3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyimak Bunyi-bunyian Karya Manusia dan Kecerdasan Buatan dalam konser Artificial Intelligence

Aqilah Mumtaza by Aqilah Mumtaza
December 6, 2023
in Panggung
Menyimak Bunyi-bunyian Karya Manusia dan Kecerdasan Buatan dalam konser Artificial Intelligence

Penampilan Joshua Sibuea degan karya "Takkan Gapaimu"/ Foto: Tim Dokumentasi konser Artificial Intelligence

FENOMENA lagu-lagu lokal yang dinyanyikan oleh tokoh penting maupun penyanyi mancanegara cukup meggemparkan jagad dunia maya beberapa waktu lalu. Suara Ariana Grande dan Jungkook yang menyanyikan lagu “Komang” karya Raim Laode ataupun suara Presiden Jokowi yang menyanyikan lagu”Asmalibrasi” karya Soegi Bornean mengudara di laman berbagai media sosial.

Pasalnya, suara tersebut bukanlah berasal dari penyanyi asli yang benar-benar menyanyikan lagu tersebut secara nyata, melainkan hasil rekayasa kecerdasan buatan. Munculnya teknologi kecerdasan buatan atau yang akrab disebut Artificial Intelligence (AI) menjelma kontroversi yang tak berkesudahan.

Ketakutan akan ancaman tergantinya peran manusia dalam berbagai lini kehidupan maupun penyalahgunaan AI untuk tindak kriminal terbesit dalam pikiran banyak orang. Namun, sebagian orang lainnya ada yang memandangnya secara optimis sebagai sesuatu yang ditawarkan oleh perkembangan zaman untuk mempermudah tugas manusia.

Lagu “Komang” versi Ariana Grande melalui rekayasa AI/Foto:YouTube “Raim Laode”

Kesenian sebagai salah satu bidang yang terdampak oleh AIseolah mengusik ketenangan para seniman dalam proses berkarya. Sebuah respon terhadap hal tersebut kemudian dikemas dalam konser yang bertajuk “Artificial Intelligence: Respon terhadap Masa Depan Komposer” yang diselenggarakan oleh beberapa mahasiswa prodi Penciptaan Musik ISI Yogyakarta.

Konser yang diadakan 24 November 2023 lalu di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta itu secara spesifik memberikan tanggapan perihal AI dalam bidang musik, khususnya bagi para komposer. Optimisme para komposer terdengar dari sambutan ketua produksi Sophian Malista Kolinus yang memberikan perspektif untuk menatap AI sebagai suatu peluang yang memacu diri agar terus berkembang dan tidak menolak perkembangan zaman. Lantas sudah sejauh mana jejak eksistensi AI dalam bidang musik?

Sebuah video yang diputar melalui layar proyektor di awal acara memperkenalkan penonton kepada software AIVA (Artificial Intelligence Virtual Artist) yang digunakan dalam konser tersebut untuk memperlihatkan bagaimana sebuah kecerdasan buatan menciptakan komposisi musik. Maka dapat dikatakan penampil pada konser tersebut tidak hanya manusia, melainkan juga AI.

Tak lama setelah video diputar, beberapa pemain instrumen gesek (string) memasuki panggung. Pewara pun membacakan judul karya pertama yang dimainkan. “Divertimento No.1 in C Major: ‘Pelog’” karya Eggy Rusmin, dibawakan dengan format ansambel gesek yang terdiri dari biola, biola alto, dan cello.

Dengan bentuk komposisi Sonata dan tempo Allegro (cepat), nuansa musik pada era klasik terasa kental pada karya ini. Justru tangga nada Pelog yang digunakan tidak terasa terlalu menonjol dalam memberikan nuansa Jawa.

Setelah karya pertama usai, kini giliran AI menampilkan komposisi ciptaannya. Seorang programmer yang duduk di depan laptop mengatur proses penciptaan musik melalui AI. Setelah menyisakan keheningan beberapa saat, musik karya AI pun diputar.

Musik yang menggunakan instrumen gesek dengan durasi yang tidak lama tersebut seolah mengajak penonton untuk merasakan perbedaan sensasi yang diciptakan dari mendengar musik yang dimainkan secara langsung oleh manusia dibandingkan musik yang diciptakan oleh AI. Juga membandingkan bagaimana kualitas musik yang diciptakan selama beberapa minggu oleh komposer dengan musik yang diciptakan dalam waktu kurang dari lima menit oleh AI.

