2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Bersumpah Mencintaimu | Cerpen Depri Ajopan

Depri Ajopan by Depri Ajopan
August 19, 2023
in Cerpen
Aku Bersumpah Mencintaimu | Cerpen Depri Ajopan

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

“Ini untukmu!” Aku menyodorkan selembar kertas pada gadis itu.

“Tulisan tangan yang bagus, pasti bukan tulisanmu.” Pernyataannya membuatku malu. Menurutku ini konyol, dan tidak romantis.

“Kau tahu sendiri kan? Yang bisa membaca tulisanku cuma aku!” Serasa aku menginjak nuraniku sendiri dengan berkata begitu.

Dia tersenyum tanpa suara, menarik napas dalam-dalam. Tenggorokannya kembang kempis, dadanya terlihat jelas naik turun.

“Kenapa kau membelakangiku, dan tidak menatap wajahku, apa perlu aku mencium keningmu dulu, dengan bibirku yang lembut ini?” kataku merayu.

Friska begitu apatis hari itu,  wajahnya yang merona semakin jauh dari pandanganku, seakan dia sengaja mempertontonkan sifatnya yang tak acuh.

Ia menyibak tirai, menenggelamkan kepalanya ke luar jendela, kemudian mendogak ke langit. Mendung yang ia pandang berubah jadi rintik hujan.

“Ada keperluan apa kau menemuiku siang hari begini? Hanya karena selembar kertas?”

Sedikitpun ia tak ada menoleh. Baju lengan panjang warna kuning yang ia kenakan ditarik-tarik ke bawah seakan mempromosikan bajunya yang superketat. Kakinya sengaja digoyang-goyang, kepalanya ikut menari-nari. Kenapa hari ini dia terlihat ceria seperti itu.

Tidak ada aku melihat segumpal kesedihanpun menempel di wajahnya. Padahal seseorang baru saja memetik kebahagiaannya, yang bisa menjadi kesedihan yang berlarut-larut.

Bukankah tadi malam dia dihujani dengan cacian, pukulan. Bahkan berujung angkat kaki dari rumah malam itu. Ibunya yang galak dan begitu agresif yang menciptakan permusuhan baru denganku.

Sampai kapan pun aku tak pernah setuju kalau kau dan lelaki anjing itu menyatukan hati,

Itulah kata-kata kebencian yang pertama kali dilontarkan ibunya untukku. Lalu ia memukul putrinya menggunakan kayu bakar, membuat Friska teriak.

Dari situlah awal mulanya perasaan cinta kami yang berkecamuk diintervensi.

Kegaduhan itu mengganggu orang-orang yang duduk santai di warung. Begitu mendengar teriakan, penduduk warung sama-sama terkejut turut berbondong-bondong mengikuti arus suara yang menggelegar.

Ada yang lari tergopoh-gopoh sambil memilin-milin sarungnya yang melekat di pinggang, dan salah satu mereka yang datang itu ayah. Ia bertanya pada orang-orang, apa gerangan yang terjadi?

“Friska dibawa Jetri ke luar, dan sampai sekarang belum pulang,” jawab seseorang.

Secepat kilat memotret bumi ayahku mundur ke belakang. Ucapan yang spontan itu menyiksa batinnya, membuatnya malu. Ia merasa, sebagai seorang ayah, kepribadiannya telah diruntuhkan seruntuh-runtuhnya, pelakunya aku, anak kandungnya sendiri.   

Anehnya sampai di rumah aku yang hatinya terus berdebar-debar tidak ada dapat semprotan. Jangankan semprotan kecil, ayah dan ibu yang sudah tahu kejadian sedih itu tidak ada membahasnya sejengkal pun di depanku. Entahlah kalau di depan orang-orang.

Aku tahu penyebabnya, setelah mendengar cerita dari orang-orang, ternyata ayah dan ibuku dulunya juga cinta terlarang, sulit mendapat restu. Mereka tidak ingin nasib yang telah menimpa dirinya terjadi juga pada diri orang lain, apalagi yang mengalami nasib serupa itu anak kandungnya sendiri.

Apa yang terjadi pada diriku, sebaliknya yang terjadi pada Friska. Dia mendapat luka berat. Malam itu dia menderita di atas derita.

Tapi kenapa dia masih berpura-pura dihadapanku. Jurus apalagi yang akan dipertunjukkannya di depanku? Kenapa ia terlihat santai seperti itu? Sekadar  menipuku, seolah-olah ia bahagia. Dan ia tidak ingin aku pergi dari sisinya?

Begitu takutnyakah dia kehilanganku, sehingga derita ini ia pendam sendirian. Dia pikir aku tidak tahu hatinya lagi menangis. Aku melempar senyum sekadar berbasa-basi.

“Friska sayang, kenapa kau tidak menolehku? Bukankah aku ini kekasihmu?”

Aku menggigit bibir, menyembunyikan rasa kesedihan, memandangnya penuh makna. Dia benar-benar cuek di hari yang mendung itu.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa sih kau ingin bertemu denganku siang hari begini?” Dia mendengus. Membosankan, dia bertanya untuk yang kedua kali.

