2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Jaswanto by Jaswanto
August 11, 2025
in Tualang
Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Museum H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar,
menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”

—Pesan H.O.S Tjokroaminoto, tokoh Sarikat Islam, kepada murid-muridnya

—

DI teras rumah kecil di Gang Peneleh VII, Surabaya, Musso dan Semaoen sedang mendaras Karl Marx. Sementara Kartosoewiryo sibuk mendalami pikiran tokoh-tokoh Islam modernis setelah menyelesaikan tugas-tugas administrasi dari sang guru, Soekarno muda mencuri-curi pandang pada sosok Siti Oetari, gadis manis anak pemilik rumah—yang tak lain bapak kos dan gurunya sendiri, Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto.

Ya, Musso, Semaoen, Soekarno, dan Kartosoewirjo, juga Alimin, Darsono, Abikoesno, dan beberapa siswa—yang namanya tidak terlalu menonjol dalam lembar sejarah perjuangan Indonesia—yang sekolah di Hogere Burger School (HBS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Middlebare Technise School (MTS), maupun Nedherland Indische Artschen School (NIAS) pernah tinggal bersama di rumah Tjokroaminoto sebelum nama-nama mereka dikenal dalam sejarah pergerakan ideologi di Indonesia pada abad 20. Pada 1918, sekitar 18-20 orang yang indekos di rumah Tjokroaminoto.

Museum (bekas rumah) H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tentu saja suasana di atas sekadar rekaan saya saat kali pertama menginjakkan kaki di rumah Tjokroaminoto di daerah Peneleh, Genteng, Surabaya, yang kini sudah beralihfungsi menjadi museum itu. Saya tak dapat membayangkan adegan lain kecuali yang seperti itu. Saya bukan Garin Nugroho yang mampu membuat adegan anak-anak kos di rumah Tjokroaminoto makan sambil berdiri di teras depan dan berbincang soal nasib buruh Stasiun Gubeng. Atau adegan Mbok Tun yang terus saja ngomel karena banyak orang bertamu ke kediaman Tuan Tjokro—dan menghabiskan banyak bubuk kopi. Dalam film Guru Bangsa (2015), tampaknya Garin lebih banyak berimanijasi daripada membaca buku sejarah.

Tetapi imanjinasi saya buyar seketika setelah melihat seorang lelaki—saya tidak tahu apakah ia termasuk petugas museum atau tidak—yang duduk di kursi dekat pintu masuk bermain judi online dengan santai—dan cuek saja, tak peduli dengan sekitarnya. Seketika saya merasa masuk ke sebuah kafe dengan dekorasi zaman dulu alih-alih cagar budaya.

Potret H.O.S Tjokroaminoto di Museum H.O.S Tjokroaminoto Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Zaman berlari seperti kereta di stasiun-stasiun di Surabaya. Kini sudah tak ada lagi siswa yang indekos di rumah kecil di gang sempit di Peneleh VII itu. Semua tinggal gambar-gambar monokrom dalam pigura yang tertempel di dinding-dingin rumah—yang diam, dan tak lagi dapat memperjuangkan nasib buruh di Perak, Rungkut, atau Margomulyo. Kini semua tinggal menyisakan ingatan yang ngendon di sedikit kepala orang. Ya, saya kira tak banyak orang yang tahu jejak Tuan Tjokro dan anak-anak kosnya di Surabaya—apalagi mereka yang dicap sebagai “perusak” pikiran bangsa: para tokoh Partai Komunis Indonesia.

***

“Tahun 2017 baru diresmikan menjadi museum, Mas, zamannya Bu Risma,” ucap seorang petugas museum yang masih muda dengan percaya diri. Ia seperti “harus” menyebut nama Risma sebagai penegasan siapa yang “paling” berjasa atas hadirnya museum ini. Saya tersenyum, tak lanjut bertanya. Saya sibuk mengamati foto hitam putih Tjokroaminoto dengan kumis khasnya. Foto itu tercantel di dinding dalam dekat pintu masuk. Ah, kenapa tiba-tiba ada Raza Rahardian dalam kepalaku? Saya membatin.

