22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
May 8, 2026
in Esai
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi | Sumber foto: Wikipedia

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun

Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh dari sorotan publik. Namun, hasil kerja mereka perlahan mengubah arah sejarah manusia. Demikian pula dengan Shimon Sakaguchi, Mary E. Brunkow, dan Fred Ramsdell, tiga ilmuwan yang dianugerahi Nobel Prize dalam Fisiologi dan Kedokteran 2025 atas penemuan tentang mekanisme toleransi imun perifer.

Sakaguchi berasal dari Jepang dan dikenal sebagai pelopor penelitian regulatory T cells atau Treg. Ia tumbuh dalam tradisi akademik yang kuat dan sejak awal tertarik memahami bagaimana tubuh manusia mampu menjaga keseimbangan dirinya sendiri. Pada awal 1990-an, ketika banyak ilmuwan fokus pada cara sistem imun menyerang penyakit, Sakaguchi justru bertanya: siapa yang mengendalikan sistem imun agar tidak menyerang tubuh sendiri?

Sementara itu, Mary Brunkow dan Fred Ramsdell di Amerika Serikat meneliti penyakit autoimun yang tampak misterius. Mereka menemukan bahwa kerusakan gen tertentu, FOXP3, menyebabkan sistem imun kehilangan kemampuan mengendalikan diri. Penelitian mereka akhirnya menjadi kunci untuk memahami fungsi biologis sel T regulator yang ditemukan Sakaguchi.

Ketiganya berasal dari latar budaya dan disiplin yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu pencarian: memahami keseimbangan kehidupan. Penemuan mereka menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak lahir dari ambisi pribadi semata, melainkan dari ketekunan, rasa ingin tahu, dan keberanian mempertanyakan asumsi lama.

Penemuan Sel T-Regulator yang Mengubah Dunia Medis

Selama puluhan tahun, sistem imun dipahami sebagai “tentara tubuh” yang bertugas melawan virus, bakteri, dan ancaman lain. Semakin agresif sistem imun bekerja, semakin baik tubuh dianggap mampu bertahan hidup. Namun, paradigma ini ternyata tidak sepenuhnya benar.

Sakaguchi menemukan bahwa tubuh memiliki kelompok khusus sel imun yang justru bertugas menahan agresivitas sistem imun. Sel itu disebut regulatory T cells atau Treg. Tanpa sel ini, tubuh dapat menyerang dirinya sendiri dan memicu penyakit autoimun seperti lupus, diabetes tipe 1, rheumatoid arthritis, dan berbagai peradangan kronis.

Penemuan tersebut kemudian diperkuat oleh Brunkow dan Ramsdell melalui identifikasi gen FOXP3. Mereka membuktikan bahwa gen tersebut adalah pengatur utama fungsi Treg. Ketika gen itu rusak, sistem imun menjadi kacau dan kehilangan kemampuan membedakan “musuh” dan “diri sendiri”.

Dampak penemuan ini luar biasa besar. Dunia medis mulai memahami bahwa kesehatan bukan sekadar kemampuan menyerang penyakit, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan. Dalam konteks transplantasi organ, misalnya, terapi berbasis Treg kini dikembangkan agar tubuh tidak menolak organ baru. Dalam pengobatan kanker, para ilmuwan mempelajari bagaimana mengatur Treg agar sistem imun dapat menyerang sel kanker secara efektif tanpa merusak jaringan sehat.

Penemuan ini juga membawa pesan filosofis yang mendalam. Tubuh manusia ternyata bertahan hidup bukan hanya karena kekuatan menyerang, tetapi juga karena kemampuan menahan diri. Kehidupan biologis bekerja melalui keseimbangan, bukan ekstremitas.

Kolaborasi Ilmiah: Ketika Pengetahuan Mengalahkan Ego Kompetisi

Dunia modern sering dipenuhi persaingan. Dalam politik, ekonomi, bahkan akademik, manusia berlomba menjadi yang paling unggul. Tidak jarang pengetahuan berubah menjadi arena perebutan prestise dan pengaruh. Namun, kisah Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi menunjukkan sisi lain dari ilmu pengetahuan: kolaborasi.

Sakaguchi menemukan keberadaan sel T regulator. Akan tetapi, penemuannya belum lengkap tanpa penjelasan genetis. Di sinilah penelitian Brunkow dan Ramsdell menjadi pelengkap penting. Mereka mengungkap bahwa FOXP3 adalah “master switch” yang mengatur fungsi Treg.

Alih-alih saling menjatuhkan atau mengklaim kebenaran tunggal, penelitian mereka justru membentuk mata rantai pengetahuan yang saling menguatkan. Penemuan satu pihak membuka jalan bagi penemuan pihak lain. Dalam dunia yang sering terpecah oleh ego dan kepentingan, kerja sama ilmiah ini menjadi teladan penting.

