11 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 8, 2026
in Esai
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi | Sumber foto: Wikipedia

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun

Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh dari sorotan publik. Namun, hasil kerja mereka perlahan mengubah arah sejarah manusia. Demikian pula dengan Shimon Sakaguchi, Mary E. Brunkow, dan Fred Ramsdell, tiga ilmuwan yang dianugerahi Nobel Prize dalam Fisiologi dan Kedokteran 2025 atas penemuan tentang mekanisme toleransi imun perifer.

Sakaguchi berasal dari Jepang dan dikenal sebagai pelopor penelitian regulatory T cells atau Treg. Ia tumbuh dalam tradisi akademik yang kuat dan sejak awal tertarik memahami bagaimana tubuh manusia mampu menjaga keseimbangan dirinya sendiri. Pada awal 1990-an, ketika banyak ilmuwan fokus pada cara sistem imun menyerang penyakit, Sakaguchi justru bertanya: siapa yang mengendalikan sistem imun agar tidak menyerang tubuh sendiri?

Sementara itu, Mary Brunkow dan Fred Ramsdell di Amerika Serikat meneliti penyakit autoimun yang tampak misterius. Mereka menemukan bahwa kerusakan gen tertentu, FOXP3, menyebabkan sistem imun kehilangan kemampuan mengendalikan diri. Penelitian mereka akhirnya menjadi kunci untuk memahami fungsi biologis sel T regulator yang ditemukan Sakaguchi.

Ketiganya berasal dari latar budaya dan disiplin yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu pencarian: memahami keseimbangan kehidupan. Penemuan mereka menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak lahir dari ambisi pribadi semata, melainkan dari ketekunan, rasa ingin tahu, dan keberanian mempertanyakan asumsi lama.

Penemuan Sel T-Regulator yang Mengubah Dunia Medis

Selama puluhan tahun, sistem imun dipahami sebagai “tentara tubuh” yang bertugas melawan virus, bakteri, dan ancaman lain. Semakin agresif sistem imun bekerja, semakin baik tubuh dianggap mampu bertahan hidup. Namun, paradigma ini ternyata tidak sepenuhnya benar.

Sakaguchi menemukan bahwa tubuh memiliki kelompok khusus sel imun yang justru bertugas menahan agresivitas sistem imun. Sel itu disebut regulatory T cells atau Treg. Tanpa sel ini, tubuh dapat menyerang dirinya sendiri dan memicu penyakit autoimun seperti lupus, diabetes tipe 1, rheumatoid arthritis, dan berbagai peradangan kronis.

Penemuan tersebut kemudian diperkuat oleh Brunkow dan Ramsdell melalui identifikasi gen FOXP3. Mereka membuktikan bahwa gen tersebut adalah pengatur utama fungsi Treg. Ketika gen itu rusak, sistem imun menjadi kacau dan kehilangan kemampuan membedakan “musuh” dan “diri sendiri”.

Dampak penemuan ini luar biasa besar. Dunia medis mulai memahami bahwa kesehatan bukan sekadar kemampuan menyerang penyakit, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan. Dalam konteks transplantasi organ, misalnya, terapi berbasis Treg kini dikembangkan agar tubuh tidak menolak organ baru. Dalam pengobatan kanker, para ilmuwan mempelajari bagaimana mengatur Treg agar sistem imun dapat menyerang sel kanker secara efektif tanpa merusak jaringan sehat.

Penemuan ini juga membawa pesan filosofis yang mendalam. Tubuh manusia ternyata bertahan hidup bukan hanya karena kekuatan menyerang, tetapi juga karena kemampuan menahan diri. Kehidupan biologis bekerja melalui keseimbangan, bukan ekstremitas.

Kolaborasi Ilmiah: Ketika Pengetahuan Mengalahkan Ego Kompetisi

Dunia modern sering dipenuhi persaingan. Dalam politik, ekonomi, bahkan akademik, manusia berlomba menjadi yang paling unggul. Tidak jarang pengetahuan berubah menjadi arena perebutan prestise dan pengaruh. Namun, kisah Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi menunjukkan sisi lain dari ilmu pengetahuan: kolaborasi.

Sakaguchi menemukan keberadaan sel T regulator. Akan tetapi, penemuannya belum lengkap tanpa penjelasan genetis. Di sinilah penelitian Brunkow dan Ramsdell menjadi pelengkap penting. Mereka mengungkap bahwa FOXP3 adalah “master switch” yang mengatur fungsi Treg.

Alih-alih saling menjatuhkan atau mengklaim kebenaran tunggal, penelitian mereka justru membentuk mata rantai pengetahuan yang saling menguatkan. Penemuan satu pihak membuka jalan bagi penemuan pihak lain. Dalam dunia yang sering terpecah oleh ego dan kepentingan, kerja sama ilmiah ini menjadi teladan penting.

Kolaborasi mereka mengingatkan bahwa kemajuan besar peradaban biasanya lahir dari sinergi. Tidak ada satu ilmuwan pun yang mampu memahami seluruh kompleksitas kehidupan sendirian. Pengetahuan berkembang ketika manusia bersedia mendengarkan, berbagi, dan saling melengkapi.

