24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tidak Ada Tombol “Reset” dalam Pernikahan — Catatan Menonton Film Kembang Eleh dalam Program Layar Kolektif Bali Utara

Komang Dede Arianata by Komang Dede Arianata
July 16, 2025
in Ulas Film
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Satu adegan dalam film Kembang Eleh

DIPUTAR dalam program Layar Kolektif Bali Utara yang digagas Komunitas Singaraja Menonton pada Senin, 23 Juli 2025 di Kedai Cana, Seririt, film Kembang Eleh yang diproduseri oleh Bayu Nata Parisya, tampil sebagai karya sederhana namun sarat makna. Di balik keterbatasan teknisnya, film ini mengangkat isu yang penting, yakni pernikahan dini.

Film ini berkisah tentang Rusdi dan Inayah, dua sejoli yang masih duduk di bangku SMK. Mereka dimabuk cinta, begitu takut kehilangan satu sama lain, hingga memilih jalan yang menurut mereka paling aman. Menikah muda. Keputusan ini mereka ambil tanpa banyak pertimbangan, tanpa kesiapan finansial, emosional, dan mental. Sebuah pilihan yang keliru, namun sangat nyata terjadi di masyarakat kita.

Sebagai penonton, saya terkejut. Bukan karena alur ceritanya yang kompleks, tapi karena kenyataan yang ditampilkan. Saya tidak ingin langsung menyebut mereka bodoh, tapi jelas keputusan yang mereka ambil sangat terburu-buru. Film ini mengingatkan kita bahwa cinta bukan satu-satunya syarat dalam membangun rumah tangga. Cinta butuh ditopang oleh kesiapan dan tanggung jawab, bukan hanya rasa takut kehilangan.

Rusdi dan Inayah bukan sekadar karakter fiksi. Mereka adalah representasi dari banyak anak muda Indonesia yang menikah karena dorongan emosional semata. Data mencatat, pada tahun 2023, angka pernikahan dini di Indonesia mencapai 6,92 persen. Meskipun menurun dari tahun sebelumnya, yakni 8,06 persen, Indonesia tetap berada di peringkat tinggi dalam kasus pernikahan anak. Data ini berasal dari siaran pers Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bertanggal 1 Mei 2024.

Diperkirakan ada sekitar 25,53 juta anak perempuan di Indonesia yang menikah di usia dini. Jumlah itu, menempatkan Indonesia di peringkat ke-4 dunia dalam hal jumlah kasus pernikahan anak. Angka ini bersumber dari laporan UNICEF tahun 2023. Ini bukan angka kecil. Ini adalah gambaran bahwa kita masih punya pekerjaan rumah yang besar dalam dunia pendidikan dan kesadaran sosial.

Melalui tokoh Rusdi, film ini menunjukkan sosok laki-laki muda yang belum matang secara pikiran, namun nekat mengambil peran sebagai kepala keluarga. Ia berjanji, ia membujuk, namun ia tidak menyiapkan apapun. Ketika kenyataan datang, Rusdi goyah. Ia bekerja serabutan, penghasilannya tidak menentu, dan akhirnya tidak mampu menopang keluarga kecilnya. Kehadiran anak justru menjadi beban, bukan anugerah.

Sementara Inayah, adalah gambaran dari banyak perempuan muda yang menyerahkan hidupnya terlalu cepat kepada janji cinta. Ia tidak bertanya, apakah Rusdi mampu membimbing? Apakah ia siap meninggalkan bangku sekolah? Apakah ada masa depan yang akan mereka bangun bersama? Semua keputusan diambil karena rasa takut dan cinta yang belum matang.

  • BACA JUGA:
Sebuah Renungan dari Selinting Rokok — Catatan Film ”Rita Coba Rokok” pada Layar Kolektif Bali Utara

Film ini menyadarkan saya bahwa banyak perempuan muda kehilangan haknya untuk berpikir panjang. Tidak semua dari mereka bodoh. Namun, banyak yang tidak diberi ruang untuk bertanya, ragu, atau menimbang. Mereka diajarkan untuk menerima. Padahal, pernikahan bukan hanya tentang menjaga cinta, tapi tentang membangun hidup bersama dalam realitas.

