3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Man of the Match” itu Lelaki Penjolok Kabel — Cerita Ogoh-Ogoh Banjar Kelod Kauh, Panji, Buleleng

Gading Ganesha by Gading Ganesha
April 1, 2025
in Khas
“Man of the Match” itu Lelaki Penjolok Kabel — Cerita Ogoh-Ogoh Banjar Kelod Kauh, Panji, Buleleng

Ogoh-ogoh Banjar kelod Kauh Desa Panji Buleleng dan laki-laki penjolok kabel | Foto: Gading Ganesha

LELAKI itu jarang diperhatikan. Nyaris dilupakan. Padahal ia punya peran penting. Jika tak ada lelaki itu, barangkali prosesi dan euforia ogoh-ogoh saat malam pengerupukan menjelang Hari Nyepi tidak akan bisa jalan, atau setidaknya, jalannya tersendat-sendat.

Lelaki penting itu juga ada saat pengarakan ogoh-ogoh di Banjar Kelod Kauh, Desa Panji, Buleleng-Bali. Pada malam pengerupukan, Sabtu, 28 Maret 2025, saat mata semua orang tertuju pada ogoh-ogoh yang menjulang tinggi, lelaki itu mengambil peran tak biasa—peran atau tugas yang jarang mau diambil orang.  

Lelaki  itu membawa bambu sepanjang empat sampai lima meter. Bambu itu ia bawa ke sana kemari. Ia berada di depan. Ia harus mendahului jalannya ogoh-ogoh.

Jika tak jalan di depan, ogoh-ogoh tak bisa jalan.  Jika belum beraksi, ogoh-ogoh bisa macet.

Ia adalah lelaki penjolok kabel. Atau di Banjar Kelod Kauh, Desa Panji, lelaki itu biasa disebut “tukang tunjuk kabel”.  Lelaki itu, dengan bambu di tangan, bertugas untuk menyangga kabel listrik, kabel telepon, kabel internet, dan segala jenis kabel, yang melintang rendah, untuk kemudian ditinggikan, agar ogoh-ogoh bisa lewat.

Bambu panjang memang digunakan untuk menyangga kabel yang berserakan dan sembraut di atas kepala. Agar ogoh-ogoh bisa lewat dengan lancar. Diarak keliling desa. Dan orang-orang bersorak.

Ogoh-ogoh yang Tinggi, Kabel yang Rendah dan Semrawut

Di banyak daerah di Bali, kini ogoh-ogoh selalu dibuat lebih besar dan lebih tinggi dari sebelum-sebelumnya. Tak hanya jadi seni dan budaya, kini ogoh-ogoh seakan jadi penanda kewibaan sebuah banjar dan sekaa teruna. Semakin besar ogoh-ogohnya, semakin tinggi ukurannya, sepertinya kewibawaan banjar dan sekaa teruna akan semakin tinggi. Sehingga, ogoh-ogoh dibuat besar dan tinggi. Paling besar atau paling tinggi, itu membanggakan.

Semakin tinggi ini ternyata juga jadi persoalan. Ogoh-ogoh semakin sulit diarak. Bukan karena semakin berat, tapi semakin ribet jalannya.  Kalau urusan berat, itu masalah ringan bagi pemuda desa. Mereka sedang garang-garangnya menunjukkan kekuatan. Mereka akan dengan mudah bisa mengangkatnya dan mengaraknya sampai jauh.

Laki-laki penjolok kabel selalu berada di depan ogoh-ogoh | Foto: Gading Ganesha

Ini tentang persoalan di atas kepala. Tentang kabel-kabel yang dipasang begitu rendah, membentang melintasi jalan. Ini menyulitkan para pengarak ogoh-ogoh. Seperti kabel untuk internet itu. Kabel fiber optik ini dipasang hanya setinggi tiga sampai empat meter di atas aspal jalan. Menjuntai di pinggir jalan, di tengah jalan dan bahkan menyilangi jalan.

Di sinilah peran pembawa bambu penyangga kabel jadi penentu. Berada di depan memantau kabel-kabel yang merintangi jalan ogoh-ogoh. Begitu ada yang menghambat, lelaki penjolok kabel itu akan bergerak. Lelaki itu tak hanya satu, bisa dua, sampai tiga. Mereka akan bergerak tanpa komando—meninggikan kabel agar ogoh-ogoh bisa lewat.

Setelah ogoh-ogoh lewat, para lelaki itu mesti berlari ke depan melewati ogoh-ogoh, melewati kerumunan. Menyiagakan diri. Tak jarang bambunya tersangkut di ranting pohon di pinggir jalan. Begitu seterusnya hingga ogoh-ogoh bisa sampai di tempat tujuan.

