28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Yohan Mataubana by Yohan Mataubana
April 5, 2026
in Esai
Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Pementasan Teater Abadon

“Abadon.” Nama itu menggigit. Dalam tradisi Ibrani berarti kebinasaan, kehancuran, sesuatu yang hilang tak tersisa. Kitab Wahyu 9:11, bahkan mempersonifikasikannya sebagai raja atas jurang maut. Biasanya kita menjauh dari nama seperti itu, apalagi di ambang Pekan Suci.

Namun, pada Senin malam, 31 Maret 2026, di Pelataran Kapela Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Teater Aletheia Ledalero justru memilih Abadon sebagai pintu masuk untuk merenungkan misteri Paskah. Bukan untuk merayakan kehancuran, melainkan untuk berani menatap langsung kepekatan jurang maut, demi merawat sisa-sisa kepasrahan dan menyuarakan pembebasan.

Pementasan yang disutradarai Dangker, Rian, dan Mario dengan naskah karya Mariano Payong ini tidak sekadar pertunjukan artistik. Ia menjelma menjadi ruang ziarah iman yang jujur, yang memaksa kita tidak berpaling dari kenyataan pahit yang kerap terkubur di balik rapinya perayaan liturgi.

Adegan pertama membuka dengan Rabu Trewa dan Rabu Abu. Namun di sini, abu tidak ditaburkan dalam hening yang khidmat. Abu bertebaran di tengah dentang seng yang memekakkan—suara dunia yang bising oleh ambisi, kekerasan, dan konflik. Penonton langsung dihantam sebuah pengakuan: dunia memang tidak pernah sunyi dari derita. Dan di tengah kebisingan itu, abu menjadi pengingat akan kefanaan sekaligus panggilan tobat yang tak bisa ditawar. Pekan Suci sejatinya dimulai dari kesediaan untuk duduk dalam debu, mengakui bahwa kita bagian dari dunia yang rusak ini.

Lalu pada adegan kedua menghadirkan ironi tentang “Perjamuan Malam Human Trafficking.” Ritus suci yang seharusnya menjadi tanda kasih dan persaudaraan, dipelintir menjadi pesta kejahatan. Empat pelaku perdagangan orang berkumpul merayakan keuntungan dari nyawa manusia. Konflik dan pengkhianatan di antara mereka menjadi bayangan gelap Yudas yang tak pernah usai. Di sini, Abadon mengingatkan bahwa sengsara Kristus tidak hanya terjadi di Golgota dua ribu tahun lalu, tetapi setiap kali manusia direduksi menjadi komoditas, setiap kali pengkhianatan dilakukan atas nama keuntungan.

Kita yang menonton tidak bisa merasa asing. Sindikat perdagangan orang, eksploitasi, ketidakadilan struktural—itulah “perjamuan malam” yang masih berlangsung di sekitar kita. Dan kita? Terkadang kita adalah penonton yang diam, atau bahkan secara tak sadar menjadi bagian dari sistem yang membiarkannya.

Ratapan adalah Doa

Memasuki adegan ketiga, panggung melambat. Tiga perempuan masuk untuk membersihkan bekas perjamuan gelap. Mereka menyapu, mengepel, tetapi dalam diam yang berat itu justru terjadi pergulatan batin yang paling dalam. Dialog mereka adalah percakapan antara Yesus dan dua penjahat yang disalibkan: gugatan terhadap keadilan Tuhan, keputusasaan, dan pertanyaan apakah harapan masih bersisa.

Di sinilah teater ini mencapai puncak kejujurannya. Kita sering tergesa-gesa membungkus iman dengan jawaban-jawaban manis. Tapi Abadon membiarkan para tokohnya dan penonton bergumul tanpa memberi resolusi instan.

 Mereka tidak segera menemukan penghiburan. Yang ada justru ratapan dalam bahasa Nagi. Lagu itu menyisahkan tentang kesedihan orang tua terhadap anaknya yang telah meninggal:

E….Cuma hatu ni e/Ana Ema No E/Ana yang Ema sayang no e/ Ana yang Ema cinta/ Bukan gampang Ema gando no e/ Gando e/ Mati ido No e/ Gando mati ido/ E Macam rumah No e/ Tiang patah No e/ Itu yang Ema rasa No e/ Rasa dalam ido/ Rasa dalam ido No e/ Macam e…pedang cuco No e/ Cuco di ati Ema

Menyesal … menyesal…menyesal/ So terlambat Ema e/ Tega dosa tega salah/ Sampe kita piko ini/ Menyesal o trlambat Ema e/ Tanah kering jadi basa campo radu/ Mo darah melele suci Ae mata   Ema e/ Mendo tuto Kila sambar guro bunyi Ema e/ Angin Tio ujan ketu/ Cari daya o te dapa/ Cerita sampe sini Jo data berasu kita piko/ Jaga Kule mo daging so pasti/Tulang ceroweto Ema e.

