24 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
in Cerpen
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan yang berhembus bersama angin mencipta suara dari arah pura. Dari kecil, aku percaya bahwa desa kami adalah tempat yang tak akan berubah, selalu begini dan selamanya seperti ini. Bahkan, tiap jamnya terasa begitu lambat di sini, seakan roh leluhur menahanku agar tetap tinggal di sana bersama mereka. 

Menjelang rahina, para kaum wanita terlihat sibuk tanpa istirahat. Ada yang menyiapkan bahan banten, metanding, dan juga tetap bekerja di sela-sela kesibukan itu. Di tengah persiapan, anak-anak kecil berlarian menikmati suasana, sedangkan di balai banjar, para tetua duduk membicarakan adat dengan suara yang rendah serta penuh hormat. Semuanya terasa hidup, seolah desa kami dapat bernapas sendiri.

Sewaktu kecil, Ibu selalu mengingatkanku untuk menjaga desa ini “Indah, kita sebagai seorang manusia, harus menghormati tanah yang kita pijak,” kata Ibu suatu sore, sembari menyusun tumpukan canang.

“Suatu hari, jika kita acuh, tanah itu juga akan berhenti menjaga kita,” tambah Ibu.

Dulu, ketika mendengarkan perkataan Ibu, aku tak mengerti maknanya. Aku hanya mengangguk ketika Ibu mulai membahas hal itu. Sedangkan Ayah berbeda. Ia tetap mengikuti semua runtutan adat sebagaimana aturan yang tak tertulis itu. Namun, hidup membuatnya lebih akrab terhadap rasa cemas dibandingkan keyakinan-keyakinan lama. Ayah tak selalu mendapat panen yang bagus, sedangkan harga barang kian hari kian meningkat. Terkadang, aku melihatnya duduk melamun depan teras rumah, melihat hamparan sawah yang kini menyepi. Meski begitu, kehidupan di desa tetap berjalan seperti biasanya. 

Tahun berganti tahun, aku tumbuh dan berkembang di desa itu. Pura di ujung jalan itu pun masih menjadi tempat paling tenang yang aku ketahui. Aku rasa, kehidupan kecilku di sini akan sama, tak berubah meski tahun silih berganti. Sampai akhirnya beberapa mobil mewah datang memasuki jalan desa kami. Aku lihat, mobil-mobil itu terparkir rapi di depan balai banjar, membawa orang-orang dengan bahasa yang tak aku kenali. Mereka datang dengan para pejabat desa, membawa lembaran kertas janji dan rancangan masa depan. Katanya desa kami akan maju, warga bisa bekerja, serta kehidupan kami akan lebih terjamin. Mereka datang dengan bayang-bayang akan masa depan. Dan, tanpa aku sadari, desaku mulai kehilangan wajahnya sendiri. 

Setiap malam orang-orang membicarakan pembangunan villa di tanah sekitar pura. Suara perdebatan terdengar pada beberapa sudut desa. Mulai dari balai banjar hingga warung kecil pinggir jalan. Sebagian besar warga menyambut pembangunan itu dengan mata yang berbinar, seolah kejayaan sudah berada di depan mata. Sebagiannya lagi memilih untuk diam. Entah karena takut menyuarakan, atau hanya menjadi penyimak tanpa reaksi. Bagi orang luar mungkin terlihat biasa saja, tapi bagi kami warga setempat, tanah itu adalah tempat yang kesuciannya harus tetap ada. 

Sedari awal Ibu menolak semua rencana masa depan itu.

“Kalau bangunan itu berdiri di sana, cepat atau lambat semuanya akan berubah,” katanya pada suatu malam.

Aku kemudian mencoba berbicara pada Ayah. Kukatakan bahwa wisatawan belum tentu menghormati bagian dari adat kita, bahwa bangunan itu berdiri terlalu dekat dengan pura “Lambat laun, desa kita bisa berubah jadi tempat asing, Ayah.”

Mendengar itu, Ayah menghela napas cukup panjang. Ia kemudian menatapku dan berucap. “Kalian itu perempuan. Tidak semua urusan dapat kalian campuri,” katanya padaku dan Ibu. Ucapannya begitu menusuk, aku dan Ibu tak mampu berucap dibuatnya. Sejak malam itu aku sadar. Suaraku terlalu kecil di tengah riuhnya manusia desa.

Pembangunan tetap berjalan. Truk-truk besar mulai melewati jalan desa. Suara mesin berdengung menggantikan kicauan burung sawah. Debu-debu beterbangan tiap hari. Ia menempel pada dedaunan, pelinggih, hingga menyapa rumah warga. Sedikit demi sedikit, bangunan itu mulai terlihat jelas. Villa besar dengan dinding batu dan jendela-jendela tinggi berdiri di dekat areal sakral desa kami. Ketika malam, lampu-lampunya menyala terang, seolah dipaksakan untuk hidup di tengah tempat yang selama ini terbiasa dengan gelap dan suara jangkrik malam.

Sejak saat itu, jalan di desa kami tak pernah benar-benar sepi. Beberapa warga mulai bekerja di sana. Ada yang menjadi tukang kebun, penjaga dapur, petugas kebersihan, hingga pemandu wisata. Ayah salah satu dari mereka di sana. Ekonomi memang lebih membaik, seperti yang mereka katakan.

