“Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar,
menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”
—Pesan H.O.S Tjokroaminoto, tokoh Sarikat Islam, kepada murid-muridnya
—
DI teras rumah kecil di Gang Peneleh VII, Surabaya, Musso dan Semaoen sedang mendaras Karl Marx. Sementara Kartosoewiryo sibuk mendalami pikiran tokoh-tokoh Islam modernis setelah menyelesaikan tugas-tugas administrasi dari sang guru, Soekarno muda mencuri-curi pandang pada sosok Siti Oetari, gadis manis anak pemilik rumah—yang tak lain bapak kos dan gurunya sendiri, Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto.
Ya, Musso, Semaoen, Soekarno, dan Kartosoewirjo, juga Alimin, Darsono, Abikoesno, dan beberapa siswa—yang namanya tidak terlalu menonjol dalam lembar sejarah perjuangan Indonesia—yang sekolah di Hogere Burger School (HBS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Middlebare Technise School (MTS), maupun Nedherland Indische Artschen School (NIAS) pernah tinggal bersama di rumah Tjokroaminoto sebelum nama-nama mereka dikenal dalam sejarah pergerakan ideologi di Indonesia pada abad 20. Pada 1918, sekitar 18-20 orang yang indekos di rumah Tjokroaminoto.

Museum (bekas rumah) H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Tentu saja suasana di atas sekadar rekaan saya saat kali pertama menginjakkan kaki di rumah Tjokroaminoto di daerah Peneleh, Genteng, Surabaya, yang kini sudah beralihfungsi menjadi museum itu. Saya tak dapat membayangkan adegan lain kecuali yang seperti itu. Saya bukan Garin Nugroho yang mampu membuat adegan anak-anak kos di rumah Tjokroaminoto makan sambil berdiri di teras depan dan berbincang soal nasib buruh Stasiun Gubeng. Atau adegan Mbok Tun yang terus saja ngomel karena banyak orang bertamu ke kediaman Tuan Tjokro—dan menghabiskan banyak bubuk kopi. Dalam film Guru Bangsa (2015), tampaknya Garin lebih banyak berimanijasi daripada membaca buku sejarah.
Tetapi imanjinasi saya buyar seketika setelah melihat seorang lelaki—saya tidak tahu apakah ia termasuk petugas museum atau tidak—yang duduk di kursi dekat pintu masuk bermain judi online dengan santai—dan cuek saja, tak peduli dengan sekitarnya. Seketika saya merasa masuk ke sebuah kafe dengan dekorasi zaman dulu alih-alih cagar budaya.

Potret H.O.S Tjokroaminoto di Museum H.O.S Tjokroaminoto Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Zaman berlari seperti kereta di stasiun-stasiun di Surabaya. Kini sudah tak ada lagi siswa yang indekos di rumah kecil di gang sempit di Peneleh VII itu. Semua tinggal gambar-gambar monokrom dalam pigura yang tertempel di dinding-dingin rumah—yang diam, dan tak lagi dapat memperjuangkan nasib buruh di Perak, Rungkut, atau Margomulyo. Kini semua tinggal menyisakan ingatan yang ngendon di sedikit kepala orang. Ya, saya kira tak banyak orang yang tahu jejak Tuan Tjokro dan anak-anak kosnya di Surabaya—apalagi mereka yang dicap sebagai “perusak” pikiran bangsa: para tokoh Partai Komunis Indonesia.
***
“Tahun 2017 baru diresmikan menjadi museum, Mas, zamannya Bu Risma,” ucap seorang petugas museum yang masih muda dengan percaya diri. Ia seperti “harus” menyebut nama Risma sebagai penegasan siapa yang “paling” berjasa atas hadirnya museum ini. Saya tersenyum, tak lanjut bertanya. Saya sibuk mengamati foto hitam putih Tjokroaminoto dengan kumis khasnya. Foto itu tercantel di dinding dalam dekat pintu masuk. Ah, kenapa tiba-tiba ada Raza Rahardian dalam kepalaku? Saya membatin.
Saya memasuki museum berwajah klasik—sentuhan khas Jawa era abad 19 hingga awal abad 20—ini dengan perasaan yang entah. Bayangan saya ke mana-mana. Saya membayangkan Tuan Tjokro sedang duduk di kursi kayu (replika) yang terletak di ruang tamu dan berbincang dengan Haji Samanhoedi dan Haji Agus Salim, juga KH. Ahmad Dahlan. Saya juga membayangkan bagaimana sikap Tjokro saat Semaoen, Darsono, dan Musso menentang cara-cara kooperatif volksraad dan memilih cara yang lebih radikal.

