1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Manusia Berubah Menjadi Badak yang Penuh Libido

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 16, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

JAKOB Sumardjo (2015) menulis sebuah perumpamaan (metafora) manusia yang berubah menjadi badak, karena cara berfikirnya dan filosofinya. Kalau mau tetap hidup manusia harus kuat, tidak boleh lemah. Hukum kasih sayang dan harmoni itu membuat manusia lembek seperti ayam sayur. Manusia harus kuat seperti badak. Badak adalah hewan terbesar kedua setelah gajah. Gajah meskipun besar, tapi agak lembek.

Badak adalah segalanya untuk menjadi manusia penguasa, termasuk penguasa panggung. Panggung  sandiwara yang ceritanya hanya kabar burung, dari “burung blekok” yang juga tidak jelas spesiesnya. Penontonnya diminta setengah dipaksa bertepuk tangan atas  kabar “burung blekok” ini sebagai cerita yang benar dan baik, tidak palsu, semua penonton dipaksa mengamini, percaya cerita yang dibawa “burung blekok“ ini.

  Dasar badak, mentang-mentang kulitnya tebal dan keras seperti tank baja, wajahnya juga tebal “muka tembok” tanpa emosi, rasa malunya hampir habis, sudah tidak punya “kemaluan”. Manusia badak ini menyeruduk kesana-sini terus, padahal tidak jelas apa yang dikejar-kejar dan diseruduknya.

Semua gedung pamong praja di geruduk entah apa yang mereka cari, sambil “melenguh” dengan suara yang parau melengking tapi tidak jelas, sulit dibedakan suara vokal atau konsonannya. Tidak hanya gedung milik pamong saja yang diseruduk mereka, rumah orang baik-baik saja mereka seruduk sambil berteriak dengan suara sumbang, dan bau mulutnya yang menyebarkan aroma tidak sedap di mana-mana.

Kumpulan manusia badak ini mengejar-ngejar khayalannya sendiri, bayangannya sendiri, karena sudah hilang akal sehatnya terus mengejar bayang-bayang kepalsuannya sendiri yang mereka sebut “memperjuangkan” kebenaran. Padahal sudah jelas ocehan mereka itu invalid alias cacat, masih ngotot saja. “Ini hasil penelitian,” ujarnya, yang berasal dari kubangan lumpur mereka yang berbau tidak sedap.

Badak biasanya hidup berkelompok. Metafora manusia badak ini hanya ada di kota-kota besar, mungkin anda kurang sependapat, karena badak habitatnya di hutan, hutan lindung lagi. Di Indonesia badak hanya ada di pulau Sumatera dan Jawa, badak Sumatera bercula dua, dan badak Jawa bercula satu, hanya satu-satunya di dunia, tepatnya di Ujung Kulon Banten.

Manusia badak itu mudah berkembang biak hampir di setiap kota tempat berkeliarannya, spisies ini hidupnya dari corong ke corong mikrofonmenyebarkan virus kebencian hatinya, dan kutu-kutu yang memenuhi seluruh anggota tubuhnya dengan tujuan menularkan penyakit yang mereka derita selama ini. Untungnya masyarakat sudah banyak yang mendapatkan imunisasi sehingga tidak mudah tertular penyakit yang sangat berbahaya    “adu domba”  di antara warga yang sakit dan sehat lahir batin.

Sumardjo (2015) menggambarkan kaum badak nafsu libidonya begitu besar sehingga semua yang diinginkannya harus diwujudkan. Manusia badak adalah manusia yang penuh libido. Nafsu besar tenaganya juga besar. Itulah sebabnya badak berbahaya bagi manusia. Nafsu besar itu biasanya menenggelamkan pikiran akal sehatnya.

Apa pun dilakukannya oleh manusia badak ini agar keinginannya terpuaskan. Jelas badak-badak itu tidak kenal malu, tidak kenal teriakan. Tebal muka. Modalnya adalah kekuatan menyeruduk yang luar biasa, peraturan, undang-undang, etika, adab semuanya mereka seruduk. Manusia jenis ini ada pada setiap sudut-sudut belukar perkantoran apa pun.

