6 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

Nur Kamilia by Nur Kamilia
May 5, 2026
in Esai
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

Ilustrasi tatkala.co | Canva

– Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral

BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di dunia modern: kesunyian. Di Ubud, Munduk, hingga Sidemen, kata “healing” telah menjadi mantra sakti yang terpampang di brosur vila, menu kafe, hingga takarir unggahan media sosial. Namun, ada paradoks yang terasa pelan namun nyata. Untuk menciptakan sebuah “kesunyian” yang bisa ditawarkan kepada para pelancong, mesin-mesin konstruksi harus bekerja tanpa henti, lahan-lahan persawahan yang menjadi saksi bisu peradaban agraria diuruk, dan pohon-pohon peneduh yang telah berdiri puluhan tahun perlahan tergantikan oleh bangunan-bangunan dengan estetika yang seragam.

Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang dapat disebut sebagai komodifikasi kesunyian. Sesuatu yang dulu bersifat personal, intim, bahkan sakral dalam kehidupan masyarakat Bali, kini dikemas menjadi paket-paket wisata yang memiliki nilai jual tinggi. Meditasi pagi dengan latar matahari terbit atau kelas yoga di tengah rimbunnya pepohonan kini memiliki label harga yang tidak sedikit. Persoalannya bukan pada aktivitas tersebut, melainkan pada bagaimana keheningan itu dikonstruksi secara terencana dan diproduksi berulang untuk memenuhi permintaan pasar.

Dalam praktiknya, banyak orang datang untuk mencari ketenangan, tetapi tetap membawa kebiasaan lama yang sulit dilepaskan. Kita berpindah tempat dengan harapan menemukan kedamaian, namun seringkali tetap menatap layar ponsel, mengambil foto, lalu membagikannya ke media sosial. Pertanyaan sederhana pun muncul: apakah kita benar-benar sedang mencari ketenangan jiwa, atau sekadar mengonsumsi citra tentang ketenangan yang telah dikurasi oleh tren digital? Dalam kondisi seperti ini, ketenangan berpotensi berubah menjadi simbol yang dipamerkan, bukan pengalaman yang benar-benar dirasakan.

Kesunyian yang ditawarkan di berbagai destinasi “healing” seringkali merupakan kesunyian yang dibentuk secara khusus. Ia hadir melalui batas-batas fisik yang memisahkan ruang tamu dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Di balik dinding vila yang tertutup rapat, warga lokal tetap menjalani aktivitas sehari-hari, bekerja di sawah, menyiapkan upacara adat, atau mengurus keluarga. Namun suara kehidupan tersebut kadang dianggap sebagai gangguan yang perlu diminimalkan demi menjaga suasana yang dianggap tenang. Perlahan, pola seperti ini membentuk ruang-ruang yang eksklusif dan berjarak dari denyut kehidupan masyarakat setempat.

Padahal, esensi Bali sejatinya tidak terletak pada kesunyian yang dipasarkan sebagai produk, melainkan pada harmoni yang dijaga secara turun-temurun melalui konsep ‘Tri Hita Karana’, yaitu keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Dalam keseharian masyarakat Bali, keheningan seringkali lahir dari kesadaran kolektif, bukan dari kebutuhan ekonomi. Salah satu contoh yang paling dikenal adalah perayaan Nyepi, ketika seluruh pulau memilih diam sebagai bentuk refleksi dan penghormatan terhadap alam. Dalam momen seperti itu, kesunyian menjadi pengalaman bersama yang sarat makna, bukan sekadar layanan yang dapat dibeli.

Ketika kesunyian mulai memiliki nilai ekonomi yang tinggi, maknanya pun berpotensi mengalami pergeseran. Ia tidak lagi hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi menjadi sesuatu yang harus diproduksi dan dikelola layaknya komoditas lain. Di beberapa wilayah, perubahan fungsi lahan dari sawah menjadi akomodasi wisata telah mengubah lanskap sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Petani yang sebelumnya menjaga kesinambungan pangan menghadapi pilihan yang tidak mudah antara mempertahankan lahan atau menjualnya demi kebutuhan ekonomi. Dalam proses tersebut, bukan hanya tanah yang berpindah tangan, tetapi juga nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bersama.

Lebih jauh lagi, komodifikasi kesunyian juga berpotensi menciptakan jarak emosional antara pendatang dan warga lokal. Wisatawan datang dengan harapan menemukan ketenangan, sementara masyarakat setempat menyesuaikan diri dengan ritme ekonomi yang terus berubah. Jika tidak dikelola secara bijak, perubahan ini dapat menimbulkan ketegangan sosial yang tidak selalu tampak di permukaan, tetapi terasa dalam keseharian. Kesunyian yang ditawarkan kepada pengunjung bisa saja menghadirkan dinamika baru yang menuntut masyarakat lokal untuk beradaptasi dengan cepat.

Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk kembali memahami bahwa healing yang sejati tidak selalu berarti menjauh dari kehidupan, tetapi justru mendekatkan diri pada realitas. Menghargai kesunyian Bali berarti menghargai mereka yang menjaga alam tetap lestari dan tradisi tetap hidup. Healing bukan hanya aktivitas di ruang yang indah, melainkan proses untuk belajar mendengarkan, memahami, dan meresapi lingkungan sekitar dengan kesadaran yang utuh.

Barangkali, yang perlu dilakukan bukanlah menolak perkembangan pariwisata, melainkan mengubah cara kita memaknai kehadiran di Bali. Pariwisata yang berkelanjutan seharusnya tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan sosial dan budaya. Pembangunan yang sensitif terhadap lingkungan dan tradisi lokal dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi Bali ke depan adalah menjaga agar kesunyian tetap menjadi bagian dari jiwanya, bukan sekadar komoditas yang mengikuti arus tren. Jika kesunyian hanya dipandang sebagai barang dagangan, maka suatu hari kita mungkin akan menyadari bahwa yang hilang bukan hanya ketenangan, tetapi juga makna yang selama ini membuat Bali terasa berbeda dari tempat lain.

Menjaga Bali tetap hidup berarti menjaga ruang sunyi tetap memiliki makna yang mendalam. Kesunyian bukan sekadar keadaan tanpa suara, melainkan ruang untuk merenung, memahami diri, dan merasakan keterhubungan dengan alam dan sesama. Ketika kesunyian masih diperlakukan sebagai ruang yang dihormati, bukan sekadar dijual, maka Bali akan tetap memiliki suara batinnya sendiri, suara yang tidak perlu dipasarkan untuk tetap didengar. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: balihealingPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Next Post

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Aoroville: Kota Eksperimental

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
0
Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

Read moreDetails

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

by Angga Wijaya
May 4, 2026
0
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

Read moreDetails

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
0
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

Read moreDetails

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
0
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

Read moreDetails

Guru Profesional Bekerja Proporsional

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
0
Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

Read moreDetails

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

Read moreDetails

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

by Angga Wijaya
May 2, 2026
0
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

Read moreDetails

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

Bukan Hanya Salah Kaprah, "Sepakat 1.000%" Juga Cacat Logika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi
Ulas Film

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

by Made Adnyana
May 6, 2026
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas
Panggung

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant
Gaya

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

by tatkala
May 4, 2026
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 4, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co