1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Made Chandra by Made Chandra
February 21, 2026
in Khas
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum Mahudhara Mandara Giri Bhuvana, atau yang kita sering sebut Museum Art Centre, karena letaknya di sekitar areal Taman Budaya ini.  Tanpa banyak ekspektasi, akhirnya ku sambut ajakan yang cukup menarik itu, mengingat sudah lama juga masuk ke dalam museum itu, terakhir mungkin 2 tahun yang lalu….

Setelah sampai, ternyata langkah kaki kita disambut teriakan hangat—sorak sorai kumpulan pegiat budaya, yang rata-rata sudah kawakan dalam agenda-agenda perihal kebudayaan dan kesenian. Sebut saja Pak Marlowe Bandem, dengan Museum Saka-nya, lalu pastinya teman-teman sepuh Gurat Institute yaitu Pak Susanta, dan Pak Seriyoga Parta, juga Pak Cupruk dari  Penawar Racun yang membantu proses art handling serta kerja-kerja konservasi lapangan. Dan tentu juga teman-teman lain yang aku sendiri tak benar-benar tahu apa yang sesungguhnya mereka kerjakan, namun aura keseriusan mereka tercium begitu pekat.

Melihat koleksi karya-karya siswa di tahun 1974

Rupanya agenda tersebut ditemani juga Kepala pengurus Museum pak Jero Gede Arum, yang menyambut hangat kedatangan kita. Sungguh rasanya canggung, seperti tamu penting saja pikirku…

Setelah aku mengamati sejenak, sungguh terbelalak mata ini melihat lembaran lukisan terbeber rata di sebuah bale kambang depan Museum. Ternyata itu hanya salah satu dari harta karun yang ditemukan kembali oleh teman-teman ini ketika kunjungan mereka sebelumnya, saat menghadiri perayaan 53 tahun berdirinya Museum Mahudhara Mandara Giri Bhuvana yang diadakan Rabu 18 Februari lalu.

Perayaan berdirinya Museum ini pada awalnya hanya mengagendakan untuk mensosialisasikan pentingnya keberadaaan Museum Mahudhara ini pada masyarakat luas, tentunya di hadapan para pegiat kebudayaan serta perwakilan dari Museum-museum lain. Namun siapa sangka, dari sebuah perayaan seremonial ini, justru lahir satu momentum yang membuka tabir panjang yang tertutup waktu.

Ketika sedang asik melihat, Pak Marlowe menyenggolku dan kemudian mulai bercerita bagaimana inisiasi impulsif itu bisa terjadi hari ini. Ternyata saat perayaan tersebut, selain agenda sosialisasi, Pak Jero Arum, begitu kami memanggilnya—bersedia untuk membukakan salah satu koleksi dari bumbung paralon yang kiranya tak pernah dibuka untuk waktu yang lama. Begitu terkejut ketika perlahan bumbung itu dibuka ternyata terpampang berbagai koleksi dari Maestro seni rupa, sebut saja Ida Bagus Nyoman Rai pembesar dari aliran Sanur School, Mangku Mura dari Siku, Kamasan, dan batik tulis langka karya Made ‘Kedol’ Subrata serta karya Nyoman Gunarsa yang diperkirakan series awalnya.

Karya Mangku Mura

Karya-karya maestro tersebut tergulung dalam balutan beberapa lukisan lainnya, bahkan ada lukisan siswa-siswa SMAN 1 Denpasar pada tahun 74 setahun setelah berdirinya Museum ini. Mungkin saja ada semacam kejuaraan pada waktu itu yang mengumpulkan para pemenang dari masing-masing sekolah pada masanya. Bayangkan, karya remaja-remaja 50 tahun silam kini terbentang kembali di hadapan kita, seperti pesan dari masa yang tak pernah selesai.

Kesadaran konservasi yang organik

Menarik jika kita ketahui ternyata ada berbagai koleksi yang tak sempat dibuka untuk sekian lamanya, bahkan hingga beberapa dari lukisan tersebut hadir dalam kondisi yang cukup mengenaskan—seperti termutilasi oleh waktu. Semua itu berangkat dari ketidaktahuan akan pentingnya pengetahuan konservasi terhadap setiap peninggalan, baik itu karya seni, sastra maupun dokumen-dokumen sejarah yang sering kali luput dari perhatian kita.

