21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Manusia Berubah Menjadi Badak yang Penuh Libido

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 16, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

JAKOB Sumardjo (2015) menulis sebuah perumpamaan (metafora) manusia yang berubah menjadi badak, karena cara berfikirnya dan filosofinya. Kalau mau tetap hidup manusia harus kuat, tidak boleh lemah. Hukum kasih sayang dan harmoni itu membuat manusia lembek seperti ayam sayur. Manusia harus kuat seperti badak. Badak adalah hewan terbesar kedua setelah gajah. Gajah meskipun besar, tapi agak lembek.

Badak adalah segalanya untuk menjadi manusia penguasa, termasuk penguasa panggung. Panggung  sandiwara yang ceritanya hanya kabar burung, dari “burung blekok” yang juga tidak jelas spesiesnya. Penontonnya diminta setengah dipaksa bertepuk tangan atas  kabar “burung blekok” ini sebagai cerita yang benar dan baik, tidak palsu, semua penonton dipaksa mengamini, percaya cerita yang dibawa “burung blekok“ ini.

  Dasar badak, mentang-mentang kulitnya tebal dan keras seperti tank baja, wajahnya juga tebal “muka tembok” tanpa emosi, rasa malunya hampir habis, sudah tidak punya “kemaluan”. Manusia badak ini menyeruduk kesana-sini terus, padahal tidak jelas apa yang dikejar-kejar dan diseruduknya.

Semua gedung pamong praja di geruduk entah apa yang mereka cari, sambil “melenguh” dengan suara yang parau melengking tapi tidak jelas, sulit dibedakan suara vokal atau konsonannya. Tidak hanya gedung milik pamong saja yang diseruduk mereka, rumah orang baik-baik saja mereka seruduk sambil berteriak dengan suara sumbang, dan bau mulutnya yang menyebarkan aroma tidak sedap di mana-mana.

Kumpulan manusia badak ini mengejar-ngejar khayalannya sendiri, bayangannya sendiri, karena sudah hilang akal sehatnya terus mengejar bayang-bayang kepalsuannya sendiri yang mereka sebut “memperjuangkan” kebenaran. Padahal sudah jelas ocehan mereka itu invalid alias cacat, masih ngotot saja. “Ini hasil penelitian,” ujarnya, yang berasal dari kubangan lumpur mereka yang berbau tidak sedap.

Badak biasanya hidup berkelompok. Metafora manusia badak ini hanya ada di kota-kota besar, mungkin anda kurang sependapat, karena badak habitatnya di hutan, hutan lindung lagi. Di Indonesia badak hanya ada di pulau Sumatera dan Jawa, badak Sumatera bercula dua, dan badak Jawa bercula satu, hanya satu-satunya di dunia, tepatnya di Ujung Kulon Banten.

Manusia badak itu mudah berkembang biak hampir di setiap kota tempat berkeliarannya, spisies ini hidupnya dari corong ke corong mikrofonmenyebarkan virus kebencian hatinya, dan kutu-kutu yang memenuhi seluruh anggota tubuhnya dengan tujuan menularkan penyakit yang mereka derita selama ini. Untungnya masyarakat sudah banyak yang mendapatkan imunisasi sehingga tidak mudah tertular penyakit yang sangat berbahaya    “adu domba”  di antara warga yang sakit dan sehat lahir batin.

Sumardjo (2015) menggambarkan kaum badak nafsu libidonya begitu besar sehingga semua yang diinginkannya harus diwujudkan. Manusia badak adalah manusia yang penuh libido. Nafsu besar tenaganya juga besar. Itulah sebabnya badak berbahaya bagi manusia. Nafsu besar itu biasanya menenggelamkan pikiran akal sehatnya.

Apa pun dilakukannya oleh manusia badak ini agar keinginannya terpuaskan. Jelas badak-badak itu tidak kenal malu, tidak kenal teriakan. Tebal muka. Modalnya adalah kekuatan menyeruduk yang luar biasa, peraturan, undang-undang, etika, adab semuanya mereka seruduk. Manusia jenis ini ada pada setiap sudut-sudut belukar perkantoran apa pun.

