13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Kembali Risalah “Indonesia Kita”

Jaswanto by Jaswanto
October 26, 2024
in Ulas Buku
Membaca Kembali Risalah “Indonesia Kita”

Sampul buku "Indonesia Kita"

BARU saja Prabowo Subianto dilantik menjadi Presiden Indonesia yang baru. Baru saja pula ia melantik punggawa-punggawa (menteri, dll) untuk membantu menjalankan program-programnya—atau visi-misinya—selama lima tahun ke depan, terlepas di tengah perjalanan nanti akan ada pergantian-pergantian punggawa tersebut sebagaimana pemerintahan yang sudah-sudah.

Sehari setelah mantan jendral TNI itu dilantik dan sah sebagai pemimpin negara, tiba-tiba saya teringat sebuah buku yang saya baca beberapa tahun yang lalu saat masih menjadi mahasiswa. Buku itu berjudul Indonesia Kita—buku yang ditulis oleh Guru Bangsa Nurcholish Madjid (1939-2005) pada tahun 2003, setelah ia melakukan perjalanan ibadah umroh, dua tahun sebelum ia kembali ke pangkuan sangkan paraning dumadi.

Saya tidak tahu secara pasti alasan kenapa dari sekian banyak buku tentang negara-bangsa hanya buku itu yang saya ingat. Mungkin karena beberapa kali saya baca, atau barangkali juga oleh sebab di sana terdapat sepuluh tawaran untuk membangun kembali Indonesia—yang menurut saya masih penting untuk dibicarakan. Dan tampaknya alasan terakhir inilah yang tiba-tiba menggerakkan saya untuk membaca kembali buku tersebut.

Saya membaca secara cepat saja—bahkan hanya di bagian-bagian tertentu, yang saya pikir memiliki konteks dengan kondisi negara-bangsa kita di hari-hari ini. Untuk itulah saya langsung melompat pada halaman 114 di bab “Platform Membangun Kembali Indonesia” yang menjelaskan hal-hal—atau, katakanlah, tawaran solusi—yang harus dipikirkan, pula dilakukan pemimpin bangsa ini (dalam hal sekarang merujuk kepada Prabowo Subianto dan para punggawanya) dalam membangun Indonesia ke depan.

Tapi, dalam tulisan sederhana ini, sebelum saya cuplik sepuluh pesan—atau “risalah”, sebagaimana Cak Nur menyebutnya—membangun kembali Indonesia itu, izinkan saya menyampaikan betapa Indonesia Kita memang penting kita baca dan pelajari kembali. Sebab, selain berisi pandangan tentang negara-bangsa, buku ini juga merupakan puncak pemikiran Cak Nur—panggilan akrab Nurcholish Madjid—selama ia bergulat sebagai intelektual pemikir bangsa.

Indonesia Kita lahir dari perenungan mendalam mengenai kenegaraan, keislaman, kemanusiaan, kebudayaan, dan politik dalam bingkai keindonesiaan—yang berusaha meneropong Indonesia jauh ke depan. Ini merupakan refleksi mendalam atas situasi mutakhir bangsa ini.

Cak Nur memulai Indonesia Kita dengan pembahasan dengan menggali akar historis bangsa Indonesia, sejak dari nasionalisme klasik di Nusantara hingga situasi saat ini. Berangkat dari perkembangan sejarah tersebut, Cak Nur menyimpulkan bahwa proses menjadi bangsa Indonesia bersifat dinamis, tergantung kepada kita ke mana mau membawanya. Karena itu, usaha untuk merumuskan kembali makna menjadi bangsa Indonesia selalu relevan.

Pada bab terakhir, yakni “Platform Membangun Kembali Indonesia”, Cak Nur menuliskan bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang masih dalam pertumbuhan “penjadian diri” (in making) (hal.114)—dalam bahasa lain masih muda dan kurang matang. Oleh sebab proses menjadi bangsa bersifat dinamis, telah banyak pula para tokoh pendiri negara merintis usaha penggalian ide-ide terbaik untuk negara dan bangsa Indonesia.

