28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tengah Malam Rokok Habis                           

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 7, 2026
in Esai
Tengah Malam Rokok Habis                           

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja. Hampa begitu terasa. Jam menunjukkan lewat satu dini hari. Perut mungkin tidak lapar, tapi ada kegelisahan kecil yang sulit dijelaskan. Sebuah kebutuhan yang remeh sekaligus mendesak.

Dulu, pada jam-jam seperti itu, pilihan hampir tidak ada. Warung tutup. Toko sudah lama mengunci pintu. Jalanan seperti ikut bersekongkol untuk mengatakan bahwa malam memang bukan waktunya membeli apa pun.

Tapi itu dulu. Kini, di banyak sudut Denpasar dan kota-kota lain di Bali, ada cahaya yang tetap menyala saat sebagian besar lampu dipadamkan. Etalase kaca kecil, penuh barang yang ditumpuk rapat, menjadi semacam penanda bahwa malam tidak benar-benar selesai. Di situlah orang-orang datang dengan kebutuhan sederhana. Membeli rokok, air mineral, mie instan, atau sekadar mengobrol sebentar untuk mengusir sepi. Warung Madura, begitu orang-orang menyebutnya, telah menjadi oase kecil yang mengisi celah waktu yang lama dibiarkan kosong.

Fenomena ini menarik perhatian banyak orang. Salah satunya Kadek Bagus Kartika, seorang anak muda Bali yang menuliskan pengamatannya di akun Instagram @klinik.journal. Tulisannya bukan sekadar catatan ringan. Ia membaca gejala ini dengan kacamata ekonomi politik. Dari sesuatu yang tampak sederhana, ia melihat kerja sistem yang rapi, bahkan bisa disebut sebagai sebuah strategi kolektif yang terorganisir dengan baik.

Ia memulai dari pertanyaan yang terasa dekat sekaligus mengusik. Mengapa mereka yang datang dari jauh bisa membangun jaringan usaha yang begitu kuat, sementara warung-warung lokal di Bali justru sering tertinggal di tanah sendiri? Pertanyaan ini bukan soal siapa lebih unggul. Ini soal keberanian melihat diri sendiri dengan jujur.

Dalam pengamatannya, warung-warung yang dikelola oleh perantau Madura bekerja dengan logika yang sederhana tapi konsisten. Mereka memilih komoditas yang pasti dibutuhkan setiap hari. Rokok, bensin eceran, gas LPG, air galon, dan kebutuhan pokok lain yang perputarannya cepat. Tidak ada romantisme berlebihan dalam memilih barang. Semua dihitung berdasarkan kebutuhan pasar. Dari situ, arus kas harian bisa terjaga.

Namun yang lebih penting dari sekadar pilihan barang adalah disiplin waktu. Mereka berani melawan jam. Saat sebagian besar usaha memilih beristirahat, mereka justru membuka peluang. Malam tidak dilihat sebagai jeda, tetapi sebagai ruang yang belum dimanfaatkan. Di situlah letak keunggulan yang sering luput dilihat. Bukan hanya soal kerja keras, tapi soal membaca celah.

Kadek Bagus Kartika juga menyoroti sesuatu yang lebih dalam, yaitu solidaritas. Warung-warung itu tidak berdiri sendiri. Ada jaringan yang bekerja di belakangnya. Informasi harga, suplai barang, hingga strategi bertahan dibagikan di antara mereka. Dalam bahasa akademik, ia menyebutnya sebagai ekonomi sirkular berbasis modal sosial. Sebuah sistem yang tidak hanya mengandalkan modal uang, tetapi juga kepercayaan dan keterikatan antar anggota.

Di titik ini, kita mulai melihat kontras yang menarik. Bali sebenarnya memiliki struktur sosial yang sangat kuat melalui banjar. Ikatan komunal yang tidak dimiliki oleh banyak daerah lain. Orang Bali terbiasa bekerja bersama dalam urusan adat, upacara, dan kehidupan sosial. Ada rasa memiliki yang terjaga, dan kewajiban moral yang tidak tertulis tapi dipatuhi.

Namun ketika masuk ke wilayah ekonomi, kekuatan itu seperti kehilangan arah. Warung-warung lokal berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada koordinasi yang berarti, atau upaya kolektif untuk memperkuat posisi bersama. Banjar yang begitu solid dalam urusan adat, tiba-tiba menjadi longgar ketika berhadapan dengan pasar. Di sinilah letak ironi yang diam-diam terasa.

Menjadi orang Bali bukan hanya soal identitas, tapi juga soal tanggung jawab sosial. Ada ngayah yang harus dijalankan, upacara yang harus dihadiri, dan keluarga besar yang selalu membutuhkan kehadiran. Semua itu adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa ditawar. Dalam banyak kasus, warung harus tutup karena pemiliknya harus memenuhi kewajiban adat. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan di situlah letak kekayaan budaya Bali.

Tetapi di sisi lain, realitas ekonomi tetap berjalan. Pelanggan yang datang tidak selalu memahami alasan di balik pintu yang tertutup. Mereka hanya mencari kebutuhan yang harus dipenuhi saat itu juga. Dan ketika satu warung tutup, akan selalu ada warung lain yang siap membuka pintu.

