14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesan Kemanusiaan dalam Cerita Pendek “Dongeng Sebelum Tidur” Karya Seno Gumira Ajidarma

Karisma Nur Fitria by Karisma Nur Fitria
July 18, 2024
in Kritik Sastra
Pesan Kemanusiaan dalam Cerita Pendek “Dongeng Sebelum Tidur” Karya Seno Gumira Ajidarma

Ilustrasi artikel ini diambil dari ilustrasi cerpen Dongeng sebelum tidur, Kompas, 22 Januari 1995, karya SN Rahardjo

 MANUSIA mestinya memahami prinsip dan cara kerja kemanusiaan terlepas dari jabatan, golongan tertentu, atau derajat. Manusia sebagai makhluk yang mendominasi di muka bumi disebut-sebut sebagai makhluk sosial. Seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles, manusia merupakan Zoon Politicon yaitu makhluk yang selalu ingin berinteraksi dalam masyarakat.

Manusia sebagai makhluk sosial tentu berhubungan dengan manusia lain dan untuk untuk itu perlu memahami prinsip-prinsip kemanusiaan agar terjalin kehidupan yang harmonis. Pada era saat ini justru banyak manusia melupakan prinsip kemanusiaan dalam kehidupan.

Tidak heran apabila banyak yang menyuarakan hak-hak kemanusiaan bagi para korban penyelewengan hak seperti korban penggusuran. Penggusuran bukan hal yang asing lagi bagi masyarakat. Bahkan dalam kegiatan demonstrasi hal ini disuarakan, inilah yang disebut dengan aksi kemanusiaan. Aksi kemanusiaan ini bertujuan untuk melindungi kehidupan dan kesehatan, dan menjamin rasa hormat terhadap umat manusia.

Koentjaraningrat mengatakan bahwa nilai kemanusiaan adalah sesuatu yang menyangkut kelakuan dan perbuatan manusia sesuai dengan norma dan menghormati martabat manusia. Nilai kemanusiaan rasanya mulai terkikis seiring perkembangan dan pembangunan. Pemaknaan kemanusiaan menjadi hal yang kurang diperhatikan dalam berbagai hal seperti penggusuran.

Hal ini dapat terjadi karena manusia lebih memilih mengabaikan hakikat kemanusiaan. Penggusuran tidak salah demi perkembangan dan pembangunan tapi dengan melupakan nilai kemanusiaan, itulah yang menjadikannya salah.

Cerpen berjudul “Dongeng Sebelum Tidur” karya Seno Gumira Ajidarma mengisahkan sesuatu yang mewakili para korban penggusuran yang tidak mendapatkan perlakuan layak. Cerpen ini terbit pada 1995 di harian Kompas dan kemudian turut disertakan dalam buku antologi cerpen berjudul “Iblis Tidak Pernah Mati”. Cerita ini melukiskan tokoh Sari, seorang anak berusia 10 tahun sebagai perwakilan manusia yang hatinya masih memiliki rasa kemanusiaan.

Sari memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Ibunya. Setiap malam, Ibunya akan menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur. Sejak Sari berusia lima tahun, sang ibu mengisahkan cerita yang berbeda-beda. Meskipun ibunya sangat sibuk karena bekerja, tetap tidak lupa untuk menyiapkan cerita untuk Sari.

Hal ini menggambarkan sebuah hubungan yang baik antara orang tua dan anak atau malah hubungan antara sesama manusia yang mengasihi. Sebab selalu menghadirkan cerita berbeda selama lima tahun kepada Sari, suatu ketika sang ibu telah kehabisan cerita. Dari sinilah dasar penulis mewujudkan nilai kemanusiaan melalui tokoh Sari.

Sembari masih menggendong, ibunya menyambar koran di meja. Entah koran kapan. Selintas saja disambarnya judul-judul berita. Ketika ia meletakkan sari di tempat tidur, sambal mencopot sepatu tinggi, dan membuka blazer-nya, sebuah berita menempel di kepalanya. Ia masih mempertimbangkan, apakah berita itu akan disulapnya menjadi sebuah cerita.

“Cerita tentang apa sekarang Mama?”

Ibunya menghela nafas. Di manakah batas antara dongeng dan kenyataan?

“Dengarlah Sari, cerita ini dimulai dengan pengakuan seorang Ibu.”

Lantas ibunya membaca berita itu.

Saya sudah tinggal di sini sejak usia delapan tahun sampai memiliki tiga anak dan seorang cucu. Tiba-tiba saja, pada usia yang ke-39 sekarang ini – jadi setelah 31 tahun hidup di sini, setelah saya makin merasa bahwa inilah kampung halaman saya, kampung halaman anak-anak dan cucu saya- saya dipaksa pindah dan hanya diberi uang Rp 400.000. siapa yang tidak marah diperlakukan seperti itu? adilkah ganti rugi dengan nilai sekecil itu?