Tetapi, sebagaimana dikemukakan Cak Nur dengan sangat jernih, ide-ide itu belum semuanya terlaksana dengan baik. Bagian-bagian yang telah terlaksana, khususnya wujud negara Republik Indonesia itu sendiri, merupakan modal utama bagi kita, sebagai peninggalan baik para patriot nasionalis pendiri negara itu.

Tetapi bagian-bagian yang belum terlaksana, seperti pembangunan nasional demi maslahat umum dengan keadilan dan kejujuran, merupakan sumber berbagai krisis yang melanda kita hingga sekarang ini. Menurut Cak Nur, itu disebabkan oleh faktor kemudaan yang juga berarti kekurangmatangan kita semua sebagai bangsa baru, ide-ide terbaik para pendiri negara itu, dalam pelaksanaannya sering berhadapan dengan apa yang dikatakan Bung Hatta sebagai “jiwa-jiwa kerdil sebagian pemimpin kita” (hal.116).

Atas latar belakang itulah, dalam Indonesia Kita, Cak Nur mencoba merumuskan sepuluh platform membangun kembali Indonesia.

Pesan kepada Para Pemimpin

Buku ini ditulis Cak Nur di masa trasisi dari pemerintahan otoriter Orde Baru ke sistem demokrasi. Indonesia Kita merupakan respons yang diberikan Cak Nur sebagai cendekiawan Muslim terhadap proses demokrasi bangsa ini yang belum kunjung membaik. Runtuhnya rezim otoriter Orde Baru sebetulnya merupakan jalan baru sekaligus kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk menentukan sejarahnya sendiri menjadi lebih baik.

Ada korelasi penting antara hadirnya karya ini dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2004 silam. Bisalah dipahami mengapa Cak Nur menulis 10 Platform Membangun Kembali Indonesia di bagian akhir buku ini. Dan saya pikir, pemerintahan yang baru saja dilantik ini juga perlu menjadikan buku ini semacam referensi (kajian) pustaka dalam menentukan arah kebijakan setidaknya lima tahun ke depan.

Bagi Cak Nur, 10 Platform ini dapat menjadi modal dasar membangun kembali bangsa Indonesia dari keterpurukan sekaligus agar mampu berdaya saing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Berikut 10 risalah Cak Nur yang saya pikir, sekali lagi, penting untuk dibaca para pemimpin yang baru-baru ini dilantik dan akan terpilih pada Pilkada nanti.

Risalah pertama, mewujudkan “good governance” pada semua lapisan pengelolaan negara. Kata Cak Nur, pertama-tama yang diperlukan untuk mengakhiri krisis besar sekarang ini ialah bagaimana mengelola negara secara baik dan benar, berkenaan dengan penyelenggaraan pemerintah dan penggunaan kekuasaan (running government and exercising power).

Tumpukan krisis banyak segi yang menggunung sekarang ini dapat diibaratkan sebuah gunung es raksasa sedemikian besar, sehingga sulit dihancurkan dari kaki dasarnya. Karena gunung es adalah benda mengambang, maka setiap kali puncaknya dipotong atau dihancurkan, setiap kali pula akan menyembul puncak baru ke permukaan.

Untuk mewujudkan good governance, kata Cak Nur, memerlukan kekuatan yang besar untuk dapat meyeret gunung es itu ke sekitar khatulistiwa. Kekuatan besar itu ialah tekad bersama seluruh komponen bangsa, untuk secara bahu-membahu menanggung beban tanggung jawab penyelesaian masalah nasional, dan penyatuan seluruh kekuatan nasional dalam semangat “samen bundeling van alle krachten van de natie”.

Namun, menurut Cak Nur, tekad persatuan itu hanya akan terwujud jika bangsa ini dipimpin oleh sosok yang berwibawa, yang akan tampil menjadi lambang harapan bersama, sumber kesadaran (sense of direction) dan kesadaran tujuan (sense of purpose) dalam hidup bernegara, dan menjadi dorongan rakyat untuk dengan penuh kerelaan mendukung dan mengambil bagian dalam perjuangan nasional.

