1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tidak Ada Tombol “Reset” dalam Pernikahan — Catatan Menonton Film Kembang Eleh dalam Program Layar Kolektif Bali Utara

Komang Dede Arianata by Komang Dede Arianata
July 16, 2025
in Ulas Film
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Satu adegan dalam film Kembang Eleh

DIPUTAR dalam program Layar Kolektif Bali Utara yang digagas Komunitas Singaraja Menonton pada Senin, 23 Juli 2025 di Kedai Cana, Seririt, film Kembang Eleh yang diproduseri oleh Bayu Nata Parisya, tampil sebagai karya sederhana namun sarat makna. Di balik keterbatasan teknisnya, film ini mengangkat isu yang penting, yakni pernikahan dini.

Film ini berkisah tentang Rusdi dan Inayah, dua sejoli yang masih duduk di bangku SMK. Mereka dimabuk cinta, begitu takut kehilangan satu sama lain, hingga memilih jalan yang menurut mereka paling aman. Menikah muda. Keputusan ini mereka ambil tanpa banyak pertimbangan, tanpa kesiapan finansial, emosional, dan mental. Sebuah pilihan yang keliru, namun sangat nyata terjadi di masyarakat kita.

Sebagai penonton, saya terkejut. Bukan karena alur ceritanya yang kompleks, tapi karena kenyataan yang ditampilkan. Saya tidak ingin langsung menyebut mereka bodoh, tapi jelas keputusan yang mereka ambil sangat terburu-buru. Film ini mengingatkan kita bahwa cinta bukan satu-satunya syarat dalam membangun rumah tangga. Cinta butuh ditopang oleh kesiapan dan tanggung jawab, bukan hanya rasa takut kehilangan.

Rusdi dan Inayah bukan sekadar karakter fiksi. Mereka adalah representasi dari banyak anak muda Indonesia yang menikah karena dorongan emosional semata. Data mencatat, pada tahun 2023, angka pernikahan dini di Indonesia mencapai 6,92 persen. Meskipun menurun dari tahun sebelumnya, yakni 8,06 persen, Indonesia tetap berada di peringkat tinggi dalam kasus pernikahan anak. Data ini berasal dari siaran pers Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bertanggal 1 Mei 2024.

Diperkirakan ada sekitar 25,53 juta anak perempuan di Indonesia yang menikah di usia dini. Jumlah itu, menempatkan Indonesia di peringkat ke-4 dunia dalam hal jumlah kasus pernikahan anak. Angka ini bersumber dari laporan UNICEF tahun 2023. Ini bukan angka kecil. Ini adalah gambaran bahwa kita masih punya pekerjaan rumah yang besar dalam dunia pendidikan dan kesadaran sosial.

Melalui tokoh Rusdi, film ini menunjukkan sosok laki-laki muda yang belum matang secara pikiran, namun nekat mengambil peran sebagai kepala keluarga. Ia berjanji, ia membujuk, namun ia tidak menyiapkan apapun. Ketika kenyataan datang, Rusdi goyah. Ia bekerja serabutan, penghasilannya tidak menentu, dan akhirnya tidak mampu menopang keluarga kecilnya. Kehadiran anak justru menjadi beban, bukan anugerah.

Sementara Inayah, adalah gambaran dari banyak perempuan muda yang menyerahkan hidupnya terlalu cepat kepada janji cinta. Ia tidak bertanya, apakah Rusdi mampu membimbing? Apakah ia siap meninggalkan bangku sekolah? Apakah ada masa depan yang akan mereka bangun bersama? Semua keputusan diambil karena rasa takut dan cinta yang belum matang.

