2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

Nur Kamilia by Nur Kamilia
May 5, 2026
in Esai
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

Ilustrasi tatkala.co | Canva

– Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral

BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di dunia modern: kesunyian. Di Ubud, Munduk, hingga Sidemen, kata “healing” telah menjadi mantra sakti yang terpampang di brosur vila, menu kafe, hingga takarir unggahan media sosial. Namun, ada paradoks yang terasa pelan namun nyata. Untuk menciptakan sebuah “kesunyian” yang bisa ditawarkan kepada para pelancong, mesin-mesin konstruksi harus bekerja tanpa henti, lahan-lahan persawahan yang menjadi saksi bisu peradaban agraria diuruk, dan pohon-pohon peneduh yang telah berdiri puluhan tahun perlahan tergantikan oleh bangunan-bangunan dengan estetika yang seragam.

Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang dapat disebut sebagai komodifikasi kesunyian. Sesuatu yang dulu bersifat personal, intim, bahkan sakral dalam kehidupan masyarakat Bali, kini dikemas menjadi paket-paket wisata yang memiliki nilai jual tinggi. Meditasi pagi dengan latar matahari terbit atau kelas yoga di tengah rimbunnya pepohonan kini memiliki label harga yang tidak sedikit. Persoalannya bukan pada aktivitas tersebut, melainkan pada bagaimana keheningan itu dikonstruksi secara terencana dan diproduksi berulang untuk memenuhi permintaan pasar.

Dalam praktiknya, banyak orang datang untuk mencari ketenangan, tetapi tetap membawa kebiasaan lama yang sulit dilepaskan. Kita berpindah tempat dengan harapan menemukan kedamaian, namun seringkali tetap menatap layar ponsel, mengambil foto, lalu membagikannya ke media sosial. Pertanyaan sederhana pun muncul: apakah kita benar-benar sedang mencari ketenangan jiwa, atau sekadar mengonsumsi citra tentang ketenangan yang telah dikurasi oleh tren digital? Dalam kondisi seperti ini, ketenangan berpotensi berubah menjadi simbol yang dipamerkan, bukan pengalaman yang benar-benar dirasakan.

Kesunyian yang ditawarkan di berbagai destinasi “healing” seringkali merupakan kesunyian yang dibentuk secara khusus. Ia hadir melalui batas-batas fisik yang memisahkan ruang tamu dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Di balik dinding vila yang tertutup rapat, warga lokal tetap menjalani aktivitas sehari-hari, bekerja di sawah, menyiapkan upacara adat, atau mengurus keluarga. Namun suara kehidupan tersebut kadang dianggap sebagai gangguan yang perlu diminimalkan demi menjaga suasana yang dianggap tenang. Perlahan, pola seperti ini membentuk ruang-ruang yang eksklusif dan berjarak dari denyut kehidupan masyarakat setempat.

Padahal, esensi Bali sejatinya tidak terletak pada kesunyian yang dipasarkan sebagai produk, melainkan pada harmoni yang dijaga secara turun-temurun melalui konsep ‘Tri Hita Karana’, yaitu keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Dalam keseharian masyarakat Bali, keheningan seringkali lahir dari kesadaran kolektif, bukan dari kebutuhan ekonomi. Salah satu contoh yang paling dikenal adalah perayaan Nyepi, ketika seluruh pulau memilih diam sebagai bentuk refleksi dan penghormatan terhadap alam. Dalam momen seperti itu, kesunyian menjadi pengalaman bersama yang sarat makna, bukan sekadar layanan yang dapat dibeli.

Ketika kesunyian mulai memiliki nilai ekonomi yang tinggi, maknanya pun berpotensi mengalami pergeseran. Ia tidak lagi hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi menjadi sesuatu yang harus diproduksi dan dikelola layaknya komoditas lain. Di beberapa wilayah, perubahan fungsi lahan dari sawah menjadi akomodasi wisata telah mengubah lanskap sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Petani yang sebelumnya menjaga kesinambungan pangan menghadapi pilihan yang tidak mudah antara mempertahankan lahan atau menjualnya demi kebutuhan ekonomi. Dalam proses tersebut, bukan hanya tanah yang berpindah tangan, tetapi juga nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bersama.

Lebih jauh lagi, komodifikasi kesunyian juga berpotensi menciptakan jarak emosional antara pendatang dan warga lokal. Wisatawan datang dengan harapan menemukan ketenangan, sementara masyarakat setempat menyesuaikan diri dengan ritme ekonomi yang terus berubah. Jika tidak dikelola secara bijak, perubahan ini dapat menimbulkan ketegangan sosial yang tidak selalu tampak di permukaan, tetapi terasa dalam keseharian. Kesunyian yang ditawarkan kepada pengunjung bisa saja menghadirkan dinamika baru yang menuntut masyarakat lokal untuk beradaptasi dengan cepat.

Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk kembali memahami bahwa healing yang sejati tidak selalu berarti menjauh dari kehidupan, tetapi justru mendekatkan diri pada realitas. Menghargai kesunyian Bali berarti menghargai mereka yang menjaga alam tetap lestari dan tradisi tetap hidup. Healing bukan hanya aktivitas di ruang yang indah, melainkan proses untuk belajar mendengarkan, memahami, dan meresapi lingkungan sekitar dengan kesadaran yang utuh.

Barangkali, yang perlu dilakukan bukanlah menolak perkembangan pariwisata, melainkan mengubah cara kita memaknai kehadiran di Bali. Pariwisata yang berkelanjutan seharusnya tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan sosial dan budaya. Pembangunan yang sensitif terhadap lingkungan dan tradisi lokal dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi Bali ke depan adalah menjaga agar kesunyian tetap menjadi bagian dari jiwanya, bukan sekadar komoditas yang mengikuti arus tren. Jika kesunyian hanya dipandang sebagai barang dagangan, maka suatu hari kita mungkin akan menyadari bahwa yang hilang bukan hanya ketenangan, tetapi juga makna yang selama ini membuat Bali terasa berbeda dari tempat lain.

Menjaga Bali tetap hidup berarti menjaga ruang sunyi tetap memiliki makna yang mendalam. Kesunyian bukan sekadar keadaan tanpa suara, melainkan ruang untuk merenung, memahami diri, dan merasakan keterhubungan dengan alam dan sesama. Ketika kesunyian masih diperlakukan sebagai ruang yang dihormati, bukan sekadar dijual, maka Bali akan tetap memiliki suara batinnya sendiri, suara yang tidak perlu dipasarkan untuk tetap didengar. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: balihealingPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Next Post

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

Bukan Hanya Salah Kaprah, "Sepakat 1.000%" Juga Cacat Logika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co