ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha menaruh sampah plastik ke dalam bajunya. Sungai hanya diisi beberapa ibu yang mencuci baju, seorang ibu bersama anaknya menghaturkan sesajen di Pura Taman. Mereka abai dengan kondisi Astra, hal itu lumrah terjadi. Kehabisan akal, Astra terpaksa mengikuti pola pikir ibunya. Botol plastik ukuran satu liter dia ambil lalu ditimang-timang.
“Ibu, adik menangis dia minta makan. Kita ke rumah dulu ya!” kata Astra.
“Cup, cup, cup. Anak baik, jangan menangis. Kita pulang sekarang ya!” kata ibunya.
Rumah Astra penuh dengan sampah plastik bahkan tempat suci yang masih berbentuk turus lumbung digantungi kresek berwarna-warni. Astra merebahkan badannya setelah melihat ibunya masuk ke kamarnya. Hari ini begitu menguras emosi baginya, siang tadi dia bersitegang dengan rekan kerjanyanya masalah penyusunan anggaran. Dia meninggalkan rapat begitu saja kemudian mencari ibunya.
Melihat atap rumahnya yang masih belum berisi plafon, Astra teringat bagaimana dia berusaha membangun rumah ini. Jaraknya yang begitu jauh membuat uangnya lebih banyak terkuras untuk membiayai buruh bangunan. Namun rumahnya jauh lebih baik dari dulu yang hanya gubug bambu beratap ilalang. Sebuah tempat pengasingan ibu dari keluarga besarnya. Astra yang lahir di luar nikah dianggap mencoreng nama baik keluarga puri.
Mimpi membangunkan Astra dengan paksa. Memori-memori buruk memborbadir kesadarannya. Sampah yang begitu dekat membangun mimpinya. Seorang anak yang lahir dari tumpukan sampah, merengek meminta keadilan. Anak yang lain datang mendekat namun tsunami sampah memisahkan mereka.
Astra berjalan menyalakan lampu penerangan, ketika melewati kamar ibunya. Dia mendengar rafalan kata-kata tidak beraturan. Ibunya bersimpuh di hadapan botol plastik. Ibunya mengaku menikah dengan manusia plastik. Mereka bertemu di Pura Taman, manusia plastik adalah utusan dari Pura Taman untuk menjaga sungai dari sampah plastik. Manusia Plastik berjanji akan menemui ibunya jika terus memuja sampah plastik.
Ponselnya berdering, bapak direktur hotel membuka dengan nada yang keras. Astra mendapat aduan dari rekan kerjanya, dia pulang mendahului. Dia tahu yang mengadukannya pasti Yoga manajer yang menentang usul pembuatan alat pengolah limbah hotel. Menurut Yoga laut sudah rusak oleh perilaku warga yang membuang sampah sembarangan. Tidak perlu membuang-buang anggaran untuk laut yang memang tidak bisa diselamatkan.
Rumah terasa hidup dengan perdebatan Astra. Dia mengancam akan mengundurkan diri dari perusahaan. Di luar dugaan ancamannya diterima, Astra tidak dapat menarik ucapannya lagi. Dunia ini sudah penuh dengan manusia sampah, saling menjilat demi jabatan. Saling mencurangi satu sama lain. Mau tidak mau Astra ikut larut dalam lingkaran saling mencurangi dan dicurangi. Folder drive yang berisi penyusunan anggaran hotel, dia hapus semua demi pembalasan yang setimpal.
Harapan yang tersisa hanya Jyoti, gadis kemarin sore yang baru mengenal cinta. Gadis yang konon mau menerima kondisinya. Astra sudah memacari dua puluh gadis, semuanya menolak ketika Astra mengaku memiliki ibu yang gila. Astra menelepon Jyoti menyampaikan dia sedang butuh uang. Dengan sedikit rayuan saldo rekeningnya langsung bertambah.
Keesokan harinya Astra mendatangi Yoga. Tinjunya melayang begitu saja tepat di mulutnya. Mulut itulah yang mengadukan kepulangannya dari kantor, mulut itulah yang menuduh Astra menggelapkan anggaran hotel. Astra memang menganggarkan dana lebih untuk pengolahan limbah hotel secara diam-diam karena usulannya tidak diterima.
Astra mengemasi barang-barang kantornya setelah memberikan surat pengunduran diri kepada direktur. Semua diam melihat langkah santai Astra memegangi kardus dan menendang pintu keluar kantor. Dunia korporat ini tidak cocok untuk anak sampah seperti Astra. Tidak ada rencana lagi Astra hanya mengikuti jalan yang semakin sempit terasa. Di ujung gang Jyoti sudah menunggunya, Astra masuk dan menggantikan jyoti mengemudikan mobilnya. Astra memilih melewati jalan tikus yang memang keahliannya.
“Sampai kapan kamu merahasiakan hubungan kita sama ayahku. Mantan direkturmu?” tanya Jyoti.
