18 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Kadek Surya Jayadi by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
in Tualang
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma gerutu yang terucap, sebab memang telah musimnya hujan turun.  Hujan Februari di suasana Tahun Baru Imlek masihlah merupakan berkah. Berkah itu banyak wujudnya, salah satunya adalah kesempatan kami berkunjung ke Puri Agung Karangasem.

Hujan turun kian deras, namun gapura Puri Agung Karangasem seolah gentar menghadapinya. Seolah membiarkan kami tetap masuk ke dalam puri. Kori ini menjadi saksi siapa saja yang pernah berkunjung ke Puri ini. Banyak tokoh dunia yang tercatat berkunjung, salah satunya penyair dunia Rabindranath Tagore, yang dikenal salah satu puisinya berjudul the gardener.

Figure 1 Sumber KITLV

***

“Selamat datang di Puri Agung Karangasem”, demikian kalimat pembuka yang disampaikan Anak Agung Ayu Dewi Girindrawardani, salah satu angga/keluarga Puri Agung Karangasem yang menerima kunjungan kami.  Penyampaiannya halus, dalam bahasa Indonesia yang kental dialek khas Karangasemnya. Bagi yang peka, tuturan ini mencerminkan bagaimana sosok keluarga bangsawan tetap menjaga adabnya. Satu nilai yang telah diwariskan sejak turun temurun. Tutur sapanya menghangatkan suasana, di tengah dingin akibat gempuran hujan lebat.

Sambil menunggu hujan reda, Ibu Gung Dewi, demikian kami memanggilnya, menceritakan sekelumit sejarah Puri Agung Karangasem. Puri Agung Karangasem atau yang dikenal juga dengan sebuatan Puri Maskerdam, merupakan salah satu puri di Bali yang eksistensinya masih bertahan hingga kini. Arsitekturnya tetap dipertahankan sebagaimana dulunya, meski diakui telah mengalami sejumlah renovasi.

Soal arsitektur harus diakui jika Puri Agung Karangasem memiliki sejumlah kontur arsitektur yang unik. Perpaduan antara arsitektur Eropa, China, dan Bali tampak jelas dalam sejumlah ornamen, gaya bangunan, dan pilihan warna. Setiap bangunannnya pun memiliki semiotikanya masing-masing, dengan fungsi-fungsi yang berbeda. Ruang-ruang private-sakral dan ruang publik-pun diatur sedemikian rupa. Pada intinya, kami menangkap pesan harmoni di balik landscape Puri Agung Karangasem ini.

Harmoni tersebut tidak saja terlihat dalam penataan ruang/fisik/tangible, juga bagaimana harmoni itu mewujud pada ranah aktivitas/intangible. Leluhur Puri Agung Karangasem tampaknya telah menangkap satu visi ke depan tentang bagaimana menerjemahkan spirit manunggaling kawulo lan gusti.  Spirit ini tidak diterjemahkan secara sempit, tetapi sebagai spirit kolaborasi lintas etnis. Maka tampaklah kemudian bagaimana puri ini sangat erat hubungannya Islam yang mewujud dalam berbagai aspek dan telah menjadi sejumlah kajian oleh sejumlah akademisi.

***

Berbicara visioner tampaknya tak ada habisnya ketika kita berkunjung ke Puri Agung Karangasem. Bahkan kian tegas ketika puzzle lainnya kita lihat di situs Taman Tirta Gangga. Jaraknya kurang lebih 7 kilometer dari Puri Agung Karangasem. Sesungguhnya kami telah dulu mengunjungi situs ini sebelum bertandang ke Puri Agung Karangasem.

Ada beberapa hal menarik yang berhasil kami tangkap di Taman Tirta Gangga dari penjelasan yang disampaikan oleh Anak Agung Made Kosalia, salah satu keluarga Puri Agung Karangasem yang kini sekaligus kini Bendesa Adat Karangasem. Pertama, Taman Tirta Gangga merupakan salah satu penciri/identitas Puri Agung Karangasem yang identik dengan taman airnya/ water palace­­-nya. Bahkan raja Karangasem Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem, the last rajah of Karangasem, mendirikan tidak hanya Tirta Gangga juga membangun taman air lainnya, Taman Soekasada Ujung yang juga menjadi penutup daripada kunjungan kami.

