12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkaca Pada Prambanan

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
February 21, 2026
in Esai
Berkaca Pada Prambanan

Candi Prambanan | Foto: Canva

Berkaca membuat seseorang bisa melihat bayangan tubuhnya fisiknya sendiri, dari kepala, rambut, wajah, mata, hidung, bibir, kulit, badan, juga semua yang melekat dan menutupi badan. Tujuan seseorang berkaca biasanya adalah untuk melihat pantulan dirinya dengan lebih obyektif, sehingga “memperindah” dirinya.

Subyek dan Obyek

Berkaca lazimnya menempatkan subyek dan obyek secara terpisah. Umumnya kualitas dan kuantitas subyek yang dipantulkan sesuai dengan kualitas dan kuantitas asli subyek.

Kejelasan pantulan sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas cahaya, jarak, jumlah, ruang dan waktu antara subyek dan obyek.

Misalnya saya bercermin dalam cahaya remang, tentu sulit melihat bayangan tubuh sendiri, atau berjarak 1 meter, 2 meter, 10 meter dst, dalam ruang sempit, lebar, luas dst, bersama dua orang, 10,100 dst, tentu pantulan diri akan berbeda.
Jika yang dipakai untuk bercermin adalah jenis kaca cembung yang bersifat memperlebar dan memperluas hasilnya akan memperluas dan memperlebar subyek, dan jenis kaca cekung yang bersifat mempertajam dan memperjelas subyek.

Negara dan Rakyat

Yang berkaca bisa negara ini(pejabatnya) atau rakyat (seseorang), bersifat personal maupun komunal, tetapi siapapun yang berkaca haruslah seseorang manusia yang berjiwa-raga, dengan indria-indrianya. Kuncinya adalah “manusia” entah itu orang biasa atau pejabat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, negara, dunia dan semesta raya. Ingatlah cermin/kaca itu hanya obyek yang bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk kelihatan dirinya secara obyektif.

Cermin negara (pejabatnya) bisanya bersifat cembung, dan cermin masyarakat bersifat cekung. Dalam hal ini negara yang bersifat abstrak bisa memakai cermin cembung untuk memperluas, dan memperlebar jangkauan, terapi juga harus dihimbangi dengan cermin cekung agar bisa mempersempit, dan mempertajam bayangan.

Cermin cembung atau cekung hanya sebuah alat dan strategi awal sebelum menemukan cermin datar yang jernih dan obyektif.

Candi Prambanan sebagai Cermin

Dalam kiprah berkeyakinan umat Hindu di Bali Pura Besakih telah berabad-abad menjadi cermin. Kini negara mengijinkan Candi Perambanan sebagai ruang dan peluang bagi umat Hindu Nusantara, pemujaan dan keyakinannya.

Ijin negara telah disambut sumbrigah oleh umat Hindu, khususnya yang berada di kawasan sekitar candi, yang selama ini menjalani keyakinannya dengan sembunyi-sembunyi, penuh halangan dan rintangan.

Nur Kesava

Salah satu yang sangat bersemangat itu adalah yunior saya di Arkeologi UGM yang banyak membantu dalam penyelesaian S2 tentang Linga Yoni di Tamblingan. Panggilannya Nur, nama di Fb Nur Kesava (cahaya Dewa Wisnu) yang menjaga, memelihara, mengelola alam semesta.

Nur, sebagai cahaya membuat saya bisa bercermin pada Candi Prambanan sebagai tempat pemujaan umat Hindu, terutama saat digelarnya Puja Mahasiwa Latri pada 15 Februari 2026 lalu.

Prambanan

Nama Candi Prambanan konon berasal dari nama tempat candi itu berdiri, apakah nama desa atau nama candi yang lebih dulu ada, sulit untuk ditebak, seperti telur dan ayam.

Agar perdebatan tak berkepanjangan (debat kusir), tanpa menyentuh substansi, saya selalu ingat penyair Umbu Pandu Paranggi, “cukuplah di judul”, teriaknya sambil terkekeh. Biasanya para pesilat lidah, pendebat, pengotot, pemlotot, akan terdiam, menunduk dengan wajah dan telinga agak memerah muda.

