24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Muhammad Aswar by Muhammad Aswar
July 13, 2025
in Cerpen
Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Ilustrasi tatkala.co by Canva

PAGI itu, Ni Komang menggiling kacang dengan tangan—bukan dengan blender seperti warung sebelah yang lebih muda dan lebih keras kepala. Tangannya masih menyimpan ingatan tentang cara ibunya dulu mengulek: searah jarum jam untuk sate ayam, berlawanan untuk kambing, dan selalu dengan bisikan doa supaya daging lunak dan tak membuat orang marah.

“Marah?” tanya seorang turis dari Australia suatu hari.

“Iya,” katanya. “Di sini, makanan bisa mengusir atau menanamkan roh jahat. Kau tak tahu? Sate bisa jadi persembahan atau perangkap.”

Turis itu tertawa. Lalu datang ledakan.

*****

Dua puluh tahun telah lewat. Warungnya sekarang cuma meja kayu lapuk dan tungku arang yang tak lagi diasapi daging. Ia menolak membuka kembali sejak malam ketika tubuh-tubuh hangus dibawa ke jalan, dan seorang bocah berteriak memanggil ibunya yang telah berubah jadi nyala. Yang tersisa dari malam itu bukan abu, tapi sesuatu yang lebih lengket dari duka: bau sate terbakar yang bercampur daging manusia.

Orang-orang mencoba melupakan. Mereka membangun lagi, membuka toko baru, menyulap puing menjadi lounge. Pariwisata harus berjalan. Bali, katanya, harus bangkit. Dunia menuntut pulau ini tetap cantik dan ramah, bahkan jika tanahnya mengandung sisa-sisa serpihan luka.

Ni Komang tidak menolak hidup. Tapi ia menolak melupakan.

Ia tak lagi menjual sate. Ia menggali tanah.

*****

Di belakang warungnya, ia mendirikan semacam lumbung kecil. Atapnya dari ijuk, dindingnya dari kayu jati tua. Di dalamnya ada puluhan stoples kaca. Setiap stoples memuat sisa dari malam itu: pecahan botol, jepit rambut hangus, rantai sepeda motor, koin meleleh, tulang jari yang tak pernah diklaim siapa-siapa.

Di sudut rak paling atas, ada satu stoples terbesar, berisi arang hitam tak teratur bentuknya, seperti daging gosong yang tak sempat matang.

“Apa ini museum?” tanya seorang bocah pendatang.

“Ini pura,” jawabnya tenang. “Pura bagi yang tak sempat dimakamkan.”

Setiap malam bulan mati, ia menyalakan dupa dan menaburkan segenggam abu ke tanah. Ia duduk bersila dan berdoa dalam diam. Ia percaya bahwa tanah Bali telah kehilangan ingatannya. Terlalu banyak kaki menari di atasnya tanpa hormat. Terlalu banyak hotel berdiri tanpa upacara. Terlalu banyak air mata jatuh tanpa sempat ditadah sesaji.

Maka ia menjadi penjaga tak resmi, seorang arkeolog luka, yang mencoba mengingatkan bumi bahwa manusia dulu pernah sujud.

*****

Dalam mimpinya, Dewi Sri datang bukan dalam wujud dewi padi, tapi sebagai perempuan terbakar yang membawa baki sate. Dagingnya daging manusia, tapi dibumbui air mata dan garam laut.

“Terimalah,” kata sang dewi. “Karena ini juga tubuhmu.”

Ni Komang menolak. Tapi bangun dengan rasa kenyang. Di mulutnya, ada jejak sambal kacang yang tak pernah ia buat.

Ia mulai menulis. Di dinding warung kosong, ia coretkan nama-nama korban yang ia ingat. Ada yang ia tahu dari berita, ada yang ia temui hanya beberapa menit sebelum mereka jadi api. Ada turis dari Swedia yang bertanya tentang bumbu rendang. Ada pemuda lokal yang minta diskon. Ada perempuan dari Solo yang baru belajar surfing.

Ia tak tahu siapa nama asli mereka semua, maka ia beri nama sendiri:

Wayan Yang Tak Sempat Menikah,

Made Yang Menyanyi dalam Api,

Ketut Yang Ketinggalan Sandal.

*****

Orang-orang menyebutnya gila. Tapi pada malam-malam tertentu, terutama saat Galungan atau Kuningan, pendeta muda datang diam-diam ke warungnya yang terbengkalai. Mereka meminta sedikit abu sate itu. Untuk campuran dupa, katanya. Karena dari abu itu keluar aroma yang bisa membuat roh-roh berhenti menangis.

