14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Tradisi dan Menyelamatkan Harga Diri Perempuan dalam Film “Purusa” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara

Komang Gede Samudra Artajaya by Komang Gede Samudra Artajaya
July 9, 2025
in Ulas Film
Menggugat Tradisi dan Menyelamatkan Harga Diri Perempuan dalam Film “Purusa” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton


RAGU, bimbang, dan gelisah adalah tiga kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya. Dan sepertinya sebagian besar penonton lain juga merasakan hal yang serupa saat film terakhir diputar pada hari Jumat, 20 Juni 2025 di Kedai Umah Pradja Singaraja, dalam program Layar Kolektif Bali Utara

Film fiksi berjudul Purusa: Wedding Sacred ini sukses mengiris perasaan penonton di Kedai Umah Praja, Banyuasri, Buleleng, Bali malam itu. Film berdurasi 15 menit ini bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi tajam tentang tradisi adat Bali yang begitu mengikat hingga kerap menyingkirkan akal sehat dan mempertaruhkan masa depan individu.

I Made Suniartika sebagai sutradara memperkenalkan tokoh utamanya, seorang perempuan Bali yang menjadi anak tunggal setelah ditinggal meninggal oleh Gede (saudara laki-lakinya). Perempuan itu kemudian harus menerima tuntutan keluarga untuk menikah secara nyentana, sebuah prosesi pernikahan yang laki-lakinya masuk ke dalam keluarga pihak perempuan dan menjadi penerus garis keturunan di keluarga tersebut.

Praktik nyentana kerap kali menyimpan polemik sosial tersendiri, sebab di beberapa kasus, calon pasangan laki-laki merasa gengsi atau malu menjalani prosesi ini.

Sangat disayangkan, ternyata perempuan ini telah hamil besar. Demi menjaga nama baik keluarga dan adat istiadat desa, pernikahan harus segera dilaksanakan. Namun, di luar dugaan menjelang hari H, keluarga mempelai pria secara tiba-tiba tidak mengizinkan si pria untuk nyentana.

Di sinilah tekanan adat mulai terasa menyesakkan. Setelah perundingan dengan para tetua desa, diputuskan bahwa perempuan ini harus tetap menikah, tetapi bukan dengan manusia, melainkan dengan sebuah “keris”.

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton

Pilihan jalan cerita ini benar-benar menyentil kesadaran saya. Bagaimana mungkin di zaman modern ini masih ada budaya yang bisa begitu kuat menekan perempuan hingga menikahkan mereka dengan benda mati demi menyelamatkan nama keluarga? Film ini jelas ingin menyampaikan kritik tajam terhadap warisan adat yang tak lagi relevan dengan perkembangan sosial saat ini.

Menurut saya, puncak emosi film ini hadir saat mantan pacar si perempuan datang di malam prosesi pernikahan. Ia mengajak si perempuan kabur, berharap bisa membangun hidup baru bersama. Namun, alih-alih menerima ajakan itu, si perempuan memilih tetap tinggal bersama keluarganya.

Adegan ini bukan sekadar plot twist, melainkan gambaran dilematis perempuan Bali dalam posisi yang serba terjepit. Di satu sisi, ada keinginan untuk bebas, tetapi di sisi lain, ada ikatan batin dan beban moral terhadap keluarga dan adat.

Dialog yang paling membekas bagi saya adalah saat si pria berkata bahwa ia malu untuk nyentana karena takut dicap “sekadi paid bangkung”, yang secara harfiah berarti seperti babi betina yang menarik babi jantan. Ungkapan ini menjadi simbol kuat sebuah kekuasaan sosial patriarki dan adat mempengaruhi cara berpikir masyarakat, bahkan dalam hal memilih pasangan hidup.

Sementara itu, jawaban dari si perempuan juga tak kalah menusuk batin penonton. Ia menolak ajakan kabur dan memilih tetap tinggal di rumah bersama orang tuanya. Keputusan ini bisa ditafsirkan sebagai bentuk kepasrahan, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan diam terhadap adat, karena menikah dengan sebuah “keris”, ia seakan menolak norma sosial yang memaksakan perempuan menikah dengan siapa pun hanya demi status.

