17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Yohan Mataubana by Yohan Mataubana
April 5, 2026
in Esai
Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Pementasan Teater Abadon

“Abadon.” Nama itu menggigit. Dalam tradisi Ibrani berarti kebinasaan, kehancuran, sesuatu yang hilang tak tersisa. Kitab Wahyu 9:11, bahkan mempersonifikasikannya sebagai raja atas jurang maut. Biasanya kita menjauh dari nama seperti itu, apalagi di ambang Pekan Suci.

Namun, pada Senin malam, 31 Maret 2026, di Pelataran Kapela Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Teater Aletheia Ledalero justru memilih Abadon sebagai pintu masuk untuk merenungkan misteri Paskah. Bukan untuk merayakan kehancuran, melainkan untuk berani menatap langsung kepekatan jurang maut, demi merawat sisa-sisa kepasrahan dan menyuarakan pembebasan.

Pementasan yang disutradarai Dangker, Rian, dan Mario dengan naskah karya Mariano Payong ini tidak sekadar pertunjukan artistik. Ia menjelma menjadi ruang ziarah iman yang jujur, yang memaksa kita tidak berpaling dari kenyataan pahit yang kerap terkubur di balik rapinya perayaan liturgi.

Adegan pertama membuka dengan Rabu Trewa dan Rabu Abu. Namun di sini, abu tidak ditaburkan dalam hening yang khidmat. Abu bertebaran di tengah dentang seng yang memekakkan—suara dunia yang bising oleh ambisi, kekerasan, dan konflik. Penonton langsung dihantam sebuah pengakuan: dunia memang tidak pernah sunyi dari derita. Dan di tengah kebisingan itu, abu menjadi pengingat akan kefanaan sekaligus panggilan tobat yang tak bisa ditawar. Pekan Suci sejatinya dimulai dari kesediaan untuk duduk dalam debu, mengakui bahwa kita bagian dari dunia yang rusak ini.

Lalu pada adegan kedua menghadirkan ironi tentang “Perjamuan Malam Human Trafficking.” Ritus suci yang seharusnya menjadi tanda kasih dan persaudaraan, dipelintir menjadi pesta kejahatan. Empat pelaku perdagangan orang berkumpul merayakan keuntungan dari nyawa manusia. Konflik dan pengkhianatan di antara mereka menjadi bayangan gelap Yudas yang tak pernah usai. Di sini, Abadon mengingatkan bahwa sengsara Kristus tidak hanya terjadi di Golgota dua ribu tahun lalu, tetapi setiap kali manusia direduksi menjadi komoditas, setiap kali pengkhianatan dilakukan atas nama keuntungan.

Kita yang menonton tidak bisa merasa asing. Sindikat perdagangan orang, eksploitasi, ketidakadilan struktural—itulah “perjamuan malam” yang masih berlangsung di sekitar kita. Dan kita? Terkadang kita adalah penonton yang diam, atau bahkan secara tak sadar menjadi bagian dari sistem yang membiarkannya.

Ratapan adalah Doa

Memasuki adegan ketiga, panggung melambat. Tiga perempuan masuk untuk membersihkan bekas perjamuan gelap. Mereka menyapu, mengepel, tetapi dalam diam yang berat itu justru terjadi pergulatan batin yang paling dalam. Dialog mereka adalah percakapan antara Yesus dan dua penjahat yang disalibkan: gugatan terhadap keadilan Tuhan, keputusasaan, dan pertanyaan apakah harapan masih bersisa.

Di sinilah teater ini mencapai puncak kejujurannya. Kita sering tergesa-gesa membungkus iman dengan jawaban-jawaban manis. Tapi Abadon membiarkan para tokohnya dan penonton bergumul tanpa memberi resolusi instan.

 Mereka tidak segera menemukan penghiburan. Yang ada justru ratapan dalam bahasa Nagi. Lagu itu menyisahkan tentang kesedihan orang tua terhadap anaknya yang telah meninggal:

E….Cuma hatu ni e/Ana Ema No E/Ana yang Ema sayang no e/ Ana yang Ema cinta/ Bukan gampang Ema gando no e/ Gando e/ Mati ido No e/ Gando mati ido/ E Macam rumah No e/ Tiang patah No e/ Itu yang Ema rasa No e/ Rasa dalam ido/ Rasa dalam ido No e/ Macam e…pedang cuco No e/ Cuco di ati Ema

Menyesal … menyesal…menyesal/ So terlambat Ema e/ Tega dosa tega salah/ Sampe kita piko ini/ Menyesal o trlambat Ema e/ Tanah kering jadi basa campo radu/ Mo darah melele suci Ae mata   Ema e/ Mendo tuto Kila sambar guro bunyi Ema e/ Angin Tio ujan ketu/ Cari daya o te dapa/ Cerita sampe sini Jo data berasu kita piko/ Jaga Kule mo daging so pasti/Tulang ceroweto Ema e.

