9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Matinya Seorang Buruh Kecil”, Kumpulan Cerpen Anton Chekhov yang Membuat Saya Geleng-Geleng Kepala

Jaswanto by Jaswanto
November 3, 2024
in Ulas Buku
“Matinya Seorang Buruh Kecil”, Kumpulan Cerpen Anton Chekhov yang Membuat Saya Geleng-Geleng Kepala

Buku kumpulan cerpen "Matinya Seorang Buruh Kecil" karya Anton Chekhov | Foto: Jaswan

DI kamar kotrakan saya ada tiga buku Anton Chekhov. Dua kumpulan cerpen (Matinya Seorang Buruh Kecil dan Pengakuan) dan satu naskah lakon (Tiga Saudari—terjemahan Trisa Triandesa). Saya tidak tahu asal-usul ketiga buku tersebut. Saya merasa tidak pernah membelinya. Tapi dugaan saya, ketiga buku ini saya ambil—untuk tidak mengatakan mencurinya—dari sebuah perpustakaan yang saya lupa itu di mana.

Tapi terlepas dari mana ketiga buku itu berasal, khusus kumpulan cerpen Matinya Seorang Buruh Kecil sudah saya baca berulang-ulang. Itu karena, selain saya menyukainya, juga tak banyak buku baru yang tersedia di rak kecil di kamar saya. (Kalau merasa tak cukup punya uang saya tidak membeli buku baru.)

Matinya Seorang Buruh Kecil di kamar saya ini tampaknya cukup klasik. Diterbitkan oleh Melibas tanpa tahun terbit. Sampulnya berwarna biru tua dengan foto Anton Chekhov dengan judul buku yang melingkarinya—lebih tepatnya berbentuk oval seperti telur.

Ada 13 cerpen dalam buku tipis ini, yang oleh penerbitnya disebut unik, “selain meng-‘KO’ kan, ia juga bisa membuat pembacanya tersenyum simpul dan senang. Tanpa beban, tapi membuat penasaran, juga mengejutkan.”

Ungkapan tersebut benar adanya. Semua cerpen Chekhov dalam buku ini memang memiliki ending yang mengejutkan, tak tertebak. Cerita-cerita Chekhov yang lekat akan realitas kehidupan manusia sebagai makhluk sosial itu—cerita-cerita khas sastrawan Rusia—, ditulis dalam bahasa sederhana yang dipenuhi dengan unsur humor dan olok-olok, cerita-cerita dalam buku ini seperti menelanjangi sifat asli manusia.

Sejak cerpen pertama dalam buku ini, Peristiwa di Pengadilan (hlm. 17), saya sudah dibikin geleng-geleng kepala. Ketika seorang pengacara ternama harus membela terdakwa yang berdasarkan bukti dan fakta-fakta telah dinyatakan bersalah; tapi di penghujung cerita sungguh tak dapat saya kira. Satire. Sungguh membuktikan kata-kata si penulis di awal cerita yang menggambarkan bahwa sang tokoh, si pengacara, adalah orang yang penuh kharisma dan disegani oleh banyak orang.

Atau cerita yang menjadi banner kumpulan cerpen ini, Matinya Seorang Buruh Kecil (hlm. 25). Karena Chekhov berasal dari Rusia, awalnya saya mengira cerita ini akan dipenuhi dengan narasi yang heroik-heroik tentang buruh, perlawan kelas sosial, yang mengundang simpati dan gelombang protes dari aktivis demokrasi layaknya kematian Marsinah.

Tapi seketika saya geleng-geleng kepala sambil mengumpat kecil sembari tak percaya setelah tahu bahwa penyebab kematian buruh kecil itu, Kreepikov namanya, boleh dibilang sangat “sepele”—karena si buruh tidak sengaja bersin tatkala menonton opera yang tanpa sepengetahuannya semprotan bersinnya bersarang di jidat seorang petinggi tentara.

Dan lebih tak saya sangka lagi, buruh kecil itu mati bukan karena dibunuh oleh tentara tersebut, tapi karena tak mendapat maaf, “pengampunan” dari sang tentara. Kreepikov merasa, ketiadaan maaf adalah maut. Dan benar, sepulang dari kantor tentara itu ia mati terduduk di atas sofa. Titik. Sampai di situ saja cerpennya. Jancuk, Chekhov!

Cerpen Barang Antik (hlm. 43) dan Peti Mati (hlm. 67) juga tak kalah asyiknya. Dua cerpen ini membuat saya tertawa, selain terkejut. Kisah keduannya benar-benar tak dapat saya tebak. Di awal saya dibuat penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya; tapi mendekati akhir cerita, dengan semena-mena Chekov memberi jawaban—atau mematahkan asumsi saya sejak awal—begitu saja, “KO”.

Dan kisah Di kota Ada Surga (hlm. 117), ya Tuhan, air mata saya keluar karena terpingkal-pingkal. Cerpen ini bercerita tentang rahib-rahib yang menderita, katakanlah, shock culture. Rahib-rahib itu pada awalnya tinggal nyaman di tempat terpencil, jauh dari peradaban, terisolir. Namun ketika mereka mendengar kabar tentang kehidupan kota—oleh seorang yang tersesat dan pengalaman kepala biara—yang serba aduhai dan menggiurkan, mereka berbondong-bondong menyambanginya.

