27 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

I Nyoman Sutarjana by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
in Cerpen
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha menaruh sampah plastik ke dalam bajunya. Sungai hanya diisi beberapa ibu yang mencuci baju, seorang ibu bersama anaknya menghaturkan sesajen di Pura Taman. Mereka abai dengan kondisi Astra, hal itu lumrah terjadi. Kehabisan akal, Astra terpaksa mengikuti pola pikir ibunya. Botol plastik ukuran satu liter dia ambil lalu ditimang-timang.

“Ibu, adik menangis dia minta makan. Kita ke rumah dulu ya!” kata Astra.

“Cup, cup, cup. Anak baik, jangan menangis. Kita pulang sekarang ya!” kata ibunya.

Rumah Astra penuh dengan sampah plastik bahkan tempat suci yang masih berbentuk turus lumbung digantungi kresek berwarna-warni. Astra merebahkan badannya setelah melihat ibunya masuk ke kamarnya. Hari ini begitu menguras emosi baginya, siang tadi dia bersitegang dengan rekan kerjanyanya masalah penyusunan anggaran. Dia meninggalkan rapat begitu saja kemudian mencari ibunya.

Melihat atap rumahnya yang masih belum berisi plafon, Astra teringat bagaimana dia berusaha membangun rumah ini. Jaraknya yang begitu jauh membuat uangnya lebih banyak terkuras untuk membiayai buruh bangunan. Namun rumahnya jauh lebih baik dari dulu yang hanya gubug bambu beratap ilalang. Sebuah tempat pengasingan ibu dari keluarga besarnya. Astra yang lahir di luar nikah dianggap mencoreng nama baik keluarga puri.

Mimpi membangunkan Astra dengan paksa. Memori-memori buruk memborbadir kesadarannya. Sampah yang begitu dekat membangun mimpinya. Seorang anak yang lahir dari tumpukan sampah, merengek meminta keadilan. Anak yang lain datang mendekat namun tsunami sampah memisahkan mereka.

Astra berjalan menyalakan lampu penerangan, ketika melewati kamar ibunya. Dia mendengar rafalan kata-kata tidak beraturan. Ibunya bersimpuh di hadapan botol plastik. Ibunya mengaku menikah dengan manusia plastik. Mereka bertemu di Pura Taman, manusia plastik adalah utusan dari Pura Taman untuk menjaga sungai dari sampah plastik. Manusia Plastik berjanji akan menemui ibunya jika terus memuja sampah plastik.

Ponselnya berdering, bapak direktur hotel membuka dengan nada yang keras. Astra mendapat aduan dari rekan kerjanya, dia pulang mendahului. Dia tahu yang mengadukannya pasti Yoga manajer yang menentang usul pembuatan alat pengolah limbah hotel. Menurut Yoga laut sudah rusak oleh perilaku warga yang membuang sampah sembarangan. Tidak perlu membuang-buang anggaran untuk laut yang memang tidak bisa diselamatkan.

Rumah terasa hidup dengan perdebatan Astra. Dia mengancam akan mengundurkan diri dari perusahaan. Di luar dugaan ancamannya diterima, Astra tidak dapat menarik ucapannya lagi. Dunia ini sudah penuh dengan manusia sampah, saling menjilat demi jabatan. Saling mencurangi satu sama lain. Mau tidak mau Astra ikut larut dalam lingkaran saling mencurangi dan dicurangi. Folder drive yang berisi penyusunan anggaran hotel, dia hapus semua demi pembalasan yang setimpal.

Harapan yang tersisa hanya Jyoti, gadis kemarin sore yang baru mengenal cinta. Gadis yang konon mau menerima kondisinya. Astra sudah memacari dua puluh gadis, semuanya menolak ketika Astra mengaku memiliki ibu yang gila. Astra menelepon Jyoti menyampaikan dia sedang butuh uang. Dengan sedikit rayuan saldo rekeningnya langsung bertambah.

Keesokan harinya Astra mendatangi Yoga. Tinjunya melayang begitu saja tepat di mulutnya. Mulut itulah yang mengadukan kepulangannya dari kantor, mulut itulah yang menuduh Astra menggelapkan anggaran hotel. Astra memang menganggarkan dana lebih untuk pengolahan limbah hotel secara diam-diam karena usulannya tidak diterima.

Astra mengemasi barang-barang kantornya setelah memberikan surat pengunduran diri kepada direktur. Semua diam melihat langkah santai Astra memegangi kardus dan menendang pintu keluar kantor. Dunia korporat ini tidak cocok untuk anak sampah seperti Astra. Tidak ada rencana lagi Astra hanya mengikuti jalan yang semakin sempit terasa. Di ujung gang Jyoti sudah menunggunya, Astra masuk dan menggantikan jyoti mengemudikan mobilnya. Astra memilih melewati jalan tikus yang memang keahliannya.

“Sampai kapan kamu merahasiakan hubungan kita sama ayahku. Mantan direkturmu?” tanya Jyoti.

