23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tulak Tunggul Kembali ke Jantung Imajinasi

Agung Bawantara by Agung Bawantara
March 30, 2025
in Esai
Tulak Tunggul Kembali ke Jantung Imajinasi

Ogoh-ogoh Tulak Tunggul (crop) | Foto: Deck Soto, Sanur, IG @deck_sotto

Di tengah hiruk-pikuk perayaan Nyepi yang setiap tahunnya ditandai oleh parade ogoh-ogoh yang semakin gemerlap dan canggih, ada satu sosok yang mencuri perhatian—bukan karena kerlap-kerlip lampu LED atau raungan mesin hidrolik yang megah, tetapi karena ia berhasil menyalakan kembali sesuatu yang hampir padam di banyak karya belakangan ini: imajinasi.

Namanya adalah Tulak Tungggul, sebuah ogoh-ogoh karya Warmaya atau Mank Egik yang pernah menjadi pemenang kompetisi ogoh-ogoh mini di GWK. Tulak Tunggul, sebuah ogoh-ogoh yang menolak untuk sekadar menjadi tontonan mekanis. Ia bukan hanya makhluk dari dunia bayangan, melainkan pancaran utuh dari pergulatan batin, tafsir spiritual, dan kejeniusan visual. Dalam banyak hal, Tulak Tungggul bukan hanya karya seni rupa. Ia adalah pernyataan.

“Tulak” dalam bahasa Bali berarti menolak atau mengusir, sementara “Tungggul” bisa dimaknai sebagai sesuatu yang tertinggal, sisa, atau bahkan sesuatu yang membatu. Maka “Tulak Tungggul” dapat dibaca sebagai upaya spiritual untuk menolak sisa-sisa energi buruk yang mengendap dalam kehidupan manusia dan jagat. Ia bukan hanya ogoh-ogoh sebagai simbol butha kala, tetapi juga sebagai representasi dari pergulatan batin umat manusia melawan stagnasi, dendam lama, trauma, dan sisa-sisa energi yang belum tersucikan.

Ogoh-ogoh Tulak Tunggul | Foto: Deck Soto, Sanur, IG @deck_sotto

Secara visual, Tulak Tungggul menyuguhkan kesatuan ekspresi dan gestur yang luar biasa padu. Pose tubuh yang membungkuk ke depan, dengan satu jari tangan menelusup ke antara bibir dan gusi serta sorot mata yang penuh perhitungan, memberi kesan bahwa makhluk ini tengah merenung atau merencanakan sesuatu. Ekspresi wajahnya jauh dari tipikal ogoh-ogoh menyeramkan. Ia lebih mirip seorang pemikir tua dari dunia lain—sosok yang telah lama mengamati manusia, dan kini hendak menyampaikan pesan.

Tidak ada gerakan berlebihan. Tidak ada teatrikal yang hampa makna. Setiap lekuk tubuh, kerut wajah, hingga aksesori yang menempel di tubuh Tulak Tungggul tampaknya dirancang dengan pertimbangan mendalam. Bahkan jika ia tidak digerakkan, ia sudah cukup “hidup.” Dan ketika akhirnya ia bergerak, penonton tidak sekadar kagum pada teknologinya, tetapi terpesona oleh kesan bahwa makhluk ini benar-benar “ada.”

Menghidupkan Kembali Euforia Imajinasi


Berbeda dari banyak ogoh-ogoh masa kini yang terlalu menonjolkan kecanggihan mesin—hingga sering kali kehilangan ruh seninya—Tulak Tungggul justru jauh  dari mesin yang memang sejatinya harus ditempatkan sebagai pelayan imajinasi, bukan majikan. Mesin sama sekali tidak mendikte karya yang sudah sangat kuat dari sisi visual ini.

Tangan atau kepala atau bagian tubuh Tulak Tungggul yang lainnya tidak digerakkan oleh sistem mekanis yang pada banyak ogoh-ogoh terasa seperti pertunjukan sulap. Tulak Tunggul terasa seperti menyadarkan kembali bahwa gesturnya yang tanpa sentuhan sistem mekanis merupakan perwujudan kehendak batin dari sosok tersebut. Penonton tidak berkata, “Wow, mesinnya hebat,” tetapi berkata, “Ada apa dengan makhluk ini? Apa yang ingin ia sampaikan?”

