25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Bersumpah Mencintaimu | Cerpen Depri Ajopan

Depri Ajopan by Depri Ajopan
August 19, 2023
in Cerpen
Aku Bersumpah Mencintaimu | Cerpen Depri Ajopan

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

“Ini untukmu!” Aku menyodorkan selembar kertas pada gadis itu.

“Tulisan tangan yang bagus, pasti bukan tulisanmu.” Pernyataannya membuatku malu. Menurutku ini konyol, dan tidak romantis.

“Kau tahu sendiri kan? Yang bisa membaca tulisanku cuma aku!” Serasa aku menginjak nuraniku sendiri dengan berkata begitu.

Dia tersenyum tanpa suara, menarik napas dalam-dalam. Tenggorokannya kembang kempis, dadanya terlihat jelas naik turun.

“Kenapa kau membelakangiku, dan tidak menatap wajahku, apa perlu aku mencium keningmu dulu, dengan bibirku yang lembut ini?” kataku merayu.

Friska begitu apatis hari itu,  wajahnya yang merona semakin jauh dari pandanganku, seakan dia sengaja mempertontonkan sifatnya yang tak acuh.

Ia menyibak tirai, menenggelamkan kepalanya ke luar jendela, kemudian mendogak ke langit. Mendung yang ia pandang berubah jadi rintik hujan.

“Ada keperluan apa kau menemuiku siang hari begini? Hanya karena selembar kertas?”

Sedikitpun ia tak ada menoleh. Baju lengan panjang warna kuning yang ia kenakan ditarik-tarik ke bawah seakan mempromosikan bajunya yang superketat. Kakinya sengaja digoyang-goyang, kepalanya ikut menari-nari. Kenapa hari ini dia terlihat ceria seperti itu.

Tidak ada aku melihat segumpal kesedihanpun menempel di wajahnya. Padahal seseorang baru saja memetik kebahagiaannya, yang bisa menjadi kesedihan yang berlarut-larut.

Bukankah tadi malam dia dihujani dengan cacian, pukulan. Bahkan berujung angkat kaki dari rumah malam itu. Ibunya yang galak dan begitu agresif yang menciptakan permusuhan baru denganku.

Sampai kapan pun aku tak pernah setuju kalau kau dan lelaki anjing itu menyatukan hati,

Itulah kata-kata kebencian yang pertama kali dilontarkan ibunya untukku. Lalu ia memukul putrinya menggunakan kayu bakar, membuat Friska teriak.

Dari situlah awal mulanya perasaan cinta kami yang berkecamuk diintervensi.

Kegaduhan itu mengganggu orang-orang yang duduk santai di warung. Begitu mendengar teriakan, penduduk warung sama-sama terkejut turut berbondong-bondong mengikuti arus suara yang menggelegar.

Ada yang lari tergopoh-gopoh sambil memilin-milin sarungnya yang melekat di pinggang, dan salah satu mereka yang datang itu ayah. Ia bertanya pada orang-orang, apa gerangan yang terjadi?

“Friska dibawa Jetri ke luar, dan sampai sekarang belum pulang,” jawab seseorang.

Secepat kilat memotret bumi ayahku mundur ke belakang. Ucapan yang spontan itu menyiksa batinnya, membuatnya malu. Ia merasa, sebagai seorang ayah, kepribadiannya telah diruntuhkan seruntuh-runtuhnya, pelakunya aku, anak kandungnya sendiri.   

Anehnya sampai di rumah aku yang hatinya terus berdebar-debar tidak ada dapat semprotan. Jangankan semprotan kecil, ayah dan ibu yang sudah tahu kejadian sedih itu tidak ada membahasnya sejengkal pun di depanku. Entahlah kalau di depan orang-orang.

Aku tahu penyebabnya, setelah mendengar cerita dari orang-orang, ternyata ayah dan ibuku dulunya juga cinta terlarang, sulit mendapat restu. Mereka tidak ingin nasib yang telah menimpa dirinya terjadi juga pada diri orang lain, apalagi yang mengalami nasib serupa itu anak kandungnya sendiri.

Apa yang terjadi pada diriku, sebaliknya yang terjadi pada Friska. Dia mendapat luka berat. Malam itu dia menderita di atas derita.

Tapi kenapa dia masih berpura-pura dihadapanku. Jurus apalagi yang akan dipertunjukkannya di depanku? Kenapa ia terlihat santai seperti itu? Sekadar  menipuku, seolah-olah ia bahagia. Dan ia tidak ingin aku pergi dari sisinya?

Begitu takutnyakah dia kehilanganku, sehingga derita ini ia pendam sendirian. Dia pikir aku tidak tahu hatinya lagi menangis. Aku melempar senyum sekadar berbasa-basi.

“Friska sayang, kenapa kau tidak menolehku? Bukankah aku ini kekasihmu?”

Aku menggigit bibir, menyembunyikan rasa kesedihan, memandangnya penuh makna. Dia benar-benar cuek di hari yang mendung itu.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa sih kau ingin bertemu denganku siang hari begini?” Dia mendengus. Membosankan, dia bertanya untuk yang kedua kali.

