3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

Kadek Surya Jayadi by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
in Tualang
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) berkolaborasi dengan Prodi Sejarah Universitas Udayana melakukan kegiatan heritage walking tour di Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana yang dilakukan oleh Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) berkolaborasi dengan Prodi Sejarah Universitas Udayana. Secara spontan, terbesit inisiatif untuk merayakan HUT ke-238 Kota Denpasar  dengan kegiatan heritage walking tour. 

Tidak banyak peserta yang terlibat, hanya 13 orang. Selain karena mendadak, peminatnya sedikit karena mereka meragukan cuaca. Sebab belakangan ini cuaca sungguh tidak bersahabat. Meski hari itu cerah memberkati, keraguan justru tetap membayangi.  Jumlah peserta 13 sungguh sial bila dikaitkan dengan kepercayaan. Tapi itu hanyalah mitos, yang justru bagi mitologi lainnya dipandang sebagai nyala semangat yang terjaga. Entah apa dan berapapun itu, inisiatif ini nyatanya tetap terlaksana.

Rurung: Denyut Tersembunyi di Balik Gang Sempit

Heritage walking tour ini justru dimulai dengan menyusuri gang alias rurung dalam bahasa Bali. Gang tidak semata-mata akses jalan kecil, yang sering kali buntu.  Justru kehidupan warga kota Denpasar, berdenyut di sini. Di sinilah terkadang kebuntuan hidup warga kota, menemukan solusinya. Warung kecil yang hanya menjual kopi dan gorengan, yang hanya disajikan di atas meja seadanya, justru menjadi ruang berkeluh kesah warga kota. Di sini mereka tak selamanya menemukan solusi yang jitu, cukup terlampiaskan saja adalah sebuah solusi yang melegakan. Ketika kami menyusuri gang kecil, kami juga menemukan seorang perempuan pemulung yang sedang menelpon keluarganya yang jauh. Dalam bahasa Jawa, sedikit jelas dalam pemahaman kami, bahwa dia sedang memastikan keadaan keluarganya di Jawa.

Beberapa peserta melihat banyaknya bungkus sampah obat cap komik di gang tersebut. Bagi peserta yang awam tentu bingung mengapa bungkus komik bersebaran. Namun bagi peserta yang paham, bungkus itu menjadi salah satu potret kehidupan warga kota yang berusaha menemukan ketenangan secara instan dari penatnya kehidupan.

Gang memang punya keunikan narasi masing-masing. Komedi remeh temehpun muncul dari gang yang kami susuri. Mulai dari gagang pintu yang tidak simetris, hingga pintu belakang rumah penduduk yang dibuat berlapis-lapis layaknya bunker. Seorang peserta nyeletuk “ooh ini double verifikasi pintunya”, mengundang tawa peserta lainnya. Lolongan anjing pun ikut menghiasi perjalanan kami menyusuri gang, entah itu menyapa atau memang kehadiran kami dianggap mengganggu kenyamanannya. Kami pun lekas beranjak pergi dari gang menuju jalan utama kota.

Gadjah Mada: Jejak Akulturasi dan Harum Kopi Tua

 Deru kendaraan menghiasi jalanan Gadjah Mada Kota Denpasar ketika itu. Terbilang ramai dari biasanya. Mungkin ketika itu adalah jamnya pulang kantor sehingga kondisi lalu lintas sedikit lebih padat. Namun krodit itu terhapus oleh pemandangan lampion yang terpasang menghiasi jalan Gadjah Mada. Hiasan tersebut adalah rangkaian dari perayaan Imlek tahun ini.

 

Denpasar adalah kota yang menjadi milik segala etnis. Termasuk etnis Tionghoa, yang memegang peran penting dalam perkembangan kota Denpasar. Sektor ekonomi di kawasan Gadjah Mada ini banyak dikelola etnis tionghoa. Salah satunya adalah toko obat. Warga kota tentu familiar dengan toko obat ini, mulai dari PO’ON, Jaya Abadi, hingga Bersaudara.

