4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

Bayu Wira Handyan by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
in Ulas Film
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

Claresta Taufan sebagai Sartika dalam Pangku. (Tangkapan layar: YouTube/Cinema 21.)

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan sebagai sesuatu yang lembut, melankolis, bahkan indah. Pangku (2025), debut penyutradaraan Reza Rahadian, tampak ingin mematahkan kecenderungan itu. Tapi alih-alih menjadi pengecualian, ia justru bergabung dengan barisan film yang menata penderitaan agar bisa dinikmati dengan tenang.

Begitu kemiskinan tampil menawan di layar, ia berhenti menjadi luka. Ia sekadar tontonan. Kita tidak lagi menatap dunia yang tak berdaya, melainkan komposisi cahaya yang memukau. Suara tubuh yang letih digantikan dengan musik yang lembut, wajah putus asa dirayakan dalam gambar yang indah.

Sejak awal, sejak menit pertama, Pangku berbicara tentang perempuan yang hidup di pinggiran ekonomi dan moral. Sartika Puspita (Claresta Taufan) adalah potret yang nyaris tipikal dari perempuan kelas bawah di pesisir Pantura Jawa: muda, hamil, dicampakkan, dan akhirnya bekerja di warung kopi pangku. Niat Reza cukup jelas, ia ingin menghadirkan wajah kemiskinan dan ketidakberdayaan perempuan dengan empati—bukan dengan moralitas murahan.

Tetapi niat baik itu justru membuka persoalan baru. Reza ingin memotret kehidupan perempuan kelas bawah dengan empati, tapi kamera dan mise-en-scene jatuh ke romantisasi kemiskinan. Adegan di warung kopi atau di rumah diatur terlalu indah. Padahal, dunia Pantura menarik karena banalitasnya, bukan estetikanya.

Kamera sering menatap tubuh Sartika dalam komposisi yang rapi, dengan welas asih yang berlebihan. Pangku ingin bersimpati, tapi sekaligus menampilkan tubuh perempuan sebagai site of contemplation—menatap duka perempuan miskin tanpa memahami realitas yang melingkupinya.

Wajah Sartika sekadar menjadi lanskap sunyi, seolah matanya, tubuhnya, menanggung duka dunia. Namun duka itu sudah dipoles sedemikian rupa agar bisa dilihat tanpa rasa bersalah. Dan di situlah, seperti kata Susan Sontag, penderitaan berubah menjadi estetika. Sesuatu yang membuat kita sebatas merasa iba dan sedih, tidak membuat kita terguncang dan mempertanyakan: siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab atas duka lara dan kepedihan Sartika?

Secara tema, Pangku sebetulnya punya potensi besar untuk menyingkap lapisan sosial Pantura sebagai lanskap marjinal. Tapi film ini berhenti di permukaan dan kesulitan menghadirkan banalitas dunia Sartika. Bandingkan dengan Turah (Wicaksono Wisnu Legowo, 2016) yang menempatkan Kampung Tirang bukan sekadar latar visual, tapi sebagai struktur sosial yang menekan—ruang sosial konkret dan bukan latar fotogenik. Sementara Pangku menghadirkan lanskap Pantura yang indah, bukan penjara yang menekan Sartika.

Atau bandingkan dengan Siti (Eddie Cahyono, 2014). Keduanya sama-sama menjadikan perempuan sebagai tokoh utama. Tapi Siti melalui visual hitam-putih dan aspek rasio 4:3, menolak meromantisasi Parangtritis dan kemiskinan serta tubuh Siti. Kamera fokus pada kebuntuan ekonomi—banalitas kelelahan. Sebaliknya Pangku menggunakan tatapan hangat yang romantis. Ia tidak mau kita menganalisis penderitaan Sartika dan memaksa kita mengonsumsi penderitaan itu sebagai tontonan yang menyentuh—melodrama estetis.

Kemiskinan yang Terbata-bata

Masalah terbesarnya bukan pada apa yang ingin dikatakan, tapi pada cara mengatakannya. Pangku terlalu percaya pada kekuatan gambar, pada ide bahwa sinema yang indah sudah cukup untuk mewakili kebenaran.

Claresta Taufan sebagai Sartika dalam Pangku | Foto: tangkapan layar: YouTube/Cinema 21

Setiap adegan tampak begitu tertata. Pantura tampil seperti lanskap kontemplatif. Jalan berdebu di bawah senja, tubuh yang lelah dibungkus cahaya lembut—kesunyian diatur dalam ritme yang lamban. Reza tampaknya ingin menghadirkan suasana yang tenang, bahkan spiritual. Tapi upayanya mengikis daya realisme sosial Pangku. Kehidupan kelas bawah dengan segala tekanan, kebisingan, dan kekacauan, direduksi lewat lengket keringat dan aroma asin yang samar di udara.

Pangku memperlakukan kemiskinan sebagai sesuatu yang given, yang ahistoris, seolah takdir itu personal. Padahal kopi pangku di Pantura bukanlah arketipe tragedi yang mengambang. Ia adalah luka sejarah yang sangat spesifik—mereka adalah korban kekerasan ekonomi struktural.

