3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkaca Pada Prambanan

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
February 21, 2026
in Esai
Berkaca Pada Prambanan

Candi Prambanan | Foto: Canva

Berkaca membuat seseorang bisa melihat bayangan tubuhnya fisiknya sendiri, dari kepala, rambut, wajah, mata, hidung, bibir, kulit, badan, juga semua yang melekat dan menutupi badan. Tujuan seseorang berkaca biasanya adalah untuk melihat pantulan dirinya dengan lebih obyektif, sehingga “memperindah” dirinya.

Subyek dan Obyek

Berkaca lazimnya menempatkan subyek dan obyek secara terpisah. Umumnya kualitas dan kuantitas subyek yang dipantulkan sesuai dengan kualitas dan kuantitas asli subyek.

Kejelasan pantulan sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas cahaya, jarak, jumlah, ruang dan waktu antara subyek dan obyek.

Misalnya saya bercermin dalam cahaya remang, tentu sulit melihat bayangan tubuh sendiri, atau berjarak 1 meter, 2 meter, 10 meter dst, dalam ruang sempit, lebar, luas dst, bersama dua orang, 10,100 dst, tentu pantulan diri akan berbeda.
Jika yang dipakai untuk bercermin adalah jenis kaca cembung yang bersifat memperlebar dan memperluas hasilnya akan memperluas dan memperlebar subyek, dan jenis kaca cekung yang bersifat mempertajam dan memperjelas subyek.

Negara dan Rakyat

Yang berkaca bisa negara ini(pejabatnya) atau rakyat (seseorang), bersifat personal maupun komunal, tetapi siapapun yang berkaca haruslah seseorang manusia yang berjiwa-raga, dengan indria-indrianya. Kuncinya adalah “manusia” entah itu orang biasa atau pejabat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, negara, dunia dan semesta raya. Ingatlah cermin/kaca itu hanya obyek yang bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk kelihatan dirinya secara obyektif.

Cermin negara (pejabatnya) bisanya bersifat cembung, dan cermin masyarakat bersifat cekung. Dalam hal ini negara yang bersifat abstrak bisa memakai cermin cembung untuk memperluas, dan memperlebar jangkauan, terapi juga harus dihimbangi dengan cermin cekung agar bisa mempersempit, dan mempertajam bayangan.

Cermin cembung atau cekung hanya sebuah alat dan strategi awal sebelum menemukan cermin datar yang jernih dan obyektif.

Candi Prambanan sebagai Cermin

Dalam kiprah berkeyakinan umat Hindu di Bali Pura Besakih telah berabad-abad menjadi cermin. Kini negara mengijinkan Candi Perambanan sebagai ruang dan peluang bagi umat Hindu Nusantara, pemujaan dan keyakinannya.

Ijin negara telah disambut sumbrigah oleh umat Hindu, khususnya yang berada di kawasan sekitar candi, yang selama ini menjalani keyakinannya dengan sembunyi-sembunyi, penuh halangan dan rintangan.

Nur Kesava

Salah satu yang sangat bersemangat itu adalah yunior saya di Arkeologi UGM yang banyak membantu dalam penyelesaian S2 tentang Linga Yoni di Tamblingan. Panggilannya Nur, nama di Fb Nur Kesava (cahaya Dewa Wisnu) yang menjaga, memelihara, mengelola alam semesta.

Nur, sebagai cahaya membuat saya bisa bercermin pada Candi Prambanan sebagai tempat pemujaan umat Hindu, terutama saat digelarnya Puja Mahasiwa Latri pada 15 Februari 2026 lalu.

Prambanan

Nama Candi Prambanan konon berasal dari nama tempat candi itu berdiri, apakah nama desa atau nama candi yang lebih dulu ada, sulit untuk ditebak, seperti telur dan ayam.

Agar perdebatan tak berkepanjangan (debat kusir), tanpa menyentuh substansi, saya selalu ingat penyair Umbu Pandu Paranggi, “cukuplah di judul”, teriaknya sambil terkekeh. Biasanya para pesilat lidah, pendebat, pengotot, pemlotot, akan terdiam, menunduk dengan wajah dan telinga agak memerah muda.

