2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyimak Bunyi-bunyian Karya Manusia dan Kecerdasan Buatan dalam konser Artificial Intelligence

Aqilah Mumtaza by Aqilah Mumtaza
December 6, 2023
in Panggung
Menyimak Bunyi-bunyian Karya Manusia dan Kecerdasan Buatan dalam konser Artificial Intelligence

Penampilan Joshua Sibuea degan karya "Takkan Gapaimu"/ Foto: Tim Dokumentasi konser Artificial Intelligence

FENOMENA lagu-lagu lokal yang dinyanyikan oleh tokoh penting maupun penyanyi mancanegara cukup meggemparkan jagad dunia maya beberapa waktu lalu. Suara Ariana Grande dan Jungkook yang menyanyikan lagu “Komang” karya Raim Laode ataupun suara Presiden Jokowi yang menyanyikan lagu”Asmalibrasi” karya Soegi Bornean mengudara di laman berbagai media sosial.

Pasalnya, suara tersebut bukanlah berasal dari penyanyi asli yang benar-benar menyanyikan lagu tersebut secara nyata, melainkan hasil rekayasa kecerdasan buatan. Munculnya teknologi kecerdasan buatan atau yang akrab disebut Artificial Intelligence (AI) menjelma kontroversi yang tak berkesudahan.

Ketakutan akan ancaman tergantinya peran manusia dalam berbagai lini kehidupan maupun penyalahgunaan AI untuk tindak kriminal terbesit dalam pikiran banyak orang. Namun, sebagian orang lainnya ada yang memandangnya secara optimis sebagai sesuatu yang ditawarkan oleh perkembangan zaman untuk mempermudah tugas manusia.

Lagu “Komang” versi Ariana Grande melalui rekayasa AI/Foto:YouTube “Raim Laode”

Kesenian sebagai salah satu bidang yang terdampak oleh AIseolah mengusik ketenangan para seniman dalam proses berkarya. Sebuah respon terhadap hal tersebut kemudian dikemas dalam konser yang bertajuk “Artificial Intelligence: Respon terhadap Masa Depan Komposer” yang diselenggarakan oleh beberapa mahasiswa prodi Penciptaan Musik ISI Yogyakarta.

Konser yang diadakan 24 November 2023 lalu di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta itu secara spesifik memberikan tanggapan perihal AI dalam bidang musik, khususnya bagi para komposer. Optimisme para komposer terdengar dari sambutan ketua produksi Sophian Malista Kolinus yang memberikan perspektif untuk menatap AI sebagai suatu peluang yang memacu diri agar terus berkembang dan tidak menolak perkembangan zaman. Lantas sudah sejauh mana jejak eksistensi AI dalam bidang musik?

Sebuah video yang diputar melalui layar proyektor di awal acara memperkenalkan penonton kepada software AIVA (Artificial Intelligence Virtual Artist) yang digunakan dalam konser tersebut untuk memperlihatkan bagaimana sebuah kecerdasan buatan menciptakan komposisi musik. Maka dapat dikatakan penampil pada konser tersebut tidak hanya manusia, melainkan juga AI.

Tak lama setelah video diputar, beberapa pemain instrumen gesek (string) memasuki panggung. Pewara pun membacakan judul karya pertama yang dimainkan. “Divertimento No.1 in C Major: ‘Pelog’” karya Eggy Rusmin, dibawakan dengan format ansambel gesek yang terdiri dari biola, biola alto, dan cello.

Dengan bentuk komposisi Sonata dan tempo Allegro (cepat), nuansa musik pada era klasik terasa kental pada karya ini. Justru tangga nada Pelog yang digunakan tidak terasa terlalu menonjol dalam memberikan nuansa Jawa.

Setelah karya pertama usai, kini giliran AI menampilkan komposisi ciptaannya. Seorang programmer yang duduk di depan laptop mengatur proses penciptaan musik melalui AI. Setelah menyisakan keheningan beberapa saat, musik karya AI pun diputar.

Musik yang menggunakan instrumen gesek dengan durasi yang tidak lama tersebut seolah mengajak penonton untuk merasakan perbedaan sensasi yang diciptakan dari mendengar musik yang dimainkan secara langsung oleh manusia dibandingkan musik yang diciptakan oleh AI. Juga membandingkan bagaimana kualitas musik yang diciptakan selama beberapa minggu oleh komposer dengan musik yang diciptakan dalam waktu kurang dari lima menit oleh AI.