Komposisi orisinil komposer yang kedua adalah “The Adventure” karya Delano Christian. Karya ini masih dimainkan dengan format ansambel gesek, tetapi dengan tambahan instrumen contrabass.

Alunan nada rendah cello dan contrabass membuka karya dengan suasana sedikit misterius yang kemudian ditimpa dengan nada yang lebih tinggi dari biola. Musik bertema petualangan, sebagaimana judulnya, membawa penonton terhanyut pada lika-liku seorang petualang yang merasa putus asa, tetapi akhirnya bangkit dan kembali melangkah.

Pemain ansambel  gesek dalam konser Artificial Intelligence/Foto: Tim Dokumentasi konser Artificial Intelligence

Sama seperti sebelumnya, setelah karya selesai dimainkan, panitia memutar karya yang diciptakan oleh AI dengan tema yang sama seperti karya sebelumnya. Musik bertema petualangan yang diciptakan oleh AI dengan instrumen gesek terdengar sedikit menegangkan.

Ilustrasi video pada layar proyektor juga membantu dalam memvisualisasi sebuah perjalanan yang penuh persimpangan. Sejauh ini musik yang diciptakan oleh AI masih dapat dinikmati dari segi musikalnya, seperti adanya dinamika keras dan lembut, harmonisasi, hingga variasi ritme dari instrumen yang digunakan.

Repertoar selanjutnya berjudul “Indonesia FPV Bali Java” karya Sophian Malista Kolinus yang merupakan interpretasi dari video landscape panorama pulau Bali dan Jawa oleh saluran YouTube Timelab Pro. Alunan nada pentatonik pelog terdengar jelas menjadi unsur yang paling ditonjolkan, menunjukkan musik kedua pulau yang memiliki persamaan dalam penggunaan tangga nada, tetapi tetap memiliki ciri khasnya masing-masing.

Penonton dapat merasakan perpaduan musik khas Bali dan Jawa yang berkelindan dalam satu komposisi musik. Teknik pizzicato (petikan) pada instrumen contrabass, cello, dan biola alto yang dipadukan dengan gesekan biola memberikan kesan manis dalam repertoar tersebut.

Setelah jeda selama kurang lebih sepuluh menit, konser pun dilanjutkan dengan sesi kedua. Dalam sesi ini penonton disuguhkan dengan instrumen musik yang berbeda dari sesi sebelumnya. Beberapa pemain combo yang terdiri dari piano, saxophone, gitar elektrik, bass elektrik, serta drum elektrik tampak menata diri untuk menyuguhkan beberapa karya terakhir.

Sesi kedua pun dibuka dengan sebuah penampilan musik improvisasi bertema atmosferik yang ditampilkan dengan format combo beserta tambahan instrumen tiup yang dimainkan oleh Vincentio Hadiputra. Penampilan yang tidak masuk dalam daftar repertoar tersebut seolah menjadi peralihan, mengantar penonton pada nuansa berbeda yang diciptakan dari perubahan instrumen akustik menuju instrumen elektrik.

“Drained Melody” karya Stefan Arnold W. W. menjadi suguhan selanjutnya. Sang komposer menjelaskan bahwa karya ini merupakan suatu kolaborasi dengan AIdari Korea Selatan bernama “Musia One”. AItersebut membantunya dalam mencari unsur musik, seperti chord. Penonton pun dimanjakan dengan musik groove bertempo sedang yang menuntun ketukan kaki maupun anggukan kepala untuk mengikuti irama.

Setiap bagian instrumen terkemas dalam harmonisasi yang segar dan asyik. Melodi dipegang oleh saxophone dan gitar elektrik, ritme dijaga oleh bass elektrik dan drum elektrik, isian-isian yang manis diberikan oleh piano maupun suara dari AIMusia One.

Hanya satu kekurangan dalam penampilan ini, yaitu layar proyektor yang tidak menampilkan gambar ilustrasi dan hanya menampilkan background biru, sedikit tidak nyaman secara visual karena sangat kontras dengan tema ruangan museum Tembi yang didominasi warna cokelat.

