14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

Kadek Surya Jayadi by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
in Tualang
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) berkolaborasi dengan Prodi Sejarah Universitas Udayana melakukan kegiatan heritage walking tour di Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana yang dilakukan oleh Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) berkolaborasi dengan Prodi Sejarah Universitas Udayana. Secara spontan, terbesit inisiatif untuk merayakan HUT ke-238 Kota Denpasar  dengan kegiatan heritage walking tour. 

Tidak banyak peserta yang terlibat, hanya 13 orang. Selain karena mendadak, peminatnya sedikit karena mereka meragukan cuaca. Sebab belakangan ini cuaca sungguh tidak bersahabat. Meski hari itu cerah memberkati, keraguan justru tetap membayangi.  Jumlah peserta 13 sungguh sial bila dikaitkan dengan kepercayaan. Tapi itu hanyalah mitos, yang justru bagi mitologi lainnya dipandang sebagai nyala semangat yang terjaga. Entah apa dan berapapun itu, inisiatif ini nyatanya tetap terlaksana.

Rurung: Denyut Tersembunyi di Balik Gang Sempit

Heritage walking tour ini justru dimulai dengan menyusuri gang alias rurung dalam bahasa Bali. Gang tidak semata-mata akses jalan kecil, yang sering kali buntu.  Justru kehidupan warga kota Denpasar, berdenyut di sini. Di sinilah terkadang kebuntuan hidup warga kota, menemukan solusinya. Warung kecil yang hanya menjual kopi dan gorengan, yang hanya disajikan di atas meja seadanya, justru menjadi ruang berkeluh kesah warga kota. Di sini mereka tak selamanya menemukan solusi yang jitu, cukup terlampiaskan saja adalah sebuah solusi yang melegakan. Ketika kami menyusuri gang kecil, kami juga menemukan seorang perempuan pemulung yang sedang menelpon keluarganya yang jauh. Dalam bahasa Jawa, sedikit jelas dalam pemahaman kami, bahwa dia sedang memastikan keadaan keluarganya di Jawa.

Beberapa peserta melihat banyaknya bungkus sampah obat cap komik di gang tersebut. Bagi peserta yang awam tentu bingung mengapa bungkus komik bersebaran. Namun bagi peserta yang paham, bungkus itu menjadi salah satu potret kehidupan warga kota yang berusaha menemukan ketenangan secara instan dari penatnya kehidupan.

Gang memang punya keunikan narasi masing-masing. Komedi remeh temehpun muncul dari gang yang kami susuri. Mulai dari gagang pintu yang tidak simetris, hingga pintu belakang rumah penduduk yang dibuat berlapis-lapis layaknya bunker. Seorang peserta nyeletuk “ooh ini double verifikasi pintunya”, mengundang tawa peserta lainnya. Lolongan anjing pun ikut menghiasi perjalanan kami menyusuri gang, entah itu menyapa atau memang kehadiran kami dianggap mengganggu kenyamanannya. Kami pun lekas beranjak pergi dari gang menuju jalan utama kota.

Gadjah Mada: Jejak Akulturasi dan Harum Kopi Tua

 Deru kendaraan menghiasi jalanan Gadjah Mada Kota Denpasar ketika itu. Terbilang ramai dari biasanya. Mungkin ketika itu adalah jamnya pulang kantor sehingga kondisi lalu lintas sedikit lebih padat. Namun krodit itu terhapus oleh pemandangan lampion yang terpasang menghiasi jalan Gadjah Mada. Hiasan tersebut adalah rangkaian dari perayaan Imlek tahun ini.

 

Denpasar adalah kota yang menjadi milik segala etnis. Termasuk etnis Tionghoa, yang memegang peran penting dalam perkembangan kota Denpasar. Sektor ekonomi di kawasan Gadjah Mada ini banyak dikelola etnis tionghoa. Salah satunya adalah toko obat. Warga kota tentu familiar dengan toko obat ini, mulai dari PO’ON, Jaya Abadi, hingga Bersaudara.

