24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
in Ulas Film
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

Claresta Taufan sebagai Sartika dalam Pangku. (Tangkapan layar: YouTube/Cinema 21.)

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan sebagai sesuatu yang lembut, melankolis, bahkan indah. Pangku (2025), debut penyutradaraan Reza Rahadian, tampak ingin mematahkan kecenderungan itu. Tapi alih-alih menjadi pengecualian, ia justru bergabung dengan barisan film yang menata penderitaan agar bisa dinikmati dengan tenang.

Begitu kemiskinan tampil menawan di layar, ia berhenti menjadi luka. Ia sekadar tontonan. Kita tidak lagi menatap dunia yang tak berdaya, melainkan komposisi cahaya yang memukau. Suara tubuh yang letih digantikan dengan musik yang lembut, wajah putus asa dirayakan dalam gambar yang indah.

Sejak awal, sejak menit pertama, Pangku berbicara tentang perempuan yang hidup di pinggiran ekonomi dan moral. Sartika Puspita (Claresta Taufan) adalah potret yang nyaris tipikal dari perempuan kelas bawah di pesisir Pantura Jawa: muda, hamil, dicampakkan, dan akhirnya bekerja di warung kopi pangku. Niat Reza cukup jelas, ia ingin menghadirkan wajah kemiskinan dan ketidakberdayaan perempuan dengan empati—bukan dengan moralitas murahan.

Tetapi niat baik itu justru membuka persoalan baru. Reza ingin memotret kehidupan perempuan kelas bawah dengan empati, tapi kamera dan mise-en-scene jatuh ke romantisasi kemiskinan. Adegan di warung kopi atau di rumah diatur terlalu indah. Padahal, dunia Pantura menarik karena banalitasnya, bukan estetikanya.

Kamera sering menatap tubuh Sartika dalam komposisi yang rapi, dengan welas asih yang berlebihan. Pangku ingin bersimpati, tapi sekaligus menampilkan tubuh perempuan sebagai site of contemplation—menatap duka perempuan miskin tanpa memahami realitas yang melingkupinya.

Wajah Sartika sekadar menjadi lanskap sunyi, seolah matanya, tubuhnya, menanggung duka dunia. Namun duka itu sudah dipoles sedemikian rupa agar bisa dilihat tanpa rasa bersalah. Dan di situlah, seperti kata Susan Sontag, penderitaan berubah menjadi estetika. Sesuatu yang membuat kita sebatas merasa iba dan sedih, tidak membuat kita terguncang dan mempertanyakan: siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab atas duka lara dan kepedihan Sartika?

Secara tema, Pangku sebetulnya punya potensi besar untuk menyingkap lapisan sosial Pantura sebagai lanskap marjinal. Tapi film ini berhenti di permukaan dan kesulitan menghadirkan banalitas dunia Sartika. Bandingkan dengan Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, 2016) yang menempatkan Kampung Tirang bukan sekadar latar visual, tapi sebagai struktur sosial yang menekan—ruang sosial konkret dan bukan latar fotogenik. Sementara Pangku menghadirkan lanskap Pantura yang indah, bukan penjara yang menekan Sartika.

Atau bandingkan dengan Siti (Eddie Cahyono, 2014). Keduanya sama-sama menjadikan perempuan sebagai tokoh utama. Tapi Siti melalui visual hitam-putih dan aspek rasio 4:3, menolak meromantisasi Parangtritis dan kemiskinan serta tubuh Siti. Kamera fokus pada kebuntuan ekonomi—banalitas kelelahan. Sebaliknya Pangku menggunakan tatapan hangat yang romantis. Ia tidak mau kita menganalisis penderitaan Sartika dan memaksa kita mengonsumsi penderitaan itu sebagai tontonan yang menyentuh—melodrama estetis.

Kemiskinan yang Terbata-bata

Masalah terbesarnya bukan pada apa yang ingin dikatakan, tapi pada cara mengatakannya. Pangku terlalu percaya pada kekuatan gambar, pada ide bahwa sinema yang indah sudah cukup untuk mewakili kebenaran.

Claresta Taufan sebagai Sartika dalam Pangku | Foto: tangkapan layar: YouTube/Cinema 21

Setiap adegan tampak begitu tertata. Pantura tampil seperti lanskap kontemplatif. Jalan berdebu di bawah senja, tubuh yang lelah dibungkus cahaya lembut—kesunyian diatur dalam ritme yang lamban. Reza tampaknya ingin menghadirkan suasana yang tenang, bahkan spiritual. Tapi upayanya mengikis daya realisme sosial Pangku. Kehidupan kelas bawah dengan segala tekanan, kebisingan, dan kekacauan, direduksi lewat lengket keringat dan aroma asin yang samar di udara.

