13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Made Chandra by Made Chandra
February 21, 2026
in Khas
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum Mahudhara Mandara Giri Bhuvana, atau yang kita sering sebut Museum Art Centre, karena letaknya di sekitar areal Taman Budaya ini.  Tanpa banyak ekspektasi, akhirnya ku sambut ajakan yang cukup menarik itu, mengingat sudah lama juga masuk ke dalam museum itu, terakhir mungkin 2 tahun yang lalu….

Setelah sampai, ternyata langkah kaki kita disambut teriakan hangat—sorak sorai kumpulan pegiat budaya, yang rata-rata sudah kawakan dalam agenda-agenda perihal kebudayaan dan kesenian. Sebut saja Pak Marlowe Bandem, dengan Museum Saka-nya, lalu pastinya teman-teman sepuh Gurat Institute yaitu Pak Susanta, dan Pak Seriyoga Parta, juga Pak Cupruk dari  Penawar Racun yang membantu proses art handling serta kerja-kerja konservasi lapangan. Dan tentu juga teman-teman lain yang aku sendiri tak benar-benar tahu apa yang sesungguhnya mereka kerjakan, namun aura keseriusan mereka tercium begitu pekat.

Melihat koleksi karya-karya siswa di tahun 1974

Rupanya agenda tersebut ditemani juga Kepala pengurus Museum pak Jero Gede Arum, yang menyambut hangat kedatangan kita. Sungguh rasanya canggung, seperti tamu penting saja pikirku…

Setelah aku mengamati sejenak, sungguh terbelalak mata ini melihat lembaran lukisan terbeber rata di sebuah bale kambang depan Museum. Ternyata itu hanya salah satu dari harta karun yang ditemukan kembali oleh teman-teman ini ketika kunjungan mereka sebelumnya, saat menghadiri perayaan 53 tahun berdirinya Museum Mahudhara Mandara Giri Bhuvana yang diadakan Rabu 18 Februari lalu.

Perayaan berdirinya Museum ini pada awalnya hanya mengagendakan untuk mensosialisasikan pentingnya keberadaaan Museum Mahudhara ini pada masyarakat luas, tentunya di hadapan para pegiat kebudayaan serta perwakilan dari Museum-museum lain. Namun siapa sangka, dari sebuah perayaan seremonial ini, justru lahir satu momentum yang membuka tabir panjang yang tertutup waktu.

Ketika sedang asik melihat, Pak Marlowe menyenggolku dan kemudian mulai bercerita bagaimana inisiasi impulsif itu bisa terjadi hari ini. Ternyata saat perayaan tersebut, selain agenda sosialisasi, Pak Jero Arum, begitu kami memanggilnya—bersedia untuk membukakan salah satu koleksi dari bumbung paralon yang kiranya tak pernah dibuka untuk waktu yang lama. Begitu terkejut ketika perlahan bumbung itu dibuka ternyata terpampang berbagai koleksi dari Maestro seni rupa, sebut saja Ida Bagus Nyoman Rai pembesar dari aliran Sanur School, Mangku Mura dari Siku, Kamasan, dan batik tulis langka karya Made ‘Kedol’ Subrata serta karya Nyoman Gunarsa yang diperkirakan series awalnya.

Karya Mangku Mura

Karya-karya maestro tersebut tergulung dalam balutan beberapa lukisan lainnya, bahkan ada lukisan siswa-siswa SMAN 1 Denpasar pada tahun 74 setahun setelah berdirinya Museum ini. Mungkin saja ada semacam kejuaraan pada waktu itu yang mengumpulkan para pemenang dari masing-masing sekolah pada masanya. Bayangkan, karya remaja-remaja 50 tahun silam kini terbentang kembali di hadapan kita, seperti pesan dari masa yang tak pernah selesai.

Kesadaran konservasi yang organik

Menarik jika kita ketahui ternyata ada berbagai koleksi yang tak sempat dibuka untuk sekian lamanya, bahkan hingga beberapa dari lukisan tersebut hadir dalam kondisi yang cukup mengenaskan—seperti termutilasi oleh waktu. Semua itu berangkat dari ketidaktahuan akan pentingnya pengetahuan konservasi terhadap setiap peninggalan, baik itu karya seni, sastra maupun dokumen-dokumen sejarah yang sering kali luput dari perhatian kita.

