15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 4, 2025
in Esai
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali

Anjing bali | Foto: Angga Wijaya

DI sebuah sudut jalan sempit, di antara tembok abu-abu yang lapuk dan papan reklame rokok yang setengah robek, seekor anjing duduk dengan tenang. Matanya menghadap kamera, tapi sorotnya tidak menuntut apa-apa. Hanya tatapan pasrah dari makhluk yang terlalu akrab dengan dunia luar yang keras. Ia bukan liar sepenuhnya, juga bukan peliharaan dalam arti penuh. Seperti banyak anjing lain di Bali, ia hidup di antara dua dunia; dipelihara namun dibiarkan, dicintai namun diabaikan.

Anjing seperti ini sering kita jumpai di Bali, terutama di depan warung makan. Mereka duduk diam, kadang meringkuk di pojok, kadang menatap penuh harap ke arah meja pengunjung yang sedang makan. Mereka bukan mengemis. Mereka menunggu. Ada sesuatu dalam tatapan mereka yang seolah berkata: “Aku tahu tidak semua manusia kejam. Mungkin kau, ya, mungkin kau akan memberiku sepotong daging, sisa tulang, atau nasi sisa.”

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam masyarakat Bali, anjing adalah makhluk yang akrab. Bahkan dalam struktur rumah tradisional Bali, kita biasa menjumpai anjing duduk di bale, atau tidur di pojok pekarangan, atau melongok dari balik pagar saat ada tamu datang. Mereka bukan sekadar penjaga rumah. Dalam banyak kasus, mereka juga bagian dari keluarga. Mereka diberi nama, kadang diajak bicara seperti anak kecil. Namun hubungan ini tidak selalu menjamin mereka mendapatkan perhatian yang layak, terutama dalam hal makanan dan perawatan.

Inilah paradoksnya: dalam budaya Bali, khususnya dalam narasi Hindu, anjing menempati posisi yang cukup sakral. Kisah Mahabharata mengabadikan simbolisme ini. Yudisthira, raja yang bijak dan adil, digambarkan menuju surga dengan ditemani seekor anjing. Ketika para dewa menolak membiarkan anjing itu ikut, Yudisthira pun menolak masuk surga. Kesetiaan anjing, dan pengakuan Yudisthira atas nilai makhluk itu, menjadi cermin moral, bahwa kemuliaan tidak hanya milik manusia, tapi juga makhluk lain yang hidup bersama kita.

Namun dalam praktik keseharian, kita menyaksikan kontras yang mencolok. Anjing-anjing yang hidup di lingkungan kita sering tampak kurus, penuh luka, bulu rontok, atau pincang karena tertabrak kendaraan. Mereka bertahan hidup dari belas kasihan orang, dari sisa-sisa yang dibuang, atau dari naluri bertahan hidup yang terus diasah oleh kerasnya jalanan.

Sebagian dari kita mungkin berpikir, “Tapi mereka sudah punya tuan.” Ya, betul. Banyak anjing yang tampak liar sebenarnya memiliki pemilik. Tapi kepemilikan di sini tidak selalu berarti tanggung jawab. Kadang anjing itu diberi makan sehari sekali, kadang tidak sama sekali. Mereka dibiarkan berkeliaran, mencari sendiri, menjadi bagian dari pemandangan umum yang makin lama makin kita anggap biasa.

Apakah ini salah sepenuhnya? Tidak juga. Banyak keluarga Bali hidup dalam keterbatasan. Memberi makan manusia saja susah, apalagi hewan peliharaan. Maka yang dilakukan adalah merawat sebisa mungkin, dengan segala kekurangan. Anjing-anjing itu tetap diberi tempat di pekarangan, tetap diajak bicara, tetap dipanggil dengan nama, meski tidak dimandikan sebulan sekali atau diberi vaksin. Mereka tidak ditelantarkan dengan sengaja, tapi juga tidak diurus sepenuhnya.

