27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buleleng pun Punya Seniman Ogoh-ogoh dengan Karya yang Keren : Juni Pariawan dari Bengkala

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 13, 2024
in Persona
Buleleng pun Punya Seniman Ogoh-ogoh dengan Karya yang Keren : Juni Pariawan dari Bengkala

Komang juni Pariawan (kanan) dan ogoh-ogoh hasil karyanya

BICARA ogoh-ogoh pada hari-hari menjelang Nyepi, sepertinya banyak orang lebih fokus membicarakan kehebatan bentuk dan rupa ogoh-ogoh di Denpasar dan Gianyar, lengkap perangkat mesin, dengan nama-nama seniman muda yang hebat dan populer bak artis ibukota.  Jarang orang menyebut-nyebut nama Buleleng, apalagi menyebut nama-nama seniman muda di balik pembuatan ogoh-ogoh di Bali utara.

Tradisi membuat dan mengarak ogoh-ogoh saat Hari Pengerupukan di Buleleng memang datang belakangan. Di wilayah Bali bagian selatan, ogoh-ogoh sudah muncul, ramai dan heboh, pada sekitaran tahun 1980-an. Sedangkan di Buleleng tradisi itu baru benar-benar memasyarakat secara luas pada sekitaran tahun 2000-an. Namun begitu, semangat pemuda dan seniman Buleleng untuk mengejar kehebohan teman-temannya di Bali selatan, secara kuantitas maupun kualitas, terus dipompa. Ogoh-ogoh di Buleleng, baik di desa maupun di kota, juga tak pernah sepi.  

Selain jumlah ogoh-ogoh terus bertambah setiap tahun, kualitas dalam bentuk, rupa, estetika, dan lain-lain, pun meningkat dari tahun ke tahun. Hingga, pada tahun 2024 ini, pada perayaan menyambut Hari Nyepi Tahun Saka 1946, muncul sejumlah ogoh-ogoh yang cukup mengundang perhatian, dan bisa dikata unggul secara kualitas.  Salah satunya adalah ogoh-ogoh dari Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan.

Ogoh-ogoh di Desa Bengkala diberi nama Bhuta Kala Pengulun, yakni bhuta kala yang menjaga area Pura Dalem. Dari segi bentuk, rupa, dan keselarasan anatomi, ogoh-ogoh ini bisa dibilang punya kualitas jauh di atas rata-rata.

Pembuat ogoh-ogoh di Desa Bengkala itu adalah seniman muda, yang meski namanya belum setenar seniman ogoh-ogoh di Denpasar, tapi ia punya akal dan kreatifitas, tentu juga punya semangat tinggi untuk berkarya, dalam kondisi sedikit modal dan minim sarana. Ia menciptakan ogoh-ogoh berkualitas dengan biaya yang amat rendah.

Seniman itu, Komang Juni Pariawan. Ia memang pemuda asli Desa Bengkala. Ia adalah tamatan S1  Pendidikan Seni Rupa, Undiksha Singaraja, yang saat ini menjadi guru seni rupa di SMPN 2 Kubutambahan.

“Ogoh-ogoh ini saya kerjakan bersama anak-anak didik saya di SMP,” kata Juni Pariawan memulai cerita tentang ogoh-ogoh yang dibuatnya itu.

Ogoh-ogoh itu mereka kerjakan selama kurang lebih sebulan dan sempat berkali-kali terhenti karena kesibukan Juni sebagai guru. Namun, dengan semangat yang terus membara, ogoh-ogoh Bhuta Kala Pengulun itu pun selesai.

Komang Juni Pariawan | Foto: Dok. pribadi

Ogoh itu sempat diikutkan dalam lomba ogoh-ogoh yang diadakan Komunitas Bli Braya dan diarak keliling Desa Bengkala pada saat Hari Pengerupukan, Minggu, 10 Maret 2024.

“Proses pengerjaan ogoh-ogoh ini cukup menguras isi kepala,” kata Juni Pariawan.

