4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 11, 2025
in Esai
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

SELAMA bertahun-tahun, anak muda Bali sering mendapat cap apatis. Sebuah label yang seolah melekat tanpa ampun, diwariskan dari generasi ke generasi oleh cara pandang lama. Kata “apatis” di sini bukan hanya berarti diam, tetapi dianggap tidak peduli, tak terlibat, atau malas berurusan dengan urusan sosial-politik.

Sumber stigma ini jelas, ukuran yang dipakai adalah ukuran lama; seperti apakah mereka hadir di forum formal, menulis artikel opini di media massa, atau ikut serta dalam diskusi-diskusi akademik.

Namun, pandangan ini tak lagi cocok membaca generasi hari ini. Mereka tidak hilang dari medan sosial, mereka hanya berpindah gelanggang. Dunia mereka kini berada di layar ponsel, di kolom komentar, di video satu menit yang bisa menembus ribuan mata dalam hitungan jam.

Perjuangan mereka tidak selalu berbentuk demonstrasi fisik atau tulisan panjang yang terbit di surat kabar, tetapi bisa berupa sindiran tajam yang viral, dan justru menjangkau audiens lebih luas dibandingkan media konvensional.

Kritik dari Layar Ponsel

Salah satu bukti paling segar datang dari akun Instagram @balinggih. Dalam sebuah video yang mencuri perhatian publik, Balinggih mengangkat fenomena yang mereka sebut sebagai “pejabat-influencer” di Bali. Sindirannya jelas, banyak pejabat yang lebih sibuk berbicara di media sosial ketimbang turun langsung membantu masyarakat.

Mereka menyebutkan bahwa dari DPD hingga DPRD, dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, selalu saja ada pejabat yang kerjanya lebih mirip pembuat konten ketimbang pelayan publik.

“Lima tahun sekali baru turun ke masyarakat, pas mau pemilu. Sisanya? Foto, video, pencitraan. Kan lucu ya,” begitu kira-kira intinya.

Balinggih tidak sekadar menertawakan, mereka memberikan peringatan serius, bahwa jika pola ini berlanjut, generasi muda Bali akan kehilangan minat untuk masuk ke ranah politik. Dan ketika tidak ada anak muda yang mau memimpin, siapa yang akan memimpin Bali? Masa orang luar?

Kritik ini diakhiri dengan saran konkret yakni pejabat harus memperbaiki gaya komunikasi publiknya, bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi, serta menampilkan kinerja nyata—bukan sekadar citra.

Generasi intelektual Bali pada masa lalu cenderung memilih medium yang “berwibawa” di mata publik kala itu, yakni, tulisan panjang di media massa, forum diskusi formal, atau seminar akademik. Pendekatan ini lahir dari zaman di mana akses publik terbatas, dan kredibilitas diukur dari panjangnya argumentasi tertulis.

Namun, generasi sekarang tumbuh di tengah banjir informasi. Mereka paham bahwa perhatian publik adalah sumber daya langka. Maka, mereka memilih menyampaikan pesan dengan cara yang cepat, ringkas, dan mudah diakses. Video singkat, meme, infografis, atau podcast santai menjadi senjata utama.

Pergeseran medium ini sering disalahartikan sebagai penurunan kualitas kritik. Padahal, jika diukur dari ketajaman isi, kritik dalam video Balinggih sama saja bobotnya dengan sebuah esai atau opini di media nasional, bedanya hanya pada format dan kanal distribusi. Kritik mereka tidak menunggu pembaca koran di pagi hari, melainkan tiba di ponsel para pejabat pada detik yang sama ketika video itu diunggah.

Mereka Bukan Satu-Satunya

Di Bali, suara perubahan tidak selalu datang dari ruang rapat resmi atau podium pemerintahan. Kadang, ia lahir dari unggahan di media sosial, dari musik yang lantang, atau dari aksi yang sederhana namun berani. JRX—nama yang selalu memancing pro-kontra—tetap setia memanfaatkan platformnya untuk menyuarakan isu-isu sosial dan politik.

Di sudut lain dunia maya, BaleBengong menjadi tempat berkumpulnya jurnalis warga. Di sini, orang Bali, termasuk generasi muda, bebas bercerita dan mengkritisi. Isu pariwisata, lingkungan, hingga kebijakan publik dibicarakan tanpa takut dibungkam.

Ada pula ForBali, gerakan yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Mereka berjuang dengan cara yang kreatif yaitu menggabungkan visual memikat, musik yang menghentak, dan aksi langsung di lapangan.

BEM Universitas Udayana pun tak tinggal diam. Kritik mereka begitu nyaring di media sosial, sampai-sampai akun resminya pernah diretas, tanda bahwa suara mereka benar-benar mengusik pihak tertentu.

Sementara itu, Carma Citrawati memilih jalur budaya. Ia menghidupkan kembali lontar melalui digitalisasi, membuat warisan leluhur bisa diakses siapa saja, bahkan dari layar ponsel.

Dari isu lingkungan, Melati dan Isabel Wijsen mengangkat Bali ke panggung dunia. Dua bersaudara ini mengajak semua orang mengucapkan “Bye Bye” pada plastik sekali pakai, pesan sederhana yang menggema hingga ke banyak negara.

Semua ini adalah potret anak muda Bali yang tidak sekadar menonton perubahan, tetapi menciptakannya. Mereka bergerak di jalur yang mereka kuasai, dengan suara yang tak bisa diabaikan.

Tantangan bagi Pejabat

Kritik yang dilontarkan anak muda ini seharusnya menjadi alarm bagi para pejabat. DPD dituntut menyuarakan kepentingan Bali di pusat, bukan sekadar mengumbar foto kegiatan. DPRD diharapkan fokus membahas kebijakan dan peraturan, bukan mengatur sudut kamera. Para kepala daerah diingatkan untuk hadir di lapangan, bukan hanya di layar.

Jika anak muda bisa beradaptasi dengan cara baru menyampaikan kritik, pejabat pun harus beradaptasi dengan cara baru menunjukkan kerja. Mengabaikan suara-suara ini berarti mengabaikan denyut nadi publik yang hidup di ruang digital.

Menghapus stigma apatis berarti mengakui bahwa perjuangan kini punya wajah baru. Generasi terdahulu memegang pena, generasi kini memegang ponsel. Keduanya punya tujuan yang sama yakni menjaga agar politik tidak kehilangan arah, memastikan pemimpin tetap bekerja untuk rakyat.

Maka, daripada terus meremehkan anak muda yang beraksi di Instagram, TikTok, atau YouTube, lebih bijak jika kita melihat isi pesannya. Apakah kritik mereka valid? Apakah ide mereka bermanfaat? Kalau iya, maka itulah bentuk kepedulian yang sesungguhnya. Anak muda Bali tidak apatis. Mereka adaptif. Mereka paham medan yang mereka hadapi, dan tahu betul bahwa kecepatan informasi adalah kunci. Medium boleh berganti, tetapi semangatnya tetap, Bali harus dijaga oleh orang-orang yang mau bekerja, bukan hanya bergaya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
I Wayan Suardika dan Sastra: Rumah yang Menghidupi, Bukan Sekadar Puisi
Niti Sastra untuk Giri Prasta
Tags: anak mudabaligenerasi muda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kemerdekaan yang Mendidik: Menyongsong Indonesia Emas dengan Jiwa Taman Siswa

Next Post

Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co