2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik

Son Lomri by Son Lomri
March 26, 2025
in Khas
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik

Ogoh-ogoh "Ulian Manuse" siap diarak dan dilombakan| foto Kadek Satya Saputra

OGOH-ogoh, yang bermuka jahanam bermata melotot—tajam dengan tubuh yang besar, divisualkan begitu mengerikan. Ini makhluk dari liang neraka. Di malam pengrupukan atau sebelum Hari Raya Nyepi, monster-monster itu akan diarak sepanjang jalan di desa-desa, juga di kota-kota.

Seperti tak berkutik, iblis-iblis itu menjadi bulan-bulanan warga, dibuat sebagai patung besar, sebagai simbol kontemplasi diri secara kolektif menyoal sesuatu yang jahat-jahat.

Salah satunya pada ogoh-ogoh bertajuk  “Ulian Manuse”, yang dibuat oleh Komunitas Pang-Len Community Banjar Kaja Kangin, Desa Kubutambahan, Buleleng, Bali. Ogoh-ogoh ini secara moralis hendak menyampaikan sesuatu tentang kerusakan alam—akibat ulah manusia.

Melalui ogoh-ogoh mereka, ditunjukkanlah bahwa iblis tak melulu terbuat dari dubur neraka, tetapi bisa terbentuk dari sifat dan rasa angkuh manusia—perilaku hidup manusia kurang ajar pada alam. Perilaku buruk manusia bisa membangkitkan bencana paling besar di dalam diri Bhuana Agung—alias alam semesta.

Bajang-bajang muda Komunitas Pang-Len Community Desa Kubutambahan berfoto di depan ogoh-ogoh “Ulian Manuse”| foto Kadek Satya Saputra

Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” menunjukkan kemarahan yang digambarkan melalui murkanya Ibu Pertiwi sehingga terbentuk wujud paling mengerikan.

Gigi tajam keluar, lidah menjulur dan mata seram dengan dua kepala iblis merupa pengganti telinga. Cekernya berkuku panjang dan tajam berwarna hitam gelap. O, begitu horor dan bangsatnya makhluk itu dari liang bumi.

Selaku konseptor, Kadek Sastya Saputra mengatakan ogoh-ogoh yang dibuat itu adalah wujud mengerikan dari makhluk jahat terhadap alam. Makhluk yang bisa bergerak dan ada, dan bentuk itu adalah simbol dari ulah manusia ugal-ugalan dalam memperlakukan punggung bumi, tidak senonoh.

Satya juga menekankan ogoh-ogoh itu bukan lagi sekadar patung besar yang dibuat-buat, lalu diarak sebagai ritual budaya setiap tahunnya di Bali. Tetapi justru sebagai suara kolektif warga yang sadar untuk mengingatkan bahwa bangsa ini sedang sakit—buminya sakit—dan jika dibiarkan akan modar secara perlahan. Kiamat.

Proses pembuatan kepala ogoh-ogoh “Ulian Manuse” dengan detail yang rumit | foto Kadek Satya Saputra

“Ulian Manuse—ini menggambarkan Ibu Pertiwi yang marah sekaligus menangis, melihat bagaimana anak-anaknya (manusia) tanpa ampun merusak keseimbangan yang diwariskan kepadanya,” kata Satya Saputra selaku konseptor dan arsitek ogoh-ogoh “Ulian Manuse” Komunitas Pang-Lan Community Desa Kubutambahan, ketika dihubungi melalui Whatshapp pada Rabu, 26 Maret 2025.

Melalui luka-luka di tubuh monster “Ulian Manuse”, simbol-simbol itu diletakkan sebagai atensi terhadap akar kesakitan yang berasal dari gorong-gorong yang mampet, aliran sungai yang kotor dan bibir pantai yang tak lagi eksotis karena disetubuhi sampah-sampah binal.

Kemudian bagaimana laut biru yang membiru—menggigil dan ikan-ikan di kedalaman terusik oleh limbah plastik dan para nelayan kerap menyiuk tai zaman, limbah, ketimbang ikan. Adalah hasil banalitas manusia dalam memperlakukan bumi tak selayaknya sebagai ibu kandung sendiri. Durhaka.

Dari ular yang tersesat ke gorong-gorong dibawa banjir karena hutan-hutan banyak yang dibabat tanpa ditanam ulang, dan burung-burung terbang kacau balau mencari sarang kesulitan.

Semua itu kekacauan itu menjadikan ogoh-ogoh “Ulian Manuse” ini lebih mendapatkan makna, bernyawa dan memantik perenungan bahwa  kebanalan manusia harus dikurangi, dan harus sadar akan pentingnya berbagi ruang, dan berhenti bersekutu dengan sampah-sampah yang dibuang buta-buta di laut dan di darat, bahkan di udara sekalipun.