Makanan kesukaan manusia badak ini, menu utamanya “melanggar aturan, adab etika”, menelan fitnah, menolak semua makanan halal yang disajikan keterangan penjelasan resmi dari lembaga yang bekerja secara profesional dilindungi undang-undang.

***

Mengapa manusia badak mudah berkembang biak, sementara badak itu sendiri sulit berkembang biak. Bahkan menurut kabar, badak Sumatera diambang kepunahan, sedangkan di Jawa tinggal 50 sampai 60 ekor saja. Dalam sebuah undang-undang, makhluk ini harus dilindungi, dan dikembangbiakan. Dilarang keras berburu dan membunuh badak-badak.

Pembaca dilarang keras menghubungkan hewan ini dengan antropologi manusianya. Badak dalam tulisan ini hanyalah sebuah metafora, yang menggambarkan sekelompok orang yang tidak tahu malu, manusia tebal muka, yaitu orang-orang yang berperilaku menyimpang seperti tiran, sombong alias ujub, para koruptor, orang yang kurang memiliki sifat fathonah tidak kompeten dan punya kapasitas terus bercokol, dan juga mungkin para “pemburu ijazah palsu”yang lagi ngehits.

Seperti digambarkan Sumardjo (2015), perubahan manusia menjadi badak digambarkan sangat mengerikan dan menakutkan. Pemikiran manusianya sedikit-sedikit berubah menjadi cara berpikir badak. Bukan saja pikirannya berubah menjadi penuh nafsu, tetapi juga tubuhnya bermetamorfosis menjadi tegang dan kaku.

Ia hanya kenal gerak lurus, sukar berbelok, apalagi lenggak-lenggok. Kulitnya menebal seperti kuku. Pendek kata pikirannya dikuasai nafsu dan tubuhnya cuma kenal satu arah, memaksakan kehendaknya pada setiap orang, ujub hanya pendapat mereka yang paling benar.

Kaum badak itu hidup di habitat  dekat dengan sungai dan genangan air. Badak amat bahagia di tanah-tanah becek berlumpur, untuk berkotor-kotor ria, mereka pasti betah membincangkan yang kotor-kotor.

Kalau manusia kena lumpur sedikit buru-buru mandi, atau  berbasuh, tetapi kaum badak ini tenang-tenang saja bergelimang lumpur merah-hitam. Sekali lagi saya tegaskan mungkin gambaran saya keliru mengenai sosok kelompok manusia, yang bertransformasi menjadi kaum badak.

Dan yang mengherankan, adalah kebiasaan buang hajat mereka kaum badak, seperti manusia, buang hajat di tempat yang sama. Bedanya kalau WC manusia tenggelam ke bawah, WC kaum badak menumpuk menjulang ke atas. Kebohongan, dusta atau kotorannya menggunung, hari ke hari kebohongan atau kotorannya sudah mulai tampak dan jelas. Kalau anda melihat tumpukan kotoran yang menggunung dapat dipastikan itulah kotoran badak.

Badak-badak itu kini terus berkeliaran meskipun  mulai kehilangan dukungan, dan arah serudukannya. Populasi  inti kaum badak ini relatif stabil, namun sudah ada yang mulai diam parkir di kubangannya, membuat strategi dan siasat baru yang membuat kehidupan rakyat terancam. Sudah saatnya rakyat berburu kaum badak ini, dengan menjebaknya ramai-ramai, umpannya adalah memancing libido mereka yang kuat. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dokter dan Balian, Sama Namun Berbeda

Next Post

Tidak Ada Tombol “Reset” dalam Pernikahan — Catatan Menonton Film Kembang Eleh dalam Program Layar Kolektif Bali Utara

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails
Next Post
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Tidak Ada Tombol "Reset" dalam Pernikahan -- Catatan Menonton Film Kembang Eleh dalam Program Layar Kolektif Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co