3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia Jero Sekarini | Cerpen I Made Ariyana

I Made Ariyana by I Made Ariyana
November 9, 2024
in Cerpen
Dunia Jero Sekarini | Cerpen I Made Ariyana

Ilustrasi tatkala.co

ODE terduduk di tanah, tertelungkup menggigil memeluk lutut di bawah sebatang pohon kelor tua di belakang sekolah sambil menangis sesenggukan. Wajahnya bersimbah air mata. Dia tak peduli baju dan rok sekolahnya kusut dan penuh debu. Amarah, sedih, dan benci meletup-letup di dadanya. Sakit hati ini benar-benar tak dapat ditanggungnya lagi.

Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah Detu. Murid laki-laki sontoloyo itu dengan jahat memaki Ode karena tak diberi contekan saat ulangan Bahasa Indonesia tadi.

“Dasar punggung bengkok pelit!” umpat Detu saat itu tanpa perasaan. Umpatan yang membuat kepala Ode serasa mendidih. Tak seorang pernah mengatainya seperti itu. Badannya gemetar. Ingin sekali ditaboknya mulut tengik laki-laki teman sekelasnya itu. Namun itu tidak terjadi. Yang terjadi adalah Ode berlari menghamburkan diri ke belakang sekolah yang sepi dan menanggung hinaan itu seorang diri. Dia menumpahkan kesedihan dengan menangis terisak-isak. Air matanya berderai-derai.

Ode yang malang. Gadis berkaca mata ini menderita suatu penyakit tulang belakang. Hippokrates, seorang dokter Yunani kuno, menyebutnya dengan istilah skoliosis. Orang tua Ode menyadari hal itu ketika Ode kelas 6. Terapi pun ditempuh untuk menormalkan kembali bentuk tulang punggung atau setidaknya membuatnya tidak bertambah melengkung.

Ode begitu disayang oleh kedua orangtuanya. Ia adalah anak bungsu dan kata para famili, Ode melik. Semangat dari orang tua yang selalu membesarkan hati membuat Ode tidak pernah minder dengan ketidaknormalan fisiknya itu. Ode menjalani keseharian layaknya anak-anak lain. Tapi kini, ucapan sarkasme seorang anak tak tahu adat telah meruntuhkan kepercayaan dirinya.

“Kali ini kau pasti akan kulaporkan ke guru BK supaya tahu rasa!” desis Ode lirih, seolah-olah sedang berjanji pada dirinya sendiri, sambil terisak-isak.

Selama ini Ode memang sering dirundung oleh Detu. Namun sesering itu pula dia berusaha sabar dan tidak mengadukan segala apa yang diperbuat Detu terhadapnya. Itu karena dia tidak ingin Detu mendapat masalah di sekolah. Baru 2 bulan menginjakkan kaki di sekolah sebagai siswa kelas 7 dan langsung menjadi sorotan para guru karena membuat onar bukanlah prestasi yang patut dibanggakan. Selain itu dia masih menghitung Detu sebagai saudara. Nenek Ode dan nenek Detu adalah kakak beradik. Mereka juga dari banjar yang sama.

Selama ini Detu sering mengambil alat tulisnya tanpa izin, minta-minta uang dengan paksa, menarik rambutnya, bahkan pernah menyembunyikan topi sekolahnya saat akan mulai upacara bendera sehingga Ode panik kelabakan dan nyaris kena damprat Pak Murdana, wakasek yang terkenal disiplin dan galak sejak zaman PPKn masih bernama PMP. Ode masih bisa mengelus dada dengan perlakuan itu. Betapa dia berusaha menelannya dengan sabar. Namun kali ini sudah tak bisa dibiarkan. Ini sudah kelewatan, keterlaluan. Detu telah melakukan body shaming yang tidak sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang beberapa tahun belakangan digaungkan pemerintah dan dia harus diberi ganjaran untuk itu.

Sementara itu, bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Suaranya berkumandang di seantero sekolah lewat pengeras suara yang terpasang di setiap ruangan. Pukul 11.55, tengai tepet, jam pelajaran kelima. Halaman dan lapangan sekolah, serta koridor-koridor kelas tampak lengang. Kantin juga sepi. Tentu saja sebab belum waktunya murid berbelanja. Ibu-ibu pedagangnya tampak bersantai ria menikmati sejuknya udara yang ditiupkan kipas mini elektrik. Murid-murid masih tekun mengikuti pembelajaran di kelas masing-masing. Hanya satu-dua murid tampak tergesa-gesa ke kamar kecil.