Kontemplasi Kuat-Kuat

Tak hanya dari sisi bentuk yang diperjuangkan, tetapi ogoh-ogoh “Ulian Manuse” juga diperjuangkan secara proses yang konsisten. Pemilihan bahan-bahan dari sampah anorganik seperti; botol plastik, sedotan dan tas plastik, dan kaleng bekas, menjadikan kesan kuat tentang akar masalah yang diajukan secara tematik itu begitu serius.

Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” siap diarak dan dilombakan| foto Kadek Satya Saputra

Seperti, botol plastik diubah menjadi rambut Ibu Pertiwi yang kusut dan tak terawat. Sedotan dan bungkus makanan menjadi mahkotanya yang mencerminkan polusi visual. Sementara tutup botol dan tas plastik dijadikan perhiasan yang ironis, menggambarkan keindahan palsu di tengah kehancuran. Dan kaleng bekas diolah menjadi ornamen bunga yang mencerminkan kehidupan yang indah tertutupi limbah.

“Dengan memanfaatkan limbah, kami tidak hanya menciptakan sebuah ogoh-ogoh yang megah, tetapi juga memberikan pesan kuat kepada masyarakat bahwa sampah-sampah yang dibuang sembarang, suatu hari akan kembali menghantui kita semua!” kata Satya secara tegas.

Soal kontemplasi, gotong royong warga dari berbagai kalangan dan usia di desa itu juga satu bukti yang jujur dan organik, jika perenungan sudah terjadi sebelum monster ini diciptakan secara fisik—melalui urunan bahan baku sukarela.

Bahan baku pembuatan tidak dibeli, didapatkan dari warga sekitar sebagai bentuk solidaritas. Setiap warga menyumbangkan sampah plastik dan materil bekas tidak terpakai lainnya yang mendukung. Yang kata Satya, ini adalah bukti nyata perubahan besar sebenarnya bisa dimulai dari komunitas kecil. Dan kesadaran kolektif itulah yang dicecar oleh Komunitas Pang-Len Community.

Sampai di sini, Satya juga menjelaskan anggaran pembuatan ogoh-ogoh dari komunitasnya tidak menyundul angka yang besar. Hanya sekitar tiga juta lima ratus rupiah dihabiskan. Tentu angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan karya lain yang justru bisa mencapai puluhan juta bahkan mentok sampai seratus juta.

“Sedang kami mengandalkan kratifitas dalam memanfaatkan barang bekas,” lanjut Satya.

Ada banyak tantangan dan kesulitan dalam proses penciptaan selama satu bulan. Projek ini dikompres secara biaya dan waktu—diselesaikan di sela kesibukan masing-masing, karena nyaris semua yang mengerjakan adalah anak sekolah. Sehingga mereka harus menyesuaikan dengan jadwal masing-masing.

Siang hari, melewati sore, menutup malam—jika ada waktu luang. Begitulah orang-orang itu berkumpul dan bekerja bersama.

Proses pembuatan ogoh-ogoh dari bahan bekas anorganik| foto Kadek Satya Saputra

Dan bagaimana detail dan skala proyek, ogoh-ogoh “Ulan Manuse” juga tidak hanya mementingkan esensi, tetapi estetika juga dipertahankan sekuat tenaga. Detail anatomi tubuh monster itu ditilik secara serius.

Tinggi ogoh-ogoh sekitar 5 meter, dan lebar 3,5 meter dengan berat sekitar 700 Kilogram. Dan bagaimana lidah yang menjulur secara detail dibentuk, juga kuku yang tajam dan serat kulit dari wajah yang mengerikan itu dirapal oleh tangan-tangan terampil anak muda, tanpa intervensi orang dewasa.

“Kami berharap karya ini tidak hanya memukau secara visual saja, tetapi juga bisa mengetuk hati setiap orang yang melihatnya. Jangan sampai kita menunggu hingga bumi benar-benar murka baru kita mulai bergerak!” harap Satya mewakilkan harapan teman-temannya.

Di tanggal 28 Maret mendatang, ogoh-ogoh ini akan diarak dari lapangan Desa Kubutambahan menuju setra di desa itu, dan dibakar setelah hari raya nyepi selesai.

Selamat Hari Raya Nyepi, Semeton. Melalui ogoh-ogoh, selamat membunuh kenasklengan di dalam diri… [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 
SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh
Buleleng pun Punya Seniman Ogoh-ogoh dengan Karya yang Keren : Juni Pariawan dari Bengkala
“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api
Ogoh-Ogoh, Arena Kreativitas Kolektif Anak Muda Bali : Inovasi dari Tahun ke Tahun

Tags: desa kubutambahanHari Raya Nyepiogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ini Refleksi, Bukan Ramalan : Catatan Pentas Komunitas Aghumi di “Bali Berkisah 2025”

Next Post

Sutjidra-Supriatna Prioritaskan Pembangunan di Lima Bidang di Buleleng, Bidang Nyata dan Realistis

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Sutjidra-Supriatna Prioritaskan Pembangunan di Lima Bidang di Buleleng, Bidang Nyata dan Realistis

Sutjidra-Supriatna Prioritaskan Pembangunan di Lima Bidang di Buleleng, Bidang Nyata dan Realistis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co