Penampilan karya “Drained Melody” dalam format combo/ Foto: Tim Dokumentasi konser Artificial Intelligence

Konser ditutup oleh repertoar terakhir karya Joshua Sibuea dengan judul “Takkan Gapaimu”. Joshua yang sepanjang acara menjadi programmer AI turut bergabung bersama pemain lainnya dengan sebuah pianika di tangannya. Semacam kata sambutan diucapkan oleh suara laki-laki dari AIdi awal lagu, beserta lemparan pertanyaan kepada penonton untuk menebak instrumen apa saja yang dimainkan AI dalam karya ini.

Secercah keyakian dari sudut pandang komposer terabadikan dari judul karya hingga lirik yang dinyanyikan oleh sang komposer sendiri. Ya, karya ini merupakan satu-satunya karya di konser ini yang terdapat vokal di dalamnya.

Joshua menggunakan berbagai jenis AI yang terdengar mengisi posisi backing vocal perempuan, serta instrumen gitar yang dinyanyikan dengan suara manusia. Komposisi ini tak ubahnya sebuah pengandaian AI yang mengatakan pada manusia bahwa masih ada hal-hal milik manusia yang tidak tergapai ataupun tidak tergantikan oleh AI.

Konser Artificial Intelligence oleh mahasiswa Penciptaan Musik ISI Yogyakarta /Foto: Tim Dokumentasi konser Artificial Intelligence

Hal yang tidak tergapai tersebut sebenarnya sudah terasa sejak repertoar pertama. Penonton tentu merasakan impresi yang berbeda ketika mendengarkan musik yang dimainkan secara nyata dan langsung oleh manusia, dibandingkan musik ciptaan AI yang diputar melalui alat-alat elektronik.

Saat menyaksikan permainan musik oleh manusia, penonton dapat merasakan secara langsung penghayatan dan ekspresi para pemain, bahkan hingga tarikan napasnya. Dengan begitu, kedalaman emosi yang terangkum dalam komposisi karya manusia pun dapat tersampaikan kepada penonton. Musik yang disajikan terasa lebih hidup dan memberikan pengalaman mendengar yang lebih nyata. 

Mendengarkan musik karya AI terasa tidak berbeda dengan mendengarkan rekaman musik pada umumnya melalui alat elektronik. Meskipun secara musikal bisa dinikmati, tetapi musik karya AI tidak memiliki makna ataupun konteks yang terkandung di dalamnya. Hal ini turut dikatakan oleh Sophian Kolinus dalam wawancara, bahwa proses penciptaan musik melalui AI hanya dapat dilakukan dengan memasukan unsur musikal yang general, seperti tangga nada, durasi, maupun nuansa.

AI belum dapat mengadaptasi musik yang berlatar belakang kebudayaan, seperti pada karya “Indonesia FPV Bali Java” karya Sophian Kolinus, serta belum dapat menciptakan karya yang berangkat dari sebuah sinopsis seperti pada karya “The Adventure” karya Delano Christian. Meski tidak ada yang tahu apakah di masa mendatang AI dapat menyentuh hal-hal yang belum tergapai saat ini, kiranya pelaku seni apa pun, tidak hanya komposer, dapat melihatnya sebagai suatu tantangan untuk terus mengasah keterampilannya sambil mengikuti laju zaman yang penuh dengan kejutan di depan sana.[T]

Menjalin Pertautan dalam Ekosistem Musik Jazz Tanah Air
“Kepus Pungsed” dan Penciptaan Ruang Presentasi | Catatan Seorang Penonton
Pentas Puisi Musik Keboen Sastra di Dusun Senja: Mereka Berkeliling Membangunkan Orang-orang
Showcase: Ini Ujaran Musikal, Klimaks dari Kolaborasi Panjang Regenerasi Bernyali
Tags: AIISI Yogyakartakonser musikteknologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Next Post

Ari Suandiyasa, Bermula Bankir Kini Peternak Sukses

Aqilah Mumtaza

Aqilah Mumtaza

Lahir di Cilacap, tumbuh dan besar di Yogyakarta. Lulusan prodi S-1 Musik di ISI Yogyakarta. Pernah bergabung dalam beberapa organisasi jurnalistik di kampus. Dapat disapa melalui Instagram @aqilahmumtaz

Related Posts

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
0
Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

Read moreDetails

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
0
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

Read moreDetails

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
0
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

Read moreDetails

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

Read moreDetails
Next Post
Ari Suandiyasa, Bermula Bankir Kini Peternak Sukses

Ari Suandiyasa, Bermula Bankir Kini Peternak Sukses

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co