Komposisi orisinil komposer yang kedua adalah “The Adventure” karya Delano Christian. Karya ini masih dimainkan dengan format ansambel gesek, tetapi dengan tambahan instrumen contrabass.

Alunan nada rendah cello dan contrabass membuka karya dengan suasana sedikit misterius yang kemudian ditimpa dengan nada yang lebih tinggi dari biola. Musik bertema petualangan, sebagaimana judulnya, membawa penonton terhanyut pada lika-liku seorang petualang yang merasa putus asa, tetapi akhirnya bangkit dan kembali melangkah.

Pemain ansambel  gesek dalam konser Artificial Intelligence/Foto: Tim Dokumentasi konser Artificial Intelligence

Sama seperti sebelumnya, setelah karya selesai dimainkan, panitia memutar karya yang diciptakan oleh AI dengan tema yang sama seperti karya sebelumnya. Musik bertema petualangan yang diciptakan oleh AI dengan instrumen gesek terdengar sedikit menegangkan.

Ilustrasi video pada layar proyektor juga membantu dalam memvisualisasi sebuah perjalanan yang penuh persimpangan. Sejauh ini musik yang diciptakan oleh AI masih dapat dinikmati dari segi musikalnya, seperti adanya dinamika keras dan lembut, harmonisasi, hingga variasi ritme dari instrumen yang digunakan.

Repertoar selanjutnya berjudul “Indonesia FPV Bali Java” karya Sophian Malista Kolinus yang merupakan interpretasi dari video landscape panorama pulau Bali dan Jawa oleh saluran YouTube Timelab Pro. Alunan nada pentatonik pelog terdengar jelas menjadi unsur yang paling ditonjolkan, menunjukkan musik kedua pulau yang memiliki persamaan dalam penggunaan tangga nada, tetapi tetap memiliki ciri khasnya masing-masing.

Penonton dapat merasakan perpaduan musik khas Bali dan Jawa yang berkelindan dalam satu komposisi musik. Teknik pizzicato (petikan) pada instrumen contrabass, cello, dan biola alto yang dipadukan dengan gesekan biola memberikan kesan manis dalam repertoar tersebut.

Setelah jeda selama kurang lebih sepuluh menit, konser pun dilanjutkan dengan sesi kedua. Dalam sesi ini penonton disuguhkan dengan instrumen musik yang berbeda dari sesi sebelumnya. Beberapa pemain combo yang terdiri dari piano, saxophone, gitar elektrik, bass elektrik, serta drum elektrik tampak menata diri untuk menyuguhkan beberapa karya terakhir.

Sesi kedua pun dibuka dengan sebuah penampilan musik improvisasi bertema atmosferik yang ditampilkan dengan format combo beserta tambahan instrumen tiup yang dimainkan oleh Vincentio Hadiputra. Penampilan yang tidak masuk dalam daftar repertoar tersebut seolah menjadi peralihan, mengantar penonton pada nuansa berbeda yang diciptakan dari perubahan instrumen akustik menuju instrumen elektrik.

“Drained Melody” karya Stefan Arnold W. W. menjadi suguhan selanjutnya. Sang komposer menjelaskan bahwa karya ini merupakan suatu kolaborasi dengan AIdari Korea Selatan bernama “Musia One”. AItersebut membantunya dalam mencari unsur musik, seperti chord. Penonton pun dimanjakan dengan musik groove bertempo sedang yang menuntun ketukan kaki maupun anggukan kepala untuk mengikuti irama.

Setiap bagian instrumen terkemas dalam harmonisasi yang segar dan asyik. Melodi dipegang oleh saxophone dan gitar elektrik, ritme dijaga oleh bass elektrik dan drum elektrik, isian-isian yang manis diberikan oleh piano maupun suara dari AIMusia One.

Hanya satu kekurangan dalam penampilan ini, yaitu layar proyektor yang tidak menampilkan gambar ilustrasi dan hanya menampilkan background biru, sedikit tidak nyaman secara visual karena sangat kontras dengan tema ruangan museum Tembi yang didominasi warna cokelat.

