4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjalin Pertautan dalam Ekosistem Musik Jazz Tanah Air

Lintang Pramudia Swara by Lintang Pramudia Swara
November 21, 2023
in Ulas Musik
Menjalin Pertautan dalam Ekosistem Musik Jazz Tanah Air

Keterangan Gambar: sesi percakapan dengan sejumlah penggagas festival jazz di tanah air

Suasana kota Yogyakarta melekat dengan nuansa yang dinamis, diwarnai ragam festival kesenian yang tersebar di segala penjuru.  Di tengah hingar bingar kota seni dan sibuknya perkuliahan, Indonesian World Jazz Meeting terselenggara di Artotel Suites Bianti, Yogyakarta. Hari Jumat 17 November 2023, saya  berkesempatan hadir mengikuti konferensi.. Ketika itu kesadaran tentang kesuburan ekosistem musik jazz sedang mengudara bertepatan dengan 1 hari menuju perhelatan Ngayogjazz 2023.

Konferensi yang saya hadiri mempertemukan para pelaku industri musik jazz di Indonesia dengan para organizer festival maupun event dunia, termasuk media massa dari dalam dan luar negeri. Kehadiran saya setidaknya mewakili kalangan yang tidak bergumul banyak dengan dunia musik jazz. Pihak-pihak dari sejumlah subsektor ekonomi kreatif maupun lembaga pemerintahan lain pun belum tentu memiliki pemahaman yang mendalam soal bagaimana musik jazz seharusnya dikelola, maka dari itu konferensi ini menjadi ruang diskusi yang ditunggu-tunggu.

Pembicaraan tentang musik jazz dan festivalnya di tanah air tidak terlepas dari nama-nama seperti Irwansyah Harahap dan Djaduk Ferianto yang menginisiasi terma “World Jazz” begitu pun berkiprah untuk memulai festival jazz bercorak nusantara sebagaimana yang diungkap oleh Aji Wartono selaku board director dari Ngayogjazz.  Baik almarhum irwansyah dan Djaduk memang sudah berpulang namun meninggalkan jejak dan warisan yang sangat berarti.

Kegiatan sarasehan terbagi menjadi sejumlah sesi dengan tema besar yang diangkat. Sesi pertama mengajak saya turut mempertanyakan “Apakah ada world music atau world jazz di Indonesia?” . Agus Setiawan Basuni selaku founder wartajazz yang ketika itu menjadi moderator bertutur tentang bagaimana seorang Joey Alexander menjadi nominasi penghargaan grammy sebanyak tiga kali. Peristiwa ini membangkitkan spirit soal pergerakan musik jazz di Indonesia yang sudah berlangsung di mana-mana. Ragam diskusi  soal musik Jazz yang bergulir juga hendak mewacanakan lokalitas sebagai penguat identitas musik dalam konteks lanskap geografis.

Keterangan Gambar: kesibukan mencatat percakapan di Indonesian World Jazz Meeting 2023

Ide dari Djaduk Ferianto  mengenai Ngayogjazz pada tahun 2007 membuka ruang untuk kerja seni kolektif di Yogyakarta. Kolaborasi musik sangat terbuka dengan musik lintas genre yang pertunjukannya dilangsungkan di desa-desa. Saya mendapat cerita bahwa sebelum pandemi, Ngayogjazz bisa meraih jumlah sampai 40.000 total penonton. Setelah pandemi usai, jumlah penontonnya di angka 20.000 – 25.000 sebagaimana yang disampaikan Aji Wartono. “Tiket gratisnya unlimited, kita adakan workshop recording, ririungan, sharing, jam session, banyak hal” tutur sang board director.

Percakapan bertolak menuju Yuri Mahatma, seorang penggagas Ubud Village Festival yang memiliki misi untuk menghadirkan warna yang berbeda, karakter yang distingtif dan begitu terbuka untuk berkolaborasi di panggungnya. Saya juga menangkap bagaimana perhelatan festival musik jazz juga pada akhirnya bersifat pragmatis karena berupaya agar orang-orang yang tidak mengerti musik untuk bisa turut menikmatinya.

Sejurus dengan itu, Anas Syahrul Alimi sendiri tidak menyangkal bahwa di Prambanan Jazz yang ia kerjakan, musisi non jazz kerap hadir, dan itu murni terjadi di berbagai panggung festival jazz dunia. Sekilas kita membaca bahwa ada ketidaksesuaian genre dan idealisme, akan tetapi itu sudah lazim terjadi di mana-mana dan tidak mungkin dihapuskan.

Melalui percakapan yang berlangsung intens di antara semua narasumber, saya menyadari bahwa panggung musik jazz komersil juga berusaha menjual pesona alam dan ujung tombaknya tentu termasuk venue penyelenggaraannya. Vinko Mihajlovic yang turut hadir juga mengatakan bahwa di Montenegro sendiri, panggung “Petrovac Jazz Festival”  ingin menawarkan suasana Mediterania demi memikat antusiasme penonton. Persoalan yang lebih penting lagi untuk digulirkan adalah bagaimana mereka bisa menjual musik sebagai subsektor ekonomi kreatif untuk menembus pasar internasional?

