1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 8, 2026
in Esai
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi | Sumber foto: Wikipedia

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun

Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh dari sorotan publik. Namun, hasil kerja mereka perlahan mengubah arah sejarah manusia. Demikian pula dengan Shimon Sakaguchi, Mary E. Brunkow, dan Fred Ramsdell, tiga ilmuwan yang dianugerahi Nobel Prize dalam Fisiologi dan Kedokteran 2025 atas penemuan tentang mekanisme toleransi imun perifer.

Sakaguchi berasal dari Jepang dan dikenal sebagai pelopor penelitian regulatory T cells atau Treg. Ia tumbuh dalam tradisi akademik yang kuat dan sejak awal tertarik memahami bagaimana tubuh manusia mampu menjaga keseimbangan dirinya sendiri. Pada awal 1990-an, ketika banyak ilmuwan fokus pada cara sistem imun menyerang penyakit, Sakaguchi justru bertanya: siapa yang mengendalikan sistem imun agar tidak menyerang tubuh sendiri?

Sementara itu, Mary Brunkow dan Fred Ramsdell di Amerika Serikat meneliti penyakit autoimun yang tampak misterius. Mereka menemukan bahwa kerusakan gen tertentu, FOXP3, menyebabkan sistem imun kehilangan kemampuan mengendalikan diri. Penelitian mereka akhirnya menjadi kunci untuk memahami fungsi biologis sel T regulator yang ditemukan Sakaguchi.

Ketiganya berasal dari latar budaya dan disiplin yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu pencarian: memahami keseimbangan kehidupan. Penemuan mereka menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak lahir dari ambisi pribadi semata, melainkan dari ketekunan, rasa ingin tahu, dan keberanian mempertanyakan asumsi lama.

Penemuan Sel T-Regulator yang Mengubah Dunia Medis

Selama puluhan tahun, sistem imun dipahami sebagai “tentara tubuh” yang bertugas melawan virus, bakteri, dan ancaman lain. Semakin agresif sistem imun bekerja, semakin baik tubuh dianggap mampu bertahan hidup. Namun, paradigma ini ternyata tidak sepenuhnya benar.

Sakaguchi menemukan bahwa tubuh memiliki kelompok khusus sel imun yang justru bertugas menahan agresivitas sistem imun. Sel itu disebut regulatory T cells atau Treg. Tanpa sel ini, tubuh dapat menyerang dirinya sendiri dan memicu penyakit autoimun seperti lupus, diabetes tipe 1, rheumatoid arthritis, dan berbagai peradangan kronis.

Penemuan tersebut kemudian diperkuat oleh Brunkow dan Ramsdell melalui identifikasi gen FOXP3. Mereka membuktikan bahwa gen tersebut adalah pengatur utama fungsi Treg. Ketika gen itu rusak, sistem imun menjadi kacau dan kehilangan kemampuan membedakan “musuh” dan “diri sendiri”.

Dampak penemuan ini luar biasa besar. Dunia medis mulai memahami bahwa kesehatan bukan sekadar kemampuan menyerang penyakit, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan. Dalam konteks transplantasi organ, misalnya, terapi berbasis Treg kini dikembangkan agar tubuh tidak menolak organ baru. Dalam pengobatan kanker, para ilmuwan mempelajari bagaimana mengatur Treg agar sistem imun dapat menyerang sel kanker secara efektif tanpa merusak jaringan sehat.

Penemuan ini juga membawa pesan filosofis yang mendalam. Tubuh manusia ternyata bertahan hidup bukan hanya karena kekuatan menyerang, tetapi juga karena kemampuan menahan diri. Kehidupan biologis bekerja melalui keseimbangan, bukan ekstremitas.

Kolaborasi Ilmiah: Ketika Pengetahuan Mengalahkan Ego Kompetisi

Dunia modern sering dipenuhi persaingan. Dalam politik, ekonomi, bahkan akademik, manusia berlomba menjadi yang paling unggul. Tidak jarang pengetahuan berubah menjadi arena perebutan prestise dan pengaruh. Namun, kisah Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi menunjukkan sisi lain dari ilmu pengetahuan: kolaborasi.

Sakaguchi menemukan keberadaan sel T regulator. Akan tetapi, penemuannya belum lengkap tanpa penjelasan genetis. Di sinilah penelitian Brunkow dan Ramsdell menjadi pelengkap penting. Mereka mengungkap bahwa FOXP3 adalah “master switch” yang mengatur fungsi Treg.

Alih-alih saling menjatuhkan atau mengklaim kebenaran tunggal, penelitian mereka justru membentuk mata rantai pengetahuan yang saling menguatkan. Penemuan satu pihak membuka jalan bagi penemuan pihak lain. Dalam dunia yang sering terpecah oleh ego dan kepentingan, kerja sama ilmiah ini menjadi teladan penting.