Foto Kongres Sarekat Islam pada tahun 1913. Koleksi Museum H.O.S Tjokroaminoto | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Bayangan saya teralihkan oleh dua sosok perempuan muda yang bisik-bisik saat melihat foto hitam putih kongres Sarekat Islam (SI) pada 1913. “Nggak ada yang senyum, loh,” bisik perempuan berkerudung itu kepada kawannya. Lalu mereka cekikikan. Hampir saja saya ikut tertawa kecil. Ya, di dinding-dinding rumah kecil ini, terpajang banyak foto, khususnya yang berkaitan dengan hikayat hidup sang Guru Bangsa, Raja Tanpa Mahkota. Narasi-narasi pendek dari mulai Tjokro kecil, sekolah, menikah, berpindah dari Ponorogo ke kota lain sampai ke Surabaya—yang juga bisa kita baca di internet—dicetak di atas sebidang berwarna hitam yang diletakkan di bawah foto. Saya capek membaca tulisan-tulisan itu.
Selain memajang berbagai foto, museum ini juga menampilkan tiga lembar surat kabar yang pernah dikelola H.O.S Tjokroaminoto—ya, hanya tiga lembar. Fadjar Asia yang tak ada keterangan terbit, Oetoesan Hindia edisi (kalau saya tidak salah baca) 23 November 1914 (surat kabar ini diterbitkan pertama kali pada Desember 1912 di Surabaya), dan Bandera Islam edisi 8 Agustus 1927.
Pada halaman pertama Fadjar Asia terdapat pengumuman “Cursus Partij S.I. Indonesia Di Betawi” dengan moeballigh: H.O.S. Tjokroaminoto. Di bawah informasi tersebut terbit sebuah artikel panjang berjudul “Doenia Sebeloem Nabi Moehammad”. Sedangkan dalam koran Bandera Islam yang dipajang, di sudut kanan halaman pertama, dalam kotak kecil, terselip iklan yang menarik. Advertensi itu berbunyi: “Baroe ada Fabric Tionghoa: BIKIN.OEBIN—dengan kata-kata promosi—PESENAN Banjak, sedikit DI SAMBOET, PESENAN dalem, loear Kota DIKIRIM. Kepoenjaannja orang TIONGHOA. Dioeroes oleh orang TIONGHOA. Dan ditutup dengan: Pake doeloe nanti taoe. Pabrik ini sepertinya bediri di Bandoeng—eh, Bandung.