“Kau ingin bertemu malam hari saja. Biar kau bebas duduk bersandar di pangkuanku, dan sesuka hatiku menggigit pucuk telingamu yang mungil itu?” Aku mencandainya, tangannya menjulur mencubitku.

“Kau ini apa-apaan sih, ngaur kamu.” Ia meronta, seperti anak kecil, sambil melirik kiri kanan, seakan mewanti-wanti apa ada orang melintas.

Atau jangan-jangan, ia melihat di depan matanya melayang-layang kesedihan yang akan memeluknya. “Menurutmu apa perlu aku berterimakasih pada Evi yang memanggilmu datang kemari atas permohonanku?”  

“Itu urusanmu.” Ia tetap tak menoleh. Mungkin gadis hitam manis itu mau keluar  dari ruangan pengap ini. “Memangnya Kak Evi cerita apa saja padamu?” Kali ini gadis jelita itu yang menimpali. Usahaku yang gigih melunakkan hatinya mulai berhasil.

“Dia cuma bilang…,” kataku.

“Dia bilang apa?” Barulah ia menatap wajahku, aku hampir mencium keningnya, dan memang aku biasa melakukannya, tapi tidak untuk saat ini dan mungkin seterusnya.     

 “Dia bilang, ‘Kalau kau serius mencintai Friska, akulah yang bertugas mencuri gadis cantik yang hidupnya terguncang itu untukmu’.”

“Dasar tukang kibul!”

Dia mencubitku lagi, sambil melempar senyum. Aksiku menggodanya benar-benar berhasil. Aku telah menemukan puncak kemenangan. Inilah saat yang tepat untuk aku berkata serius dari hati ke hati.

“Friska, tadi malam kau dimarahi ibumu kan?  Sampai mendapat pukulan yang bertubi-tubi, dan berujung angkat kaki dari rumah?”

Tadinya ia merunduk memandangi lantai, sekarang ia fokus menatapku tajam, seakan hatinya berbisik, “Kenapa rahasia yang sengaja kusimpan dan kututup rapat bisa ketahuan sama dia.”

 “Aku tahu ini salahku yang nekat mengajakmu keluar. Padahal aku tahu sendiri konflik sudah mulai hidup di antara kita berdua. Mulai sekarang aku berjanji kejadian buruk ini tidak akan terulang lagi. Karena hari ini pertemuan kita yang terakhir.”

Suaraku serak-serak basah. Kata-kata perpisahan itu begitu berat mengucapkan pada orang yang sangat aku sayangi.

“Maksudmu apa?”

Dia mulai gerah.

“Kita putus!” kataku.

Dia tidak setuju keputusan yang aku pilih, dia geleng-geleng kepala meneteskan airmata, kemudian menangis sesenggukan.

“Lebih baik aku mati, daripada berpisah denganmu,” katanya.

Meskipun memikirkan kebaikannya, dan untuk masa depannya, dia tetap tidak peduli. Apa ada cinta sekuat itu di dunia ini? Hanya lelaki bodohlah yang mau meninggalkan gadis setia seperti itu. Hatiku berbisik pada diri sendiri.

Aku kasihan melihat giginya yang gemerutuk menahan kesedihan di hati. Aku bersumpah terus mencintainya sampai bumi ini runtuh. Aku meminta maaf dan berjanji tidak akan melupakannya. Cinta antara aku dan perempuan itu tidak akan pernah kuredupkan.

 “Friska aku bersumpah atas nama Tuhan, aku mencintaimu. Selama cintamu tidak hilang diterjang angin nakal. Selama itu pula aku kukuh memepertahankan cintamu sampai bisa memilikimu,” kataku.

Friska menarik napas lega yang tadinya hampir sesak, diapun berkicau, “Demi Tuhan aku tidak berhianat, apalagi menyingkir dari sisimu, selama perasaan cinta ini kau simpan dalam hatimu.”

Kami saling berpelukan mesra mengusir kedinginan, mencari kedamaian, dan ingin menemukan ketenangan sesaat. Airmatanya terus meleleh, melintas melewati pipinya yang montok. Setitik airmatanya jatuh mengenai bajuku, dan aku mengecup matanya yang basah, meminum tintanya yang keluar dari sembernya.

Sementara mulutnya terus komat-kamit, “Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku.”

Pelukannya semakin erat, seakan tak melepasku pergi. Dia begitu sayang pada diriku. Aku merasa sampai air laut tumpah ke daratan, tak akan kutemui lagi wanita setulus dirinya. Tapi apa yang terjadi, akhir kisah cinta ini, aku ditinggalkan dan dibiarkan terkapar sendirian.   [T]

  • Klik untuk baca CERPEN lainnya
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Ida Waluh di Lereng Gunung Agung
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air

Next Post

Opera Ikan Asin: Kisah Si Raja Bandit dan Potret Hukum yang Bisa Dibeli

Depri Ajopan

Depri Ajopan

Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Opera Ikan Asin: Kisah Si Raja Bandit dan Potret Hukum yang Bisa Dibeli

Opera Ikan Asin: Kisah Si Raja Bandit dan Potret Hukum yang Bisa Dibeli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co