5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yogyakarta dan Musik Puisi yang Tak Pernah Kehilangan Tempat

Aqilah Mumtaza by Aqilah Mumtaza
December 23, 2023
in Ulas Pentas
Yogyakarta dan Musik Puisi yang Tak Pernah Kehilangan Tempat

Penampilan Buktu dan para penonton yang berkerumun di depan panggung | Foto: Tim Dokumentasi Tapssu

“MERANTAU” menjadi kata yang dipilih sebagai tema utama pada pertunjukan malam itu. Namun, kata yang berkonotasi pergi jauh dari rumah tersebut justru membawa salah satu bentuk kesenian untuk pulang ke kampung halamannya, Yogyakarta.

Disebutkan dalam berbagai sumber bahwa kota yang dijuluki kota pelajar tersebut merupakan tempat lahirnya sebuah bentuk seni yang menggabungkan musik dan puisi. Orang-orang akrab menyebutnya dengan ‘musikalisasi puisi’.

Dibidani oleh para pegiat sastra di Yogyakarta tahun 1970-an, musikalisasi puisi lahir dengan sebutan poetry singing. Pergelaran musikalisasi puisi pun kerap diselenggarakan pada acara-acara sastra.

Pada tahun 2013-2019 perhelatan musikalisasi puisi giat diadakan oleh komunitas maupun lembaga kesenian, sebut saja “Pergelaran Musikalisasi Sastra” yang diadakan Taman Budaya Yogyakarta ataupun “Gelaran Musik Puisi: Duduk Bersama” yang diadakan komunitas Ngopinyastro. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perhelatan serupa jarang terdengar gaungnya.

Tapssu (Tak Perlu Sedu Sedan itu) yang diadakan oleh media alternatif Hiruk Pikuk berkolaborasi dengan komunitas sastra Jejak Imaji seolah menjadi perhelatan yang mengembalikan spirit kerja kolaborasi musik dan sastra, sekaligus menghadirkan kembali acara pertunjukan khusus musikalisasi puisi di Yogyakarta.

Setelah sukses melangsungkan edisi pertamanya pada 26 Juli 2023 di Cerita Makna Coffee & Space, Tapssu kembali digelar. Edisi kedua yang diadakan pada 17 Desember 2023 kali ini berusaha merengkuh audiens di bagian utara kota Yogyakarta dengan memilih venue di Dua Arah Coffee.

Sebagai bentuk penghormatan pada seorang penyair, penyelenggara Tapssu #2 mengkurasi puisi-puisi karya Indrian Koto untuk dialihwahanakan. Lima puisi yang diambil dari antologi puisi “Pleidoi Malin Kundang” diberikan pada lima penampil untuk dipertunjukkan dalam bentuk lain.

Merujuk pada identifikasi bentuk musikalisasi puisi oleh Hamdy Salad dalam buku Panduan Wacana & Apresiasi Musikalisasi Puisi, puisi yang ditampilkan pada Tapssu #2 dibawakan dalam bentuk instrumentalisasi puisi (puisi dibaca sambil diiringi musik), laguisasi puisi (puisi diberi nada menjadi melodi layaknya sebuah lagu), dan kombinasi dari keduanya.

Roji Luji membuka acara dengan hangat | Foto: Tim Dokumentasi Tapssu

Penampil pertama, yakni Roji Luji membawakan puisi berjudul “Ke Langgai, Ke Asal Leluhur”. Regina Gandes Mutiary sebagai vokalis melantunkan nyanyian lembut sambil memetikkan gitar, diiringi efek suara dari perangkat elektronik yang dioperasikan oleh partner-nya, Azaro Verdo Nuary. Musik bertempo lambat tersebut menjadi sajian pembuka yang hangat untuk menyapa para penonton agar berkenan menetap hingga akhir acara.

Puisi “Yogya: Kelahiran Kedua bagian I” diinstrumentalisasikan dan dilagukan oleh penampil kedua, Notula. Pembagian suara vokalis laki-laki dan perempuan menyaru dalam harmonisasi yang manis dan selaras.

Mereka menggunakan instrumen gitar, keyboard, serta piano sebagai pengiring. Lantunan puisi yang dikemas menjadi musik indah oleh Notula menelisik masuk secara sopan ke telinga para hadirin yang mendengarkan.

