11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Manusia Berubah Menjadi Badak yang Penuh Libido

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
July 16, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

JAKOB Sumardjo (2015) menulis sebuah perumpamaan (metafora) manusia yang berubah menjadi badak, karena cara berfikirnya dan filosofinya. Kalau mau tetap hidup manusia harus kuat, tidak boleh lemah. Hukum kasih sayang dan harmoni itu membuat manusia lembek seperti ayam sayur. Manusia harus kuat seperti badak. Badak adalah hewan terbesar kedua setelah gajah. Gajah meskipun besar, tapi agak lembek.

Badak adalah segalanya untuk menjadi manusia penguasa, termasuk penguasa panggung. Panggung  sandiwara yang ceritanya hanya kabar burung, dari “burung blekok” yang juga tidak jelas spesiesnya. Penontonnya diminta setengah dipaksa bertepuk tangan atas  kabar “burung blekok” ini sebagai cerita yang benar dan baik, tidak palsu, semua penonton dipaksa mengamini, percaya cerita yang dibawa “burung blekok“ ini.

  Dasar badak, mentang-mentang kulitnya tebal dan keras seperti tank baja, wajahnya juga tebal “muka tembok” tanpa emosi, rasa malunya hampir habis, sudah tidak punya “kemaluan”. Manusia badak ini menyeruduk kesana-sini terus, padahal tidak jelas apa yang dikejar-kejar dan diseruduknya.

Semua gedung pamong praja di geruduk entah apa yang mereka cari, sambil “melenguh” dengan suara yang parau melengking tapi tidak jelas, sulit dibedakan suara vokal atau konsonannya. Tidak hanya gedung milik pamong saja yang diseruduk mereka, rumah orang baik-baik saja mereka seruduk sambil berteriak dengan suara sumbang, dan bau mulutnya yang menyebarkan aroma tidak sedap di mana-mana.

Kumpulan manusia badak ini mengejar-ngejar khayalannya sendiri, bayangannya sendiri, karena sudah hilang akal sehatnya terus mengejar bayang-bayang kepalsuannya sendiri yang mereka sebut “memperjuangkan” kebenaran. Padahal sudah jelas ocehan mereka itu invalid alias cacat, masih ngotot saja. “Ini hasil penelitian,” ujarnya, yang berasal dari kubangan lumpur mereka yang berbau tidak sedap.

Badak biasanya hidup berkelompok. Metafora manusia badak ini hanya ada di kota-kota besar, mungkin anda kurang sependapat, karena badak habitatnya di hutan, hutan lindung lagi. Di Indonesia badak hanya ada di pulau Sumatera dan Jawa, badak Sumatera bercula dua, dan badak Jawa bercula satu, hanya satu-satunya di dunia, tepatnya di Ujung Kulon Banten.

Manusia badak itu mudah berkembang biak hampir di setiap kota tempat berkeliarannya, spisies ini hidupnya dari corong ke corong mikrofonmenyebarkan virus kebencian hatinya, dan kutu-kutu yang memenuhi seluruh anggota tubuhnya dengan tujuan menularkan penyakit yang mereka derita selama ini. Untungnya masyarakat sudah banyak yang mendapatkan imunisasi sehingga tidak mudah tertular penyakit yang sangat berbahaya    “adu domba”  di antara warga yang sakit dan sehat lahir batin.

Sumardjo (2015) menggambarkan kaum badak nafsu libidonya begitu besar sehingga semua yang diinginkannya harus diwujudkan. Manusia badak adalah manusia yang penuh libido. Nafsu besar tenaganya juga besar. Itulah sebabnya badak berbahaya bagi manusia. Nafsu besar itu biasanya menenggelamkan pikiran akal sehatnya.

Apa pun dilakukannya oleh manusia badak ini agar keinginannya terpuaskan. Jelas badak-badak itu tidak kenal malu, tidak kenal teriakan. Tebal muka. Modalnya adalah kekuatan menyeruduk yang luar biasa, peraturan, undang-undang, etika, adab semuanya mereka seruduk. Manusia jenis ini ada pada setiap sudut-sudut belukar perkantoran apa pun.