Dalam konteks penemuan 4 Bumbung di Museum Mahudhara ini, mata kita dibukakan bahwa menyimpan saja tidak cukup. Diam bukanlah bentuk perawatan. Perlu dilakukan pengecekan berkala pada setiap koleksi yang dimiliki oleh setiap museum, bahkan pada benda-benda yang hari ini kita anggap tak penting. Sebab bisa jadi ia menyimpan narasi dan harta karun yang kita tidak pernah tahu. ia selalu memanggil untuk dibuka, dibaca ulang dan dirawat kembali oleh yang mewarisinya.

Melihat koleksi karya Ida Bagus Nyoman Rai, Sanur School

Kasus ini menjadi paradoks yang memperlihatkan kelemahan setiap museum yang berada di bawah pengelolaan institusi pemerintah, justru sering luput untuk merawat kondisi koleksinya sendiri. Ironi menjadi hal yang bisa kita pikirkan tentang bagaimana kesadaran konservasi ini rupanya tumbuh organik dari kesadaran kolektif para pencumbu kebudayaan ini, bukan lahir dari inisiatif pihak yang memangku kebijakan. Ada semacam gerakan spontan yang lahir dari kegelisahan, bukan dari instruksi.

Yang sangat disayangkan, berlimpahnya koleksi berharga yang disimpan oleh museum negara, justru tidak diimbangi dengan support dari kebijakan yang berlaku, baik secara regulasi maupun bantuan berupa dana Istimewa bagi museum-museum ini untuk tetap bisa hadir dengan kondisi primanya. Seolah-olah warisan itu penting hanya secara simbolik, bukan secara material.

Sungguh beruntung saat itu Pak Jero Arum menemukan 4 Bumbung ini di Lorong Gudang dan berinisiatif untuk membuka dan memperlihatkannya kepada publik. Jika tidak, kita tak akan melihat karya-karya maestro ini dibangkitkan kembali dari kuburanya oleh semangat kolektif para perawat kebudayaan ini.

karena kita tidak tahu banyak dari koleksi yang ditemukan ini menggunakan media yang sebenarnya cukup rapuh untuk disimpan dalam keadaan yang begitu lembab dan tak menentu, contohnya saja karya Mangku Mura dan koleksi-koleksi pelukis Kamasan Lainnya, yang memakai kanvas tradisional yang berbahan dasar kain blacu dan bubur nasi—yang tentu begitu nikmat untuk menjadi santapan rayap dan kutu-kutu kain dikala cuaca yang tidak menentu ini.

Bahkan ada karya dari I Gusti Kopang, dari Kerambitan yang berusia lebih dari setengah abad, yang dibuat  pada tahun 1954. Karya itu sudah tentu berharap dalam diam untuk ditemukan dan diungkap identitasnya. Begitu pun karya-karya yang lain, banyak yang tidak diketahui identitasnya karena kondisinya yang sudah parah.

Selain membuka dan mengecek kondisi karya-karya tersebut, Pak Marlowe juga mengajak Bli Nyoman Adi Pratama atau yang ku kenal akun instagramnya Pvtrapratamaadi—untuk membantu mendokumentasikan karya-karya tersebut dan diidentifikasi juga oleh para teman-teman Gurat Institute, yang lalu didata secara rinci oleh Pak Marlowe dalam Macbook kecilnya.

Karya dari I Gusti Kopang, dari Kerambitan

Menariknya peristiwa gerakan dadakan ini juga disaksikan oleh saksi hidup pendirian museum ini, yaitu Pak Prof. Bandem yang banyak menuturkan kisah-kisah tak tersingkap dari kondisi pada zaman itu. Juga ditemani oleh rekan pelukis Kamasan yaitu Pak Made Sesangka dan istrinya Bu Sri Wedari yang cukup heran dengan keseriusan teman-teman ini untuk kembali melihat dan merawat kembali warisan yang pernah tertinggal.

Gara-gara sakral banyak yang tertinggal

Sebetulnya, konsep perawatan benda-benda sejarah sesungguhnya tak hanya penting untuk diilhami oleh para pegiat permuseuman, justru pengetahuan akan kesadaran konservasi tersebut tentu penting bagi setiap individu, untuk selalu memperhatikan dan menerapkan perilaku tersebut pada barang-barang yang mereka mungkin warisi.

