25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
in Ulas Film
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

Claresta Taufan sebagai Sartika dalam Pangku. (Tangkapan layar: YouTube/Cinema 21.)

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan sebagai sesuatu yang lembut, melankolis, bahkan indah. Pangku (2025), debut penyutradaraan Reza Rahadian, tampak ingin mematahkan kecenderungan itu. Tapi alih-alih menjadi pengecualian, ia justru bergabung dengan barisan film yang menata penderitaan agar bisa dinikmati dengan tenang.

Begitu kemiskinan tampil menawan di layar, ia berhenti menjadi luka. Ia sekadar tontonan. Kita tidak lagi menatap dunia yang tak berdaya, melainkan komposisi cahaya yang memukau. Suara tubuh yang letih digantikan dengan musik yang lembut, wajah putus asa dirayakan dalam gambar yang indah.

Sejak awal, sejak menit pertama, Pangku berbicara tentang perempuan yang hidup di pinggiran ekonomi dan moral. Sartika Puspita (Claresta Taufan) adalah potret yang nyaris tipikal dari perempuan kelas bawah di pesisir Pantura Jawa: muda, hamil, dicampakkan, dan akhirnya bekerja di warung kopi pangku. Niat Reza cukup jelas, ia ingin menghadirkan wajah kemiskinan dan ketidakberdayaan perempuan dengan empati—bukan dengan moralitas murahan.

Tetapi niat baik itu justru membuka persoalan baru. Reza ingin memotret kehidupan perempuan kelas bawah dengan empati, tapi kamera dan mise-en-scene jatuh ke romantisasi kemiskinan. Adegan di warung kopi atau di rumah diatur terlalu indah. Padahal, dunia Pantura menarik karena banalitasnya, bukan estetikanya.

Kamera sering menatap tubuh Sartika dalam komposisi yang rapi, dengan welas asih yang berlebihan. Pangku ingin bersimpati, tapi sekaligus menampilkan tubuh perempuan sebagai site of contemplation—menatap duka perempuan miskin tanpa memahami realitas yang melingkupinya.

Wajah Sartika sekadar menjadi lanskap sunyi, seolah matanya, tubuhnya, menanggung duka dunia. Namun duka itu sudah dipoles sedemikian rupa agar bisa dilihat tanpa rasa bersalah. Dan di situlah, seperti kata Susan Sontag, penderitaan berubah menjadi estetika. Sesuatu yang membuat kita sebatas merasa iba dan sedih, tidak membuat kita terguncang dan mempertanyakan: siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab atas duka lara dan kepedihan Sartika?

Secara tema, Pangku sebetulnya punya potensi besar untuk menyingkap lapisan sosial Pantura sebagai lanskap marjinal. Tapi film ini berhenti di permukaan dan kesulitan menghadirkan banalitas dunia Sartika. Bandingkan dengan Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, 2016) yang menempatkan Kampung Tirang bukan sekadar latar visual, tapi sebagai struktur sosial yang menekan—ruang sosial konkret dan bukan latar fotogenik. Sementara Pangku menghadirkan lanskap Pantura yang indah, bukan penjara yang menekan Sartika.

Atau bandingkan dengan Siti (Eddie Cahyono, 2014). Keduanya sama-sama menjadikan perempuan sebagai tokoh utama. Tapi Siti melalui visual hitam-putih dan aspek rasio 4:3, menolak meromantisasi Parangtritis dan kemiskinan serta tubuh Siti. Kamera fokus pada kebuntuan ekonomi—banalitas kelelahan. Sebaliknya Pangku menggunakan tatapan hangat yang romantis. Ia tidak mau kita menganalisis penderitaan Sartika dan memaksa kita mengonsumsi penderitaan itu sebagai tontonan yang menyentuh—melodrama estetis.

Kemiskinan yang Terbata-bata

Masalah terbesarnya bukan pada apa yang ingin dikatakan, tapi pada cara mengatakannya. Pangku terlalu percaya pada kekuatan gambar, pada ide bahwa sinema yang indah sudah cukup untuk mewakili kebenaran.

Claresta Taufan sebagai Sartika dalam Pangku | Foto: tangkapan layar: YouTube/Cinema 21

Setiap adegan tampak begitu tertata. Pantura tampil seperti lanskap kontemplatif. Jalan berdebu di bawah senja, tubuh yang lelah dibungkus cahaya lembut—kesunyian diatur dalam ritme yang lamban. Reza tampaknya ingin menghadirkan suasana yang tenang, bahkan spiritual. Tapi upayanya mengikis daya realisme sosial Pangku. Kehidupan kelas bawah dengan segala tekanan, kebisingan, dan kekacauan, direduksi lewat lengket keringat dan aroma asin yang samar di udara.

