14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
in Cerpen
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah membuat mahasiswa baru kebingungan: Fakultas Epistemologi.

Di fakultas inilah saya bekerja sebagai seorang dosen biasa, sangat biasa, yang selalu merasa perlu minum air putih sepuluh gelas sebelum rapat, demi persiapan menghadapi bahaya dehidrasi intelektual.

Pagi itu, seperti biasa, saya masuk ruang rapat yang suhunya bisa dipakai untuk menyimpan daging sapi. AC-nya berdengung seperti sedang meratap, “tolong matikan aku… tolong…” . Tapi rapat fakultas selalu memerlukan udara yang sangat dingin, mungkin agar para pejabat terlihat tetap segar walau bicara terlalu lama.

Saya duduk, membuka laptop, menyusun catatan. Topik rapat hari ini tertera jelas di papan:
“Rapat Sinkronisasi Program Pengembangan Mahasiswa.”

Judul yang sederhana, setidaknya sampai seseorang datang menghancurkan kesederhanaan itu.

Pukul sembilan lewat lima menit, pintu terbuka keras seperti dalam adegan telenovela. Masuklah sosok yang disebut-sebut sebagai pejabat paling fenomenal di kampus: Pak Narwanda Prakosa, M.M.M.M.

Saya tidak pernah tahu kepanjangan gelar “M.M.M.M.” itu apa. Ada rumor mengatakan itu singkatan dari Master of Multitafsir, Multivisi, Multikata, dan Multigaya. Ada juga yang bilang itu hanya tulisannya miring karena printer rusak. Yang jelas, Pak Narwanda adalah Wakil Dekan urusan apa saja yang membutuhkan banyak kata.

Hari itu ia membawa map warna emas, berdiri di pintu dengan aura yang setebal jaket motor. Senyumnya percaya diri, langkahnya terukur, dan matanya berbinar seperti orang yang baru menemukan kosakata baru di KBBI.

“Rekan-rekan Epistemologi,” katanya tanpa menunggu formalitas apa pun. “Secara paradigmatik, fakultas kita kini memasuki fase dekonstruksi epistemik yang memerlukan orkestrasi lintas entitas institusional agar konfigurasi kompetensial tetap konvergen dalam kerangka holistik transformatif.”

Saya menatap papan tulis: Rapat Sinkronisasi Program Pengembangan Mahasiswa.

Saya menatap teman saya, Miko, yang membalas dengan tatapan kosong seperti televisi kehilangan sinyal. Bu Onih, Kepala Sekretariat fakultas yang sudah bekerja sejak zaman kampus masih numpang di gedung kecamatan, mencubit lengannya sendiri. “Saya harus tetap waras, saya harus tetap waras,” gumamnya.

Pak Narwanda menatap kami satu-satu, lalu lanjut lagi:

“Karena itu, mari kita rekonsolidasikan kolektivitas deliberatif kita agar melahirkan intensionalitas praksis yang proporsional.”

Kami semua terdiam. Saya berusaha keras menebak maksudnya.Tentang mahasiswa? Mungkin.Tentang jadwal kuliah? Bisa jadi.Tentang cadangan beras nasional? Tidak menutup kemungkinan.

Akhirnya saya angkat tangan.

“Pak, maaf… intinya apa ya?”

Ia memandang saya seakan saya baru saja bertanya apakah bumi itu bulat atau kotak.

“Intinya, ya itu,” katanya tegas. “Konvergensi sinergis melalui parameter relasional. Simple.”

Simple katanya. Saya hampir pingsan.

***

Rapat baru berlangsung sepuluh menit, tapi rasanya sudah seperti dua semester. Pak Narwanda melanjutkan ceramahnya dengan gaya seperti influencer yang sedang live TikTok:

“Transformasi struktural akan terjadi apabila kita merevitalisasi jejaring komunikatif melalui narasi koheren untuk mendorong akselerasi partisipatoris para stakeholders.”

Kali ini, staf humas, Mas Raga, mencatat sesuatu dengan sangat serius. Saya pikir ia sedang membuat notulen. Ketika saya curi pandang, ternyata dia menulis:

‘Beli telur – cabai – bawang – minyak.’

Mungkin itu cara otaknya mempertahankan realitas. Lalu Bu Herlina, guru besar epistemologi terapan, menghela napas dan berkata pelan, “Pak, jadi maksudnya… ini rapat apa?”

Pak Narwanda langsung menjawab mantap:

“Kita sedang menetapkan peta jalan akseleratif untuk harmonisasi naratif kelembagaan Epistemologi.”

Hening.

Miko berbisik, “Kok kayak resep masakan ya? Ada akseleratif, harmonisasi, naratif…”

Saya menunduk sambil menutup mulut, menahan tawa agar tidak terdengar. Saya tak mau dianggap subversif dalam rapat epistemik.

