3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

I Wayan Artika by I Wayan Artika
February 21, 2026
in Esai
HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Di Ruman untuk Bercerita bersama Dokter Tini Wahyuni

Pemikiran Awal

Dalam sejarah organisasi keilmuan, selalu ada satu pertanyaan yang berulang: kapan sebuah organisasi benar-benar hidup? Apakah ketika rapat-rapat berlangsung rutin, ketika seminar besar terselenggara megah, atau ketika laporan tahunan tersusun rapi dalam jilid resmi? Pertanyaan ini menjadi relevan bagi Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI), khususnya HISKI Komisariat Bali, yang pada tahun 2026 memilih sebuah jalan yang tidak lazim: menghidupkan organisasi bukan melalui sentralisasi kegiatan, melainkan melalui gerak(an) individu.

Di tengah kenyataan bahwa anggota HISKI sebagian besar adalah akademisi dan praktisi dengan beban kerja tinggi, model organisasi yang bertumpu pada rapat intensif dan program kolektif sering kali menjadi kendala. Waktu menjadi langka, energi terpecah, dan idealisme perlahan terkikis. Namun justru dalam situasi seperti itulah diperlukan pembacaan ulang terhadap makna “eksistensi” organisasi.

Eksistensi organisasi ilmiah bukan pertama-tama soal seberapa sering pengurus berkumpul, melainkan seberapa jauh ia hadir dalam denyut kehidupan intelektual di masyarakat masyarakat (bukan di kampus, rumah kaum intelektual). Sastra tidak tumbuh di ruang rapat; ia tumbuh di ruang kelas, di desa adat, di komunitas kecil, di layar gawai generasi muda, dan di percakapan-percakapan sederhana yang membicarakan cerita, puisi, dan pengalaman manusia.

Program ini berangkat dari satu premis sederhana namun radikal: eksistensi = Aktivitas.

Organisasi dinilai hidup bila ada kegiatan yang berjalan dan tercatat. Tanpa aktivitas, nama hanya menjadi arsip. Tanpa dokumentasi, kerja kebudayaan mudah lenyap dalam ingatan yang pendek.

Alih-alih membangun struktur yang berat, HISKI Komisariat Bali 2026 memilih model Simpul Gerak. Setiap anggota adalah satu simpul. Setiap simpul bergerak sesuai kapasitas, minat, dan jejaringnya sendiri. Tidak ada kewajiban menghadirkan program besar namun memberi dampak (walau sangat kecil) bagi kehidupan sastra di masyarakat/lingkungan.

Di sini organisasi tidak lagi menjadi pusat yang mengatur semua arah, melainkan jaringan yang menyambungkan energi-energi kecil. Seorang anggota dapat mengajar apresiasi cerpen di sebuah SMA, yang lain mendokumentasikan cerita rakyat di desa adat, yang lain lagi menulis opini sastra di media lokal, menjadi juri lomba literasi, atau membuat konten sastra di platform digital. Semua itu dihitung sebagai kontribusi organisasi. Semua itu adalah denyut kehidupan HISKI Komisariat Bali.

Pendekatan ini sekaligus mendefinisikan ulang makna iuran. Dalam banyak organisasi, iuran identik dengan uang. Dalam model HISKI Bergerak 2026, iuran diterjemahkan sebagai donasi aktivitas. Biaya yang dikeluarkan anggota untuk melaksanakan kegiatan dianggap sebagai kontribusi nyata kepada organisasi. Dengan demikian, yang dihargai bukan sekadar transfer dana, tetapi kerja kebudayaan itu sendiri di bawah payung organisasi. Model ini juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana organisasi ilmiah beradaptasi dengan realitas sosial.

Sastra dipahami secara luas, terbuka, dan mendasar: tidak hanya teks tertulis, tetapi juga tradisi lisan, seni pertunjukan, film, literasi digital, hingga humaniora digital dan pariwisata budaya. Dengan perspektif interdisipliner ini, HISKI menempatkan dirinya sebagai kekuatan intelektual dan kultural, bukan sekadar komunitas akademik yang eksklusif.

Pada akhirnya, HISKI Bergerak 2026 merupakan program kerja dan sikap atau prinsip gerakan sebuah organisasi intelektual atau keilmuan (sastra). Ia menegaskan bahwa organisasi ilmiah tidak boleh terjebak dalam normatifisme. Ia harus hadir dalam ruang hidup masyarakat, di sekolah-sekolah, di komunitas, di desa adat, di media, dan di dunia digital.

