2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Salib | Cerpen Erik Bhiu

Erik Bhiu by Erik Bhiu
November 3, 2024
in Cerpen
 Salib | Cerpen Erik Bhiu

Ilustrasi tatkala.co

Saya menerima sepotong surat dari Mama pada suatu hari Minggu
Setelah subuh menjemput tubuh yang pasrah di ruang rindu
Isinya demikian:

“Nak, jika kau merindu, pergilah ke sudut kapel.
Temui Mama di sana dan duduklah dekat kaki Bunda.
Kita bisa bercerita dari hati ke hati
Dalam hening dan beningnya doamu.”

Salam dari keabadian.


***

INI tentang kehilangan, suatu perihal mengikhlaskan. Tak sedikit orang mengatakan “Tingkatan tertinggi dari mencintai seseorang adalah mengikhlaskan ia pergi.”

Lebih baik ia pergi daripada disakiti berulang-ulang kali. Maka, teriring doa yang tak pernah lapus, semoga setiap air mata yang pernah jatuh dari mata lelahmu demi aku dan orang yang kau cintai, Mama, menjadi sungai untukmu di surga.

***

Pukul 12.00 Wita, sebelas jam sebelum peristiwa kehilangan.                          

 “Halo, Kaka di mana?” Telepon dari adik perempuanku.

“Masih di Mataloko, Nona, baru saja selesai urus ijazah. Nona apa kabar?”

“Kapan pulang? Kaka cepat pul…”

Belum juga menjawab pertanyaan singkatku, aku malah kembali diserang sebuah pertanyaan, beriringan dengan sepenggal kalimat yang tidak ingin diteruskan. “Sudahlah mungkin ia hanya sekadar bertanya kabar atau telanjur rindu pada kakaknya ini,” timpalku dalam hati.

“Besok saya pulang.”

“Oke, Kaka.”

“Ya, Nona, salam bu…”

Aku hendak menyampaikan salam buat Mama, tetapi telepon lebih dulu dimatikannya. “Anak ini, apa dia tidak tahu sopan santun!” ungkapku kesal.

Udara Mataloko selalu sama. Dingin tetapi selalu bikin kangen. Aku menyusuri lorong-lorong sepi itu sendirian, sambil kutarik nafas dalam-dalam, menikmati udara yang bertiup dari Bukit Sasa. Dan beberapa menit kemudian, aku melewati pekuburan yang letaknya tepat di belakang kapela agung St. Alfonsus Maria de Ligouri.

Aku berhenti sejenak memandang makam para imam. Lantas aku teringat pada Bapak. Aku membayangi wajah Bapak yang meninggal setahun lalu karena sakit.

Kabut perlahan-lahan menutupi sebagian pekuburan, dan aku pun beranjak pergi. Aku sendiri heran mengapa wajah Bapak terlintas dalam benakku. “Ah… sudahlah. Toh nantinya, setiap orang pun akan menemukan ajalnya masing-masing. Siapakah yang mampu luput dari kematian?”

Tak lama berselang, handphone-ku berdering lagi, beberapa menit setelah berusaha mencerna pertanyaan tadi.

“Halo,..”

Lagi-lagi pembicaraanku dipotong. Aku sedikit kesal. “Untung saja kau adik perempuanku satu-satunya,” gumamku ngawur.

“Kaka harus pulang hari ini. Mama sakit lagi. Mama makin kritis.”

Bibirku dingin terbius kaku. Tak pernah kusangka Mama sakit lagi. Padahal beberapa hari lalu, sebelum aku ke Mataloko Mama masih sehat-sehat. Malam sebelum berangkat pun Mama sempat berpesan, “Hati-hati di jalan. Jangan tunda-tunda lagi urus ijazah biar studi aman dan lancar.”

Apa artinya pesan ini, toh semua ibu pasti akan memberikan pesan yang sama jika anaknya bepergian jauh. Namun, ketika aku mengabaikan pesan mama, aku justru terjebak dalam kesalahan dan rasa penyesalan yang tak bertepi. Siapa sangka, itulah suara sekaligus pesan terakhir yang keluar dari mulut Mama sebelum peristiwa kehilangan.

Pukul 23.00 Wita, tentang kepergian dan mengikhlaskan

Senja perlahan-lahan ditelan malam. Mega merah di ufuk barat sedikit lagi lenyap. Induk ayam dan anak-anaknya sudah sedari tadi naik ke sangkar. Pukul 19.00, suasana di rumah kolong benar-benar sepi, yang terdengar hanyalah tangisan Mama karena menahan sakit.

Semenjak melahirkan adik kembarku, Mama sering sakit-sakitan. Sampai pada akhirnya sebulan sebelum kepergiannya, Mama divonis dokter mengalami gagal ginjal. Ah, Tuhan, hati ini terlalu sakit melihat orang tercinta harus menanggung penderitaan seberat ini.

Hari kian larut, kira-kira pukul 23.00 Wita. Keadaan Mama tak lekas membaik, malah sebaliknya tangisan dan rintihan kesakitan terdengar semakin kuat dari mulut yang tak mampu berucap sepatah kata lagi itu. Suasana sepi berubah menjadi gaduh, bukan saja karena tangisan Mama, tetapi juga karena tangisan adik-adikku.

Aku memang tak berupaya bernazar pada Tuhan. Namun, di dalam hati kecil tertulis sepotong doa dari anak yatim ini, “Tuhan semoga hal terburuk tidak terjadi malam ini. Jikalau Engkau berkenan biarkan mama sembuh dan hidup bersama kami lebih lama lagi.”

Kutatap mata Mama dalam-dalam. Persis setelah kuucapkan kata-kata itu dalam hati, Mama perlahan-lahan menutup mata, pergi untuk selama-lamanya. Mama pergi dalam pelukan anak-anaknya, meninggalkan setetes air mata, tanpa kata-kata perpisahan.

Malam kedukaan malam perpisahan. Aku menangis sejadi-jadinya. Air mata yang sedari tadi kubendung kini mengalir dan membasahi seluruh wajah. Kudekap wajah Mama, tak henti-hentinya kucium keningnya. Bertubi-tubi kata-kata penyesalan dan pertanyaan lahir dari bibirku.

“Apakah semua bentuk cinta selalu berakhir dengan mengikhlaskan? Apakah setiap kenangan selalu tentang kematian?”

Mama tetap terbujur kaku. Ia pergi diiringi tangis pada gelap malam. Ingin aku mengadu tetapi pada siapa. Bapak aku tak punya. Anak yatim ini kini menjadi yatim piatu karena yang dicintai hilang satu persatu.

“Ah Tuhan, seberat inikah salib yang harus kupikul?”

*Mengenang mama, 2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Rumah Tusuk Sate | Cerpen Putri Santiadi
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga
Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto
Hyang Ibu
Jerit Padi Luka Pesisir | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Matinya Seorang Buruh Kecil”, Kumpulan Cerpen Anton Chekhov yang Membuat Saya Geleng-Geleng Kepala

Next Post

Gadis Kretek, Ubud, dan Sedikit Hantu-hantu: Perbincangan Singkat dengan Ratih Kumala

Erik Bhiu

Erik Bhiu

Berasal dari Kabupaten Ngada, telah menyelesaikan studi Filsafat di IFTK Ledalero. Saat ini sedang rajin menulis dan merapikan kenangan mama.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Gadis Kretek, Ubud, dan Sedikit Hantu-hantu: Perbincangan Singkat dengan Ratih Kumala

Gadis Kretek, Ubud, dan Sedikit Hantu-hantu: Perbincangan Singkat dengan Ratih Kumala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co