6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 11, 2025
in Esai
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

SELAMA bertahun-tahun, anak muda Bali sering mendapat cap apatis. Sebuah label yang seolah melekat tanpa ampun, diwariskan dari generasi ke generasi oleh cara pandang lama. Kata “apatis” di sini bukan hanya berarti diam, tetapi dianggap tidak peduli, tak terlibat, atau malas berurusan dengan urusan sosial-politik.

Sumber stigma ini jelas, ukuran yang dipakai adalah ukuran lama; seperti apakah mereka hadir di forum formal, menulis artikel opini di media massa, atau ikut serta dalam diskusi-diskusi akademik.

Namun, pandangan ini tak lagi cocok membaca generasi hari ini. Mereka tidak hilang dari medan sosial, mereka hanya berpindah gelanggang. Dunia mereka kini berada di layar ponsel, di kolom komentar, di video satu menit yang bisa menembus ribuan mata dalam hitungan jam.

Perjuangan mereka tidak selalu berbentuk demonstrasi fisik atau tulisan panjang yang terbit di surat kabar, tetapi bisa berupa sindiran tajam yang viral, dan justru menjangkau audiens lebih luas dibandingkan media konvensional.

Kritik dari Layar Ponsel

Salah satu bukti paling segar datang dari akun Instagram @balinggih. Dalam sebuah video yang mencuri perhatian publik, Balinggih mengangkat fenomena yang mereka sebut sebagai “pejabat-influencer” di Bali. Sindirannya jelas, banyak pejabat yang lebih sibuk berbicara di media sosial ketimbang turun langsung membantu masyarakat.

Mereka menyebutkan bahwa dari DPD hingga DPRD, dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, selalu saja ada pejabat yang kerjanya lebih mirip pembuat konten ketimbang pelayan publik.

“Lima tahun sekali baru turun ke masyarakat, pas mau pemilu. Sisanya? Foto, video, pencitraan. Kan lucu ya,” begitu kira-kira intinya.

Balinggih tidak sekadar menertawakan, mereka memberikan peringatan serius, bahwa jika pola ini berlanjut, generasi muda Bali akan kehilangan minat untuk masuk ke ranah politik. Dan ketika tidak ada anak muda yang mau memimpin, siapa yang akan memimpin Bali? Masa orang luar?

Kritik ini diakhiri dengan saran konkret yakni pejabat harus memperbaiki gaya komunikasi publiknya, bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi, serta menampilkan kinerja nyata—bukan sekadar citra.

Generasi intelektual Bali pada masa lalu cenderung memilih medium yang “berwibawa” di mata publik kala itu, yakni, tulisan panjang di media massa, forum diskusi formal, atau seminar akademik. Pendekatan ini lahir dari zaman di mana akses publik terbatas, dan kredibilitas diukur dari panjangnya argumentasi tertulis.

Namun, generasi sekarang tumbuh di tengah banjir informasi. Mereka paham bahwa perhatian publik adalah sumber daya langka. Maka, mereka memilih menyampaikan pesan dengan cara yang cepat, ringkas, dan mudah diakses. Video singkat, meme, infografis, atau podcast santai menjadi senjata utama.

Pergeseran medium ini sering disalahartikan sebagai penurunan kualitas kritik. Padahal, jika diukur dari ketajaman isi, kritik dalam video Balinggih sama saja bobotnya dengan sebuah esai atau opini di media nasional, bedanya hanya pada format dan kanal distribusi. Kritik mereka tidak menunggu pembaca koran di pagi hari, melainkan tiba di ponsel para pejabat pada detik yang sama ketika video itu diunggah.

Mereka Bukan Satu-Satunya

Di Bali, suara perubahan tidak selalu datang dari ruang rapat resmi atau podium pemerintahan. Kadang, ia lahir dari unggahan di media sosial, dari musik yang lantang, atau dari aksi yang sederhana namun berani. JRX—nama yang selalu memancing pro-kontra—tetap setia memanfaatkan platformnya untuk menyuarakan isu-isu sosial dan politik.

Di sudut lain dunia maya, BaleBengong menjadi tempat berkumpulnya jurnalis warga. Di sini, orang Bali, termasuk generasi muda, bebas bercerita dan mengkritisi. Isu pariwisata, lingkungan, hingga kebijakan publik dibicarakan tanpa takut dibungkam.

Ada pula ForBali, gerakan yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Mereka berjuang dengan cara yang kreatif yaitu menggabungkan visual memikat, musik yang menghentak, dan aksi langsung di lapangan.

BEM Universitas Udayana pun tak tinggal diam. Kritik mereka begitu nyaring di media sosial, sampai-sampai akun resminya pernah diretas, tanda bahwa suara mereka benar-benar mengusik pihak tertentu.

Sementara itu, Carma Citrawati memilih jalur budaya. Ia menghidupkan kembali lontar melalui digitalisasi, membuat warisan leluhur bisa diakses siapa saja, bahkan dari layar ponsel.

Dari isu lingkungan, Melati dan Isabel Wijsen mengangkat Bali ke panggung dunia. Dua bersaudara ini mengajak semua orang mengucapkan “Bye Bye” pada plastik sekali pakai, pesan sederhana yang menggema hingga ke banyak negara.

Semua ini adalah potret anak muda Bali yang tidak sekadar menonton perubahan, tetapi menciptakannya. Mereka bergerak di jalur yang mereka kuasai, dengan suara yang tak bisa diabaikan.

Tantangan bagi Pejabat

Kritik yang dilontarkan anak muda ini seharusnya menjadi alarm bagi para pejabat. DPD dituntut menyuarakan kepentingan Bali di pusat, bukan sekadar mengumbar foto kegiatan. DPRD diharapkan fokus membahas kebijakan dan peraturan, bukan mengatur sudut kamera. Para kepala daerah diingatkan untuk hadir di lapangan, bukan hanya di layar.

Jika anak muda bisa beradaptasi dengan cara baru menyampaikan kritik, pejabat pun harus beradaptasi dengan cara baru menunjukkan kerja. Mengabaikan suara-suara ini berarti mengabaikan denyut nadi publik yang hidup di ruang digital.

Menghapus stigma apatis berarti mengakui bahwa perjuangan kini punya wajah baru. Generasi terdahulu memegang pena, generasi kini memegang ponsel. Keduanya punya tujuan yang sama yakni menjaga agar politik tidak kehilangan arah, memastikan pemimpin tetap bekerja untuk rakyat.

Maka, daripada terus meremehkan anak muda yang beraksi di Instagram, TikTok, atau YouTube, lebih bijak jika kita melihat isi pesannya. Apakah kritik mereka valid? Apakah ide mereka bermanfaat? Kalau iya, maka itulah bentuk kepedulian yang sesungguhnya. Anak muda Bali tidak apatis. Mereka adaptif. Mereka paham medan yang mereka hadapi, dan tahu betul bahwa kecepatan informasi adalah kunci. Medium boleh berganti, tetapi semangatnya tetap, Bali harus dijaga oleh orang-orang yang mau bekerja, bukan hanya bergaya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
I Wayan Suardika dan Sastra: Rumah yang Menghidupi, Bukan Sekadar Puisi
Niti Sastra untuk Giri Prasta
Tags: anak mudabaligenerasi muda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kemerdekaan yang Mendidik: Menyongsong Indonesia Emas dengan Jiwa Taman Siswa

Next Post

Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

by I Wayan Artika
June 5, 2026
0
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

Read moreDetails

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
0
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

Read moreDetails

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

by Chusmeru
June 5, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

Read moreDetails

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails
Next Post
Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co