23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Hartanto by Hartanto
May 5, 2025
in Ulas Rupa
‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Ardika, Jalan Abu-abu, mix media on canvas (croping)

“Jalan Abu2” adalah tajuk lukisan karya Ardika yang dipamerkan pada 18 April hingga 18 Mei di Neka Art Museum, Ubud. Pameran bertajuk “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” ini menandai 29 tahun Komunitas seni Galang Kangin (KSGK).

Karya Ardika ini merupakan sebuah eksplorasi visual yang menarik, mengangkat tema alam dengan pendekatan abstrak. Ardika, tampaknya berusaha menangkap esensi garis-garis alam yang masih melekat di ingatannya, melalui penggunaan warna-warna seperti abu-abu, cokelat, biru, dan oranye. Komposisi ini menciptakan suasana yang mengingatkan pada lanskap alam yang acap berubah atau terhapus oleh waktu.

Garis-garis dan warna yang acap saya sebut sebagai bagian dari ‘bahasa visual’ dalam karya ini,  dapat dianalisis sebagai simbol memori alam yang mulai memudar. Abu-abu mungkin melambangkan transisi atau kehilangan, sementara warna-warna cerah seperti biru dan oranye memberikan harapan atau energi. Karya ini dapat dilihat  sebagai upaya manusia menjaga hubungan dengan alam. Penggunaan tekstur dan bentuk geometris menciptakan dialog antara elemen alam dan interpretasi manusia terhadapnya, terkesan lebih memberikan kedalaman pada karya ini.

Menurut Ardika, lukisannya ini lebih menonjolkan kesepontanan – apakah itu garis,warna,kolase, maupun tekstur – timbul secara spontan dan tidak didasari atas pertimbangan akan hasilnya. Semua blok warna, garis terjadi berdasarkan atas gerak reflek. Ini, kata Ardika, di pengaruhi kecintaan nya pada alam di sekitar apakah gunung, laut, air, batu, pohon dan anasir alam lainnya

Pendekatan kespontanan dalam lukisan seperti Ardika ini menggambarkan koneksi yang autentik antara seniman dan lingkungannya. Proses spontan yang tidak didasari atas pertimbangan hasil menjadi representasi dari ekspresi murni dan intuitif. Blok warna, garis, serta tekstur yang timbul secara refleks memperkuat hubungan emosional antara seniman dan elemen alam yang menginspirasi karya tersebut.

Karya yang lahir dari proses spontan ini menonjolkan keindahan spontanitas pula, menciptakan hasil yang unik dan sulit diulang. Pola-pola tekstur yang timbul dan perpaduan warna yang apik – mencerminkan hubungan organik dengan dunia natural di sekitarnya.

Ardika, Tanah, Mix Media on Canvas

Inspirasi dari alam, menyiratkan harmoni dan kedalaman emosional yang tak terbatas. Interpretasi saya, lukisan ini menjadi penghormatan pada keindahan alam sekaligus seruan untuk mengapresiasi keajaiban yang sering kali terlupakan. Dengan eksplorasi ini, karya Ardika menjadi lebih dari sekadar seni visual, tetapi juga jembatan antara kepekaan terhadap lingkungan dan ekspresi emosional murni.

Pendekatan kespontanan dalam seni seperti ini sering kali mencerminkan kebebasan ekspresi dan koneksi emosional yang mendalam dengan lingkungan sekitar. Ardika tampaknya membiarkan gerak refleksnya membentuk komposisi tanpa intervensi rasional yang berlebihan, sehingga menghasilkan karya yang lebih intuitif dan alami. Ini juga bisa dilihat sebagai bentuk meditasi visual, di mana setiap sapuan warna dan garis menjadi cerminan dari pengalaman dan perasaan seniman terhadap alam.

Jika kita melihat lebih luas, pendekatan seperti ini memiliki kemiripan dengan beberapa aliran seni abstrak yang menekankan spontanitas dan ekspresi emosional, seperti ekspresionisme abstrak. Seniman seperti Jackson Pollock juga menggunakan teknik spontan dalam penciptaan karya nya, meskipun dengan pendekatan yang berbeda. Kalau hendak memakai pendekatan sosiologi dalam menganalisis karya seni, termasuk lukisan Ardika ini – tentunya berfokus pada hubungan antara seni dan masyarakat.

Dalam perspektif sosiologi, seni berfungsi sebagai alat komunikasi yang menyampaikan pesan atau emosi dan imajinasi perupanya, kepada masyarakat. Ardika, melalui pendekatan spontan dalam lukisannya, mungkin ingin menyampaikan hubungan emosional dan imajinasinya dengan alam, yang bisa menjadi bentuk komunikasi tentang pentingnya keseimbangan ekologi dan kesadaran lingkungan.