Kolaborasi mereka mengingatkan bahwa kemajuan besar peradaban biasanya lahir dari sinergi. Tidak ada satu ilmuwan pun yang mampu memahami seluruh kompleksitas kehidupan sendirian. Pengetahuan berkembang ketika manusia bersedia mendengarkan, berbagi, dan saling melengkapi.

Di tengah budaya media sosial yang sering mendorong polarisasi dan pencarian popularitas instan, kisah trio Nobel ini menghadirkan pesan berbeda: kemanusiaan maju bukan karena siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling tulus mencari kebenaran bersama.

Membaca Penemuan Mereka melalui Perspektif Hawkins

Pemikiran David R. Hawkins tentang kesadaran manusia memberikan perspektif menarik untuk membaca penemuan trio Nobel ini. Dalam karya-karyanya seperti Power vs. Force dan Map of Consciousness, Hawkins menjelaskan bahwa tingkat kesadaran manusia menentukan kualitas tindakan dan peradaban.

Menurut Hawkins, kesadaran rendah cenderung bekerja secara reaktif, agresif, dan penuh ketakutan. Sebaliknya, kesadaran tinggi bekerja melalui keseimbangan, pemahaman, dan harmoni. Jika dianalogikan dengan sistem imun, kesadaran rendah mirip sistem imun yang menyerang tanpa kendali, sedangkan kesadaran tinggi menyerupai sistem imun yang memiliki mekanisme regulasi.

Penemuan Treg menjadi metafora biologis yang menarik bagi kondisi manusia modern. Tubuh manusia ternyata membutuhkan “kecerdasan pengendali” agar tidak menghancurkan dirinya sendiri. Demikian pula masyarakat modern membutuhkan kesadaran kolektif agar kemajuan teknologi tidak berubah menjadi kekuatan destruktif.

Saat ini manusia memiliki kecerdasan luar biasa dalam bidang teknologi, kecerdasan buatan, senjata, dan eksplorasi ruang angkasa. Namun, tanpa kesadaran, semua itu dapat berbalik menghancurkan manusia sendiri. Konflik sosial, perang, polarisasi politik, hingga kerusakan lingkungan menunjukkan bahwa peradaban modern sering bertindak seperti sistem imun yang kehilangan regulator.

Dalam perspektif Hawkins, evolusi manusia sejati bukan sekadar kemajuan material, tetapi peningkatan kesadaran. Penemuan Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi secara tidak langsung mengingatkan bahwa hukum keseimbangan berlaku bukan hanya dalam tubuh, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan spiritual manusia.

Pelajaran bagi Manusia Modern: Menjaga Dunia tanpa Menghancurkan Diri Sendiri

Penemuan ilmiah kadang memberi lebih dari sekadar solusi medis. Ia juga memberi cermin bagi peradaban manusia. Kisah trio Nobel ini menghadirkan refleksi mendalam tentang keadaan dunia saat ini.

Manusia modern hidup di era kemajuan luar biasa. Teknologi berkembang cepat, informasi bergerak dalam hitungan detik, dan kecerdasan buatan mulai mengubah hampir seluruh bidang kehidupan. Namun, di balik kemajuan itu, dunia juga menghadapi krisis besar: polarisasi sosial, perang, intoleransi, kecemasan kolektif, dan kerusakan lingkungan.

Dalam banyak hal, manusia tampak seperti sistem imun yang kehilangan kemampuan mengendalikan diri. Negara menyerang negara lain, kelompok membenci kelompok lain, bahkan individu sering terjebak dalam kemarahan dan ketakutan yang terus dipelihara. Energi agresi meningkat, tetapi kebijaksanaan untuk menahan diri justru melemah.

Penemuan tentang Treg memberi pelajaran penting bahwa kehidupan bertahan melalui keseimbangan. Tubuh yang sehat bukan tubuh yang terus menyerang, melainkan tubuh yang tahu kapan harus bertindak dan kapan harus berhenti. Prinsip yang sama berlaku dalam hubungan manusia.

Keluarga membutuhkan empati sebagai “regulator”. Masyarakat membutuhkan dialog sebagai “regulator”. Dunia membutuhkan kesadaran global sebagai “regulator”. Tanpa itu, peradaban dapat jatuh pada kondisi autoimun sosial: manusia menghancurkan sesamanya dan akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.

Karena itu, Nobel 2025 bukan hanya penghargaan bagi tiga ilmuwan besar. Ia juga menjadi pengingat bahwa masa depan kemanusiaan bergantung pada kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan, antara kemajuan dan kesadaran.

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi memperlihatkan bahwa sains terbaik bukanlah sains yang memperbesar ego manusia, melainkan sains yang membantu manusia memahami harmoni kehidupan. Dalam dunia yang semakin bising oleh persaingan dan konflik, penemuan mereka menjadi suara tenang yang mengingatkan bahwa keberlangsungan hidup selalu bergantung pada kemampuan untuk hidup selaras, bukan saling menghancurkan. [T]

Tags: karya ilmiahmedisNobel
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

Next Post

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails
Next Post
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? ---Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co