Dalam konteks penemuan 4 Bumbung di Museum Mahudhara ini, mata kita dibukakan bahwa menyimpan saja tidak cukup. Diam bukanlah bentuk perawatan. Perlu dilakukan pengecekan berkala pada setiap koleksi yang dimiliki oleh setiap museum, bahkan pada benda-benda yang hari ini kita anggap tak penting. Sebab bisa jadi ia menyimpan narasi dan harta karun yang kita tidak pernah tahu. ia selalu memanggil untuk dibuka, dibaca ulang dan dirawat kembali oleh yang mewarisinya.

Melihat koleksi karya Ida Bagus Nyoman Rai, Sanur School

Kasus ini menjadi paradoks yang memperlihatkan kelemahan setiap museum yang berada di bawah pengelolaan institusi pemerintah, justru sering luput untuk merawat kondisi koleksinya sendiri. Ironi menjadi hal yang bisa kita pikirkan tentang bagaimana kesadaran konservasi ini rupanya tumbuh organik dari kesadaran kolektif para pencumbu kebudayaan ini, bukan lahir dari inisiatif pihak yang memangku kebijakan. Ada semacam gerakan spontan yang lahir dari kegelisahan, bukan dari instruksi.

Yang sangat disayangkan, berlimpahnya koleksi berharga yang disimpan oleh museum negara, justru tidak diimbangi dengan support dari kebijakan yang berlaku, baik secara regulasi maupun bantuan berupa dana Istimewa bagi museum-museum ini untuk tetap bisa hadir dengan kondisi primanya. Seolah-olah warisan itu penting hanya secara simbolik, bukan secara material.

Sungguh beruntung saat itu Pak Jero Arum menemukan 4 Bumbung ini di Lorong Gudang dan berinisiatif untuk membuka dan memperlihatkannya kepada publik. Jika tidak, kita tak akan melihat karya-karya maestro ini dibangkitkan kembali dari kuburanya oleh semangat kolektif para perawat kebudayaan ini.

karena kita tidak tahu banyak dari koleksi yang ditemukan ini menggunakan media yang sebenarnya cukup rapuh untuk disimpan dalam keadaan yang begitu lembab dan tak menentu, contohnya saja karya Mangku Mura dan koleksi-koleksi pelukis Kamasan Lainnya, yang memakai kanvas tradisional yang berbahan dasar kain blacu dan bubur nasi—yang tentu begitu nikmat untuk menjadi santapan rayap dan kutu-kutu kain dikala cuaca yang tidak menentu ini.

Bahkan ada karya dari I Gusti Kopang, dari Kerambitan yang berusia lebih dari setengah abad, yang dibuat  pada tahun 1954. Karya itu sudah tentu berharap dalam diam untuk ditemukan dan diungkap identitasnya. Begitu pun karya-karya yang lain, banyak yang tidak diketahui identitasnya karena kondisinya yang sudah parah.

Selain membuka dan mengecek kondisi karya-karya tersebut, Pak Marlowe juga mengajak Bli Nyoman Adi Pratama atau yang ku kenal akun instagramnya Pvtrapratamaadi—untuk membantu mendokumentasikan karya-karya tersebut dan diidentifikasi juga oleh para teman-teman Gurat Institute, yang lalu didata secara rinci oleh Pak Marlowe dalam Macbook kecilnya.

Karya dari I Gusti Kopang, dari Kerambitan

Menariknya peristiwa gerakan dadakan ini juga disaksikan oleh saksi hidup pendirian museum ini, yaitu Pak Prof. Bandem yang banyak menuturkan kisah-kisah tak tersingkap dari kondisi pada zaman itu. Juga ditemani oleh rekan pelukis Kamasan yaitu Pak Made Sesangka dan istrinya Bu Sri Wedari yang cukup heran dengan keseriusan teman-teman ini untuk kembali melihat dan merawat kembali warisan yang pernah tertinggal.