Meskipun kepala biara menggambarkan kota dengan penuh rayuan iblis, cantik moleknya dosa, menggiurkannya tubuh perempuan, tapi para rahib justru terpaku di tempatnya. Mereka menelan setiap kata yang diucapkan kepala biara dan hampir-hampir tak bisa bernapas karena keranjingan. Dan ketika esok harinya sang kepala biara keluar dari kamarnya, ia tak melihat seorang pun rahib tertinggal di biara. Mereka semua lari ke kota.

Humor dan Tak Ada Agitasi

Meski besar di Rusia, di mana dulu struktur masyarakat yang seluruh darah dagingnya dikenal oleh dunia sebagai masyarakat sosialis, tepatnya komunis, tapi tak satu pun cerpen Chekhov dalam antologi ini yang mengandung ajakan-ajakan agitasi pembangkangan seperti yang selalu dijunjung tinggi oleh rabi-rabi sejarah mereka, atau bercerita tentang soal-soal yang berbau semacam-semacam itu.

Membaca antologi cerpen “Matinya Seorang Buruh Kecil” memberi tahu saya bahwa Anton Chekhov ternyata bukan pribadi yang selalu suka pada cerita-cerita yang besar (grand naratives), semacam angan-angan internasionalisme atau universalisme, sebagaimana cita-cita adiluhung komunisme.

Ketiga belas cerpen dalam buku ini justru berkisah tentang hal-hal biasa, keseharian, kesederhanaan, kesahajaan, kemanusiaan, dan tentang orang-orang kecil dengan cara karikatural dan parodikal, humor. Ya, sangat humoris. Namun, meski terkesan “main-main”, lucu, parodis, di setiap cerita berkelebatan sindiran (satire) yang tajam atas sebuah struktur totalitarianisme komunis. Dalam wacana postkolonial, ingat, humor tidak sekadar dianggap remeh-temeh.

Seorang Cicero gemar melempar joke saat berbicara dan berargumen di depan orang banyak. Dianggap terlalu humoris untuk seorang pejabat publik di zamannya, seperti kata Ulwan Fakhri, Cicero pun dipandang bak badut. Wajar, kala itu, pendapat Plato dan Aristoteles bahwa tertawa cenderung terasosiasi dengan aktivitas kaum tak terhormat masih sangat dominan. “Humor,” kata Cicero, “bisa meruntuhkan perbedaan antara seorang orator dan komedian.”

Bagi saya, seperti Cicero, ketika humor digunakan dengan kadar yang pas dan bijak di muka umum, kuasa sosial hingga politik bisa dimenangkan. Tetapi saat humor digunakan dengan sembrono di hadapan orang-orang, kita bisa saja dicap sebagai badut seperti Cicero─tanpa prestasi yang selevel dengannya.

Humor, kata Ulwan Fakhri, “pada dasarnya hanya sebuah alat, sama seperti pisau. Mau dipakai untuk memasak makanan kesukaan orang yang ingin Anda bahagiakan, bisa. Mau ditodong-todongkan ke orang lain sembari tertawa puas menari-nari bahagia melihat muka tak nyaman mereka, bisa pula. Yang penting, mari lebih melek dan sadar dalam berhumor. Minimal, tahu apa yang sedang ingin Anda sendiri capai, meraup simpati atau untuk mengekspresikan diri.”

Dalam sistem kekuasaan totalitarian atau otoriter yang kerap membungkam kebebasan termasuk kreativitas dan memandulkan perayaan kebebasan berpikir, gaya-gaya humoris dan parodis menjadi kekuatan efektif untuk mencemooh identitas pongah penguasa.

Memang, humor—apalagi yang bersifat protes sosial—sangat digemari akhir-akhir ini. Orang-orang yang risau dan tidak puas terhadap keadaan masyarakat maupun polah-tingkah birokrat, demi menjaga keseimbangan jiwa, menumpahkan perasaan ketidakpuasan itu melalui tulisan-tulisan yang terkesan tidak serius tapi sebenarnya serius, adalah sebuah jalan lain—dan penting.

Beberapa pengeluaran energi agresif yang bersifat primitif memang tidak bisa dituangkan begitu saja karena adanya batasan dalam masyarakat, maka desas-desus yang hendak disebarluaskan itu diubah dahulu ke dalam lelucon. Begitu pun dengan cerpen-cerpen dalam Matinya Seorang Buruh Kecil—yang membuat saya geleng-geleng kepala itu.[T]

Judul asli: Chekhov The Early Stories
Penulis: Anton Chekhov
Penerbit: Melibas
Tebal: 164

Menemukan Keaslian Dee Lestari pada “Tanpa Rencana”
Membaca Kembali Risalah “Indonesia Kita”
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”
Staycation Sepasang Puisi (dan Penyairnya)
“Malajah Sambil Malali Ka Nusa Panida” : Menakar Kelayakan Buku “Ngetelang Getih Kaang Putih” sebagai Media Ajar Bahasa Bali
Menatap Perempuan Bali Secara Sekala dan Niskala dalam Leak Tegal Sirah
Tags: Anton Chekhovapresiasi sastrabuku sastraCerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Kupu-Kupu, Hari-Hari Akhir Seorang Lansia

Next Post

 Salib | Cerpen Erik Bhiu

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails
Next Post
 Salib | Cerpen Erik Bhiu

 Salib | Cerpen Erik Bhiu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co