24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

I Wayan Artika by I Wayan Artika
February 21, 2026
in Esai
HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Di Ruman untuk Bercerita bersama Dokter Tini Wahyuni

Pemikiran Awal

Dalam sejarah organisasi keilmuan, selalu ada satu pertanyaan yang berulang: kapan sebuah organisasi benar-benar hidup? Apakah ketika rapat-rapat berlangsung rutin, ketika seminar besar terselenggara megah, atau ketika laporan tahunan tersusun rapi dalam jilid resmi? Pertanyaan ini menjadi relevan bagi Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI), khususnya HISKI Komisariat Bali, yang pada tahun 2026 memilih sebuah jalan yang tidak lazim: menghidupkan organisasi bukan melalui sentralisasi kegiatan, melainkan melalui gerak(an) individu.

Di tengah kenyataan bahwa anggota HISKI sebagian besar adalah akademisi dan praktisi dengan beban kerja tinggi, model organisasi yang bertumpu pada rapat intensif dan program kolektif sering kali menjadi kendala. Waktu menjadi langka, energi terpecah, dan idealisme perlahan terkikis. Namun justru dalam situasi seperti itulah diperlukan pembacaan ulang terhadap makna “eksistensi” organisasi.

Eksistensi organisasi ilmiah bukan pertama-tama soal seberapa sering pengurus berkumpul, melainkan seberapa jauh ia hadir dalam denyut kehidupan intelektual di masyarakat masyarakat (bukan di kampus, rumah kaum intelektual). Sastra tidak tumbuh di ruang rapat; ia tumbuh di ruang kelas, di desa adat, di komunitas kecil, di layar gawai generasi muda, dan di percakapan-percakapan sederhana yang membicarakan cerita, puisi, dan pengalaman manusia.

Program ini berangkat dari satu premis sederhana namun radikal: eksistensi = Aktivitas.

Organisasi dinilai hidup bila ada kegiatan yang berjalan dan tercatat. Tanpa aktivitas, nama hanya menjadi arsip. Tanpa dokumentasi, kerja kebudayaan mudah lenyap dalam ingatan yang pendek.

Alih-alih membangun struktur yang berat, HISKI Komisariat Bali 2026 memilih model Simpul Gerak. Setiap anggota adalah satu simpul. Setiap simpul bergerak sesuai kapasitas, minat, dan jejaringnya sendiri. Tidak ada kewajiban menghadirkan program besar namun memberi dampak (walau sangat kecil) bagi kehidupan sastra di masyarakat/lingkungan.

Di sini organisasi tidak lagi menjadi pusat yang mengatur semua arah, melainkan jaringan yang menyambungkan energi-energi kecil. Seorang anggota dapat mengajar apresiasi cerpen di sebuah SMA, yang lain mendokumentasikan cerita rakyat di desa adat, yang lain lagi menulis opini sastra di media lokal, menjadi juri lomba literasi, atau membuat konten sastra di platform digital. Semua itu dihitung sebagai kontribusi organisasi. Semua itu adalah denyut kehidupan HISKI Komisariat Bali.

Pendekatan ini sekaligus mendefinisikan ulang makna iuran. Dalam banyak organisasi, iuran identik dengan uang. Dalam model HISKI Bergerak 2026, iuran diterjemahkan sebagai donasi aktivitas. Biaya yang dikeluarkan anggota untuk melaksanakan kegiatan dianggap sebagai kontribusi nyata kepada organisasi. Dengan demikian, yang dihargai bukan sekadar transfer dana, tetapi kerja kebudayaan itu sendiri di bawah payung organisasi. Model ini juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana organisasi ilmiah beradaptasi dengan realitas sosial.

Sastra dipahami secara luas, terbuka, dan mendasar: tidak hanya teks tertulis, tetapi juga tradisi lisan, seni pertunjukan, film, literasi digital, hingga humaniora digital dan pariwisata budaya. Dengan perspektif interdisipliner ini, HISKI menempatkan dirinya sebagai kekuatan intelektual dan kultural, bukan sekadar komunitas akademik yang eksklusif.

Pada akhirnya, HISKI Bergerak 2026 merupakan program kerja dan sikap atau prinsip gerakan sebuah organisasi intelektual atau keilmuan (sastra). Ia menegaskan bahwa organisasi ilmiah tidak boleh terjebak dalam normatifisme. Ia harus hadir dalam ruang hidup masyarakat, di sekolah-sekolah, di komunitas, di desa adat, di media, dan di dunia digital.