 

Tak hanya itu, sektor ekonomi lain yang juga diisi oleh etnis Tionghoa adalah kedai kopi. Sebuah kedai kopi legendaris, menjadi ikon Kota Denpasar. Kedai kopi tersebut bernama Bhineka Djaya yang dikenal dengan merk kopinya Kupu-Kupu Bola Dunia. Namun memori warga kota mengingatnya yang berbeda, yaitu kopi Bian Ek ‘Biang IK’ yang menjadi cikal bakal kedai ini. Tak semua peserta, sekalipun sebagian besar senang menyeruput kopi untuk menemani mereka mengerjakan deadline tugas, mengetahui merk kopi tersebut. Bahkan yang pernah mencicipi kopi tersebut pun, baru mengetahui jika di sana adalah cikal bakalnya.

Tetapi yang jelas, kedai kopi seperti itu kini menjadi kian bertambah jumlahnya, seiring dengan meningkatnya animo publik untuk ngopi.  Bahkan ruko-ruko kawasan Gadjah Mada pun kini banyak yang beralih menjadi kedai kopi. Pilihannya makin banyak, dengan keunggulannya masing-masing. Semuanya bersaing, termasuk dengan pedagang kopi keliling, yang juga tentu punya pangsa pasarnya tersediri.

“Kuda yang Slay”: Merayakan Sejarah dengan Imajinasi Baru

Kegiatan walking tour ini tidak dikemas sebagaimana umumnya, dimana peserta mendengarkan ceramah dari sejarawan maupun tour leader. Dalam kegiatan ini, peserta saling berbagi pengetahuan terhadap situs-situs sejarah yang mereka kunjungi. Yang terpenting juga adalah saling berbagi pengalaman, kesan, juga imajinasi terhadap situs yang mereka kunjungi. Hal ini selaras dengan prinsip-prinsip sejarah publik.

Dari sini setiap peserta belajar untuk mengungkapkan apa yang mereka pahami tentang situs tersebut. “Menjelaskan narasi sejarah langsung di situsnya merupakan tantangan & pengalaman yang baru bagi saya,” demikian ungkap salah satu peserta. Mereka tampak berupaya keluar dari sekat sejarah berbasis teks, yang terasa kaku dan terkesan membosankan bagi kalangan seusia mereka.

Di acara ini mereka berusaha untuk mengeksplorasi, mengobservasi situs-situs sejarah yang mereka kunjungi, mulai dari Pecinan, Titik Nol,Catur Muka, Jam Lonceng, Hotel Inna Bali, Jaya Sabha, Patung Puputan, Museum Bali, SMPN 1 Denpasar, Gedung Merdeka (Kantor LVRI Bali), Gereja Kepundung, Pura Jagatnatha, dan Peken Badung. Itu hanyalah sebagian kecil dari betapa banyak situs sejarah kota Denpasar lainnya yang menarik dan belum mereka kunjungi. 

Dari kunjungan tersebut mereka belajar banyak hal, mulai dari mengingat tahun Peristiwa Puputan Badung, melihat upaya kolonia menata Denpasar dalam sistem kota modern setelah Pasca Puputan Badung, mengenal situs sejarah Puri Denpasar yang hancur setelah Puputan, memahami bagaimana sejarah berkembang menjadi sebuah kota multikultur yang tampak dari gagasan perancangan tempat ibadah, dan sejumlah lainnya. Intinya kegiatan ini memberikan pengetahuan sekaliagus pengalaman baru bagi mereka dalam melihat sejarah, khususnya sejarah kota.

Setiap situs yang mereka kunjungi tak melulu dibaca secara serius. Selalu ada selipan humor yang keluar secara tiba-tiba. Misalnya ketika mereka diorama Perang Puputan Badung, yang salah satunya dioramanya menunjukkan kuda terjatu dalam perang bersama prajuritnya, justru oleh beberapa mahasiswa dimaknai sebagai “kuda yang sedang slay”. Hal ini tentu tidak dibenarkan dalam interpretasi sejarah, namun kenyataan ini justru membawa kita pada dimensi baru dalam melihat multiinterpretasi yang tidak bisa dibungkam dalam sejarah publik. Justru ruang-ruang interpretasi baru ini harus diberikan kesempatan bertumbuh, tidak dibunuh, tentunya diarahkan dengan bacaan-bacaan yang lebih mendalam, sehingga mereka bisa menciptakan satu perspektif baru dalam penulisan sejarah.

