24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

Nur Kamilia by Nur Kamilia
May 5, 2026
in Esai
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

Ilustrasi tatkala.co | Canva

– Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral

BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di dunia modern: kesunyian. Di Ubud, Munduk, hingga Sidemen, kata “healing” telah menjadi mantra sakti yang terpampang di brosur vila, menu kafe, hingga takarir unggahan media sosial. Namun, ada paradoks yang terasa pelan namun nyata. Untuk menciptakan sebuah “kesunyian” yang bisa ditawarkan kepada para pelancong, mesin-mesin konstruksi harus bekerja tanpa henti, lahan-lahan persawahan yang menjadi saksi bisu peradaban agraria diuruk, dan pohon-pohon peneduh yang telah berdiri puluhan tahun perlahan tergantikan oleh bangunan-bangunan dengan estetika yang seragam.

Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang dapat disebut sebagai komodifikasi kesunyian. Sesuatu yang dulu bersifat personal, intim, bahkan sakral dalam kehidupan masyarakat Bali, kini dikemas menjadi paket-paket wisata yang memiliki nilai jual tinggi. Meditasi pagi dengan latar matahari terbit atau kelas yoga di tengah rimbunnya pepohonan kini memiliki label harga yang tidak sedikit. Persoalannya bukan pada aktivitas tersebut, melainkan pada bagaimana keheningan itu dikonstruksi secara terencana dan diproduksi berulang untuk memenuhi permintaan pasar.

Dalam praktiknya, banyak orang datang untuk mencari ketenangan, tetapi tetap membawa kebiasaan lama yang sulit dilepaskan. Kita berpindah tempat dengan harapan menemukan kedamaian, namun seringkali tetap menatap layar ponsel, mengambil foto, lalu membagikannya ke media sosial. Pertanyaan sederhana pun muncul: apakah kita benar-benar sedang mencari ketenangan jiwa, atau sekadar mengonsumsi citra tentang ketenangan yang telah dikurasi oleh tren digital? Dalam kondisi seperti ini, ketenangan berpotensi berubah menjadi simbol yang dipamerkan, bukan pengalaman yang benar-benar dirasakan.

Kesunyian yang ditawarkan di berbagai destinasi “healing” seringkali merupakan kesunyian yang dibentuk secara khusus. Ia hadir melalui batas-batas fisik yang memisahkan ruang tamu dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Di balik dinding vila yang tertutup rapat, warga lokal tetap menjalani aktivitas sehari-hari, bekerja di sawah, menyiapkan upacara adat, atau mengurus keluarga. Namun suara kehidupan tersebut kadang dianggap sebagai gangguan yang perlu diminimalkan demi menjaga suasana yang dianggap tenang. Perlahan, pola seperti ini membentuk ruang-ruang yang eksklusif dan berjarak dari denyut kehidupan masyarakat setempat.

Padahal, esensi Bali sejatinya tidak terletak pada kesunyian yang dipasarkan sebagai produk, melainkan pada harmoni yang dijaga secara turun-temurun melalui konsep ‘Tri Hita Karana’, yaitu keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Dalam keseharian masyarakat Bali, keheningan seringkali lahir dari kesadaran kolektif, bukan dari kebutuhan ekonomi. Salah satu contoh yang paling dikenal adalah perayaan Nyepi, ketika seluruh pulau memilih diam sebagai bentuk refleksi dan penghormatan terhadap alam. Dalam momen seperti itu, kesunyian menjadi pengalaman bersama yang sarat makna, bukan sekadar layanan yang dapat dibeli.

Ketika kesunyian mulai memiliki nilai ekonomi yang tinggi, maknanya pun berpotensi mengalami pergeseran. Ia tidak lagi hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi menjadi sesuatu yang harus diproduksi dan dikelola layaknya komoditas lain. Di beberapa wilayah, perubahan fungsi lahan dari sawah menjadi akomodasi wisata telah mengubah lanskap sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Petani yang sebelumnya menjaga kesinambungan pangan menghadapi pilihan yang tidak mudah antara mempertahankan lahan atau menjualnya demi kebutuhan ekonomi. Dalam proses tersebut, bukan hanya tanah yang berpindah tangan, tetapi juga nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bersama.

Lebih jauh lagi, komodifikasi kesunyian juga berpotensi menciptakan jarak emosional antara pendatang dan warga lokal. Wisatawan datang dengan harapan menemukan ketenangan, sementara masyarakat setempat menyesuaikan diri dengan ritme ekonomi yang terus berubah. Jika tidak dikelola secara bijak, perubahan ini dapat menimbulkan ketegangan sosial yang tidak selalu tampak di permukaan, tetapi terasa dalam keseharian. Kesunyian yang ditawarkan kepada pengunjung bisa saja menghadirkan dinamika baru yang menuntut masyarakat lokal untuk beradaptasi dengan cepat.

Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk kembali memahami bahwa healing yang sejati tidak selalu berarti menjauh dari kehidupan, tetapi justru mendekatkan diri pada realitas. Menghargai kesunyian Bali berarti menghargai mereka yang menjaga alam tetap lestari dan tradisi tetap hidup. Healing bukan hanya aktivitas di ruang yang indah, melainkan proses untuk belajar mendengarkan, memahami, dan meresapi lingkungan sekitar dengan kesadaran yang utuh.

Barangkali, yang perlu dilakukan bukanlah menolak perkembangan pariwisata, melainkan mengubah cara kita memaknai kehadiran di Bali. Pariwisata yang berkelanjutan seharusnya tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan sosial dan budaya. Pembangunan yang sensitif terhadap lingkungan dan tradisi lokal dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian nilai-nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi Bali ke depan adalah menjaga agar kesunyian tetap menjadi bagian dari jiwanya, bukan sekadar komoditas yang mengikuti arus tren. Jika kesunyian hanya dipandang sebagai barang dagangan, maka suatu hari kita mungkin akan menyadari bahwa yang hilang bukan hanya ketenangan, tetapi juga makna yang selama ini membuat Bali terasa berbeda dari tempat lain.

Menjaga Bali tetap hidup berarti menjaga ruang sunyi tetap memiliki makna yang mendalam. Kesunyian bukan sekadar keadaan tanpa suara, melainkan ruang untuk merenung, memahami diri, dan merasakan keterhubungan dengan alam dan sesama. Ketika kesunyian masih diperlakukan sebagai ruang yang dihormati, bukan sekadar dijual, maka Bali akan tetap memiliki suara batinnya sendiri, suara yang tidak perlu dipasarkan untuk tetap didengar. [T]

Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole

Tags: balihealingPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

Next Post

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

Nur Kamilia

Nur Kamilia

Magister Hukum Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

Bukan Hanya Salah Kaprah, "Sepakat 1.000%" Juga Cacat Logika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co