Jika setiap anggota menjadi simpul yang bergerak, maka jaringan itu akan hidup. Jika setiap simpul menghasilkan satu kegiatan, maka puluhan aktivitas akan membentuk peta kebudayaan yang nyata.

Sastra, pada akhirnya, selalu bertahan melalui orang-orang yang bergerak. Tahun 2026, HISKI Bali memilih untuk percaya pada gerak itu—gerak individu yang, ketika saling terhubung, menjelma menjadi kekuatan kolektif.

Flyer Rumah Untuk Bercerita

Rumah untuk Bercerita: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Pada tahun 2026, HISKI Komisariat Bali memulai langkah pertamanya melalui sebuah gerakan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mendasar: mendengar, dengan hadir di Rumah untuk Bercerita (Kamis, 20 Februari 2026).

Ni Made Ari Dwijayanti—dosen di Institut Mpu Kuturan Singaraja dan kandidat doktor di Universitas Udayana, Denpasar. Dalam riset disertasinya mengenai sastra Jawa Kuno, ia menemukan sebuah konsep: pentingnya mendengar. Dalam teks-teks lontar yang ia kaji, mendengar bukan sekadar aktivitas indrawi, melainkan laku spiritual—titik keheningan.

Pada masa Jawa Kuno, mendengar adalah jalan hening. Ia bukan pasif, melainkan aktif; bukan sekadar menerima, tetapi menyerap dan mengendapkan. Karena itu, menurut dokter Tini Wahyuni, mendengar adalah energi.

Bersama Dokter Tini Wahyuni, Ni Made Ari Dwijayanti menerjemahkan konsep itu ke dalam praktik yang sangat konkret: Rumah untuk Bercerita. Sebuah ruang yang tidak menuntut siapa pun untuk tampil sebagai ahli, tidak memaksa narasi menjadi spektakuler, dan tidak mengejar sensasi dan validasi sehingga demi privasi para yang pulang untuk bercerita (bukan curhat) datanya dirahasikan. Di rumah itu, yang utama adalah kehadiran—dan kesediaan untuk mendengar (untuk saat ini dilakoni oleh Dokter Tini Wahyuni dan Ni Made Ari Dwijayanti berdua).

Rumah untuk Bercerita berdiri di sebuah kota, tetapi yang lebih penting, ia berdiri di atas gagasan bahwa setiap orang berhak “pulang” untuk menuturkan kisahnya. Namun siapa yang mendengarkan, sulit ditemukan. Kata “pulang” menjadi kunci. Datang ke rumah itu bukan seperti datang ke panggung, melainkan kembali ke rumah. Ni Made Ari Dwijayanti dan Dokter Tini Wahyuni memposisikan diri sebagai sebagai pendengar. Mereka membuka ruang jiwa, menyediakan keheningan, dan memberi waktu bagi cerita untuk tumbuh dari setiap pencerita yang data atau yang ”pulang” untuk bercerira.

Sampai hari ini, kurang lebih 75 orang telah datang dan bercerita di Rumah untuk Bercerita. Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah jejak kepercayaan. Setiap orang yang datang membawa beban, kenangan, pertanyaan, atau sekadar kebutuhan untuk didengar. Dan setiap cerita yang dituturkan memperkaya makna sastra sebagai pengalaman hidup, bukan hanya teks.

Ni Made Ari Dwijayanti

Dalam tradisi sastra, cerita selalu memiliki dua kutub: yang bercerita dan yang mendengar. Tanpa pendengar, cerita tidak ada. Rumah untuk Bercerita mengembalikan keseimbangan itu. Ia mengingatkan bahwa sastra tidak selalu harus hadir dalam bentuk buku, jurnal, atau panggung pembacaan puisi. Ia juga hidup dalam percakapan intim, dalam suara yang pelan, dalam air mata yang tertahan, dan dalam keheningan yang penuh perhatian.

Di tengah budaya digital yang serba cepat—di mana orang berlomba-lomba untuk berbicara dan menampilkan diri—mendengar menjadi tindakan yang nyaris subversif. Ia melawan arus. Ia mengundang perlambatan. Ia menuntut empati. Dalam pengertian ini, Rumah untuk Bercerita bukan hanya program literasi, melainkan juga praktik kebudayaan, kesehatan, dan psikologi.

Sebagai program pertama HISKI Komisariat Bali 2026, Rumah untuk Bercerita menjadi satu arah gerakan: organisasi ilmiah yang tidak terkungkung pada forum akademik, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: HiskiHiski BaliI Wayan ArtikaRumahsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Next Post

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co