25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kepus Pungsed” dan Penciptaan Ruang Presentasi | Catatan Seorang Penonton

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
January 18, 2023
in Ulas Musik
“Kepus Pungsed” dan Penciptaan Ruang Presentasi | Catatan Seorang Penonton

Kepus Pungsed | Foto-foto dari Studio If,

Pada tanggal 12 Januari terlaksana event musik yang diinisiasi oleh Studio If, (isi tanda koma di belakang) dan Gorong-Gorong Records Lable. Event musik ini diberi judul “Kepus Pungsed”, dalam arti bahasa Indonesia itu adalah sebuah ritual kelahiran dalam tatanan masyarakat Bali.

Diputusnya tali pusar penyalur nutrisi dari ibu yang biasa kita sebut sebagai ari-ari, lalu kemudian akan ada beberapa sisa tali yang tidak terlalu panjang yang perlahan akan mengering dan terlepas sendirinya dari pusar bayi. Proses itu dinamakan “Kepus Pungsed” oleh masyarakat Bali.

Biasanya ari-ari akan ditanam di pekarangan rumah atau akan dihanyutkan ke laut dengan beberapa ritual dan sesajen. Saya tidak begitu mengetahui bagaimana detail dari ritual tersebut, karena setiap daerah di Bali akan memiliki cara dan kebutuhan artistik upacara yang berbeda. Tapi saya pernah menyaksikan dan sering mendengar cerita tersebut dari teman atau orang tua.

Demikian judul dari event itu diambil, saya tidak mengetahui bagaimana wacana “Kepus Pungsed” didiskusikan oleh teman-teman Studio If, hingga menjadi sebuah proses berkelanjutan bahkan menjadi acara musik. Bersama bebarapa kelompok musik seperti; Graung, Rule Kabatram, Putu Septa & Nata Swara, Rollfast, dan Kadapat.

Saya datang menyaksikan dari awal hingga akhir acara, hampir seluruh performer memiliki konsep berbeda baik secara bebunyian, alat musik yang digunakan dan konsep performing art mereka. Tapi saya memiliki satu benang merah kesamaan di antara mereka, adanya unsur musik tradisi yang mereka selipkan—adaptasi—respon.

Saya rasa mereka memang memiliki pengalaman intrik tersendiri selama perjalanannya berkarya dalam bidang musik. Semisal pengalamanan saya mendengar Rollfast, mereka memiliki transisi karakter musik yang berbeda dari album pertama mereka dan album terakhir yang mereka lahirkan berjudul Garatuba.

Saya menerka-nerka bahwa ada proses pengendapan yang mereka alami dalam kekaryaan, entah itu kesadaran yang hadir dari tradisi berpikir, laku tubuh, dan adat yang mereka jalani sebagai orang Bali. Ditengah kencangnya arus teknologi hari ini, pegiat musik banyak yang kemudian terpesona mengikuti arus kemjuan teknologi hingga kemudian melupakan identitas mereka sendiri.

Saya rasa hampir seluruh kelompok musik yang berpartisipasi dalam acara “Kepus Pungsed” memiliki satu isu yang sama untuk mereka pertanyakan ulang. Bagaima kemudian tradisi berpikir dan tubuh mereka mesti berjalan seiringan dengan zaman tanpa melupakan siapa dan dari mana mereka tumbuh.

Foto-foto dari Studio If,

Dalam proses tumbuh kita misalnya ketika masih anak-anak, kita diajarkan untuk memahami banyak hal oleh orang tua. Memahami adat istiadat, tradisi, budi pekerti, budaya dan agama. Pemahaman itu ditanamkan sedini mungkin oleh orang tua, bahkan kita mengamini itu adalah sebuah pakem dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Kemudian kita beranjak dewasa, bertemu banyak orang pada lingkaran masyarakat yang lebih luas pemahaman oleh orang tua kita dulu sewaktu kecil adalah pondasi untuk kita beradaptasi dengan masyarakat luas.

Bahkan pemahaman itu akan berkembang ketika kita tau bagaimana sikap yang baik untuk beradaptasi. Atau bahkan kita bisa menyalahkan pemahaman orang tua kita dulu karena sudah tidak relevan lagi untuk dilakukan hari ini, tapi kita mesti paham sedetail mungkin kenapa pemahaman itu tidak berlaku, tanpa harus mengatakannya ke siapapun.