Warung Madura, dalam konteks ini, hadir bukan sebagai pesaing yang agresif semata, tetapi sebagai pihak yang konsisten mengisi ruang kosong. Mereka tidak terbebani oleh kewajiban adat lokal. Waktu mereka sepenuhnya didedikasikan untuk usaha. Ini bukan soal lebih baik atau lebih buruk, melainkan soal perbedaan kondisi yang menghasilkan strategi berbeda.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih kompleks. Apakah model seperti itu bisa diterapkan oleh orang Bali? Secara teknis, jawabannya tentu bisa. Tidak ada yang menghalangi seseorang untuk membuka warung hingga 24 jam. Tidak ada larangan untuk menjual komoditas yang sama. Bahkan dari sisi jaringan sosial, Bali memiliki modal yang jauh lebih kuat.

Namun pertanyaan yang lebih jujur bukan bisa atau tidak bisa. Pertanyaannya adalah mau atau tidak.  Kemauan sering kali tidak datang dari kekurangan kemampuan, tetapi dari cara pandang. Banyak orang Bali masih melihat usaha kecil sebagai sesuatu yang dijalankan seadanya. Tidak ada perencanaan jangka panjang, atau upaya untuk membangun sistem. Semuanya berjalan mengikuti kebiasaan. Sementara di sisi lain, para perantau datang dengan kesadaran bahwa bertahan hidup membutuhkan strategi.

Tulisan Kadek Bagus Kartika seperti mengingatkan bahwa di balik etalase kecil itu, ada kerja yang tidak sederhana. Ada keberanian mengambil risiko, disiplin yang dijaga setiap hari, dan jaringan yang terus dipelihara. Semua itu tidak terjadi secara kebetulan.

Jika kita tarik lebih jauh, fenomena ini sebenarnya membuka cermin yang cukup besar bagi masyarakat Bali. Selama ini, banyak potensi yang belum digali secara maksimal. Bukan karena tidak ada, tetapi karena belum dianggap penting. Kita terlalu nyaman dengan apa yang sudah ada. Pariwisata menjadi sandaran utama. Tanah menjadi aset yang perlahan berubah fungsi. Sementara usaha kecil sering kali dibiarkan berjalan tanpa arah yang jelas.

Padahal, jika dilihat dengan jujur, kekuatan orang Bali tidak hanya terletak pada budaya dan pariwisata. Ada kecerdasan sosial yang tinggi. Juga, kemampuan beradaptasi yang sudah terbukti selama ratusan tahun. Selain itu, kreativitas orang Bali  tidak pernah habis. Semua itu adalah modal yang seharusnya bisa diterjemahkan ke dalam kekuatan ekonomi.

Bayangkan jika banjar tidak hanya menjadi ruang sosial, tetapi juga ruang ekonomi. Jika para pedagang kecil di satu wilayah mulai berkoordinasi. Melakukan pembelian barang secara bersama agar harga lebih murah. Berbagi informasi tentang pemasok. Menentukan strategi agar tidak saling mematikan. Hal-hal sederhana seperti ini sebenarnya tidak sulit dilakukan.

Masalahnya, kita belum terbiasa berpikir ke arah sana. Ada semacam sekat tak terlihat antara kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi. Padahal keduanya bisa saling menguatkan. Kedekatan emosional yang sudah ada bisa menjadi dasar untuk membangun kepercayaan dalam bisnis. Dan kepercayaan adalah hal yang paling mahal dalam ekonomi.

Di tengah semua ini, warung kecil di sudut jalan menjadi simbol yang menarik. Ia bukan hanya tempat membeli barang, tapi juga adalah titik pertemuan antara kebutuhan sehari-hari dan sistem yang bekerja di belakangnya. Ia menunjukkan bahwa skala kecil tidak berarti lemah. Justru dari ruang sempit itulah lahir efisiensi yang luar biasa.

Kembali ke tengah malam dan rokok yang habis. Situasi kecil itu ternyata menyimpan cerita yang lebih besar. Tentang perubahan pola konsumsi, strategi bertahan hidup dan pertemuan antara budaya lokal dan logika pasar. Juga, pilihan-pilihan yang kita ambil atau tidak kita ambil.

Tulisan Kadek Bagus Kartika tidak sedang menyuruh orang Bali untuk menjadi seperti orang Madura. Ia hanya membuka kemungkinan bahwa ada hal-hal yang bisa dipelajari. Bahwa keberhasilan orang lain tidak selalu harus dilihat sebagai ancaman. Bisa jadi itu adalah pelajaran yang datang dalam bentuk yang tidak kita duga.

Pada akhirnya, persoalan ini kembali pada kesadaran. Apakah kita mau melihat potensi yang ada di sekitar kita, dan mau keluar dari kebiasaan yang membuat kita merasa aman. Terpenting, mencoba cara baru tanpa kehilangan jati diri. Karena yang sering terjadi, kita tidak kalah karena tidak mampu. Kita kalah karena terlalu lama ragu. Dan di luar sana, di bawah lampu yang tetap menyala saat malam, ada orang-orang yang tidak menunggu sampai yakin. Mereka hanya mulai, lalu belajar sambil berjalan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomirokokwarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

Next Post

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co