Selain karena biaya yang tersedia sangat minim untuk ukuran ogoh-ogoh besar, Juni juga dihadapkan pada alat-alat dan fasilitas pengerjaan yang tergolong sederhana dan seadanya. Rangka yang digunakan untuk ogoh-ogoh itu sepenuhnya menggunakan bahan kayu, dan hanya beberapa saja menggunakan besi ulir seperti pada bagian pembuatan jempol di tangan ogoh-ogoh. Bambu dicari sendiri dan dibelah sendiri secara manual.

“Sejujurnya, dari awal tidak ada ekspektasi bisa memaksimalkan karya ogoh-ogoh ini,” kata Juni.

Proses pembuatan ogoh-ogoh karya Juni Pariawan di Desa Bengkala, Buleleng | Foto: Dok, pribadi

Dana yang tersedia pada awalnya hanya 2 juta rupiah.   Dari modal sekecil itu Juni berpikir terus, darimana lagi bisa mendapatkan uang untuk menyelesaikan ogoh-ogoh yang telanjur dikerjakan dengan serius itu. Akhirnya ia bersama anak-anak meminta sumbangan sukarela kepada warga saat sembahyang pada Hari Raya Galungan. Sumbangan terkumpul 600 ribu rupiah.

Dana sebesar itu tentu saja belum cukup. Juni akhirnya memutuskan menyumbangkan sendiri uang yang didapatkan dari hasil orderan membuatkan ogoh-ogoh untuk orang lain. Sehingga dana yang terkumpulkan secara keseluruhan mencapai sekitar 4 juta rupiah. Tentu dana sekecil itu tidak cukup untuk membuat ogoh-ogoh dalam ukuran besar. Namun Juni punya akal.

“Saya ajak anak-anak di SMP tempat saya mengajar untuk diajak ikut mengerjakan ogoh-ogoh itu, sekalian belajar juga,” katanya.

Dengan dana yang kecil, Juni Pariawan terus memutar akal agar ogoh-ogoh bisa selesai dengan hasil karya yang tak mengecewakan.

“Saya terus berusaha dan belajar bagaimana caranya dengan dana sekian bisa memaksimalkan sebuah karya dan semoga apa yang sudah saya lakukan berbuah positif terhadap generasi-generasi mendatang terutama anak-anak yang sudah ikut bekerja untuk menciptakan karya ogoh-ogoh ini,” ujar Juni Pariawan.

Dalam proses berkarya, Juni tampaknya memang lebih mengutamakan manfaat dan makna-makna, serta nilai-nilai pengetahuan, ketimbang menciptakan nilai fisik secara kuantitas.

“Kami tetap menciptakan karya seni yang indah sekaligus belajar ikhlas dan tanpa pamrih untuk sebuah karya seni, budaya dan tradisi,” ujarnya dengan tegas.  

Tapel ogoh-ogoh karya Juni Pariawan | Foto: Dok. Pribadi

Meski masih tergolong muda, Juni Pariawan memiliki proses dan pengalaman yang cukup panjang di bidang seni rupa. Ia sudah bergelut dengan bidang seni rupa sejak masih duduk di bangku SD.

“Sama seperti sama halnya dengan anak kecil pada umumnya, saya suka menggambar,” kata Juni yang lahir di Desa Bengkala, 26 Juni 1996, itu.

Saat SD ia sempat mewakili sekolah dalam lomba menggambar di tingkat gugus serta kecamatan.  Bakat seninya terus berkembang, dan setamat SMA ia melanjutkan pada program pendidikan seni rupa di Unduksha.

Belakangan ini, selain tetap disiplin mengajar di sekolah, ia terus menekuni karya seni ogoh-ogoh, entah ogoh-ogoh besar maupun ogoh-ogoh mini, terutama tapel atau kepala ogoh-ogoh. Ia ikut aktif dalam banyak event dan lomba tapel ogoh, misalnya yang sering diadakan di areal Garuda Wisnu Kenaca (GWK).

