekadar perpindahan geografis. Ia adalah ziarah kecil menuju diri yang pernah sederhana. Tempat kita diingat bukan karena jabatan, bukan karena gaji, bukan karena pencitraan, tetapi karena kita pernah jadi anak kecil yang jatuh di got saat lomba tujuhbelasan, pernah salah kirim surat cinta, pernah dimarahi guru ngaji, dan pernah percaya bahwa masa depan itu sejauh ujung jalan desa.

Bus melaju pelan di tengah kemacetan.

Seorang penumpang di belakang bertanya keras kepada kernet, “Mas, ini sudah sampai mana?”

Kernet menjawab enteng, “Sudah sampai tahap menerima kenyataan, Pak.”

Dan seluruh penumpang bus pun tertawa. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Next Post

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co