Fenomena kopi pangku di Indramayu, latar utama film, menjamur pada tahun 1980-an—era industrialisasi Orde Baru—dan diyakini telah ada lebih lama dari itu. Dan fenomena ini meledak pasca-Krisis Moneter 1998—latar waktu di film diisyaratkan lewat siaran berita televisi dan tanggal lahir Bayu Kesuma (Shakeel Fauzi), anak Sartika. Krisis Moneter 1998 lantas bukan sekadar latar waktu, tapi seharusnya menjadi fondasi sosial yang membentuk tubuh Sartika.

Sayangnya dimensi sejarah itu hanya ditampilkan sekelebat, Pangku seolah menolak mendengar gemuruh politik di luar bingkai: reformasi, demonstrasi, dan ribuan keluarga yang terlempar dari stabilitas ekonomi. Saat struktur ekonomi runtuh, luka yang seharusnya dibaca sebagai bukti kerusakan sistem justru disempitkan menjadi duka personal. Pangku menghadirkan kesedihan Sartika sebagai kisah individu, bukan sebagai jejak kegagalan negara yang mendorongnya masuk ke dunia kopi pangku—membiarkannya rapuh dan tak memberikannya perlindungan apa pun.

Kontras dengan Turah dan Siti yang menempatkan realitas sosial sebagai ruang yang hidup, Pangku memilih ruang yang sepi. Ruang yang berfungsi lebih sebagai simbol, alih-alih medan hidup. Di titik ini, Pangku menunjukkan bagaimana empati yang tidak diimbangi dengan keberanian estetis—dan politis—justru melahirkan sentimentalitas. Pangku terlalu sopan untuk menjadi jujur. Dan dalam kesopanan itulah, realitas kehilangan daya hidupnya.

Pangku—rasa-rasanya—kemudian menjadi cermin dari cara kelas menengah Indonesia memandang dunia di luar dirinya. Dalam tradisi sinema kita, penderitaan kelas bawah kerap dijadikan ruang bagi kelas menengah untuk meneguhkan rasa kemanusiaannya sendiri.

Fenomena ini bukan barang baru. Dalam masyarakat yang digerakkan oleh citra dan rasa, penderitaan kerap menjadi komoditas moral. Ia dikemas dalam bentuk yang indah agar layak dikonsumsi tanpa rasa bersalah. Ketika kamera menatap Sartika, sebenarnya yang ditatap bukan lagi Sartika, melainkan perasaan welas asih kita kepadanya. Kita menatap pantulan welas asih, alih-alih kenyataan hidup yang keras di Pantura.

Film dengan bingkai realisme sosial seharusnya tidak memberi kita ruang untuk nyaman. Ia memaksa kita melihat apa yang tak ingin kita lihat. Turah dan Siti melakukan itu. Keduanya menolak menata penderitaan dan menghadirkan banalitas Kampung Tirang dan Parangtritis—lewat bahasa yang berbeda tetapi sama makna.

Turah dan Siti tidak berusaha membuat realitas bisa ditonton, melainkan membuat penonton terlibat di dalamnya. Pangku sebaliknya, memilih menjaga subasita agar penderitaan tampak pantas dipandang.

Claresta Taufan sebagai Sartika dalam Pangku | Foto: tangkapan layar: YouTube/Cinema 21

Barangkali keindahan memang selalu menggoda untuk dipercaya. Ia menenangkan mata, membuat segalanya terasa lebih bisa diterima. Tapi keindahan dan segala yang menenangkan sering kali berbahaya. Ia memberi kita ilusi bahwa memahami cukup dengan melihat dan empati cukup dengan merasa sedih. Padahal, sebagaimana Sartika di film Pangku, dunia tidak berubah hanya karena kita menatapnya dengan welas asih.

Mungkin tidak adil menuntut Reza untuk menghadirkan realisme sosial yang sempurna. Tapi adil untuk mengatakan bahwa Pangku gagal karena terlalu ingin dicintai. Ia ingin jujur, tapi juga ingin disukai. Ia ingin dekat dengan realitas, tapi masih ingin tampak indah di hadapan pasar. Dan dari situ, film ini berbicara lebih jauh dari yang ia sadari: bahwa di negeri ini kemiskinan—penderitaan—harus tampak indah untuk bisa diterima.

Karena itulah, Pangku tak pernah benar-benar menghadirkan dunia Sartika. Ia merayakan dunia Sartika dalam keindahan yang meninabobokan. Dan di balik semua keindahannya, yang tersisa hanyalah kesopanan yang sunyi. [T]

Penulis: Bayu Wira Handyan
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmFilm IndonesiaFilm Pangku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Performance Camp 2025 Hadirkan Workshop Dramaturgi Postdramatic di Sumatera Barat

Next Post

“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

Bayu Wira Handyan

Bayu Wira Handyan

Biasa-biasa saja

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

“Tarot”: Ketika Cinta, Ramalan, dan Logika Bertemu di Meja Takdir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co