26 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

Nur Kamilia by Nur Kamilia
May 5, 2026
in Esai
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

Ilustrasi tatkala.co | Canva

– Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral

BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di dunia modern: kesunyian. Di Ubud, Munduk, hingga Sidemen, kata “healing” telah menjadi mantra sakti yang terpampang di brosur vila, menu kafe, hingga takarir unggahan media sosial. Namun, ada paradoks yang terasa pelan namun nyata. Untuk menciptakan sebuah “kesunyian” yang bisa ditawarkan kepada para pelancong, mesin-mesin konstruksi harus bekerja tanpa henti, lahan-lahan persawahan yang menjadi saksi bisu peradaban agraria diuruk, dan pohon-pohon peneduh yang telah berdiri puluhan tahun perlahan tergantikan oleh bangunan-bangunan dengan estetika yang seragam.

Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang dapat disebut sebagai komodifikasi kesunyian. Sesuatu yang dulu bersifat personal, intim, bahkan sakral dalam kehidupan masyarakat Bali, kini dikemas menjadi paket-paket wisata yang memiliki nilai jual tinggi. Meditasi pagi dengan latar matahari terbit atau kelas yoga di tengah rimbunnya pepohonan kini memiliki label harga yang tidak sedikit. Persoalannya bukan pada aktivitas tersebut, melainkan pada bagaimana keheningan itu dikonstruksi secara terencana dan diproduksi berulang untuk memenuhi permintaan pasar.

Dalam praktiknya, banyak orang datang untuk mencari ketenangan, tetapi tetap membawa kebiasaan lama yang sulit dilepaskan. Kita berpindah tempat dengan harapan menemukan kedamaian, namun seringkali tetap menatap layar ponsel, mengambil foto, lalu membagikannya ke media sosial. Pertanyaan sederhana pun muncul: apakah kita benar-benar sedang mencari ketenangan jiwa, atau sekadar mengonsumsi citra tentang ketenangan yang telah dikurasi oleh tren digital? Dalam kondisi seperti ini, ketenangan berpotensi berubah menjadi simbol yang dipamerkan, bukan pengalaman yang benar-benar dirasakan.

Kesunyian yang ditawarkan di berbagai destinasi “healing” seringkali merupakan kesunyian yang dibentuk secara khusus. Ia hadir melalui batas-batas fisik yang memisahkan ruang tamu dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Di balik dinding vila yang tertutup rapat, warga lokal tetap menjalani aktivitas sehari-hari, bekerja di sawah, menyiapkan upacara adat, atau mengurus keluarga. Namun suara kehidupan tersebut kadang dianggap sebagai gangguan yang perlu diminimalkan demi menjaga suasana yang dianggap tenang. Perlahan, pola seperti ini membentuk ruang-ruang yang eksklusif dan berjarak dari denyut kehidupan masyarakat setempat.

Padahal, esensi Bali sejatinya tidak terletak pada kesunyian yang dipasarkan sebagai produk, melainkan pada harmoni yang dijaga secara turun-temurun melalui konsep ‘Tri Hita Karana’, yaitu keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Dalam keseharian masyarakat Bali, keheningan seringkali lahir dari kesadaran kolektif, bukan dari kebutuhan ekonomi. Salah satu contoh yang paling dikenal adalah perayaan Nyepi, ketika seluruh pulau memilih diam sebagai bentuk refleksi dan penghormatan terhadap alam. Dalam momen seperti itu, kesunyian menjadi pengalaman bersama yang sarat makna, bukan sekadar layanan yang dapat dibeli.

Ketika kesunyian mulai memiliki nilai ekonomi yang tinggi, maknanya pun berpotensi mengalami pergeseran. Ia tidak lagi hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi menjadi sesuatu yang harus diproduksi dan dikelola layaknya komoditas lain. Di beberapa wilayah, perubahan fungsi lahan dari sawah menjadi akomodasi wisata telah mengubah lanskap sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Petani yang sebelumnya menjaga kesinambungan pangan menghadapi pilihan yang tidak mudah antara mempertahankan lahan atau menjualnya demi kebutuhan ekonomi. Dalam proses tersebut, bukan hanya tanah yang berpindah tangan, tetapi juga nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bersama.

Lebih jauh lagi, komodifikasi kesunyian juga berpotensi menciptakan jarak emosional antara pendatang dan warga lokal. Wisatawan datang dengan harapan menemukan ketenangan, sementara masyarakat setempat menyesuaikan diri dengan ritme ekonomi yang terus berubah. Jika tidak dikelola secara bijak, perubahan ini dapat menimbulkan ketegangan sosial yang tidak selalu tampak di permukaan, tetapi terasa dalam keseharian. Kesunyian yang ditawarkan kepada pengunjung bisa saja menghadirkan dinamika baru yang menuntut masyarakat lokal untuk beradaptasi dengan cepat.

Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk kembali memahami bahwa healing yang sejati tidak selalu berarti menjauh dari kehidupan, tetapi justru mendekatkan diri pada realitas. Menghargai kesunyian Bali berarti menghargai mereka yang menjaga alam tetap lestari dan tradisi tetap hidup. Healing bukan hanya aktivitas di ruang yang indah, melainkan proses untuk belajar mendengarkan, memahami, dan meresapi lingkungan sekitar dengan kesadaran yang utuh.

Barangkali, yang perlu dilakukan bukanlah menolak perkembangan pariwisata, melainkan mengubah cara kita memaknai kehadiran di Bali. Pariwisata yang berkelanjutan seharusnya tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan sosial dan budaya. Pembangunan yang sensitif terhadap lingkungan dan tradisi lokal dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi Bali ke depan adalah menjaga agar kesunyian tetap menjadi bagian dari jiwanya, bukan sekadar komoditas yang mengikuti arus tren. Jika kesunyian hanya dipandang sebagai barang dagangan, maka suatu hari kita mungkin akan menyadari bahwa yang hilang bukan hanya ketenangan, tetapi juga makna yang selama ini membuat Bali terasa berbeda dari tempat lain.

Menjaga Bali tetap hidup berarti menjaga ruang sunyi tetap memiliki makna yang mendalam. Kesunyian bukan sekadar keadaan tanpa suara, melainkan ruang untuk merenung, memahami diri, dan merasakan keterhubungan dengan alam dan sesama. Ketika kesunyian masih diperlakukan sebagai ruang yang dihormati, bukan sekadar dijual, maka Bali akan tetap memiliki suara batinnya sendiri, suara yang tidak perlu dipasarkan untuk tetap didengar. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: balihealingPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Next Post

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

Read moreDetails

Buzzer Rakyat

by Hartanto
May 25, 2026
0
Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

Read moreDetails

Perokok Bertanggung Jawab

by Angga Wijaya
May 25, 2026
0
Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

Read moreDetails

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

Read moreDetails

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
0
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

Read moreDetails

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
0
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

Read moreDetails

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

Bukan Hanya Salah Kaprah, "Sepakat 1.000%" Juga Cacat Logika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur
Bahasa

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

by I Made Sudiana
May 26, 2026
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
Buzzer Rakyat
Esai

Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

by Hartanto
May 25, 2026
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah
Tualang

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

by Chusmeru
May 25, 2026
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh
Panggung

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

by Made Chandra
May 25, 2026
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
Perokok Bertanggung Jawab
Esai

Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

by Angga Wijaya
May 25, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen
Khas

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111
Ulas Musik

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
Kota Tua Tak Pernah Mati
Tualang

Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co