3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dia Sedang Berjuang | Cerpen Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
December 23, 2023
in Cerpen
Dia Sedang Berjuang | Cerpen Putri Santiadi

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

ENAM tahun yang lalu, aku belum memahami setiap rasa yang datang. Banyak impian yang aku semogakan. Dari mimpi menjadi cita-cita bahkan ketakutan yang luar biasa. Padahal, aku belum cukup dewasa, hanya perempuan kecil yang tidak bisa bergaul dengan hebat, tidak bisa berada di keramaian, bahkan lebih memilih berimajinasi dengan pikiran sendiri.

Aku mengenal banyak orang dengan kepribadian yang berbeda. Tanpa mengobrol pun, rasanya sudah tahu bagaimana ia akan memperlakukan aku kelak. Terlalu banyak pikiran buruk yang muncul, meski hanya bersalaman dan menyebut nama.

Kalian tahu? Aku tidak punya banyak teman, apalagi sahabat. Aku merasa dunia tidak baik untuk menjadi asik. Peduli apa mereka tentang aku, benakku.

Aku putuskan, kalian akan mengenal diri ini dari sisi terburuknya. Apa yang ingin dibahas paling awal? Kehidupan keluarga? Tidak akan aku ceritakan kepada kalian, sebab bagiku bercerita tentang keluarga adalah kaku.

Untuk memulai cerita, aku perlu memperkenalkan diri, maka sebut saja aku sesuka hati kalian. Pemilik raga ini hidup sederhana bersama keluarga yang lengkap. Tidak seperti kebanyakan orang yang memiliki privilege sejak lahir, maka usahalah yang menuntunku sampai ke titik ini.

“Kalau orang bilang mustahil, harusnya kamu dengan lantang mengatakan bahwa tidak ada yang mustahil,” kata Ibu.

Perkataan itu tertanam dalam benakku. Kalau dipikir-pikir, aku menjadi salah satu anak yang beruntung di muka bumi ini. Kenapa tidak? Aku memiliki orang tua dan kedua saudara yang selalu menjadi tempat pengaduan.

Tapi, semua berubah sejak aku beranjak dewasa. Lebih suka menyendiri dan tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang di rumah. Aku enggan untuk mengungkapkan segala rasa yang berlomba-lomba masuk ke duniaku. Semua terserak. Mereka juga sibuk dengan dunianya sendiri, bukan sebab perubahanku, tapi karena dunia sedang dilanda virus mematikan. Hingga kami sibuk membentengi diri sendiri dengan aku yang berusaha menjadi pahlawan kesiangan.

Aku membantu mencari sumber pertahanan hidup sembari menggeluti Sekolah Menengah Atas. Hal itu mengganggu proses belajar, tapi aku tidak bisa berbuat banyak hal. Kalian tahu? Aku tidak dipaksa, hanya saja sudah menjadi kewajiban untuk membantu. Meskipun aktivitas bertemu, berkumpul, dan bermain bersama teman menjadi hilang. Pagi hingga sore, berkelana dengan keringat.

Lalu, ketika bulan menggantikan matahari maka sudah saatnya melanjutkan tanggung jawabku sebagai siswa. Tidak hanya aku yang bersikeras, tapi mereka juga berupaya agar tak terhanyut dalam air yang tenang. Kegiatan berulang hingga waktu kelulusanku tiba. Prestasi di sekolah menurun karena fokusku terbagi, tapi untuk pertama kalinya mereka tidak marah, sebab aku sudah lulus jadi tak pusing memikirkan pelepasan beasiswa. Begitulah.

Setelah itu, aku memutuskan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan segala cara tanpa memberitahu siapapun. Aku mendaftarkan diri dengan bantuan dan semangat dari para guru di sekolah. Rasanya mustahil ketika harapan ini bisa menjadi kenyataan, tapi pesan Ibu selalu membawaku pada keberanian.

“Jika aku gagal hari ini, maka Tuhan sudah tentukan jalan yang lebih baik dari usahaku,” kataku dalam diam.

Sembari mencari bekal untuk membayar uang kuliah dan tempat tinggal, aku juga berusaha untuk menggunakan segala bentuk penghargaan yang sudah pernah menjadi hak milik. Harapanku hanya mimpi ini tidak merepotkan. Imajinasi-imajinasi yang sudah dirangkai sedemikian rupa akan mendapatkan tempat, kataku.