Ode masih enggan ke kelas. Kepalanya belum tegak. Dia tengah berusaha menyatukan hatinya yang tercerai-berai. Rambut panjang kepang duanya yang diikat pita biru tampak berantakan dan bertabur daun kelor yang berjatuhan ditiup angin panas tengah hari itu. Lalu hening. Sunyi. Tupai dan burung cerukcuk atau pycnonotus goiavier yang biasanya ramai berceloteh berebut biji-bijian pun tak menampakkan diri. Hanya matahari yang tetap konsisten dalam garis edarnya meniti langit dengan pijar membara tepat di atas ubun-ubun.

“Gek, sedang apa di sini?” sebuah suara lembut menyentak Ode dari isaknya yang belum reda benar.

Ode menengadahkan kepala menghadap ke sumber suara. Daun-daun kelor berjatuhan dari kepalanya. Matanya masih merah dan sembab di balik kacamata. Terlihat di depannya sudah berdiri seorang wanita setengah baya dengan tatapan mata yang begitu meneduhkan. Wanita itu tersenyum. “Mengapa di sini? Nah, ayo, ikut ke rumah Mbok.”

Lama Ode menatap si wanita. Cantik sekali, pikirnya. Wanita itu tampak seumuran dengan ibunya tapi mengapa menyebut dirinya Mbok? Siapa wanita ini? Mengapa dia ada di sini?

Wanita itu seolah bisa membaca pikiran Ode. Dengan ramah dia mengenalkan diri.

“Nama Mbok Jero Sekarini. Rumah Mbok di utara sana. Mau ke rumah Mbok?” Wanita itu memberi tanda dengan telunjuknya. Lalu bak terhipnotis, tanpa sedikitpun keraguan, Ode berdiri dan menganggukkan kepala mengiyakan. Dia menyeka wajah putihnya dengan lengan baju lalu pelan-pelan kakinya melangkah ke utara, mengikuti arah yang ditunjukkan si wanita. Wanita itu mengikutinya dari belakang.

Ode berjalan dan berjalan terus ke utara. Lalu dia menyadari suasana begitu asing. Saat orientasi beberapa bulan lalu, dia tidak pernah ditunjukkan tempat ini oleh kakak OSIS. Ternyata ada tempat seperti ini di sekolah, pikirnya. Begitu asri, banyak tanaman bunga, begitu hijau. Ode menoleh ke belakang. “Terus saja ke utara,” ucap Jero Sekarini.

Tak lama, akhirnya Ode sampai di rumah Jero Sekarini. Ode melihat ada tiga bangunan kuno stil bali berbahan bata merah. Ada pelinggih yang tidak dapat dikatakan baru, juga berbahan bata merah. Jero menyilakan Ode duduk di bale daja beralaskan tikar pandan. Lalu dia sendiri ke bangunan lainnya dan datang-datang sudah membawa nampan berisi nasi, lauk, dan segelas air putih.

Lagi-lagi tanpa keraguan, Ode langsung menyantap suguhan sang tuan rumah. Entah mungkin karena lapar setelah menangis lama, makanan itu terasa enak di lidah Ode. Nasinya begitu pulen. Jarang-jarang dia makan nasi seenak itu. Ketika diperhatikan, biji nasinya tampak lebih besar ketimbang nasi yang biasa dia makan.

“Nasi apa gerangan?” Pertanyaan itu hanya terucap dalam hati.

Lauknya juga enak. Ode tidak tahu itu lauk apa. Lauk itu seperti potongan daging dengan bumbu warna coklat. Rasanya lezat, manis, dan gurih sampai-sampai Ode harus menjilati sisa-sisa bumbu yang melumuri jemarinya. Tak berhenti sampai di situ, air putihnya pun terasa begitu segar. Segala dendam, sakit hati, dan amarahnya pada Detu tiba-tiba lenyap sirna seiring air putih itu membasuh kerongkongannya. Ode mengangkat gelas untuk memperhatikan air apa gerangan yang dirinya teguk sehingga rasanya begitu menyegarkan. Ah, Ode merasa hatinya telah utuh kembali seperti sedia kala.

