10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tidak Ada Tombol “Reset” dalam Pernikahan — Catatan Menonton Film Kembang Eleh dalam Program Layar Kolektif Bali Utara

Komang Dede Arianata by Komang Dede Arianata
July 16, 2025
in Ulas Film
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Satu adegan dalam film Kembang Eleh

DIPUTAR dalam program Layar Kolektif Bali Utara yang digagas Komunitas Singaraja Menonton pada Senin, 23 Juli 2025 di Kedai Cana, Seririt, film Kembang Eleh yang diproduseri oleh Bayu Nata Parisya, tampil sebagai karya sederhana namun sarat makna. Di balik keterbatasan teknisnya, film ini mengangkat isu yang penting, yakni pernikahan dini.

Film ini berkisah tentang Rusdi dan Inayah, dua sejoli yang masih duduk di bangku SMK. Mereka dimabuk cinta, begitu takut kehilangan satu sama lain, hingga memilih jalan yang menurut mereka paling aman. Menikah muda. Keputusan ini mereka ambil tanpa banyak pertimbangan, tanpa kesiapan finansial, emosional, dan mental. Sebuah pilihan yang keliru, namun sangat nyata terjadi di masyarakat kita.

Sebagai penonton, saya terkejut. Bukan karena alur ceritanya yang kompleks, tapi karena kenyataan yang ditampilkan. Saya tidak ingin langsung menyebut mereka bodoh, tapi jelas keputusan yang mereka ambil sangat terburu-buru. Film ini mengingatkan kita bahwa cinta bukan satu-satunya syarat dalam membangun rumah tangga. Cinta butuh ditopang oleh kesiapan dan tanggung jawab, bukan hanya rasa takut kehilangan.

Rusdi dan Inayah bukan sekadar karakter fiksi. Mereka adalah representasi dari banyak anak muda Indonesia yang menikah karena dorongan emosional semata. Data mencatat, pada tahun 2023, angka pernikahan dini di Indonesia mencapai 6,92 persen. Meskipun menurun dari tahun sebelumnya, yakni 8,06 persen, Indonesia tetap berada di peringkat tinggi dalam kasus pernikahan anak. Data ini berasal dari siaran pers Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bertanggal 1 Mei 2024.

Diperkirakan ada sekitar 25,53 juta anak perempuan di Indonesia yang menikah di usia dini. Jumlah itu, menempatkan Indonesia di peringkat ke-4 dunia dalam hal jumlah kasus pernikahan anak. Angka ini bersumber dari laporan UNICEF tahun 2023. Ini bukan angka kecil. Ini adalah gambaran bahwa kita masih punya pekerjaan rumah yang besar dalam dunia pendidikan dan kesadaran sosial.

Melalui tokoh Rusdi, film ini menunjukkan sosok laki-laki muda yang belum matang secara pikiran, namun nekat mengambil peran sebagai kepala keluarga. Ia berjanji, ia membujuk, namun ia tidak menyiapkan apapun. Ketika kenyataan datang, Rusdi goyah. Ia bekerja serabutan, penghasilannya tidak menentu, dan akhirnya tidak mampu menopang keluarga kecilnya. Kehadiran anak justru menjadi beban, bukan anugerah.

Sementara Inayah, adalah gambaran dari banyak perempuan muda yang menyerahkan hidupnya terlalu cepat kepada janji cinta. Ia tidak bertanya, apakah Rusdi mampu membimbing? Apakah ia siap meninggalkan bangku sekolah? Apakah ada masa depan yang akan mereka bangun bersama? Semua keputusan diambil karena rasa takut dan cinta yang belum matang.