Di tengah budaya media sosial yang sering mendorong polarisasi dan pencarian popularitas instan, kisah trio Nobel ini menghadirkan pesan berbeda: kemanusiaan maju bukan karena siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling tulus mencari kebenaran bersama.

Membaca Penemuan Mereka melalui Perspektif Hawkins

Pemikiran David R. Hawkins tentang kesadaran manusia memberikan perspektif menarik untuk membaca penemuan trio Nobel ini. Dalam karya-karyanya seperti Power vs. Force dan Map of Consciousness, Hawkins menjelaskan bahwa tingkat kesadaran manusia menentukan kualitas tindakan dan peradaban.

Menurut Hawkins, kesadaran rendah cenderung bekerja secara reaktif, agresif, dan penuh ketakutan. Sebaliknya, kesadaran tinggi bekerja melalui keseimbangan, pemahaman, dan harmoni. Jika dianalogikan dengan sistem imun, kesadaran rendah mirip sistem imun yang menyerang tanpa kendali, sedangkan kesadaran tinggi menyerupai sistem imun yang memiliki mekanisme regulasi.

Penemuan Treg menjadi metafora biologis yang menarik bagi kondisi manusia modern. Tubuh manusia ternyata membutuhkan “kecerdasan pengendali” agar tidak menghancurkan dirinya sendiri. Demikian pula masyarakat modern membutuhkan kesadaran kolektif agar kemajuan teknologi tidak berubah menjadi kekuatan destruktif.

Saat ini manusia memiliki kecerdasan luar biasa dalam bidang teknologi, kecerdasan buatan, senjata, dan eksplorasi ruang angkasa. Namun, tanpa kesadaran, semua itu dapat berbalik menghancurkan manusia sendiri. Konflik sosial, perang, polarisasi politik, hingga kerusakan lingkungan menunjukkan bahwa peradaban modern sering bertindak seperti sistem imun yang kehilangan regulator.

Dalam perspektif Hawkins, evolusi manusia sejati bukan sekadar kemajuan material, tetapi peningkatan kesadaran. Penemuan Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi secara tidak langsung mengingatkan bahwa hukum keseimbangan berlaku bukan hanya dalam tubuh, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan spiritual manusia.

Pelajaran bagi Manusia Modern: Menjaga Dunia tanpa Menghancurkan Diri Sendiri

Penemuan ilmiah kadang memberi lebih dari sekadar solusi medis. Ia juga memberi cermin bagi peradaban manusia. Kisah trio Nobel ini menghadirkan refleksi mendalam tentang keadaan dunia saat ini.

Manusia modern hidup di era kemajuan luar biasa. Teknologi berkembang cepat, informasi bergerak dalam hitungan detik, dan kecerdasan buatan mulai mengubah hampir seluruh bidang kehidupan. Namun, di balik kemajuan itu, dunia juga menghadapi krisis besar: polarisasi sosial, perang, intoleransi, kecemasan kolektif, dan kerusakan lingkungan.

Dalam banyak hal, manusia tampak seperti sistem imun yang kehilangan kemampuan mengendalikan diri. Negara menyerang negara lain, kelompok membenci kelompok lain, bahkan individu sering terjebak dalam kemarahan dan ketakutan yang terus dipelihara. Energi agresi meningkat, tetapi kebijaksanaan untuk menahan diri justru melemah.

Penemuan tentang Treg memberi pelajaran penting bahwa kehidupan bertahan melalui keseimbangan. Tubuh yang sehat bukan tubuh yang terus menyerang, melainkan tubuh yang tahu kapan harus bertindak dan kapan harus berhenti. Prinsip yang sama berlaku dalam hubungan manusia.

Keluarga membutuhkan empati sebagai “regulator”. Masyarakat membutuhkan dialog sebagai “regulator”. Dunia membutuhkan kesadaran global sebagai “regulator”. Tanpa itu, peradaban dapat jatuh pada kondisi autoimun sosial: manusia menghancurkan sesamanya dan akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.

Karena itu, Nobel 2025 bukan hanya penghargaan bagi tiga ilmuwan besar. Ia juga menjadi pengingat bahwa masa depan kemanusiaan bergantung pada kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan, antara kemajuan dan kesadaran.

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi memperlihatkan bahwa sains terbaik bukanlah sains yang memperbesar ego manusia, melainkan sains yang membantu manusia memahami harmoni kehidupan. Dalam dunia yang semakin bising oleh persaingan dan konflik, penemuan mereka menjadi suara tenang yang mengingatkan bahwa keberlangsungan hidup selalu bergantung pada kemampuan untuk hidup selaras, bukan saling menghancurkan. [T]

Tags: karya ilmiahmedisNobel
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

Next Post

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

by Satria Aditya
July 7, 2026
0
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

Read moreDetails

Era Chatting Telah Berlalu

by Angga Wijaya
July 7, 2026
0
Era Chatting Telah Berlalu

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya...

Read moreDetails

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
0
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

Read moreDetails
Next Post
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? ---Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali
Khas

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan
Khas

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co