Siwagrha

Prambanan kemungkinan berkaitan dengan penyebutan Wanua Pangramwan (daerah tempat berdirinya Pangramwan) dalam prasasti Poh tahun 950 Masehi. Kemungkinan berasal dari kata Para/Pra dan Brahman/Brahmana, sebagai rumah Siwa/Siwagrha dalam prasasti Muntil bertahun 856 Masehi

Sebagai tempat pemujaan umat beragama (yang berdiam dalam keyakinan pada Tuhan) Nusantara, acara Mahapuja Siwa Latri 2026 lalu bisa dimanfaatkan sebagai cermin bagi umat sebagai pribadi maupun negara.

Asalkan mau dan mampu siapapun bisa bercermin di sana. Kita bisa bercermin tentang diri sebagai pribadi, kelompok, negara, bumi maupun semesta.

Bercermin dalam keramaian perlu menyusup, diam-diam, sendiri, mengatur jarak, ruang, dan waktu agar melihat pantulan yang lebih obyektif, bukan dari kaca cembung ataupun cekung.

Candi Prambanan tidak saja bisa memantulkan bayangan kita hari ini, saat ini, juga bayangan kemarin, masa lalu, sebagai bekal untuk melangkah hari esok dan masa depan. Sebagai peninggalan leluhur masa lalu, Prambanan juga bisa memberi bayangan masa depan sebagai ramalan bagi nusantara.

Pada Candi Prambanan ada tempat, benda dan peristiwa yang bersifat material dan spiritual.
Sungguh menarik untuk dikenali, diamati, ditelisik, dipelajari, dianalisa untuk dipahami, sehingga mampu memperkuat, memperluas memperdalam pengetahuan keyakinan pada Tuhan (Siwa).

Candi Prambanan terdiri dari 6 candi utama: 3 jalur kanan dan 3 jalur kiri. Yang paling depan di jalur kanan adalah Candi Brahma yang berhadapan dengan Candi Angsa, yang tengah adalah Candi Siwa yang berhadapan dengan Candi Nandi, dan yang paling belakang adalah Candi Wisnu yang berhadapan dengan Candi Garuda.

Angsa dipersonifikasikan sebagai binatang suci yang bijaksana dalam memilah dan memilih antara makanan antara yang baik dan buruk.

Nandi dipersonifikasikan sebagai ibu para mahluk yang memberi susu (energi untuk hidup), bertubuh kuat, tekun bekerja, dan tulus memberi dan mengabdi.

Garuda dipersonifikasikan sebagai burung besar yang bisa terbang tinggi di langit luas, yang membawa tirta amertha (air kehidupan).

Arca Candi Siwa

Pada Candi Siwa terdapat patung/arca utama Dewa Mahadewa yang bersenjatakan Trisula. Wujud Mahadewa, bisa jadi agar kita memahami bahwa Tuhan juga hadir dalam manifestasinya sebagai tanah/pertiwi yang bersenjatakan panah Naga Pasha (kekuatan esensi dari 4 unsur alam dan variasi turunannya yang bersifat sangat halus menyusup layaknya bisa ular yang menjadi kekuatan juga membinasakan. Sedangkan Trisula lazimnya adalah senjata Dewa Sambu (Siwa Mahaguru, paduan esensi udara dan air, mampu menikam sabda (suara), bayu (kekuatan) dan idep (pikiran, kesadaran).

Ada juga patung/arca Dewi Durga Mahisa Sura Mardhini (manifestasi sakti Dewa Siwa dalam tugasnya mengalahkan Raksasa berwujud Kerbau yang kuat (simbol kerakyatan dan kekuatan rakyat yang kurang cerdas dan kurang bijak). Lembu Sura sangat berbeda bahkan bertolak belakang dengan Lembu Putih Nandini wahana Dewa Siwa dan saktinya.

Ah Prambanan, dan Pemujaan Siwa di Candi Prambanan seperti mengajak saya berkaca dalam cahaya agar bernar-benar bisa mengenali apakah saya seorang yang seperti Lembu Putih Nandi atau Raksasa Lembu Hitam, Mahisa Sura Mardhini? Bagaimana dengan anda? [T]

Tags: BudhaCandi Prambananhindunegara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Next Post

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co