23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

Nur Kamilia by Nur Kamilia
May 5, 2026
in Esai
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

Ilustrasi tatkala.co | Canva

– Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral

BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di dunia modern: kesunyian. Di Ubud, Munduk, hingga Sidemen, kata “healing” telah menjadi mantra sakti yang terpampang di brosur vila, menu kafe, hingga takarir unggahan media sosial. Namun, ada paradoks yang terasa pelan namun nyata. Untuk menciptakan sebuah “kesunyian” yang bisa ditawarkan kepada para pelancong, mesin-mesin konstruksi harus bekerja tanpa henti, lahan-lahan persawahan yang menjadi saksi bisu peradaban agraria diuruk, dan pohon-pohon peneduh yang telah berdiri puluhan tahun perlahan tergantikan oleh bangunan-bangunan dengan estetika yang seragam.

Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang dapat disebut sebagai komodifikasi kesunyian. Sesuatu yang dulu bersifat personal, intim, bahkan sakral dalam kehidupan masyarakat Bali, kini dikemas menjadi paket-paket wisata yang memiliki nilai jual tinggi. Meditasi pagi dengan latar matahari terbit atau kelas yoga di tengah rimbunnya pepohonan kini memiliki label harga yang tidak sedikit. Persoalannya bukan pada aktivitas tersebut, melainkan pada bagaimana keheningan itu dikonstruksi secara terencana dan diproduksi berulang untuk memenuhi permintaan pasar.

Dalam praktiknya, banyak orang datang untuk mencari ketenangan, tetapi tetap membawa kebiasaan lama yang sulit dilepaskan. Kita berpindah tempat dengan harapan menemukan kedamaian, namun seringkali tetap menatap layar ponsel, mengambil foto, lalu membagikannya ke media sosial. Pertanyaan sederhana pun muncul: apakah kita benar-benar sedang mencari ketenangan jiwa, atau sekadar mengonsumsi citra tentang ketenangan yang telah dikurasi oleh tren digital? Dalam kondisi seperti ini, ketenangan berpotensi berubah menjadi simbol yang dipamerkan, bukan pengalaman yang benar-benar dirasakan.

Kesunyian yang ditawarkan di berbagai destinasi “healing” seringkali merupakan kesunyian yang dibentuk secara khusus. Ia hadir melalui batas-batas fisik yang memisahkan ruang tamu dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Di balik dinding vila yang tertutup rapat, warga lokal tetap menjalani aktivitas sehari-hari, bekerja di sawah, menyiapkan upacara adat, atau mengurus keluarga. Namun suara kehidupan tersebut kadang dianggap sebagai gangguan yang perlu diminimalkan demi menjaga suasana yang dianggap tenang. Perlahan, pola seperti ini membentuk ruang-ruang yang eksklusif dan berjarak dari denyut kehidupan masyarakat setempat.

Padahal, esensi Bali sejatinya tidak terletak pada kesunyian yang dipasarkan sebagai produk, melainkan pada harmoni yang dijaga secara turun-temurun melalui konsep ‘Tri Hita Karana’, yaitu keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Dalam keseharian masyarakat Bali, keheningan seringkali lahir dari kesadaran kolektif, bukan dari kebutuhan ekonomi. Salah satu contoh yang paling dikenal adalah perayaan Nyepi, ketika seluruh pulau memilih diam sebagai bentuk refleksi dan penghormatan terhadap alam. Dalam momen seperti itu, kesunyian menjadi pengalaman bersama yang sarat makna, bukan sekadar layanan yang dapat dibeli.

Ketika kesunyian mulai memiliki nilai ekonomi yang tinggi, maknanya pun berpotensi mengalami pergeseran. Ia tidak lagi hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi menjadi sesuatu yang harus diproduksi dan dikelola layaknya komoditas lain. Di beberapa wilayah, perubahan fungsi lahan dari sawah menjadi akomodasi wisata telah mengubah lanskap sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Petani yang sebelumnya menjaga kesinambungan pangan menghadapi pilihan yang tidak mudah antara mempertahankan lahan atau menjualnya demi kebutuhan ekonomi. Dalam proses tersebut, bukan hanya tanah yang berpindah tangan, tetapi juga nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bersama.

Lebih jauh lagi, komodifikasi kesunyian juga berpotensi menciptakan jarak emosional antara pendatang dan warga lokal. Wisatawan datang dengan harapan menemukan ketenangan, sementara masyarakat setempat menyesuaikan diri dengan ritme ekonomi yang terus berubah. Jika tidak dikelola secara bijak, perubahan ini dapat menimbulkan ketegangan sosial yang tidak selalu tampak di permukaan, tetapi terasa dalam keseharian. Kesunyian yang ditawarkan kepada pengunjung bisa saja menghadirkan dinamika baru yang menuntut masyarakat lokal untuk beradaptasi dengan cepat.

Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk kembali memahami bahwa healing yang sejati tidak selalu berarti menjauh dari kehidupan, tetapi justru mendekatkan diri pada realitas. Menghargai kesunyian Bali berarti menghargai mereka yang menjaga alam tetap lestari dan tradisi tetap hidup. Healing bukan hanya aktivitas di ruang yang indah, melainkan proses untuk belajar mendengarkan, memahami, dan meresapi lingkungan sekitar dengan kesadaran yang utuh.

Barangkali, yang perlu dilakukan bukanlah menolak perkembangan pariwisata, melainkan mengubah cara kita memaknai kehadiran di Bali. Pariwisata yang berkelanjutan seharusnya tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan sosial dan budaya. Pembangunan yang sensitif terhadap lingkungan dan tradisi lokal dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi Bali ke depan adalah menjaga agar kesunyian tetap menjadi bagian dari jiwanya, bukan sekadar komoditas yang mengikuti arus tren. Jika kesunyian hanya dipandang sebagai barang dagangan, maka suatu hari kita mungkin akan menyadari bahwa yang hilang bukan hanya ketenangan, tetapi juga makna yang selama ini membuat Bali terasa berbeda dari tempat lain.

Menjaga Bali tetap hidup berarti menjaga ruang sunyi tetap memiliki makna yang mendalam. Kesunyian bukan sekadar keadaan tanpa suara, melainkan ruang untuk merenung, memahami diri, dan merasakan keterhubungan dengan alam dan sesama. Ketika kesunyian masih diperlakukan sebagai ruang yang dihormati, bukan sekadar dijual, maka Bali akan tetap memiliki suara batinnya sendiri, suara yang tidak perlu dipasarkan untuk tetap didengar. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: balihealingPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Next Post

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

Bukan Hanya Salah Kaprah, "Sepakat 1.000%" Juga Cacat Logika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co