12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komentator adalah Nyawa | Cerita Tercecer dari Voli Tajun Cup V

Son Lomri by Son Lomri
October 22, 2024
in Khas
Komentator adalah Nyawa | Cerita Tercecer dari Voli Tajun Cup V

Koemntator Komang Sujana pada Tajun Cup V | Foto:

SETELAH tim voli MPC Baracuda (Kubu) menaklukkan Himapta (Tajun)  dalam perebutan juara 3 turnamen voli Tajun Cup V di tribun Giri Mukti, Desa Tajun, Kubutambahan—hinga lima set itu, semua penonton dari segala usia seakan kehabisan energi untuk teriak-teriak.

Mereka terdiam sejenak. Selain suara serak-serak habis, malam melarutkan mereka juga dengan rasa kantuk yang berat. Jam sudah memeleh ke tengah malam.

Pertandingan tim Barakuda vs Himapta untuk merebut juara ketiga Tajun Cup | Foto: tatkala.co/Son

Untungnya ada undian doorprize—dalam mengisi kekosongan waktu sambil menunggu pertandingan selanjutnya. Penarikan undian itu adalah bagian dari keceriaan yang lain di Tajun Cup V pada pertandingan final, Sabtu, 19 Oktober 2024.

Keberuntungan menimpa Komang Sukarasa. Dan bisa dibayangkan, sepanjang jalan pulang, ia senyum tak putus-putus setelah semua pertandingan selesai di tengah malam. Di rumah ia tidur nyenyak.

Sementara di tribun—saat pertandingan kedua segera dimulai antara Planet (Sembiran) Vs The Winner (Temukus) dalam perebutan juara satu, seorang bapak merokok. Barangkali dengan kepala berat dihantam tuak tadi sore. Sesekali ia menyenderkan tubuhnya di tribun sambil menunggu pertandingan segera dimulai. Di kantongnya ada botol aqua.

Ini menarik, di sana sebagian penonton masih bertahan dengan rasa kantuk, dan anak-anak masih berkeliaran menunggu pertandingan sampai selesai dengan ceria.

Penarikan undian door prize | Foto: tatkala.co/Son

Tribun sebagian botak di tengah setelah doorprize itu selesai diundi. Ini wajar, dan yang bertahan, mereka membekali dirinya dengan botol plastik kosong, dibunyikan sambil bersorak keras-keras saat pertandingan terakhir itu sudah dimulai.

Dari sebuah tempat agak tinggi, sorot tajam mata komentator menyapu lapangan voli yang sudah dimasuki pemain.

Komentator itu dipanggil Bung Sadam. Nama aslinya Komang Sujana.

Bung Sadam memegang mikrofon. Suaranya kemudian seakan membangunkan penonton dengan suaranya agak serak—berat. Tajam. Menusuk ke jiwa siapa saja yang mengantuk—di tengah pertandingan.

Tribun kembali ramai dengan suara tepuk-tepuk botol kosong dan sorak sorai. Meriah—memecah malam antara supporter Planet dan The Winner.

“Seakan memberi ingat—bahwa pertandingan terakhir ini bukan soal angka, atau siapa yang akan menang, ini soal harga diri—dan perjuangan, sehingga layak disaksikan sebagai sejarah di Tajun Cup V.” Begitu teriak Bung Sadam, komentator Tajun Cup V itu—pada pertandingan terakhir dengan suara sangat bergairah.

Komentator Bung Sadam di atas tribun | Foto: tatkala.co/Son

Komentator benar-benar menjadi nyawa dalam pertandingan. Tidak hanya satu atau dua, beberapa orang memilih kembali masuk ke tribun. Para penonton seakan-akan tersihir dengan kalimat-kalimat pilihan dan diksi yang diteriakkan Bung Sadam.

Di tribun, tampak Kadek Sena, penonton asal Sembiran. Ia tentu supporter tim Planet. Tapi ia datang sejak jam 8 malam, dan menonton semua pertandingan sejak awal. Dan ia setia menunggu pertandingan antara Planet Sembiran Vs The Winner, di tengah orang lain sudah sebagian merasa lemas. Ia menolak hengkang dari tempat duduknya.

Justru kemudian Kadek Sena terperanjak dari duduknya—bersama teman-temannya, kata-kata merasuki mereka jingkrak-jingkrak penuh emosional di pertandingan terakhir.

“Apalagi di saat situasi penonton lagi sepi-sepinya, Bung Sadam—mampu membuat penonton menjadi ramai seakan membangkitkan ke dua tim yang sedang bertanding. Juga Bung Sadam bisa menutupi segala kesalahan yang dibuat oleh perangkat pertandingan, melalui keyakinan (pilihan) kata-katanya ketika diucapkan oleh Bung Sadam,” kata Kadek Sena tentang komentator yang membuatnya terus bertahan di tribun.

Pertandingan tim The Winner vs Planet dan menonton yang bersorak-sorak | Foto: tatkala.co/Son

Kadek Sena juga menjelaskan, ketika suasana sudah memanas, Bung Sadam sangat gesit meyakinkan seluruh penonton dan oficial bahwa  keputusan yang diambil baik itu dari wasit atau hakim garis itu (ketika ada pelanggaran), adalah benar semua karena ia menyaksikannya dengan tilik setiap pelanggaran yang terjadi.