Tiga surat kabar yang pernah dikelola H.O.S Tjokroaminoto. Koleksi Museum H.O.S Tjokroaminoto | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Di sudut ruangan lain, ada pakaian yang dikenakan Soekarno saat mondok di rumah Pak Tjokro dan sekolah di HBS Surabaya. Saat itu ternyata Soekarno muda memakai blangkon Jogja, kemeja arrow putih dengan dasi kupu-kupu beserta jas modern warna ivory. Sedangkan bagian bawah ia menggunakan jarik motif parang barong dan berselop. Tak hanya ada baju Bung Karno, tapi juga ada baju yang dikenakan Tjokroaminoto saat berbicara di kongres. Seperti Soekarno, Tjokro juga mengenakan blangkon Jogja. Tapi Tjokro tak menggunakan jas, melainkan beskap Jogja lengkap dengan jarik motif parang kusumo cap Grudo dan selop.
Dan ini yang ikonik: kamar pribadi Tjokroaminoto dan sang istri Suharsikin. Sebuah ranjang kecil dengan seprai dan kelambu putih. Di sisinya terdapat meja rias dan lemari kuno yang menambah kesan vintage. Selain itu, pengunjung juga dapat menengok loteng rumah yang dulu disulap menjadi kamar kos bersama. Di ruangan loteng itu terdapat tikar pandan yang dulu dijadikan alas tidur Soekarno dan beberapa tokoh yang pernah indekos di rumah Pak Tjokro.
Namun, tak ada buku atau sekadar arsip tulisan Pak Tjokro di sana; tak ada Islam dan Sosialisme cetakan lama maupun baru—meski tedapat segelintir buku yang dalam keterangan merupakan koleksi pribadi Pak Tjokro dan beberapa buku biografi singkat anak-anak kos di Peneleh yang bisa dibaca pengunjung. Mungkin buku memang tak terlalu penting bagi kurator museum H.O.S Tjokroaminoto.
***
Dulu, setahu saya, rumah kecil ini merupakan pusat dari semua hal yang nanti berkembang—dan boleh jadi menjadi tonggak—dalam sejarah pergerakan nasional di Indonesia. Julukan “dapur nasionalisme” dari Soekarno untuk rumah ini memang tidak berlebihan, karena di tempat inilah Tuan Tjokro mendidik putra-putra terbaik bangsa.
Anak didiknya seperti Soekarno, sang proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia dengan paham nasionalismenya (PNI); Semaoen, Darsono, Alimin, Musso, tokoh Marxis pendiri sekaligus penggerak Partai Komunis Indonesia (PKI); Abikoesno tokoh Piagam Jakarta (Masyumi); dan Kartosuwiryo pendiri Negara Islam Indonesia (NII), adalah bukti bahwa Tjokroaminoto—meminjam perkataan Muhidin M. Dahlan—merupakan “leluhur” dari tiga aliran politik besar, yakni Nasionalisme, Komunisme, dan Islamisme. Dalam sejarah, belakangan ketiga aliran ini saling membunuh satu sama lain.

Kamar pribadi H.O.S Tjokroaminoto dan sang istri Suharsikin | Foto: tatkala.co/Jaswanto
H.O.S Tjokroaminoto adalah tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Orang Belanda memberinya gelar De Ongekroonde Koning van Java—Raja Jawa Tanpa Mahkota—meski ia menanggalkan gelar “Rande Mas”-nya dari nama depannya. Ya, dalam darahnya mengalir kebangsawanan. Dari jalur neneknya mengalir darah Sri Sesuhunan Pakubuwono II.
Pak Tjokro sangat piawai dalam menulis dan mengelola surat kabar, pun memiliki kemampuan orasi di atas mimbar yang dapat membakar massa. Dua kemampuan itulah yang menjadi magnet orang-orang mengikuti dan meneladaninya. Pak Tjokro berpesan kepada murid-muridnya, “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”
Pada 1912, Pak Tjokro berhasil “membuang” kata “Dagang” dari nama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang pertama kali dibentuk oleh Tirto Adi Suryo menjadi Sarekat Islam (SI) yang membikin pucat Budi Oetomo. Dengan triloginya yang masyhur—setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepintar-pintar siasat—Pak Tjokro memimpin SI dan menjadikanya organisasi terbesar saat itu.

