23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkaca Pada Prambanan

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
February 21, 2026
in Esai
Berkaca Pada Prambanan

Candi Prambanan | Foto: Canva

Berkaca membuat seseorang bisa melihat bayangan tubuhnya fisiknya sendiri, dari kepala, rambut, wajah, mata, hidung, bibir, kulit, badan, juga semua yang melekat dan menutupi badan. Tujuan seseorang berkaca biasanya adalah untuk melihat pantulan dirinya dengan lebih obyektif, sehingga “memperindah” dirinya.

Subyek dan Obyek

Berkaca lazimnya menempatkan subyek dan obyek secara terpisah. Umumnya kualitas dan kuantitas subyek yang dipantulkan sesuai dengan kualitas dan kuantitas asli subyek.

Kejelasan pantulan sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas cahaya, jarak, jumlah, ruang dan waktu antara subyek dan obyek.

Misalnya saya bercermin dalam cahaya remang, tentu sulit melihat bayangan tubuh sendiri, atau berjarak 1 meter, 2 meter, 10 meter dst, dalam ruang sempit, lebar, luas dst, bersama dua orang, 10,100 dst, tentu pantulan diri akan berbeda.
Jika yang dipakai untuk bercermin adalah jenis kaca cembung yang bersifat memperlebar dan memperluas hasilnya akan memperluas dan memperlebar subyek, dan jenis kaca cekung yang bersifat mempertajam dan memperjelas subyek.

Negara dan Rakyat

Yang berkaca bisa negara ini(pejabatnya) atau rakyat (seseorang), bersifat personal maupun komunal, tetapi siapapun yang berkaca haruslah seseorang manusia yang berjiwa-raga, dengan indria-indrianya. Kuncinya adalah “manusia” entah itu orang biasa atau pejabat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, negara, dunia dan semesta raya. Ingatlah cermin/kaca itu hanya obyek yang bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk kelihatan dirinya secara obyektif.

Cermin negara (pejabatnya) bisanya bersifat cembung, dan cermin masyarakat bersifat cekung. Dalam hal ini negara yang bersifat abstrak bisa memakai cermin cembung untuk memperluas, dan memperlebar jangkauan, terapi juga harus dihimbangi dengan cermin cekung agar bisa mempersempit, dan mempertajam bayangan.

Cermin cembung atau cekung hanya sebuah alat dan strategi awal sebelum menemukan cermin datar yang jernih dan obyektif.

Candi Prambanan sebagai Cermin

Dalam kiprah berkeyakinan umat Hindu di Bali Pura Besakih telah berabad-abad menjadi cermin. Kini negara mengijinkan Candi Perambanan sebagai ruang dan peluang bagi umat Hindu Nusantara, pemujaan dan keyakinannya.

Ijin negara telah disambut sumbrigah oleh umat Hindu, khususnya yang berada di kawasan sekitar candi, yang selama ini menjalani keyakinannya dengan sembunyi-sembunyi, penuh halangan dan rintangan.

Nur Kesava

Salah satu yang sangat bersemangat itu adalah yunior saya di Arkeologi UGM yang banyak membantu dalam penyelesaian S2 tentang Linga Yoni di Tamblingan. Panggilannya Nur, nama di Fb Nur Kesava (cahaya Dewa Wisnu) yang menjaga, memelihara, mengelola alam semesta.

Nur, sebagai cahaya membuat saya bisa bercermin pada Candi Prambanan sebagai tempat pemujaan umat Hindu, terutama saat digelarnya Puja Mahasiwa Latri pada 15 Februari 2026 lalu.

Prambanan

Nama Candi Prambanan konon berasal dari nama tempat candi itu berdiri, apakah nama desa atau nama candi yang lebih dulu ada, sulit untuk ditebak, seperti telur dan ayam.

Agar perdebatan tak berkepanjangan (debat kusir), tanpa menyentuh substansi, saya selalu ingat penyair Umbu Pandu Paranggi, “cukuplah di judul”, teriaknya sambil terkekeh. Biasanya para pesilat lidah, pendebat, pengotot, pemlotot, akan terdiam, menunduk dengan wajah dan telinga agak memerah muda.

