3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkaca Pada Prambanan

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
February 21, 2026
in Esai
Berkaca Pada Prambanan

Candi Prambanan | Foto: Canva

Berkaca membuat seseorang bisa melihat bayangan tubuhnya fisiknya sendiri, dari kepala, rambut, wajah, mata, hidung, bibir, kulit, badan, juga semua yang melekat dan menutupi badan. Tujuan seseorang berkaca biasanya adalah untuk melihat pantulan dirinya dengan lebih obyektif, sehingga “memperindah” dirinya.

Subyek dan Obyek

Berkaca lazimnya menempatkan subyek dan obyek secara terpisah. Umumnya kualitas dan kuantitas subyek yang dipantulkan sesuai dengan kualitas dan kuantitas asli subyek.

Kejelasan pantulan sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas cahaya, jarak, jumlah, ruang dan waktu antara subyek dan obyek.

Misalnya saya bercermin dalam cahaya remang, tentu sulit melihat bayangan tubuh sendiri, atau berjarak 1 meter, 2 meter, 10 meter dst, dalam ruang sempit, lebar, luas dst, bersama dua orang, 10,100 dst, tentu pantulan diri akan berbeda.
Jika yang dipakai untuk bercermin adalah jenis kaca cembung yang bersifat memperlebar dan memperluas hasilnya akan memperluas dan memperlebar subyek, dan jenis kaca cekung yang bersifat mempertajam dan memperjelas subyek.

Negara dan Rakyat

Yang berkaca bisa negara ini(pejabatnya) atau rakyat (seseorang), bersifat personal maupun komunal, tetapi siapapun yang berkaca haruslah seseorang manusia yang berjiwa-raga, dengan indria-indrianya. Kuncinya adalah “manusia” entah itu orang biasa atau pejabat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, negara, dunia dan semesta raya. Ingatlah cermin/kaca itu hanya obyek yang bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk kelihatan dirinya secara obyektif.

Cermin negara (pejabatnya) bisanya bersifat cembung, dan cermin masyarakat bersifat cekung. Dalam hal ini negara yang bersifat abstrak bisa memakai cermin cembung untuk memperluas, dan memperlebar jangkauan, terapi juga harus dihimbangi dengan cermin cekung agar bisa mempersempit, dan mempertajam bayangan.

Cermin cembung atau cekung hanya sebuah alat dan strategi awal sebelum menemukan cermin datar yang jernih dan obyektif.

Candi Prambanan sebagai Cermin

Dalam kiprah berkeyakinan umat Hindu di Bali Pura Besakih telah berabad-abad menjadi cermin. Kini negara mengijinkan Candi Perambanan sebagai ruang dan peluang bagi umat Hindu Nusantara, pemujaan dan keyakinannya.

Ijin negara telah disambut sumbrigah oleh umat Hindu, khususnya yang berada di kawasan sekitar candi, yang selama ini menjalani keyakinannya dengan sembunyi-sembunyi, penuh halangan dan rintangan.

Nur Kesava

Salah satu yang sangat bersemangat itu adalah yunior saya di Arkeologi UGM yang banyak membantu dalam penyelesaian S2 tentang Linga Yoni di Tamblingan. Panggilannya Nur, nama di Fb Nur Kesava (cahaya Dewa Wisnu) yang menjaga, memelihara, mengelola alam semesta.

Nur, sebagai cahaya membuat saya bisa bercermin pada Candi Prambanan sebagai tempat pemujaan umat Hindu, terutama saat digelarnya Puja Mahasiwa Latri pada 15 Februari 2026 lalu.

Prambanan

Nama Candi Prambanan konon berasal dari nama tempat candi itu berdiri, apakah nama desa atau nama candi yang lebih dulu ada, sulit untuk ditebak, seperti telur dan ayam.

Agar perdebatan tak berkepanjangan (debat kusir), tanpa menyentuh substansi, saya selalu ingat penyair Umbu Pandu Paranggi, “cukuplah di judul”, teriaknya sambil terkekeh. Biasanya para pesilat lidah, pendebat, pengotot, pemlotot, akan terdiam, menunduk dengan wajah dan telinga agak memerah muda.

