3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

I Wayan Artika by I Wayan Artika
February 21, 2026
in Esai
HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Di Ruman untuk Bercerita bersama Dokter Tini Wahyuni

Pemikiran Awal

Dalam sejarah organisasi keilmuan, selalu ada satu pertanyaan yang berulang: kapan sebuah organisasi benar-benar hidup? Apakah ketika rapat-rapat berlangsung rutin, ketika seminar besar terselenggara megah, atau ketika laporan tahunan tersusun rapi dalam jilid resmi? Pertanyaan ini menjadi relevan bagi Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI), khususnya HISKI Komisariat Bali, yang pada tahun 2026 memilih sebuah jalan yang tidak lazim: menghidupkan organisasi bukan melalui sentralisasi kegiatan, melainkan melalui gerak(an) individu.

Di tengah kenyataan bahwa anggota HISKI sebagian besar adalah akademisi dan praktisi dengan beban kerja tinggi, model organisasi yang bertumpu pada rapat intensif dan program kolektif sering kali menjadi kendala. Waktu menjadi langka, energi terpecah, dan idealisme perlahan terkikis. Namun justru dalam situasi seperti itulah diperlukan pembacaan ulang terhadap makna “eksistensi” organisasi.

Eksistensi organisasi ilmiah bukan pertama-tama soal seberapa sering pengurus berkumpul, melainkan seberapa jauh ia hadir dalam denyut kehidupan intelektual di masyarakat masyarakat (bukan di kampus, rumah kaum intelektual). Sastra tidak tumbuh di ruang rapat; ia tumbuh di ruang kelas, di desa adat, di komunitas kecil, di layar gawai generasi muda, dan di percakapan-percakapan sederhana yang membicarakan cerita, puisi, dan pengalaman manusia.

Program ini berangkat dari satu premis sederhana namun radikal: eksistensi = Aktivitas.

Organisasi dinilai hidup bila ada kegiatan yang berjalan dan tercatat. Tanpa aktivitas, nama hanya menjadi arsip. Tanpa dokumentasi, kerja kebudayaan mudah lenyap dalam ingatan yang pendek.

Alih-alih membangun struktur yang berat, HISKI Komisariat Bali 2026 memilih model Simpul Gerak. Setiap anggota adalah satu simpul. Setiap simpul bergerak sesuai kapasitas, minat, dan jejaringnya sendiri. Tidak ada kewajiban menghadirkan program besar namun memberi dampak (walau sangat kecil) bagi kehidupan sastra di masyarakat/lingkungan.

Di sini organisasi tidak lagi menjadi pusat yang mengatur semua arah, melainkan jaringan yang menyambungkan energi-energi kecil. Seorang anggota dapat mengajar apresiasi cerpen di sebuah SMA, yang lain mendokumentasikan cerita rakyat di desa adat, yang lain lagi menulis opini sastra di media lokal, menjadi juri lomba literasi, atau membuat konten sastra di platform digital. Semua itu dihitung sebagai kontribusi organisasi. Semua itu adalah denyut kehidupan HISKI Komisariat Bali.

Pendekatan ini sekaligus mendefinisikan ulang makna iuran. Dalam banyak organisasi, iuran identik dengan uang. Dalam model HISKI Bergerak 2026, iuran diterjemahkan sebagai donasi aktivitas. Biaya yang dikeluarkan anggota untuk melaksanakan kegiatan dianggap sebagai kontribusi nyata kepada organisasi. Dengan demikian, yang dihargai bukan sekadar transfer dana, tetapi kerja kebudayaan itu sendiri di bawah payung organisasi. Model ini juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana organisasi ilmiah beradaptasi dengan realitas sosial.

Sastra dipahami secara luas, terbuka, dan mendasar: tidak hanya teks tertulis, tetapi juga tradisi lisan, seni pertunjukan, film, literasi digital, hingga humaniora digital dan pariwisata budaya. Dengan perspektif interdisipliner ini, HISKI menempatkan dirinya sebagai kekuatan intelektual dan kultural, bukan sekadar komunitas akademik yang eksklusif.

Pada akhirnya, HISKI Bergerak 2026 merupakan program kerja dan sikap atau prinsip gerakan sebuah organisasi intelektual atau keilmuan (sastra). Ia menegaskan bahwa organisasi ilmiah tidak boleh terjebak dalam normatifisme. Ia harus hadir dalam ruang hidup masyarakat, di sekolah-sekolah, di komunitas, di desa adat, di media, dan di dunia digital.

