8 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Hartanto by Hartanto
May 5, 2025
in Ulas Rupa
‘Semiotika Senirupa’ Ardika

Ardika, Jalan Abu-abu, mix media on canvas (croping)

“Jalan Abu2” adalah tajuk lukisan karya Ardika yang dipamerkan pada 18 April hingga 18 Mei di Neka Art Museum, Ubud. Pameran bertajuk “Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin” ini menandai 29 tahun Komunitas seni Galang Kangin (KSGK).

Karya Ardika ini merupakan sebuah eksplorasi visual yang menarik, mengangkat tema alam dengan pendekatan abstrak. Ardika, tampaknya berusaha menangkap esensi garis-garis alam yang masih melekat di ingatannya, melalui penggunaan warna-warna seperti abu-abu, cokelat, biru, dan oranye. Komposisi ini menciptakan suasana yang mengingatkan pada lanskap alam yang acap berubah atau terhapus oleh waktu.

Garis-garis dan warna yang acap saya sebut sebagai bagian dari ‘bahasa visual’ dalam karya ini,  dapat dianalisis sebagai simbol memori alam yang mulai memudar. Abu-abu mungkin melambangkan transisi atau kehilangan, sementara warna-warna cerah seperti biru dan oranye memberikan harapan atau energi. Karya ini dapat dilihat  sebagai upaya manusia menjaga hubungan dengan alam. Penggunaan tekstur dan bentuk geometris menciptakan dialog antara elemen alam dan interpretasi manusia terhadapnya, terkesan lebih memberikan kedalaman pada karya ini.

Menurut Ardika, lukisannya ini lebih menonjolkan kesepontanan – apakah itu garis,warna,kolase, maupun tekstur – timbul secara spontan dan tidak didasari atas pertimbangan akan hasilnya. Semua blok warna, garis terjadi berdasarkan atas gerak reflek. Ini, kata Ardika, di pengaruhi kecintaan nya pada alam di sekitar apakah gunung, laut, air, batu, pohon dan anasir alam lainnya

Pendekatan kespontanan dalam lukisan seperti Ardika ini menggambarkan koneksi yang autentik antara seniman dan lingkungannya. Proses spontan yang tidak didasari atas pertimbangan hasil menjadi representasi dari ekspresi murni dan intuitif. Blok warna, garis, serta tekstur yang timbul secara refleks memperkuat hubungan emosional antara seniman dan elemen alam yang menginspirasi karya tersebut.

Karya yang lahir dari proses spontan ini menonjolkan keindahan spontanitas pula, menciptakan hasil yang unik dan sulit diulang. Pola-pola tekstur yang timbul dan perpaduan warna yang apik – mencerminkan hubungan organik dengan dunia natural di sekitarnya.

Ardika, Tanah, Mix Media on Canvas

Inspirasi dari alam, menyiratkan harmoni dan kedalaman emosional yang tak terbatas. Interpretasi saya, lukisan ini menjadi penghormatan pada keindahan alam sekaligus seruan untuk mengapresiasi keajaiban yang sering kali terlupakan. Dengan eksplorasi ini, karya Ardika menjadi lebih dari sekadar seni visual, tetapi juga jembatan antara kepekaan terhadap lingkungan dan ekspresi emosional murni.

Pendekatan kespontanan dalam seni seperti ini sering kali mencerminkan kebebasan ekspresi dan koneksi emosional yang mendalam dengan lingkungan sekitar. Ardika tampaknya membiarkan gerak refleksnya membentuk komposisi tanpa intervensi rasional yang berlebihan, sehingga menghasilkan karya yang lebih intuitif dan alami. Ini juga bisa dilihat sebagai bentuk meditasi visual, di mana setiap sapuan warna dan garis menjadi cerminan dari pengalaman dan perasaan seniman terhadap alam.

Jika kita melihat lebih luas, pendekatan seperti ini memiliki kemiripan dengan beberapa aliran seni abstrak yang menekankan spontanitas dan ekspresi emosional, seperti ekspresionisme abstrak. Seniman seperti Jackson Pollock juga menggunakan teknik spontan dalam penciptaan karya nya, meskipun dengan pendekatan yang berbeda. Kalau hendak memakai pendekatan sosiologi dalam menganalisis karya seni, termasuk lukisan Ardika ini – tentunya berfokus pada hubungan antara seni dan masyarakat.

Dalam perspektif sosiologi, seni berfungsi sebagai alat komunikasi yang menyampaikan pesan atau emosi dan imajinasi perupanya, kepada masyarakat. Ardika, melalui pendekatan spontan dalam lukisannya, mungkin ingin menyampaikan hubungan emosional dan imajinasinya dengan alam, yang bisa menjadi bentuk komunikasi tentang pentingnya keseimbangan ekologi dan kesadaran lingkungan.

Lukisan Ardika yang menonjolkan spontanitas dapat dilihat sebagai refleksi dari dinamika sosial dan budaya di sekitarnya. Spontanitas dalam seni sering kali mencerminkan kebebasan berekspresi yang berkembang dalam masyarakat tertentu, terutama yang memiliki keterbukaan terhadap eksplorasi artistik.

