7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Yohan Mataubana by Yohan Mataubana
April 5, 2026
in Esai
Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Pementasan Teater Abadon

“Abadon.” Nama itu menggigit. Dalam tradisi Ibrani berarti kebinasaan, kehancuran, sesuatu yang hilang tak tersisa. Kitab Wahyu 9:11, bahkan mempersonifikasikannya sebagai raja atas jurang maut. Biasanya kita menjauh dari nama seperti itu, apalagi di ambang Pekan Suci.

Namun, pada Senin malam, 31 Maret 2026, di Pelataran Kapela Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Teater Aletheia Ledalero justru memilih Abadon sebagai pintu masuk untuk merenungkan misteri Paskah. Bukan untuk merayakan kehancuran, melainkan untuk berani menatap langsung kepekatan jurang maut, demi merawat sisa-sisa kepasrahan dan menyuarakan pembebasan.

Pementasan yang disutradarai Dangker, Rian, dan Mario dengan naskah karya Mariano Payong ini tidak sekadar pertunjukan artistik. Ia menjelma menjadi ruang ziarah iman yang jujur, yang memaksa kita tidak berpaling dari kenyataan pahit yang kerap terkubur di balik rapinya perayaan liturgi.

Adegan pertama membuka dengan Rabu Trewa dan Rabu Abu. Namun di sini, abu tidak ditaburkan dalam hening yang khidmat. Abu bertebaran di tengah dentang seng yang memekakkan—suara dunia yang bising oleh ambisi, kekerasan, dan konflik. Penonton langsung dihantam sebuah pengakuan: dunia memang tidak pernah sunyi dari derita. Dan di tengah kebisingan itu, abu menjadi pengingat akan kefanaan sekaligus panggilan tobat yang tak bisa ditawar. Pekan Suci sejatinya dimulai dari kesediaan untuk duduk dalam debu, mengakui bahwa kita bagian dari dunia yang rusak ini.

Lalu pada adegan kedua menghadirkan ironi tentang “Perjamuan Malam Human Trafficking.” Ritus suci yang seharusnya menjadi tanda kasih dan persaudaraan, dipelintir menjadi pesta kejahatan. Empat pelaku perdagangan orang berkumpul merayakan keuntungan dari nyawa manusia. Konflik dan pengkhianatan di antara mereka menjadi bayangan gelap Yudas yang tak pernah usai. Di sini, Abadon mengingatkan bahwa sengsara Kristus tidak hanya terjadi di Golgota dua ribu tahun lalu, tetapi setiap kali manusia direduksi menjadi komoditas, setiap kali pengkhianatan dilakukan atas nama keuntungan.

Kita yang menonton tidak bisa merasa asing. Sindikat perdagangan orang, eksploitasi, ketidakadilan struktural—itulah “perjamuan malam” yang masih berlangsung di sekitar kita. Dan kita? Terkadang kita adalah penonton yang diam, atau bahkan secara tak sadar menjadi bagian dari sistem yang membiarkannya.

Ratapan adalah Doa

Memasuki adegan ketiga, panggung melambat. Tiga perempuan masuk untuk membersihkan bekas perjamuan gelap. Mereka menyapu, mengepel, tetapi dalam diam yang berat itu justru terjadi pergulatan batin yang paling dalam. Dialog mereka adalah percakapan antara Yesus dan dua penjahat yang disalibkan: gugatan terhadap keadilan Tuhan, keputusasaan, dan pertanyaan apakah harapan masih bersisa.

Di sinilah teater ini mencapai puncak kejujurannya. Kita sering tergesa-gesa membungkus iman dengan jawaban-jawaban manis. Tapi Abadon membiarkan para tokohnya dan penonton bergumul tanpa memberi resolusi instan.

 Mereka tidak segera menemukan penghiburan. Yang ada justru ratapan dalam bahasa Nagi. Lagu itu menyisahkan tentang kesedihan orang tua terhadap anaknya yang telah meninggal:

E….Cuma hatu ni e/Ana Ema No E/Ana yang Ema sayang no e/ Ana yang Ema cinta/ Bukan gampang Ema gando no e/ Gando e/ Mati ido No e/ Gando mati ido/ E Macam rumah No e/ Tiang patah No e/ Itu yang Ema rasa No e/ Rasa dalam ido/ Rasa dalam ido No e/ Macam e…pedang cuco No e/ Cuco di ati Ema

Menyesal … menyesal…menyesal/ So terlambat Ema e/ Tega dosa tega salah/ Sampe kita piko ini/ Menyesal o trlambat Ema e/ Tanah kering jadi basa campo radu/ Mo darah melele suci Ae mata   Ema e/ Mendo tuto Kila sambar guro bunyi Ema e/ Angin Tio ujan ketu/ Cari daya o te dapa/ Cerita sampe sini Jo data berasu kita piko/ Jaga Kule mo daging so pasti/Tulang ceroweto Ema e.

