17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 4, 2025
in Esai
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali

Anjing bali | Foto: Angga Wijaya

DI sebuah sudut jalan sempit, di antara tembok abu-abu yang lapuk dan papan reklame rokok yang setengah robek, seekor anjing duduk dengan tenang. Matanya menghadap kamera, tapi sorotnya tidak menuntut apa-apa. Hanya tatapan pasrah dari makhluk yang terlalu akrab dengan dunia luar yang keras. Ia bukan liar sepenuhnya, juga bukan peliharaan dalam arti penuh. Seperti banyak anjing lain di Bali, ia hidup di antara dua dunia; dipelihara namun dibiarkan, dicintai namun diabaikan.

Anjing seperti ini sering kita jumpai di Bali, terutama di depan warung makan. Mereka duduk diam, kadang meringkuk di pojok, kadang menatap penuh harap ke arah meja pengunjung yang sedang makan. Mereka bukan mengemis. Mereka menunggu. Ada sesuatu dalam tatapan mereka yang seolah berkata: “Aku tahu tidak semua manusia kejam. Mungkin kau, ya, mungkin kau akan memberiku sepotong daging, sisa tulang, atau nasi sisa.”

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam masyarakat Bali, anjing adalah makhluk yang akrab. Bahkan dalam struktur rumah tradisional Bali, kita biasa menjumpai anjing duduk di bale, atau tidur di pojok pekarangan, atau melongok dari balik pagar saat ada tamu datang. Mereka bukan sekadar penjaga rumah. Dalam banyak kasus, mereka juga bagian dari keluarga. Mereka diberi nama, kadang diajak bicara seperti anak kecil. Namun hubungan ini tidak selalu menjamin mereka mendapatkan perhatian yang layak, terutama dalam hal makanan dan perawatan.

Inilah paradoksnya: dalam budaya Bali, khususnya dalam narasi Hindu, anjing menempati posisi yang cukup sakral. Kisah Mahabharata mengabadikan simbolisme ini. Yudisthira, raja yang bijak dan adil, digambarkan menuju surga dengan ditemani seekor anjing. Ketika para dewa menolak membiarkan anjing itu ikut, Yudisthira pun menolak masuk surga. Kesetiaan anjing, dan pengakuan Yudisthira atas nilai makhluk itu, menjadi cermin moral, bahwa kemuliaan tidak hanya milik manusia, tapi juga makhluk lain yang hidup bersama kita.

Namun dalam praktik keseharian, kita menyaksikan kontras yang mencolok. Anjing-anjing yang hidup di lingkungan kita sering tampak kurus, penuh luka, bulu rontok, atau pincang karena tertabrak kendaraan. Mereka bertahan hidup dari belas kasihan orang, dari sisa-sisa yang dibuang, atau dari naluri bertahan hidup yang terus diasah oleh kerasnya jalanan.

Sebagian dari kita mungkin berpikir, “Tapi mereka sudah punya tuan.” Ya, betul. Banyak anjing yang tampak liar sebenarnya memiliki pemilik. Tapi kepemilikan di sini tidak selalu berarti tanggung jawab. Kadang anjing itu diberi makan sehari sekali, kadang tidak sama sekali. Mereka dibiarkan berkeliaran, mencari sendiri, menjadi bagian dari pemandangan umum yang makin lama makin kita anggap biasa.

Apakah ini salah sepenuhnya? Tidak juga. Banyak keluarga Bali hidup dalam keterbatasan. Memberi makan manusia saja susah, apalagi hewan peliharaan. Maka yang dilakukan adalah merawat sebisa mungkin, dengan segala kekurangan. Anjing-anjing itu tetap diberi tempat di pekarangan, tetap diajak bicara, tetap dipanggil dengan nama, meski tidak dimandikan sebulan sekali atau diberi vaksin. Mereka tidak ditelantarkan dengan sengaja, tapi juga tidak diurus sepenuhnya.

