7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 4, 2025
in Esai
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali

Anjing bali | Foto: Angga Wijaya

DI sebuah sudut jalan sempit, di antara tembok abu-abu yang lapuk dan papan reklame rokok yang setengah robek, seekor anjing duduk dengan tenang. Matanya menghadap kamera, tapi sorotnya tidak menuntut apa-apa. Hanya tatapan pasrah dari makhluk yang terlalu akrab dengan dunia luar yang keras. Ia bukan liar sepenuhnya, juga bukan peliharaan dalam arti penuh. Seperti banyak anjing lain di Bali, ia hidup di antara dua dunia; dipelihara namun dibiarkan, dicintai namun diabaikan.

Anjing seperti ini sering kita jumpai di Bali, terutama di depan warung makan. Mereka duduk diam, kadang meringkuk di pojok, kadang menatap penuh harap ke arah meja pengunjung yang sedang makan. Mereka bukan mengemis. Mereka menunggu. Ada sesuatu dalam tatapan mereka yang seolah berkata: “Aku tahu tidak semua manusia kejam. Mungkin kau, ya, mungkin kau akan memberiku sepotong daging, sisa tulang, atau nasi sisa.”

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam masyarakat Bali, anjing adalah makhluk yang akrab. Bahkan dalam struktur rumah tradisional Bali, kita biasa menjumpai anjing duduk di bale, atau tidur di pojok pekarangan, atau melongok dari balik pagar saat ada tamu datang. Mereka bukan sekadar penjaga rumah. Dalam banyak kasus, mereka juga bagian dari keluarga. Mereka diberi nama, kadang diajak bicara seperti anak kecil. Namun hubungan ini tidak selalu menjamin mereka mendapatkan perhatian yang layak, terutama dalam hal makanan dan perawatan.

Inilah paradoksnya: dalam budaya Bali, khususnya dalam narasi Hindu, anjing menempati posisi yang cukup sakral. Kisah Mahabharata mengabadikan simbolisme ini. Yudisthira, raja yang bijak dan adil, digambarkan menuju surga dengan ditemani seekor anjing. Ketika para dewa menolak membiarkan anjing itu ikut, Yudisthira pun menolak masuk surga. Kesetiaan anjing, dan pengakuan Yudisthira atas nilai makhluk itu, menjadi cermin moral, bahwa kemuliaan tidak hanya milik manusia, tapi juga makhluk lain yang hidup bersama kita.

Namun dalam praktik keseharian, kita menyaksikan kontras yang mencolok. Anjing-anjing yang hidup di lingkungan kita sering tampak kurus, penuh luka, bulu rontok, atau pincang karena tertabrak kendaraan. Mereka bertahan hidup dari belas kasihan orang, dari sisa-sisa yang dibuang, atau dari naluri bertahan hidup yang terus diasah oleh kerasnya jalanan.

Sebagian dari kita mungkin berpikir, “Tapi mereka sudah punya tuan.” Ya, betul. Banyak anjing yang tampak liar sebenarnya memiliki pemilik. Tapi kepemilikan di sini tidak selalu berarti tanggung jawab. Kadang anjing itu diberi makan sehari sekali, kadang tidak sama sekali. Mereka dibiarkan berkeliaran, mencari sendiri, menjadi bagian dari pemandangan umum yang makin lama makin kita anggap biasa.

Apakah ini salah sepenuhnya? Tidak juga. Banyak keluarga Bali hidup dalam keterbatasan. Memberi makan manusia saja susah, apalagi hewan peliharaan. Maka yang dilakukan adalah merawat sebisa mungkin, dengan segala kekurangan. Anjing-anjing itu tetap diberi tempat di pekarangan, tetap diajak bicara, tetap dipanggil dengan nama, meski tidak dimandikan sebulan sekali atau diberi vaksin. Mereka tidak ditelantarkan dengan sengaja, tapi juga tidak diurus sepenuhnya.