Kedua, Taman Tirta Gangga ini yang namanya sesungguhnya telah bertranformasi beberapa kali, didirikan oleh sang raja tidak hanya untuk kepuasan dirinya belaka, namun juga untuk kebahagiaan rakyat. Visi manunggaling kawolu gusti tampak terasa kian mengalir di Taman Tirta Gangga ini. Spirit inipun bahkan terus dicamkan oleh Anak Agung Made Kosalia dalam berbagai wujud, seperti dalam berbagi bentuk aksi volunteer, bantuan pendidikan, upacara adat, dan lain sebagainya. 

Ketiga adalah komitmen pengelolaan Situs Tirta Gangga ini. Bahwa sebuah heritage tidak cukup hanya diwariskan belaka, tetapi ada sebuah upaya dari generasi penerusnya untuk menjaga dan merawatnya sesuai perkembangan yang dibutuhkan di masa kini dan mendatang. Terbukti hospitality yang diupayakannya membuat Tirta Gangga meraih sejumlah penghargaaan sebagai sebuah destinasi yang memiliki akar sejarah-budaya yang unik dan pelayanan yang baik.

Sebuah hal yang tidak hanya patut dikagumi namun juga pantas ditiru. Kami pun menikmati kebersamaan kami di Taman Tirta Gangga. Aliran airnya yang jernih menyegarkan jiwa kami semua, melepaskan penat kami, dan melupakan sejenak tanggung jawab Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diamanatkan kepada kami semua sebagai sivitas akademika.

***

Acara kunjungan kami di Puri Agung Karangasem tak sekadar kunjungan belaka. Selain menimba ilmu, kami juga melakukan acara penghormatan untuk salah satu pendiri Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Udayana, Prof. Dr. Anak Agung Gde Putra Agung, S.U. yang juga merupakan salah satu putra (the big ten) raja Karangasem terakhir. Dengan sebuah buket bunga sederhana, lantunan doa bersama, dan membaca riwayat singkat, sesungguhnya menyiratkan pesan bahwa semangat pendiri prodi Ilmu Sejarah Universitas Udayana, akan senantiasa tumbuh mekar yang semerbaknya bisa tercium tidak hanya di tataran lokal juga global.

Hal ini senada dengan apa yang kami saksikan kemudian di kunjungan kami terakhir Situs Taman Soekasada Ujung. Di balik guyuran hujan yang berusaha menembus jas mantel Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, terpapar nyata betapa nilai-nilai lokal bisa bersanding secara apik dengan nilai-nilai global yang tampak pada arsitektur bergaya indis Taman Soekasada Ujung. Kami pulang ke Denpasar dengan lelah yang dijejali dengan penuh ide-ide segar yang menginisiasi lahir dan bathin. [T]

Penulis: I Kadek Surya Jayadi bersama Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana
Editor: Adnyana Ole

Catatan: Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana merupakan organisasi kemahasiswaan yang didirikan oleh sejarawan mendiang Drs. Ida Bagus Sidemen, S.U. Sebagai rumah bersama bagi sivitas akademika di lingkungan Program Studi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, organisasi ini berfokus pada penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diintegrasikan dengan pengembangan softskill serta karakter mahasiswa. Melalui semangat kekeluargaan, KEMAS berkomitmen melanjutkan visi pendirinya untuk menciptakan ruang belajar yang dinamis, peka terhadap nilai sejarah, budaya, dan serta memiliki kepedulian sosial dengan mengakselerasi nilai nilai budaya lokal berwawasan global demi kemajuan ilmu pengetahuan yang relevan dengan tantangan zaman.

Tags: karangasemProdi Sejarah UnudpuriPuri Agung KarangasemsejarahUnud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Next Post

Berkaca Pada Prambanan

Kadek Surya Jayadi

Kadek Surya Jayadi

Lahir di Sempidi 16 Maret 1995. Pernah mengenyam pendidikan di Program Studi Sastra Bali Universitas Udayana. Setamat dari jenjang S-1, ia melanjutkan studi S-2 di Prodi Ilmu Sejarah, Universitas Gadjah Mada. Kini pria yang akrab disapa Dek Uya, bekerja sebagai staff pengajar di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Related Posts

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails
Next Post
Berkaca Pada Prambanan

Berkaca Pada Prambanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co