Lukisan Ardika yang menonjolkan spontanitas dapat dilihat sebagai refleksi dari dinamika sosial dan budaya di sekitarnya. Spontanitas dalam seni sering kali mencerminkan kebebasan berekspresi yang berkembang dalam masyarakat tertentu, terutama yang memiliki keterbukaan terhadap eksplorasi artistik.

Kalau hendak memakai pendakatan interaksi simbolik, ini menekankan bagaimana individu dan kelompok memberikan makna terhadap simbol dalam kehidupan sosial. Dalam konteks lukisan Ardika, warna, garis, dan tekstur yang muncul secara refleks dapat diinterpretasikan sebagai simbol dari elemen alam yang amat dekat dengan dirinya.

Masyarakat yang melihat karya ini mungkin akan memberikan interpretasi yang berbeda berdasarkan pengalaman dan latar belakang mereka masing-masing. Seni sering kali dipengaruhi oleh struktur sosial memang, termasuk kelas sosial, ekonomi, dan budaya. Jika Ardika berasal dari lingkungan yang dekat dengan alam, maka konsennya terhadap elemen alam dalam lukisannya – bisa menjadi representasi berdasar latar belakang sosialnya.

Lebih lanjut, mari kita telisik karya Ardika yang bertajuk “Tanah”. Lukisan Tanah karya Ardika memiliki komposisi yang menarik dengan perpaduan warna-warna dinamis di bagian atas dan nuansa abu-abu yang lebih tenang di bagian bawah. Dengan pendekatan teori bebas, kita bisa melihat karya ini sebagai refleksi dari hubungan manusia dengan alam, ruang dan semesta yang lebih luas.

Bagian atas yang penuh warna bisa melambangkan kehidupan, energi, atau bahkan konflik, sementara bagian bawah yang lebih redup menciptakan kesan ketenangan atau upaya perenungan. Garis-garis hitam yang muncul di area abu-abu mungkin merepresentasikan batasan atau perubahan dalam lanskap, baik secara fisik maupun metaforis. Permainan cahaya dan lelehan – bisa menjadi simbol peradaban, teknologi, narasi atau bahkan kenangan yang tertutup oleh lapisan abu-abu.

Jika kita melihatnya dari perspektif ekspresionisme, lukisan ini bisa menjadi ekspresi emosional tentang perubahan lingkungan atau perasaan terhadap tanah sebagai elemen fundamental kehidupan. Sementara itu, pendekatan semiotik bisa mengungkap bagaimana setiap elemen visual dalam lukisan ini berfungsi sebagai tanda yang membawa makna tertentu. Berkait dengan pendekatan Semiotik, saya jadi tertarik untuk memadankan karya Ardika dengan karya pelukis Cina, Chu Teh-Chun.

Ardika, Jalan Abu-abu, Mix Media on Canvas

Pendekatan semiotik dalam menganalisis karya Chu Teh-Chun dapat mengungkap bagaimana elemen visual dalam lukisannya berfungsi sebagai tanda yang membawa makna tertentu. Sebagai seniman yang menggabungkan tradisi seni Tiongkok dengan modernisme Barat, karya-karyanya sering kali mencerminkan dialog antara dua budaya. Meskipun abstrak, beberapa lukisannya memiliki struktur yang menyerupai kaligrafi, yang bisa diartikan sebagai upaya untuk menghubungkan tradisi dengan ekspresi modern.

Menurut saya,  Chu mengkreasi system tanda dari huruf-huruf (kanji) Cina – untuk menemukan makna yang ingin diekspresikan. Demikian juga dengan Ardika, ia menciptakan karya yang tidak hanya bersifat visual tetapi juga konseptual – di mana setiap elemen dalam lukisannya dapat dianalisis sebagai bagian dari sistem tanda yang membentuk makna

Begitulah analisa saya tentang karya Ardika dengan pendekatan semiotika. Penggunaan warna dalam lukisannya sering kali menciptakan atmosfer emosional yang kuat. Warna-warna yang berbaur tanpa batas bisa melambangkan transisi, dinamika kesemestaan, atau bahkan pencarian identitas. Teknik ekspresifnya mencerminkan energi dan gerakan, yang dapat diinterpretasikan sebagai simbol dari dinamika kehidupan atau perubahan alam. Sementara itu, ketiadaan bentuk figuratif yang jelas memungkinkan interpretasi yang lebih luas, di mana setiap elemen dalam lukisan dapat menjadi tanda yang membawa makna subjektif bagi penikmat. Ini, juga membuka ruang ‘multi interpretabilitas’ bagi audiensnya. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana

Next Post

“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails
Next Post
“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co