4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Opera Ikan Asin: Kisah Si Raja Bandit dan Potret Hukum yang Bisa Dibeli

Aqilah Mumtaza by Aqilah Mumtaza
August 19, 2023
in Ulas Pentas
Opera Ikan Asin: Kisah Si Raja Bandit dan Potret Hukum yang Bisa Dibeli

Pementasan Opera Ikan Asin oleh Teater Alam di Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (15/08/23) | Foto: Dok. Rakhmat S.

DALAM REALITA sosial di masa kini, kita sudah tak asing dengan sistem yang tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Ungkapan “lu punya duit, lu punya kuasa” yang belakangan diviralkan oleh remaja gondrong dengan sapaan Bayem Sore itu tak dapat dipungkiri memang benar adanya.

Dengan hak istimewa yang dimiliki seseorang secara finansial, jabatan, maupun relasi, maka segala urusan dapat terselesaikan dengan mulus. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki privilese tersebut harus menerima konsekuensinya.

Realita sosial tersebut dibingkai dalam pertunjukan “Opera Ikan Asin” yang disuguhkan oleh Teater Alam pada Selasa (15/08/23) di Taman Budaya Yogyakarta.

Opera ini digelar dalam rangka merayakan hari lahir Teater Alam yang ke-51 dengan sutradara Puntung CM Pudjadi, serta asisten sutradara Ronny AN. dan Bambang KSR. Dengan menggandeng para aktor dan aktris seperti Meritz Hindra, Hadjar Pamadhi, Nunung Rieta, Oka Swastika, Anastasia, Jack Sofian, Pristiani Dewi, Yans Haryo, serta pemain-pemain lainnya, pementasan ini sukses dilaksanakan tanpa suatu hambatan yang berarti.

 “Opera Ikan Asin” sendiri merupakan opera gubahan Nano Riantiarno yang disadur dari “The Threepenny Opera” (1928) karya Bertolt Brecht yang juga merupakan saduran dari “The Beggar’s Opera” (1728) karya John Gay.

Secara garis besar, opera ini menceritakan tentang Mekhit alias Mat Piso, si raja bandit yang menikahi Poli Picum tanpa restu dari ayah Poli, Natasasmita Picum. Hal itu membuat Natasasmita memiliki dendam terhadap Mekhit dan mengupayakan berbagai cara untuk menangkapnya. Lika-liku penangkapan Mekhit pun menjadi alur cerita yang menarik untuk diikuti, meski pada akhirnya ia dibebaskan dari tiang hukuman gantung yang semakin membuktikan bahwa hukum dapat dibeli dengan uang.

Cerita diawali dengan kemunculan tokoh Natasasmita Picum, ayah Poli yang merupakan pemilik dari Juselormis (Juru Selamat Orang Miskin), perusahaan yang mengakomodir kegiatan para pengemis, mulai dari pembagian wilayah hingga pembagian hasil mengemis. Singkatnya, Natasasmita Picum adalah seorang juragan pengemis.

Opera ini mengambil latar tempat di Yogyakarta, dilihat dari peta wilayah kekuasaan Natasasmita dan lokasi “Sarkem” yang disebutkan beberapa kali. Adapun latar waktunya diperkirakan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, ditandai dengan penggunaan mata uang gulden.

Pada adegan tersebut, Natasasmita mengumpulkan para pengemis-pengemisnya untuk dimintai hasil dari pekerjaan mereka. Ia murka karena hasil yang didapat tidak sesuai yang diharapkan. Tiba-tiba muncul seorang lelaki yang berniat untuk menjadi ‘mitra’ dari perusahaan yang dipimpin oleh Natasasmita tersebut.

Rupanya untuk dapat direkrut menjadi pengemis oleh Juselormis tidak semudah itu. Calon pengemis harus membayar uang administrasi yang bisa dibilang tidak sedikit. Seluruh uang yang telah dikumpulkan lelaki itu selama bertahun-tahun pun tidak sampai setengah dari nominal yang disyaratkan. Setelah bergabung nantinya, pengemis juga harus membagi hasil kepada Juselormis sebanyak 60% dari hasil mengemisnya.

Adegan awal tersebut menggambarkan penindasan dan perbudakan yang sering dialami rakyat kecil. Mereka yang miskin akan semakin miskin dan yang kaya akan semakin kaya. Namun, permasalahan pengemis ini bukanlah hal yang mudah untuk diatasi. Ada yang mengatakan bahwa maraknya pengemis akibat kurangnya lahan pekerjaan.