Suatu malam, seorang pendeta berkata:

“Tanah di sini sudah keracunan. Tak bisa lagi tumbuh pohon suci. Mungkin karena tanah tak diberi kesempatan untuk menangis.”

Ni Komang tersenyum. Ia tahu. Ia sudah menangisi tanah itu setiap malam.

*****

Suatu siang, seorang lelaki Australia tua datang. Ia mengaku anak dari turis yang mati malam itu. Ia membawa foto: seorang lelaki berambut keriting memegang sate dengan ekspresi aneh, antara geli dan takut. Di latar belakang, warung Ni Komang berdiri, utuh, sebelum semuanya meleleh.

“Ayahku bilang satemu bisa menyelamatkan dunia kalau semua orang makan bersama,” katanya.

Ni Komang mengenali pria di foto itu. Ia tertawa sebelum bom meledak.

“Dia orang terakhir yang kuambilkan sambal.”

Ia menunjuk ke rak kayu, ke stoples abu paling besar.

“Itu satenya,” kata Ni Komang.

Lelaki itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya untuk kedua kali.

Sebelum pulang, ia mengambil segenggam tanah dari dekat tungku. “Untuk ditanam di taman belakang rumah,” katanya.

“Tanah ini tak lagi subur,” ujar Ni Komang.

“Tapi ia ingat,” jawab si lelaki. “Dan aku ingin ada satu tempat di rumahku yang ingat.”

*****

Terkadang, anak-anak muda datang dan memotret warungnya. Beberapa mempostingnya dengan tagar #darktourism. Mereka bilang tempat ini cocok jadi spot horor. Mereka tidak tahu bahwa roh-roh di sini tak ingin menakuti siapa pun, hanya ingin dikenang.

Pernah suatu kali seorang Youtuber terkenal datang membawa kamera. Ia ingin mewawancarai Ni Komang. “Kami ingin buat dokumenter spiritual,” katanya, “tentang energi arwah di Bali.”

Ni Komang menolak.

Ia tak ingin ceritanya menjadi konten.

Ia ingin abu tetap abu.

*****

Malam itu, saat bulan sabit melengkung tipis seperti senyum kecil, Ni Komang bermimpi lagi. Tapi kali ini Dewi Sri tidak sendiri. Ia bersama seorang anak kecil yang membawa sate dengan tangan kecil penuh luka.

“Ini sate buat siapa?” tanya Ni Komang.

“Buat ibu yang lupa pulang,” jawab bocah itu.

Paginya, ia bangun dan melihat ada sate sungguhan di atas tungku. Masih hangat. Siapa yang meletakkannya, ia tak tahu. Tapi aromanya sama seperti dua puluh tahun lalu: kacang yang baru disangrai, serai yang dirajang halus, dan—entah kenapa—bau laut menjelang badai.

Ia memakannya perlahan. Untuk pertama kali, ia makan sate buat dirinya sendiri.

*****

Tak ada yang tahu kapan Ni Komang mulai tak terlihat. Warungnya tetap kosong, tapi selalu bersih. Dupa kadang masih menyala. Dan rak-rak stoples itu tetap tersusun rapi, seperti diurus oleh tangan tak kasat mata.

Beberapa orang percaya ia sudah menyatu dengan tanah. Bahwa tubuhnya berubah jadi akar pohon jambu biji di belakang warung. Setiap kali anak-anak bermain di sana dan duduk terlalu lama, mereka bilang tanahnya hangat. Seperti pelukan ibu.

Kini orang-orang sudah jarang bicara tentang malam itu. Tapi jika kau berjalan cukup pelan melewati jalan kecil di Legian saat tengah malam, kadang-kadang kau bisa mencium bau sate terbakar, samar, bercampur bau garam dan air mata.

Itu bukan warung.

Itu tanah yang mengingat. [T]

Penulis: Muhammad Aswar
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Next Post

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Muhammad Aswar

Muhammad Aswar

Penikmat Sastra Arab dan pemerhati kajian Timur Tengah. Menjadi pembicara di LIFEs Salihara 2021. Menerjemahkan puisi Nizar Qabbani, Cinta Tak Berhenti di Lampu Merah (Circa, 2021); Surat Tuhan karya Albert Einstein (Circa, 2023); Pembangkangan Sipil karya Henry David Thoreau (Basabasi, 2024); Max Havelaar karya Multatuli (Basabasi, 2025).

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co