Suharsikin, istri H.O.S Tjokroaminoto. Koleksi Museum H.O.S Tjokroaminoto | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Tahun 1912, anggota Sarekat Islam berjumlah 60.000 orang. Tahun 1914, anggota SI mencapai 400.000 orang. Tahun 1916, anggota SI berjumlah 860.000 orang, naik 100 persen, meski pada 1917 mengalami sedikit penurunan menjadi 825.000 orang. Selanjutnya, tahun 1918 SI mengalami penurunan anggota yang sangat drastis menjadi 450.000. Tetapi, tahun 1919 anggota SI tembus 2 juta 500 ribu orang. Sampai sini, bisa dikatakan bahwa Sarekat Islam merupakan organisasi pergerakan terbesar yang misi utamanya zelfbestuur—menciptakan pemerintahan sendiri. Jelas, Sarekat Islam bukan perahu kecil saat itu.
Dalam sebuah Kongres Central Sarekat Islam yang digelar pada 1917 di Batavia, secara tegas Tjokroaminoto mengatakan, “Yang kita inginkan adalah sama rasa, terlepas dari perbedaan agama. Central Sarekat Islam ingin mengangkat persamaan semua ras di Hindia sedemikian rupa sehingga mencapai (tahap) pemerintahan sendiri. Central Sarekat Islam menentang kapitalisme. Central Sarekat Islam tidak akan mentolerir dominasi manusia terhadap manusia lainnya. Central Sarekat Islam akan bekerja sama dengan siapa saja yang mau bekerja untuk kepentingan ini”.
***
H.O.S. Tjokroaminoto banyak memperkenalkan pemikiran modern sebagai kerangka berpikir dalam mengupas ajaran Islam, tanpa mengurangi autentisitas ajaran-ajaran Islam. Dengan kata lain, Islam merupakan landasan, isi, dan tujuan dari perjuangannya, sedangkan pemikiran modern digunakan sebagai metode dan cara dalam merumuskan kembali ajaran-ajaran Islam tersebut yang dikenal dengan istilah tajdīd ‘ashri, misalnya Pan Islamisme, Nasionalisme, Sosialisme, Demokrasi, dan lain-lain.
Pikiran penting Pak Tjokro tertuang dalam buku Islam dan Sosialisme—yang awalnya hanya sebuah artikel yang terbit di Soeara Boemiputera pada September 1922. Dalam tulisan tersebut, Tjokroaminoto mulai mendasarkan pandangan sosialismenya pada nilai-nilai Islam. Selain itu, ia juga menunjukkan pandangannya dalam sebuah brosur berjudul “Sosialisme di dalam Islam”. Brosur ini dibuat sebagai upaya membentuk opini publik, khususnya untuk mengembalikan para anggota Sl yang telah terjangkit paham komunisme.
Dalam tulisan itu, Tjokroaminoto menyampaikan bahwa Islam juga mengandung nilai-nilai sosialisme. Menurutnya, kesamaan sosialisme Islam dengan sosialisme ala komunis terletak pada tiga hal, yaitu persamaan, persaudaraan, dan kemerdekaan. Hal itulah yang menjadi landasan pemikiran Tjokroaminoto untuk menyatukan kembali berbagai pertentangan yang ada—meski pada akhirnya, beberapa anggota Sarekat Islam memilih keluar dan mendirikan Partai Komunis Indonesia (yang juga disebut Sarekat Islam Merah).

Kamar bersama di loteng rumah H.O.S. Tjokroaminoto. Soekarno dan beberapa tokoh lainnya pernah tidur di loteng ini | Foto: tatkala.co/Jaswanto
Islam dan Sosialisme terbit pertama kali dalam bentuk buku pada 1924, dua tahun sebelum peristiwa pemberontakan PKI pertama atas Hindia Belanda. Dalam buku ini, tampak jelas Tjokro berusaha sekuat-tenaga untuk mengakrabkan paham solialisme dan Islam—dan ia mengajarkan pemahaman tersebut ke banyak tempat di Hindia. Menurut kesaksian Buya Hamka—yang pernah mengikuti pengajian Pak Tjokro tentang Islam dan sosialisme—ia mengajar dengan penuh semangat.
Sang Guru, kata Hamka, menguasai betul materi Islam dan sosialisme. Tjokro bisa menerangkan sosialisme dari segi Islam berdasarkan ayat-ayat Quran dan hadis Nabi lengkap dengan perawinya. Kata Hamka, dalam pengajiannya, Tjokro tidak sekalipun mencela Karl Marx, Friedrich Engels, malahan berterima kasih kepada keduanya. Menurut Tjokro, pikiran Marx dan Engels—materialisme, dialektika, historis—justru memperjelas sosialisme yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Umat Islam, kata Tjokro, adalah orang yang sangat cakap dalam melakukan kehendak sosialisme yang sejati.
Saya keluar museum dengan sebuah pertanyaan. Apakah membaca buku Islam dan Sosialisme—atau mengenal sosok penulisnya—masih penting bagi orang-orang Surabaya? Bangunan-bangunan modern berdiri megah di setiap sudut Surabaya tanpa inskripsi, seakan menegaskan bahwa modernitas tak membutuhkan masa lalu untuk menancapkan legitimasinya. Sedangkan di tengah kehidupan yang serba cepat, penuh propaganda, apatis, dan pragmatis ini, belajar sejarah rasanya terkesan menambah beban hidup saja.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole



























