10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Tradisi dan Menyelamatkan Harga Diri Perempuan dalam Film “Purusa” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara

Komang Gede Samudra Artajaya by Komang Gede Samudra Artajaya
July 9, 2025
in Ulas Film
Menggugat Tradisi dan Menyelamatkan Harga Diri Perempuan dalam Film “Purusa” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton


RAGU, bimbang, dan gelisah adalah tiga kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya. Dan sepertinya sebagian besar penonton lain juga merasakan hal yang serupa saat film terakhir diputar pada hari Jumat, 20 Juni 2025 di Kedai Umah Pradja Singaraja, dalam program Layar Kolektif Bali Utara

Film fiksi berjudul Purusa: Wedding Sacred ini sukses mengiris perasaan penonton di Kedai Umah Praja, Banyuasri, Buleleng, Bali malam itu. Film berdurasi 15 menit ini bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi tajam tentang tradisi adat Bali yang begitu mengikat hingga kerap menyingkirkan akal sehat dan mempertaruhkan masa depan individu.

I Made Suniartika sebagai sutradara memperkenalkan tokoh utamanya, seorang perempuan Bali yang menjadi anak tunggal setelah ditinggal meninggal oleh Gede (saudara laki-lakinya). Perempuan itu kemudian harus menerima tuntutan keluarga untuk menikah secara nyentana, sebuah prosesi pernikahan yang laki-lakinya masuk ke dalam keluarga pihak perempuan dan menjadi penerus garis keturunan di keluarga tersebut.

Praktik nyentana kerap kali menyimpan polemik sosial tersendiri, sebab di beberapa kasus, calon pasangan laki-laki merasa gengsi atau malu menjalani prosesi ini.

Sangat disayangkan, ternyata perempuan ini telah hamil besar. Demi menjaga nama baik keluarga dan adat istiadat desa, pernikahan harus segera dilaksanakan. Namun, di luar dugaan menjelang hari H, keluarga mempelai pria secara tiba-tiba tidak mengizinkan si pria untuk nyentana.

Di sinilah tekanan adat mulai terasa menyesakkan. Setelah perundingan dengan para tetua desa, diputuskan bahwa perempuan ini harus tetap menikah, tetapi bukan dengan manusia, melainkan dengan sebuah “keris”.

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton

Pilihan jalan cerita ini benar-benar menyentil kesadaran saya. Bagaimana mungkin di zaman modern ini masih ada budaya yang bisa begitu kuat menekan perempuan hingga menikahkan mereka dengan benda mati demi menyelamatkan nama keluarga? Film ini jelas ingin menyampaikan kritik tajam terhadap warisan adat yang tak lagi relevan dengan perkembangan sosial saat ini.

Menurut saya, puncak emosi film ini hadir saat mantan pacar si perempuan datang di malam prosesi pernikahan. Ia mengajak si perempuan kabur, berharap bisa membangun hidup baru bersama. Namun, alih-alih menerima ajakan itu, si perempuan memilih tetap tinggal bersama keluarganya.

Adegan ini bukan sekadar plot twist, melainkan gambaran dilematis perempuan Bali dalam posisi yang serba terjepit. Di satu sisi, ada keinginan untuk bebas, tetapi di sisi lain, ada ikatan batin dan beban moral terhadap keluarga dan adat.

Dialog yang paling membekas bagi saya adalah saat si pria berkata bahwa ia malu untuk nyentana karena takut dicap “sekadi paid bangkung”, yang secara harfiah berarti seperti babi betina yang menarik babi jantan. Ungkapan ini menjadi simbol kuat sebuah kekuasaan sosial patriarki dan adat mempengaruhi cara berpikir masyarakat, bahkan dalam hal memilih pasangan hidup.

Sementara itu, jawaban dari si perempuan juga tak kalah menusuk batin penonton. Ia menolak ajakan kabur dan memilih tetap tinggal di rumah bersama orang tuanya. Keputusan ini bisa ditafsirkan sebagai bentuk kepasrahan, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan diam terhadap adat, karena menikah dengan sebuah “keris”, ia seakan menolak norma sosial yang memaksakan perempuan menikah dengan siapa pun hanya demi status.

Melihat fenomena yang begitu miris ini, saya pun tidak bisa menahan diri untuk mempertanyakan lebih jauh. Apakah selama ini tidak ada upaya penelusuran atau kajian kritis terhadap sistem adat seperti ini? Siapa sebenarnya yang pertama kali mencetuskan aturan yang menyimpang dari nilai kemanusiaan tersebut? Dan bagaimana mungkin para pemangku kepentingan di sana masih bisa mempertahankan sistem yang jelas-jelas menempatkan perempuan dalam posisi tertekan?

Jangan-jangan, regulasi semacam ini lahir bukan dari kebutuhan adat yang murni, melainkan atas dasar ego kelompok tertentu yang ingin mempertahankan wibawa sosial semata, tanpa mempertimbangkan dampak psikologis, sosial, maupun masa depan individu yang terpaksa terikat di dalamnya.

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton

Secara artistik, Purusa cukup berhasil membangun atmosfer emosional. Musik gambelan gender wayang yang menjadi backsound pada ending film berhasil mempertebal suasana mistis dan tragis yang mengikat cerita. Musik tradisional ini dipilih dengan sangat tepat karena bukan hanya berfungsi sebagai backsound, tetapi juga menjadi bagian dari penceritaan.

Dari segi teknis, saya cukup mengapresiasi audio yang jernih serta pemilihan jenis shoot yang pas dalam memperkuat cerita. Beberapa scene close-up mampu menangkap ekspresi karakter dengan baik, terutama di adegan saat upacara perikahan berlangsung.

Namun, ada catatan penting yang ingin saya sampaikan terkait pewarnaan atau color grading dalam film ini. Saya menebak dalam proses produksi, tim hanya mengandalkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Akibatnya, dalam beberapa scene yang diambil di hari yang berbeda, tone warna gambar terlihat tidak konsisten. Perbedaan tone ini sedikit mengganggu kesinambungan visual, terlebih di film pendek yang durasinya singkat dan padat.

Akan tetapi, kekurangan itu tidak sampai merusak kualitas keseluruhan film. Purusa berhasil menjadi film pendek yang berani dan penting untuk ditonton, khususnya di tengah masyarakat Bali yang masih memegang erat tradisi adat.

Film ini bukan semata-mata ingin menyalahkan adat, melainkan mengajak masyarakat untuk mulai merefleksi ulang warisan budaya mana yang masih layak dipertahankan dan mana yang perlu ditinggalkan.

Saya berharap, Purusa bisa diputar di lingkup desa adat. Agar isu yang diangkat film ini bisa menjadi diskusi bersama. Sebab, film ini menyuarakan keresahan banyak perempuan yang selama ini tak bersuara. Semoga Purusa menjadi awal dari lebih banyak karya film pendek lokal yang berani mengangkat isu-isu sensitif dan mengkritik ketidakadilan yang masih dilanggengkan atas nama adat. [T]

Penulis: Komang Gede Samudra Artajaya
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula

Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Internalisasi “Green Behavior” pada Pembelajaran

Next Post

Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande — Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Komang Gede Samudra Artajaya

Komang Gede Samudra Artajaya

MahasiswaProgram Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha. Selain fokus menjalani perkuliahan, ia memiliki minat besar di bidang digital kreatif, khususnya dalam pembuatan video seperti film pendek, dokumenter, serta fotografi jalanan.

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande — Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande -- Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co