Mewujudkan good governance menjadi perkara mustahil jika unsur patrimonialisme dan feodalisme masih dipelihara dalam struktur sosial-kultural bangsa kita. Dua hal ini pula yang kerap menjadi sebab pemimpin gampang sekali melakukan penyelewengan-penyelewengan yang mengandung conflict of interest, yang sesungguhnya adalah jenis kejahatan korupsi—apalagi dengan gemoy-nya kabinet Prabowo hari ini yang rawan melakukan “kejahatan” anggaran dana.

Pembangunan demokrasi yang adil, berserta pelaksanaan prinsip-prinsip good governance, mensyaratkan dihancurkannya feodalisme. Pemberantasan KKN akan sangat banyak tergantung kepada seberapa jauh kita mampu memberantas feodalisme dan budaya suap-menyuap—yang sepertinya sangat sulit dilakukan pemimpin hari ini mengingat masih kuatnya praktik budaya “politik balas budi”—dum-duman bucu—di tubuh pemerintah.

Kedua, menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekuen. Pelaksaan good governance diharapkan akan mendorong pelaksanaan asas hukum dan keadilan secara tegar, tegas, dan teguh. Sebaliknya, tanpa tegaknya asas hukum dan keadilan, pelaksanaan good governance adalah mustahil.

Lepas dari benartidaknya banyak sinyalmen dalam masyarakat tentang dunia peradilan kita yang terjerat oleh jaringan penyimpangan dan manipulasi hukum yang terorganisasi (semacam organized crime), segi penegakan hukum memang merupakan titik paling rawan dalam kehidupan kenegaraan kita (hal.123).

Ketiga, melaksanakan rekonsiliasi nasional. Dalam hal ini ada tiga hal yang dituliskan CaK Nur, yakni menarik pelajaran pahit dari masa lalu dengan tekad tidak mengulanginya, menatap masa depan dengan pendamaian dan penyatuan seluruh kekuatan bangsa, dan menegaskan garis pemisah antara masa lalu dan masa mendatang.

Harus diakui bahwa usaha rekonsiliasi akan berhadapan dengan tembok memori kolektif yang penuh dengan stigma dan trauma. Pengalaman-pengalaman pahit di masa yang telah lalu adalah sangat berharga bagi kita sebagai bahan pelajaran untuk tidak diulang lagi di masa mendatang. Tapi, sampai sejauh ini, tampaknya pemerintah abai saja terhadap hal-hal demikian.

Lihatlah, baru-baru ini Yusril Ihza Mahendra, yang dilantik Prabowo sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia, bahkan mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan bahwa peristiwa ‘98 bukan termasuk pelanggaran HAM berat.

Keempat, merintis reformasi ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan produktif dari bawah. Menurut Cak Nur, semua usaha itu tidak akan berjalan seiring dengan adanya kemelaratan rakyat. Mengingat, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2024 masih 25,22 juta orang.

Pengalaman bangsa kita yang baru lalu, dengan sistem ekonomi berat dari atas, telah membuktikan bahwa pola pendekatan top down telah menciptakan lahan subur untuk berbagai bentuk penyelewengan, khususnya kejahatan KKN, dan praktik-praktik yang mengandung pertentangan kepentingan (conflict of interest) seperti paham kefamilian dan perkoncoan atau kroniisme (hal.131).

Kelima, mengembangkan dan memperkuat pranata-pranata demokrasi: kebebasan sipil (khususnya kebebasan pers dan akademik), pembagian tugas dan wewenang yang jelas antara pemerintahan, perwakilan, dan pengadilan.

Berkaitan dengan semua itu, di antara berbagai hasil gerakan reformasi 1998, kebebasan adalah yang paling berharga dan paling bermakna. Kebebasan itu, yang pelembagaan konkretnya melahirkan noktah-noktah kebebasan warga negara (civil liberties) berupa kebebasan menyatakan pendapat, berkumpul dan berserikat—walaupun belakangan isu tentang otoritarianisme kembali mencuat.

Keenam, meningkatkan ketahanan dan keamanan nasional dengan membangun harkat dan martabat personel dan pranata TNI-Polri dalam bingkai demokrasi.

