18 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

I Nyoman Sutarjana by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
in Cerpen
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha menaruh sampah plastik ke dalam bajunya. Sungai hanya diisi beberapa ibu yang mencuci baju, seorang ibu bersama anaknya menghaturkan sesajen di Pura Taman. Mereka abai dengan kondisi Astra, hal itu lumrah terjadi. Kehabisan akal, Astra terpaksa mengikuti pola pikir ibunya. Botol plastik ukuran satu liter dia ambil lalu ditimang-timang.

“Ibu, adik menangis dia minta makan. Kita ke rumah dulu ya!” kata Astra.

“Cup, cup, cup. Anak baik, jangan menangis. Kita pulang sekarang ya!” kata ibunya.

Rumah Astra penuh dengan sampah plastik bahkan tempat suci yang masih berbentuk turus lumbung digantungi kresek berwarna-warni. Astra merebahkan badannya setelah melihat ibunya masuk ke kamarnya. Hari ini begitu menguras emosi baginya, siang tadi dia bersitegang dengan rekan kerjanyanya masalah penyusunan anggaran. Dia meninggalkan rapat begitu saja kemudian mencari ibunya.

Melihat atap rumahnya yang masih belum berisi plafon, Astra teringat bagaimana dia berusaha membangun rumah ini. Jaraknya yang begitu jauh membuat uangnya lebih banyak terkuras untuk membiayai buruh bangunan. Namun rumahnya jauh lebih baik dari dulu yang hanya gubug bambu beratap ilalang. Sebuah tempat pengasingan ibu dari keluarga besarnya. Astra yang lahir di luar nikah dianggap mencoreng nama baik keluarga puri.

Mimpi membangunkan Astra dengan paksa. Memori-memori buruk memborbadir kesadarannya. Sampah yang begitu dekat membangun mimpinya. Seorang anak yang lahir dari tumpukan sampah, merengek meminta keadilan. Anak yang lain datang mendekat namun tsunami sampah memisahkan mereka.

Astra berjalan menyalakan lampu penerangan, ketika melewati kamar ibunya. Dia mendengar rafalan kata-kata tidak beraturan. Ibunya bersimpuh di hadapan botol plastik. Ibunya mengaku menikah dengan manusia plastik. Mereka bertemu di Pura Taman, manusia plastik adalah utusan dari Pura Taman untuk menjaga sungai dari sampah plastik. Manusia Plastik berjanji akan menemui ibunya jika terus memuja sampah plastik.

Ponselnya berdering, bapak direktur hotel membuka dengan nada yang keras. Astra mendapat aduan dari rekan kerjanya, dia pulang mendahului. Dia tahu yang mengadukannya pasti Yoga manajer yang menentang usul pembuatan alat pengolah limbah hotel. Menurut Yoga laut sudah rusak oleh perilaku warga yang membuang sampah sembarangan. Tidak perlu membuang-buang anggaran untuk laut yang memang tidak bisa diselamatkan.

Rumah terasa hidup dengan perdebatan Astra. Dia mengancam akan mengundurkan diri dari perusahaan. Di luar dugaan ancamannya diterima, Astra tidak dapat menarik ucapannya lagi. Dunia ini sudah penuh dengan manusia sampah, saling menjilat demi jabatan. Saling mencurangi satu sama lain. Mau tidak mau Astra ikut larut dalam lingkaran saling mencurangi dan dicurangi. Folder drive yang berisi penyusunan anggaran hotel, dia hapus semua demi pembalasan yang setimpal.

Harapan yang tersisa hanya Jyoti, gadis kemarin sore yang baru mengenal cinta. Gadis yang konon mau menerima kondisinya. Astra sudah memacari dua puluh gadis, semuanya menolak ketika Astra mengaku memiliki ibu yang gila. Astra menelepon Jyoti menyampaikan dia sedang butuh uang. Dengan sedikit rayuan saldo rekeningnya langsung bertambah.

Keesokan harinya Astra mendatangi Yoga. Tinjunya melayang begitu saja tepat di mulutnya. Mulut itulah yang mengadukan kepulangannya dari kantor, mulut itulah yang menuduh Astra menggelapkan anggaran hotel. Astra memang menganggarkan dana lebih untuk pengolahan limbah hotel secara diam-diam karena usulannya tidak diterima.

Astra mengemasi barang-barang kantornya setelah memberikan surat pengunduran diri kepada direktur. Semua diam melihat langkah santai Astra memegangi kardus dan menendang pintu keluar kantor. Dunia korporat ini tidak cocok untuk anak sampah seperti Astra. Tidak ada rencana lagi Astra hanya mengikuti jalan yang semakin sempit terasa. Di ujung gang Jyoti sudah menunggunya, Astra masuk dan menggantikan jyoti mengemudikan mobilnya. Astra memilih melewati jalan tikus yang memang keahliannya.

“Sampai kapan kamu merahasiakan hubungan kita sama ayahku. Mantan direkturmu?” tanya Jyoti.