Siwagrha

Prambanan kemungkinan berkaitan dengan penyebutan Wanua Pangramwan (daerah tempat berdirinya Pangramwan) dalam prasasti Poh tahun 950 Masehi. Kemungkinan berasal dari kata Para/Pra dan Brahman/Brahmana, sebagai rumah Siwa/Siwagrha dalam prasasti Muntil bertahun 856 Masehi

Sebagai tempat pemujaan umat beragama (yang berdiam dalam keyakinan pada Tuhan) Nusantara, acara Mahapuja Siwa Latri 2026 lalu bisa dimanfaatkan sebagai cermin bagi umat sebagai pribadi maupun negara.

Asalkan mau dan mampu siapapun bisa bercermin di sana. Kita bisa bercermin tentang diri sebagai pribadi, kelompok, negara, bumi maupun semesta.

Bercermin dalam keramaian perlu menyusup, diam-diam, sendiri, mengatur jarak, ruang, dan waktu agar melihat pantulan yang lebih obyektif, bukan dari kaca cembung ataupun cekung.

Candi Prambanan tidak saja bisa memantulkan bayangan kita hari ini, saat ini, juga bayangan kemarin, masa lalu, sebagai bekal untuk melangkah hari esok dan masa depan. Sebagai peninggalan leluhur masa lalu, Prambanan juga bisa memberi bayangan masa depan sebagai ramalan bagi nusantara.

Pada Candi Prambanan ada tempat, benda dan peristiwa yang bersifat material dan spiritual.
Sungguh menarik untuk dikenali, diamati, ditelisik, dipelajari, dianalisa untuk dipahami, sehingga mampu memperkuat, memperluas memperdalam pengetahuan keyakinan pada Tuhan (Siwa).

Candi Prambanan terdiri dari 6 candi utama: 3 jalur kanan dan 3 jalur kiri. Yang paling depan di jalur kanan adalah Candi Brahma yang berhadapan dengan Candi Angsa, yang tengah adalah Candi Siwa yang berhadapan dengan Candi Nandi, dan yang paling belakang adalah Candi Wisnu yang berhadapan dengan Candi Garuda.

Angsa dipersonifikasikan sebagai binatang suci yang bijaksana dalam memilah dan memilih antara makanan antara yang baik dan buruk.

Nandi dipersonifikasikan sebagai ibu para mahluk yang memberi susu (energi untuk hidup), bertubuh kuat, tekun bekerja, dan tulus memberi dan mengabdi.

Garuda dipersonifikasikan sebagai burung besar yang bisa terbang tinggi di langit luas, yang membawa tirta amertha (air kehidupan).

Arca Candi Siwa

Pada Candi Siwa terdapat patung/arca utama Dewa Mahadewa yang bersenjatakan Trisula. Wujud Mahadewa, bisa jadi agar kita memahami bahwa Tuhan juga hadir dalam manifestasinya sebagai tanah/pertiwi yang bersenjatakan panah Naga Pasha (kekuatan esensi dari 4 unsur alam dan variasi turunannya yang bersifat sangat halus menyusup layaknya bisa ular yang menjadi kekuatan juga membinasakan. Sedangkan Trisula lazimnya adalah senjata Dewa Sambu (Siwa Mahaguru, paduan esensi udara dan air, mampu menikam sabda (suara), bayu (kekuatan) dan idep (pikiran, kesadaran).

Ada juga patung/arca Dewi Durga Mahisa Sura Mardhini (manifestasi sakti Dewa Siwa dalam tugasnya mengalahkan Raksasa berwujud Kerbau yang kuat (simbol kerakyatan dan kekuatan rakyat yang kurang cerdas dan kurang bijak). Lembu Sura sangat berbeda bahkan bertolak belakang dengan Lembu Putih Nandini wahana Dewa Siwa dan saktinya.

Ah Prambanan, dan Pemujaan Siwa di Candi Prambanan seperti mengajak saya berkaca dalam cahaya agar bernar-benar bisa mengenali apakah saya seorang yang seperti Lembu Putih Nandi atau Raksasa Lembu Hitam, Mahisa Sura Mardhini? Bagaimana dengan anda? [T]

Tags: BudhaCandi Prambananhindunegara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Next Post

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co