Jika setiap anggota menjadi simpul yang bergerak, maka jaringan itu akan hidup. Jika setiap simpul menghasilkan satu kegiatan, maka puluhan aktivitas akan membentuk peta kebudayaan yang nyata.

Sastra, pada akhirnya, selalu bertahan melalui orang-orang yang bergerak. Tahun 2026, HISKI Bali memilih untuk percaya pada gerak itu—gerak individu yang, ketika saling terhubung, menjelma menjadi kekuatan kolektif.

Flyer Rumah Untuk Bercerita

Rumah untuk Bercerita: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Pada tahun 2026, HISKI Komisariat Bali memulai langkah pertamanya melalui sebuah gerakan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mendasar: mendengar, dengan hadir di Rumah untuk Bercerita (Kamis, 20 Februari 2026).

Ni Made Ari Dwijayanti—dosen di Institut Mpu Kuturan Singaraja dan kandidat doktor di Universitas Udayana, Denpasar. Dalam riset disertasinya mengenai sastra Jawa Kuno, ia menemukan sebuah konsep: pentingnya mendengar. Dalam teks-teks lontar yang ia kaji, mendengar bukan sekadar aktivitas indrawi, melainkan laku spiritual—titik keheningan.

Pada masa Jawa Kuno, mendengar adalah jalan hening. Ia bukan pasif, melainkan aktif; bukan sekadar menerima, tetapi menyerap dan mengendapkan. Karena itu, menurut dokter Tini Wahyuni, mendengar adalah energi.

Bersama Dokter Tini Wahyuni, Ni Made Ari Dwijayanti menerjemahkan konsep itu ke dalam praktik yang sangat konkret: Rumah untuk Bercerita. Sebuah ruang yang tidak menuntut siapa pun untuk tampil sebagai ahli, tidak memaksa narasi menjadi spektakuler, dan tidak mengejar sensasi dan validasi sehingga demi privasi para yang pulang untuk bercerita (bukan curhat) datanya dirahasikan. Di rumah itu, yang utama adalah kehadiran—dan kesediaan untuk mendengar (untuk saat ini dilakoni oleh Dokter Tini Wahyuni dan Ni Made Ari Dwijayanti berdua).

Rumah untuk Bercerita berdiri di sebuah kota, tetapi yang lebih penting, ia berdiri di atas gagasan bahwa setiap orang berhak “pulang” untuk menuturkan kisahnya. Namun siapa yang mendengarkan, sulit ditemukan. Kata “pulang” menjadi kunci. Datang ke rumah itu bukan seperti datang ke panggung, melainkan kembali ke rumah. Ni Made Ari Dwijayanti dan Dokter Tini Wahyuni memposisikan diri sebagai sebagai pendengar. Mereka membuka ruang jiwa, menyediakan keheningan, dan memberi waktu bagi cerita untuk tumbuh dari setiap pencerita yang data atau yang ”pulang” untuk bercerira.

Sampai hari ini, kurang lebih 75 orang telah datang dan bercerita di Rumah untuk Bercerita. Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah jejak kepercayaan. Setiap orang yang datang membawa beban, kenangan, pertanyaan, atau sekadar kebutuhan untuk didengar. Dan setiap cerita yang dituturkan memperkaya makna sastra sebagai pengalaman hidup, bukan hanya teks.

Ni Made Ari Dwijayanti

Dalam tradisi sastra, cerita selalu memiliki dua kutub: yang bercerita dan yang mendengar. Tanpa pendengar, cerita tidak ada. Rumah untuk Bercerita mengembalikan keseimbangan itu. Ia mengingatkan bahwa sastra tidak selalu harus hadir dalam bentuk buku, jurnal, atau panggung pembacaan puisi. Ia juga hidup dalam percakapan intim, dalam suara yang pelan, dalam air mata yang tertahan, dan dalam keheningan yang penuh perhatian.

Di tengah budaya digital yang serba cepat—di mana orang berlomba-lomba untuk berbicara dan menampilkan diri—mendengar menjadi tindakan yang nyaris subversif. Ia melawan arus. Ia mengundang perlambatan. Ia menuntut empati. Dalam pengertian ini, Rumah untuk Bercerita bukan hanya program literasi, melainkan juga praktik kebudayaan, kesehatan, dan psikologi.

Sebagai program pertama HISKI Komisariat Bali 2026, Rumah untuk Bercerita menjadi satu arah gerakan: organisasi ilmiah yang tidak terkungkung pada forum akademik, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. [T]

Penulis: I Wayan Artika
Editor: Adnyana Ole

Tags: HiskiHiski BaliI Wayan ArtikaRumahsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Next Post

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails
Next Post
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co