Makanan kesukaan manusia badak ini, menu utamanya “melanggar aturan, adab etika”, menelan fitnah, menolak semua makanan halal yang disajikan keterangan penjelasan resmi dari lembaga yang bekerja secara profesional dilindungi undang-undang.

***

Mengapa manusia badak mudah berkembang biak, sementara badak itu sendiri sulit berkembang biak. Bahkan menurut kabar, badak Sumatera diambang kepunahan, sedangkan di Jawa tinggal 50 sampai 60 ekor saja. Dalam sebuah undang-undang, makhluk ini harus dilindungi, dan dikembangbiakan. Dilarang keras berburu dan membunuh badak-badak.

Pembaca dilarang keras menghubungkan hewan ini dengan antropologi manusianya. Badak dalam tulisan ini hanyalah sebuah metafora, yang menggambarkan sekelompok orang yang tidak tahu malu, manusia tebal muka, yaitu orang-orang yang berperilaku menyimpang seperti tiran, sombong alias ujub, para koruptor, orang yang kurang memiliki sifat fathonah tidak kompeten dan punya kapasitas terus bercokol, dan juga mungkin para “pemburu ijazah palsu”yang lagi ngehits.

Seperti digambarkan Sumardjo (2015), perubahan manusia menjadi badak digambarkan sangat mengerikan dan menakutkan. Pemikiran manusianya sedikit-sedikit berubah menjadi cara berpikir badak. Bukan saja pikirannya berubah menjadi penuh nafsu, tetapi juga tubuhnya bermetamorfosis menjadi tegang dan kaku.

Ia hanya kenal gerak lurus, sukar berbelok, apalagi lenggak-lenggok. Kulitnya menebal seperti kuku. Pendek kata pikirannya dikuasai nafsu dan tubuhnya cuma kenal satu arah, memaksakan kehendaknya pada setiap orang, ujub hanya pendapat mereka yang paling benar.

Kaum badak itu hidup di habitat  dekat dengan sungai dan genangan air. Badak amat bahagia di tanah-tanah becek berlumpur, untuk berkotor-kotor ria, mereka pasti betah membincangkan yang kotor-kotor.

Kalau manusia kena lumpur sedikit buru-buru mandi, atau  berbasuh, tetapi kaum badak ini tenang-tenang saja bergelimang lumpur merah-hitam. Sekali lagi saya tegaskan mungkin gambaran saya keliru mengenai sosok kelompok manusia, yang bertransformasi menjadi kaum badak.

Dan yang mengherankan, adalah kebiasaan buang hajat mereka kaum badak, seperti manusia, buang hajat di tempat yang sama. Bedanya kalau WC manusia tenggelam ke bawah, WC kaum badak menumpuk menjulang ke atas. Kebohongan, dusta atau kotorannya menggunung, hari ke hari kebohongan atau kotorannya sudah mulai tampak dan jelas. Kalau anda melihat tumpukan kotoran yang menggunung dapat dipastikan itulah kotoran badak.

Badak-badak itu kini terus berkeliaran meskipun  mulai kehilangan dukungan, dan arah serudukannya. Populasi  inti kaum badak ini relatif stabil, namun sudah ada yang mulai diam parkir di kubangannya, membuat strategi dan siasat baru yang membuat kehidupan rakyat terancam. Sudah saatnya rakyat berburu kaum badak ini, dengan menjebaknya ramai-ramai, umpannya adalah memancing libido mereka yang kuat. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dokter dan Balian, Sama Namun Berbeda

Next Post

Tidak Ada Tombol “Reset” dalam Pernikahan — Catatan Menonton Film Kembang Eleh dalam Program Layar Kolektif Bali Utara

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Tidak Ada Tombol "Reset" dalam Pernikahan -- Catatan Menonton Film Kembang Eleh dalam Program Layar Kolektif Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co