Makanan kesukaan manusia badak ini, menu utamanya “melanggar aturan, adab etika”, menelan fitnah, menolak semua makanan halal yang disajikan keterangan penjelasan resmi dari lembaga yang bekerja secara profesional dilindungi undang-undang.

***

Mengapa manusia badak mudah berkembang biak, sementara badak itu sendiri sulit berkembang biak. Bahkan menurut kabar, badak Sumatera diambang kepunahan, sedangkan di Jawa tinggal 50 sampai 60 ekor saja. Dalam sebuah undang-undang, makhluk ini harus dilindungi, dan dikembangbiakan. Dilarang keras berburu dan membunuh badak-badak.

Pembaca dilarang keras menghubungkan hewan ini dengan antropologi manusianya. Badak dalam tulisan ini hanyalah sebuah metafora, yang menggambarkan sekelompok orang yang tidak tahu malu, manusia tebal muka, yaitu orang-orang yang berperilaku menyimpang seperti tiran, sombong alias ujub, para koruptor, orang yang kurang memiliki sifat fathonah tidak kompeten dan punya kapasitas terus bercokol, dan juga mungkin para “pemburu ijazah palsu”yang lagi ngehits.

Seperti digambarkan Sumardjo (2015), perubahan manusia menjadi badak digambarkan sangat mengerikan dan menakutkan. Pemikiran manusianya sedikit-sedikit berubah menjadi cara berpikir badak. Bukan saja pikirannya berubah menjadi penuh nafsu, tetapi juga tubuhnya bermetamorfosis menjadi tegang dan kaku.

Ia hanya kenal gerak lurus, sukar berbelok, apalagi lenggak-lenggok. Kulitnya menebal seperti kuku. Pendek kata pikirannya dikuasai nafsu dan tubuhnya cuma kenal satu arah, memaksakan kehendaknya pada setiap orang, ujub hanya pendapat mereka yang paling benar.

Kaum badak itu hidup di habitat  dekat dengan sungai dan genangan air. Badak amat bahagia di tanah-tanah becek berlumpur, untuk berkotor-kotor ria, mereka pasti betah membincangkan yang kotor-kotor.

Kalau manusia kena lumpur sedikit buru-buru mandi, atau  berbasuh, tetapi kaum badak ini tenang-tenang saja bergelimang lumpur merah-hitam. Sekali lagi saya tegaskan mungkin gambaran saya keliru mengenai sosok kelompok manusia, yang bertransformasi menjadi kaum badak.

Dan yang mengherankan, adalah kebiasaan buang hajat mereka kaum badak, seperti manusia, buang hajat di tempat yang sama. Bedanya kalau WC manusia tenggelam ke bawah, WC kaum badak menumpuk menjulang ke atas. Kebohongan, dusta atau kotorannya menggunung, hari ke hari kebohongan atau kotorannya sudah mulai tampak dan jelas. Kalau anda melihat tumpukan kotoran yang menggunung dapat dipastikan itulah kotoran badak.

Badak-badak itu kini terus berkeliaran meskipun  mulai kehilangan dukungan, dan arah serudukannya. Populasi  inti kaum badak ini relatif stabil, namun sudah ada yang mulai diam parkir di kubangannya, membuat strategi dan siasat baru yang membuat kehidupan rakyat terancam. Sudah saatnya rakyat berburu kaum badak ini, dengan menjebaknya ramai-ramai, umpannya adalah memancing libido mereka yang kuat. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Citra Sebuah Kota Bukan Sekadar Jargon
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dokter dan Balian, Sama Namun Berbeda

Next Post

Tidak Ada Tombol “Reset” dalam Pernikahan — Catatan Menonton Film Kembang Eleh dalam Program Layar Kolektif Bali Utara

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Tidak Ada Tombol "Reset" dalam Pernikahan -- Catatan Menonton Film Kembang Eleh dalam Program Layar Kolektif Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co