Cara-cara inilah yang mungkin sekiranya sedang dibangun oleh teman-teman If, dan teman-teman yang berpartisipasi. Mereka sadar dalam proses pendewasaan kerkaryaan bertemu dengan banyak orang dengan latar belakang yang beragam, lalu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan kecil dalam diri mereka.

Kemudian mereka mungkin saling bertemu secara alami pada ruang-ruang tak terduga, lalu membicarakan hal seputaran yang mereka resahkan dan terbentuklah sebuah ruang gerak baru. Sebagai penikmat yang datang pada acara tersebut saya sangat senang dan kagum menyaksikan tiap perform dari tiap kelompok musik diperkuat oleh video mapping yang diisi oleh Apemotian atau biasa dikenal Jonas Sastrakresna.

Tapi saya memiliki analogi yang mungkin serupa dengan jalannya perkembangan ilmu pengetahuan menyoal musik. Misalnya, anggap saja bahwa musik adalah sebuah wilayah daerah tertentu, pada konteks ini daerah memiliki banyak penduduk yang tidak pernah kita ketahui apa saja pakem yang mereka sepakati yang kemudian menjadi tradisi berpikirnya. Daerah yang dibayangkan tidak perlu terlalu besar, cukup seluas kota Singaraja/Denpasar “misalnya”.

Dalam praktik perkembangan kota, masyarakat yang pergi dan pulang kembali ke kota tersebut akan memiliki pembacaan dan sudut pandang yang kritis dari sebelumnya. Kemudian pembacaan tersebut tidak bisa dianggap sebagai sebuah hal yang membengkok dari mayoritas masyarakatnya, sebab kota adalah ruang yang luas tidak bisa diatur oleh segelintir masyarakat. Semua punya hak yang sama dalam mengisi ruang kota tersebut untuk perkembangan, seharusnya tidak ada istilah-istilah baru dalam hal ini.

Misal ketika orang Singaraja merantau ke Denpasar dan pulang kembali, diistilahkan sebagai orang yang ke-Denpasaran-Denpasaran. Itu hal yang sama mungkin ketika banyak seniman musik tradisi memiliki pengalaman di ruang baru dan diterapkan di wilayah tradisi itu sendiri mengalami hal yang kurang baik atau mendapat istilah baru. Tapi saya rasa itu hal mesti dilalui sebagai sebuah perubahan sebelum akhirnya perlahan disadarkan oleh waktu.

Lagipula adanya event ini tidak semata-mata hadir atas dasar begitu saja, sudah banyak ada pengaruh dari gerakan-gerakan sebelumnya. Atau bahkan banyak pengaruh dari seniman luar Bali yang kemudian berkunjung untuk melakukan pentas di Bali. Misalnya beberapa yang saya ketahui seperti acara Artisan di Plataran Canggu, Fraksi Epos, dan Ravepasar. Semua acara itu berlangsung di Bali tepatnya Denpasar, yang memiliki semangat dan wacana yang hampir sama. Atau mungkin beberapa kawan-kawan seniman luar Bali seperti Senyawa, Raja Kirik atau Asep Nayak yang pernah pentas di Bali dan memberikan angin baru untuk kawan-kawan di Bali untuk makin menyadari identitasnya sendiri.

Saya tidak akan terlalu banyak membicarakan seputar tradisi dan proses kekaryaan mereka karena tidak begitu mengetahui banyak kedua hal tersebut. Tapi selalu ada celah kecil untuk ikut mengapresiasi gerakan mereka. Kini gerakan musik dengan ulang-alik tradisi dan modern semakin berani untuk unjuk gigi dan mulai menemukan audiencenya sendiri.

Meski tidak sepopuler genre musik lainnya, gerakan seperti ini saya rasa bukan berada pada ruang yang membicarakan berapa kehadiran penonton, tapi lebih pada bagaimana kemudian wacana mereka bisa diperkuat oleh pertanggung jawaban dari setiap mereka yang berpartisipasi. Meski kehadiran penonton yang ramai tidak bisa dipungkiri juga.

Foto-foto dari Studio If,

Seperti event “Kepus Pungsed” kemarin, saya merasa itu acara yang cukup ramai untuk dihadiri dengan ruang yang sangat intim. Pentas musik yang diselenggarakan di ruang seperti bekas gudang yang mereka sulap menjadi panggung, membuat ruangan terasa sangat padat. Ditambah lagi dengan penataan artistik panggung seadanya, dengan kontruksi besi persegi panjang yang mereka pajang dengan tidak teratur kemudian bekas bongkahan bangunan yang mereka tumpuk di belakangnya menghadirkan kesan sangat gorong-gorong dan bawah tanah.