Siwagrha

Prambanan kemungkinan berkaitan dengan penyebutan Wanua Pangramwan (daerah tempat berdirinya Pangramwan) dalam prasasti Poh tahun 950 Masehi. Kemungkinan berasal dari kata Para/Pra dan Brahman/Brahmana, sebagai rumah Siwa/Siwagrha dalam prasasti Muntil bertahun 856 Masehi

Sebagai tempat pemujaan umat beragama (yang berdiam dalam keyakinan pada Tuhan) Nusantara, acara Mahapuja Siwa Latri 2026 lalu bisa dimanfaatkan sebagai cermin bagi umat sebagai pribadi maupun negara.

Asalkan mau dan mampu siapapun bisa bercermin di sana. Kita bisa bercermin tentang diri sebagai pribadi, kelompok, negara, bumi maupun semesta.

Bercermin dalam keramaian perlu menyusup, diam-diam, sendiri, mengatur jarak, ruang, dan waktu agar melihat pantulan yang lebih obyektif, bukan dari kaca cembung ataupun cekung.

Candi Prambanan tidak saja bisa memantulkan bayangan kita hari ini, saat ini, juga bayangan kemarin, masa lalu, sebagai bekal untuk melangkah hari esok dan masa depan. Sebagai peninggalan leluhur masa lalu, Prambanan juga bisa memberi bayangan masa depan sebagai ramalan bagi nusantara.

Pada Candi Prambanan ada tempat, benda dan peristiwa yang bersifat material dan spiritual.
Sungguh menarik untuk dikenali, diamati, ditelisik, dipelajari, dianalisa untuk dipahami, sehingga mampu memperkuat, memperluas memperdalam pengetahuan keyakinan pada Tuhan (Siwa).

Candi Prambanan terdiri dari 6 candi utama: 3 jalur kanan dan 3 jalur kiri. Yang paling depan di jalur kanan adalah Candi Brahma yang berhadapan dengan Candi Angsa, yang tengah adalah Candi Siwa yang berhadapan dengan Candi Nandi, dan yang paling belakang adalah Candi Wisnu yang berhadapan dengan Candi Garuda.

Angsa dipersonifikasikan sebagai binatang suci yang bijaksana dalam memilah dan memilih antara makanan antara yang baik dan buruk.

Nandi dipersonifikasikan sebagai ibu para mahluk yang memberi susu (energi untuk hidup), bertubuh kuat, tekun bekerja, dan tulus memberi dan mengabdi.

Garuda dipersonifikasikan sebagai burung besar yang bisa terbang tinggi di langit luas, yang membawa tirta amertha (air kehidupan).

Arca Candi Siwa

Pada Candi Siwa terdapat patung/arca utama Dewa Mahadewa yang bersenjatakan Trisula. Wujud Mahadewa, bisa jadi agar kita memahami bahwa Tuhan juga hadir dalam manifestasinya sebagai tanah/pertiwi yang bersenjatakan panah Naga Pasha (kekuatan esensi dari 4 unsur alam dan variasi turunannya yang bersifat sangat halus menyusup layaknya bisa ular yang menjadi kekuatan juga membinasakan. Sedangkan Trisula lazimnya adalah senjata Dewa Sambu (Siwa Mahaguru, paduan esensi udara dan air, mampu menikam sabda (suara), bayu (kekuatan) dan idep (pikiran, kesadaran).

Ada juga patung/arca Dewi Durga Mahisa Sura Mardhini (manifestasi sakti Dewa Siwa dalam tugasnya mengalahkan Raksasa berwujud Kerbau yang kuat (simbol kerakyatan dan kekuatan rakyat yang kurang cerdas dan kurang bijak). Lembu Sura sangat berbeda bahkan bertolak belakang dengan Lembu Putih Nandini wahana Dewa Siwa dan saktinya.

Ah Prambanan, dan Pemujaan Siwa di Candi Prambanan seperti mengajak saya berkaca dalam cahaya agar bernar-benar bisa mengenali apakah saya seorang yang seperti Lembu Putih Nandi atau Raksasa Lembu Hitam, Mahisa Sura Mardhini? Bagaimana dengan anda? [T]

Tags: BudhaCandi Prambananhindunegara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Next Post

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co