14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Manusia Berubah Menjadi Badak yang Penuh Libido

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 16, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

JAKOB Sumardjo (2015) menulis sebuah perumpamaan (metafora) manusia yang berubah menjadi badak, karena cara berfikirnya dan filosofinya. Kalau mau tetap hidup manusia harus kuat, tidak boleh lemah. Hukum kasih sayang dan harmoni itu membuat manusia lembek seperti ayam sayur. Manusia harus kuat seperti badak. Badak adalah hewan terbesar kedua setelah gajah. Gajah meskipun besar, tapi agak lembek.

Badak adalah segalanya untuk menjadi manusia penguasa, termasuk penguasa panggung. Panggung  sandiwara yang ceritanya hanya kabar burung, dari “burung blekok” yang juga tidak jelas spesiesnya. Penontonnya diminta setengah dipaksa bertepuk tangan atas  kabar “burung blekok” ini sebagai cerita yang benar dan baik, tidak palsu, semua penonton dipaksa mengamini, percaya cerita yang dibawa “burung blekok“ ini.

  Dasar badak, mentang-mentang kulitnya tebal dan keras seperti tank baja, wajahnya juga tebal “muka tembok” tanpa emosi, rasa malunya hampir habis, sudah tidak punya “kemaluan”. Manusia badak ini menyeruduk kesana-sini terus, padahal tidak jelas apa yang dikejar-kejar dan diseruduknya.

Semua gedung pamong praja di geruduk entah apa yang mereka cari, sambil “melenguh” dengan suara yang parau melengking tapi tidak jelas, sulit dibedakan suara vokal atau konsonannya. Tidak hanya gedung milik pamong saja yang diseruduk mereka, rumah orang baik-baik saja mereka seruduk sambil berteriak dengan suara sumbang, dan bau mulutnya yang menyebarkan aroma tidak sedap di mana-mana.

Kumpulan manusia badak ini mengejar-ngejar khayalannya sendiri, bayangannya sendiri, karena sudah hilang akal sehatnya terus mengejar bayang-bayang kepalsuannya sendiri yang mereka sebut “memperjuangkan” kebenaran. Padahal sudah jelas ocehan mereka itu invalid alias cacat, masih ngotot saja. “Ini hasil penelitian,” ujarnya, yang berasal dari kubangan lumpur mereka yang berbau tidak sedap.

Badak biasanya hidup berkelompok. Metafora manusia badak ini hanya ada di kota-kota besar, mungkin anda kurang sependapat, karena badak habitatnya di hutan, hutan lindung lagi. Di Indonesia badak hanya ada di pulau Sumatera dan Jawa, badak Sumatera bercula dua, dan badak Jawa bercula satu, hanya satu-satunya di dunia, tepatnya di Ujung Kulon Banten.

Manusia badak itu mudah berkembang biak hampir di setiap kota tempat berkeliarannya, spisies ini hidupnya dari corong ke corong mikrofonmenyebarkan virus kebencian hatinya, dan kutu-kutu yang memenuhi seluruh anggota tubuhnya dengan tujuan menularkan penyakit yang mereka derita selama ini. Untungnya masyarakat sudah banyak yang mendapatkan imunisasi sehingga tidak mudah tertular penyakit yang sangat berbahaya    “adu domba”  di antara warga yang sakit dan sehat lahir batin.

Sumardjo (2015) menggambarkan kaum badak nafsu libidonya begitu besar sehingga semua yang diinginkannya harus diwujudkan. Manusia badak adalah manusia yang penuh libido. Nafsu besar tenaganya juga besar. Itulah sebabnya badak berbahaya bagi manusia. Nafsu besar itu biasanya menenggelamkan pikiran akal sehatnya.

Apa pun dilakukannya oleh manusia badak ini agar keinginannya terpuaskan. Jelas badak-badak itu tidak kenal malu, tidak kenal teriakan. Tebal muka. Modalnya adalah kekuatan menyeruduk yang luar biasa, peraturan, undang-undang, etika, adab semuanya mereka seruduk. Manusia jenis ini ada pada setiap sudut-sudut belukar perkantoran apa pun.