 

Tak hanya itu, sektor ekonomi lain yang juga diisi oleh etnis Tionghoa adalah kedai kopi. Sebuah kedai kopi legendaris, menjadi ikon Kota Denpasar. Kedai kopi tersebut bernama Bhineka Djaya yang dikenal dengan merk kopinya Kupu-Kupu Bola Dunia. Namun memori warga kota mengingatnya yang berbeda, yaitu kopi Bian Ek ‘Biang IK’ yang menjadi cikal bakal kedai ini. Tak semua peserta, sekalipun sebagian besar senang menyeruput kopi untuk menemani mereka mengerjakan deadline tugas, mengetahui merk kopi tersebut. Bahkan yang pernah mencicipi kopi tersebut pun, baru mengetahui jika di sana adalah cikal bakalnya.

Tetapi yang jelas, kedai kopi seperti itu kini menjadi kian bertambah jumlahnya, seiring dengan meningkatnya animo publik untuk ngopi.  Bahkan ruko-ruko kawasan Gadjah Mada pun kini banyak yang beralih menjadi kedai kopi. Pilihannya makin banyak, dengan keunggulannya masing-masing. Semuanya bersaing, termasuk dengan pedagang kopi keliling, yang juga tentu punya pangsa pasarnya tersediri.

“Kuda yang Slay”: Merayakan Sejarah dengan Imajinasi Baru

Kegiatan walking tour ini tidak dikemas sebagaimana umumnya, dimana peserta mendengarkan ceramah dari sejarawan maupun tour leader. Dalam kegiatan ini, peserta saling berbagi pengetahuan terhadap situs-situs sejarah yang mereka kunjungi. Yang terpenting juga adalah saling berbagi pengalaman, kesan, juga imajinasi terhadap situs yang mereka kunjungi. Hal ini selaras dengan prinsip-prinsip sejarah publik.

Dari sini setiap peserta belajar untuk mengungkapkan apa yang mereka pahami tentang situs tersebut. “Menjelaskan narasi sejarah langsung di situsnya merupakan tantangan & pengalaman yang baru bagi saya,” demikian ungkap salah satu peserta. Mereka tampak berupaya keluar dari sekat sejarah berbasis teks, yang terasa kaku dan terkesan membosankan bagi kalangan seusia mereka.

Di acara ini mereka berusaha untuk mengeksplorasi, mengobservasi situs-situs sejarah yang mereka kunjungi, mulai dari Pecinan, Titik Nol,Catur Muka, Jam Lonceng, Hotel Inna Bali, Jaya Sabha, Patung Puputan, Museum Bali, SMPN 1 Denpasar, Gedung Merdeka (Kantor LVRI Bali), Gereja Kepundung, Pura Jagatnatha, dan Peken Badung. Itu hanyalah sebagian kecil dari betapa banyak situs sejarah kota Denpasar lainnya yang menarik dan belum mereka kunjungi. 

Dari kunjungan tersebut mereka belajar banyak hal, mulai dari mengingat tahun Peristiwa Puputan Badung, melihat upaya kolonia menata Denpasar dalam sistem kota modern setelah Pasca Puputan Badung, mengenal situs sejarah Puri Denpasar yang hancur setelah Puputan, memahami bagaimana sejarah berkembang menjadi sebuah kota multikultur yang tampak dari gagasan perancangan tempat ibadah, dan sejumlah lainnya. Intinya kegiatan ini memberikan pengetahuan sekaliagus pengalaman baru bagi mereka dalam melihat sejarah, khususnya sejarah kota.

Setiap situs yang mereka kunjungi tak melulu dibaca secara serius. Selalu ada selipan humor yang keluar secara tiba-tiba. Misalnya ketika mereka diorama Perang Puputan Badung, yang salah satunya dioramanya menunjukkan kuda terjatu dalam perang bersama prajuritnya, justru oleh beberapa mahasiswa dimaknai sebagai “kuda yang sedang slay”. Hal ini tentu tidak dibenarkan dalam interpretasi sejarah, namun kenyataan ini justru membawa kita pada dimensi baru dalam melihat multiinterpretasi yang tidak bisa dibungkam dalam sejarah publik. Justru ruang-ruang interpretasi baru ini harus diberikan kesempatan bertumbuh, tidak dibunuh, tentunya diarahkan dengan bacaan-bacaan yang lebih mendalam, sehingga mereka bisa menciptakan satu perspektif baru dalam penulisan sejarah.