Di sisi lain, memang ada orang-orang yang pada dasarnya memiliki ‘mental pengemis’. Lahan pekerjaan sudah diberikan, tetapi ujung-ujungnya kembali lagi menjadi pengemis. Mungkin mereka berpikir “untuk apa kerja susah-susah, orang tinggal angkat tangan dan memasang wajah melas saja sudah bisa dapat duit”.

Bahkan banyak kisah-kisah kesuksesan dari para pengemis yang memiliki pendapatan lebih besar dari orang-orang yang bekerja dengan pekerjaan konvensional. Dengan kata lain, kita tidak bisa lagi menganggap pengemis sebagai orang yang tidak punya pekerjaan, sebab menjadi pengemis itulah pekerjaan mereka.

Meski begitu, perbudakan dalam dunia pengemisan juga sudah menjadi rahasia umum, di mana ada seseorang yang berkuasa dibalik para pengemis-pengemis yang kita temui di jalanan, seperti yang digambarkan oleh tokoh Natasasmita. Pengemis-pengemis yang tidak terdaftar di bawah Juselormis, tidak boleh menjalankan operasinya di wilayah kekuasaan Juselormis.

Hasil yang didapatkan dari jerih payah mengemis mereka pun, sebagian besar harus diserahkan kepada si juragan. Mereka yang tidak memiliki pilihan lain, akhirnya mau tidak mau terjun ke dalam jurang penindasan tersebut. Sama seperti si lelaki yang ingin bergabung menjadi ‘mitra’ Juselormis tadi, setelah negosiasinya perihal bagi hasil dengan Natasasmita gagal, ia pun tak memiliki pilihan untuk mengikuti aturan serta bertekad untuk menjadi pengemis yang baik dan ‘profesional’.

Adegan berikutnya memunculkan istri dari Natasasmita, yang tak lain adalah ibu Poli, untuk mengabarkan bahwa Poli telah menikah dengan seorang lelaki bernama Mekhit. Mendengar itu, Natasasmita menunjukkan reaksi tidak senang. Sebagai orang tua, terdapat kekhawatiran akan ditinggalkan oleh anak semata wayangnya, sehingga tidak ada yang merawatnya di hari tua nanti.

Pesta pernikahan Mekhit dan Poli  / Foto: Dok. Rakhmat S.

Topik mengenai tanggung jawab anak terhadap kebahagiaan orang tua belakangan cukup sering dibicarakan, khususnya oleh anak muda. Bagi generasi lama mungkin kewajiban membahagiakan orang tua tidak perlu dipertanyakan lagi, alias sudah menjadi sesuatu yang “harus”.

Menurut pemaparan Rizky Anna, seorang mahasiswa S-1 Konseling Psikologi, dalam sebuah tulisan di plafrom Quora, kebahagian adalah tanggung jawab pribadi, termasuk kebahagiaan sebagai orang tua yang tidak bisa dibebankan kepada anak. Lagi pula, secara alami, ketika anak dididik dengan benar dan kasih sayang yang cukup, maka sudah pasti ia akan berupaya untuk selalu membahagiakan orang tuanya.

Selain alasan tersebut, hal lain yang membuat Natasasmita tidak senang adalah sosok lelaki yang menjadi pilihan dari anak perempuannya. Dialah Mekhit alias Mat Piso, si raja bandit kelas kakap yang kebal terhadap hukum. Mendengar kabar bahwa Mekhit telah memboyong anaknya, Natasasmita pun memendam dendam dan bertekad untuk menangkap Mekhit. Ia datang kepada kepala polisi yang bernama Kartamarma untuk mengadukan hal tersebut.

Namun, rupanya Kartamarma adalah sahabat dekat Mekhit. Hal tersebutlah yang membuat raja bandit tersebut kebal hukum. Selama ini kedua sahabat tersebut menjalankan simbiosis mutualisme, dimana Kartamarma akan mengabari jika akan ada penggerebekan, dan Mekhit selalu memberi setengah dari hasil operasinya kepada Kartamarma sebagai upeti. Kerja sama antara penegak hukum dan penjahat tersebut menggambarkan potret hukum yang bisa dibeli, dimana hal tersebut tentu saja masih aktual di masa sekarang.

Dengan kecerobohan Mekhit serta penghianatan Yeyen, mantan pacar Mekhit yang akhirnya menjadi pelacur, ia pun berhasil ditangkap oleh anak buah Kartamarma di sebuah rumah bordil. Di dalam tahanan, seorang perempuan mendatangi Mekhit.

