7 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Yohan Mataubana by Yohan Mataubana
April 5, 2026
in Esai
Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Pementasan Teater Abadon

“Abadon.” Nama itu menggigit. Dalam tradisi Ibrani berarti kebinasaan, kehancuran, sesuatu yang hilang tak tersisa. Kitab Wahyu 9:11, bahkan mempersonifikasikannya sebagai raja atas jurang maut. Biasanya kita menjauh dari nama seperti itu, apalagi di ambang Pekan Suci.

Namun, pada Senin malam, 31 Maret 2026, di Pelataran Kapela Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Teater Aletheia Ledalero justru memilih Abadon sebagai pintu masuk untuk merenungkan misteri Paskah. Bukan untuk merayakan kehancuran, melainkan untuk berani menatap langsung kepekatan jurang maut, demi merawat sisa-sisa kepasrahan dan menyuarakan pembebasan.

Pementasan yang disutradarai Dangker, Rian, dan Mario dengan naskah karya Mariano Payong ini tidak sekadar pertunjukan artistik. Ia menjelma menjadi ruang ziarah iman yang jujur, yang memaksa kita tidak berpaling dari kenyataan pahit yang kerap terkubur di balik rapinya perayaan liturgi.

Adegan pertama membuka dengan Rabu Trewa dan Rabu Abu. Namun di sini, abu tidak ditaburkan dalam hening yang khidmat. Abu bertebaran di tengah dentang seng yang memekakkan—suara dunia yang bising oleh ambisi, kekerasan, dan konflik. Penonton langsung dihantam sebuah pengakuan: dunia memang tidak pernah sunyi dari derita. Dan di tengah kebisingan itu, abu menjadi pengingat akan kefanaan sekaligus panggilan tobat yang tak bisa ditawar. Pekan Suci sejatinya dimulai dari kesediaan untuk duduk dalam debu, mengakui bahwa kita bagian dari dunia yang rusak ini.

Lalu pada adegan kedua menghadirkan ironi tentang “Perjamuan Malam Human Trafficking.” Ritus suci yang seharusnya menjadi tanda kasih dan persaudaraan, dipelintir menjadi pesta kejahatan. Empat pelaku perdagangan orang berkumpul merayakan keuntungan dari nyawa manusia. Konflik dan pengkhianatan di antara mereka menjadi bayangan gelap Yudas yang tak pernah usai. Di sini, Abadon mengingatkan bahwa sengsara Kristus tidak hanya terjadi di Golgota dua ribu tahun lalu, tetapi setiap kali manusia direduksi menjadi komoditas, setiap kali pengkhianatan dilakukan atas nama keuntungan.

Kita yang menonton tidak bisa merasa asing. Sindikat perdagangan orang, eksploitasi, ketidakadilan struktural—itulah “perjamuan malam” yang masih berlangsung di sekitar kita. Dan kita? Terkadang kita adalah penonton yang diam, atau bahkan secara tak sadar menjadi bagian dari sistem yang membiarkannya.

Ratapan adalah Doa

Memasuki adegan ketiga, panggung melambat. Tiga perempuan masuk untuk membersihkan bekas perjamuan gelap. Mereka menyapu, mengepel, tetapi dalam diam yang berat itu justru terjadi pergulatan batin yang paling dalam. Dialog mereka adalah percakapan antara Yesus dan dua penjahat yang disalibkan: gugatan terhadap keadilan Tuhan, keputusasaan, dan pertanyaan apakah harapan masih bersisa.

Di sinilah teater ini mencapai puncak kejujurannya. Kita sering tergesa-gesa membungkus iman dengan jawaban-jawaban manis. Tapi Abadon membiarkan para tokohnya dan penonton bergumul tanpa memberi resolusi instan.

 Mereka tidak segera menemukan penghiburan. Yang ada justru ratapan dalam bahasa Nagi. Lagu itu menyisahkan tentang kesedihan orang tua terhadap anaknya yang telah meninggal:

E….Cuma hatu ni e/Ana Ema No E/Ana yang Ema sayang no e/ Ana yang Ema cinta/ Bukan gampang Ema gando no e/ Gando e/ Mati ido No e/ Gando mati ido/ E Macam rumah No e/ Tiang patah No e/ Itu yang Ema rasa No e/ Rasa dalam ido/ Rasa dalam ido No e/ Macam e…pedang cuco No e/ Cuco di ati Ema

Menyesal … menyesal…menyesal/ So terlambat Ema e/ Tega dosa tega salah/ Sampe kita piko ini/ Menyesal o trlambat Ema e/ Tanah kering jadi basa campo radu/ Mo darah melele suci Ae mata   Ema e/ Mendo tuto Kila sambar guro bunyi Ema e/ Angin Tio ujan ketu/ Cari daya o te dapa/ Cerita sampe sini Jo data berasu kita piko/ Jaga Kule mo daging so pasti/Tulang ceroweto Ema e.

Sebuah bahasa yang mungkin tak semua orang mengerti, tetapi getarannya menusuk kalbu. Ratapan itu menjadi suara para korban yang “disalibkan” oleh ketidakadilan, suara yang selama ini tenggelam.

Dalam tradisi Pekan Suci, Jumat Agung adalah hari ketika Yesus sendiri berteriak, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Matius 27:46). Ratapan bukanlah lawan dari iman; ia adalah iman yang tidak berpura-pura. Abadon mengingatkan kita bahwa tanpa ratapan, Paskah akan menjadi perayaan yang dangkal.