Merawat Ingatan pada Keringat yang Menghidupkan Kota

Walking tour ini juga diisi dengan kegiatan pengabdian berupa membagikan sedikit sembako untuk ibu-ibu tukang suwun atau kuli angkut barang belanjaan di Pasar Badung. Tidak banyak yang dibagikan, hanya saja di balik keterbatasan tersebut tersirat pesan, bahwa denyut kota tidak hanya dihidupi oleh orang-orang yang berada, namun juga oleh kaum-kaum marginal. Bahwa memberikan sedikit sembako kepada mereka bukan sebatas kepedulian, namun juga memberikan semangat bahwa keringat mereka juga berarti bagi denyut ekonomi kota Denpasar. Tak hanya tukang suwun, kaum-kaum lainnya seperti tukang sapu, dagang lumpiang, pedagang kopi keliling, pengamen, pedagang canang,  pedagang nasi jinggo, dan sebagainya adalah potret sekaligus denyut kehidupan warga kota Denpasar yang juga seharusnya merayakan HUT 238 Kota Denpasar.

Menutup Kebersamaan dengan Berbuka Puasa ala Kuliner Nak Kodya ‘Nasi Jinggo’

Heritage walking tour yang jumlahnya 13 orang ini sungguh diberkati. Selain tak diguyur hujan, sinar mentari pun tidak bersinar terlalu terik. Seolah mengetahui jika beberapa di antara kami ada sedang menjalani ibadah puasa. Maka heritage walking tour ini juga sebagai ngabuburit menunggu buka puasa. Sekalipun berjalan cukup jauh, sharing pengetahuan seputar situs heritage Kota Denpasar tak membuat lelah terasa terutama bagi mereka yang berpuasa.

Kegiatan heritage walking tour ditutup 30 menit menjelang berbuka puasa. Kami menutup kebersamaan dengan berbuka puasa bersama di sebuah kedai Nasi Jinggo. Sebagaimana diketahui jika Nasi Jinggo adalah salah satu kuliner khas Kota Denpasar yang menghiasi di berbagai sudut kotanya.

Nasi Jinggo ini pun mewakili apa yang kami lakukan dalam kegiatan heritage walking tour, jika kenikmatan tidak melulu dari kemewahan dan semarak. Kesederhanaan pun juga memiliki nikmatnya tersendiri. 13 orang yang terlibat ini, tak punya visi muluk-muluk, mereka hanya ingin lebih mengetahui sejarah dan dinamika kota Denpasar, sebagai salah satu cara menjadi warga kota yang cerdas, smart citizenship. Dirgahayu Kota Denpasar. [T]

Penulis: I Kadek Surya Jayadi bersama Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana
Fotografer: Ryantama Sinuraya, Ni Wayan Revitania Wismadani Putri, I Dewa Made Adnyana Setiarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gajah Mada HeritageHeritageKota DenpasarProdi Sejarah Unudsejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

Next Post

Mahasiswa Prodi Sastra Bali Unud Membuat Kamus Digital, Aplikasikan Pembelajaran di Festival Kamus Digital

Kadek Surya Jayadi

Kadek Surya Jayadi

Lahir di Sempidi 16 Maret 1995. Pernah mengenyam pendidikan di Program Studi Sastra Bali Universitas Udayana. Setamat dari jenjang S-1, ia melanjutkan studi S-2 di Prodi Ilmu Sejarah, Universitas Gadjah Mada. Kini pria yang akrab disapa Dek Uya, bekerja sebagai staff pengajar di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Related Posts

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa Prodi Sastra Bali Unud Membuat Kamus Digital, Aplikasikan Pembelajaran di Festival Kamus Digital

Mahasiswa Prodi Sastra Bali Unud Membuat Kamus Digital, Aplikasikan Pembelajaran di Festival Kamus Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co