Secara emosional, Kembang Eleh sangat kuat. Saya merasa sesak ketika melihat perjuangan Rusdi mencari pekerjaan. Ia tampak lelah, tak berdaya, seakan tekad di awal pernikahan telah lenyap oleh kenyataan. Sementara Inayah harus bertahan dalam kondisi rumah tangga yang serba kekurangan. Saya tidak melihat kebahagiaan, yang ada hanya sisa-sisa harapan yang terus menipis.

Namun secara teknis, film ini memang masih perlu pengembangan. Pengambilan gambar masih kurang stabil, pencahayaan belum merata, dialog kadang terdengar kurang jelas, dan beberapa adegan terasa loncat-loncat. Tapi itu semua tidak menutupi keberanian film ini dalam menyampaikan pesan. Justru karena tampil apa adanya, film ini terasa jujur. Ia tidak mencoba memanipulasi perasaan penonton dengan musik atau adegan dramatis, melainkan berbicara langsung dari kenyataan.

Kembang Eleh tidak hanya layak ditonton, tetapi juga layak menjadi bahan diskusi. Film ini bisa diputar di sekolah-sekolah, kampus, komunitas pemuda, bahkan ruang-ruang kebijakan seperti forum pemerintahan. Karena yang dibahas bukan sekadar drama percintaan, melainkan masa depan generasi muda Indonesia.

Pemerintah memang telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang menaikkan batas usia minimal pernikahan. Tapi hukum saja tidak cukup. Budaya yang mendorong pernikahan dini harus dilawan dengan pendidikan kritis. Seperti yang disampaikan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam pidatonya, “we walk the talk, not only talk the talk.” Artinya, harus ada langkah nyata, bukan sekadar retorika.

Anak muda harus diberikan ruang untuk berpikir panjang, untuk menimbang sebelum bertindak. Karena sekali menikah, tidak ada tombol reset, atau mengatur ulang. Ketika langkah sudah diambil, semua tanggung jawab harus diemban. Dan jika belum siap, maka pernikahan hanya akan jadi jalan menuju luka yang berkepanjangan.

  • BACA JUGA:
Menggugat Tradisi dan Menyelamatkan Harga Diri Perempuan dalam Film “Purusa” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara

Kembang Eleh berhasil mengangkat fakta bahwa banyak remaja kita belum siap menghadapi konsekuensi dari keputusan besar. Mereka belum selesai membangun diri, namun sudah dipaksa membangun rumah tangga. Mereka belum tahu arah hidup, namun sudah harus menjadi orang tua.

Ini adalah alarm yang harus kita dengar bersama. Jika kita ingin mencapai visi Indonesia Emas 2045—yakni menciptakan generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global—maka pernikahan dini adalah salah satu hambatan terbesar yang harus diselesaikan sejak sekarang.

Akhir kata, Kembang Eleh adalah film yang mungkin tidak megah secara sinematografi, tapi sangat kuat dari segi pesan. Ia berbicara dengan bahasa yang jujur, menampilkan realita tanpa topeng. Ia mengingatkan kita semua, bahwa cinta itu penting, tapi tidak cukup. Karena kehidupan bukan dibangun dengan cinta saja, melainkan juga dengan kesiapan, kerja keras, dan logika yang sehat. [T]

Penulis: Komang Dede Arianata
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Manusia Berubah Menjadi Badak yang Penuh Libido

Next Post

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Komang Dede Arianata

Komang Dede Arianata

Mahasiswa aktif Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha. Senang mempelajari hal-hal baru dan menemukan solusi untuk situasi yang ada di sekitar

Related Posts

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails
Next Post
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co