Jika setiap anggota menjadi simpul yang bergerak, maka jaringan itu akan hidup. Jika setiap simpul menghasilkan satu kegiatan, maka puluhan aktivitas akan membentuk peta kebudayaan yang nyata.

Sastra, pada akhirnya, selalu bertahan melalui orang-orang yang bergerak. Tahun 2026, HISKI Bali memilih untuk percaya pada gerak itu—gerak individu yang, ketika saling terhubung, menjelma menjadi kekuatan kolektif.

Flyer Rumah Untuk Bercerita

Rumah untuk Bercerita: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Pada tahun 2026, HISKI Komisariat Bali memulai langkah pertamanya melalui sebuah gerakan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mendasar: mendengar, dengan hadir di Rumah untuk Bercerita (Kamis, 20 Februari 2026).

Ni Made Ari Dwijayanti—dosen di Institut Mpu Kuturan Singaraja dan kandidat doktor di Universitas Udayana, Denpasar. Dalam riset disertasinya mengenai sastra Jawa Kuno, ia menemukan sebuah konsep: pentingnya mendengar. Dalam teks-teks lontar yang ia kaji, mendengar bukan sekadar aktivitas indrawi, melainkan laku spiritual—titik keheningan.

Pada masa Jawa Kuno, mendengar adalah jalan hening. Ia bukan pasif, melainkan aktif; bukan sekadar menerima, tetapi menyerap dan mengendapkan. Karena itu, menurut dokter Tini Wahyuni, mendengar adalah energi.

Bersama Dokter Tini Wahyuni, Ni Made Ari Dwijayanti menerjemahkan konsep itu ke dalam praktik yang sangat konkret: Rumah untuk Bercerita. Sebuah ruang yang tidak menuntut siapa pun untuk tampil sebagai ahli, tidak memaksa narasi menjadi spektakuler, dan tidak mengejar sensasi dan validasi sehingga demi privasi para yang pulang untuk bercerita (bukan curhat) datanya dirahasikan. Di rumah itu, yang utama adalah kehadiran—dan kesediaan untuk mendengar (untuk saat ini dilakoni oleh Dokter Tini Wahyuni dan Ni Made Ari Dwijayanti berdua).

Rumah untuk Bercerita berdiri di sebuah kota, tetapi yang lebih penting, ia berdiri di atas gagasan bahwa setiap orang berhak “pulang” untuk menuturkan kisahnya. Namun siapa yang mendengarkan, sulit ditemukan. Kata “pulang” menjadi kunci. Datang ke rumah itu bukan seperti datang ke panggung, melainkan kembali ke rumah. Ni Made Ari Dwijayanti dan Dokter Tini Wahyuni memposisikan diri sebagai sebagai pendengar. Mereka membuka ruang jiwa, menyediakan keheningan, dan memberi waktu bagi cerita untuk tumbuh dari setiap pencerita yang data atau yang ”pulang” untuk bercerira.

Sampai hari ini, kurang lebih 75 orang telah datang dan bercerita di Rumah untuk Bercerita. Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah jejak kepercayaan. Setiap orang yang datang membawa beban, kenangan, pertanyaan, atau sekadar kebutuhan untuk didengar. Dan setiap cerita yang dituturkan memperkaya makna sastra sebagai pengalaman hidup, bukan hanya teks.

Ni Made Ari Dwijayanti

Dalam tradisi sastra, cerita selalu memiliki dua kutub: yang bercerita dan yang mendengar. Tanpa pendengar, cerita tidak ada. Rumah untuk Bercerita mengembalikan keseimbangan itu. Ia mengingatkan bahwa sastra tidak selalu harus hadir dalam bentuk buku, jurnal, atau panggung pembacaan puisi. Ia juga hidup dalam percakapan intim, dalam suara yang pelan, dalam air mata yang tertahan, dan dalam keheningan yang penuh perhatian.

Di tengah budaya digital yang serba cepat—di mana orang berlomba-lomba untuk berbicara dan menampilkan diri—mendengar menjadi tindakan yang nyaris subversif. Ia melawan arus. Ia mengundang perlambatan. Ia menuntut empati. Dalam pengertian ini, Rumah untuk Bercerita bukan hanya program literasi, melainkan juga praktik kebudayaan, kesehatan, dan psikologi.

Sebagai program pertama HISKI Komisariat Bali 2026, Rumah untuk Bercerita menjadi satu arah gerakan: organisasi ilmiah yang tidak terkungkung pada forum akademik, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: HiskiHiski BaliI Wayan ArtikaRumahsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Next Post

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co