25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

Kadek Surya Jayadi by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
in Tualang
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) berkolaborasi dengan Prodi Sejarah Universitas Udayana melakukan kegiatan heritage walking tour di Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana yang dilakukan oleh Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) berkolaborasi dengan Prodi Sejarah Universitas Udayana. Secara spontan, terbesit inisiatif untuk merayakan HUT ke-238 Kota Denpasar  dengan kegiatan heritage walking tour. 

Tidak banyak peserta yang terlibat, hanya 13 orang. Selain karena mendadak, peminatnya sedikit karena mereka meragukan cuaca. Sebab belakangan ini cuaca sungguh tidak bersahabat. Meski hari itu cerah memberkati, keraguan justru tetap membayangi.  Jumlah peserta 13 sungguh sial bila dikaitkan dengan kepercayaan. Tapi itu hanyalah mitos, yang justru bagi mitologi lainnya dipandang sebagai nyala semangat yang terjaga. Entah apa dan berapapun itu, inisiatif ini nyatanya tetap terlaksana.

Rurung: Denyut Tersembunyi di Balik Gang Sempit

Heritage walking tour ini justru dimulai dengan menyusuri gang alias rurung dalam bahasa Bali. Gang tidak semata-mata akses jalan kecil, yang sering kali buntu.  Justru kehidupan warga kota Denpasar, berdenyut di sini. Di sinilah terkadang kebuntuan hidup warga kota, menemukan solusinya. Warung kecil yang hanya menjual kopi dan gorengan, yang hanya disajikan di atas meja seadanya, justru menjadi ruang berkeluh kesah warga kota. Di sini mereka tak selamanya menemukan solusi yang jitu, cukup terlampiaskan saja adalah sebuah solusi yang melegakan. Ketika kami menyusuri gang kecil, kami juga menemukan seorang perempuan pemulung yang sedang menelpon keluarganya yang jauh. Dalam bahasa Jawa, sedikit jelas dalam pemahaman kami, bahwa dia sedang memastikan keadaan keluarganya di Jawa.

Beberapa peserta melihat banyaknya bungkus sampah obat cap komik di gang tersebut. Bagi peserta yang awam tentu bingung mengapa bungkus komik bersebaran. Namun bagi peserta yang paham, bungkus itu menjadi salah satu potret kehidupan warga kota yang berusaha menemukan ketenangan secara instan dari penatnya kehidupan.

Gang memang punya keunikan narasi masing-masing. Komedi remeh temehpun muncul dari gang yang kami susuri. Mulai dari gagang pintu yang tidak simetris, hingga pintu belakang rumah penduduk yang dibuat berlapis-lapis layaknya bunker. Seorang peserta nyeletuk “ooh ini double verifikasi pintunya”, mengundang tawa peserta lainnya. Lolongan anjing pun ikut menghiasi perjalanan kami menyusuri gang, entah itu menyapa atau memang kehadiran kami dianggap mengganggu kenyamanannya. Kami pun lekas beranjak pergi dari gang menuju jalan utama kota.

Gadjah Mada: Jejak Akulturasi dan Harum Kopi Tua

 Deru kendaraan menghiasi jalanan Gadjah Mada Kota Denpasar ketika itu. Terbilang ramai dari biasanya. Mungkin ketika itu adalah jamnya pulang kantor sehingga kondisi lalu lintas sedikit lebih padat. Namun krodit itu terhapus oleh pemandangan lampion yang terpasang menghiasi jalan Gadjah Mada. Hiasan tersebut adalah rangkaian dari perayaan Imlek tahun ini.

 

Denpasar adalah kota yang menjadi milik segala etnis. Termasuk etnis Tionghoa, yang memegang peran penting dalam perkembangan kota Denpasar. Sektor ekonomi di kawasan Gadjah Mada ini banyak dikelola etnis tionghoa. Salah satunya adalah toko obat. Warga kota tentu familiar dengan toko obat ini, mulai dari PO’ON, Jaya Abadi, hingga Bersaudara.

