22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Salib | Cerpen Erik Bhiu

Erik Bhiu by Erik Bhiu
November 3, 2024
in Cerpen
 Salib | Cerpen Erik Bhiu

Ilustrasi tatkala.co

Saya menerima sepotong surat dari Mama pada suatu hari Minggu
Setelah subuh menjemput tubuh yang pasrah di ruang rindu
Isinya demikian:

“Nak, jika kau merindu, pergilah ke sudut kapel.
Temui Mama di sana dan duduklah dekat kaki Bunda.
Kita bisa bercerita dari hati ke hati
Dalam hening dan beningnya doamu.”

Salam dari keabadian.


***

INI tentang kehilangan, suatu perihal mengikhlaskan. Tak sedikit orang mengatakan “Tingkatan tertinggi dari mencintai seseorang adalah mengikhlaskan ia pergi.”

Lebih baik ia pergi daripada disakiti berulang-ulang kali. Maka, teriring doa yang tak pernah lapus, semoga setiap air mata yang pernah jatuh dari mata lelahmu demi aku dan orang yang kau cintai, Mama, menjadi sungai untukmu di surga.

***

Pukul 12.00 Wita, sebelas jam sebelum peristiwa kehilangan.                          

 “Halo, Kaka di mana?” Telepon dari adik perempuanku.

“Masih di Mataloko, Nona, baru saja selesai urus ijazah. Nona apa kabar?”

“Kapan pulang? Kaka cepat pul…”

Belum juga menjawab pertanyaan singkatku, aku malah kembali diserang sebuah pertanyaan, beriringan dengan sepenggal kalimat yang tidak ingin diteruskan. “Sudahlah mungkin ia hanya sekadar bertanya kabar atau telanjur rindu pada kakaknya ini,” timpalku dalam hati.

“Besok saya pulang.”

“Oke, Kaka.”

“Ya, Nona, salam bu…”

Aku hendak menyampaikan salam buat Mama, tetapi telepon lebih dulu dimatikannya. “Anak ini, apa dia tidak tahu sopan santun!” ungkapku kesal.

Udara Mataloko selalu sama. Dingin tetapi selalu bikin kangen. Aku menyusuri lorong-lorong sepi itu sendirian, sambil kutarik nafas dalam-dalam, menikmati udara yang bertiup dari Bukit Sasa. Dan beberapa menit kemudian, aku melewati pekuburan yang letaknya tepat di belakang kapela agung St. Alfonsus Maria de Ligouri.

Aku berhenti sejenak memandang makam para imam. Lantas aku teringat pada Bapak. Aku membayangi wajah Bapak yang meninggal setahun lalu karena sakit.

Kabut perlahan-lahan menutupi sebagian pekuburan, dan aku pun beranjak pergi. Aku sendiri heran mengapa wajah Bapak terlintas dalam benakku. “Ah… sudahlah. Toh nantinya, setiap orang pun akan menemukan ajalnya masing-masing. Siapakah yang mampu luput dari kematian?”

Tak lama berselang, handphone-ku berdering lagi, beberapa menit setelah berusaha mencerna pertanyaan tadi.

“Halo,..”

Lagi-lagi pembicaraanku dipotong. Aku sedikit kesal. “Untung saja kau adik perempuanku satu-satunya,” gumamku ngawur.

“Kaka harus pulang hari ini. Mama sakit lagi. Mama makin kritis.”

Bibirku dingin terbius kaku. Tak pernah kusangka Mama sakit lagi. Padahal beberapa hari lalu, sebelum aku ke Mataloko Mama masih sehat-sehat. Malam sebelum berangkat pun Mama sempat berpesan, “Hati-hati di jalan. Jangan tunda-tunda lagi urus ijazah biar studi aman dan lancar.”

Apa artinya pesan ini, toh semua ibu pasti akan memberikan pesan yang sama jika anaknya bepergian jauh. Namun, ketika aku mengabaikan pesan mama, aku justru terjebak dalam kesalahan dan rasa penyesalan yang tak bertepi. Siapa sangka, itulah suara sekaligus pesan terakhir yang keluar dari mulut Mama sebelum peristiwa kehilangan.

Pukul 23.00 Wita, tentang kepergian dan mengikhlaskan

Senja perlahan-lahan ditelan malam. Mega merah di ufuk barat sedikit lagi lenyap. Induk ayam dan anak-anaknya sudah sedari tadi naik ke sangkar. Pukul 19.00, suasana di rumah kolong benar-benar sepi, yang terdengar hanyalah tangisan Mama karena menahan sakit.

Semenjak melahirkan adik kembarku, Mama sering sakit-sakitan. Sampai pada akhirnya sebulan sebelum kepergiannya, Mama divonis dokter mengalami gagal ginjal. Ah, Tuhan, hati ini terlalu sakit melihat orang tercinta harus menanggung penderitaan seberat ini.

Hari kian larut, kira-kira pukul 23.00 Wita. Keadaan Mama tak lekas membaik, malah sebaliknya tangisan dan rintihan kesakitan terdengar semakin kuat dari mulut yang tak mampu berucap sepatah kata lagi itu. Suasana sepi berubah menjadi gaduh, bukan saja karena tangisan Mama, tetapi juga karena tangisan adik-adikku.

Aku memang tak berupaya bernazar pada Tuhan. Namun, di dalam hati kecil tertulis sepotong doa dari anak yatim ini, “Tuhan semoga hal terburuk tidak terjadi malam ini. Jikalau Engkau berkenan biarkan mama sembuh dan hidup bersama kami lebih lama lagi.”

Kutatap mata Mama dalam-dalam. Persis setelah kuucapkan kata-kata itu dalam hati, Mama perlahan-lahan menutup mata, pergi untuk selama-lamanya. Mama pergi dalam pelukan anak-anaknya, meninggalkan setetes air mata, tanpa kata-kata perpisahan.

Malam kedukaan malam perpisahan. Aku menangis sejadi-jadinya. Air mata yang sedari tadi kubendung kini mengalir dan membasahi seluruh wajah. Kudekap wajah Mama, tak henti-hentinya kucium keningnya. Bertubi-tubi kata-kata penyesalan dan pertanyaan lahir dari bibirku.

“Apakah semua bentuk cinta selalu berakhir dengan mengikhlaskan? Apakah setiap kenangan selalu tentang kematian?”

Mama tetap terbujur kaku. Ia pergi diiringi tangis pada gelap malam. Ingin aku mengadu tetapi pada siapa. Bapak aku tak punya. Anak yatim ini kini menjadi yatim piatu karena yang dicintai hilang satu persatu.

“Ah Tuhan, seberat inikah salib yang harus kupikul?”

*Mengenang mama, 2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Rumah Tusuk Sate | Cerpen Putri Santiadi
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga
Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto
Hyang Ibu
Jerit Padi Luka Pesisir | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Matinya Seorang Buruh Kecil”, Kumpulan Cerpen Anton Chekhov yang Membuat Saya Geleng-Geleng Kepala

Next Post

Gadis Kretek, Ubud, dan Sedikit Hantu-hantu: Perbincangan Singkat dengan Ratih Kumala

Erik Bhiu

Erik Bhiu

Berasal dari Kabupaten Ngada, telah menyelesaikan studi Filsafat di IFTK Ledalero. Saat ini sedang rajin menulis dan merapikan kenangan mama.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Gadis Kretek, Ubud, dan Sedikit Hantu-hantu: Perbincangan Singkat dengan Ratih Kumala

Gadis Kretek, Ubud, dan Sedikit Hantu-hantu: Perbincangan Singkat dengan Ratih Kumala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co