23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dia Sedang Berjuang | Cerpen Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
December 23, 2023
in Cerpen
Dia Sedang Berjuang | Cerpen Putri Santiadi

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

ENAM tahun yang lalu, aku belum memahami setiap rasa yang datang. Banyak impian yang aku semogakan. Dari mimpi menjadi cita-cita bahkan ketakutan yang luar biasa. Padahal, aku belum cukup dewasa, hanya perempuan kecil yang tidak bisa bergaul dengan hebat, tidak bisa berada di keramaian, bahkan lebih memilih berimajinasi dengan pikiran sendiri.

Aku mengenal banyak orang dengan kepribadian yang berbeda. Tanpa mengobrol pun, rasanya sudah tahu bagaimana ia akan memperlakukan aku kelak. Terlalu banyak pikiran buruk yang muncul, meski hanya bersalaman dan menyebut nama.

Kalian tahu? Aku tidak punya banyak teman, apalagi sahabat. Aku merasa dunia tidak baik untuk menjadi asik. Peduli apa mereka tentang aku, benakku.

Aku putuskan, kalian akan mengenal diri ini dari sisi terburuknya. Apa yang ingin dibahas paling awal? Kehidupan keluarga? Tidak akan aku ceritakan kepada kalian, sebab bagiku bercerita tentang keluarga adalah kaku.

Untuk memulai cerita, aku perlu memperkenalkan diri, maka sebut saja aku sesuka hati kalian. Pemilik raga ini hidup sederhana bersama keluarga yang lengkap. Tidak seperti kebanyakan orang yang memiliki privilege sejak lahir, maka usahalah yang menuntunku sampai ke titik ini.

“Kalau orang bilang mustahil, harusnya kamu dengan lantang mengatakan bahwa tidak ada yang mustahil,” kata Ibu.

Perkataan itu tertanam dalam benakku. Kalau dipikir-pikir, aku menjadi salah satu anak yang beruntung di muka bumi ini. Kenapa tidak? Aku memiliki orang tua dan kedua saudara yang selalu menjadi tempat pengaduan.

Tapi, semua berubah sejak aku beranjak dewasa. Lebih suka menyendiri dan tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang di rumah. Aku enggan untuk mengungkapkan segala rasa yang berlomba-lomba masuk ke duniaku. Semua terserak. Mereka juga sibuk dengan dunianya sendiri, bukan sebab perubahanku, tapi karena dunia sedang dilanda virus mematikan. Hingga kami sibuk membentengi diri sendiri dengan aku yang berusaha menjadi pahlawan kesiangan.

Aku membantu mencari sumber pertahanan hidup sembari menggeluti Sekolah Menengah Atas. Hal itu mengganggu proses belajar, tapi aku tidak bisa berbuat banyak hal. Kalian tahu? Aku tidak dipaksa, hanya saja sudah menjadi kewajiban untuk membantu. Meskipun aktivitas bertemu, berkumpul, dan bermain bersama teman menjadi hilang. Pagi hingga sore, berkelana dengan keringat.

Lalu, ketika bulan menggantikan matahari maka sudah saatnya melanjutkan tanggung jawabku sebagai siswa. Tidak hanya aku yang bersikeras, tapi mereka juga berupaya agar tak terhanyut dalam air yang tenang. Kegiatan berulang hingga waktu kelulusanku tiba. Prestasi di sekolah menurun karena fokusku terbagi, tapi untuk pertama kalinya mereka tidak marah, sebab aku sudah lulus jadi tak pusing memikirkan pelepasan beasiswa. Begitulah.

Setelah itu, aku memutuskan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan segala cara tanpa memberitahu siapapun. Aku mendaftarkan diri dengan bantuan dan semangat dari para guru di sekolah. Rasanya mustahil ketika harapan ini bisa menjadi kenyataan, tapi pesan Ibu selalu membawaku pada keberanian.

“Jika aku gagal hari ini, maka Tuhan sudah tentukan jalan yang lebih baik dari usahaku,” kataku dalam diam.

Sembari mencari bekal untuk membayar uang kuliah dan tempat tinggal, aku juga berusaha untuk menggunakan segala bentuk penghargaan yang sudah pernah menjadi hak milik. Harapanku hanya mimpi ini tidak merepotkan. Imajinasi-imajinasi yang sudah dirangkai sedemikian rupa akan mendapatkan tempat, kataku.