 

Tak hanya itu, sektor ekonomi lain yang juga diisi oleh etnis Tionghoa adalah kedai kopi. Sebuah kedai kopi legendaris, menjadi ikon Kota Denpasar. Kedai kopi tersebut bernama Bhineka Djaya yang dikenal dengan merk kopinya Kupu-Kupu Bola Dunia. Namun memori warga kota mengingatnya yang berbeda, yaitu kopi Bian Ek ‘Biang IK’ yang menjadi cikal bakal kedai ini. Tak semua peserta, sekalipun sebagian besar senang menyeruput kopi untuk menemani mereka mengerjakan deadline tugas, mengetahui merk kopi tersebut. Bahkan yang pernah mencicipi kopi tersebut pun, baru mengetahui jika di sana adalah cikal bakalnya.

Tetapi yang jelas, kedai kopi seperti itu kini menjadi kian bertambah jumlahnya, seiring dengan meningkatnya animo publik untuk ngopi.  Bahkan ruko-ruko kawasan Gadjah Mada pun kini banyak yang beralih menjadi kedai kopi. Pilihannya makin banyak, dengan keunggulannya masing-masing. Semuanya bersaing, termasuk dengan pedagang kopi keliling, yang juga tentu punya pangsa pasarnya tersediri.

“Kuda yang Slay”: Merayakan Sejarah dengan Imajinasi Baru

Kegiatan walking tour ini tidak dikemas sebagaimana umumnya, dimana peserta mendengarkan ceramah dari sejarawan maupun tour leader. Dalam kegiatan ini, peserta saling berbagi pengetahuan terhadap situs-situs sejarah yang mereka kunjungi. Yang terpenting juga adalah saling berbagi pengalaman, kesan, juga imajinasi terhadap situs yang mereka kunjungi. Hal ini selaras dengan prinsip-prinsip sejarah publik.

Dari sini setiap peserta belajar untuk mengungkapkan apa yang mereka pahami tentang situs tersebut. “Menjelaskan narasi sejarah langsung di situsnya merupakan tantangan & pengalaman yang baru bagi saya,” demikian ungkap salah satu peserta. Mereka tampak berupaya keluar dari sekat sejarah berbasis teks, yang terasa kaku dan terkesan membosankan bagi kalangan seusia mereka.

Di acara ini mereka berusaha untuk mengeksplorasi, mengobservasi situs-situs sejarah yang mereka kunjungi, mulai dari Pecinan, Titik Nol,Catur Muka, Jam Lonceng, Hotel Inna Bali, Jaya Sabha, Patung Puputan, Museum Bali, SMPN 1 Denpasar, Gedung Merdeka (Kantor LVRI Bali), Gereja Kepundung, Pura Jagatnatha, dan Peken Badung. Itu hanyalah sebagian kecil dari betapa banyak situs sejarah kota Denpasar lainnya yang menarik dan belum mereka kunjungi. 

Dari kunjungan tersebut mereka belajar banyak hal, mulai dari mengingat tahun Peristiwa Puputan Badung, melihat upaya kolonia menata Denpasar dalam sistem kota modern setelah Pasca Puputan Badung, mengenal situs sejarah Puri Denpasar yang hancur setelah Puputan, memahami bagaimana sejarah berkembang menjadi sebuah kota multikultur yang tampak dari gagasan perancangan tempat ibadah, dan sejumlah lainnya. Intinya kegiatan ini memberikan pengetahuan sekaliagus pengalaman baru bagi mereka dalam melihat sejarah, khususnya sejarah kota.

Setiap situs yang mereka kunjungi tak melulu dibaca secara serius. Selalu ada selipan humor yang keluar secara tiba-tiba. Misalnya ketika mereka diorama Perang Puputan Badung, yang salah satunya dioramanya menunjukkan kuda terjatu dalam perang bersama prajuritnya, justru oleh beberapa mahasiswa dimaknai sebagai “kuda yang sedang slay”. Hal ini tentu tidak dibenarkan dalam interpretasi sejarah, namun kenyataan ini justru membawa kita pada dimensi baru dalam melihat multiinterpretasi yang tidak bisa dibungkam dalam sejarah publik. Justru ruang-ruang interpretasi baru ini harus diberikan kesempatan bertumbuh, tidak dibunuh, tentunya diarahkan dengan bacaan-bacaan yang lebih mendalam, sehingga mereka bisa menciptakan satu perspektif baru dalam penulisan sejarah.

