DIPUTAR dalam program Layar Kolektif Bali Utara yang digagas Komunitas Singaraja Menonton pada Senin, 23 Juli 2025 di Kedai Cana, Seririt, film Kembang Eleh yang diproduseri oleh Bayu Nata Parisya, tampil sebagai karya sederhana namun sarat makna. Di balik keterbatasan teknisnya, film ini mengangkat isu yang penting, yakni pernikahan dini.
Film ini berkisah tentang Rusdi dan Inayah, dua sejoli yang masih duduk di bangku SMK. Mereka dimabuk cinta, begitu takut kehilangan satu sama lain, hingga memilih jalan yang menurut mereka paling aman. Menikah muda. Keputusan ini mereka ambil tanpa banyak pertimbangan, tanpa kesiapan finansial, emosional, dan mental. Sebuah pilihan yang keliru, namun sangat nyata terjadi di masyarakat kita.
Sebagai penonton, saya terkejut. Bukan karena alur ceritanya yang kompleks, tapi karena kenyataan yang ditampilkan. Saya tidak ingin langsung menyebut mereka bodoh, tapi jelas keputusan yang mereka ambil sangat terburu-buru. Film ini mengingatkan kita bahwa cinta bukan satu-satunya syarat dalam membangun rumah tangga. Cinta butuh ditopang oleh kesiapan dan tanggung jawab, bukan hanya rasa takut kehilangan.
Rusdi dan Inayah bukan sekadar karakter fiksi. Mereka adalah representasi dari banyak anak muda Indonesia yang menikah karena dorongan emosional semata. Data mencatat, pada tahun 2023, angka pernikahan dini di Indonesia mencapai 6,92 persen. Meskipun menurun dari tahun sebelumnya, yakni 8,06 persen, Indonesia tetap berada di peringkat tinggi dalam kasus pernikahan anak. Data ini berasal dari siaran pers Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bertanggal 1 Mei 2024.
Diperkirakan ada sekitar 25,53 juta anak perempuan di Indonesia yang menikah di usia dini. Jumlah itu, menempatkan Indonesia di peringkat ke-4 dunia dalam hal jumlah kasus pernikahan anak. Angka ini bersumber dari laporan UNICEF tahun 2023. Ini bukan angka kecil. Ini adalah gambaran bahwa kita masih punya pekerjaan rumah yang besar dalam dunia pendidikan dan kesadaran sosial.
Melalui tokoh Rusdi, film ini menunjukkan sosok laki-laki muda yang belum matang secara pikiran, namun nekat mengambil peran sebagai kepala keluarga. Ia berjanji, ia membujuk, namun ia tidak menyiapkan apapun. Ketika kenyataan datang, Rusdi goyah. Ia bekerja serabutan, penghasilannya tidak menentu, dan akhirnya tidak mampu menopang keluarga kecilnya. Kehadiran anak justru menjadi beban, bukan anugerah.
Sementara Inayah, adalah gambaran dari banyak perempuan muda yang menyerahkan hidupnya terlalu cepat kepada janji cinta. Ia tidak bertanya, apakah Rusdi mampu membimbing? Apakah ia siap meninggalkan bangku sekolah? Apakah ada masa depan yang akan mereka bangun bersama? Semua keputusan diambil karena rasa takut dan cinta yang belum matang.
- BACA JUGA:
Film ini menyadarkan saya bahwa banyak perempuan muda kehilangan haknya untuk berpikir panjang. Tidak semua dari mereka bodoh. Namun, banyak yang tidak diberi ruang untuk bertanya, ragu, atau menimbang. Mereka diajarkan untuk menerima. Padahal, pernikahan bukan hanya tentang menjaga cinta, tapi tentang membangun hidup bersama dalam realitas.
Secara emosional, Kembang Eleh sangat kuat. Saya merasa sesak ketika melihat perjuangan Rusdi mencari pekerjaan. Ia tampak lelah, tak berdaya, seakan tekad di awal pernikahan telah lenyap oleh kenyataan. Sementara Inayah harus bertahan dalam kondisi rumah tangga yang serba kekurangan. Saya tidak melihat kebahagiaan, yang ada hanya sisa-sisa harapan yang terus menipis.
Namun secara teknis, film ini memang masih perlu pengembangan. Pengambilan gambar masih kurang stabil, pencahayaan belum merata, dialog kadang terdengar kurang jelas, dan beberapa adegan terasa loncat-loncat. Tapi itu semua tidak menutupi keberanian film ini dalam menyampaikan pesan. Justru karena tampil apa adanya, film ini terasa jujur. Ia tidak mencoba memanipulasi perasaan penonton dengan musik atau adegan dramatis, melainkan berbicara langsung dari kenyataan.
Kembang Eleh tidak hanya layak ditonton, tetapi juga layak menjadi bahan diskusi. Film ini bisa diputar di sekolah-sekolah, kampus, komunitas pemuda, bahkan ruang-ruang kebijakan seperti forum pemerintahan. Karena yang dibahas bukan sekadar drama percintaan, melainkan masa depan generasi muda Indonesia.
Pemerintah memang telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang menaikkan batas usia minimal pernikahan. Tapi hukum saja tidak cukup. Budaya yang mendorong pernikahan dini harus dilawan dengan pendidikan kritis. Seperti yang disampaikan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam pidatonya, “we walk the talk, not only talk the talk.” Artinya, harus ada langkah nyata, bukan sekadar retorika.
Anak muda harus diberikan ruang untuk berpikir panjang, untuk menimbang sebelum bertindak. Karena sekali menikah, tidak ada tombol reset, atau mengatur ulang. Ketika langkah sudah diambil, semua tanggung jawab harus diemban. Dan jika belum siap, maka pernikahan hanya akan jadi jalan menuju luka yang berkepanjangan.
- BACA JUGA:
Kembang Eleh berhasil mengangkat fakta bahwa banyak remaja kita belum siap menghadapi konsekuensi dari keputusan besar. Mereka belum selesai membangun diri, namun sudah dipaksa membangun rumah tangga. Mereka belum tahu arah hidup, namun sudah harus menjadi orang tua.
Ini adalah alarm yang harus kita dengar bersama. Jika kita ingin mencapai visi Indonesia Emas 2045—yakni menciptakan generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global—maka pernikahan dini adalah salah satu hambatan terbesar yang harus diselesaikan sejak sekarang.
Akhir kata, Kembang Eleh adalah film yang mungkin tidak megah secara sinematografi, tapi sangat kuat dari segi pesan. Ia berbicara dengan bahasa yang jujur, menampilkan realita tanpa topeng. Ia mengingatkan kita semua, bahwa cinta itu penting, tapi tidak cukup. Karena kehidupan bukan dibangun dengan cinta saja, melainkan juga dengan kesiapan, kerja keras, dan logika yang sehat. [T]
Penulis: Komang Dede Arianata
Editor: Adnyana Ole
Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.
- BACA JUGA:



