  • BACA JUGA:
Sebuah Renungan dari Selinting Rokok — Catatan Film ”Rita Coba Rokok” pada Layar Kolektif Bali Utara

Film ini menyadarkan saya bahwa banyak perempuan muda kehilangan haknya untuk berpikir panjang. Tidak semua dari mereka bodoh. Namun, banyak yang tidak diberi ruang untuk bertanya, ragu, atau menimbang. Mereka diajarkan untuk menerima. Padahal, pernikahan bukan hanya tentang menjaga cinta, tapi tentang membangun hidup bersama dalam realitas.

Secara emosional, Kembang Eleh sangat kuat. Saya merasa sesak ketika melihat perjuangan Rusdi mencari pekerjaan. Ia tampak lelah, tak berdaya, seakan tekad di awal pernikahan telah lenyap oleh kenyataan. Sementara Inayah harus bertahan dalam kondisi rumah tangga yang serba kekurangan. Saya tidak melihat kebahagiaan, yang ada hanya sisa-sisa harapan yang terus menipis.

Namun secara teknis, film ini memang masih perlu pengembangan. Pengambilan gambar masih kurang stabil, pencahayaan belum merata, dialog kadang terdengar kurang jelas, dan beberapa adegan terasa loncat-loncat. Tapi itu semua tidak menutupi keberanian film ini dalam menyampaikan pesan. Justru karena tampil apa adanya, film ini terasa jujur. Ia tidak mencoba memanipulasi perasaan penonton dengan musik atau adegan dramatis, melainkan berbicara langsung dari kenyataan.

Kembang Eleh tidak hanya layak ditonton, tetapi juga layak menjadi bahan diskusi. Film ini bisa diputar di sekolah-sekolah, kampus, komunitas pemuda, bahkan ruang-ruang kebijakan seperti forum pemerintahan. Karena yang dibahas bukan sekadar drama percintaan, melainkan masa depan generasi muda Indonesia.

Pemerintah memang telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang menaikkan batas usia minimal pernikahan. Tapi hukum saja tidak cukup. Budaya yang mendorong pernikahan dini harus dilawan dengan pendidikan kritis. Seperti yang disampaikan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam pidatonya, “we walk the talk, not only talk the talk.” Artinya, harus ada langkah nyata, bukan sekadar retorika.

Anak muda harus diberikan ruang untuk berpikir panjang, untuk menimbang sebelum bertindak. Karena sekali menikah, tidak ada tombol reset, atau mengatur ulang. Ketika langkah sudah diambil, semua tanggung jawab harus diemban. Dan jika belum siap, maka pernikahan hanya akan jadi jalan menuju luka yang berkepanjangan.

  • BACA JUGA:
Menggugat Tradisi dan Menyelamatkan Harga Diri Perempuan dalam Film “Purusa” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara

Kembang Eleh berhasil mengangkat fakta bahwa banyak remaja kita belum siap menghadapi konsekuensi dari keputusan besar. Mereka belum selesai membangun diri, namun sudah dipaksa membangun rumah tangga. Mereka belum tahu arah hidup, namun sudah harus menjadi orang tua.

Ini adalah alarm yang harus kita dengar bersama. Jika kita ingin mencapai visi Indonesia Emas 2045—yakni menciptakan generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global—maka pernikahan dini adalah salah satu hambatan terbesar yang harus diselesaikan sejak sekarang.

Akhir kata, Kembang Eleh adalah film yang mungkin tidak megah secara sinematografi, tapi sangat kuat dari segi pesan. Ia berbicara dengan bahasa yang jujur, menampilkan realita tanpa topeng. Ia mengingatkan kita semua, bahwa cinta itu penting, tapi tidak cukup. Karena kehidupan bukan dibangun dengan cinta saja, melainkan juga dengan kesiapan, kerja keras, dan logika yang sehat. [T]

Penulis: Komang Dede Arianata
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Manusia Berubah Menjadi Badak yang Penuh Libido

Next Post

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Komang Dede Arianata

Komang Dede Arianata

Mahasiswa aktif Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha. Senang mempelajari hal-hal baru dan menemukan solusi untuk situasi yang ada di sekitar

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co