Pangku memperlakukan kemiskinan sebagai sesuatu yang given, yang ahistoris, seolah takdir itu personal. Padahal kopi pangku di Pantura bukanlah arketipe tragedi yang mengambang. Ia adalah luka sejarah yang sangat spesifik—mereka adalah korban kekerasan ekonomi struktural.

Fenomena kopi pangku di Indramayu, latar utama film, menjamur pada tahun 1980-an—era industrialisasi Orde Baru—dan diyakini telah ada lebih lama dari itu. Dan fenomena ini meledak pasca-Krisis Moneter 1998—latar waktu di film diisyaratkan lewat siaran berita televisi dan tanggal lahir Bayu Kesuma (Shakeel Fauzi), anak Sartika. Krisis Moneter 1998 lantas bukan sekadar latar waktu, tapi seharusnya menjadi fondasi sosial yang membentuk tubuh Sartika.

Sayangnya dimensi sejarah itu hanya ditampilkan sekelebat, Pangku seolah menolak mendengar gemuruh politik di luar bingkai: reformasi, demonstrasi, dan ribuan keluarga yang terlempar dari stabilitas ekonomi. Saat struktur ekonomi runtuh, luka yang seharusnya dibaca sebagai bukti kerusakan sistem justru disempitkan menjadi duka personal. Pangku menghadirkan kesedihan Sartika sebagai kisah individu, bukan sebagai jejak kegagalan negara yang mendorongnya masuk ke dunia kopi pangku—membiarkannya rapuh dan tak memberikannya perlindungan apa pun.

Kontras dengan Turah dan Siti yang menempatkan realitas sosial sebagai ruang yang hidup, Pangku memilih ruang yang sepi. Ruang yang berfungsi lebih sebagai simbol, alih-alih medan hidup. Di titik ini, Pangku menunjukkan bagaimana empati yang tidak diimbangi dengan keberanian estetis—dan politis—justru melahirkan sentimentalitas. Pangku terlalu sopan untuk menjadi jujur. Dan dalam kesopanan itulah, realitas kehilangan daya hidupnya.

Pangku—rasa-rasanya—kemudian menjadi cermin dari cara kelas menengah Indonesia memandang dunia di luar dirinya. Dalam tradisi sinema kita, penderitaan kelas bawah kerap dijadikan ruang bagi kelas menengah untuk meneguhkan rasa kemanusiaannya sendiri.

Fenomena ini bukan barang baru. Dalam masyarakat yang digerakkan oleh citra dan rasa, penderitaan kerap menjadi komoditas moral. Ia dikemas dalam bentuk yang indah agar layak dikonsumsi tanpa rasa bersalah. Ketika kamera menatap Sartika, sebenarnya yang ditatap bukan lagi Sartika, melainkan perasaan welas asih kita kepadanya. Kita menatap pantulan welas asih, alih-alih kenyataan hidup yang keras di Pantura.

Film dengan bingkai realisme sosial seharusnya tidak memberi kita ruang untuk nyaman. Ia memaksa kita melihat apa yang tak ingin kita lihat. Turah dan Siti melakukan itu. Keduanya menolak menata penderitaan dan menghadirkan banalitas Kampung Tirang dan Parangtritis—lewat bahasa yang berbeda tetapi sama makna.

Turah dan Siti tidak berusaha membuat realitas bisa ditonton, melainkan membuat penonton terlibat di dalamnya. Pangku sebaliknya, memilih menjaga subasita agar penderitaan tampak pantas dipandang.

Claresta Taufan sebagai Sartika dalam Pangku | Foto: tangkapan layar: YouTube/Cinema 21

Barangkali keindahan memang selalu menggoda untuk dipercaya. Ia menenangkan mata, membuat segalanya terasa lebih bisa diterima. Tapi keindahan dan segala yang menenangkan sering kali berbahaya. Ia memberi kita ilusi bahwa memahami cukup dengan melihat dan empati cukup dengan merasa sedih. Padahal, sebagaimana Sartika di film Pangku, dunia tidak berubah hanya karena kita menatapnya dengan welas asih.

Mungkin tidak adil menuntut Reza untuk menghadirkan realisme sosial yang sempurna. Tapi adil untuk mengatakan bahwa Pangku gagal karena terlalu ingin dicintai. Ia ingin jujur, tapi juga ingin disukai. Ia ingin dekat dengan realitas, tapi masih ingin tampak indah di hadapan pasar. Dan dari situ, film ini berbicara lebih jauh dari yang ia sadari: bahwa di negeri ini kemiskinan—penderitaan—harus tampak indah untuk bisa diterima.

Karena itulah, Pangku tak pernah benar-benar menghadirkan dunia Sartika. Ia merayakan dunia Sartika dalam keindahan yang meninabobokan. Dan di balik semua keindahannya, yang tersisa hanyalah kesopanan yang sunyi. [T]

Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaFilm Pangku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Performance Camp 2025 Hadirkan Workshop Dramaturgi Postdramatic di Sumatera Barat

Next Post

“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co