24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
in Cerpen
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah membuat mahasiswa baru kebingungan: Fakultas Epistemologi.

Di fakultas inilah saya bekerja sebagai seorang dosen biasa, sangat biasa, yang selalu merasa perlu minum air putih sepuluh gelas sebelum rapat, demi persiapan menghadapi bahaya dehidrasi intelektual.

Pagi itu, seperti biasa, saya masuk ruang rapat yang suhunya bisa dipakai untuk menyimpan daging sapi. AC-nya berdengung seperti sedang meratap, “tolong matikan aku… tolong…” . Tapi rapat fakultas selalu memerlukan udara yang sangat dingin, mungkin agar para pejabat terlihat tetap segar walau bicara terlalu lama.

Saya duduk, membuka laptop, menyusun catatan. Topik rapat hari ini tertera jelas di papan:
“Rapat Sinkronisasi Program Pengembangan Mahasiswa.”

Judul yang sederhana, setidaknya sampai seseorang datang menghancurkan kesederhanaan itu.

Pukul sembilan lewat lima menit, pintu terbuka keras seperti dalam adegan telenovela. Masuklah sosok yang disebut-sebut sebagai pejabat paling fenomenal di kampus: Pak Narwanda Prakosa, M.M.M.M.

Saya tidak pernah tahu kepanjangan gelar “M.M.M.M.” itu apa. Ada rumor mengatakan itu singkatan dari Master of Multitafsir, Multivisi, Multikata, dan Multigaya. Ada juga yang bilang itu hanya tulisannya miring karena printer rusak. Yang jelas, Pak Narwanda adalah Wakil Dekan urusan apa saja yang membutuhkan banyak kata.

Hari itu ia membawa map warna emas, berdiri di pintu dengan aura yang setebal jaket motor. Senyumnya percaya diri, langkahnya terukur, dan matanya berbinar seperti orang yang baru menemukan kosakata baru di KBBI.

“Rekan-rekan Epistemologi,” katanya tanpa menunggu formalitas apa pun. “Secara paradigmatik, fakultas kita kini memasuki fase dekonstruksi epistemik yang memerlukan orkestrasi lintas entitas institusional agar konfigurasi kompetensial tetap konvergen dalam kerangka holistik transformatif.”

Saya menatap papan tulis: Rapat Sinkronisasi Program Pengembangan Mahasiswa.

Saya menatap teman saya, Miko, yang membalas dengan tatapan kosong seperti televisi kehilangan sinyal. Bu Onih, Kepala Sekretariat fakultas yang sudah bekerja sejak zaman kampus masih numpang di gedung kecamatan, mencubit lengannya sendiri. “Saya harus tetap waras, saya harus tetap waras,” gumamnya.

Pak Narwanda menatap kami satu-satu, lalu lanjut lagi:

“Karena itu, mari kita rekonsolidasikan kolektivitas deliberatif kita agar melahirkan intensionalitas praksis yang proporsional.”

Kami semua terdiam. Saya berusaha keras menebak maksudnya.Tentang mahasiswa? Mungkin.Tentang jadwal kuliah? Bisa jadi.Tentang cadangan beras nasional? Tidak menutup kemungkinan.

Akhirnya saya angkat tangan.

“Pak, maaf… intinya apa ya?”

Ia memandang saya seakan saya baru saja bertanya apakah bumi itu bulat atau kotak.

“Intinya, ya itu,” katanya tegas. “Konvergensi sinergis melalui parameter relasional. Simple.”

Simple katanya. Saya hampir pingsan.

***

Rapat baru berlangsung sepuluh menit, tapi rasanya sudah seperti dua semester. Pak Narwanda melanjutkan ceramahnya dengan gaya seperti influencer yang sedang live TikTok:

“Transformasi struktural akan terjadi apabila kita merevitalisasi jejaring komunikatif melalui narasi koheren untuk mendorong akselerasi partisipatoris para stakeholders.”

Kali ini, staf humas, Mas Raga, mencatat sesuatu dengan sangat serius. Saya pikir ia sedang membuat notulen. Ketika saya curi pandang, ternyata dia menulis:

‘Beli telur – cabai – bawang – minyak.’

Mungkin itu cara otaknya mempertahankan realitas. Lalu Bu Herlina, guru besar epistemologi terapan, menghela napas dan berkata pelan, “Pak, jadi maksudnya… ini rapat apa?”

Pak Narwanda langsung menjawab mantap:

“Kita sedang menetapkan peta jalan akseleratif untuk harmonisasi naratif kelembagaan Epistemologi.”

Hening.

Miko berbisik, “Kok kayak resep masakan ya? Ada akseleratif, harmonisasi, naratif…”

Saya menunduk sambil menutup mulut, menahan tawa agar tidak terdengar. Saya tak mau dianggap subversif dalam rapat epistemik.

