17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

I Nyoman Sutarjana by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
in Cerpen
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha menaruh sampah plastik ke dalam bajunya. Sungai hanya diisi beberapa ibu yang mencuci baju, seorang ibu bersama anaknya menghaturkan sesajen di Pura Taman. Mereka abai dengan kondisi Astra, hal itu lumrah terjadi. Kehabisan akal, Astra terpaksa mengikuti pola pikir ibunya. Botol plastik ukuran satu liter dia ambil lalu ditimang-timang.

“Ibu, adik menangis dia minta makan. Kita ke rumah dulu ya!” kata Astra.

“Cup, cup, cup. Anak baik, jangan menangis. Kita pulang sekarang ya!” kata ibunya.

Rumah Astra penuh dengan sampah plastik bahkan tempat suci yang masih berbentuk turus lumbung digantungi kresek berwarna-warni. Astra merebahkan badannya setelah melihat ibunya masuk ke kamarnya. Hari ini begitu menguras emosi baginya, siang tadi dia bersitegang dengan rekan kerjanyanya masalah penyusunan anggaran. Dia meninggalkan rapat begitu saja kemudian mencari ibunya.

Melihat atap rumahnya yang masih belum berisi plafon, Astra teringat bagaimana dia berusaha membangun rumah ini. Jaraknya yang begitu jauh membuat uangnya lebih banyak terkuras untuk membiayai buruh bangunan. Namun rumahnya jauh lebih baik dari dulu yang hanya gubug bambu beratap ilalang. Sebuah tempat pengasingan ibu dari keluarga besarnya. Astra yang lahir di luar nikah dianggap mencoreng nama baik keluarga puri.

Mimpi membangunkan Astra dengan paksa. Memori-memori buruk memborbadir kesadarannya. Sampah yang begitu dekat membangun mimpinya. Seorang anak yang lahir dari tumpukan sampah, merengek meminta keadilan. Anak yang lain datang mendekat namun tsunami sampah memisahkan mereka.

Astra berjalan menyalakan lampu penerangan, ketika melewati kamar ibunya. Dia mendengar rafalan kata-kata tidak beraturan. Ibunya bersimpuh di hadapan botol plastik. Ibunya mengaku menikah dengan manusia plastik. Mereka bertemu di Pura Taman, manusia plastik adalah utusan dari Pura Taman untuk menjaga sungai dari sampah plastik. Manusia Plastik berjanji akan menemui ibunya jika terus memuja sampah plastik.

Ponselnya berdering, bapak direktur hotel membuka dengan nada yang keras. Astra mendapat aduan dari rekan kerjanya, dia pulang mendahului. Dia tahu yang mengadukannya pasti Yoga manajer yang menentang usul pembuatan alat pengolah limbah hotel. Menurut Yoga laut sudah rusak oleh perilaku warga yang membuang sampah sembarangan. Tidak perlu membuang-buang anggaran untuk laut yang memang tidak bisa diselamatkan.

Rumah terasa hidup dengan perdebatan Astra. Dia mengancam akan mengundurkan diri dari perusahaan. Di luar dugaan ancamannya diterima, Astra tidak dapat menarik ucapannya lagi. Dunia ini sudah penuh dengan manusia sampah, saling menjilat demi jabatan. Saling mencurangi satu sama lain. Mau tidak mau Astra ikut larut dalam lingkaran saling mencurangi dan dicurangi. Folder drive yang berisi penyusunan anggaran hotel, dia hapus semua demi pembalasan yang setimpal.

Harapan yang tersisa hanya Jyoti, gadis kemarin sore yang baru mengenal cinta. Gadis yang konon mau menerima kondisinya. Astra sudah memacari dua puluh gadis, semuanya menolak ketika Astra mengaku memiliki ibu yang gila. Astra menelepon Jyoti menyampaikan dia sedang butuh uang. Dengan sedikit rayuan saldo rekeningnya langsung bertambah.

Keesokan harinya Astra mendatangi Yoga. Tinjunya melayang begitu saja tepat di mulutnya. Mulut itulah yang mengadukan kepulangannya dari kantor, mulut itulah yang menuduh Astra menggelapkan anggaran hotel. Astra memang menganggarkan dana lebih untuk pengolahan limbah hotel secara diam-diam karena usulannya tidak diterima.

Astra mengemasi barang-barang kantornya setelah memberikan surat pengunduran diri kepada direktur. Semua diam melihat langkah santai Astra memegangi kardus dan menendang pintu keluar kantor. Dunia korporat ini tidak cocok untuk anak sampah seperti Astra. Tidak ada rencana lagi Astra hanya mengikuti jalan yang semakin sempit terasa. Di ujung gang Jyoti sudah menunggunya, Astra masuk dan menggantikan jyoti mengemudikan mobilnya. Astra memilih melewati jalan tikus yang memang keahliannya.

“Sampai kapan kamu merahasiakan hubungan kita sama ayahku. Mantan direkturmu?” tanya Jyoti.