“Menonton dan mendengar komentator, menjadikan pertandingan terakhir menjadi seru dan bergengsi—dengan adil,” lanjutnya.

Tapi, siapa itu Bung Sadam—yang dideluk-elukan oleh, tak hanya Kadek Sena, tetapi juga sepanjang jalan orang-orang jual-beli di UMKM sekali moment di Tajun Cup V?!

Sehari-hari Komang Sujana dikenal sebagai guru. Ia juga menulis puisi, juga menulis artikel di tatkala.co, dan tentu saja menulis banyak artikel tentang voli, selain juga menulis artikel tentang sastra dan pendidikan.  

Perpaduan yang unik. Barangkali karena ia bergelut di dunia sastra, maka saat menjadi komentator voli, ia leluasa dalam memilih kata-kata, sehingga kata-katanya tak sekadar keluar begitu saja, namun juga menusuk, menggedor telinga, dan membangunkan penonton yang terkantuk-kantuk.

Tarkam, dan Kebaikan-kebaik di Luar Tribun

Di tengah pertandingan, jiwa Komang Sujana, atau biasa dipanggil Bung Sadam itu, seakan terlepas dari tubuhnya. Ia melayangkan diri—bersama suara, larut ke dalam pertandingan. Tak satupun ia salah sebut nama pemain, dan mikrofon telah menjadi bagian tubuhnya yang lain.

Bahkan saat ia menceritakan jalannya pertandingan dengan gesit juga, seperti roti empuk ditaburi selai, sangat terasa lembut, dan enak. Orang-orang terasa larut menikmatinya.

Apalagi tak hanya sekadar menceritakan jalannya pertandingan, sekilas tentang latar belakang pemain, juga sejarah klub pemain, segala macam tetek bengeknya dalam pertandingan ia sebutkan dan ulas cukup detail dengan waktu yang ringkas dan padat.

Hal itulah yang membuat penonton memiliki asupan lain ketika menonton sehingga ikut tenggelam dan memilih bertahan di tribun hingga pertandingan selesai.

Komang Ariyasa dan Komang Sujana | Foto; tatkala.co/Son

“Saya mempelajari terlebih dahulu tentang semua pemain. Menghafal dan mengenali pemain, dan bagaimana sejarah suatu klub, saya korek-korek sebelum pertandingan akan di mulai. Sebab itulah barangkali, saya larut dalam pertandingan,” terang Bung Sadam alias Komang Sujana.

Di Tajun Cup yang ke-5 ini, Komang Sujana tak sendiri dalam mengawal—lancarnya pertandingan sedari hari pertama sampai hari terakhir, final. Ia ditemani oleh Komang Ariyasa Sutapa. Kedua komentator ini memiliki karakter yang berbeda saat menjadi komentator, namun—saling melengkapi dengan romantis.

Komang Ariyasa, misalnya—memiliki kelebihan karena ia bisa membuat cair suasana dengan humornya. Walaupun di beberapa hal, seperti menyebut nama—dan pilihan diksinya masih perlu pengeksploran yang lebih.

Tentu, hal itu—sangat lazim dilakukan oleh komentator muda. Sebagaimana Komang Ariyasa melakukan itu baru di satu musim, yaitu di Tajun Cup V ini. Di tahun sebelumnya ia menjadi hakim garis, belajar kepada Komang Sujana, dan ia menjadi partner yang klop sebagai komentator.

Komang Sujana, kelahiran 28 Desember 1990 di Desa Tajun itu memang telah memiliki jam terbang agak panjang sejak tahun 2015, pada kejuaraan yang diselenggarakan oleh LPD Tajun Cup I, dengan mentornya seorang mantan penyiar radio bernama Bung Murjasa, juga sebagai komentator bola voli yang memiliki jam terbang yang tinggi.

“Seperti pemain, komentator juga mesti regenerasi,” kata Bung Murjasa ketika dihubungi melalui WA, tentang Bung Sadam.

Rupanya regenerasi tak berhenti di Komang Sujana. Komang Sujana justru kembali menularkannya lagi, mementori Komang Ariyasa dengan baik sebagai bentuk regenerasi ke depannya di kejuaraan sekarang.

Artinya, dalam pertandingan tarkam (antarkampung) ini, banyak kerendahan hati—sebagai pembelajar yang dapat dipetik, pula ilmu dan praktiknya—karena saling belajar. Tarkam lebih manis, basah, dan lebih jujur dalam membentuk manusia. Tidak sekadar seremonial. Percayalah!

“Ooow…satu pemain telah bersetubuh dengan tanah!” teriak Bung Sadam, menyebut pemain yang terjatuh.

Saya kembali menonton… [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari Tajun Cup V
Puncak Tajun Cup V: Trofi Juara Dibawa ke Panggung-Sembiran, Motor Diboyong ke Pamesan
Final Tajun Cup V: Misi Revans The Winner atas Planet
4 Klub Top di Semifinal Tajun Cup V: Pemenang vs Pemenang, “Apah” vs “Akasa”
Yang Tenang dan Yang Menang:  Catatan Pengamat Menuju Final Tajun Cup V
Tags: bola voliDesa Tajunolahragavoli
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cuaca Panas dan Kesehatan Kita

Next Post

Membaca Kembali Risalah “Indonesia Kita”

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Kembali Risalah “Indonesia Kita”

Membaca Kembali Risalah “Indonesia Kita”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co