“Kalau kamu menemui ibuku. aku temui ayahmu juga. Bukan masalah berat jika aku kembali ke hotel bapakmu. Beberapa data perusahaan yang penting, masih aku pegang,” kata Astra.

“Kita cari ibumu sekarang biar kata-kataku terbukti!” jawab Jyoti enteng.

Astra mengajak Jyoti ke sungai mencari ibunya yang sedang asyik memungut sampah. Beberapa gundukan sampah berjejer seperti miniatur gunung. Astra menunjukkan sampah-sampah yang dikumpulkan ibunya. Tidak hanya sampah plastik, ibunya juga mengumpulkan kayu, batu, baju bekas, celana dalam, dan popok bayi. Orang ningrat pasti akan jijik dan Astra yakin memenangkan pertaruhannya dengan Jyoti.

Seperti sedang memainkan tari kontemporer, Jyoti melilit tubuhnya dengan sampah plastik. Tubuhnya meliuk-liuk mengibas-ngibaskan plastik di tangannya. Ibu Astra berlari mendekati Jyoti seperti anak kecil yang mengejar mainannya.

“Titisan manusia plastik sudah lahir,” kata Ibu Astra sambil berlutut.

Mulut Astra ternganga melihat kejadian absurd di matanya. Dia baru sadar selama ini dia memacari gadis gila. Seharusnya dia memperhitungkan juga bahwa Jyoti adalah seniman kontemporer lulusan universitas seni di Belanda.

Air mata Astra keluar begitu saja melihat ibunya diperlakukan dengan baik. Jyoti meladeni cerocos ibunya yang tidak tentu arah. Jyoti mengimbanginya dengan obrolan yang tidak kalah aneh. Ayahnya pemerhati sampah. Jyoti mewarisi darah seni ayahnya. Jyoti gemar membuat karya instalasi dari sampah. Jyoti tidak malu mengatakan dia sering berkomunikasi dengan ban bekas, kaleng bekas, atau botol-botol minuman keras.

“Tuhan tidak menciptakan sampah. Semua memiliki misi sucinya masing-masing. Sampah menjadi pemantik jiwa seniku,” kata Jyoti.

“Mungkin itu yang membuatmu terbiasa dengan sesuatu yang menjijikan. Seperti aku dan ibuku,” kata Astra.

“Ibumu unik, lo. Dia mampu menciptakan karya seni dengan caranya sendiri. Aku malah tertarik mengangkat cerita tentang ibumu kepada komunitas seniku,” kata Jyoti.

“Terserah kamu lah. Tapi aku lega,” kata Astra.

“Keputusanku sudah bulat. Siap-siap saja kamu menemui ayahku,” kata Jyoti.

 Berkat Jyoti ibu Astra semakin terkenal sebagai seniman Skizofrenia, beberapa karyanya dipamerkan dan berhasil terjual. Hal ini menarik wartawan dan televisi meliput aktivitas ibunya. Astra lebih berperan sebagai manajer yang memperhatikan kontrak ibunya. Dengan pengetahuan ekonominya dia sanggup menganggarkan uang pengobatan ibunya dan modal menikahi Jyoti.

Jyoti mengadakan pentas seni kontemporer bersama ibu Astra. Gedung kesenian sudah ramai dengan pengunjung. Sebagian besar mereka berpenampilan nyentrik. Astra hanya duduk bengong di pojok studio. Melihat orang-orang aneh, ibunya terlihat normal. Ibunya membuat karya dengan media plastik, botol plastik, kain bekas, tali dan semua barang yang ditemukannya di sungai.

Antusias penonton menandakan tumbuhnya kesadaran untuk menjaga lingkungan. Langkah ibunya selama ini tidak salah. Upayanya adalah bentuk kecintaannya kepada sungai dan junjungannya di Pura Taman. Beragama tidak melulu tentang upacara, menjaga lingkungan adalah bentuk agama yang lebih konkret.

Pria gendut, berambut pirang dengan jas yang terbuat dari plastik memeluk Jyoti. Di luar dugaan janji menemui ayah Jyoti datang begitu cepat. Astra menerobos kerumunan ia ingin datang bukan sebagai mantan manajer keuangan hotel, tetapi sebagai pria yang akan melamar Jyoti.

Ibu Astra bangkit dari karya seninya mendatangi ayah Jyoti dan memeluknya begitu erat. Tangis ibunya tumpah seperti mendung yang menyimpan hujan begitu lama. Ayah Jyoti kebingungan sampai ketika Ibu Astra menggumamkan “manusia plastik” ke telinganya mendadak bayangan pilu datang.

Tiga puluh lima tahun silam ketika menyelesaikan projek kampusnya dia bertemu dengan gadis Bali yang membuatnya jatuh hati. Mereka membuat karya instalasi sampah dengan memadukan budaya Bali dan Belanda. Cinta tumbuh, mengakar, membesar, berserabut serumit sampah. [T]

Penulis: I Nyoman Sutarjana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Next Post

Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

I Nyoman Sutarjana

I Nyoman Sutarjana

Guru Agama Hindu

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Paskah dari Abadon ---Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

by Isran Kamal
April 27, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

by Sugi Lanus
April 27, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co