Mengingat dalam konteks masyarakat Bali khususnya, tentu banyak mewarisi berbagai benda peninggalan dari para leluhurnya untuk disimpan dan sering kali disakralkan dalam satu gedong suci, yang biasa disebut sebagai Tetamian. Dan jika dipikir, ada puluhan ribu warisan yang mendekam dalam kesakralan para pewarisnya, dan seringkali karena begitu disucikannya, sampai-sampai tak pernah dibuka dan dibaca kembali apa isi yang ada di dalamnya.

Misalnya dalam kasus Lontar yang disakralkan oleh satu keluarga, ternyata adalah sebuah surat pencatatan pajak pada zaman Belanda. Karena minimnya kertas yang ada pada waktu itu, menyebabkan banyak dokumen tercetak dalam guratan pisau lontar, yang kemudian kini tak lagi terbaca karena terlalu dipingitkan ataupun tak ada lagi yang dapat membacanya.

Sebenarnya sudah hadir penyuluh bahasa Bali yang sering melakukan pembacaan dan pencatatan terhadap lontar yang ada di rumah-rumah warga, dan seringkali ditemukan dalam kondisi yang tak terawat. Eh terawat, tapi mungkin hanya luarnya saja…

Batik Tulis Langka Karya Made ‘Kedol’ Subrata

Karena konteks kesakralan tersebut, banyak dari warisan yang ada di rumah-rumah warga, selalu tak tersentuh karena tidak ada yang berani untuk mengganggu kepingitan dari benda-benda tersebut. Padahal penting untuk diketahui, semua benda tersebut, terlepas dari kesakralannya adalah benda sejarah yang harus dirawat dan diperhatikan kondisinya. Lebih-lebih jika itu sebuah karya seni, yang harusnya wajib dikonservasi ulang dalam rangka melihat identitas si pembuat serta kualitas materialnya kini.

Hal itu juga penting mengingat banyak karya seni pada era-era lama, selalu memakai warna Bali yang walaupun kuat secara kualitas, tetapi jika tak pernah dirawat, sudah tentu akan hancur dikunyah oleh waktu dan cuaca.

Tugas kitalah yang hadir hari ini untuk kembali melihat koleksi atau tetamian apa saja yang kita punya di rumah. Bukan sekadar memastikan ia masih utuh secara fisik, tetapi juga mencoba memahami kisah apa yang bersemayam di dalamnya—siapa yang membuatnya, dalam peristiwa apa ia hadir, dan nilai apa yang dulu ia emban. Barangkali selama ini ia hanya kita pandang sebagai benda pusaka yang disimpan rapi dalam kesakralan, tanpa pernah sungguh-sungguh diajak berdialog. Sebab setiap tetamian sesungguhnya menyimpan serpihan sejarah keluarga, jejak sosial zamannya, bahkan cara pandang leluhur terhadap dunia. Dengan merawat dan membacanya kembali, kita tidak hanya menyelamatkan bendanya, tetapi juga menyelamatkan identitas kita sendiri

Kembali lagi untuk kita ingat, bahwa kerja-kerja konservasi bukanlah sesuatu yang tabu dan hanya dilakukan oleh kalangan yang profesional. Memang benar, dalam beberapa kasus ada kondisi khusus yang memerlukan tangan para konservator—terutama ketika menyangkut material yang rapuh atau kerusakan yang sudah parah. Namun yang lebih penting adalah kesadaran konservasi ini meluruh dalam setiap hati para warga yang menyimpan benda-benda warisannya. Sehingga warisan para leluhur kita tak hanya menjadi benda mati yang diam, namun ia menjadi saksi yang menyimpan memori kolektif di zamannya, dan memberi makna baru pada kita yang hidup hari ini.

Panjang Umur Seni Rupa! [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gurat Institutekonservasi seni rupaMuseumSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Next Post

HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails
Next Post
HISKI Hadir di ‘Rumah untuk Bercerita”: Ketika Mendengar sebagai Pilihan

HISKI Hadir di 'Rumah untuk Bercerita": Ketika Mendengar sebagai Pilihan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co