Kalau hendak memakai pendakatan interaksi simbolik, ini menekankan bagaimana individu dan kelompok memberikan makna terhadap simbol dalam kehidupan sosial. Dalam konteks lukisan Ardika, warna, garis, dan tekstur yang muncul secara refleks dapat diinterpretasikan sebagai simbol dari elemen alam yang amat dekat dengan dirinya.

Masyarakat yang melihat karya ini mungkin akan memberikan interpretasi yang berbeda berdasarkan pengalaman dan latar belakang mereka masing-masing. Seni sering kali dipengaruhi oleh struktur sosial memang, termasuk kelas sosial, ekonomi, dan budaya. Jika Ardika berasal dari lingkungan yang dekat dengan alam, maka konsennya terhadap elemen alam dalam lukisannya – bisa menjadi representasi berdasar latar belakang sosialnya.

Lebih lanjut, mari kita telisik karya Ardika yang bertajuk “Tanah”. Lukisan Tanah karya Ardika memiliki komposisi yang menarik dengan perpaduan warna-warna dinamis di bagian atas dan nuansa abu-abu yang lebih tenang di bagian bawah. Dengan pendekatan teori bebas, kita bisa melihat karya ini sebagai refleksi dari hubungan manusia dengan alam, ruang dan semesta yang lebih luas.

Bagian atas yang penuh warna bisa melambangkan kehidupan, energi, atau bahkan konflik, sementara bagian bawah yang lebih redup menciptakan kesan ketenangan atau upaya perenungan. Garis-garis hitam yang muncul di area abu-abu mungkin merepresentasikan batasan atau perubahan dalam lanskap, baik secara fisik maupun metaforis. Permainan cahaya dan lelehan – bisa menjadi simbol peradaban, teknologi, narasi atau bahkan kenangan yang tertutup oleh lapisan abu-abu.

Jika kita melihatnya dari perspektif ekspresionisme, lukisan ini bisa menjadi ekspresi emosional tentang perubahan lingkungan atau perasaan terhadap tanah sebagai elemen fundamental kehidupan. Sementara itu, pendekatan semiotik bisa mengungkap bagaimana setiap elemen visual dalam lukisan ini berfungsi sebagai tanda yang membawa makna tertentu. Berkait dengan pendekatan Semiotik, saya jadi tertarik untuk memadankan karya Ardika dengan karya pelukis Cina, Chu Teh-Chun.

Ardika, Jalan Abu-abu, Mix Media on Canvas

Pendekatan semiotik dalam menganalisis karya Chu Teh-Chun dapat mengungkap bagaimana elemen visual dalam lukisannya berfungsi sebagai tanda yang membawa makna tertentu. Sebagai seniman yang menggabungkan tradisi seni Tiongkok dengan modernisme Barat, karya-karyanya sering kali mencerminkan dialog antara dua budaya. Meskipun abstrak, beberapa lukisannya memiliki struktur yang menyerupai kaligrafi, yang bisa diartikan sebagai upaya untuk menghubungkan tradisi dengan ekspresi modern.

Menurut saya,  Chu mengkreasi system tanda dari huruf-huruf (kanji) Cina – untuk menemukan makna yang ingin diekspresikan. Demikian juga dengan Ardika, ia menciptakan karya yang tidak hanya bersifat visual tetapi juga konseptual – di mana setiap elemen dalam lukisannya dapat dianalisis sebagai bagian dari sistem tanda yang membentuk makna

Begitulah analisa saya tentang karya Ardika dengan pendekatan semiotika. Penggunaan warna dalam lukisannya sering kali menciptakan atmosfer emosional yang kuat. Warna-warna yang berbaur tanpa batas bisa melambangkan transisi, dinamika kesemestaan, atau bahkan pencarian identitas. Teknik ekspresifnya mencerminkan energi dan gerakan, yang dapat diinterpretasikan sebagai simbol dari dinamika kehidupan atau perubahan alam. Sementara itu, ketiadaan bentuk figuratif yang jelas memungkinkan interpretasi yang lebih luas, di mana setiap elemen dalam lukisan dapat menjadi tanda yang membawa makna subjektif bagi penikmat. Ini, juga membuka ruang ‘multi interpretabilitas’ bagi audiensnya. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana

Next Post

“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

“Oryzamorgana” Karya Ketut Putrayasa:  Ilusi di Balik Onggokan Gabah  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

by Asep Kurnia
May 7, 2026
Tengah Malam Rokok Habis                           
Esai

Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

by Angga Wijaya
May 7, 2026
Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program...

by Dede Putra Wiguna
May 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

by Sugi Lanus
May 7, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Bermain dengan Jin Tengah Malam

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

by Chusmeru
May 7, 2026
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup
Ulas Rupa

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi
Ulas Film

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

by Made Adnyana
May 6, 2026
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co