Suatu malam, Ayah pulang dari pekerjaannya. Pembawaannya terlihat lebih bahagia. Ia kemudian memperlihatkan beberapa lembar kertas merah padaku dan Ibu. Senyumnya begitu mengembang, bangga akan penghasilannya saat itu. Aku mencoba percaya, mungkin hanya pikiranku saja yang berlebihan terhadap pembangunan villa itu. Aku mulai menerima kolaborasi antara budaya dan wisatawan di desaku.

Pada awalnya, semuanya baik-baik saja. Wisatawan datang, berfoto, lalu pergi seperti angin lalu. Tapi, semakin lama, jalan menuju pura berubah. Dulu lintasan itu diiringi hamparan rumput. Kini sampah botol, bungkus snack hingga puntung rokok menjadi penghias jalanan itu. Aroma dupa yang dulu aku biasa hirup, digantikan dengan bau got yang kian menyengat.

Pada satu sore, upacara mepeed sedang berlangsung. Semua berjalan seperti yang biasa dilakukan. Namun, orang-orang asing mulai mendekat, menyisakan jarak 2 langkah hanya untuk jepretan gambar. Terlalu dekat untuk kumpulan orang yang tak saling mengenal. Tak hanya mendekat pada prosesi, mereka mulai mengacuhkan peraturan yang tak seharusnya mereka langgar. Banten caru yang seharusnya dihaturkan, diinjak tanpa rasa bersalah. Mereka hanya tersenyum tanpa permohonan ampun. Tak hanya itu, mereka mulai mengambil alih areal pura.

Aku berdiri di antara kerumunan itu. Pandanganku menyusuri tiap jengkal halaman pura, sampai akhirnya mataku tertuju pada seorang Nenek tua. Tatapannya teduh. Bibirnya terlihat bergetar, melantunkan kidung yadnya yang begitu khusyuk. Siapapun yang melihat mungkin akan merasakan hangat yang tak dikenal. Namun, sayangnya, di keindahan lantunan itu, banyak warga negara asing yang mengambil gambar. Flash dimana-mana. Dengan pakaian pendeknya, mereka datang memotret di halaman pura kala itu. Suara-suara mereka riuh, berlomba dengan tembangan Nenek yang syahdu. Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Malam itu, di antara kilatan kamera dan kidung yang tenggelam, aku tahu ada sesuatu yang runtuh dari desa kami.

Setelah upacara selesai, riuh kamera itu masih tertinggal di kepalaku. Malam itu, rumahku dipenuhi suara yang saling melukai—peperangan dua mulut dengan pandangan yang berbeda. Ibu menyalahkan Keputusan-keputusan yang dibuat Ayah sejak awal.

“Kau lihat saja sendiri! Tak ada lagi kehormatan untuk tuan bumi. Lihatlah! Sakralnya upacara tadi hilang oleh orang-orang tak tahu aturan adat!” ucap Ibu pada Ayah.

Ayah tak membantah. Ia hanya berdiam diri, tak bergeming sedikit pun. Mungkin saja, ia mulai sadar bahwa uang memang dapat memperbaiki hidup, tapi tak bisa mengembalikan sesuatu yang sudah hilang. Dan, untuk pertama kalinya aku tahu. Kiamat bisa terjadi tanpa dunia hancur sepenuhnya. Ia hidup di jalan-jalan yang mulai kotor. Di pelataran pura yang dipenuhi jejak kaki sembarang orang. Di rumah-rumah yang diselimuti pertengkaran. Di manusia-manusia yang kini berjalan di tanahnya sendiri tanpa menundukkan kepala.

Aku tak bisa menghentikan pembangunan villa itu. Aku juga tak bisa mengusir semua perubahan yang telah datang. Tapi, setidaknya aku masih bisa menjaga yang masih tersisa. Aku bisa membantu membersihkan area pura setelah upacara selesai dilangsungkan. Aku juga mengajari anak-anak kecil cara membuat canang, juga mengajari mereka doa-doa sederhana. Aku juga mulai berbicara di depan semua warga. Meski aku tahu, suaraku pasti tak akan mengubah pandangan mereka.

Kini aku mengerti maksud Ibu beberapa tahun silam, bahwa tanah juga bisa lelah menjaga manusia dan makhluk hidupnya. Dan mungkin, kehancuran bumi yang paling menyeramkan adalah ketika manusia perlahan berhenti mencintai tanah tempat mereka berpulang. [T]

Penulis: Luh Aninditha Wiralaba
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba

Siswa SMAN 1 Amlapura

Related Posts

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Cerpen

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa
Puisi

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta
Pariwisata

Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta

Sore itu, suasana di Four Points by Sheraton Bali tak seperti biasanya. Ketika para pekerja melakoni kegiatan budaya, yakni “ngebat”,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh
Pariwisata

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Ini bukan upacara melukat atau kegiatan membersihkan diri dan alam semesta, tetapi acara melepas tukik. Pagi, Sabtu 23 Mei 2026,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman
Esai

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0
Esai

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
Catatan Perjalanan Janger Beringkit
Panggung

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026
Olahraga

Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026

SEJAK Kamis, 21 Mei 2026 ada semangat hidup sehat dan kebersamaan yang dihadirkan di Dewata Mas Futsal di Jalan Raya...

by Julio Saputra
May 23, 2026
Oleh-Oleh dari Baduy Luar
Tualang

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co