Gara-gara sakral banyak yang tertinggal

Sebetulnya, konsep perawatan benda-benda sejarah sesungguhnya tak hanya penting untuk diilhami oleh para pegiat permuseuman, justru pengetahuan akan kesadaran konservasi tersebut tentu penting bagi setiap individu, untuk selalu memperhatikan dan menerapkan perilaku tersebut pada barang-barang yang mereka mungkin warisi.

Mengingat dalam konteks masyarakat Bali khususnya, tentu banyak mewarisi berbagai benda peninggalan dari para leluhurnya untuk disimpan dan sering kali disakralkan dalam satu gedong suci, yang biasa disebut sebagai Tetamian. Dan jika dipikir, ada puluhan ribu warisan yang mendekam dalam kesakralan para pewarisnya, dan seringkali karena begitu disucikannya, sampai-sampai tak pernah dibuka dan dibaca kembali apa isi yang ada di dalamnya.

Misalnya dalam kasus Lontar yang disakralkan oleh satu keluarga, ternyata adalah sebuah surat pencatatan pajak pada zaman Belanda. Karena minimnya kertas yang ada pada waktu itu, menyebabkan banyak dokumen tercetak dalam guratan pisau lontar, yang kemudian kini tak lagi terbaca karena terlalu dipingitkan ataupun tak ada lagi yang dapat membacanya.

Sebenarnya sudah hadir penyuluh bahasa Bali yang sering melakukan pembacaan dan pencatatan terhadap lontar yang ada di rumah-rumah warga, dan seringkali ditemukan dalam kondisi yang tak terawat. Eh terawat, tapi mungkin hanya luarnya saja…

Batik Tulis Langka Karya Made ‘Kedol’ Subrata

Karena konteks kesakralan tersebut, banyak dari warisan yang ada di rumah-rumah warga, selalu tak tersentuh karena tidak ada yang berani untuk mengganggu kepingitan dari benda-benda tersebut. Padahal penting untuk diketahui, semua benda tersebut, terlepas dari kesakralannya adalah benda sejarah yang harus dirawat dan diperhatikan kondisinya. Lebih-lebih jika itu sebuah karya seni, yang harusnya wajib dikonservasi ulang dalam rangka melihat identitas si pembuat serta kualitas materialnya kini.

Hal itu juga penting mengingat banyak karya seni pada era-era lama, selalu memakai warna Bali yang walaupun kuat secara kualitas, tetapi jika tak pernah dirawat, sudah tentu akan hancur dikunyah oleh waktu dan cuaca.

Tugas kitalah yang hadir hari ini untuk kembali melihat koleksi atau tetamian apa saja yang kita punya di rumah. Bukan sekadar memastikan ia masih utuh secara fisik, tetapi juga mencoba memahami kisah apa yang bersemayam di dalamnya—siapa yang membuatnya, dalam peristiwa apa ia hadir, dan nilai apa yang dulu ia emban. Barangkali selama ini ia hanya kita pandang sebagai benda pusaka yang disimpan rapi dalam kesakralan, tanpa pernah sungguh-sungguh diajak berdialog. Sebab setiap tetamian sesungguhnya menyimpan serpihan sejarah keluarga, jejak sosial zamannya, bahkan cara pandang leluhur terhadap dunia. Dengan merawat dan membacanya kembali, kita tidak hanya menyelamatkan bendanya, tetapi juga menyelamatkan identitas kita sendiri

Kembali lagi untuk kita ingat, bahwa kerja-kerja konservasi bukanlah sesuatu yang tabu dan hanya dilakukan oleh kalangan yang profesional. Memang benar, dalam beberapa kasus ada kondisi khusus yang memerlukan tangan para konservator—terutama ketika menyangkut material yang rapuh atau kerusakan yang sudah parah. Namun yang lebih penting adalah kesadaran konservasi ini meluruh dalam setiap hati para warga yang menyimpan benda-benda warisannya. Sehingga warisan para leluhur kita tak hanya menjadi benda mati yang diam, namun ia menjadi saksi yang menyimpan memori kolektif di zamannya, dan memberi makna baru pada kita yang hidup hari ini.

Panjang Umur Seni Rupa! [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gurat Institutekonservasi seni rupaMuseumSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Next Post

HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

HISKI Hadir di 'Rumah untuk Bercerita": Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co