Saya memasuki museum berwajah klasik—sentuhan khas Jawa era abad 19 hingga awal abad 20—ini dengan perasaan yang entah. Bayangan saya ke mana-mana. Saya membayangkan Tuan Tjokro sedang duduk di kursi kayu (replika) yang terletak di ruang tamu dan berbincang dengan Haji Samanhoedi dan Haji Agus Salim, juga KH. Ahmad Dahlan. Saya juga membayangkan bagaimana sikap Tjokro saat Semaoen, Darsono, dan Musso menentang cara-cara kooperatif volksraad dan memilih cara yang lebih radikal.

Foto Kongres Sarekat Islam pada tahun 1913. Koleksi Museum H.O.S Tjokroaminoto | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Bayangan saya teralihkan oleh dua sosok perempuan muda yang bisik-bisik saat melihat foto hitam putih kongres Sarekat Islam (SI) pada 1913. “Nggak ada yang senyum, loh,” bisik perempuan berkerudung itu kepada kawannya. Lalu mereka cekikikan. Hampir saja saya ikut tertawa kecil. Ya, di dinding-dinding rumah kecil ini, terpajang banyak foto, khususnya yang berkaitan dengan hikayat hidup sang Guru Bangsa, Raja Tanpa Mahkota. Narasi-narasi pendek dari mulai Tjokro kecil, sekolah, menikah, berpindah dari Ponorogo ke kota lain sampai ke Surabaya—yang juga bisa kita baca di internet—dicetak di atas sebidang berwarna hitam yang diletakkan di bawah foto. Saya capek membaca tulisan-tulisan itu.

Selain memajang berbagai foto, museum ini juga menampilkan tiga lembar surat kabar yang pernah dikelola H.O.S Tjokroaminoto—ya, hanya tiga lembar. Fadjar Asia yang tak ada keterangan terbit, Oetoesan Hindia edisi (kalau saya tidak salah baca) 23 November 1914 (surat kabar ini diterbitkan pertama kali pada Desember 1912 di Surabaya), dan Bandera Islam edisi 8 Agustus 1927.

Pada halaman pertama Fadjar Asia terdapat pengumuman “Cursus Partij S.I. Indonesia Di Betawi” dengan moeballigh: H.O.S. Tjokroaminoto. Di bawah informasi tersebut terbit sebuah artikel panjang berjudul “Doenia Sebeloem Nabi Moehammad”. Sedangkan dalam koran Bandera Islam yang dipajang, di sudut kanan halaman pertama, dalam kotak kecil, terselip iklan yang menarik. Advertensi itu berbunyi: “Baroe ada Fabric Tionghoa: BIKIN.OEBIN—dengan kata-kata promosi—PESENAN Banjak, sedikit DI SAMBOET, PESENAN dalem, loear Kota DIKIRIM. Kepoenjaannja orang TIONGHOA. Dioeroes oleh orang TIONGHOA. Dan ditutup dengan: Pake doeloe nanti taoe. Pabrik ini sepertinya bediri di Bandoeng—eh, Bandung.

Tiga surat kabar yang pernah dikelola H.O.S Tjokroaminoto. Koleksi Museum H.O.S Tjokroaminoto | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sudut ruangan lain, ada pakaian yang dikenakan Soekarno saat mondok di rumah Pak Tjokro dan sekolah di HBS Surabaya. Saat itu ternyata Soekarno muda memakai blangkon Jogja, kemeja arrow putih dengan dasi kupu-kupu beserta jas modern warna ivory. Sedangkan bagian bawah ia menggunakan jarik motif parang barong dan berselop. Tak hanya ada baju Bung Karno, tapi juga ada baju yang dikenakan Tjokroaminoto saat berbicara di kongres. Seperti Soekarno, Tjokro juga mengenakan blangkon Jogja. Tapi Tjokro tak menggunakan jas, melainkan beskap Jogja lengkap dengan jarik motif parang kusumo cap Grudo dan selop.

Dan ini yang ikonik: kamar pribadi Tjokroaminoto dan sang istri Suharsikin. Sebuah ranjang kecil dengan seprai dan kelambu putih. Di sisinya terdapat meja rias dan lemari kuno yang menambah kesan vintage. Selain itu, pengunjung juga dapat menengok loteng rumah yang dulu disulap menjadi kamar kos bersama. Di ruangan loteng itu terdapat tikar pandan yang dulu dijadikan alas tidur Soekarno dan beberapa tokoh yang pernah indekos di rumah Pak Tjokro.

