7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Yohan Mataubana by Yohan Mataubana
April 5, 2026
in Esai
Paskah dari Abadon —Refleksi Pekan Suci dari Pementasan Teater Abadon

Pementasan Teater Abadon

“Abadon.” Nama itu menggigit. Dalam tradisi Ibrani berarti kebinasaan, kehancuran, sesuatu yang hilang tak tersisa. Kitab Wahyu 9:11, bahkan mempersonifikasikannya sebagai raja atas jurang maut. Biasanya kita menjauh dari nama seperti itu, apalagi di ambang Pekan Suci.

Namun, pada Senin malam, 31 Maret 2026, di Pelataran Kapela Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Teater Aletheia Ledalero justru memilih Abadon sebagai pintu masuk untuk merenungkan misteri Paskah. Bukan untuk merayakan kehancuran, melainkan untuk berani menatap langsung kepekatan jurang maut, demi merawat sisa-sisa kepasrahan dan menyuarakan pembebasan.

Pementasan yang disutradarai Dangker, Rian, dan Mario dengan naskah karya Mariano Payong ini tidak sekadar pertunjukan artistik. Ia menjelma menjadi ruang ziarah iman yang jujur, yang memaksa kita tidak berpaling dari kenyataan pahit yang kerap terkubur di balik rapinya perayaan liturgi.

Adegan pertama membuka dengan Rabu Trewa dan Rabu Abu. Namun di sini, abu tidak ditaburkan dalam hening yang khidmat. Abu bertebaran di tengah dentang seng yang memekakkan—suara dunia yang bising oleh ambisi, kekerasan, dan konflik. Penonton langsung dihantam sebuah pengakuan: dunia memang tidak pernah sunyi dari derita. Dan di tengah kebisingan itu, abu menjadi pengingat akan kefanaan sekaligus panggilan tobat yang tak bisa ditawar. Pekan Suci sejatinya dimulai dari kesediaan untuk duduk dalam debu, mengakui bahwa kita bagian dari dunia yang rusak ini.

Lalu pada adegan kedua menghadirkan ironi tentang “Perjamuan Malam Human Trafficking.” Ritus suci yang seharusnya menjadi tanda kasih dan persaudaraan, dipelintir menjadi pesta kejahatan. Empat pelaku perdagangan orang berkumpul merayakan keuntungan dari nyawa manusia. Konflik dan pengkhianatan di antara mereka menjadi bayangan gelap Yudas yang tak pernah usai. Di sini, Abadon mengingatkan bahwa sengsara Kristus tidak hanya terjadi di Golgota dua ribu tahun lalu, tetapi setiap kali manusia direduksi menjadi komoditas, setiap kali pengkhianatan dilakukan atas nama keuntungan.

Kita yang menonton tidak bisa merasa asing. Sindikat perdagangan orang, eksploitasi, ketidakadilan struktural—itulah “perjamuan malam” yang masih berlangsung di sekitar kita. Dan kita? Terkadang kita adalah penonton yang diam, atau bahkan secara tak sadar menjadi bagian dari sistem yang membiarkannya.

Ratapan adalah Doa

Memasuki adegan ketiga, panggung melambat. Tiga perempuan masuk untuk membersihkan bekas perjamuan gelap. Mereka menyapu, mengepel, tetapi dalam diam yang berat itu justru terjadi pergulatan batin yang paling dalam. Dialog mereka adalah percakapan antara Yesus dan dua penjahat yang disalibkan: gugatan terhadap keadilan Tuhan, keputusasaan, dan pertanyaan apakah harapan masih bersisa.

Di sinilah teater ini mencapai puncak kejujurannya. Kita sering tergesa-gesa membungkus iman dengan jawaban-jawaban manis. Tapi Abadon membiarkan para tokohnya dan penonton bergumul tanpa memberi resolusi instan.

 Mereka tidak segera menemukan penghiburan. Yang ada justru ratapan dalam bahasa Nagi. Lagu itu menyisahkan tentang kesedihan orang tua terhadap anaknya yang telah meninggal:

E….Cuma hatu ni e/Ana Ema No E/Ana yang Ema sayang no e/ Ana yang Ema cinta/ Bukan gampang Ema gando no e/ Gando e/ Mati ido No e/ Gando mati ido/ E Macam rumah No e/ Tiang patah No e/ Itu yang Ema rasa No e/ Rasa dalam ido/ Rasa dalam ido No e/ Macam e…pedang cuco No e/ Cuco di ati Ema

Menyesal … menyesal…menyesal/ So terlambat Ema e/ Tega dosa tega salah/ Sampe kita piko ini/ Menyesal o trlambat Ema e/ Tanah kering jadi basa campo radu/ Mo darah melele suci Ae mata   Ema e/ Mendo tuto Kila sambar guro bunyi Ema e/ Angin Tio ujan ketu/ Cari daya o te dapa/ Cerita sampe sini Jo data berasu kita piko/ Jaga Kule mo daging so pasti/Tulang ceroweto Ema e.