Namun kenyataan ini tidak lantas menghapus kegelisahan. Ada kebutuhan untuk meninjau ulang relasi kita dengan hewan-hewan yang hidup berdampingan dengan kita. Terutama di tengah makin berkembangnya kesadaran akan kesejahteraan hewan. Apakah kasih sayang tanpa perhatian cukup? Apakah budaya dan spiritualitas bisa tetap kokoh jika tidak tercermin dalam tindakan nyata sehari-hari?

Barangkali sudah saatnya kita menggeser cara pandang, yakni dari sekadar memiliki, menjadi merawat. Dari sekadar mengasihi secara simbolik, menjadi peduli secara praktis. Kita tidak harus menjadi kaya untuk memberi makan anjing yang kita pelihara. Sedikit sisa nasi, sedikit air bersih, bahkan waktu untuk menyapanya bisa menjadi bentuk perawatan yang berarti. Kita tidak perlu menjadi aktivis hewan, cukup menjadi manusia yang tidak membiarkan makhluk lain menderita dalam diam.

Foto anjing yang duduk tenang di trotoar ini adalah potret yang jauh dari dramatis. Ia tidak berdarah, tidak kelaparan sampai tulang rusuk terlihat. Tapi justru dalam ketenangan itulah terasa kedalaman. Ia hidup di ambang, antara peliharaan dan liar, antara diperhatikan dan diabaikan, antara menjadi bagian dari rumah atau hanya pengikut jejak bau dapur.

Saya teringat satu percakapan dengan seorang teman, orang Bali, yang taat beragama. Ketika saya tanya mengapa anjingnya sering terlihat di jalan, ia menjawab, “Dia suka keluyuran. Tapi dia pasti pulang kalau lapar.” Saya sempat diam. Pulang karena lapar, bukan karena dipanggil atau diajak bermain. Anjing itu pulang untuk bertahan hidup, bukan untuk merasa aman. Bukankah ini seperti relasi transaksional, bukan relasi kasih?

Kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita masih belajar. Budaya yang panjang dan kaya seperti budaya Bali tidak selalu berjalan seiring dengan kesadaran kesejahteraan hewan. Tapi budaya juga bukan sesuatu yang kaku. Ia bisa tumbuh, berubah, dan belajar. Kisah Yudisthira dan anjingnya bukan sekadar kisah lama untuk diperingati, tapi cermin untuk direnungi, bahwa, apakah kita sudah cukup layak disebut manusia mulia jika tidak bisa memperlakukan makhluk lain dengan layak?

Anjing-anjing jalanan di Bali adalah saksi bisu dari masyarakat yang sedang bergumul dengan identitasnya—antara adat dan modernitas, antara spiritualitas dan realitas ekonomi. Mereka adalah bagian dari wajah Bali yang tak tertulis dalam brosur pariwisata, tapi hidup di antara kita. Mereka adalah pengingat, bahwa dalam keindahan dan harmoni yang sering kita banggakan, ada makhluk-makhluk kecil yang menunggu sepotong perhatian.

Dan mungkin, suatu hari nanti, anjing-anjing itu tak lagi harus duduk di pinggir trotoar, menunggu belas kasihan. Mungkin mereka akan duduk di bale rumah, perut kenyang, tubuh bersih, dan mata tenang. Bukan karena mereka anjing Bali, tapi karena mereka makhluk hidup—dan kita, manusia, akhirnya memahami apa artinya berbagi dunia dengan mereka. [T[


Denpasar, Agustus 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

“Inguh”, Refleksi Kolektif Masyarakat Bali | Catatan Usai Berkunjung ke Yayasan Bali Bersama Bisa
Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
I Wayan Suardika dan Sastra: Rumah yang Menghidupi, Bukan Sekadar Puisi
Niti Sastra untuk Giri Prasta
Tags: anjing balibali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

Next Post

ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails
Next Post
ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co