17 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tengah Malam Rokok Habis                           

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 7, 2026
in Esai
Tengah Malam Rokok Habis                           

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja. Hampa begitu terasa. Jam menunjukkan lewat satu dini hari. Perut mungkin tidak lapar, tapi ada kegelisahan kecil yang sulit dijelaskan. Sebuah kebutuhan yang remeh sekaligus mendesak.

Dulu, pada jam-jam seperti itu, pilihan hampir tidak ada. Warung tutup. Toko sudah lama mengunci pintu. Jalanan seperti ikut bersekongkol untuk mengatakan bahwa malam memang bukan waktunya membeli apa pun.

Tapi itu dulu. Kini, di banyak sudut Denpasar dan kota-kota lain di Bali, ada cahaya yang tetap menyala saat sebagian besar lampu dipadamkan. Etalase kaca kecil, penuh barang yang ditumpuk rapat, menjadi semacam penanda bahwa malam tidak benar-benar selesai. Di situlah orang-orang datang dengan kebutuhan sederhana. Membeli rokok, air mineral, mie instan, atau sekadar mengobrol sebentar untuk mengusir sepi. Warung Madura, begitu orang-orang menyebutnya, telah menjadi oase kecil yang mengisi celah waktu yang lama dibiarkan kosong.

Fenomena ini menarik perhatian banyak orang. Salah satunya Kadek Bagus Kartika, seorang anak muda Bali yang menuliskan pengamatannya di akun Instagram @klinik.journal. Tulisannya bukan sekadar catatan ringan. Ia membaca gejala ini dengan kacamata ekonomi politik. Dari sesuatu yang tampak sederhana, ia melihat kerja sistem yang rapi, bahkan bisa disebut sebagai sebuah strategi kolektif yang terorganisir dengan baik.

Ia memulai dari pertanyaan yang terasa dekat sekaligus mengusik. Mengapa mereka yang datang dari jauh bisa membangun jaringan usaha yang begitu kuat, sementara warung-warung lokal di Bali justru sering tertinggal di tanah sendiri? Pertanyaan ini bukan soal siapa lebih unggul. Ini soal keberanian melihat diri sendiri dengan jujur.

Dalam pengamatannya, warung-warung yang dikelola oleh perantau Madura bekerja dengan logika yang sederhana tapi konsisten. Mereka memilih komoditas yang pasti dibutuhkan setiap hari. Rokok, bensin eceran, gas LPG, air galon, dan kebutuhan pokok lain yang perputarannya cepat. Tidak ada romantisme berlebihan dalam memilih barang. Semua dihitung berdasarkan kebutuhan pasar. Dari situ, arus kas harian bisa terjaga.

Namun yang lebih penting dari sekadar pilihan barang adalah disiplin waktu. Mereka berani melawan jam. Saat sebagian besar usaha memilih beristirahat, mereka justru membuka peluang. Malam tidak dilihat sebagai jeda, tetapi sebagai ruang yang belum dimanfaatkan. Di situlah letak keunggulan yang sering luput dilihat. Bukan hanya soal kerja keras, tapi soal membaca celah.

Kadek Bagus Kartika juga menyoroti sesuatu yang lebih dalam, yaitu solidaritas. Warung-warung itu tidak berdiri sendiri. Ada jaringan yang bekerja di belakangnya. Informasi harga, suplai barang, hingga strategi bertahan dibagikan di antara mereka. Dalam bahasa akademik, ia menyebutnya sebagai ekonomi sirkular berbasis modal sosial. Sebuah sistem yang tidak hanya mengandalkan modal uang, tetapi juga kepercayaan dan keterikatan antar anggota.

Di titik ini, kita mulai melihat kontras yang menarik. Bali sebenarnya memiliki struktur sosial yang sangat kuat melalui banjar. Ikatan komunal yang tidak dimiliki oleh banyak daerah lain. Orang Bali terbiasa bekerja bersama dalam urusan adat, upacara, dan kehidupan sosial. Ada rasa memiliki yang terjaga, dan kewajiban moral yang tidak tertulis tapi dipatuhi.

Namun ketika masuk ke wilayah ekonomi, kekuatan itu seperti kehilangan arah. Warung-warung lokal berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada koordinasi yang berarti, atau upaya kolektif untuk memperkuat posisi bersama. Banjar yang begitu solid dalam urusan adat, tiba-tiba menjadi longgar ketika berhadapan dengan pasar. Di sinilah letak ironi yang diam-diam terasa.

Menjadi orang Bali bukan hanya soal identitas, tapi juga soal tanggung jawab sosial. Ada ngayah yang harus dijalankan, upacara yang harus dihadiri, dan keluarga besar yang selalu membutuhkan kehadiran. Semua itu adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa ditawar. Dalam banyak kasus, warung harus tutup karena pemiliknya harus memenuhi kewajiban adat. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan di situlah letak kekayaan budaya Bali.

Tetapi di sisi lain, realitas ekonomi tetap berjalan. Pelanggan yang datang tidak selalu memahami alasan di balik pintu yang tertutup. Mereka hanya mencari kebutuhan yang harus dipenuhi saat itu juga. Dan ketika satu warung tutup, akan selalu ada warung lain yang siap membuka pintu.