Jero Sekarini tersenyum lembut. Dia senang sang tamu puas dengan suguhan yang diberikan. Setelah Ode selesai makan, dia membereskan piring, gelas, dan nampan, lalu berkata, “Mbok mau ke pasar, kamu di sini saja istirahat. Sebelum pergi, Mbok mau berpesan. Kamu jangan melihat saat Mbok berjalan pergi. Kamu juga jangan keluar dari pagar rumah ini.” Pesan yang sungguh ganjil.

Tapi belum sempat Ode mengeluarkan sepatah kata, Jero Sekarini sudah bangkit dan menunggu Ode memalingkan wajah. Dia tidak ingin dilihat ketika pergi. Aneh! Ode pun menoleh ke arah lain sesuai pesan Jero dan terkesiap sebab di arah dia menoleh tiba-tiba muncul dua bocah perempuan dekil berlarian sambil tertawa cekikikan menggunakan kamen berwarna putih lusuh sampai dada.

Kedua bocah itu berambut merah, berkulit gelap, dan sepertinya sedang main kejar-kejaran. Kedua bocah itu sempat berhenti sebentar, melirik Ode dengan guratan bibir dan tatapan mata ganjil, lalu berlari lagi sambil cekikikan hingga menghilang di balik semak-semak yang menjadi pagar rumah.

Siapa kedua bocah itu? Apakah anak-anak Jero Sekarini? Kenapa seperti suku primitif? Ketika Ode berpaling ke arah Jero, dia sudah tidak tampak. Cepat benar dia menghilang. Mengapa dia tidak mau dilihat ketika pergi? Siapa sebenarnya Jero Sekarini? Apakah dia salah satu penjual di kantin? Misterius! Ode hanya bertanya-tanya dalam hati.

Di mata Ode, Jero adalah wanita yang berparas cantik. Rambutnya lurus panjang terjuntai hingga ke lutut. Gaunnya juga panjang menutupi mata kaki berwarna putih bersih, tidak kumal seperti dua bocah tadi. Tubuhnya wangi serupa bau bunga kenanga. Suaranya lembut dan merdu. Satu hal yang tak lazim pada Jero adalah tidak adanya cekungan di bawah hidung. Namun begitu, wajah putihnya tetap memesona.

Kemudian pandangannya menyapu sekeliling rumah Jero. Rumah itu bernuansa rumah-rumah kuno pedesaan namun bersih dan terawat. Halamannya tanah. Banyak pohon dan tanaman bunga sehingga sejuk dan asri. Tidak ada suara bising kendaraan. Begitu damai. Ode betah dan terlena di rumah itu. Dan Ode baru ngeh, dunia dirasanya agak remang bak tidak ada sinar matahari! Cepat sekali sore, bukankah baru saja bel jam pelajaran kelima? Ode heran sendiri. Dan remang itu tidak berubah gelap, terus saja begitu, seakan-akan waktu berhenti berputar.

Beberapa saat kemudian, Jero sudah kembali dari pasar membawa bungkusan yang langsung dibawa ke bale delod. Entah apa isinya. Sejurus kemudian dia kembali menyuguhkan makanan yang sama untuk Ode. Ode pun kembali makan dengan lahap bak belum kena nasi tiga hari. Itu adalah makanan terlezat yang pernah dia makan seumur hidupnya, selezat masakan Sanji, juru masak bajak laut Topi Jerami.

“Anak yang selalu jahat kepada kamu harus diberi pelajaran. Tenang saja. Mbok akan mengurusnya,” ucap Jero.

Bagaimana wanita itu tahu ada anak yang menjahatiku? Pikir Ode. Kian lama kian banyak pertanyaan muncul di kepala Ode. Namun tak satupun pertanyaan itu terucap keluar dari mulutnya.

Di saat bersamaan, Ode mendengar suara keramaian dan gaduh di seberang sana. Ode mendongakkan kepala. Yang terlihat adalah orang-orang yang dikenalnya. Ada bapak, ibu, paman, kakek, beberapa guru, seorang pria berpakaian mangku, juga beberapa teman sekelasnya. Detu juga terlihat di sana. Semua berwajah sedih dan murung. Tak ada senyum barang secuil bak tengah dirundung bencana. Mengapa mereka ke sini?

 Mereka memanggil-manggil Ode sambil menyelisik semak-semak dan memukul segala benda dengan nada tidak keruan. Ada yang memukul gong, memukul panci, memukul kulkul tiying, dan sok bodag. Begitu ribut, berisik, dan memekakkan telinga. Ode tidak paham dengan yang mereka perbuat. Ode melihat dan mendengar panggilan itu namun tidak ada niat menyahut.

