4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
in Cerpen
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah membuat mahasiswa baru kebingungan: Fakultas Epistemologi.

Di fakultas inilah saya bekerja sebagai seorang dosen biasa, sangat biasa, yang selalu merasa perlu minum air putih sepuluh gelas sebelum rapat, demi persiapan menghadapi bahaya dehidrasi intelektual.

Pagi itu, seperti biasa, saya masuk ruang rapat yang suhunya bisa dipakai untuk menyimpan daging sapi. AC-nya berdengung seperti sedang meratap, “tolong matikan aku… tolong…” . Tapi rapat fakultas selalu memerlukan udara yang sangat dingin, mungkin agar para pejabat terlihat tetap segar walau bicara terlalu lama.

Saya duduk, membuka laptop, menyusun catatan. Topik rapat hari ini tertera jelas di papan:
“Rapat Sinkronisasi Program Pengembangan Mahasiswa.”

Judul yang sederhana, setidaknya sampai seseorang datang menghancurkan kesederhanaan itu.

Pukul sembilan lewat lima menit, pintu terbuka keras seperti dalam adegan telenovela. Masuklah sosok yang disebut-sebut sebagai pejabat paling fenomenal di kampus: Pak Narwanda Prakosa, M.M.M.M.

Saya tidak pernah tahu kepanjangan gelar “M.M.M.M.” itu apa. Ada rumor mengatakan itu singkatan dari Master of Multitafsir, Multivisi, Multikata, dan Multigaya. Ada juga yang bilang itu hanya tulisannya miring karena printer rusak. Yang jelas, Pak Narwanda adalah Wakil Dekan urusan apa saja yang membutuhkan banyak kata.

Hari itu ia membawa map warna emas, berdiri di pintu dengan aura yang setebal jaket motor. Senyumnya percaya diri, langkahnya terukur, dan matanya berbinar seperti orang yang baru menemukan kosakata baru di KBBI.

“Rekan-rekan Epistemologi,” katanya tanpa menunggu formalitas apa pun. “Secara paradigmatik, fakultas kita kini memasuki fase dekonstruksi epistemik yang memerlukan orkestrasi lintas entitas institusional agar konfigurasi kompetensial tetap konvergen dalam kerangka holistik transformatif.”

Saya menatap papan tulis: Rapat Sinkronisasi Program Pengembangan Mahasiswa.

Saya menatap teman saya, Miko, yang membalas dengan tatapan kosong seperti televisi kehilangan sinyal. Bu Onih, Kepala Sekretariat fakultas yang sudah bekerja sejak zaman kampus masih numpang di gedung kecamatan, mencubit lengannya sendiri. “Saya harus tetap waras, saya harus tetap waras,” gumamnya.

Pak Narwanda menatap kami satu-satu, lalu lanjut lagi:

“Karena itu, mari kita rekonsolidasikan kolektivitas deliberatif kita agar melahirkan intensionalitas praksis yang proporsional.”

Kami semua terdiam. Saya berusaha keras menebak maksudnya.Tentang mahasiswa? Mungkin.Tentang jadwal kuliah? Bisa jadi.Tentang cadangan beras nasional? Tidak menutup kemungkinan.

Akhirnya saya angkat tangan.

“Pak, maaf… intinya apa ya?”

Ia memandang saya seakan saya baru saja bertanya apakah bumi itu bulat atau kotak.

“Intinya, ya itu,” katanya tegas. “Konvergensi sinergis melalui parameter relasional. Simple.”

Simple katanya. Saya hampir pingsan.

***

Rapat baru berlangsung sepuluh menit, tapi rasanya sudah seperti dua semester. Pak Narwanda melanjutkan ceramahnya dengan gaya seperti influencer yang sedang live TikTok:

“Transformasi struktural akan terjadi apabila kita merevitalisasi jejaring komunikatif melalui narasi koheren untuk mendorong akselerasi partisipatoris para stakeholders.”

Kali ini, staf humas, Mas Raga, mencatat sesuatu dengan sangat serius. Saya pikir ia sedang membuat notulen. Ketika saya curi pandang, ternyata dia menulis:

‘Beli telur – cabai – bawang – minyak.’

Mungkin itu cara otaknya mempertahankan realitas. Lalu Bu Herlina, guru besar epistemologi terapan, menghela napas dan berkata pelan, “Pak, jadi maksudnya… ini rapat apa?”

Pak Narwanda langsung menjawab mantap:

“Kita sedang menetapkan peta jalan akseleratif untuk harmonisasi naratif kelembagaan Epistemologi.”

Hening.

Miko berbisik, “Kok kayak resep masakan ya? Ada akseleratif, harmonisasi, naratif…”

Saya menunduk sambil menutup mulut, menahan tawa agar tidak terdengar. Saya tak mau dianggap subversif dalam rapat epistemik.

