8 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Tradisi dan Menyelamatkan Harga Diri Perempuan dalam Film “Purusa” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara

Komang Gede Samudra Artajaya by Komang Gede Samudra Artajaya
July 9, 2025
in Ulas Film
Menggugat Tradisi dan Menyelamatkan Harga Diri Perempuan dalam Film “Purusa” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton


RAGU, bimbang, dan gelisah adalah tiga kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya. Dan sepertinya sebagian besar penonton lain juga merasakan hal yang serupa saat film terakhir diputar pada hari Jumat, 20 Juni 2025 di Kedai Umah Pradja Singaraja, dalam program Layar Kolektif Bali Utara

Film fiksi berjudul Purusa: Wedding Sacred ini sukses mengiris perasaan penonton di Kedai Umah Praja, Banyuasri, Buleleng, Bali malam itu. Film berdurasi 15 menit ini bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi tajam tentang tradisi adat Bali yang begitu mengikat hingga kerap menyingkirkan akal sehat dan mempertaruhkan masa depan individu.

I Made Suniartika sebagai sutradara memperkenalkan tokoh utamanya, seorang perempuan Bali yang menjadi anak tunggal setelah ditinggal meninggal oleh Gede (saudara laki-lakinya). Perempuan itu kemudian harus menerima tuntutan keluarga untuk menikah secara nyentana, sebuah prosesi pernikahan yang laki-lakinya masuk ke dalam keluarga pihak perempuan dan menjadi penerus garis keturunan di keluarga tersebut.

Praktik nyentana kerap kali menyimpan polemik sosial tersendiri, sebab di beberapa kasus, calon pasangan laki-laki merasa gengsi atau malu menjalani prosesi ini.

Sangat disayangkan, ternyata perempuan ini telah hamil besar. Demi menjaga nama baik keluarga dan adat istiadat desa, pernikahan harus segera dilaksanakan. Namun, di luar dugaan menjelang hari H, keluarga mempelai pria secara tiba-tiba tidak mengizinkan si pria untuk nyentana.

Di sinilah tekanan adat mulai terasa menyesakkan. Setelah perundingan dengan para tetua desa, diputuskan bahwa perempuan ini harus tetap menikah, tetapi bukan dengan manusia, melainkan dengan sebuah “keris”.

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton

Pilihan jalan cerita ini benar-benar menyentil kesadaran saya. Bagaimana mungkin di zaman modern ini masih ada budaya yang bisa begitu kuat menekan perempuan hingga menikahkan mereka dengan benda mati demi menyelamatkan nama keluarga? Film ini jelas ingin menyampaikan kritik tajam terhadap warisan adat yang tak lagi relevan dengan perkembangan sosial saat ini.

Menurut saya, puncak emosi film ini hadir saat mantan pacar si perempuan datang di malam prosesi pernikahan. Ia mengajak si perempuan kabur, berharap bisa membangun hidup baru bersama. Namun, alih-alih menerima ajakan itu, si perempuan memilih tetap tinggal bersama keluarganya.

Adegan ini bukan sekadar plot twist, melainkan gambaran dilematis perempuan Bali dalam posisi yang serba terjepit. Di satu sisi, ada keinginan untuk bebas, tetapi di sisi lain, ada ikatan batin dan beban moral terhadap keluarga dan adat.

Dialog yang paling membekas bagi saya adalah saat si pria berkata bahwa ia malu untuk nyentana karena takut dicap “sekadi paid bangkung”, yang secara harfiah berarti seperti babi betina yang menarik babi jantan. Ungkapan ini menjadi simbol kuat sebuah kekuasaan sosial patriarki dan adat mempengaruhi cara berpikir masyarakat, bahkan dalam hal memilih pasangan hidup.

Sementara itu, jawaban dari si perempuan juga tak kalah menusuk batin penonton. Ia menolak ajakan kabur dan memilih tetap tinggal di rumah bersama orang tuanya. Keputusan ini bisa ditafsirkan sebagai bentuk kepasrahan, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan diam terhadap adat, karena menikah dengan sebuah “keris”, ia seakan menolak norma sosial yang memaksakan perempuan menikah dengan siapa pun hanya demi status.

Melihat fenomena yang begitu miris ini, saya pun tidak bisa menahan diri untuk mempertanyakan lebih jauh. Apakah selama ini tidak ada upaya penelusuran atau kajian kritis terhadap sistem adat seperti ini? Siapa sebenarnya yang pertama kali mencetuskan aturan yang menyimpang dari nilai kemanusiaan tersebut? Dan bagaimana mungkin para pemangku kepentingan di sana masih bisa mempertahankan sistem yang jelas-jelas menempatkan perempuan dalam posisi tertekan?

Jangan-jangan, regulasi semacam ini lahir bukan dari kebutuhan adat yang murni, melainkan atas dasar ego kelompok tertentu yang ingin mempertahankan wibawa sosial semata, tanpa mempertimbangkan dampak psikologis, sosial, maupun masa depan individu yang terpaksa terikat di dalamnya.

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton

Secara artistik, Purusa cukup berhasil membangun atmosfer emosional. Musik gambelan gender wayang yang menjadi backsound pada ending film berhasil mempertebal suasana mistis dan tragis yang mengikat cerita. Musik tradisional ini dipilih dengan sangat tepat karena bukan hanya berfungsi sebagai backsound, tetapi juga menjadi bagian dari penceritaan.

Dari segi teknis, saya cukup mengapresiasi audio yang jernih serta pemilihan jenis shoot yang pas dalam memperkuat cerita. Beberapa scene close-up mampu menangkap ekspresi karakter dengan baik, terutama di adegan saat upacara perikahan berlangsung.

Namun, ada catatan penting yang ingin saya sampaikan terkait pewarnaan atau color grading dalam film ini. Saya menebak dalam proses produksi, tim hanya mengandalkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Akibatnya, dalam beberapa scene yang diambil di hari yang berbeda, tone warna gambar terlihat tidak konsisten. Perbedaan tone ini sedikit mengganggu kesinambungan visual, terlebih di film pendek yang durasinya singkat dan padat.

Akan tetapi, kekurangan itu tidak sampai merusak kualitas keseluruhan film. Purusa berhasil menjadi film pendek yang berani dan penting untuk ditonton, khususnya di tengah masyarakat Bali yang masih memegang erat tradisi adat.

Film ini bukan semata-mata ingin menyalahkan adat, melainkan mengajak masyarakat untuk mulai merefleksi ulang warisan budaya mana yang masih layak dipertahankan dan mana yang perlu ditinggalkan.

Saya berharap, Purusa bisa diputar di lingkup desa adat. Agar isu yang diangkat film ini bisa menjadi diskusi bersama. Sebab, film ini menyuarakan keresahan banyak perempuan yang selama ini tak bersuara. Semoga Purusa menjadi awal dari lebih banyak karya film pendek lokal yang berani mengangkat isu-isu sensitif dan mengkritik ketidakadilan yang masih dilanggengkan atas nama adat. [T]

Penulis: Komang Gede Samudra Artajaya
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula

Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Internalisasi “Green Behavior” pada Pembelajaran

Next Post

Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande — Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Komang Gede Samudra Artajaya

Komang Gede Samudra Artajaya

MahasiswaProgram Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha. Selain fokus menjalani perkuliahan, ia memiliki minat besar di bidang digital kreatif, khususnya dalam pembuatan video seperti film pendek, dokumenter, serta fotografi jalanan.

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande — Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande -- Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co