Melihat fenomena yang begitu miris ini, saya pun tidak bisa menahan diri untuk mempertanyakan lebih jauh. Apakah selama ini tidak ada upaya penelusuran atau kajian kritis terhadap sistem adat seperti ini? Siapa sebenarnya yang pertama kali mencetuskan aturan yang menyimpang dari nilai kemanusiaan tersebut? Dan bagaimana mungkin para pemangku kepentingan di sana masih bisa mempertahankan sistem yang jelas-jelas menempatkan perempuan dalam posisi tertekan?

Jangan-jangan, regulasi semacam ini lahir bukan dari kebutuhan adat yang murni, melainkan atas dasar ego kelompok tertentu yang ingin mempertahankan wibawa sosial semata, tanpa mempertimbangkan dampak psikologis, sosial, maupun masa depan individu yang terpaksa terikat di dalamnya.

Satu adegan dalam film Purusa | Foto: Singaraja Menonton

Secara artistik, Purusa cukup berhasil membangun atmosfer emosional. Musik gambelan gender wayang yang menjadi backsound pada ending film berhasil mempertebal suasana mistis dan tragis yang mengikat cerita. Musik tradisional ini dipilih dengan sangat tepat karena bukan hanya berfungsi sebagai backsound, tetapi juga menjadi bagian dari penceritaan.

Dari segi teknis, saya cukup mengapresiasi audio yang jernih serta pemilihan jenis shoot yang pas dalam memperkuat cerita. Beberapa scene close-up mampu menangkap ekspresi karakter dengan baik, terutama di adegan saat upacara perikahan berlangsung.

Namun, ada catatan penting yang ingin saya sampaikan terkait pewarnaan atau color grading dalam film ini. Saya menebak dalam proses produksi, tim hanya mengandalkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Akibatnya, dalam beberapa scene yang diambil di hari yang berbeda, tone warna gambar terlihat tidak konsisten. Perbedaan tone ini sedikit mengganggu kesinambungan visual, terlebih di film pendek yang durasinya singkat dan padat.

Akan tetapi, kekurangan itu tidak sampai merusak kualitas keseluruhan film. Purusa berhasil menjadi film pendek yang berani dan penting untuk ditonton, khususnya di tengah masyarakat Bali yang masih memegang erat tradisi adat.

Film ini bukan semata-mata ingin menyalahkan adat, melainkan mengajak masyarakat untuk mulai merefleksi ulang warisan budaya mana yang masih layak dipertahankan dan mana yang perlu ditinggalkan.

Saya berharap, Purusa bisa diputar di lingkup desa adat. Agar isu yang diangkat film ini bisa menjadi diskusi bersama. Sebab, film ini menyuarakan keresahan banyak perempuan yang selama ini tak bersuara. Semoga Purusa menjadi awal dari lebih banyak karya film pendek lokal yang berani mengangkat isu-isu sensitif dan mengkritik ketidakadilan yang masih dilanggengkan atas nama adat. [T]

Penulis: Komang Gede Samudra Artajaya
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Ketika Kita Terlalu Cepat Menilai — Catatan untuk Film “Abu-abu” dan “Nyambutin” pada Layar Kolektif Bali Utara
Film Pendek “Made”: Kerasnya Hidup Keluarga Kecil Menghadapi Perkembangan Teknologi
Belajar Tingwe dari Film “Rita Coba Rokok”—Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Kedai Umah Pradja, Singaraja
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula

Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Internalisasi “Green Behavior” pada Pembelajaran

Next Post

Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande — Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Komang Gede Samudra Artajaya

Komang Gede Samudra Artajaya

MahasiswaProgram Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha. Selain fokus menjalani perkuliahan, ia memiliki minat besar di bidang digital kreatif, khususnya dalam pembuatan video seperti film pendek, dokumenter, serta fotografi jalanan.

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande — Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande -- Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co