Sebuah bahasa yang mungkin tak semua orang mengerti, tetapi getarannya menusuk kalbu. Ratapan itu menjadi suara para korban yang “disalibkan” oleh ketidakadilan, suara yang selama ini tenggelam.

Dalam tradisi Pekan Suci, Jumat Agung adalah hari ketika Yesus sendiri berteriak, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Matius 27:46). Ratapan bukanlah lawan dari iman; ia adalah iman yang tidak berpura-pura. Abadon mengingatkan kita bahwa tanpa ratapan, Paskah akan menjadi perayaan yang dangkal.

Pada monolog di akhir lakon, aktor berbicara tentang pembebasan. Seruan itu tidak tiba-tiba menghapus luka yang telah dipaparkan sebelumnya. Ia hadir sebagai sebuah titik terang yang muncul setelah kegelapan. Inilah struktur Paskah yang sejati: kebangkitan bukanlah pelompatan dari penderitaan, melainkan sebuah fajar yang lahir setelah kita melewati malam yang paling gelap.

Seruan pembebasan itu menjadi semacam mandat: mereka yang telah menyaksikan penderitaan tidak boleh tinggal diam. Ketua Fratres Seminari Tinggi, Frater Loys Adiman, SVD sebagaimana yang diberitakan dalam seminariledalero.org, menangkap makna ini dengan tepat. Menurutnya, pementasan tersebut adalah pewartaan kontekstual yang membantu para frater—calon imam—menyadari bahwa sengsara Kristus terus hadir dalam realitas hari ini, terutama dalam pengalaman mereka yang tertindas. Lebih dari sekadar lakon, teater ini menjadi bagian dari proses formasi: membentuk kepekaan hati yang tidak tawar terhadap penderitaan.

Tawaran

Pementasan Abadon menawarkan sebuah cara baru untuk memasuki Pekan Suci. Ia mengajak kita untuk menelusuri jalan salib hidup yang sesungguhnya.  Ada jalan panjang yang harus ditempuh yakni jalan abu, jalan pengkhianatan, jalan ratapan, dan akhirnya jalan pembebasan.

Di tengah semangat zaman yang serba cepat dan instan, Abadon mmenghantar kita untuk bertanya: Apakah Paskah yang kita rayakan sungguh lahir dari pergumulan atas penderitaan dunia? Ataukah kita hanya merayakan ritual tanpa keberanian untuk menatap jurang maut?

“Hai manusia yang lebih tinggi, pelajarilah ini dariku: di pasar tidak ada orang yang percaya pada manusia yang lebih tinggi. Dan jika kalian ingin berbicara di sana, silakan! Namun, massa berkedip: ‘Kita semua setara’. ‘Hai manusia yang lebih tinggi’—demikianlah massa berkedip—’tidak ada manusia yang lebih tinggi, kita semua setara, manusia adalah manusia, di hadapan Tuhan kita semua setara’. Di hadapan Tuhan! Namun sekarang dewa ini telah mati. Dan di hadapan massa, kita tidak ingin setara…. Hai manusia yang lebih tinggi, Raja ini adalah bahaya terbesar kalian. Hanya sejak ia berbaring di makamnya, kalian telah dibangkitkan….” (Monolog: Seruan pembebasan dalam Teater Abadon).

“Dewa yang mati” dalam konteks teater ini sebetulnya melambangkan matinya tatanan dunia yang menindas, atau matinya kenyamanan beragama yang dangkal. Dengan matinya tatanan lama tersebut, barulah “manusia yang lebih tinggi” atau kebangkitan sejati bisa terjadi, sejalan dengan struktur Paskah bahwa fajar lahir setelah malam yang paling gelap.

Setelah menyaksikan Abadon. Kita diajak “sadar” untuk tidak takut pada nama yang menyeramkan itu. Karena di ujung jurang maut, kita justru bisa menemukan fajar harapan—bukan harapan murahan yang melompati penderitaan, melainkan harapan yang lahir dari kepasrahan yang telah diuji.

Selamat menelusuri kedalaman luka. Selamat menemukan fajar harapan di ujung jurang maut. [T]

*Refleksi ini ditulis berdasarkan pementasan Teater Aletheia di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, 31 Maret 2026, serta naskah karya Mariano Payong.

Tags: paskahTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

Next Post

‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

Yohan Mataubana

Yohan Mataubana

Seorang perantau di Hokeng, yang kini sedang menjalani masa pengungsian akibat letusan gunung Lewotobi Laki-Laki.

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

'Siap 86': Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co