Bambu penyangga atau “tunjuk kabel”, begitu pemuda Desa Panji menyebutnya, dibuat dari bambu yang sudah matang, warnanya menguning, kering dan keras.  Tingginya sampai lima meter. Di bagian atas didesain sedemikian rupa, agar mampu menahan beban kabel. Berjalan dengan bambu sepanjang itu tentu sukar dilakukan.

Lebih Suka Mengarak Ogoh-ogoh Ketimbang Bawa Bambu Panjang

Gede Tirta, adalah salah satu lelaki penjolok kabel itu. Pemuda dari Banjar Kelod Kauh Desa Panji itu menuturkan, tangannya bahkan sampai keram membawa bambu itu sepanjang rute ogoh-ogoh.

Perjalanan memutari banjar memang cukup jauh. Ditambah kini kabel yang mesti ditunjang sangat banyak. “Kabel wifinya hampir di setiap rumah di pinggir jalan.  Jalan sedikit harus berhenti mengangkat kabel,” ujarnya.

Tirta menambahkan, ia dan teman-temanya bergantian. Kadang ia bergiliran dengan pemuda lain, tapi begitu teman-temannya dilihat mengarak ogoh-ogoh, pemuda itu maunya angkat ogoh-ogoh juga. Tak banyak yang mau, karena mereka lebih suka mengarak ogoh-ogoh.

“jadi kami bergiliran dengan pemuda yang lebih senior saja. Yang senior biasanya ambil peran ini. Biar pengarakan tetap berjalan lancar,” kata Tirta penuh bijaksana.

Gede Tirta | Foto: Gading Ganesha

Selain butuh fisik yang prima, petugas penyangga kabel nyatanya juga butuh kedewasaan diri. Pekerjaan yang melelahkan dan tanpa sorotan. Orang-orang hanya fokus menyaksikan pengarak ogoh-ogoh,  pemain baleganjur dan penari.

Melihat begitu banyak kabel yang berserakan dan sembraut, tidak salah jika menyebut Gede Tirta dan para pembawa bambu “tunjuk kabel” ini sebagai man of the match.

Dalam sepak bola, man of the match diberikan kepada pemain yang berperan penting dalam kemenangan atau penampilan maksimal tim. Pemain yang berhak mendapatkan predikat ini biasanya adalah pencetak gol penentu, pencetak gol terbanyak, kiper yang melakukan penyelamatan penting, pemain yang berperan penting dalam penyerangan atau pertahanan. 

Pada malam pengarakan ogoh-ogoh itu, pemuda pembawa bambu “tunjuk kabel” ini layak diberi penghargaan. Mereka memiliki peran penting memastikan tim pengarak ogoh-ogoh dapat berjalan dengan lancar, mengikuti parade dan mengelilingi desa, disaksikan warga desa dengan antusias di hari pengerupukan.

Sementara untuk pemasang kabel-kabel itu patutnya sadar diri. Meski berada di atas, kudu dipasang dengan memperhatikan etika dan estetika. Parade ogoh-ogoh akan ada setiap tahun. Tetapi para pemuda seperti Gede Tirta dan teman-temannya belum tentu ada setiap tahun, mau jadi pembawa tunjuk kabel di setiap malam sebelum Nyepi. [T]

Penulis: Gading Ganesha
Editor: Adnyana Ole

Ogoh-ogoh dengan Fragmentari Sapuh Leger dari Desa Padangbulia: Refleksi Keseimbangan Hidup
“Pengerupukan” di Desa Guwang, Parade Ogoh-ogoh dan Tradisi yang Menghidupkan Kebersamaan
Tulak Tunggul Kembali ke Jantung Imajinasi
Nyepi, Lailatul Qadar, Idulfitri, Meleburlebarkan Fitrah Umat Manusia.
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik
Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja
Tags: bulelengDesa PanjiHari Raya Nyepiogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Evolusi Ogoh-ogoh: Dampak Modernisasi Terhadap Tradisi Hindu di Bali

Next Post

“Pangeling-eling Panca Pamahayu Pura”: Implementasi Wikithon Bali Lestari BASAbali Wiki untuk Menjaga Kebersihan dan Kesucian Pura Batur

Gading Ganesha

Gading Ganesha

Lahir dan tinggal di Desa Panji, Buleleng, 11 November 1988. Ia adalah founder Bank Sampah Galang Panji dan Co. Founder Rumah Plastik. Juga Ketua BPD Desa Panji.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
“Pangeling-eling Panca Pamahayu Pura”: Implementasi Wikithon Bali Lestari BASAbali Wiki untuk Menjaga Kebersihan dan Kesucian Pura Batur

“Pangeling-eling Panca Pamahayu Pura”: Implementasi Wikithon Bali Lestari BASAbali Wiki untuk Menjaga Kebersihan dan Kesucian Pura Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co