Sayangnya, banyak kreator ogoh-ogoh hari ini terjebak dalam euforia mekanika. Mereka terlalu memuja teknologi—seolah-olah gerakan hidrolik otomatis sudah cukup untuk menyihir penonton. Padahal, mesin hanyalah hasil akhir dari imajinasi yang berhenti di titik presisi. Mesin berawal dari gagasan, dari keinginan untuk mengatasi keterbatasan tubuh manusia, namun ketika ia telah selesai dirakit, ia hanya akan mengulang dan mengulang gerakan yang sama, tanpa variasi rasa atau tafsir. Sementara ogoh-ogoh, seharusnya lebih dari itu. Ia bukan sekadar perayaan presisi—melainkan perayaan imajinasi, baik bagi kreatornya maupun penontonnya.

Tulak Tungggul seolah hendak menyindir karya-karya ogoh-ogoh yang terlalu percaya pada gemerincing roda dan piston, tetapi lupa pada kekuatan diam dari gestur yang mengandung makna. Sebab, imajinasi tidak pernah mati karena diam, justru ia bisa mati karena terlalu banyak bergerak tanpa arah.

Tulak Tungggul mengembalikan euforia kreator pada substansi utama dari sebuah ogoh-ogoh: imajinasi. Sebuah kata yang kini sering kalah oleh tuntutan viralitas, kompetisi, dan pertunjukan teknologis.
Ia membuat para kreator kembali berbicara tentang ide, bukan hanya eksekusi. Ia mengajak penonton untuk menebak-nebak makna, bukan hanya mengabadikan gerakan untuk diunggah di media sosial. Dengan kata lain, Tulak Tungggul adalah perayaan tafsir, bukan hanya tontonan.

Dalam dunia yang makin cepat dan instan, Tulak Tungggul datang sebagai penyeimbang. Ia memperlambat kita. Ia membuat kita duduk dan berpikir. Ia mengajak kita menyelami—bukan hanya menonton. Ia menghidupkan kembali rasa kagum yang jujur, bukan sekadar keterpukauan teknologis.

Ogoh-Ogoh Sebagai Jalan Spiritualitas


Secara filosofis, Tulak Tungggul mengingatkan bahwa ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni jalanan. Ia adalah bagian dari ritus penyucian jagat. Ia adalah simbol perlawanan terhadap energi negatif yang bersarang dalam tubuh sosial dan spiritual manusia.

Dengan pendekatan visual yang kuat, gerakan mekanis yang subtil namun efektif, dan nama yang penuh muatan makna, Tulak Tungggul mengingatkan kita bahwa seni bisa menjadi jalan spiritual. Bahkan lebih jauh, ia menunjukkan bahwa teknologi pun bisa menjadi alat pencerahan—asal ia dipakai dengan penuh kesadaran.

Tulak Tungggul adalah contoh terbaik dari bagaimana ogoh-ogoh masa depan seharusnya berkembang. Bukan dengan meninggalkan akar filosofis dan spiritualnya, tetapi dengan menyerap teknologi sebagai instrumen pendukung, bukan pusat perhatian.

Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara ritual dan kreasi, antara seniman dan teknisi, antara tubuh dan jiwa. Ia membuat kita percaya bahwa ogoh-ogoh bisa tetap relevan di era modern tanpa kehilangan jati dirinya.

Dan pada akhirnya, Tulak Tungggul akan dikenang bukan hanya sebagai ogoh-ogoh hebat tahun ini, tetapi sebagai pengingat bahwa dalam setiap detik yang kita habiskan untuk mencipta, ada 86.400 kemungkinan untuk menghidupkan kembali imajinasi yang nyaris terlupakan. [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Foto: Deck Soto, Sanur. IG @deck_sott 

  • Artikel ini disiarkan pertama kali di bekraf.id
Nyepi, Lailatul Qadar, Idulfitri, Meleburlebarkan Fitrah Umat Manusia.
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik
Kemeriahan Total Menyambut Sunyi pada “Pengerupukan Festival” di Singaraja
Tags: Hari Raya Nyepiogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi “Ngoncang” di Desa Padangbulia, Mengusir Energi Negatif, Bersama-sama Tapi Tidak Sama

Next Post

Tradisi Menyalakan Colok di Penghujung Ramadan: Menerangi Arwah Leluhur dengan Doa-doa

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi Menyalakan Colok di Penghujung Ramadan: Menerangi Arwah Leluhur dengan Doa-doa

Tradisi Menyalakan Colok di Penghujung Ramadan: Menerangi Arwah Leluhur dengan Doa-doa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co