Merawat Ingatan pada Keringat yang Menghidupkan Kota

Walking tour ini juga diisi dengan kegiatan pengabdian berupa membagikan sedikit sembako untuk ibu-ibu tukang suwun atau kuli angkut barang belanjaan di Pasar Badung. Tidak banyak yang dibagikan, hanya saja di balik keterbatasan tersebut tersirat pesan, bahwa denyut kota tidak hanya dihidupi oleh orang-orang yang berada, namun juga oleh kaum-kaum marginal. Bahwa memberikan sedikit sembako kepada mereka bukan sebatas kepedulian, namun juga memberikan semangat bahwa keringat mereka juga berarti bagi denyut ekonomi kota Denpasar. Tak hanya tukang suwun, kaum-kaum lainnya seperti tukang sapu, dagang lumpiang, pedagang kopi keliling, pengamen, pedagang canang,  pedagang nasi jinggo, dan sebagainya adalah potret sekaligus denyut kehidupan warga kota Denpasar yang juga seharusnya merayakan HUT 238 Kota Denpasar.

Menutup Kebersamaan dengan Berbuka Puasa ala Kuliner Nak Kodya ‘Nasi Jinggo’

Heritage walking tour yang jumlahnya 13 orang ini sungguh diberkati. Selain tak diguyur hujan, sinar mentari pun tidak bersinar terlalu terik. Seolah mengetahui jika beberapa di antara kami ada sedang menjalani ibadah puasa. Maka heritage walking tour ini juga sebagai ngabuburit menunggu buka puasa. Sekalipun berjalan cukup jauh, sharing pengetahuan seputar situs heritage Kota Denpasar tak membuat lelah terasa terutama bagi mereka yang berpuasa.

Kegiatan heritage walking tour ditutup 30 menit menjelang berbuka puasa. Kami menutup kebersamaan dengan berbuka puasa bersama di sebuah kedai Nasi Jinggo. Sebagaimana diketahui jika Nasi Jinggo adalah salah satu kuliner khas Kota Denpasar yang menghiasi di berbagai sudut kotanya.

Nasi Jinggo ini pun mewakili apa yang kami lakukan dalam kegiatan heritage walking tour, jika kenikmatan tidak melulu dari kemewahan dan semarak. Kesederhanaan pun juga memiliki nikmatnya tersendiri. 13 orang yang terlibat ini, tak punya visi muluk-muluk, mereka hanya ingin lebih mengetahui sejarah dan dinamika kota Denpasar, sebagai salah satu cara menjadi warga kota yang cerdas, smart citizenship. Dirgahayu Kota Denpasar. [T]

Penulis: I Kadek Surya Jayadi bersama Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana
Fotografer: Ryantama Sinuraya, Ni Wayan Revitania Wismadani Putri, I Dewa Made Adnyana Setiarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gajah Mada HeritageHeritageKota DenpasarProdi Sejarah Unudsejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

Next Post

Mahasiswa Prodi Sastra Bali Unud Membuat Kamus Digital, Aplikasikan Pembelajaran di Festival Kamus Digital

Kadek Surya Jayadi

Kadek Surya Jayadi

Lahir di Sempidi 16 Maret 1995. Pernah mengenyam pendidikan di Program Studi Sastra Bali Universitas Udayana. Setamat dari jenjang S-1, ia melanjutkan studi S-2 di Prodi Ilmu Sejarah, Universitas Gadjah Mada. Kini pria yang akrab disapa Dek Uya, bekerja sebagai staff pengajar di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa Prodi Sastra Bali Unud Membuat Kamus Digital, Aplikasikan Pembelajaran di Festival Kamus Digital

Mahasiswa Prodi Sastra Bali Unud Membuat Kamus Digital, Aplikasikan Pembelajaran di Festival Kamus Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co