“Kalau kamu menemui ibuku. aku temui ayahmu juga. Bukan masalah berat jika aku kembali ke hotel bapakmu. Beberapa data perusahaan yang penting, masih aku pegang,” kata Astra.

“Kita cari ibumu sekarang biar kata-kataku terbukti!” jawab Jyoti enteng.

Astra mengajak Jyoti ke sungai mencari ibunya yang sedang asyik memungut sampah. Beberapa gundukan sampah berjejer seperti miniatur gunung. Astra menunjukkan sampah-sampah yang dikumpulkan ibunya. Tidak hanya sampah plastik, ibunya juga mengumpulkan kayu, batu, baju bekas, celana dalam, dan popok bayi. Orang ningrat pasti akan jijik dan Astra yakin memenangkan pertaruhannya dengan Jyoti.

Seperti sedang memainkan tari kontemporer, Jyoti melilit tubuhnya dengan sampah plastik. Tubuhnya meliuk-liuk mengibas-ngibaskan plastik di tangannya. Ibu Astra berlari mendekati Jyoti seperti anak kecil yang mengejar mainannya.

“Titisan manusia plastik sudah lahir,” kata Ibu Astra sambil berlutut.

Mulut Astra ternganga melihat kejadian absurd di matanya. Dia baru sadar selama ini dia memacari gadis gila. Seharusnya dia memperhitungkan juga bahwa Jyoti adalah seniman kontemporer lulusan universitas seni di Belanda.

Air mata Astra keluar begitu saja melihat ibunya diperlakukan dengan baik. Jyoti meladeni cerocos ibunya yang tidak tentu arah. Jyoti mengimbanginya dengan obrolan yang tidak kalah aneh. Ayahnya pemerhati sampah. Jyoti mewarisi darah seni ayahnya. Jyoti gemar membuat karya instalasi dari sampah. Jyoti tidak malu mengatakan dia sering berkomunikasi dengan ban bekas, kaleng bekas, atau botol-botol minuman keras.

“Tuhan tidak menciptakan sampah. Semua memiliki misi sucinya masing-masing. Sampah menjadi pemantik jiwa seniku,” kata Jyoti.

“Mungkin itu yang membuatmu terbiasa dengan sesuatu yang menjijikan. Seperti aku dan ibuku,” kata Astra.

“Ibumu unik, lo. Dia mampu menciptakan karya seni dengan caranya sendiri. Aku malah tertarik mengangkat cerita tentang ibumu kepada komunitas seniku,” kata Jyoti.

“Terserah kamu lah. Tapi aku lega,” kata Astra.

“Keputusanku sudah bulat. Siap-siap saja kamu menemui ayahku,” kata Jyoti.

 Berkat Jyoti ibu Astra semakin terkenal sebagai seniman Skizofrenia, beberapa karyanya dipamerkan dan berhasil terjual. Hal ini menarik wartawan dan televisi meliput aktivitas ibunya. Astra lebih berperan sebagai manajer yang memperhatikan kontrak ibunya. Dengan pengetahuan ekonominya dia sanggup menganggarkan uang pengobatan ibunya dan modal menikahi Jyoti.

Jyoti mengadakan pentas seni kontemporer bersama ibu Astra. Gedung kesenian sudah ramai dengan pengunjung. Sebagian besar mereka berpenampilan nyentrik. Astra hanya duduk bengong di pojok studio. Melihat orang-orang aneh, ibunya terlihat normal. Ibunya membuat karya dengan media plastik, botol plastik, kain bekas, tali dan semua barang yang ditemukannya di sungai.

Antusias penonton menandakan tumbuhnya kesadaran untuk menjaga lingkungan. Langkah ibunya selama ini tidak salah. Upayanya adalah bentuk kecintaannya kepada sungai dan junjungannya di Pura Taman. Beragama tidak melulu tentang upacara, menjaga lingkungan adalah bentuk agama yang lebih konkret.

Pria gendut, berambut pirang dengan jas yang terbuat dari plastik memeluk Jyoti. Di luar dugaan janji menemui ayah Jyoti datang begitu cepat. Astra menerobos kerumunan ia ingin datang bukan sebagai mantan manajer keuangan hotel, tetapi sebagai pria yang akan melamar Jyoti.

Ibu Astra bangkit dari karya seninya mendatangi ayah Jyoti dan memeluknya begitu erat. Tangis ibunya tumpah seperti mendung yang menyimpan hujan begitu lama. Ayah Jyoti kebingungan sampai ketika Ibu Astra menggumamkan “manusia plastik” ke telinganya mendadak bayangan pilu datang.

Tiga puluh lima tahun silam ketika menyelesaikan projek kampusnya dia bertemu dengan gadis Bali yang membuatnya jatuh hati. Mereka membuat karya instalasi sampah dengan memadukan budaya Bali dan Belanda. Cinta tumbuh, mengakar, membesar, berserabut serumit sampah. [T]

Penulis: I Nyoman Sutarjana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Next Post

Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

I Nyoman Sutarjana

I Nyoman Sutarjana

Guru Agama Hindu

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Paskah dari Abadon ---Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co