“Kalau kamu menemui ibuku. aku temui ayahmu juga. Bukan masalah berat jika aku kembali ke hotel bapakmu. Beberapa data perusahaan yang penting, masih aku pegang,” kata Astra.

“Kita cari ibumu sekarang biar kata-kataku terbukti!” jawab Jyoti enteng.

Astra mengajak Jyoti ke sungai mencari ibunya yang sedang asyik memungut sampah. Beberapa gundukan sampah berjejer seperti miniatur gunung. Astra menunjukkan sampah-sampah yang dikumpulkan ibunya. Tidak hanya sampah plastik, ibunya juga mengumpulkan kayu, batu, baju bekas, celana dalam, dan popok bayi. Orang ningrat pasti akan jijik dan Astra yakin memenangkan pertaruhannya dengan Jyoti.

Seperti sedang memainkan tari kontemporer, Jyoti melilit tubuhnya dengan sampah plastik. Tubuhnya meliuk-liuk mengibas-ngibaskan plastik di tangannya. Ibu Astra berlari mendekati Jyoti seperti anak kecil yang mengejar mainannya.

“Titisan manusia plastik sudah lahir,” kata Ibu Astra sambil berlutut.

Mulut Astra ternganga melihat kejadian absurd di matanya. Dia baru sadar selama ini dia memacari gadis gila. Seharusnya dia memperhitungkan juga bahwa Jyoti adalah seniman kontemporer lulusan universitas seni di Belanda.

Air mata Astra keluar begitu saja melihat ibunya diperlakukan dengan baik. Jyoti meladeni cerocos ibunya yang tidak tentu arah. Jyoti mengimbanginya dengan obrolan yang tidak kalah aneh. Ayahnya pemerhati sampah. Jyoti mewarisi darah seni ayahnya. Jyoti gemar membuat karya instalasi dari sampah. Jyoti tidak malu mengatakan dia sering berkomunikasi dengan ban bekas, kaleng bekas, atau botol-botol minuman keras.

“Tuhan tidak menciptakan sampah. Semua memiliki misi sucinya masing-masing. Sampah menjadi pemantik jiwa seniku,” kata Jyoti.

“Mungkin itu yang membuatmu terbiasa dengan sesuatu yang menjijikan. Seperti aku dan ibuku,” kata Astra.

“Ibumu unik, lo. Dia mampu menciptakan karya seni dengan caranya sendiri. Aku malah tertarik mengangkat cerita tentang ibumu kepada komunitas seniku,” kata Jyoti.

“Terserah kamu lah. Tapi aku lega,” kata Astra.

“Keputusanku sudah bulat. Siap-siap saja kamu menemui ayahku,” kata Jyoti.

 Berkat Jyoti ibu Astra semakin terkenal sebagai seniman Skizofrenia, beberapa karyanya dipamerkan dan berhasil terjual. Hal ini menarik wartawan dan televisi meliput aktivitas ibunya. Astra lebih berperan sebagai manajer yang memperhatikan kontrak ibunya. Dengan pengetahuan ekonominya dia sanggup menganggarkan uang pengobatan ibunya dan modal menikahi Jyoti.

Jyoti mengadakan pentas seni kontemporer bersama ibu Astra. Gedung kesenian sudah ramai dengan pengunjung. Sebagian besar mereka berpenampilan nyentrik. Astra hanya duduk bengong di pojok studio. Melihat orang-orang aneh, ibunya terlihat normal. Ibunya membuat karya dengan media plastik, botol plastik, kain bekas, tali dan semua barang yang ditemukannya di sungai.

Antusias penonton menandakan tumbuhnya kesadaran untuk menjaga lingkungan. Langkah ibunya selama ini tidak salah. Upayanya adalah bentuk kecintaannya kepada sungai dan junjungannya di Pura Taman. Beragama tidak melulu tentang upacara, menjaga lingkungan adalah bentuk agama yang lebih konkret.

Pria gendut, berambut pirang dengan jas yang terbuat dari plastik memeluk Jyoti. Di luar dugaan janji menemui ayah Jyoti datang begitu cepat. Astra menerobos kerumunan ia ingin datang bukan sebagai mantan manajer keuangan hotel, tetapi sebagai pria yang akan melamar Jyoti.

Ibu Astra bangkit dari karya seninya mendatangi ayah Jyoti dan memeluknya begitu erat. Tangis ibunya tumpah seperti mendung yang menyimpan hujan begitu lama. Ayah Jyoti kebingungan sampai ketika Ibu Astra menggumamkan “manusia plastik” ke telinganya mendadak bayangan pilu datang.

Tiga puluh lima tahun silam ketika menyelesaikan projek kampusnya dia bertemu dengan gadis Bali yang membuatnya jatuh hati. Mereka membuat karya instalasi sampah dengan memadukan budaya Bali dan Belanda. Cinta tumbuh, mengakar, membesar, berserabut serumit sampah. [T]

Penulis: I Nyoman Sutarjana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Next Post

Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

I Nyoman Sutarjana

I Nyoman Sutarjana

Guru Agama Hindu

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Paskah dari Abadon ---Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co