Pangku memperlakukan kemiskinan sebagai sesuatu yang given, yang ahistoris, seolah takdir itu personal. Padahal kopi pangku di Pantura bukanlah arketipe tragedi yang mengambang. Ia adalah luka sejarah yang sangat spesifik—mereka adalah korban kekerasan ekonomi struktural.

Fenomena kopi pangku di Indramayu, latar utama film, menjamur pada tahun 1980-an—era industrialisasi Orde Baru—dan diyakini telah ada lebih lama dari itu. Dan fenomena ini meledak pasca-Krisis Moneter 1998—latar waktu di film diisyaratkan lewat siaran berita televisi dan tanggal lahir Bayu Kesuma (Shakeel Fauzi), anak Sartika. Krisis Moneter 1998 lantas bukan sekadar latar waktu, tapi seharusnya menjadi fondasi sosial yang membentuk tubuh Sartika.

Sayangnya dimensi sejarah itu hanya ditampilkan sekelebat, Pangku seolah menolak mendengar gemuruh politik di luar bingkai: reformasi, demonstrasi, dan ribuan keluarga yang terlempar dari stabilitas ekonomi. Saat struktur ekonomi runtuh, luka yang seharusnya dibaca sebagai bukti kerusakan sistem justru disempitkan menjadi duka personal. Pangku menghadirkan kesedihan Sartika sebagai kisah individu, bukan sebagai jejak kegagalan negara yang mendorongnya masuk ke dunia kopi pangku—membiarkannya rapuh dan tak memberikannya perlindungan apa pun.

Kontras dengan Turah dan Siti yang menempatkan realitas sosial sebagai ruang yang hidup, Pangku memilih ruang yang sepi. Ruang yang berfungsi lebih sebagai simbol, alih-alih medan hidup. Di titik ini, Pangku menunjukkan bagaimana empati yang tidak diimbangi dengan keberanian estetis—dan politis—justru melahirkan sentimentalitas. Pangku terlalu sopan untuk menjadi jujur. Dan dalam kesopanan itulah, realitas kehilangan daya hidupnya.

Pangku—rasa-rasanya—kemudian menjadi cermin dari cara kelas menengah Indonesia memandang dunia di luar dirinya. Dalam tradisi sinema kita, penderitaan kelas bawah kerap dijadikan ruang bagi kelas menengah untuk meneguhkan rasa kemanusiaannya sendiri.

Fenomena ini bukan barang baru. Dalam masyarakat yang digerakkan oleh citra dan rasa, penderitaan kerap menjadi komoditas moral. Ia dikemas dalam bentuk yang indah agar layak dikonsumsi tanpa rasa bersalah. Ketika kamera menatap Sartika, sebenarnya yang ditatap bukan lagi Sartika, melainkan perasaan welas asih kita kepadanya. Kita menatap pantulan welas asih, alih-alih kenyataan hidup yang keras di Pantura.

Film dengan bingkai realisme sosial seharusnya tidak memberi kita ruang untuk nyaman. Ia memaksa kita melihat apa yang tak ingin kita lihat. Turah dan Siti melakukan itu. Keduanya menolak menata penderitaan dan menghadirkan banalitas Kampung Tirang dan Parangtritis—lewat bahasa yang berbeda tetapi sama makna.

Turah dan Siti tidak berusaha membuat realitas bisa ditonton, melainkan membuat penonton terlibat di dalamnya. Pangku sebaliknya, memilih menjaga subasita agar penderitaan tampak pantas dipandang.

Claresta Taufan sebagai Sartika dalam Pangku | Foto: tangkapan layar: YouTube/Cinema 21

Barangkali keindahan memang selalu menggoda untuk dipercaya. Ia menenangkan mata, membuat segalanya terasa lebih bisa diterima. Tapi keindahan dan segala yang menenangkan sering kali berbahaya. Ia memberi kita ilusi bahwa memahami cukup dengan melihat dan empati cukup dengan merasa sedih. Padahal, sebagaimana Sartika di film Pangku, dunia tidak berubah hanya karena kita menatapnya dengan welas asih.

Mungkin tidak adil menuntut Reza untuk menghadirkan realisme sosial yang sempurna. Tapi adil untuk mengatakan bahwa Pangku gagal karena terlalu ingin dicintai. Ia ingin jujur, tapi juga ingin disukai. Ia ingin dekat dengan realitas, tapi masih ingin tampak indah di hadapan pasar. Dan dari situ, film ini berbicara lebih jauh dari yang ia sadari: bahwa di negeri ini kemiskinan—penderitaan—harus tampak indah untuk bisa diterima.

Karena itulah, Pangku tak pernah benar-benar menghadirkan dunia Sartika. Ia merayakan dunia Sartika dalam keindahan yang meninabobokan. Dan di balik semua keindahannya, yang tersisa hanyalah kesopanan yang sunyi. [T]

Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaFilm Pangku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Performance Camp 2025 Hadirkan Workshop Dramaturgi Postdramatic di Sumatera Barat

Next Post

“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co