Penampilan karya “Drained Melody” dalam format combo/ Foto: Tim Dokumentasi konser Artificial Intelligence

Konser ditutup oleh repertoar terakhir karya Joshua Sibuea dengan judul “Takkan Gapaimu”. Joshua yang sepanjang acara menjadi programmer AI turut bergabung bersama pemain lainnya dengan sebuah pianika di tangannya. Semacam kata sambutan diucapkan oleh suara laki-laki dari AIdi awal lagu, beserta lemparan pertanyaan kepada penonton untuk menebak instrumen apa saja yang dimainkan AI dalam karya ini.

Secercah keyakian dari sudut pandang komposer terabadikan dari judul karya hingga lirik yang dinyanyikan oleh sang komposer sendiri. Ya, karya ini merupakan satu-satunya karya di konser ini yang terdapat vokal di dalamnya.

Joshua menggunakan berbagai jenis AI yang terdengar mengisi posisi backing vocal perempuan, serta instrumen gitar yang dinyanyikan dengan suara manusia. Komposisi ini tak ubahnya sebuah pengandaian AI yang mengatakan pada manusia bahwa masih ada hal-hal milik manusia yang tidak tergapai ataupun tidak tergantikan oleh AI.

Konser Artificial Intelligence oleh mahasiswa Penciptaan Musik ISI Yogyakarta /Foto: Tim Dokumentasi konser Artificial Intelligence

Hal yang tidak tergapai tersebut sebenarnya sudah terasa sejak repertoar pertama. Penonton tentu merasakan impresi yang berbeda ketika mendengarkan musik yang dimainkan secara nyata dan langsung oleh manusia, dibandingkan musik ciptaan AI yang diputar melalui alat-alat elektronik.

Saat menyaksikan permainan musik oleh manusia, penonton dapat merasakan secara langsung penghayatan dan ekspresi para pemain, bahkan hingga tarikan napasnya. Dengan begitu, kedalaman emosi yang terangkum dalam komposisi karya manusia pun dapat tersampaikan kepada penonton. Musik yang disajikan terasa lebih hidup dan memberikan pengalaman mendengar yang lebih nyata. 

Mendengarkan musik karya AI terasa tidak berbeda dengan mendengarkan rekaman musik pada umumnya melalui alat elektronik. Meskipun secara musikal bisa dinikmati, tetapi musik karya AI tidak memiliki makna ataupun konteks yang terkandung di dalamnya. Hal ini turut dikatakan oleh Sophian Kolinus dalam wawancara, bahwa proses penciptaan musik melalui AI hanya dapat dilakukan dengan memasukan unsur musikal yang general, seperti tangga nada, durasi, maupun nuansa.

AI belum dapat mengadaptasi musik yang berlatar belakang kebudayaan, seperti pada karya “Indonesia FPV Bali Java” karya Sophian Kolinus, serta belum dapat menciptakan karya yang berangkat dari sebuah sinopsis seperti pada karya “The Adventure” karya Delano Christian. Meski tidak ada yang tahu apakah di masa mendatang AI dapat menyentuh hal-hal yang belum tergapai saat ini, kiranya pelaku seni apa pun, tidak hanya komposer, dapat melihatnya sebagai suatu tantangan untuk terus mengasah keterampilannya sambil mengikuti laju zaman yang penuh dengan kejutan di depan sana.[T]

Menjalin Pertautan dalam Ekosistem Musik Jazz Tanah Air
“Kepus Pungsed” dan Penciptaan Ruang Presentasi | Catatan Seorang Penonton
Pentas Puisi Musik Keboen Sastra di Dusun Senja: Mereka Berkeliling Membangunkan Orang-orang
Showcase: Ini Ujaran Musikal, Klimaks dari Kolaborasi Panjang Regenerasi Bernyali
Tags: AIISI Yogyakartakonser musikteknologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dayu Kade Made, Penjaga Eksistensi Jaja Bali di Pasar Banyuasri

Next Post

Ari Suandiyasa, Bermula Bankir Kini Peternak Sukses

Aqilah Mumtaza

Aqilah Mumtaza

Lahir di Cilacap, tumbuh dan besar di Yogyakarta. Lulusan prodi S-1 Musik di ISI Yogyakarta. Pernah bergabung dalam beberapa organisasi jurnalistik di kampus. Dapat disapa melalui Instagram @aqilahmumtaz

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Ari Suandiyasa, Bermula Bankir Kini Peternak Sukses

Ari Suandiyasa, Bermula Bankir Kini Peternak Sukses

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co