Kala itu, entah hari apa sungguh tidak ingat. Aku mendapat pesan dari temanku. Katanya, “Aku lulus di Universitas Udayana dan dapat beasiswa, kamu gimana?”

Rasanya bahagia dan terharu mendengar ia sudah berhasil mewujudkan salah satunya mimpinya. Tapi, pikiranku kalang kabut dengan segala hal buruk. Aku yang masih berkutik dengan pelanggan menemui pesan yang membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Dan itu membuatku tidak fokus dan ingin buru-buru membuka gawai.

Apalah dayaku harus menunggu waktu pulang sembari memastikan rasa yang muncul menjadi netral. Meskipun sangat sulit.

Pukul 18:00 WITA, aku sudah memasuki ruangan kecil dalam rumah dengan ketakutan dan ketidaksiapan. Rasa itu membawaku menelusuri halaman dengan menuliskan nomor pendaftaran serta nama. Dengan jaringan sedikit lambat membuat dunia semakin dramatis. Entahlah, aku tidak bisa mengucapkan banyak hal, hanya doa dalam hati hingga pengumuman memunculkan kalimat, “Selamat Anda diterima di Universitas Pendidikan Ganesha”.

Gemetar sekujur tubuh. Tidak pernah rasanya aku berada di situasi ingin mengambil dua pilih, menyerah dan berjuang.

“Sekolah jauh-jauh, bukannya di sini ada kampus ternama juga?”

“Jurusan Bahasa Indonesia, mau jadi apa?”

“Kalau mimpi jangan tinggi-tinggi, mau gantiin presiden?”

Semua muncul kembali dalam ingatan, pengumuman itu adalah secercah harapanku. Tapi, juga kelemahan yang membuatkan takut untuk melangkah lebih jauh. Bahkan, orang tuaku tidak memberi ucapan selamat kepada anaknya karena jalan sudah terpenuhi. Mereka tidak jahat, hanya saja tidak mengerti bagaimana mengungkapkan rasa bangga dan kagum kepada anaknya. Aku paham karena mereka bukan sosok yang romantis.

Satu hal, ketika aku beritahu kelulusan ini, hanya ada pertanyaan “bayarnya berapa?”. Iya, mereka takut aku berhenti di tengah jalan karena tidak ada biaya. Mereka tidak ingin aku memusingkan hal yang menjadi tanggung jawab mereka.

Sedikit lega rasanya ketika aku beritahu bahwa pemerintah sudah membiayai sampai lulus. Itulah kejutan yang sesungguhnya. Aku lulus di kampus impian dengan beasiswa.

“Banggalah dengan perjuanganmu,” kata Ibu.

“Orang tuamu tidak berpendidikan tinggi, tapi jadilah salah satu yang membuat kami merasa pernah berpendidikan,” ungkap Bapak.

“Selamat, Kak, aku ingin menjadi sepertimu,” kata adikku yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Kamu beruntung!” Sepenggal harapan dari kakak ku yang paling cuek.

Kalimat itu mengantarkan aku menuju Singaraja, meskipun harus merepotkan Bapak dengan membawaku mengendarai sepeda motor karena aku belum mengenal jalan. 

Pertigaan Jalan Teuku Umar menjadi saksi bisu betapa semangatnya perjuangan orang tuaku membawa anak tengahnya ini menuju tempat impian, Universitas Pendidikan Ganesha. Semua perjalanan belum selesai. Setelah itu, aku harus meyakinkan diri sendiri untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan dan berpacu dengan usia orang tuaku. [T]  

  • Cerpen ini adalah hasil workshop Cipta Sastra dalam acara Pekan Raya Cipta Karya Mahima yang diselenggarakan Komunitas Mahima, Selasa 28 November 2023, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Bali.
  • Baca CERPEN lain
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Perahu | Cerpen Dian Suryantini
Hadiah Ole | Cerpen Nurjaya PM
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rony Fernandez | Pemakaman, Senja, Persiapan Perang

Next Post

Yogyakarta dan Musik Puisi yang Tak Pernah Kehilangan Tempat

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Yogyakarta dan Musik Puisi yang Tak Pernah Kehilangan Tempat

Yogyakarta dan Musik Puisi yang Tak Pernah Kehilangan Tempat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co