Merawat Ingatan pada Keringat yang Menghidupkan Kota

Walking tour ini juga diisi dengan kegiatan pengabdian berupa membagikan sedikit sembako untuk ibu-ibu tukang suwun atau kuli angkut barang belanjaan di Pasar Badung. Tidak banyak yang dibagikan, hanya saja di balik keterbatasan tersebut tersirat pesan, bahwa denyut kota tidak hanya dihidupi oleh orang-orang yang berada, namun juga oleh kaum-kaum marginal. Bahwa memberikan sedikit sembako kepada mereka bukan sebatas kepedulian, namun juga memberikan semangat bahwa keringat mereka juga berarti bagi denyut ekonomi kota Denpasar. Tak hanya tukang suwun, kaum-kaum lainnya seperti tukang sapu, dagang lumpiang, pedagang kopi keliling, pengamen, pedagang canang,  pedagang nasi jinggo, dan sebagainya adalah potret sekaligus denyut kehidupan warga kota Denpasar yang juga seharusnya merayakan HUT 238 Kota Denpasar.

Menutup Kebersamaan dengan Berbuka Puasa ala Kuliner Nak Kodya ‘Nasi Jinggo’

Heritage walking tour yang jumlahnya 13 orang ini sungguh diberkati. Selain tak diguyur hujan, sinar mentari pun tidak bersinar terlalu terik. Seolah mengetahui jika beberapa di antara kami ada sedang menjalani ibadah puasa. Maka heritage walking tour ini juga sebagai ngabuburit menunggu buka puasa. Sekalipun berjalan cukup jauh, sharing pengetahuan seputar situs heritage Kota Denpasar tak membuat lelah terasa terutama bagi mereka yang berpuasa.

Kegiatan heritage walking tour ditutup 30 menit menjelang berbuka puasa. Kami menutup kebersamaan dengan berbuka puasa bersama di sebuah kedai Nasi Jinggo. Sebagaimana diketahui jika Nasi Jinggo adalah salah satu kuliner khas Kota Denpasar yang menghiasi di berbagai sudut kotanya.

Nasi Jinggo ini pun mewakili apa yang kami lakukan dalam kegiatan heritage walking tour, jika kenikmatan tidak melulu dari kemewahan dan semarak. Kesederhanaan pun juga memiliki nikmatnya tersendiri. 13 orang yang terlibat ini, tak punya visi muluk-muluk, mereka hanya ingin lebih mengetahui sejarah dan dinamika kota Denpasar, sebagai salah satu cara menjadi warga kota yang cerdas, smart citizenship. Dirgahayu Kota Denpasar. [T]

Penulis: I Kadek Surya Jayadi bersama Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana
Fotografer: Ryantama Sinuraya, Ni Wayan Revitania Wismadani Putri, I Dewa Made Adnyana Setiarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gajah Mada HeritageHeritageKota DenpasarProdi Sejarah Unudsejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

Next Post

Mahasiswa Prodi Sastra Bali Unud Membuat Kamus Digital, Aplikasikan Pembelajaran di Festival Kamus Digital

Kadek Surya Jayadi

Kadek Surya Jayadi

Lahir di Sempidi 16 Maret 1995. Pernah mengenyam pendidikan di Program Studi Sastra Bali Universitas Udayana. Setamat dari jenjang S-1, ia melanjutkan studi S-2 di Prodi Ilmu Sejarah, Universitas Gadjah Mada. Kini pria yang akrab disapa Dek Uya, bekerja sebagai staff pengajar di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa Prodi Sastra Bali Unud Membuat Kamus Digital, Aplikasikan Pembelajaran di Festival Kamus Digital

Mahasiswa Prodi Sastra Bali Unud Membuat Kamus Digital, Aplikasikan Pembelajaran di Festival Kamus Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co