Penampilan Noire dengan musik metal | Foto: Tim Dokumentasi Tapssu

Seolah membangunkan audiens yang terbuai dengan alunan musik sendu nan merdu, penampil selanjutnya hadir menggertak panggung. Noire, kelompok musik yang melabeli diri dengan genre post-rock, emo, dan skramz tersebut menginstrumentalisasikan puisi “Kota Luka” dengan dibacakan dan diringi musik metal.

Sesuatu yang unik dari penampilan Noire adalah penggunaan teknik scream oleh sang vokalis dalam membacakan puisi. Penampilan ini memberikan dinamika suasana yang kontras dari penampil-penampil sebelumnya. Nuansa hangat yang dirasakan para penonton bergeser menjadi perasaan menggebu yang berapi-api.

Serupa ombak di lautan usai terhantam badai, penonton kembali dibawa pada suasana tenang namun menghanyutkan. Kelompok musik Skena Futura membawakan beberapa buah karyanya serta puisi “Hujan buat Ibu” dengan warna musik groovy pop/chill pop.

Sesuai dengan genrenya, puisi dilagukan dalam jalinan musik groove bertempo lambat. Skena Futura berhasil mengemas sebuah lagu yang ditujukan pada sosok ibu secara sentimental. Sederhana, namun mengena.

Skena Futura dengan musik groovy pop/chill pop| Foto: Tim Dokumentasi Tapssu

Penampil penutup pada malam itu lagi-lagi membawa ambiens pertunjukan kembali memanas. Ialah Buktu, kelompok musik yang digawangi oleh Bodhi IA tersebut memang sudah tidak asing dengan bentuk instrumentalisasi puisi.

Malam itu mereka membawakan puisi “Malam Pengembara” dengan musik post-rock eksperimental. Efek-efek suara tidak hanya digunakan sebagai pegiring, tetapi juga digunakan untuk mengubah suara mic yang digunakan Bodhi IA dalam membacakan narasi.

Suasana dibangun secara perlahan menuju permainan musik yang liar dan lepas. Anggukan kepala dan ketukan kaki tak mampu tertahankan oleh para penonton, mereka berkerubung di depan panggung dan enggan menyudahi sajian dari Buktu dengan terus meminta repertoar lebih.

Acara Tapssu #2 pada malam itu pun berakhir sudah. Kata “pecah” agaknya mampu menggambarkan keberhasilan para panitia penyelenggara dalam mengelola sebuah event, mulai dari pemilihan penampil, pemilihan tempat, penataan panggung, maupun susunan acara. Predikat tersebut juga pantas disematkan pada setiap penampil yang mampu mengombang-ambing penonton dalam berbagai atmosfer yang berbeda.

Acara ini juga menandakan bahwa musikalisasi puisi tidak pernah kehilangan tempat di tengah skena permusikan dan sastra di Yogyakarta, khususnya dalam lingkup anak-anak muda seperti para panitia dan audiens yang memenuhi venue pada malam tersebut.

Sejauh apa pun ia “merantau”, Yogyakarta selalu menjadi tempat pulang yang akan tetap menyambutnya dengan pintu terbuka.[T]

Menyimak Bunyi-bunyian Karya Manusia dan Kecerdasan Buatan dalam konser Artificial Intelligence
Opera Ikan Asin: Kisah Si Raja Bandit dan Potret Hukum yang Bisa Dibeli
Tags: musikalisasi puisisastraYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dia Sedang Berjuang | Cerpen Putri Santiadi

Next Post

Tradisi Berburu Ulat Jati di Awal Musim Penghujan

Aqilah Mumtaza

Aqilah Mumtaza

Lahir di Cilacap, tumbuh dan besar di Yogyakarta. Lulusan prodi S-1 Musik di ISI Yogyakarta. Pernah bergabung dalam beberapa organisasi jurnalistik di kampus. Dapat disapa melalui Instagram @aqilahmumtaz

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi Berburu Ulat Jati di Awal Musim Penghujan

Tradisi Berburu Ulat Jati di Awal Musim Penghujan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co