Ketujuh, memelihara keutuhan wilayah negara melalui pendekatan budaya, peneguhan ke-Bhinneka-an dan ke-Eka-an, serta pembangunan otonomisasi (yang berkelanjutan). Pikiran memberi hak kepada daerah untuk mengatur sendiri “urusan rumah tangga” masing-masing terkait erat dengan masalah keadilan, khususnya keadilan antara pusat dan daerah bersangkutan, dan bertujuan mengakhiri eksremitas sentralisme yang telah terbukti merupakan salah satu sumber besar masalah nasional—termasuk dalam hal kurikulum pendidikan.

Kedelapan, meratakan dan meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Nusantara. Di antara berbagai macam investment, investasi atau penanaman modal untuk suatu bangsa, tidak ada yang lebih penting, lebih produktif dan lebih bermakna daripada investasi atau penanaman modal manusia melalui prasarana pendidikan yang baik, dengan mutu yang tinggi dan jumlah yang merata.

Dalam hal ini Cak Nur membahas empat hal penting, yakni masalah investasi modal manusia; masalah penelitian; masalah pendidikan agama; pendidikan perempuan; kesehatan sebagai pendidikan; dan pendidikan lingkungan.

Kesembilan, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagai tujuan bernegara. Ini cita-cita kita bersama. Ringkasnya, penciptaan keadilan sosial adalah sejajar dengan pengertian “negara sejahtera” (welfare state), yang menuntut tersedianya standar hidup minimal untuk setiap warga. Penciptaan keadilan sosial menjadi lebih relevan untuk bangsa kita yang sedang bergerak menjadi negara industri. Ditambah lagi, bahwa urbanisasi sangat mengurangi rasa tanggung jawab antarsesama manusia, sebagai akibat gaya hidup tidak saling kenal (anonymous).

Dan terakhir, kesepuluh, mengambil peran aktif dalam usaha bersama menciptakan perdamaian dunia.

Itulah sepuluh platform membangun kembali Indonesia ala Cak Nur yang saya kutip sepenggal-sepenggal. Selebihnya Anda bisa membaca kembali risalah “Indonesia Kita” secara langsung, supaya dapat menemukan sendiri nilai-nilai dan konteks yang disampaikan Cak Nur.

Akhir kata, mengutip Fachrurozi dalam Indonesia Kita: Menafsir Ulang Negara-Bangsa, uraian Cak Nur yang termaktub di buku ini sangat mudah dipahami dan tidak berbelit-belit. Model uraian seperti ini boleh juga dicontoh kalangan akademik, yang juga dikritik Cak Nur lantaran terlalu mengawang dan menggunakan bahasa rumit yang kurang dipahami masyarakat umum.

Karya ini sangat penting dibaca oleh generasi muda dan para pemimpin bangsa sebab berisi informasi hasil pembacaan ulang atas sejarah nasionalisme klasik serta situasi politik Indonesia kontemporer, sehingga bisa mengubah pandangan jalan hidup bangsa ini. Oh Tuhan, saya lupa, kalau Wakil Presiden kita yang baru saja dilantik, dengan jelas mengaku tidak suka membaca buku.[T]

Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”
Alusi dan Ihwal yang Belum Selesai dalam “Bolang dari Baon”
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Branding Baru Novel Berlatar Tragedi Erupsi Gunung Agung 1963 Karya I Gusti Ngurah Pindha
Tags: Indonesia KitakebangsaankeindonesiaanNurcholish MadjidPrabowo Subianto
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komentator adalah Nyawa | Cerita Tercecer dari Voli Tajun Cup V

Next Post

Saling Sorot Masalah, Saling Menggali Potensi | Dari Acara Debat Pertama Calon Bupati dan Wakil Bupati Buleleng 2024

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
Saling Sorot Masalah, Saling Menggali Potensi | Dari Acara Debat Pertama Calon Bupati dan Wakil Bupati Buleleng 2024

Saling Sorot Masalah, Saling Menggali Potensi | Dari Acara Debat Pertama Calon Bupati dan Wakil Bupati Buleleng 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co