25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malam Ini | Cerpen Lanang Taji

Lanang Taji by Lanang Taji
January 11, 2025
in Cerpen
Malam Ini | Cerpen Lanang Taji

Illustrasi: Gede Busuk

MALAM ini adalah malam yang sama, yang mengerogoti setiap sel, berdenyut. Malam yang sama, dengan bintang di kejauhan. Berkerlip di antara awan tipis tertiup angin. Ini adalah malam yang sama dengan lolongan anjing. Tak ada cerita yang bisa diceritakan, tak ada kisah yang perlu dikisahkan.

Dalam layar 6 inchi, seorang lelaki bicara dengan lelaki lain, tentang hidupnya, tentang kisahnya, tentang kesibukannya. Berganti perempuan lain bercerita tentang dirinya dengan ceritanya. Berganti orang yang lain dengan cerita lain. Berganti orang lain dengan kisah lain. Berlipat-lipat saling tindih menindih. Dari kemarin, hari ini hingga besok. Penuh cerita tentang orang ini dan kisah tentang orang itu. Sesekali berganti tentang gosip negara, aib pemerintah, romantisme sejarah, dan omong kosong masa depan.

Sesekali berganti fatamorgana harapan, berganti ilusi kemakmuran, berganti celoteh keadilan, berlipat-lipat saling melipat. Diceritakan orang ini, dilanjutkan orang itu, diinginkan orang ini, ditolak orang itu. Cerita diceritakan, kisah dikisahkan, diucapkan berulang-ulang, menjelma celoteh sumbang memenuhi hari.

Orang bicara pencapaian, bicara keberhasilan, bicara kegagalan, bicara kejatuhan, bicara kebangkitan. Bicara pagi di siang hari, bicara siang di malam hari, bicara pagi di malam hari, lipat-melipat, tindih-menindih saling timpa, saling jejal.

Sementara kulit perlahan terkelupas, meninggalkan tubuh yang menghidupinya. Cahaya kian memudar, napas kian pendek dan jejalan cerita kian mejemukan.

Apa pertanyaan yang perlu ditanyakan? Jawaban hanya celoteh sumbang dari serangkaian lipatan cerita yang terus diceritakan.

Malam ini adalah malam kemarin, malam yang sama. Dengan lolongan anjing, bintang di kejauhan, awan tipis dan layar 6 inchi penuh cerita. Cerita yang diceritakan berulang-ulang, malam ini adalah malam kemarin.

Seseorang berbaring dalam kedinginan kamar, menyusun rencana untuk pagi hari nanti. Menyusun rencana dengan rapi, dengan detail, rencana untuk setiap detik, setiap menit, setiap jam, dengan rapi. Menyusun rencana dengan rapi. Namun hidup tak membiarkan rencana itu berjalan sesuai rencana yang telah direncanakan.

Orang lain di kamar yang lain menghempaskan tubuhnya di kasur. Coba menarik dirinya dari kekacauan yang disuguhkan hidup sepanjang hari tadi. Kekacauan yang tidak diinginkannya. Membenamkan diri pada lelap yang coba untuk dimasuki, lelap yang dalam tanpa dasar. Lari dari kekacauan yang disajikan. Namun hidup tak membiarkan dia semudah itu terkubur dalam lelap.

Malam ini adalah malam yang sama, malam yang lahir dari himpitan informasi yang menjejal. Malam yang dibangun oleh celotehan sumbang yang berputar dan menggema menyesakkan dada. Celotehan tentang ini, tentang itu, tentang mereka, ceolotehan yang menyesakkan.

Namun malam ini adalah malam yang masih bisa aku nikmati, masih hidup untuk bisa melaluinya. Bukankah masih hidup berarti masih baik?

Dan hidup hanya perjalanan kesendirian, perjalanan diri menyusuri setapak berlumpur yang pada setiap harinya akan dibukakan oleh hidup.

Berencana? Hanya milik keluarga yang dipaksa mempercayai rencana di bawah pengawasan babinsa. Mereka membuat seolah diri memiliki kuasa untuk membuat rencana, berencana, yang pada kenyataannya tidak.