Kesukaannya pada pembuatan karya ogoh-ogoh dilatari juga oleh pendidikan yang ditempuhnya di Undiksha. Pada saat masih kuliah, ia mengambil keahlian konsentrasi seni patung dan sempat berpameran di galeri kampus bawah Undiksha. Selain itu, ia juga pernah berpameran di Galeri Monkey Forest di Ubud, serta di Kulidan Space di Gianyar. Saat ini ia juga mengikuti pameran tapel ogoh-ogoh di GWK.

“Pada saat itu saya memamerkan hasil kerja tugas akhir (TA), yakni patung yang terbuat dari sabut kelapa,” katanya.

Juni memang tertarik membuat ogoh-ogoh sejak masih kelas 1 SD. Saat itu ia sering membuat ogoh-ogoh dari sabut kelapa dan botol bekas air mineral. Saking tertariknya pada proses pengerjaan ogoh-ogoh. Ia selalu minta diantar kakaknya ke balai banjar untuk melihat sekaa teruna membuat ogoh-ogoh.

“Lambat laun, saat Hari Pengrupukan ketika saya remaja, saya mencoba membuat ogoh-ogoh yang ukurannya besar bersama teman-teman sebaya,” kata Juni.

Ogoh-ogoh yang dibuat saat remaja itu tentu saja hanya sekadar saja, karena Juni bersama teman-temannya masih sekolah dan belum memiliki cukup uang. Namun, setelah pengalaman pertama itu, ia bersama teman-temannya secara rutin membuat ogoh-ogoh pada setiap perayaan Nyepi, dengan modal rata-rata 150 ribu sampai 300 ribu rupiahj.

“Dari proses itulah saya sangat tertarik sekali dengan dunia seni tiga dimensi khususnya ogoh-ogoh serta patung,” katanya.

Dari keluarga, kata Juni, tidak ada satupun yang memiliki darah dan bakat di bidang seni rupa. Namun, bakatnya di bidang pembuatan ogoh-ogoh terus mengundang perhatian orang. Selain membuat ogoh-ogoh untuk dadia atau banjar, ia juga terbiasa menerima pesanan ogoh-ogoh untuk orang lain. Sering juga ia menerima pesanan kepala ogoh-ogoh, baik dengan bahan ulatan bambu, maupun dari bahan styrofoam.

Bicara soal dunia seni ogoh-ogoh di Buleleng, Juni mengatakan ia selalu berdoa semoga seni di Buleleng bisa dihargai sebanding dengan karya seni lain dari daerah lain, dan semoga memiliki tempat di hati masyarakat.

Ogoh-ogoh Bhuta Kala Pengulun karya Juni Pariawan | Foto: Dok. pribadi

“Seni di Buleleng sangat minim apresiasi dibandingkan dengan di daerah Bali selatan, dan untuk seni di bidang ogoh-ogoh, khususnya untuk di Buleleng semoga semakin berkembang dan mendapat perhatian lebih dari pemerintah setempat, misalnya dengan memberikan bantuan pembinaan atau dengan diadakannya lomba ogoh-ogoh yang cukup serius,” kata Juni Pariawan dengan nada suara serius. [T]

Reporter/Penulis: Adnyana Ole
Editor: Wayan Sumatika

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api
Ogoh-Ogoh, Arena Kreativitas Kolektif Anak Muda Bali : Inovasi dari Tahun ke Tahun
Teriakan Pengarak Ogoh-Ogoh: Ekspresi Budaya atau Histeria?
Tags: balibulelengDesa BengkalaHari Raya Nyepiogoh-ogohSeni RupaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Solidaritas Lewat Keterbukaan Angka Keuangan : Sisi Unik di Balik Upacara di Pura Prajapati Ubud

Next Post

Sahur Bersama di Masjid Jami’ Singaraja, Hal yang Ditunggu Saat Bulan Puasa

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Sahur Bersama di Masjid Jami’ Singaraja, Hal yang Ditunggu Saat Bulan Puasa

Sahur Bersama di Masjid Jami' Singaraja, Hal yang Ditunggu Saat Bulan Puasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co