Saya bersama suami saya memang tinggal di atas tanah negara. Tapi saya punya KTP, taat membayar PBB dan tak pernah melawan pemerintah. Kini, setelah rumah saya terbakar dan dibongkar, setelah barang-barang kami rusak semua, kami tidak memiliki apa-apa lagi.

Seharusnya mereka tidak membiarkan kami seperti ini. kami juga tidak tahu harus ke mana setelah ini.

Apa yang bisa saya lakukan hanyalah mengungsikan Sebagian anak-anak saya. Saya kini menunggu kepastian. Uang Rp 400.000 untuk kontrak sebuah keluarga yang layak, sangat tidak cukup. Uang sebesar itu hanya bisa dipakai untuk kontrak rumah ala-kadarnya selama tiga bulan. Ini pun kalau belum naik, dan jika uang itu hanya dipakai untuk kontrak rumah saja. Bagaimana jika kami menyewa truk untuk mengangkut sisa barang kami? Saya juga meragukan bisa tinggal di rumah susun. Untuk membayangkan saja belum pernah, apalagi mempercayai janji bahwa kami bisa hidup lebih baik di rumah susun itu nanti…*)

Lantas ibunya mencoba bercerita berdasarkan foto-foto yang ada di koran itu, begitu asyik, sampai tak tahu betapa Sari terperangah.

Cerita yang tidak menyenangkan bagi seorang anak-anak. Melalui cerita “nyata” yang disulap menjadi sebuah “dongeng” pengantar tidur, membuat Sari justru tidak bisa tidur. Bagaimana bisa seorang anak mendengarkan kisah tragis yang belum didengarnya selama lima tahun terakhir? Cerita yang dilayangkan sang ibu membuat Sari mengetahui sebuah kepahitan seseorang dalam hidup yang bernama “kemanusiaan”.

Persoalan kemanusiaan dalam kisah ini bukan melihat yang benar dan yang salah, melainkan sikap dan tabiat manusia yang seharusnya dalam bertindak. Pengakuan seorang ibu dalam “dongeng” menggambarkan bagaimana nilai kemanusiaan itu dilupakan. Tanah di atas bumi ini sudah memiliki klaim dan menjadi hak masing-masing orang atau negara. Sudah tidak ada lagi tanah yang dapat ditinggali seseorang secara bebas dan damai. Penggusuran tentu tidak salah apabila memang seseorang menempati yang bukan miliknya. Namun demikian, penggusuran tanpa rasa kemanusiaan adalah kesalahan besar.

Dongeng-dongeng sebelum tidur yang diceritakan ibunya biasanya sangat romantis, indah, dan membayangkan suatu alam yang tenang. Tapi kini debu mengepul dalam bayangan Sari, bulldozer menggasak tembok-tembok rumah penduduk, dalam waktu singkat satu kampung menjadi rata dengan tanah. Ibu-ibu diseret, anak-anak menangis, dan bapak-bapak berkelahi melawan para petugas. Sari memejamkan mata,, namun ibunya terus bercerita tentang kebakaran yang berkobar-kobar, jeritan orang-orang yang kehilangan rumah, dan terik matahari yang seakan menjadi lebih menyengat dari biasanya.

Ketika mengakhiri ceritanya, dengan gambaran matahari senja yang bulat, merah, dan besar turun perlahan-lahan di balik siluet jalan-layang yang berseliweran, ibunya merasa Bagai habis berlari lama sekali dan kini terengah-engah.

“Jadi, mereka tidur sambal memandang rembulan, Mama?”

Tokoh ibu membawa pembaca membayangkan berada di posisi Sari (anak 10 tahun) dengan kisah yang keras. Tentu kisah itu tidak akan begitu menyakitkan bagi orang dewasa, namun bagi seorang anak kecil yang lugu, tidak bisa dibayangkan seperti apa reaksi dalam batinnya. Kisah penggusuran dari ibu untuk Sari menyiratkan nilai kemanusiaan yang besar.  Kembali melihat hakikat dari nilai kemanusiaan itu sendiri yaitu sesuatu yang menyangkut kelakuan dan perbuatan manusia sesuai dengan norma dan menghormati martabat manusia.

Mendengar kisah penggusuran yang begitu keras membuat anak berusia 10 tahun itu memiliki perasaan yang lembut. Sari tidak melupakan cerita itu, justru merenungkan sesuatu dengan melihat rembulan

“Jadi, mereka tidur sambal memandang rembulan, Mama?”

Ibunya hanya tersenyum, memandang keluar jendela. Ada rembulan di luar sana.

“Kututup gordennya Sari?”

“Biarkan begitu Mama, aku ingin memandang rembulan itu, seperti mereka”

Kutipan ini terletak pada bagian awal ini akan membuat bingung pembaca. Akan tetapi, tidak menjadi masalah. Penggambaran perasaan Sari dapat dirasakan oleh pembaca dengan baik dalam cerita ini. Sari mengungkapkan sesuatu yang menyentuh pembaca Biarkan begitu Mama, aku ingin memandang rembulan itu, seperti mereka. Mereka yang maksud sari adalah para korban penggusuran yang tidak diberikan hak kemanusiannya. Sari yang merupakan seorang anak kecil secara tidak langsung digambarkan memiliki empati yang besar, perasaan sedih, dan memiliki rasa kemanusiaan dalam dirinya. Mendengarkan kisah yang demikian membuat Sari mengetahui penderitaan orang-orang itu.