Bagian paling komedi terjadi ketika kami sampai pada agenda anggaran. Sebagai dosen, saya sudah menyiapkan mental untuk menghadapi angka-angka yang mungkin tidak masuk akal. Tapi angkanya ternyata tidak muncul sama sekali.

“Baik,” kata Pak Narwanda sambil membuka map emasnya. “Anggaran tahun depan memerlukan formulasi dualistik antara agenda instruksional dan meta-instruksional yang harus diinterpolasikan dengan redundansi produktif.”

Kami menunggu angka-angka. Saya membuka Excel. Bu Onih menyiapkan kertas rekapan. Pak Darma, Gurubesar Emiritus menyiapkan kacamata fokusnya. Setelah lima menit penjelasan tanpa satu pun angka keluar, saya bertanya:

“Pak, nominalnya berapa?”

Pak Narwanda terlihat agak tersinggung.

“Saudara, esensinya bukan nominal. Esensinya adalah kerangka hermeneutiknya.”

Bu Herlina memijat pelipis. Pak Darma menatap langit-langit, mungkin mencari jawaban Tuhan. Raga menulis daftar belanja yang lebih panjang: ‘Detergen – sandal – busi motor.’ Saya mulai berpikir map emas itu berisi petunjuk harta karun. Atau surat kosong. Saya memberanikan diri lagi.


“Pak, boleh kami lihat tabelnya?”

Ia membuka map itu. Kosong. Kosong total. Tidak ada kertas. Tidak ada grafik. Tidak ada angka. Hanya udara, dan sedikit harapan yang langsung hilang. Saya yakin, pada titik itu, AC pun merasa sedih.

***

Saya memandang Pak Narwanda. Ia terlihat percaya diri, tapi juga tampak seperti seseorang yang sedang mencoba keras menjadi versi paling pintar dari dirinya sendiri. Mungkin ia memang suka bicara rumit. Mungkin ia pikir itu terlihat intelektual. Mungkin ia tidak sadar bahwa seluruh fakultas sedang berada di ambang migrain kolektif.

Saya ingat prinsip sederhana dalam filsafat ilmu: Yang bisa dijelaskan dengan sederhana, jangan dibikin rumit. Itu dosa epistemik. Akhirnya saya angkat tangan untuk ketiga kalinya, dengan keberanian level mahasiswa demo minta UKT diturunkan.

“Pak,” kata saya, “bagaimana kalau kita mulai dari hal yang paling sederhana dulu, tujuan rapat ini apa?”

Untuk pertama kalinya sejak mulai berbicara, Pak Narwanda terdiam. Ia melihat kami satu per satu. Melihat map kosongnya. Melihat papan tulis. Melihat dirinya sendiri dalam refleksi layar proyektor. Lalu akhirnya berkata:

“Tujuan rapatnya… eh… menentukan jadwal kegiatan fakultas bulan depan.”

Hening. Lalu tepuk tangan spontan terdengar. Bukan karena itu ide bagus. Tapi karena itu adalah kalimat paling jelas yang ia ucapkan sejak jam sembilan pagi.

Kami pun akhirnya mulai membahas jadwal. Dengan normal. Dengan bahasa manusia. Dengan kalimat yang tidak perlu menyebut “paradigmatik” setiap tiga menit. Rapat selesai dalam lima belas menit.

Saat kami keluar ruangan, Miko menepuk bahu saya.

“Gila, Mas. Tadi itu seperti menonton opera avant-garde tanpa subtitle.”

Saya tertawa. “Sudah biasa. Di Fakultas Epistemologi, semua hal sederhana harus dipersulit dulu, biar terlihat ilmiah.”

Kami berjalan di koridor, melewati poster besar bertuliskan:“Epistemologi: Mencari Kebenaran dengan Kejelasan.” Saya menatap poster itu, lalu menatap ruang rapat tempat kami baru saja disiksa. Saya tidak yakin fakultas kami sedang menuju kejelasan.

Tapi setidaknya, hari itu, kami selamat dari tsunami jargon. Dan sejak hari itu pula saya percaya: Kecerdasan sejati bukan tentang bicara rumit, tapi membuat rumit menjadi sederhana. Sementara Pak Narwanda… Entahlah.

Mungkin besok ia datang lagi dengan jargon baru. Entah “konstelasi teleologis”, entah “dialogisme meta-esensial”, entah apa. Tapi saya sudah siap. Saya sudah punya strategi pertahanan mental: Saya akan membawa earphone. Kalau terlalu banyak jargon, saya tinggal pura-pura mencatat padahal sedang mendengarkan musik Rock n Roll . Karena tidak ada epistemologi yang sekuat musik Rock n Roll, kawan. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Next Post

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co