Bagian paling komedi terjadi ketika kami sampai pada agenda anggaran. Sebagai dosen, saya sudah menyiapkan mental untuk menghadapi angka-angka yang mungkin tidak masuk akal. Tapi angkanya ternyata tidak muncul sama sekali.

“Baik,” kata Pak Narwanda sambil membuka map emasnya. “Anggaran tahun depan memerlukan formulasi dualistik antara agenda instruksional dan meta-instruksional yang harus diinterpolasikan dengan redundansi produktif.”

Kami menunggu angka-angka. Saya membuka Excel. Bu Onih menyiapkan kertas rekapan. Pak Darma, Gurubesar Emiritus menyiapkan kacamata fokusnya. Setelah lima menit penjelasan tanpa satu pun angka keluar, saya bertanya:

“Pak, nominalnya berapa?”

Pak Narwanda terlihat agak tersinggung.

“Saudara, esensinya bukan nominal. Esensinya adalah kerangka hermeneutiknya.”

Bu Herlina memijat pelipis. Pak Darma menatap langit-langit, mungkin mencari jawaban Tuhan. Raga menulis daftar belanja yang lebih panjang: ‘Detergen – sandal – busi motor.’ Saya mulai berpikir map emas itu berisi petunjuk harta karun. Atau surat kosong. Saya memberanikan diri lagi.


“Pak, boleh kami lihat tabelnya?”

Ia membuka map itu. Kosong. Kosong total. Tidak ada kertas. Tidak ada grafik. Tidak ada angka. Hanya udara, dan sedikit harapan yang langsung hilang. Saya yakin, pada titik itu, AC pun merasa sedih.

***

Saya memandang Pak Narwanda. Ia terlihat percaya diri, tapi juga tampak seperti seseorang yang sedang mencoba keras menjadi versi paling pintar dari dirinya sendiri. Mungkin ia memang suka bicara rumit. Mungkin ia pikir itu terlihat intelektual. Mungkin ia tidak sadar bahwa seluruh fakultas sedang berada di ambang migrain kolektif.

Saya ingat prinsip sederhana dalam filsafat ilmu: Yang bisa dijelaskan dengan sederhana, jangan dibikin rumit. Itu dosa epistemik. Akhirnya saya angkat tangan untuk ketiga kalinya, dengan keberanian level mahasiswa demo minta UKT diturunkan.

“Pak,” kata saya, “bagaimana kalau kita mulai dari hal yang paling sederhana dulu, tujuan rapat ini apa?”

Untuk pertama kalinya sejak mulai berbicara, Pak Narwanda terdiam. Ia melihat kami satu per satu. Melihat map kosongnya. Melihat papan tulis. Melihat dirinya sendiri dalam refleksi layar proyektor. Lalu akhirnya berkata:

“Tujuan rapatnya… eh… menentukan jadwal kegiatan fakultas bulan depan.”

Hening. Lalu tepuk tangan spontan terdengar. Bukan karena itu ide bagus. Tapi karena itu adalah kalimat paling jelas yang ia ucapkan sejak jam sembilan pagi.

Kami pun akhirnya mulai membahas jadwal. Dengan normal. Dengan bahasa manusia. Dengan kalimat yang tidak perlu menyebut “paradigmatik” setiap tiga menit. Rapat selesai dalam lima belas menit.

Saat kami keluar ruangan, Miko menepuk bahu saya.

“Gila, Mas. Tadi itu seperti menonton opera avant-garde tanpa subtitle.”

Saya tertawa. “Sudah biasa. Di Fakultas Epistemologi, semua hal sederhana harus dipersulit dulu, biar terlihat ilmiah.”

Kami berjalan di koridor, melewati poster besar bertuliskan:“Epistemologi: Mencari Kebenaran dengan Kejelasan.” Saya menatap poster itu, lalu menatap ruang rapat tempat kami baru saja disiksa. Saya tidak yakin fakultas kami sedang menuju kejelasan.

Tapi setidaknya, hari itu, kami selamat dari tsunami jargon. Dan sejak hari itu pula saya percaya: Kecerdasan sejati bukan tentang bicara rumit, tapi membuat rumit menjadi sederhana. Sementara Pak Narwanda… Entahlah.

Mungkin besok ia datang lagi dengan jargon baru. Entah “konstelasi teleologis”, entah “dialogisme meta-esensial”, entah apa. Tapi saya sudah siap. Saya sudah punya strategi pertahanan mental: Saya akan membawa earphone. Kalau terlalu banyak jargon, saya tinggal pura-pura mencatat padahal sedang mendengarkan musik Rock n Roll . Karena tidak ada epistemologi yang sekuat musik Rock n Roll, kawan. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Next Post

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co