Dia adalah Lusi, mantan kekasih Mekhit yang merupakan putri dari sang kepala polisi, Kartamarma. Rupanya selain bandit kelas kakap, Mekhit juga seorang buaya kelas kakap, alias playboy. Lusi yang pada awalnya mencaci maki karena telah ditinggalkan, akhirnya kembali luluh oleh bujuk rayu si raja bandit tersebut. Lusi pun membantu Mekhit keluar penjara dengan mencuri kunci dari sipir yang sedang tertidur.

Rumah bordil tempat Mekhit ditangkap/ Foto: Dok. Rakhmat S.

Natasasmita kembali mendesak Kartamarma untuk menangkap Mekhit. Kali ini ia mengancam akan mengerahkan pasukan pengemisnya untuk mengacaukan acara pelantikan Gubernur Jenderal. Kartamarma pun tak punya pilihan. Lagi-lagi bukannya bersembunyi, Mekhit kembali tertangkap di rumah seorang perempuan dengan julukan “si mata bola”. Mekhit kembali dimasukan ke penjara dan akan dijatuhi hukuman gantung pada saat pelantikan Gubernur Jenderal.

Di dalam sel tahanan, praktik suap menyuap kembali terjadi. Polisi yang pada awalnya melarang siapa pun mengunjungi Mekhit, melonggarkan aturannya karena sekantong uang yang diberikan padanya. Poli yang datang berkunjung pun sudah menyiapkan “sogokan” untuk sang polisi penjaga. Semakin besar nominalnya, semakin lama pula durasi yang diberikan untuk berkunjung.

Dalam situasi genting tersebut, Mekhit mendesak anak buahnya untuk mendapatkan uang sebesar 500 gulden yang akan diserahkan kepada polisi agar ia bisa dibebaskan. Namun, dikarenakan adanya pelantikan Gubernur Jenderal, maka semua bank di kota tutup, anak buah Mekhit pun tidak memiliki kesempatan untuk merampok.

Tibalah saatnya hari eksekusi, tiang gantung sudah dipersiapkan. Semua orang berkumpul untuk menyaksikan akhir hidup sang raja bandit. Anak buah, mantan-mantan Mekhit, dan perempuan-perempuan di rumah bordil menunjukkan ketidakrelaan yang amat dalam. Polisi menuntun Mekhit menaiki tangga tiang gantung dan melilitkan tali di lehernya. Sesaat sebelum nyawa Mekhit melayang, datang seseorang yang membawa surat keputusan dari Gubernur Jenderal. Isi surat tersebut menyatakan bahwa Mekhit bebas dari segala tuduhan. Hal ini menggambarkan titah penguasa yang dapat memutarbalikan keputusan pengadilan bagi pihak-pihak yang memiliki hak istimewa.

Opera ini berhasil mengemas kritik yang ditujukan kepada kaum kapitalis yang selalu menghalalkan berbagai cara demi kepentingan pribadinya, tanpa memedulikan kaum yang tertindas.

Meski sumber awal naskah ini ditulis pada tahun 1728, potret sistem negara yang berpihak pada pemegang modal masih tetap aktual hingga saat ini. Hukum seakan bisa dibeli, suap menyuap pun sudah menjadi hal biasa. Opera ditutup dengan pernyataan:

 “Apa pun yang berasal dari istana, mampu berdiri di atas hukum, bahkan sanggup mengubah keputusan hakim”. [T]

Menonton “Lautan Bernyanyi” Putu Wijaya di Atas Panggung Kekinian
Menyuarakan Isu Lingkungan melalui Tari Kontemporer  “Sambil Menyelam Minum Plastik”
Pentas “AH” Teater Mandiri: Putu Wijaya Masih Hebat Dengan Cerita yang Membolak-Balik Pikiran
Tags: Resensi Teaterseni pertunjukanTeaterYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku Bersumpah Mencintaimu | Cerpen Depri Ajopan

Next Post

“Prosa Gerilya: Mengurai Kisah Ngurah Rai” Dalam Festival Powerful Indonesia The Apurva Kempinski Bali

Aqilah Mumtaza

Aqilah Mumtaza

Lahir di Cilacap, tumbuh dan besar di Yogyakarta. Lulusan prodi S-1 Musik di ISI Yogyakarta. Pernah bergabung dalam beberapa organisasi jurnalistik di kampus. Dapat disapa melalui Instagram @aqilahmumtaz

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
“Prosa Gerilya: Mengurai Kisah Ngurah Rai” Dalam Festival Powerful Indonesia The Apurva Kempinski Bali

“Prosa Gerilya: Mengurai Kisah Ngurah Rai” Dalam Festival Powerful Indonesia The Apurva Kempinski Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co