Pada monolog di akhir lakon, aktor berbicara tentang pembebasan. Seruan itu tidak tiba-tiba menghapus luka yang telah dipaparkan sebelumnya. Ia hadir sebagai sebuah titik terang yang muncul setelah kegelapan. Inilah struktur Paskah yang sejati: kebangkitan bukanlah pelompatan dari penderitaan, melainkan sebuah fajar yang lahir setelah kita melewati malam yang paling gelap.

Seruan pembebasan itu menjadi semacam mandat: mereka yang telah menyaksikan penderitaan tidak boleh tinggal diam. Ketua Fratres Seminari Tinggi, Frater Loys Adiman, SVD sebagaimana yang diberitakan dalam seminariledalero.org, menangkap makna ini dengan tepat. Menurutnya, pementasan tersebut adalah pewartaan kontekstual yang membantu para frater—calon imam—menyadari bahwa sengsara Kristus terus hadir dalam realitas hari ini, terutama dalam pengalaman mereka yang tertindas. Lebih dari sekadar lakon, teater ini menjadi bagian dari proses formasi: membentuk kepekaan hati yang tidak tawar terhadap penderitaan.

Tawaran

Pementasan Abadon menawarkan sebuah cara baru untuk memasuki Pekan Suci. Ia mengajak kita untuk menelusuri jalan salib hidup yang sesungguhnya.  Ada jalan panjang yang harus ditempuh yakni jalan abu, jalan pengkhianatan, jalan ratapan, dan akhirnya jalan pembebasan.

Di tengah semangat zaman yang serba cepat dan instan, Abadon mmenghantar kita untuk bertanya: Apakah Paskah yang kita rayakan sungguh lahir dari pergumulan atas penderitaan dunia? Ataukah kita hanya merayakan ritual tanpa keberanian untuk menatap jurang maut?

“Hai manusia yang lebih tinggi, pelajarilah ini dariku: di pasar tidak ada orang yang percaya pada manusia yang lebih tinggi. Dan jika kalian ingin berbicara di sana, silakan! Namun, massa berkedip: ‘Kita semua setara’. ‘Hai manusia yang lebih tinggi’—demikianlah massa berkedip—’tidak ada manusia yang lebih tinggi, kita semua setara, manusia adalah manusia, di hadapan Tuhan kita semua setara’. Di hadapan Tuhan! Namun sekarang dewa ini telah mati. Dan di hadapan massa, kita tidak ingin setara…. Hai manusia yang lebih tinggi, Raja ini adalah bahaya terbesar kalian. Hanya sejak ia berbaring di makamnya, kalian telah dibangkitkan….” (Monolog: Seruan pembebasan dalam Teater Abadon).

“Dewa yang mati” dalam konteks teater ini sebetulnya melambangkan matinya tatanan dunia yang menindas, atau matinya kenyamanan beragama yang dangkal. Dengan matinya tatanan lama tersebut, barulah “manusia yang lebih tinggi” atau kebangkitan sejati bisa terjadi, sejalan dengan struktur Paskah bahwa fajar lahir setelah malam yang paling gelap.

Setelah menyaksikan Abadon. Kita diajak “sadar” untuk tidak takut pada nama yang menyeramkan itu. Karena di ujung jurang maut, kita justru bisa menemukan fajar harapan—bukan harapan murahan yang melompati penderitaan, melainkan harapan yang lahir dari kepasrahan yang telah diuji.

Selamat menelusuri kedalaman luka. Selamat menemukan fajar harapan di ujung jurang maut. [T]

*Refleksi ini ditulis berdasarkan pementasan Teater Aletheia di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, 31 Maret 2026, serta naskah karya Mariano Payong.

Tags: paskahTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

Next Post

‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

Yohan Mataubana

Yohan Mataubana

Seorang perantau di Hokeng, yang kini sedang menjalani masa pengungsian akibat letusan gunung Lewotobi Laki-Laki.

Related Posts

Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

by T.H. Hari Sucahyo
June 7, 2026
0
Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang:...

Read moreDetails

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

by Wayan Esa Bhaskara
June 7, 2026
0
Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang....

Read moreDetails

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

by Agung Sudarsa
June 7, 2026
0
Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga,...

Read moreDetails

Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

by I Gede Janitra Rad Winatha
June 6, 2026
0
Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan...

Read moreDetails

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
0
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek...

Read moreDetails

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

by Agung Sudarsa
June 6, 2026
0
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

Read moreDetails

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

by I Wayan Artika
June 5, 2026
0
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

Read moreDetails

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
0
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

Read moreDetails

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

by Chusmeru
June 5, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

Read moreDetails

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails
Next Post
‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

'Siap 86': Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala
Esai

Filosofi Sepiring Prasmanan: Ketika Isi Perut Menguji Isi Kepala

SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang:...

by T.H. Hari Sucahyo
June 7, 2026
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan
Ulas Pentas

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang
Esai

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang....

by Wayan Esa Bhaskara
June 7, 2026
Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran
Esai

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga,...

by Agung Sudarsa
June 7, 2026
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga
Puisi

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

by Angga Wijaya
June 6, 2026
Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali
Lingkungan

Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific...

by Nyoman Budarsana
June 6, 2026
Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?
Esai

Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan...

by I Gede Janitra Rad Winatha
June 6, 2026
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA
Khas

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali
Pameran

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini
Pendidikan

Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini

PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan...

by tatkala
June 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co