Sebuah bahasa yang mungkin tak semua orang mengerti, tetapi getarannya menusuk kalbu. Ratapan itu menjadi suara para korban yang “disalibkan” oleh ketidakadilan, suara yang selama ini tenggelam.

Dalam tradisi Pekan Suci, Jumat Agung adalah hari ketika Yesus sendiri berteriak, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Matius 27:46). Ratapan bukanlah lawan dari iman; ia adalah iman yang tidak berpura-pura. Abadon mengingatkan kita bahwa tanpa ratapan, Paskah akan menjadi perayaan yang dangkal.

Pada monolog di akhir lakon, aktor berbicara tentang pembebasan. Seruan itu tidak tiba-tiba menghapus luka yang telah dipaparkan sebelumnya. Ia hadir sebagai sebuah titik terang yang muncul setelah kegelapan. Inilah struktur Paskah yang sejati: kebangkitan bukanlah pelompatan dari penderitaan, melainkan sebuah fajar yang lahir setelah kita melewati malam yang paling gelap.

Seruan pembebasan itu menjadi semacam mandat: mereka yang telah menyaksikan penderitaan tidak boleh tinggal diam. Ketua Fratres Seminari Tinggi, Frater Loys Adiman, SVD sebagaimana yang diberitakan dalam seminariledalero.org, menangkap makna ini dengan tepat. Menurutnya, pementasan tersebut adalah pewartaan kontekstual yang membantu para frater—calon imam—menyadari bahwa sengsara Kristus terus hadir dalam realitas hari ini, terutama dalam pengalaman mereka yang tertindas. Lebih dari sekadar lakon, teater ini menjadi bagian dari proses formasi: membentuk kepekaan hati yang tidak tawar terhadap penderitaan.

Tawaran

Pementasan Abadon menawarkan sebuah cara baru untuk memasuki Pekan Suci. Ia mengajak kita untuk menelusuri jalan salib hidup yang sesungguhnya.  Ada jalan panjang yang harus ditempuh yakni jalan abu, jalan pengkhianatan, jalan ratapan, dan akhirnya jalan pembebasan.

Di tengah semangat zaman yang serba cepat dan instan, Abadon mmenghantar kita untuk bertanya: Apakah Paskah yang kita rayakan sungguh lahir dari pergumulan atas penderitaan dunia? Ataukah kita hanya merayakan ritual tanpa keberanian untuk menatap jurang maut?

“Hai manusia yang lebih tinggi, pelajarilah ini dariku: di pasar tidak ada orang yang percaya pada manusia yang lebih tinggi. Dan jika kalian ingin berbicara di sana, silakan! Namun, massa berkedip: ‘Kita semua setara’. ‘Hai manusia yang lebih tinggi’—demikianlah massa berkedip—’tidak ada manusia yang lebih tinggi, kita semua setara, manusia adalah manusia, di hadapan Tuhan kita semua setara’. Di hadapan Tuhan! Namun sekarang dewa ini telah mati. Dan di hadapan massa, kita tidak ingin setara…. Hai manusia yang lebih tinggi, Raja ini adalah bahaya terbesar kalian. Hanya sejak ia berbaring di makamnya, kalian telah dibangkitkan….” (Monolog: Seruan pembebasan dalam Teater Abadon).

“Dewa yang mati” dalam konteks teater ini sebetulnya melambangkan matinya tatanan dunia yang menindas, atau matinya kenyamanan beragama yang dangkal. Dengan matinya tatanan lama tersebut, barulah “manusia yang lebih tinggi” atau kebangkitan sejati bisa terjadi, sejalan dengan struktur Paskah bahwa fajar lahir setelah malam yang paling gelap.

Setelah menyaksikan Abadon. Kita diajak “sadar” untuk tidak takut pada nama yang menyeramkan itu. Karena di ujung jurang maut, kita justru bisa menemukan fajar harapan—bukan harapan murahan yang melompati penderitaan, melainkan harapan yang lahir dari kepasrahan yang telah diuji.

Selamat menelusuri kedalaman luka. Selamat menemukan fajar harapan di ujung jurang maut. [T]

*Refleksi ini ditulis berdasarkan pementasan Teater Aletheia di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, 31 Maret 2026, serta naskah karya Mariano Payong.

Tags: paskahTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

Next Post

‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

Yohan Mataubana

Yohan Mataubana

Seorang perantau di Hokeng, yang kini sedang menjalani masa pengungsian akibat letusan gunung Lewotobi Laki-Laki.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

'Siap 86': Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co