  • BACA JUGA:
Sebuah Renungan dari Selinting Rokok — Catatan Film ”Rita Coba Rokok” pada Layar Kolektif Bali Utara

Film ini menyadarkan saya bahwa banyak perempuan muda kehilangan haknya untuk berpikir panjang. Tidak semua dari mereka bodoh. Namun, banyak yang tidak diberi ruang untuk bertanya, ragu, atau menimbang. Mereka diajarkan untuk menerima. Padahal, pernikahan bukan hanya tentang menjaga cinta, tapi tentang membangun hidup bersama dalam realitas.

Secara emosional, Kembang Eleh sangat kuat. Saya merasa sesak ketika melihat perjuangan Rusdi mencari pekerjaan. Ia tampak lelah, tak berdaya, seakan tekad di awal pernikahan telah lenyap oleh kenyataan. Sementara Inayah harus bertahan dalam kondisi rumah tangga yang serba kekurangan. Saya tidak melihat kebahagiaan, yang ada hanya sisa-sisa harapan yang terus menipis.

Namun secara teknis, film ini memang masih perlu pengembangan. Pengambilan gambar masih kurang stabil, pencahayaan belum merata, dialog kadang terdengar kurang jelas, dan beberapa adegan terasa loncat-loncat. Tapi itu semua tidak menutupi keberanian film ini dalam menyampaikan pesan. Justru karena tampil apa adanya, film ini terasa jujur. Ia tidak mencoba memanipulasi perasaan penonton dengan musik atau adegan dramatis, melainkan berbicara langsung dari kenyataan.

Kembang Eleh tidak hanya layak ditonton, tetapi juga layak menjadi bahan diskusi. Film ini bisa diputar di sekolah-sekolah, kampus, komunitas pemuda, bahkan ruang-ruang kebijakan seperti forum pemerintahan. Karena yang dibahas bukan sekadar drama percintaan, melainkan masa depan generasi muda Indonesia.

Pemerintah memang telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang menaikkan batas usia minimal pernikahan. Tapi hukum saja tidak cukup. Budaya yang mendorong pernikahan dini harus dilawan dengan pendidikan kritis. Seperti yang disampaikan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam pidatonya, “we walk the talk, not only talk the talk.” Artinya, harus ada langkah nyata, bukan sekadar retorika.

Anak muda harus diberikan ruang untuk berpikir panjang, untuk menimbang sebelum bertindak. Karena sekali menikah, tidak ada tombol reset, atau mengatur ulang. Ketika langkah sudah diambil, semua tanggung jawab harus diemban. Dan jika belum siap, maka pernikahan hanya akan jadi jalan menuju luka yang berkepanjangan.

  • BACA JUGA:
Menggugat Tradisi dan Menyelamatkan Harga Diri Perempuan dalam Film “Purusa” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara

Kembang Eleh berhasil mengangkat fakta bahwa banyak remaja kita belum siap menghadapi konsekuensi dari keputusan besar. Mereka belum selesai membangun diri, namun sudah dipaksa membangun rumah tangga. Mereka belum tahu arah hidup, namun sudah harus menjadi orang tua.

Ini adalah alarm yang harus kita dengar bersama. Jika kita ingin mencapai visi Indonesia Emas 2045—yakni menciptakan generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global—maka pernikahan dini adalah salah satu hambatan terbesar yang harus diselesaikan sejak sekarang.

Akhir kata, Kembang Eleh adalah film yang mungkin tidak megah secara sinematografi, tapi sangat kuat dari segi pesan. Ia berbicara dengan bahasa yang jujur, menampilkan realita tanpa topeng. Ia mengingatkan kita semua, bahwa cinta itu penting, tapi tidak cukup. Karena kehidupan bukan dibangun dengan cinta saja, melainkan juga dengan kesiapan, kerja keras, dan logika yang sehat. [T]

Penulis: Komang Dede Arianata
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Manusia Berubah Menjadi Badak yang Penuh Libido

Next Post

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Komang Dede Arianata

Komang Dede Arianata

Mahasiswa aktif Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha. Senang mempelajari hal-hal baru dan menemukan solusi untuk situasi yang ada di sekitar

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co