Warung Madura, dalam konteks ini, hadir bukan sebagai pesaing yang agresif semata, tetapi sebagai pihak yang konsisten mengisi ruang kosong. Mereka tidak terbebani oleh kewajiban adat lokal. Waktu mereka sepenuhnya didedikasikan untuk usaha. Ini bukan soal lebih baik atau lebih buruk, melainkan soal perbedaan kondisi yang menghasilkan strategi berbeda.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih kompleks. Apakah model seperti itu bisa diterapkan oleh orang Bali? Secara teknis, jawabannya tentu bisa. Tidak ada yang menghalangi seseorang untuk membuka warung hingga 24 jam. Tidak ada larangan untuk menjual komoditas yang sama. Bahkan dari sisi jaringan sosial, Bali memiliki modal yang jauh lebih kuat.

Namun pertanyaan yang lebih jujur bukan bisa atau tidak bisa. Pertanyaannya adalah mau atau tidak.  Kemauan sering kali tidak datang dari kekurangan kemampuan, tetapi dari cara pandang. Banyak orang Bali masih melihat usaha kecil sebagai sesuatu yang dijalankan seadanya. Tidak ada perencanaan jangka panjang, atau upaya untuk membangun sistem. Semuanya berjalan mengikuti kebiasaan. Sementara di sisi lain, para perantau datang dengan kesadaran bahwa bertahan hidup membutuhkan strategi.

Tulisan Kadek Bagus Kartika seperti mengingatkan bahwa di balik etalase kecil itu, ada kerja yang tidak sederhana. Ada keberanian mengambil risiko, disiplin yang dijaga setiap hari, dan jaringan yang terus dipelihara. Semua itu tidak terjadi secara kebetulan.

Jika kita tarik lebih jauh, fenomena ini sebenarnya membuka cermin yang cukup besar bagi masyarakat Bali. Selama ini, banyak potensi yang belum digali secara maksimal. Bukan karena tidak ada, tetapi karena belum dianggap penting. Kita terlalu nyaman dengan apa yang sudah ada. Pariwisata menjadi sandaran utama. Tanah menjadi aset yang perlahan berubah fungsi. Sementara usaha kecil sering kali dibiarkan berjalan tanpa arah yang jelas.

Padahal, jika dilihat dengan jujur, kekuatan orang Bali tidak hanya terletak pada budaya dan pariwisata. Ada kecerdasan sosial yang tinggi. Juga, kemampuan beradaptasi yang sudah terbukti selama ratusan tahun. Selain itu, kreativitas orang Bali  tidak pernah habis. Semua itu adalah modal yang seharusnya bisa diterjemahkan ke dalam kekuatan ekonomi.

Bayangkan jika banjar tidak hanya menjadi ruang sosial, tetapi juga ruang ekonomi. Jika para pedagang kecil di satu wilayah mulai berkoordinasi. Melakukan pembelian barang secara bersama agar harga lebih murah. Berbagi informasi tentang pemasok. Menentukan strategi agar tidak saling mematikan. Hal-hal sederhana seperti ini sebenarnya tidak sulit dilakukan.

Masalahnya, kita belum terbiasa berpikir ke arah sana. Ada semacam sekat tak terlihat antara kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi. Padahal keduanya bisa saling menguatkan. Kedekatan emosional yang sudah ada bisa menjadi dasar untuk membangun kepercayaan dalam bisnis. Dan kepercayaan adalah hal yang paling mahal dalam ekonomi.

Di tengah semua ini, warung kecil di sudut jalan menjadi simbol yang menarik. Ia bukan hanya tempat membeli barang, tapi juga adalah titik pertemuan antara kebutuhan sehari-hari dan sistem yang bekerja di belakangnya. Ia menunjukkan bahwa skala kecil tidak berarti lemah. Justru dari ruang sempit itulah lahir efisiensi yang luar biasa.

Kembali ke tengah malam dan rokok yang habis. Situasi kecil itu ternyata menyimpan cerita yang lebih besar. Tentang perubahan pola konsumsi, strategi bertahan hidup dan pertemuan antara budaya lokal dan logika pasar. Juga, pilihan-pilihan yang kita ambil atau tidak kita ambil.

Tulisan Kadek Bagus Kartika tidak sedang menyuruh orang Bali untuk menjadi seperti orang Madura. Ia hanya membuka kemungkinan bahwa ada hal-hal yang bisa dipelajari. Bahwa keberhasilan orang lain tidak selalu harus dilihat sebagai ancaman. Bisa jadi itu adalah pelajaran yang datang dalam bentuk yang tidak kita duga.

Pada akhirnya, persoalan ini kembali pada kesadaran. Apakah kita mau melihat potensi yang ada di sekitar kita, dan mau keluar dari kebiasaan yang membuat kita merasa aman. Terpenting, mencoba cara baru tanpa kehilangan jati diri. Karena yang sering terjadi, kita tidak kalah karena tidak mampu. Kita kalah karena terlalu lama ragu. Dan di luar sana, di bawah lampu yang tetap menyala saat malam, ada orang-orang yang tidak menunggu sampai yakin. Mereka hanya mulai, lalu belajar sambil berjalan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomirokokwarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

Next Post

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

by Chusmeru
June 15, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

Read moreDetails

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
0
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

Read moreDetails

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

by Chandra Manikan
June 10, 2026
0
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

Read moreDetails

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
0
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng
Pemerintahan

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi...

by tatkala
June 15, 2026
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

by Ingga Adelia
June 15, 2026
Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I
Panggung

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
Pemerintahan

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Om Swastyastu, Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati...

by tatkala
June 15, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026
Ulas Pentas

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali
Ulas Rupa

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

by Oka Rusmini
June 15, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

by Chusmeru
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co