22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

Asep Kurnia by Asep Kurnia
May 7, 2026
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila perkembangan teknologi tidak terkendali dan tidak  ada hukum pengendalian yang tegas dan mengikat. Penggunaan senjata nuklir pada  perang adalah bencana yang ditafsirkan akan sangat mengerikan bagi keberlangsungan kehidupan di bumi ini.

Salah satu yang menjadi kekhawatiran dunia saat ini adalah dampak akibat perang,  katakanlah ( sebagai contoh) perang di Teluk Persia antara Iran vs Amerika dan Israel masih berkecamuk dan belum ada tanda-tanda mereda walau ada negosiasi dan ajuan  gencatan senjata, telah dengan sadar meluluh lantakan dan merusak lingkungannya masing-masing oleh gempuran rudal-rudal balistik. Itu contoh bencana alam yang betul-betul diciptakan dan disengaja dengan kesadaran ingin merusak dan melumpuhkan lawan.

Bencana alam lainnnya kini menjadi ancaman serius bagi Indonesia selain karena natural, di wilayah negara kita, terjadi kombinasi antara kondisi geografis Indonesia yang rawan (terletak di  ring of fire) dan penurunan daya dukung lingkungan akibat ulah manusia, membuat risiko bencana semakin tinggi. Untuk bukti-bukti   silahkan jejak digital tentang kebencanaan di negara kita tinggal di klik saja.

Berdasarkan faktor pemicu, para pakar berpendapat selain faktor alam yaitu geologis (pergerakan bumi), kilmatologis ( cuaca ekstrem) ada pemicu faktor aktivitas manusia (antropogenik) seperti  deforestasi dan alih fungsi,  pengelolaan drainase dan sampah yang buruk serta pembangunan yang tidak tertata.

Bencana alam juga bisa terjadi akibat faktor fenomena luar angkasa seperti hujan meteor atau badai  matahari ( ekstraterestial ) dianggap ikut pula memicu terjadinya bencana alam yang tak terduga meskipun tidak secara langsung berdampak drastis ke permukaan bumi.

Rutinitas terjadinya  bencana banjir dan longsor tiap tahun yang terjadi di negara Indoensia disepakati oleh berbagai pihak yang meneliti, penyebab utamanya ternyata lebih diakibatkan oleh aktivitas manusia yang serampangan dan sembrono. Salah satunya akibat dari tindakan  deforestasi yang terjadi di hampir setiap pulau.

Pengrusakan hutan yang terus menerus dilakukan atas nama alih fungsi lahan,  pembalakan kayu ( llegal logging) dan pembangunan yang tanpa mengindahkan  amdal telah hampir merusak semua kehidupan kesukuan  (Komunitas Adat Terpencil ) yang mendiami disekitar hutan tersebut. Kini sebagian besar dari mereka sudah merasa asing hidup di daerahnya , bahkan banyak dari mereka terdepak dari tanah leluhurnya.

Ekploitasi sumber daya alam yang makin hari makin melebar dan menyebar di berbagai wilayah terutama pertambangan ilegal dan deforestasi  telah menjadi bukti akurat  sebagai penyebab sekaligus penyumbang  utama terjadi bencana alam di negeri kita, temasuk pengrusakan  pola kehidupan kesukuan yang mendiami wilayah tersebut.

Bagaimana dengan suku Baduy di mana tanah ulayat  atau pemukimannya dekat sekali dengan kota modern Jakarta sebagai ibu kota  negara ? Apakah ikut terdampak oleh eksploitasi dan deforestasi ?

Baduy Sangat  Menentang Deforestasi

Sejak awal, Baduy sudah mengaklamasikan atau memproklamirkan diri bahwa kesukuan mereka lahir ke bumi ini mengemban tugas pokok dan mulia yaitu ‘ menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam dengan bunyi pasal konstitusinya : “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung” (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh di sambung) yang kemudian dikuatkan atau dipertegas oleh ayat konstitusi :” gunung teu meunang dilebur, lembah teu meunang diruksak” (gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak).

Konsep menjaga alam begitu melekat pada mereka sehingga pasal dan ayat konstitusi mereka tidak hanya ditulis atau sekedar dilisankan tetapi diaplikasikan dan diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari mereka ke dalam bentuk kegiatan-kegiatan kalender adat mereka salah satunya diterapkan dalam kegiatan ngahuma, yang tidak boleh merubah kontur tanah (digali /dicangkul), kemudian dalam pembuatan rumah sederhana model panggung tidak boleh menggunakan bahan modern.

Pelestarian hutan dengan konsep baku adanya Hutan Titipan atau Hutan Tutupan seluas 3000 hektar yang notabene tidak boleh diusik oleh siapa pun termasuk oleh warga Baduy sekali pun. Hutan tersebut dijaga dipelihara keasliannya dan dibiarkan tumbuh sesuai kehendak alam. Pengeploitasian dan atau penggundulan hutan adalah pelanggaran yang tidak mungkin mereka lakukan. Lokasi hutan tersebut hanya boleh diinjak selama 3 hari dalam setahun saat ritual muja saja.

Begitu terang benderang nya pasal dan ayat konsitusi hukum adat Baduy terhadap penjagaan keseimbangan alam yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, dengan kalimat saklek “Hutan tidak boleh dirusak “. Sementara deforestasi adalah merubah hutan menjadi non-hutan yang didahului oleh perusakan dengan dalih alih fungsi.

Deskripsi di atas memberikan penjelasan yang sangat gamblang bagi kita semua, bahwa tugas kesukuan Baduy  :” Menjaga Keseimbangan dan Keharmonian Alam ” sangat tidak sinkron sekali dengan konsep pengrusakan hutan bernama deforestasi. Baduy sangat mentabukan atau mem-buyut-kan dan mem-pamali-kan semua perilaku yang mengarahkan pada pengrusakan hutan walaupun dengan dalih alih fungsi.

Menurut pandangan penulis, tak ada satu kesukuan pun yang memiliki konsep hukum adat seperti suku Baduy yang secara saklek melarang hutan / gunung dirusak. Bukti nyata bahwa suku Baduy konsen pada pemeliharaan hutan, pada setiap acara ritual Seba Baduy selalu mengingatkan bahwa pemerintah dan negara wajib melindungi dan menjaga hutan dari berbagai rongrongan pengrusakan.

Jadi,  hanya dengan menyandingkan satu pasal dan satu ayat konstitusi hukum adat mereka, maka jelas sekali bagi Baduy, bahwa : “deforestasi itu sangat bertentangan dan berlawanan dengan konsep tugas kesukuan mereka. Deforestasi adalah musuh kebuyutan hukum adat Baduy” (Asep Kurnia, 7 April 2026 ).

  • Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, 7 Mei 2026
Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tengah Malam Rokok Habis                           

Next Post

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails
Next Post
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co