“Kau ingin bertemu malam hari saja. Biar kau bebas duduk bersandar di pangkuanku, dan sesuka hatiku menggigit pucuk telingamu yang mungil itu?” Aku mencandainya, tangannya menjulur mencubitku.

“Kau ini apa-apaan sih, ngaur kamu.” Ia meronta, seperti anak kecil, sambil melirik kiri kanan, seakan mewanti-wanti apa ada orang melintas.

Atau jangan-jangan, ia melihat di depan matanya melayang-layang kesedihan yang akan memeluknya. “Menurutmu apa perlu aku berterimakasih pada Evi yang memanggilmu datang kemari atas permohonanku?”  

“Itu urusanmu.” Ia tetap tak menoleh. Mungkin gadis hitam manis itu mau keluar  dari ruangan pengap ini. “Memangnya Kak Evi cerita apa saja padamu?” Kali ini gadis jelita itu yang menimpali. Usahaku yang gigih melunakkan hatinya mulai berhasil.

“Dia cuma bilang…,” kataku.

“Dia bilang apa?” Barulah ia menatap wajahku, aku hampir mencium keningnya, dan memang aku biasa melakukannya, tapi tidak untuk saat ini dan mungkin seterusnya.     

 “Dia bilang, ‘Kalau kau serius mencintai Friska, akulah yang bertugas mencuri gadis cantik yang hidupnya terguncang itu untukmu’.”

“Dasar tukang kibul!”

Dia mencubitku lagi, sambil melempar senyum. Aksiku menggodanya benar-benar berhasil. Aku telah menemukan puncak kemenangan. Inilah saat yang tepat untuk aku berkata serius dari hati ke hati.

“Friska, tadi malam kau dimarahi ibumu kan?  Sampai mendapat pukulan yang bertubi-tubi, dan berujung angkat kaki dari rumah?”

Tadinya ia merunduk memandangi lantai, sekarang ia fokus menatapku tajam, seakan hatinya berbisik, “Kenapa rahasia yang sengaja kusimpan dan kututup rapat bisa ketahuan sama dia.”

 “Aku tahu ini salahku yang nekat mengajakmu keluar. Padahal aku tahu sendiri konflik sudah mulai hidup di antara kita berdua. Mulai sekarang aku berjanji kejadian buruk ini tidak akan terulang lagi. Karena hari ini pertemuan kita yang terakhir.”

Suaraku serak-serak basah. Kata-kata perpisahan itu begitu berat mengucapkan pada orang yang sangat aku sayangi.

“Maksudmu apa?”

Dia mulai gerah.

“Kita putus!” kataku.

Dia tidak setuju keputusan yang aku pilih, dia geleng-geleng kepala meneteskan airmata, kemudian menangis sesenggukan.

“Lebih baik aku mati, daripada berpisah denganmu,” katanya.

Meskipun memikirkan kebaikannya, dan untuk masa depannya, dia tetap tidak peduli. Apa ada cinta sekuat itu di dunia ini? Hanya lelaki bodohlah yang mau meninggalkan gadis setia seperti itu. Hatiku berbisik pada diri sendiri.

Aku kasihan melihat giginya yang gemerutuk menahan kesedihan di hati. Aku bersumpah terus mencintainya sampai bumi ini runtuh. Aku meminta maaf dan berjanji tidak akan melupakannya. Cinta antara aku dan perempuan itu tidak akan pernah kuredupkan.

 “Friska aku bersumpah atas nama Tuhan, aku mencintaimu. Selama cintamu tidak hilang diterjang angin nakal. Selama itu pula aku kukuh memepertahankan cintamu sampai bisa memilikimu,” kataku.

Friska menarik napas lega yang tadinya hampir sesak, diapun berkicau, “Demi Tuhan aku tidak berhianat, apalagi menyingkir dari sisimu, selama perasaan cinta ini kau simpan dalam hatimu.”

Kami saling berpelukan mesra mengusir kedinginan, mencari kedamaian, dan ingin menemukan ketenangan sesaat. Airmatanya terus meleleh, melintas melewati pipinya yang montok. Setitik airmatanya jatuh mengenai bajuku, dan aku mengecup matanya yang basah, meminum tintanya yang keluar dari sembernya.

Sementara mulutnya terus komat-kamit, “Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku.”

Pelukannya semakin erat, seakan tak melepasku pergi. Dia begitu sayang pada diriku. Aku merasa sampai air laut tumpah ke daratan, tak akan kutemui lagi wanita setulus dirinya. Tapi apa yang terjadi, akhir kisah cinta ini, aku ditinggalkan dan dibiarkan terkapar sendirian.   [T]

  • Klik untuk baca CERPEN lainnya
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Ida Waluh di Lereng Gunung Agung
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air

Next Post

Opera Ikan Asin: Kisah Si Raja Bandit dan Potret Hukum yang Bisa Dibeli

Depri Ajopan

Depri Ajopan

Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Opera Ikan Asin: Kisah Si Raja Bandit dan Potret Hukum yang Bisa Dibeli

Opera Ikan Asin: Kisah Si Raja Bandit dan Potret Hukum yang Bisa Dibeli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co