2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tulak Tunggul Kembali ke Jantung Imajinasi

Agung Bawantara by Agung Bawantara
March 30, 2025
in Esai
Tulak Tunggul Kembali ke Jantung Imajinasi

Ogoh-ogoh Tulak Tunggul (crop) | Foto: Deck Soto, Sanur, IG @deck_sotto

Di tengah hiruk-pikuk perayaan Nyepi yang setiap tahunnya ditandai oleh parade ogoh-ogoh yang semakin gemerlap dan canggih, ada satu sosok yang mencuri perhatian—bukan karena kerlap-kerlip lampu LED atau raungan mesin hidrolik yang megah, tetapi karena ia berhasil menyalakan kembali sesuatu yang hampir padam di banyak karya belakangan ini: imajinasi.

Namanya adalah Tulak Tungggul, sebuah ogoh-ogoh karya Warmaya atau Mank Egik yang pernah menjadi pemenang kompetisi ogoh-ogoh mini di GWK. Tulak Tunggul, sebuah ogoh-ogoh yang menolak untuk sekadar menjadi tontonan mekanis. Ia bukan hanya makhluk dari dunia bayangan, melainkan pancaran utuh dari pergulatan batin, tafsir spiritual, dan kejeniusan visual. Dalam banyak hal, Tulak Tungggul bukan hanya karya seni rupa. Ia adalah pernyataan.

“Tulak” dalam bahasa Bali berarti menolak atau mengusir, sementara “Tungggul” bisa dimaknai sebagai sesuatu yang tertinggal, sisa, atau bahkan sesuatu yang membatu. Maka “Tulak Tungggul” dapat dibaca sebagai upaya spiritual untuk menolak sisa-sisa energi buruk yang mengendap dalam kehidupan manusia dan jagat. Ia bukan hanya ogoh-ogoh sebagai simbol butha kala, tetapi juga sebagai representasi dari pergulatan batin umat manusia melawan stagnasi, dendam lama, trauma, dan sisa-sisa energi yang belum tersucikan.

Ogoh-ogoh Tulak Tunggul | Foto: Deck Soto, Sanur, IG @deck_sotto

Secara visual, Tulak Tungggul menyuguhkan kesatuan ekspresi dan gestur yang luar biasa padu. Pose tubuh yang membungkuk ke depan, dengan satu jari tangan menelusup ke antara bibir dan gusi serta sorot mata yang penuh perhitungan, memberi kesan bahwa makhluk ini tengah merenung atau merencanakan sesuatu. Ekspresi wajahnya jauh dari tipikal ogoh-ogoh menyeramkan. Ia lebih mirip seorang pemikir tua dari dunia lain—sosok yang telah lama mengamati manusia, dan kini hendak menyampaikan pesan.

Tidak ada gerakan berlebihan. Tidak ada teatrikal yang hampa makna. Setiap lekuk tubuh, kerut wajah, hingga aksesori yang menempel di tubuh Tulak Tungggul tampaknya dirancang dengan pertimbangan mendalam. Bahkan jika ia tidak digerakkan, ia sudah cukup “hidup.” Dan ketika akhirnya ia bergerak, penonton tidak sekadar kagum pada teknologinya, tetapi terpesona oleh kesan bahwa makhluk ini benar-benar “ada.”

Menghidupkan Kembali Euforia Imajinasi


Berbeda dari banyak ogoh-ogoh masa kini yang terlalu menonjolkan kecanggihan mesin—hingga sering kali kehilangan ruh seninya—Tulak Tungggul justru jauh  dari mesin yang memang sejatinya harus ditempatkan sebagai pelayan imajinasi, bukan majikan. Mesin sama sekali tidak mendikte karya yang sudah sangat kuat dari sisi visual ini.

Tangan atau kepala atau bagian tubuh Tulak Tungggul yang lainnya tidak digerakkan oleh sistem mekanis yang pada banyak ogoh-ogoh terasa seperti pertunjukan sulap. Tulak Tunggul terasa seperti menyadarkan kembali bahwa gesturnya yang tanpa sentuhan sistem mekanis merupakan perwujudan kehendak batin dari sosok tersebut. Penonton tidak berkata, “Wow, mesinnya hebat,” tetapi berkata, “Ada apa dengan makhluk ini? Apa yang ingin ia sampaikan?”