Hasil diskusi yang berjalan pada akhirnya tiba pada satu titik yang membuat saya menangkap bahwa diperlukan langkah yang lebih serius dalam mengelola subsektor ekonomi kreatif, terkhusus musik. International World Jazz Meeting 2023 yang mengundang sejumlah stakeholder yang bergerak di lingkup kementerian maupun wilayah ekonomi kreatif hendak mengupayakan konsep pembiayaan berupa “revolving fund” untuk memodali penyelenggaraan festival.

Setidaknya saya boleh menyarikan perkataan Ari Setyo dari Kemenparekraf bahwa modal yang telah membiayai harus diputar dan mendorong sustainability untuk perhelatan festival di tahun-tahun berikutnya. Artinya modal tidak pernah habis dan keberlangsungan festival tidak boleh mati begitu saja setelah sumber daya finansialnya tidak mencukupi.

International World Jazz Meeting 2023 menjadi jawaban atas “missing link”, ketakterhubungan antara musisi, pembuat event, dan stakeholder yang belum bergerak bersama menciptakan sinergi. Ketika sebelumnya penyelenggara festival banyak yang protes karena tidak dibiayai, maka pertemuan ini akan membuka ruang kerja sama dan koneksi yang semakin menguat. Terdapat celah untuk mensupport festival yang berlandaskan konstitusi berdasarkan undang-undang pemajuan kebudayaan.

Diskusi yang berlangsung mengetengahkan bagaimana dana abadi kebudayaan yakni Dana Indonesiana dari Kemdikbud dapat menjadi sumber yang menyokong maestro, memperkuat institusi, mendukung keberlangsungan festival, serta menjadi perwujudan peran serta negara dalam kontribusinya untuk ekosistem musik dan seni pertunjukan di tanah air.

Keterangan Gambar: sesi percakapan dengan sejumlah penggagas festival jazz di tanah air

Sarasehan berlanjut mengantarkan saya untuk menyelami Jazz Gunung yang diwakili oleh Bagas Indyatmono. Djaduk Ferianto dan Butet Kartaredjasa termasuk penggagas yang turut menuangkan andil, terutama berkaitan dengan wacana “Bromo bangkit kembali” pada tahun 2009. Djaduk Ferianto mengkurasi jazz dengan nuansa etnik untuk bisa menjadi penampil di perhelatan Jazz Gunung.

Festival Jazz Gunung berlangsung di Gunung Ijen, Bromo, Slamet, dan melibatkan komunitas, terutama musisi yang punya karya orisinil. Siapa sangka inisiatif untuk membangkitkan kehidupan di kawasan Bromo yang terdampak erupsi bisa bertransformasi menjadi festival Jazz yang tersohor?

Pertanyaan yang tebal muncul dari Frans Sartono, seorang wartawan musik senior yang kala itu juga diundang menjadi narasumber. Ia mengatakan “Harus menampilkan jazz yang seperti apa jazz Indonesia itu?”, sebuah pertanyaan yang relevan dengan judul konferensi yang saya hadiri. Bagi beliau, yang paling penting adalah bagaimana musik itu komunikatif ketika singgah di telinga, tidak peduli jazz atau bukan. Karena sekali lagi selalu ada unsur non jazz dalam sebuah festival jazz.

Tantangannya adalah bagaimana kita membawa yang lokal, mengusung musik etnik yang berpadu dengan idiom Jazz yang dilengkapi dengan “lingua franca” kita, atau bahasa pengantar termasuk pada lirik karya yang menjadi kunci terjalinnya resonansi antara penikmat dan musisi.

Keterangan Gambar: Frans Sartono (kiri) & Saya (kanan)

Kembali lagi pada persoalan krusial yang tak pernah rampung terselesaikan, seluruh penyelenggara festival berharap bahwa pemerintah dapat hadir memberi dukungan yang sebesar-besarnya. Mereka butuh perlindungan dan perizinan dari Kemenparekraf agar terwujud panggung festival yang hadir sebagai bentuk sinergi antara semua pihak yang terlibat, baik yang bergumul di ekosistem musik jazz, pelaku festival musik, dan komunitas yang belum tersorot stakeholder. [T]

Malam Puncak Ubud Village Jazz Festival 2023: Musik Jazz Adalah Bahasa Universal
Belajar dari Gelanggang Jazz
Penampakan Zaman Dalam Puisi Umbu: Mendengarkan Musik Jazz di Rumah Seorang Kenalan
Tags: festival musik jazzjazzmusik jazzYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Upaya “Healing” dengan Membaca “Kakawin Sangutangis”

Next Post

“Tutur Aji Mancongol”: Penciptaan Semesta dan Menjaga Keharmonisan

Lintang Pramudia Swara

Lintang Pramudia Swara

Lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang kini mengasuh sebuah toko buku independen, sesekali bermusik dan aktif menulis lepas di berbagai media.

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
“Tutur Aji Mancongol”: Penciptaan Semesta dan Menjaga Keharmonisan

“Tutur Aji Mancongol”: Penciptaan Semesta dan Menjaga Keharmonisan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co