Ketika saya menyaksikan setiap performer, selalu memiliki ciri khasnya masing-masing seperti Graung berisi dua personil dengan nuansa musik dubstep lalu ditabrakan dengan gambelan ditambah dengan nuansa suling yang menjadikan musiknya begitu ramai namun sunyi.

Lalu ada Rule Kabatram dengan tiga personil, satu memainkan alat tiup bentuknya seperti terompet namun sangat panjang saya bahkan hingga menyentuh lantai, lalu alat musik tradisi yang cara mainnya digesek seperti biola ditambah dengan sentuhan musik elektronik membuat saya sedang mendengarkan suara sangkala akhir zaman, itu hanya perasaan saya saja karena tidak mendapat menggambarkan dengan tepat suasana tersebut.

Lalu ada Putu Septa & Nata Swara, dengan set alat gambelan yang tidak biasanya dengan ketukan memainkan gambelan tidak pada umumnya ditambah bebunyian elektronik yang Putu Septa ciptakan membuat saya merasa berada pada ruang hampa penuh bintang, Putu Septa berhasil membuat pertunjukan gambelan tidak sebagaimana mesti dan sebagaimana umumnya.

Saya jadi ingat cerita Putu Septa ketika mementaskan karyanya berjudul WOS di acara lomba Pesta Kesenian Bali mewakili Gianyar, tidak heran jika penonton heran. Lalu ada band Rollfast, kali ini mereka tampil dengan personil yang tidak lengkap karena salah satu personil mereka sakit. Tapi tidak membuat suasana di tiap penampilan mereka menurun, mereka selalu berhasil membuat keriuhan dengan distorsi gitar dan ketukan drum yang gemuruh ditambah dengan bebunyian nuansa gambelan meski tidak banyak cukup menjadi karakter kuat mereka, ditutup dengan meriah dengan lagu remix jedag-jedug mereka.

Yang terakhir ada Kadapat, salah satu duo yang belakangan ini banyak dilirik karena penyatuan dua gambelan dengan dua daerah dan dua karakter yang berbeda. Satu personilnya bernama Barga berasal dari Karangasem, dan Yogi berasal dari Jembrana. Kedua elemen gambelan ini kemudian mereka satukan dalam Kadapat menciptakan pertemuan silang yang sangat menarik.

Ada satu cerita lucu mereka, ketika beberapa waktu lalu mereka menjadi pentas pembuka dalam rangkain Denpasar Festival 2022 banyak penonton atau masyarakat yang mengomentari dengan lugu, “musik apa ini, Min?”, “Ini musik pengundang hujan, pantas saja ini pembukaan Denfest hujan”. Ya begitulah mereka yang sedang berjuang menciptakan ruang persentasi untuk mereka sendiri.

“Kepus Pungsed” yang diinisiasi oleh Studio If, dan Gorong-Gorong Records cukup membayar usaha saya yang rela jauh-jauh dari luar kota untuk menyaksikan event tersebut. Cukup banyak memberi sudut pandang baru menyoal scene yang mereka bentuk. Cukup banyak menyediakan ruang terbuka untuk dipersilahkan menyampaikan dan menjadi teman mengobrol.

Semoga akan ada kegiatan beragam lainnya menyoal soal identitas mereka sebagai orang Bali atau orang luar Bali yang sedang membaca Bali, tidak melulu soal musik mungkin bisa hal lainnya juga. Kalian bisa mengikuti atau bisa lihat-lihat kegiatan mereka di akun Instagram mereka; arsip.if. Patut untuk ditunggu! [T]

Cuah-Cauh Sebelum Kepus Pungsed
REIM Space dan Upaya-upaya Membangun Ekosistem Bermusik di Kota Singaraja | Ekosistem Seperti Apa?
Romantisme Musik Underground Singaraja | Jejak Langkah yang Memudar dalam Skena
Tags: denpasarmusikulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bondres Bicara Arak, 26 Sekaa Ikut Audisi, Ada Rare Kual dan MKP Mersi

Next Post

Kanker Serviks, Mimpi Buruk yang Dapat Dicegah

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Kanker Serviks, Mimpi Buruk yang Dapat Dicegah

Kanker Serviks, Mimpi Buruk yang Dapat Dicegah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co