Sayangnya, banyak kreator ogoh-ogoh hari ini terjebak dalam euforia mekanika. Mereka terlalu memuja teknologi—seolah-olah gerakan hidrolik otomatis sudah cukup untuk menyihir penonton. Padahal, mesin hanyalah hasil akhir dari imajinasi yang berhenti di titik presisi. Mesin berawal dari gagasan, dari keinginan untuk mengatasi keterbatasan tubuh manusia, namun ketika ia telah selesai dirakit, ia hanya akan mengulang dan mengulang gerakan yang sama, tanpa variasi rasa atau tafsir. Sementara ogoh-ogoh, seharusnya lebih dari itu. Ia bukan sekadar perayaan presisi—melainkan perayaan imajinasi, baik bagi kreatornya maupun penontonnya.

Tulak Tungggul seolah hendak menyindir karya-karya ogoh-ogoh yang terlalu percaya pada gemerincing roda dan piston, tetapi lupa pada kekuatan diam dari gestur yang mengandung makna. Sebab, imajinasi tidak pernah mati karena diam, justru ia bisa mati karena terlalu banyak bergerak tanpa arah.

Tulak Tungggul mengembalikan euforia kreator pada substansi utama dari sebuah ogoh-ogoh: imajinasi. Sebuah kata yang kini sering kalah oleh tuntutan viralitas, kompetisi, dan pertunjukan teknologis.
Ia membuat para kreator kembali berbicara tentang ide, bukan hanya eksekusi. Ia mengajak penonton untuk menebak-nebak makna, bukan hanya mengabadikan gerakan untuk diunggah di media sosial. Dengan kata lain, Tulak Tungggul adalah perayaan tafsir, bukan hanya tontonan.

Dalam dunia yang makin cepat dan instan, Tulak Tungggul datang sebagai penyeimbang. Ia memperlambat kita. Ia membuat kita duduk dan berpikir. Ia mengajak kita menyelami—bukan hanya menonton. Ia menghidupkan kembali rasa kagum yang jujur, bukan sekadar keterpukauan teknologis.

Ogoh-Ogoh Sebagai Jalan Spiritualitas


Secara filosofis, Tulak Tungggul mengingatkan bahwa ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni jalanan. Ia adalah bagian dari ritus penyucian jagat. Ia adalah simbol perlawanan terhadap energi negatif yang bersarang dalam tubuh sosial dan spiritual manusia.

Dengan pendekatan visual yang kuat, gerakan mekanis yang subtil namun efektif, dan nama yang penuh muatan makna, Tulak Tungggul mengingatkan kita bahwa seni bisa menjadi jalan spiritual. Bahkan lebih jauh, ia menunjukkan bahwa teknologi pun bisa menjadi alat pencerahan—asal ia dipakai dengan penuh kesadaran.

Tulak Tungggul adalah contoh terbaik dari bagaimana ogoh-ogoh masa depan seharusnya berkembang. Bukan dengan meninggalkan akar filosofis dan spiritualnya, tetapi dengan menyerap teknologi sebagai instrumen pendukung, bukan pusat perhatian.

Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara ritual dan kreasi, antara seniman dan teknisi, antara tubuh dan jiwa. Ia membuat kita percaya bahwa ogoh-ogoh bisa tetap relevan di era modern tanpa kehilangan jati dirinya.

Dan pada akhirnya, Tulak Tungggul akan dikenang bukan hanya sebagai ogoh-ogoh hebat tahun ini, tetapi sebagai pengingat bahwa dalam setiap detik yang kita habiskan untuk mencipta, ada 86.400 kemungkinan untuk menghidupkan kembali imajinasi yang nyaris terlupakan. [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Foto: Deck Soto, Sanur. IG @deck_sott 

  • Artikel ini disiarkan pertama kali di bekraf.id
Nyepi, Lailatul Qadar, Idulfitri, Meleburlebarkan Fitrah Umat Manusia.
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik
Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja
Tags: Hari Raya Nyepiogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi “Ngoncang” di Desa Padangbulia, Mengusir Energi Negatif, Bersama-sama Tapi Tidak Sama

Next Post

Tradisi Menyalakan Colok di Penghujung Ramadan: Menerangi Arwah Leluhur dengan Doa-doa

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tradisi Menyalakan Colok di Penghujung Ramadan: Menerangi Arwah Leluhur dengan Doa-doa

Tradisi Menyalakan Colok di Penghujung Ramadan: Menerangi Arwah Leluhur dengan Doa-doa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co