Malam ini adalah malam yang sama, seperti kemarin. Bintang yang sama di kejauhan sana, lolongan anjing yang sama dan awan yang sama. dan malam yang sama untuk merencanakan esok. Esok yang direncanakan malam ini, adalah esok yang lebih baik daripada esok yang direncanakan malam kemarin yang menjadi tadi pagi malam ini.

Manusia berencana, hidup menentukan.

Hujan turun malam ini, awan berhasil menjaga kandungannya untuk melahirkan. Dia menutup kerlip bintang. Akhirnya ada yang bisa dilahirkan kelabu awan, hujan. Anak mahal yang selalu coba digugurkan oleh manusia yang tidak ingin rencananya hancur, lewat pawang, lewat laser.

Rencana selalu menjadi orientasi, padahal itu hanya rencana.

Lalu berdoa setiap hari, setiap menit, setiap detik hanya untuk memohon rencana diwujudkan. Rencanaku, rencanamu, rencana kita, rencana kami, dan luput pada hidup yang memiliki kuasanya sendiri.

Apa yang akan terjadi jika hidup tidak seperti apa yang direncanakan?

Apa pertanyaan yang perlu ditanyakan? Jawaban hanya celoteh sumbang dari serangkaian lipatan cerita yang terus diceritakan.

Hidup memiliki kuasanya, berkuasa pada setiap diri yang merasa memiliki rencana akan diri, akan hidup. Walau pada kenyataanya tubuh ini, diri ini hanya bisa merencanakan.  Dan lupa bahwasanya seonggok daging ini hanya pertarungan mati-lahir-mati-lahir,yang berlangsung pada setiap detiknya.

Malam ini adalah malam yang sama seperti malam kemarin, ketika hidup coba direncanakan dan diberangus oleh hidup itu sendiri. Karena rencana hanya rencana, hidup yang menentukan.

Ada kemeja yang disiapkan, kemeja yang licin oleh setrika. Ada celana wangi yang tersedia. Ada sepatu mengkilap yang berubah menjadi cermin, yang siap sedia melangkahi hari. Itu semua, mereka semua siap, disiapkan dalam rencana. Siap sedia untuk menghadapi pagi dengan serangkaian rupa penghakiman. Siap sedia.

Namun hidup berencana lain.

Rencana hanya rencana, hidup punya rencananya sendiri.

Terhisaplah pada kasur, hingga jumawa tak menghinggapimu. Terlelaplah hingga sadar, rencana hanya rencana, dan harapan yang ingin digapai lewat setiap rencana menampar diri. Hadir untuk sekedar mengingatkan, hidup yang menghidupi bukan dalam kuasa kepemilikan diri. Dan tidak bisa dalam kuasa diri.

Marah, tentu saja marah. Marah karena apa yang direncanakan tidak seperti yang hidup hadirkan. Marah karena ingin tidak terwujud. Marah, pasti marah, karena kecewa apa yang direncanakan tak seperti dalam rencana.

Namun malam ini adalah malam yang sama, seperti malam kemarin. Malam di mana rencana coba disusun, dan hidup membentangkan harinya, kenyataan menghacurkan susunan rencana.

Bentangan hari di mana hidup tidak menginginkan aku hadir, tidak menginkan dirimu ada.

Ini hanya alasan, atau kalian bisa membacanya sebagai alasan, sebagai pembenaran atas ketidakmampuan untuk mewujudkan apa yang direncanakan. Ya, kalian bisa membacanya sebagai alasan, sebagai pembenaran.

Tepat ketika pembacaan itu hadir menjadi penghakiman, tepat di sana, pembelajaran hadir.

Pembelajaran bahwasanya setiap simpul keterhubungan, hadir dalam fondasi kepentingan. Hidup memberi setapak jalan pada tiap diri, menghadirkan persimpangan pertemuan, melahirkan ekspektasi satu sama yang lain. Menghadirkan harapan satu sama yang lain.

Namun harapan, seperti halnya mimpi hanya fatamorgana.

Dan dalam persimpangan, dalam pertemuan, dalam harap, hidup memberi jalan pada tiap diri, pada tiap kesendirian. setapak yang berbeda, kubangan yang lain, lumpur yang beda, dihadirkan hidup untuk tiap diri yang hidup.