Siwagrha

Prambanan kemungkinan berkaitan dengan penyebutan Wanua Pangramwan (daerah tempat berdirinya Pangramwan) dalam prasasti Poh tahun 950 Masehi. Kemungkinan berasal dari kata Para/Pra dan Brahman/Brahmana, sebagai rumah Siwa/Siwagrha dalam prasasti Muntil bertahun 856 Masehi

Sebagai tempat pemujaan umat beragama (yang berdiam dalam keyakinan pada Tuhan) Nusantara, acara Mahapuja Siwa Latri 2026 lalu bisa dimanfaatkan sebagai cermin bagi umat sebagai pribadi maupun negara.

Asalkan mau dan mampu siapapun bisa bercermin di sana. Kita bisa bercermin tentang diri sebagai pribadi, kelompok, negara, bumi maupun semesta.

Bercermin dalam keramaian perlu menyusup, diam-diam, sendiri, mengatur jarak, ruang, dan waktu agar melihat pantulan yang lebih obyektif, bukan dari kaca cembung ataupun cekung.

Candi Prambanan tidak saja bisa memantulkan bayangan kita hari ini, saat ini, juga bayangan kemarin, masa lalu, sebagai bekal untuk melangkah hari esok dan masa depan. Sebagai peninggalan leluhur masa lalu, Prambanan juga bisa memberi bayangan masa depan sebagai ramalan bagi nusantara.

Pada Candi Prambanan ada tempat, benda dan peristiwa yang bersifat material dan spiritual.
Sungguh menarik untuk dikenali, diamati, ditelisik, dipelajari, dianalisa untuk dipahami, sehingga mampu memperkuat, memperluas memperdalam pengetahuan keyakinan pada Tuhan (Siwa).

Candi Prambanan terdiri dari 6 candi utama: 3 jalur kanan dan 3 jalur kiri. Yang paling depan di jalur kanan adalah Candi Brahma yang berhadapan dengan Candi Angsa, yang tengah adalah Candi Siwa yang berhadapan dengan Candi Nandi, dan yang paling belakang adalah Candi Wisnu yang berhadapan dengan Candi Garuda.

Angsa dipersonifikasikan sebagai binatang suci yang bijaksana dalam memilah dan memilih antara makanan antara yang baik dan buruk.

Nandi dipersonifikasikan sebagai ibu para mahluk yang memberi susu (energi untuk hidup), bertubuh kuat, tekun bekerja, dan tulus memberi dan mengabdi.

Garuda dipersonifikasikan sebagai burung besar yang bisa terbang tinggi di langit luas, yang membawa tirta amertha (air kehidupan).

Arca Candi Siwa

Pada Candi Siwa terdapat patung/arca utama Dewa Mahadewa yang bersenjatakan Trisula. Wujud Mahadewa, bisa jadi agar kita memahami bahwa Tuhan juga hadir dalam manifestasinya sebagai tanah/pertiwi yang bersenjatakan panah Naga Pasha (kekuatan esensi dari 4 unsur alam dan variasi turunannya yang bersifat sangat halus menyusup layaknya bisa ular yang menjadi kekuatan juga membinasakan. Sedangkan Trisula lazimnya adalah senjata Dewa Sambu (Siwa Mahaguru, paduan esensi udara dan air, mampu menikam sabda (suara), bayu (kekuatan) dan idep (pikiran, kesadaran).

Ada juga patung/arca Dewi Durga Mahisa Sura Mardhini (manifestasi sakti Dewa Siwa dalam tugasnya mengalahkan Raksasa berwujud Kerbau yang kuat (simbol kerakyatan dan kekuatan rakyat yang kurang cerdas dan kurang bijak). Lembu Sura sangat berbeda bahkan bertolak belakang dengan Lembu Putih Nandini wahana Dewa Siwa dan saktinya.

Ah Prambanan, dan Pemujaan Siwa di Candi Prambanan seperti mengajak saya berkaca dalam cahaya agar bernar-benar bisa mengenali apakah saya seorang yang seperti Lembu Putih Nandi atau Raksasa Lembu Hitam, Mahisa Sura Mardhini? Bagaimana dengan anda? [T]

Tags: BudhaCandi Prambananhindunegara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Next Post

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co