Namun, tak ada buku atau sekadar arsip tulisan Pak Tjokro di sana; tak ada Islam dan Sosialisme cetakan lama maupun baru—meski tedapat segelintir buku yang dalam keterangan merupakan koleksi pribadi Pak Tjokro dan beberapa buku biografi singkat anak-anak kos di Peneleh yang bisa dibaca pengunjung. Mungkin buku memang tak terlalu penting bagi kurator museum H.O.S Tjokroaminoto.

***

Dulu, setahu saya, rumah kecil ini merupakan pusat dari semua hal yang nanti berkembang—dan boleh jadi menjadi tonggak—dalam sejarah pergerakan nasional di Indonesia. Julukan “dapur nasionalisme” dari Soekarno untuk rumah ini memang tidak berlebihan, karena di tempat inilah Tuan Tjokro mendidik putra-putra terbaik bangsa.

Anak didiknya seperti Soekarno, sang proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia dengan paham nasionalismenya (PNI); Semaoen, Darsono, Alimin, Musso, tokoh Marxis pendiri sekaligus penggerak Partai Komunis Indonesia (PKI); Abikoesno tokoh Piagam Jakarta (Masyumi); dan Kartosuwiryo pendiri Negara Islam Indonesia (NII), adalah bukti bahwa Tjokroaminoto—meminjam perkataan Muhidin M. Dahlan—merupakan “leluhur” dari tiga aliran politik besar, yakni Nasionalisme, Komunisme, dan Islamisme. Dalam sejarah, belakangan ketiga aliran ini saling membunuh satu sama lain.

Kamar pribadi H.O.S Tjokroaminoto dan sang istri Suharsikin | Foto: tatkala.co/Jaswanto

H.O.S Tjokroaminoto adalah tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Orang Belanda memberinya gelar De Ongekroonde Koning van Java—Raja Jawa Tanpa Mahkota—meski ia menanggalkan gelar “Rande Mas”-nya dari nama depannya. Ya, dalam darahnya mengalir kebangsawanan. Dari jalur neneknya mengalir darah Sri Sesuhunan Pakubuwono II.

Pak Tjokro sangat piawai dalam menulis dan mengelola surat kabar, pun memiliki kemampuan orasi di atas mimbar yang dapat membakar massa. Dua kemampuan itulah yang menjadi magnet orang-orang mengikuti dan meneladaninya. Pak Tjokro berpesan kepada murid-muridnya, “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”

Pada 1912, Pak Tjokro berhasil “membuang” kata “Dagang” dari nama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang pertama kali dibentuk oleh Tirto Adi Suryo menjadi Sarekat Islam (SI) yang membikin pucat Budi Oetomo. Dengan triloginya yang masyhur—setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepintar-pintar siasat—Pak Tjokro memimpin SI dan menjadikanya organisasi terbesar saat itu.

Suharsikin, istri H.O.S Tjokroaminoto. Koleksi Museum H.O.S Tjokroaminoto | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tahun 1912, anggota Sarekat Islam berjumlah 60.000 orang. Tahun 1914, anggota SI mencapai 400.000 orang. Tahun 1916, anggota SI berjumlah 860.000 orang, naik 100 persen, meski pada 1917 mengalami sedikit penurunan menjadi 825.000 orang. Selanjutnya, tahun 1918 SI mengalami penurunan anggota yang sangat drastis menjadi 450.000. Tetapi, tahun 1919 anggota SI tembus 2 juta 500 ribu orang. Sampai sini, bisa dikatakan bahwa Sarekat Islam merupakan organisasi pergerakan terbesar yang misi utamanya zelfbestuur—menciptakan pemerintahan sendiri. Jelas, Sarekat Islam bukan perahu kecil saat itu.

Dalam sebuah Kongres Central Sarekat Islam yang digelar pada 1917 di Batavia, secara tegas Tjokroaminoto mengatakan, “Yang kita inginkan adalah sama rasa, terlepas dari perbedaan agama. Central Sarekat Islam ingin mengangkat persamaan semua ras di Hindia sedemikian rupa sehingga mencapai (tahap) pemerintahan sendiri. Central Sarekat Islam menentang kapitalisme. Central Sarekat Islam tidak akan mentolerir dominasi manusia terhadap manusia lainnya. Central Sarekat Islam akan bekerja sama dengan siapa saja yang mau bekerja untuk kepentingan ini”.