Namun persimpangan dan pertemuan tak memahami rencana hidup, satu-satunya rencana yang disadari adalah rencana diri. Jadi ketika rencana yang direncanakan tak sesuai dengan rencana, menyalahkan adalah cara paling mudah untuk menerima kenyataan bahwasanya rencana tak lagi sesuai dengan apa yang direncanakan.

Illustrasi: Gede Busuk

Malam ini adalah malam yang sama seperti malam kemarin, di mana anjing melolong, bintang di kejauhan, dan awan tipis yang terhempas oleh tiupan angin.

Dan keterkejutan apa yang harus diratapi?

Apa pertanyaan hang perlu ditanyakan? Jawaban hanya celoteh sumbang dari serangkaian lipatan cerita yang terus diceritakan.

Dan dengan mudah menyalahkan adalah cara cepat untuk menghadapi kenyataan hidup yang dihadirkan oleh hidup. Dan kita, aku dan kamu tak akan peduli pada kenyataan bahwasanya hidup menghadirkan lubang, kubangan, lumpur dan setapak yang beda untuk setiap diri. Lupa pada bagaimana hidup menghadirkan jalan hidup dan kehidupan pada setiap diri.

Dan persimpangan yang menghadirkan pertemuan telah merajut kita, setiap diri ini menjadi jalinan untuk saling menyalahkan dan saling mengkambinghitamkan atas rencana yang direncanakan, atas rencana diri masing-masing, atas rencana kita yang telah direncanakan. Seolah diri ini dan kita memiliki kuasa atas hidup sehingga bisa menghadirkan kenyataan seperti apa yang direncanakan.

Pertemuan yang dihadirkan oleh persimpangan yang melahirkan persinggungan mewujudkan rencana, dan penghakiman, dan pengkambinghitaman ketika  rencana pupus oleh hidup.

Malam ini adalah malam yang sama seperti malam kemain, bintang berkelip di kejauhan, anjing melolong dan awan tipis berarak dihembus angin.

Malam yang sama yang hadir setiap malam untuk sekadar mengingat bahwanya pertemuan yang hadir di setiap persimpangan lahir dan dilahirkan oleh hidup, lahir ketika hidup menginginkannya.

Persimpangan melahirkan ingin, melahirkan harap, melahirkan mimpi, melahirkan rencana. Yang ingin diwujudkan, dinyatakan. Namun itu hanya rencana. Namun jika apa yang direncanakan, diagendakan tidak sesuai dengan agenda, dengan rencana kambing hitam butuh dilahirkan. Selalu seperti itu dan akan selalu seperti itu.

Adam dan hawa butuh seekor ular pembujuk atas ingin menyantap apel, kita terlahir dengan konstruksi semacam itu. Membutuhkan kambing hitam untuk setiap kenyataan yang tak sesuai dengan rencana.

Dan malam ini adalam malam yang sama. dengan bintang di kejauhan, lolongan anjing dan kabut yang memudar tertiup angin.

Malam yang sama seperti kemarin.

Dan setiap persimpangan dan persinggunggan yang dilahirkan hidup, hanya sebuah ruang untuk mengkambinghitamkan, ruang untuk menyalahkan.

Karena satu-satunya alasan pertemuan dan persinggungan di antara diri tercipta adalah kepentingan diri sendiri. Dan jika kepentingan diri yang direncanakan tak menyata, menyalahkan diri yang lain jauh lebih mudah daripada menyalahhkan diri sendiri.

Dan saya salah karena menulis ini.

Dan meminta maaf karena terlalu naif untuk percaya manusia bisa saling mengerti. Tidak manusia tidak akan pernah saling mengerti, mereka mengerti dalam kepentingan diri sendiri. Jika tidak seperti apa yang diri rencanakan, mereka akan mencipkan kambing hitam untuk dimangsa. [T]

19.12.24

KLIK untuk BACA cerpen lain

Perempuan Sumur | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Bola di Pekarangan Mbah Rojek | Cerpen Andi Wirambara
Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wacana Politisasi  Pilkada ke DPRD

Next Post

Puisi-puisi Kadek Bintang Krisnanti | Danau Sunter, Mari Menari

Lanang Taji

Lanang Taji

Part time citizen, full time netizen. tukang tulis di I NI timpalkopi

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Kadek Bintang Krisnanti | Danau Sunter, Mari Menari

Puisi-puisi Kadek Bintang Krisnanti | Danau Sunter, Mari Menari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co