Kolaborasi mereka mengingatkan bahwa kemajuan besar peradaban biasanya lahir dari sinergi. Tidak ada satu ilmuwan pun yang mampu memahami seluruh kompleksitas kehidupan sendirian. Pengetahuan berkembang ketika manusia bersedia mendengarkan, berbagi, dan saling melengkapi.

Di tengah budaya media sosial yang sering mendorong polarisasi dan pencarian popularitas instan, kisah trio Nobel ini menghadirkan pesan berbeda: kemanusiaan maju bukan karena siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling tulus mencari kebenaran bersama.

Membaca Penemuan Mereka melalui Perspektif Hawkins

Pemikiran David R. Hawkins tentang kesadaran manusia memberikan perspektif menarik untuk membaca penemuan trio Nobel ini. Dalam karya-karyanya seperti Power vs. Force dan Map of Consciousness, Hawkins menjelaskan bahwa tingkat kesadaran manusia menentukan kualitas tindakan dan peradaban.

Menurut Hawkins, kesadaran rendah cenderung bekerja secara reaktif, agresif, dan penuh ketakutan. Sebaliknya, kesadaran tinggi bekerja melalui keseimbangan, pemahaman, dan harmoni. Jika dianalogikan dengan sistem imun, kesadaran rendah mirip sistem imun yang menyerang tanpa kendali, sedangkan kesadaran tinggi menyerupai sistem imun yang memiliki mekanisme regulasi.

Penemuan Treg menjadi metafora biologis yang menarik bagi kondisi manusia modern. Tubuh manusia ternyata membutuhkan “kecerdasan pengendali” agar tidak menghancurkan dirinya sendiri. Demikian pula masyarakat modern membutuhkan kesadaran kolektif agar kemajuan teknologi tidak berubah menjadi kekuatan destruktif.

Saat ini manusia memiliki kecerdasan luar biasa dalam bidang teknologi, kecerdasan buatan, senjata, dan eksplorasi ruang angkasa. Namun, tanpa kesadaran, semua itu dapat berbalik menghancurkan manusia sendiri. Konflik sosial, perang, polarisasi politik, hingga kerusakan lingkungan menunjukkan bahwa peradaban modern sering bertindak seperti sistem imun yang kehilangan regulator.

Dalam perspektif Hawkins, evolusi manusia sejati bukan sekadar kemajuan material, tetapi peningkatan kesadaran. Penemuan Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi secara tidak langsung mengingatkan bahwa hukum keseimbangan berlaku bukan hanya dalam tubuh, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan spiritual manusia.

Pelajaran bagi Manusia Modern: Menjaga Dunia tanpa Menghancurkan Diri Sendiri

Penemuan ilmiah kadang memberi lebih dari sekadar solusi medis. Ia juga memberi cermin bagi peradaban manusia. Kisah trio Nobel ini menghadirkan refleksi mendalam tentang keadaan dunia saat ini.

Manusia modern hidup di era kemajuan luar biasa. Teknologi berkembang cepat, informasi bergerak dalam hitungan detik, dan kecerdasan buatan mulai mengubah hampir seluruh bidang kehidupan. Namun, di balik kemajuan itu, dunia juga menghadapi krisis besar: polarisasi sosial, perang, intoleransi, kecemasan kolektif, dan kerusakan lingkungan.

Dalam banyak hal, manusia tampak seperti sistem imun yang kehilangan kemampuan mengendalikan diri. Negara menyerang negara lain, kelompok membenci kelompok lain, bahkan individu sering terjebak dalam kemarahan dan ketakutan yang terus dipelihara. Energi agresi meningkat, tetapi kebijaksanaan untuk menahan diri justru melemah.

Penemuan tentang Treg memberi pelajaran penting bahwa kehidupan bertahan melalui keseimbangan. Tubuh yang sehat bukan tubuh yang terus menyerang, melainkan tubuh yang tahu kapan harus bertindak dan kapan harus berhenti. Prinsip yang sama berlaku dalam hubungan manusia.

Keluarga membutuhkan empati sebagai “regulator”. Masyarakat membutuhkan dialog sebagai “regulator”. Dunia membutuhkan kesadaran global sebagai “regulator”. Tanpa itu, peradaban dapat jatuh pada kondisi autoimun sosial: manusia menghancurkan sesamanya dan akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.

Karena itu, Nobel 2025 bukan hanya penghargaan bagi tiga ilmuwan besar. Ia juga menjadi pengingat bahwa masa depan kemanusiaan bergantung pada kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan, antara kemajuan dan kesadaran.

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi memperlihatkan bahwa sains terbaik bukanlah sains yang memperbesar ego manusia, melainkan sains yang membantu manusia memahami harmoni kehidupan. Dalam dunia yang semakin bising oleh persaingan dan konflik, penemuan mereka menjadi suara tenang yang mengingatkan bahwa keberlangsungan hidup selalu bergantung pada kemampuan untuk hidup selaras, bukan saling menghancurkan. [T]

Tags: karya ilmiahmedisNobel
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

Next Post

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? ---Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co