Kala itu, entah hari apa sungguh tidak ingat. Aku mendapat pesan dari temanku. Katanya, “Aku lulus di Universitas Udayana dan dapat beasiswa, kamu gimana?”

Rasanya bahagia dan terharu mendengar ia sudah berhasil mewujudkan salah satunya mimpinya. Tapi, pikiranku kalang kabut dengan segala hal buruk. Aku yang masih berkutik dengan pelanggan menemui pesan yang membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Dan itu membuatku tidak fokus dan ingin buru-buru membuka gawai.

Apalah dayaku harus menunggu waktu pulang sembari memastikan rasa yang muncul menjadi netral. Meskipun sangat sulit.

Pukul 18:00 WITA, aku sudah memasuki ruangan kecil dalam rumah dengan ketakutan dan ketidaksiapan. Rasa itu membawaku menelusuri halaman dengan menuliskan nomor pendaftaran serta nama. Dengan jaringan sedikit lambat membuat dunia semakin dramatis. Entahlah, aku tidak bisa mengucapkan banyak hal, hanya doa dalam hati hingga pengumuman memunculkan kalimat, “Selamat Anda diterima di Universitas Pendidikan Ganesha”.

Gemetar sekujur tubuh. Tidak pernah rasanya aku berada di situasi ingin mengambil dua pilih, menyerah dan berjuang.

“Sekolah jauh-jauh, bukannya di sini ada kampus ternama juga?”

“Jurusan Bahasa Indonesia, mau jadi apa?”

“Kalau mimpi jangan tinggi-tinggi, mau gantiin presiden?”

Semua muncul kembali dalam ingatan, pengumuman itu adalah secercah harapanku. Tapi, juga kelemahan yang membuatkan takut untuk melangkah lebih jauh. Bahkan, orang tuaku tidak memberi ucapan selamat kepada anaknya karena jalan sudah terpenuhi. Mereka tidak jahat, hanya saja tidak mengerti bagaimana mengungkapkan rasa bangga dan kagum kepada anaknya. Aku paham karena mereka bukan sosok yang romantis.

Satu hal, ketika aku beritahu kelulusan ini, hanya ada pertanyaan “bayarnya berapa?”. Iya, mereka takut aku berhenti di tengah jalan karena tidak ada biaya. Mereka tidak ingin aku memusingkan hal yang menjadi tanggung jawab mereka.

Sedikit lega rasanya ketika aku beritahu bahwa pemerintah sudah membiayai sampai lulus. Itulah kejutan yang sesungguhnya. Aku lulus di kampus impian dengan beasiswa.

“Banggalah dengan perjuanganmu,” kata Ibu.

“Orang tuamu tidak berpendidikan tinggi, tapi jadilah salah satu yang membuat kami merasa pernah berpendidikan,” ungkap Bapak.

“Selamat, Kak, aku ingin menjadi sepertimu,” kata adikku yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Kamu beruntung!” Sepenggal harapan dari kakak ku yang paling cuek.

Kalimat itu mengantarkan aku menuju Singaraja, meskipun harus merepotkan Bapak dengan membawaku mengendarai sepeda motor karena aku belum mengenal jalan. 

Pertigaan Jalan Teuku Umar menjadi saksi bisu betapa semangatnya perjuangan orang tuaku membawa anak tengahnya ini menuju tempat impian, Universitas Pendidikan Ganesha. Semua perjalanan belum selesai. Setelah itu, aku harus meyakinkan diri sendiri untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan dan berpacu dengan usia orang tuaku. [T]  

  • Cerpen ini adalah hasil workshop Cipta Sastra dalam acara Pekan Raya Cipta Karya Mahima yang diselenggarakan Komunitas Mahima, Selasa 28 November 2023, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Bali.
  • Baca CERPEN lain
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Perahu | Cerpen Dian Suryantini
Hadiah Ole | Cerpen Nurjaya PM
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rony Fernandez | Pemakaman, Senja, Persiapan Perang

Next Post

Yogyakarta dan Musik Puisi yang Tak Pernah Kehilangan Tempat

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Yogyakarta dan Musik Puisi yang Tak Pernah Kehilangan Tempat

Yogyakarta dan Musik Puisi yang Tak Pernah Kehilangan Tempat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co