“Kalau kamu menemui ibuku. aku temui ayahmu juga. Bukan masalah berat jika aku kembali ke hotel bapakmu. Beberapa data perusahaan yang penting, masih aku pegang,” kata Astra.
“Kita cari ibumu sekarang biar kata-kataku terbukti!” jawab Jyoti enteng.
Astra mengajak Jyoti ke sungai mencari ibunya yang sedang asyik memungut sampah. Beberapa gundukan sampah berjejer seperti miniatur gunung. Astra menunjukkan sampah-sampah yang dikumpulkan ibunya. Tidak hanya sampah plastik, ibunya juga mengumpulkan kayu, batu, baju bekas, celana dalam, dan popok bayi. Orang ningrat pasti akan jijik dan Astra yakin memenangkan pertaruhannya dengan Jyoti.
Seperti sedang memainkan tari kontemporer, Jyoti melilit tubuhnya dengan sampah plastik. Tubuhnya meliuk-liuk mengibas-ngibaskan plastik di tangannya. Ibu Astra berlari mendekati Jyoti seperti anak kecil yang mengejar mainannya.
“Titisan manusia plastik sudah lahir,” kata Ibu Astra sambil berlutut.
Mulut Astra ternganga melihat kejadian absurd di matanya. Dia baru sadar selama ini dia memacari gadis gila. Seharusnya dia memperhitungkan juga bahwa Jyoti adalah seniman kontemporer lulusan universitas seni di Belanda.
Air mata Astra keluar begitu saja melihat ibunya diperlakukan dengan baik. Jyoti meladeni cerocos ibunya yang tidak tentu arah. Jyoti mengimbanginya dengan obrolan yang tidak kalah aneh. Ayahnya pemerhati sampah. Jyoti mewarisi darah seni ayahnya. Jyoti gemar membuat karya instalasi dari sampah. Jyoti tidak malu mengatakan dia sering berkomunikasi dengan ban bekas, kaleng bekas, atau botol-botol minuman keras.
“Tuhan tidak menciptakan sampah. Semua memiliki misi sucinya masing-masing. Sampah menjadi pemantik jiwa seniku,” kata Jyoti.
“Mungkin itu yang membuatmu terbiasa dengan sesuatu yang menjijikan. Seperti aku dan ibuku,” kata Astra.
“Ibumu unik, lo. Dia mampu menciptakan karya seni dengan caranya sendiri. Aku malah tertarik mengangkat cerita tentang ibumu kepada komunitas seniku,” kata Jyoti.
“Terserah kamu lah. Tapi aku lega,” kata Astra.
“Keputusanku sudah bulat. Siap-siap saja kamu menemui ayahku,” kata Jyoti.
Berkat Jyoti ibu Astra semakin terkenal sebagai seniman Skizofrenia, beberapa karyanya dipamerkan dan berhasil terjual. Hal ini menarik wartawan dan televisi meliput aktivitas ibunya. Astra lebih berperan sebagai manajer yang memperhatikan kontrak ibunya. Dengan pengetahuan ekonominya dia sanggup menganggarkan uang pengobatan ibunya dan modal menikahi Jyoti.
Jyoti mengadakan pentas seni kontemporer bersama ibu Astra. Gedung kesenian sudah ramai dengan pengunjung. Sebagian besar mereka berpenampilan nyentrik. Astra hanya duduk bengong di pojok studio. Melihat orang-orang aneh, ibunya terlihat normal. Ibunya membuat karya dengan media plastik, botol plastik, kain bekas, tali dan semua barang yang ditemukannya di sungai.
Antusias penonton menandakan tumbuhnya kesadaran untuk menjaga lingkungan. Langkah ibunya selama ini tidak salah. Upayanya adalah bentuk kecintaannya kepada sungai dan junjungannya di Pura Taman. Beragama tidak melulu tentang upacara, menjaga lingkungan adalah bentuk agama yang lebih konkret.
Pria gendut, berambut pirang dengan jas yang terbuat dari plastik memeluk Jyoti. Di luar dugaan janji menemui ayah Jyoti datang begitu cepat. Astra menerobos kerumunan ia ingin datang bukan sebagai mantan manajer keuangan hotel, tetapi sebagai pria yang akan melamar Jyoti.
Ibu Astra bangkit dari karya seninya mendatangi ayah Jyoti dan memeluknya begitu erat. Tangis ibunya tumpah seperti mendung yang menyimpan hujan begitu lama. Ayah Jyoti kebingungan sampai ketika Ibu Astra menggumamkan “manusia plastik” ke telinganya mendadak bayangan pilu datang.
Tiga puluh lima tahun silam ketika menyelesaikan projek kampusnya dia bertemu dengan gadis Bali yang membuatnya jatuh hati. Mereka membuat karya instalasi sampah dengan memadukan budaya Bali dan Belanda. Cinta tumbuh, mengakar, membesar, berserabut serumit sampah. [T]
Penulis: I Nyoman Sutarjana
Editor: Adnyana Ole





