Bagian paling komedi terjadi ketika kami sampai pada agenda anggaran. Sebagai dosen, saya sudah menyiapkan mental untuk menghadapi angka-angka yang mungkin tidak masuk akal. Tapi angkanya ternyata tidak muncul sama sekali.

“Baik,” kata Pak Narwanda sambil membuka map emasnya. “Anggaran tahun depan memerlukan formulasi dualistik antara agenda instruksional dan meta-instruksional yang harus diinterpolasikan dengan redundansi produktif.”

Kami menunggu angka-angka. Saya membuka Excel. Bu Onih menyiapkan kertas rekapan. Pak Darma, Gurubesar Emiritus menyiapkan kacamata fokusnya. Setelah lima menit penjelasan tanpa satu pun angka keluar, saya bertanya:

“Pak, nominalnya berapa?”

Pak Narwanda terlihat agak tersinggung.

“Saudara, esensinya bukan nominal. Esensinya adalah kerangka hermeneutiknya.”

Bu Herlina memijat pelipis. Pak Darma menatap langit-langit, mungkin mencari jawaban Tuhan. Raga menulis daftar belanja yang lebih panjang: ‘Detergen – sandal – busi motor.’ Saya mulai berpikir map emas itu berisi petunjuk harta karun. Atau surat kosong. Saya memberanikan diri lagi.


“Pak, boleh kami lihat tabelnya?”

Ia membuka map itu. Kosong. Kosong total. Tidak ada kertas. Tidak ada grafik. Tidak ada angka. Hanya udara, dan sedikit harapan yang langsung hilang. Saya yakin, pada titik itu, AC pun merasa sedih.

***

Saya memandang Pak Narwanda. Ia terlihat percaya diri, tapi juga tampak seperti seseorang yang sedang mencoba keras menjadi versi paling pintar dari dirinya sendiri. Mungkin ia memang suka bicara rumit. Mungkin ia pikir itu terlihat intelektual. Mungkin ia tidak sadar bahwa seluruh fakultas sedang berada di ambang migrain kolektif.

Saya ingat prinsip sederhana dalam filsafat ilmu: Yang bisa dijelaskan dengan sederhana, jangan dibikin rumit. Itu dosa epistemik. Akhirnya saya angkat tangan untuk ketiga kalinya, dengan keberanian level mahasiswa demo minta UKT diturunkan.

“Pak,” kata saya, “bagaimana kalau kita mulai dari hal yang paling sederhana dulu, tujuan rapat ini apa?”

Untuk pertama kalinya sejak mulai berbicara, Pak Narwanda terdiam. Ia melihat kami satu per satu. Melihat map kosongnya. Melihat papan tulis. Melihat dirinya sendiri dalam refleksi layar proyektor. Lalu akhirnya berkata:

“Tujuan rapatnya… eh… menentukan jadwal kegiatan fakultas bulan depan.”

Hening. Lalu tepuk tangan spontan terdengar. Bukan karena itu ide bagus. Tapi karena itu adalah kalimat paling jelas yang ia ucapkan sejak jam sembilan pagi.

Kami pun akhirnya mulai membahas jadwal. Dengan normal. Dengan bahasa manusia. Dengan kalimat yang tidak perlu menyebut “paradigmatik” setiap tiga menit. Rapat selesai dalam lima belas menit.

Saat kami keluar ruangan, Miko menepuk bahu saya.

“Gila, Mas. Tadi itu seperti menonton opera avant-garde tanpa subtitle.”

Saya tertawa. “Sudah biasa. Di Fakultas Epistemologi, semua hal sederhana harus dipersulit dulu, biar terlihat ilmiah.”

Kami berjalan di koridor, melewati poster besar bertuliskan:“Epistemologi: Mencari Kebenaran dengan Kejelasan.” Saya menatap poster itu, lalu menatap ruang rapat tempat kami baru saja disiksa. Saya tidak yakin fakultas kami sedang menuju kejelasan.

Tapi setidaknya, hari itu, kami selamat dari tsunami jargon. Dan sejak hari itu pula saya percaya: Kecerdasan sejati bukan tentang bicara rumit, tapi membuat rumit menjadi sederhana. Sementara Pak Narwanda… Entahlah.

Mungkin besok ia datang lagi dengan jargon baru. Entah “konstelasi teleologis”, entah “dialogisme meta-esensial”, entah apa. Tapi saya sudah siap. Saya sudah punya strategi pertahanan mental: Saya akan membawa earphone. Kalau terlalu banyak jargon, saya tinggal pura-pura mencatat padahal sedang mendengarkan musik Rock n Roll . Karena tidak ada epistemologi yang sekuat musik Rock n Roll, kawan. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Next Post

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co