Cerpen “Dongeng Sebelum Tidur” bukan sebuah cerpen yang sesederhana judulnya. Penyajian nilai kemanusiaan dalam cerita ini membuat pembaca terenyuh dan memahami arti kemanusiaan melalui tokoh anak kecil bernama Sari. Rasa kemanusiaan dimunculkan dari seorang anak kecil melalui “dongeng” pengantar tidurnya.

Menyikapi hal ini, sebenarnya memiliki nilai baik dan kurangnya. Seorang anak kecil digambarkan mendapatkan kisah yang kasar dari seorang ibu yang mengubah kisah nyata menjadi dongeng adalah ketidakbenaran dalam sastra anak. Akan tetapi, ini hanyalah cerita yang memungkinkan semua hal terjadi. Selain itu, dengan menghadirkan cerita penggusuran melalui Sari menjadi contoh pentingnya seorang anak mendapatkan pengetahuan mengenai rasa kemanusiaan.

Penulis menggambarkan cerita dalam cerita dengan baik sehingga pembaca dapat mengimajinasikan suasana batin, latar kejadian, peristiwa yang terjadi, dan lainnya. Menggunakan pola alur maju mundur yang sederhana menjadikan cerita ini unik dan berbeda.

Ketika membaca pada bagian awal, pembaca tidak akan mengerti maksud dari percakapan awal Sari dan ibunya. Akan tetapi, setelah selesai membaca cerita secara keseluruhan pembaca akan tertarik membuka bagian pertama dan kembali membaca untuk merasakan lebih dalam suasana batin Sari.

Cerita ini dapat dibaca sebagai bahan koreksi diri mengenai kepedulian terhadap sesama. Pembaca akan menemukan perasaan yang berbeda ketika membaca cerita ini. “Dongeng Sebelum Tidur” bukan mengenai dongeng indah dari ibu untuk sang anak. Justru menyinggung pembaca mengenai rasa kemanusiaan yang bahkan dimiliki oleh seorang anak kecil. [T]

  • Ilustrasi artikel ini diambil dari ilustrasi cerpen Dongeng sebelum tidur, Kompas, 22 Januari 1995, karya SN Rahardjo
  • BACA artikel lain dari penulis KARISMA NUR FITRIA
“Saya Tak Bisa Seperti Tohari,” kata Seno Gumira Ajidarma
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Judul adalah Kunci
Orang-Orang Pulau yang Tersingkir: Lima Cerita B.M. Syamsuddin
Suara-suara “Liyan” Setelah 25 Tahun Reformasi: Membaca Kembali Karya-karya Ayu Utami
Angkatan Baru, Polemik Makna Berpendidikan
Faisal Oddang: “Saya pikir saya tidak muda.”
Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian
Pikiran dan Luka Tak Berdarah dalam Diri – Ulasan Buku “Yang Belum Usai: Kenapa Manusia Punya Luka Batin?”
“Malu Dong!” Si Keren Pengabai Aturan Jalan
Menggemparkan Suara di Tengah Ketidakadilan: Ulasan Kumpulan Puisi “Jari Tengah” karya Alfian Dippahatang
Kisah Cinta yang Mendewasakan — Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra
“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua
Lada dari Papa
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Apakah Aku Normal?
Meretas Penyimpangan dalam Perjalanan Budaya dan Spiritualitas Tanah Minangkabau pada Novel “Segala Yang Diisap Langit” karya Pinto Anugrah
Menafsirkan Goresan Luka dari Pisau yang Tak Dapat Maaf
Alusi dan Ihwal yang Belum Selesai dalam “Bolang dari Baon”
Tags: CerpenSeno Gumira Ajidarma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bek”, Novel Terbaru Mahfud Ikhwan, akan Dibedah dan Didiskusikan di Galerikertas Studiohanafi

Next Post

Berkunjung dan Membayangkan Masa Lalu di Rumah Batuan, Rumah Tradisional di Desa Batuan-Gianyar

Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria

Mahasiswi berusia 20 tahun yang sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Memiliki ketertarikan dalam bidang kepenulisan berbagai genre baik fiksi maupun non fiksi. Tengah berusaha mengembangkan project humanity @katabantu_ dengan konsep menjual e-book karya sastra dan 100% hasil penjualannya akan didonasikan untuk aksi kemanusiaan.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Berkunjung dan Membayangkan Masa Lalu di Rumah Batuan, Rumah Tradisional di Desa Batuan-Gianyar

Berkunjung dan Membayangkan Masa Lalu di Rumah Batuan, Rumah Tradisional di Desa Batuan-Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co