Sebuah bahasa yang mungkin tak semua orang mengerti, tetapi getarannya menusuk kalbu. Ratapan itu menjadi suara para korban yang “disalibkan” oleh ketidakadilan, suara yang selama ini tenggelam.

Dalam tradisi Pekan Suci, Jumat Agung adalah hari ketika Yesus sendiri berteriak, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Matius 27:46). Ratapan bukanlah lawan dari iman; ia adalah iman yang tidak berpura-pura. Abadon mengingatkan kita bahwa tanpa ratapan, Paskah akan menjadi perayaan yang dangkal.

Pada monolog di akhir lakon, aktor berbicara tentang pembebasan. Seruan itu tidak tiba-tiba menghapus luka yang telah dipaparkan sebelumnya. Ia hadir sebagai sebuah titik terang yang muncul setelah kegelapan. Inilah struktur Paskah yang sejati: kebangkitan bukanlah pelompatan dari penderitaan, melainkan sebuah fajar yang lahir setelah kita melewati malam yang paling gelap.

Seruan pembebasan itu menjadi semacam mandat: mereka yang telah menyaksikan penderitaan tidak boleh tinggal diam. Ketua Fratres Seminari Tinggi, Frater Loys Adiman, SVD sebagaimana yang diberitakan dalam seminariledalero.org, menangkap makna ini dengan tepat. Menurutnya, pementasan tersebut adalah pewartaan kontekstual yang membantu para frater—calon imam—menyadari bahwa sengsara Kristus terus hadir dalam realitas hari ini, terutama dalam pengalaman mereka yang tertindas. Lebih dari sekadar lakon, teater ini menjadi bagian dari proses formasi: membentuk kepekaan hati yang tidak tawar terhadap penderitaan.

Tawaran

Pementasan Abadon menawarkan sebuah cara baru untuk memasuki Pekan Suci. Ia mengajak kita untuk menelusuri jalan salib hidup yang sesungguhnya.  Ada jalan panjang yang harus ditempuh yakni jalan abu, jalan pengkhianatan, jalan ratapan, dan akhirnya jalan pembebasan.

Di tengah semangat zaman yang serba cepat dan instan, Abadon mmenghantar kita untuk bertanya: Apakah Paskah yang kita rayakan sungguh lahir dari pergumulan atas penderitaan dunia? Ataukah kita hanya merayakan ritual tanpa keberanian untuk menatap jurang maut?

“Hai manusia yang lebih tinggi, pelajarilah ini dariku: di pasar tidak ada orang yang percaya pada manusia yang lebih tinggi. Dan jika kalian ingin berbicara di sana, silakan! Namun, massa berkedip: ‘Kita semua setara’. ‘Hai manusia yang lebih tinggi’—demikianlah massa berkedip—’tidak ada manusia yang lebih tinggi, kita semua setara, manusia adalah manusia, di hadapan Tuhan kita semua setara’. Di hadapan Tuhan! Namun sekarang dewa ini telah mati. Dan di hadapan massa, kita tidak ingin setara…. Hai manusia yang lebih tinggi, Raja ini adalah bahaya terbesar kalian. Hanya sejak ia berbaring di makamnya, kalian telah dibangkitkan….” (Monolog: Seruan pembebasan dalam Teater Abadon).

“Dewa yang mati” dalam konteks teater ini sebetulnya melambangkan matinya tatanan dunia yang menindas, atau matinya kenyamanan beragama yang dangkal. Dengan matinya tatanan lama tersebut, barulah “manusia yang lebih tinggi” atau kebangkitan sejati bisa terjadi, sejalan dengan struktur Paskah bahwa fajar lahir setelah malam yang paling gelap.

Setelah menyaksikan Abadon. Kita diajak “sadar” untuk tidak takut pada nama yang menyeramkan itu. Karena di ujung jurang maut, kita justru bisa menemukan fajar harapan—bukan harapan murahan yang melompati penderitaan, melainkan harapan yang lahir dari kepasrahan yang telah diuji.

Selamat menelusuri kedalaman luka. Selamat menemukan fajar harapan di ujung jurang maut. [T]

*Refleksi ini ditulis berdasarkan pementasan Teater Aletheia di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, 31 Maret 2026, serta naskah karya Mariano Payong.

Tags: paskahTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

Next Post

‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

Yohan Mataubana

Yohan Mataubana

Seorang perantau di Hokeng, yang kini sedang menjalani masa pengungsian akibat letusan gunung Lewotobi Laki-Laki.

Related Posts

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

'Siap 86': Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co