31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Tradisi dan Menyelamatkan Harga Diri Perempuan dalam Film “Purusa” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara

Komang Gede Samudra Artajaya by Komang Gede Samudra Artajaya
July 9, 2025
in Ulas Film
Menggugat Tradisi dan Menyelamatkan Harga Diri Perempuan dalam Film “Purusa” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton


RAGU, bimbang, dan gelisah adalah tiga kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya. Dan sepertinya sebagian besar penonton lain juga merasakan hal yang serupa saat film terakhir diputar pada hari Jumat, 20 Juni 2025 di Kedai Umah Pradja Singaraja, dalam program Layar Kolektif Bali Utara

Film fiksi berjudul Purusa: Wedding Sacred ini sukses mengiris perasaan penonton di Kedai Umah Praja, Banyuasri, Buleleng, Bali malam itu. Film berdurasi 15 menit ini bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi tajam tentang tradisi adat Bali yang begitu mengikat hingga kerap menyingkirkan akal sehat dan mempertaruhkan masa depan individu.

I Made Suniartika sebagai sutradara memperkenalkan tokoh utamanya, seorang perempuan Bali yang menjadi anak tunggal setelah ditinggal meninggal oleh Gede (saudara laki-lakinya). Perempuan itu kemudian harus menerima tuntutan keluarga untuk menikah secara nyentana, sebuah prosesi pernikahan yang laki-lakinya masuk ke dalam keluarga pihak perempuan dan menjadi penerus garis keturunan di keluarga tersebut.

Praktik nyentana kerap kali menyimpan polemik sosial tersendiri, sebab di beberapa kasus, calon pasangan laki-laki merasa gengsi atau malu menjalani prosesi ini.

Sangat disayangkan, ternyata perempuan ini telah hamil besar. Demi menjaga nama baik keluarga dan adat istiadat desa, pernikahan harus segera dilaksanakan. Namun, di luar dugaan menjelang hari H, keluarga mempelai pria secara tiba-tiba tidak mengizinkan si pria untuk nyentana.

Di sinilah tekanan adat mulai terasa menyesakkan. Setelah perundingan dengan para tetua desa, diputuskan bahwa perempuan ini harus tetap menikah, tetapi bukan dengan manusia, melainkan dengan sebuah “keris”.

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton

Pilihan jalan cerita ini benar-benar menyentil kesadaran saya. Bagaimana mungkin di zaman modern ini masih ada budaya yang bisa begitu kuat menekan perempuan hingga menikahkan mereka dengan benda mati demi menyelamatkan nama keluarga? Film ini jelas ingin menyampaikan kritik tajam terhadap warisan adat yang tak lagi relevan dengan perkembangan sosial saat ini.

Menurut saya, puncak emosi film ini hadir saat mantan pacar si perempuan datang di malam prosesi pernikahan. Ia mengajak si perempuan kabur, berharap bisa membangun hidup baru bersama. Namun, alih-alih menerima ajakan itu, si perempuan memilih tetap tinggal bersama keluarganya.

Adegan ini bukan sekadar plot twist, melainkan gambaran dilematis perempuan Bali dalam posisi yang serba terjepit. Di satu sisi, ada keinginan untuk bebas, tetapi di sisi lain, ada ikatan batin dan beban moral terhadap keluarga dan adat.

Dialog yang paling membekas bagi saya adalah saat si pria berkata bahwa ia malu untuk nyentana karena takut dicap “sekadi paid bangkung”, yang secara harfiah berarti seperti babi betina yang menarik babi jantan. Ungkapan ini menjadi simbol kuat sebuah kekuasaan sosial patriarki dan adat mempengaruhi cara berpikir masyarakat, bahkan dalam hal memilih pasangan hidup.

Sementara itu, jawaban dari si perempuan juga tak kalah menusuk batin penonton. Ia menolak ajakan kabur dan memilih tetap tinggal di rumah bersama orang tuanya. Keputusan ini bisa ditafsirkan sebagai bentuk kepasrahan, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan diam terhadap adat, karena menikah dengan sebuah “keris”, ia seakan menolak norma sosial yang memaksakan perempuan menikah dengan siapa pun hanya demi status.

Melihat fenomena yang begitu miris ini, saya pun tidak bisa menahan diri untuk mempertanyakan lebih jauh. Apakah selama ini tidak ada upaya penelusuran atau kajian kritis terhadap sistem adat seperti ini? Siapa sebenarnya yang pertama kali mencetuskan aturan yang menyimpang dari nilai kemanusiaan tersebut? Dan bagaimana mungkin para pemangku kepentingan di sana masih bisa mempertahankan sistem yang jelas-jelas menempatkan perempuan dalam posisi tertekan?

Jangan-jangan, regulasi semacam ini lahir bukan dari kebutuhan adat yang murni, melainkan atas dasar ego kelompok tertentu yang ingin mempertahankan wibawa sosial semata, tanpa mempertimbangkan dampak psikologis, sosial, maupun masa depan individu yang terpaksa terikat di dalamnya.

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton

Secara artistik, Purusa cukup berhasil membangun atmosfer emosional. Musik gambelan gender wayang yang menjadi backsound pada ending film berhasil mempertebal suasana mistis dan tragis yang mengikat cerita. Musik tradisional ini dipilih dengan sangat tepat karena bukan hanya berfungsi sebagai backsound, tetapi juga menjadi bagian dari penceritaan.

Dari segi teknis, saya cukup mengapresiasi audio yang jernih serta pemilihan jenis shoot yang pas dalam memperkuat cerita. Beberapa scene close-up mampu menangkap ekspresi karakter dengan baik, terutama di adegan saat upacara perikahan berlangsung.

Namun, ada catatan penting yang ingin saya sampaikan terkait pewarnaan atau color grading dalam film ini. Saya menebak dalam proses produksi, tim hanya mengandalkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Akibatnya, dalam beberapa scene yang diambil di hari yang berbeda, tone warna gambar terlihat tidak konsisten. Perbedaan tone ini sedikit mengganggu kesinambungan visual, terlebih di film pendek yang durasinya singkat dan padat.

Akan tetapi, kekurangan itu tidak sampai merusak kualitas keseluruhan film. Purusa berhasil menjadi film pendek yang berani dan penting untuk ditonton, khususnya di tengah masyarakat Bali yang masih memegang erat tradisi adat.

Film ini bukan semata-mata ingin menyalahkan adat, melainkan mengajak masyarakat untuk mulai merefleksi ulang warisan budaya mana yang masih layak dipertahankan dan mana yang perlu ditinggalkan.

Saya berharap, Purusa bisa diputar di lingkup desa adat. Agar isu yang diangkat film ini bisa menjadi diskusi bersama. Sebab, film ini menyuarakan keresahan banyak perempuan yang selama ini tak bersuara. Semoga Purusa menjadi awal dari lebih banyak karya film pendek lokal yang berani mengangkat isu-isu sensitif dan mengkritik ketidakadilan yang masih dilanggengkan atas nama adat. [T]

Penulis: Komang Gede Samudra Artajaya
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula

Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Internalisasi “Green Behavior” pada Pembelajaran

Next Post

Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande — Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Komang Gede Samudra Artajaya

Komang Gede Samudra Artajaya

MahasiswaProgram Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha. Selain fokus menjalani perkuliahan, ia memiliki minat besar di bidang digital kreatif, khususnya dalam pembuatan video seperti film pendek, dokumenter, serta fotografi jalanan.

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande — Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande -- Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co