Namun kenyataan ini tidak lantas menghapus kegelisahan. Ada kebutuhan untuk meninjau ulang relasi kita dengan hewan-hewan yang hidup berdampingan dengan kita. Terutama di tengah makin berkembangnya kesadaran akan kesejahteraan hewan. Apakah kasih sayang tanpa perhatian cukup? Apakah budaya dan spiritualitas bisa tetap kokoh jika tidak tercermin dalam tindakan nyata sehari-hari?

Barangkali sudah saatnya kita menggeser cara pandang, yakni dari sekadar memiliki, menjadi merawat. Dari sekadar mengasihi secara simbolik, menjadi peduli secara praktis. Kita tidak harus menjadi kaya untuk memberi makan anjing yang kita pelihara. Sedikit sisa nasi, sedikit air bersih, bahkan waktu untuk menyapanya bisa menjadi bentuk perawatan yang berarti. Kita tidak perlu menjadi aktivis hewan, cukup menjadi manusia yang tidak membiarkan makhluk lain menderita dalam diam.

Foto anjing yang duduk tenang di trotoar ini adalah potret yang jauh dari dramatis. Ia tidak berdarah, tidak kelaparan sampai tulang rusuk terlihat. Tapi justru dalam ketenangan itulah terasa kedalaman. Ia hidup di ambang, antara peliharaan dan liar, antara diperhatikan dan diabaikan, antara menjadi bagian dari rumah atau hanya pengikut jejak bau dapur.

Saya teringat satu percakapan dengan seorang teman, orang Bali, yang taat beragama. Ketika saya tanya mengapa anjingnya sering terlihat di jalan, ia menjawab, “Dia suka keluyuran. Tapi dia pasti pulang kalau lapar.” Saya sempat diam. Pulang karena lapar, bukan karena dipanggil atau diajak bermain. Anjing itu pulang untuk bertahan hidup, bukan untuk merasa aman. Bukankah ini seperti relasi transaksional, bukan relasi kasih?

Kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita masih belajar. Budaya yang panjang dan kaya seperti budaya Bali tidak selalu berjalan seiring dengan kesadaran kesejahteraan hewan. Tapi budaya juga bukan sesuatu yang kaku. Ia bisa tumbuh, berubah, dan belajar. Kisah Yudisthira dan anjingnya bukan sekadar kisah lama untuk diperingati, tapi cermin untuk direnungi, bahwa, apakah kita sudah cukup layak disebut manusia mulia jika tidak bisa memperlakukan makhluk lain dengan layak?

Anjing-anjing jalanan di Bali adalah saksi bisu dari masyarakat yang sedang bergumul dengan identitasnya—antara adat dan modernitas, antara spiritualitas dan realitas ekonomi. Mereka adalah bagian dari wajah Bali yang tak tertulis dalam brosur pariwisata, tapi hidup di antara kita. Mereka adalah pengingat, bahwa dalam keindahan dan harmoni yang sering kita banggakan, ada makhluk-makhluk kecil yang menunggu sepotong perhatian.

Dan mungkin, suatu hari nanti, anjing-anjing itu tak lagi harus duduk di pinggir trotoar, menunggu belas kasihan. Mungkin mereka akan duduk di bale rumah, perut kenyang, tubuh bersih, dan mata tenang. Bukan karena mereka anjing Bali, tapi karena mereka makhluk hidup—dan kita, manusia, akhirnya memahami apa artinya berbagi dunia dengan mereka. [T[


Denpasar, Agustus 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

“Inguh”, Refleksi Kolektif Masyarakat Bali | Catatan Usai Berkunjung ke Yayasan Bali Bersama Bisa
Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
I Wayan Suardika dan Sastra: Rumah yang Menghidupi, Bukan Sekadar Puisi
Niti Sastra untuk Giri Prasta
Tags: anjing balibali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

Next Post

ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co