Namun kenyataan ini tidak lantas menghapus kegelisahan. Ada kebutuhan untuk meninjau ulang relasi kita dengan hewan-hewan yang hidup berdampingan dengan kita. Terutama di tengah makin berkembangnya kesadaran akan kesejahteraan hewan. Apakah kasih sayang tanpa perhatian cukup? Apakah budaya dan spiritualitas bisa tetap kokoh jika tidak tercermin dalam tindakan nyata sehari-hari?

Barangkali sudah saatnya kita menggeser cara pandang, yakni dari sekadar memiliki, menjadi merawat. Dari sekadar mengasihi secara simbolik, menjadi peduli secara praktis. Kita tidak harus menjadi kaya untuk memberi makan anjing yang kita pelihara. Sedikit sisa nasi, sedikit air bersih, bahkan waktu untuk menyapanya bisa menjadi bentuk perawatan yang berarti. Kita tidak perlu menjadi aktivis hewan, cukup menjadi manusia yang tidak membiarkan makhluk lain menderita dalam diam.

Foto anjing yang duduk tenang di trotoar ini adalah potret yang jauh dari dramatis. Ia tidak berdarah, tidak kelaparan sampai tulang rusuk terlihat. Tapi justru dalam ketenangan itulah terasa kedalaman. Ia hidup di ambang, antara peliharaan dan liar, antara diperhatikan dan diabaikan, antara menjadi bagian dari rumah atau hanya pengikut jejak bau dapur.

Saya teringat satu percakapan dengan seorang teman, orang Bali, yang taat beragama. Ketika saya tanya mengapa anjingnya sering terlihat di jalan, ia menjawab, “Dia suka keluyuran. Tapi dia pasti pulang kalau lapar.” Saya sempat diam. Pulang karena lapar, bukan karena dipanggil atau diajak bermain. Anjing itu pulang untuk bertahan hidup, bukan untuk merasa aman. Bukankah ini seperti relasi transaksional, bukan relasi kasih?

Kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita masih belajar. Budaya yang panjang dan kaya seperti budaya Bali tidak selalu berjalan seiring dengan kesadaran kesejahteraan hewan. Tapi budaya juga bukan sesuatu yang kaku. Ia bisa tumbuh, berubah, dan belajar. Kisah Yudisthira dan anjingnya bukan sekadar kisah lama untuk diperingati, tapi cermin untuk direnungi, bahwa, apakah kita sudah cukup layak disebut manusia mulia jika tidak bisa memperlakukan makhluk lain dengan layak?

Anjing-anjing jalanan di Bali adalah saksi bisu dari masyarakat yang sedang bergumul dengan identitasnya—antara adat dan modernitas, antara spiritualitas dan realitas ekonomi. Mereka adalah bagian dari wajah Bali yang tak tertulis dalam brosur pariwisata, tapi hidup di antara kita. Mereka adalah pengingat, bahwa dalam keindahan dan harmoni yang sering kita banggakan, ada makhluk-makhluk kecil yang menunggu sepotong perhatian.

Dan mungkin, suatu hari nanti, anjing-anjing itu tak lagi harus duduk di pinggir trotoar, menunggu belas kasihan. Mungkin mereka akan duduk di bale rumah, perut kenyang, tubuh bersih, dan mata tenang. Bukan karena mereka anjing Bali, tapi karena mereka makhluk hidup—dan kita, manusia, akhirnya memahami apa artinya berbagi dunia dengan mereka. [T[


Denpasar, Agustus 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

“Inguh”, Refleksi Kolektif Masyarakat Bali | Catatan Usai Berkunjung ke Yayasan Bali Bersama Bisa
Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
I Wayan Suardika dan Sastra: Rumah yang Menghidupi, Bukan Sekadar Puisi
Niti Sastra untuk Giri Prasta
Tags: anjing balibali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

Next Post

ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails
Next Post
ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010
Gaya

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

PADA 30 Januari 2018, Canon Indonesia merilis printer terbaru yakni Printer PIXMA Ink Efficient G series.  Ada lima tipe printer...

by tatkala
July 16, 2026
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa
Panggung

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik
Panggung

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co