***

H.O.S. Tjokroaminoto banyak memperkenalkan pemikiran modern sebagai kerangka berpikir dalam mengupas ajaran Islam, tanpa mengurangi autentisitas ajaran-ajaran Islam. Dengan kata lain, Islam merupakan landasan, isi, dan tujuan dari perjuangannya, sedangkan pemikiran modern digunakan sebagai metode dan cara dalam merumuskan kembali ajaran-ajaran Islam tersebut yang dikenal dengan istilah tajdīd ‘ashri, misalnya Pan Islamisme, Nasionalisme, Sosialisme, Demokrasi, dan lain-lain.

Pikiran penting Pak Tjokro tertuang dalam buku Islam dan Sosialisme—yang awalnya hanya sebuah artikel yang terbit di Soeara Boemiputera pada September 1922. Dalam tulisan tersebut, Tjokroaminoto mulai mendasarkan pandangan sosialismenya pada nilai-nilai Islam. Selain itu, ia juga menunjukkan pandangannya dalam sebuah brosur berjudul “Sosialisme di dalam Islam”. Brosur ini dibuat sebagai upaya membentuk opini publik, khususnya untuk mengembalikan para anggota Sl yang telah terjangkit paham komunisme.

Dalam tulisan itu, Tjokroaminoto menyampaikan bahwa Islam juga mengandung nilai-nilai sosialisme. Menurutnya, kesamaan sosialisme Islam dengan sosialisme ala komunis terletak pada tiga hal, yaitu persamaan, persaudaraan, dan kemerdekaan. Hal itulah yang menjadi landasan pemikiran Tjokroaminoto untuk menyatukan kembali berbagai pertentangan yang ada—meski pada akhirnya, beberapa anggota Sarekat Islam memilih keluar dan mendirikan Partai Komunis Indonesia (yang juga disebut Sarekat Islam Merah).

Kamar bersama di loteng rumah H.O.S. Tjokroaminoto. Soekarno dan beberapa tokoh lainnya pernah tidur di loteng ini | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Islam dan Sosialisme terbit pertama kali dalam bentuk buku pada 1924, dua tahun sebelum peristiwa pemberontakan PKI pertama atas Hindia Belanda. Dalam buku ini, tampak jelas Tjokro berusaha sekuat-tenaga untuk mengakrabkan paham solialisme dan Islam—dan ia mengajarkan pemahaman tersebut ke banyak tempat di Hindia. Menurut kesaksian Buya Hamka—yang pernah mengikuti pengajian Pak Tjokro tentang Islam dan sosialisme—ia mengajar dengan penuh semangat.

Sang Guru, kata Hamka, menguasai betul materi Islam dan sosialisme. Tjokro bisa menerangkan sosialisme dari segi Islam berdasarkan ayat-ayat Quran dan hadis Nabi lengkap dengan perawinya. Kata Hamka, dalam pengajiannya, Tjokro tidak sekalipun mencela Karl Marx, Friedrich Engels, malahan berterima kasih kepada keduanya. Menurut Tjokro, pikiran Marx dan Engels—materialisme, dialektika, historis—justru memperjelas sosialisme yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Umat Islam, kata Tjokro, adalah orang yang sangat cakap dalam melakukan kehendak sosialisme yang sejati.

Saya keluar museum dengan sebuah pertanyaan. Apakah membaca buku Islam dan Sosialisme—atau mengenal sosok penulisnya—masih penting bagi orang-orang Surabaya? Bangunan-bangunan modern berdiri megah di setiap sudut Surabaya tanpa inskripsi, seakan menegaskan bahwa modernitas tak membutuhkan masa lalu untuk menancapkan legitimasinya. Sedangkan di tengah kehidupan yang serba cepat, penuh propaganda, apatis, dan pragmatis ini, belajar sejarah rasanya terkesan menambah beban hidup saja.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Berburu “Harta Karun” di Pasar Maling Surabaya
Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa
Melihat Wajah Dolly, Kini
Saat Malam Jatuh di Surabaya Barat
Tags: AliminH.O.S TjokroaminotoIslamismeKomunismeMussoSarekat IslamSemaoenSoekarnoSosialismeSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis

Next Post

Boy Candra, Tidak Ada Writers Block dalam Menulis, yang Ada Hanya Malas

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Boy Candra, Tidak Ada Writers Block dalam Menulis, yang Ada Hanya Malas

Boy Candra, Tidak Ada Writers Block dalam Menulis, yang Ada Hanya Malas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co