“Ode, ayo pulang!” teriak sang bapak dengan wajah muram, putus asa.

“Ode, kami semua datang menjemputmu, kamu boleh pulang!” teriak teman-teman sekelasnya.

“Ode, cepat pulang ya, Nak. Kasihan ibumu tiga hari ini menangis terus di rumah menunggu kamu pulang. Pulang ya, Nak. Besok kita belajar lagi,” suara sang ibu wali kelas memelas mengelu-elukan anak perwaliannya.

Lalu Ode melihat ibunya, sambil bercucuran air mata, menghaturkan pejati dan segehan di bawah pohon kelor dibantu Jro Mangku. Orang-orang berbisik konon pohon kelor tersebut tenget.

“Pulang, Nak, cepat pulang. Jangan bikin ibu sedih seperti ini, Nak. Ode cepat pulang,” sang ibu memanggil dengan suara terbata-bata, tangisnya sungguh pilu. Beberapa orang memegangi karena takut dia pingsan lagi.

Jro Mangku mulai bergumam. Oh, siapa pun yang berstana di sini, sang keluarga menghaturkan banten pejati dan segehan. Mohon terimalah persembahan ini. Keluarga meminta maaf jika ada kesalahan yang dilakukan oleh putri mereka. Mereka hanya tidak tahu. Maafkanlah mereka. Jangan ganggu mereka. Kalau putri mereka ada padamu, maka lepaskanlah. Kembalikan putri mereka dalam keadaan sehat seperti sediakala.

Melihat semua itu, entah kenapa Ode masih tidak ada niat untuk pergi. Seolah-olah pikirannya tersandera. Sampai akhirnya tiba-tiba di hadapannya muncul sesosok laki-laki tinggi-gempal, berewokan, berkulit gelap, berambut merah, dan bermata satu! Tangan kirinya membawa nyiru, tangan kanannya membawa blakas atau golok!

Laki-laki itu menatap tajam dan menyeringai ke arah Ode, menunjukkan gigi-geriginya yang hitam kotor. Makhluk menyeramkan itu lalu berjongkok mengasah blakas itu pada sebongkah batu besar. Saat itulah Ode merasa ngeri dan merinding. Dia berpikir sesuatu yang buruk sedang menuju ke arahnya. Serta merta dia meloncat kemudian berlari terbirit-birit bermaksud ke luar pagar rumah Jero.

Namun tidak ada jalan keluar! Jalan keluarnya hilang! Ode berbelok dan lari sekencang-kencangnya. Dia tidak tahu ke arah mana, pokoknya lari. Jantungnya berdegup kencang. Saking takutnya badan kurusnya sampai menubruk pokok sawo. Dan semuanya menjadi gelap.

“Ode di sini! Oii, Ode di sini! Ode ketemu!!” Seseorang berteriak girang sambil menunjuk ke arah semak belukar yang dipenuhi liligundi. Orang-orang mendapati Ode meringkuk lemah di sana setelah tiga hari raib. Sang ibu tak henti-henti mengucap mimih dewa ratu.

Saat semua merubung Ode, terdengar lagi teriakan dari arah lain. “Detu! Detu! Detu kamu di mana?”

Semua kaget dan kebingungan. Ode ketemu, kini Detu yang hilang! Beberapa orang masih mengurus Ode, beberapa mencari-cari Detu yang tiba-tiba lenyap tanpa bekas. Apakah dia diajak masuk ke dunia magis Jero Sekarini? Misterius! [T]

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Toleransi 2 Hari | Cerpen I Made Ariyana
Made Merta dan Kisahnya Menabung
Rumah Tusuk Sate | Cerpen Putri Santiadi
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga
Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto
Hyang Ibu
Jerit Padi Luka Pesisir | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ahmad Muzanni | Suasana Langit Malammu

Next Post

Selamat Jalan, Tut Nang, Pesonamu Bermain Kendang akan Senantiasa Dikenang

I Made Ariyana

I Made Ariyana

Lahir di Denpasar. Lulusan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali. Saat ini menjadi guru bidang studi Bahasa Indonesia di SMP Negeri 9 Denpasar.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Selamat Jalan, Tut Nang, Pesonamu Bermain Kendang akan Senantiasa Dikenang

Selamat Jalan, Tut Nang, Pesonamu Bermain Kendang akan Senantiasa Dikenang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co