Makanan kesukaan manusia badak ini, menu utamanya “melanggar aturan, adab etika”, menelan fitnah, menolak semua makanan halal yang disajikan keterangan penjelasan resmi dari lembaga yang bekerja secara profesional dilindungi undang-undang.

***

Mengapa manusia badak mudah berkembang biak, sementara badak itu sendiri sulit berkembang biak. Bahkan menurut kabar, badak Sumatera diambang kepunahan, sedangkan di Jawa tinggal 50 sampai 60 ekor saja. Dalam sebuah undang-undang, makhluk ini harus dilindungi, dan dikembangbiakan. Dilarang keras berburu dan membunuh badak-badak.

Pembaca dilarang keras menghubungkan hewan ini dengan antropologi manusianya. Badak dalam tulisan ini hanyalah sebuah metafora, yang menggambarkan sekelompok orang yang tidak tahu malu, manusia tebal muka, yaitu orang-orang yang berperilaku menyimpang seperti tiran, sombong alias ujub, para koruptor, orang yang kurang memiliki sifat fathonah tidak kompeten dan punya kapasitas terus bercokol, dan juga mungkin para “pemburu ijazah palsu”yang lagi ngehits.

Seperti digambarkan Sumardjo (2015), perubahan manusia menjadi badak digambarkan sangat mengerikan dan menakutkan. Pemikiran manusianya sedikit-sedikit berubah menjadi cara berpikir badak. Bukan saja pikirannya berubah menjadi penuh nafsu, tetapi juga tubuhnya bermetamorfosis menjadi tegang dan kaku.

Ia hanya kenal gerak lurus, sukar berbelok, apalagi lenggak-lenggok. Kulitnya menebal seperti kuku. Pendek kata pikirannya dikuasai nafsu dan tubuhnya cuma kenal satu arah, memaksakan kehendaknya pada setiap orang, ujub hanya pendapat mereka yang paling benar.

Kaum badak itu hidup di habitat  dekat dengan sungai dan genangan air. Badak amat bahagia di tanah-tanah becek berlumpur, untuk berkotor-kotor ria, mereka pasti betah membincangkan yang kotor-kotor.

Kalau manusia kena lumpur sedikit buru-buru mandi, atau  berbasuh, tetapi kaum badak ini tenang-tenang saja bergelimang lumpur merah-hitam. Sekali lagi saya tegaskan mungkin gambaran saya keliru mengenai sosok kelompok manusia, yang bertransformasi menjadi kaum badak.

Dan yang mengherankan, adalah kebiasaan buang hajat mereka kaum badak, seperti manusia, buang hajat di tempat yang sama. Bedanya kalau WC manusia tenggelam ke bawah, WC kaum badak menumpuk menjulang ke atas. Kebohongan, dusta atau kotorannya menggunung, hari ke hari kebohongan atau kotorannya sudah mulai tampak dan jelas. Kalau anda melihat tumpukan kotoran yang menggunung dapat dipastikan itulah kotoran badak.

Badak-badak itu kini terus berkeliaran meskipun  mulai kehilangan dukungan, dan arah serudukannya. Populasi  inti kaum badak ini relatif stabil, namun sudah ada yang mulai diam parkir di kubangannya, membuat strategi dan siasat baru yang membuat kehidupan rakyat terancam. Sudah saatnya rakyat berburu kaum badak ini, dengan menjebaknya ramai-ramai, umpannya adalah memancing libido mereka yang kuat. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dokter dan Balian, Sama Namun Berbeda

Next Post

Tidak Ada Tombol “Reset” dalam Pernikahan — Catatan Menonton Film Kembang Eleh dalam Program Layar Kolektif Bali Utara

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Tidak Ada Tombol "Reset" dalam Pernikahan -- Catatan Menonton Film Kembang Eleh dalam Program Layar Kolektif Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co