Sebuah bahasa yang mungkin tak semua orang mengerti, tetapi getarannya menusuk kalbu. Ratapan itu menjadi suara para korban yang “disalibkan” oleh ketidakadilan, suara yang selama ini tenggelam.

Dalam tradisi Pekan Suci, Jumat Agung adalah hari ketika Yesus sendiri berteriak, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Matius 27:46). Ratapan bukanlah lawan dari iman; ia adalah iman yang tidak berpura-pura. Abadon mengingatkan kita bahwa tanpa ratapan, Paskah akan menjadi perayaan yang dangkal.

Pada monolog di akhir lakon, aktor berbicara tentang pembebasan. Seruan itu tidak tiba-tiba menghapus luka yang telah dipaparkan sebelumnya. Ia hadir sebagai sebuah titik terang yang muncul setelah kegelapan. Inilah struktur Paskah yang sejati: kebangkitan bukanlah pelompatan dari penderitaan, melainkan sebuah fajar yang lahir setelah kita melewati malam yang paling gelap.

Seruan pembebasan itu menjadi semacam mandat: mereka yang telah menyaksikan penderitaan tidak boleh tinggal diam. Ketua Fratres Seminari Tinggi, Frater Loys Adiman, SVD sebagaimana yang diberitakan dalam seminariledalero.org, menangkap makna ini dengan tepat. Menurutnya, pementasan tersebut adalah pewartaan kontekstual yang membantu para frater—calon imam—menyadari bahwa sengsara Kristus terus hadir dalam realitas hari ini, terutama dalam pengalaman mereka yang tertindas. Lebih dari sekadar lakon, teater ini menjadi bagian dari proses formasi: membentuk kepekaan hati yang tidak tawar terhadap penderitaan.

Tawaran

Pementasan Abadon menawarkan sebuah cara baru untuk memasuki Pekan Suci. Ia mengajak kita untuk menelusuri jalan salib hidup yang sesungguhnya.  Ada jalan panjang yang harus ditempuh yakni jalan abu, jalan pengkhianatan, jalan ratapan, dan akhirnya jalan pembebasan.

Di tengah semangat zaman yang serba cepat dan instan, Abadon mmenghantar kita untuk bertanya: Apakah Paskah yang kita rayakan sungguh lahir dari pergumulan atas penderitaan dunia? Ataukah kita hanya merayakan ritual tanpa keberanian untuk menatap jurang maut?

“Hai manusia yang lebih tinggi, pelajarilah ini dariku: di pasar tidak ada orang yang percaya pada manusia yang lebih tinggi. Dan jika kalian ingin berbicara di sana, silakan! Namun, massa berkedip: ‘Kita semua setara’. ‘Hai manusia yang lebih tinggi’—demikianlah massa berkedip—’tidak ada manusia yang lebih tinggi, kita semua setara, manusia adalah manusia, di hadapan Tuhan kita semua setara’. Di hadapan Tuhan! Namun sekarang dewa ini telah mati. Dan di hadapan massa, kita tidak ingin setara…. Hai manusia yang lebih tinggi, Raja ini adalah bahaya terbesar kalian. Hanya sejak ia berbaring di makamnya, kalian telah dibangkitkan….” (Monolog: Seruan pembebasan dalam Teater Abadon).

“Dewa yang mati” dalam konteks teater ini sebetulnya melambangkan matinya tatanan dunia yang menindas, atau matinya kenyamanan beragama yang dangkal. Dengan matinya tatanan lama tersebut, barulah “manusia yang lebih tinggi” atau kebangkitan sejati bisa terjadi, sejalan dengan struktur Paskah bahwa fajar lahir setelah malam yang paling gelap.

Setelah menyaksikan Abadon. Kita diajak “sadar” untuk tidak takut pada nama yang menyeramkan itu. Karena di ujung jurang maut, kita justru bisa menemukan fajar harapan—bukan harapan murahan yang melompati penderitaan, melainkan harapan yang lahir dari kepasrahan yang telah diuji.

Selamat menelusuri kedalaman luka. Selamat menemukan fajar harapan di ujung jurang maut. [T]

*Refleksi ini ditulis berdasarkan pementasan Teater Aletheia di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, 31 Maret 2026, serta naskah karya Mariano Payong.

Tags: paskahTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

Next Post

‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

Yohan Mataubana

Yohan Mataubana

Seorang perantau di Hokeng, yang kini sedang menjalani masa pengungsian akibat letusan gunung Lewotobi Laki-Laki.

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

'Siap 86': Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co