2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 4, 2025
in Esai
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali

Anjing bali | Foto: Angga Wijaya

DI sebuah sudut jalan sempit, di antara tembok abu-abu yang lapuk dan papan reklame rokok yang setengah robek, seekor anjing duduk dengan tenang. Matanya menghadap kamera, tapi sorotnya tidak menuntut apa-apa. Hanya tatapan pasrah dari makhluk yang terlalu akrab dengan dunia luar yang keras. Ia bukan liar sepenuhnya, juga bukan peliharaan dalam arti penuh. Seperti banyak anjing lain di Bali, ia hidup di antara dua dunia; dipelihara namun dibiarkan, dicintai namun diabaikan.

Anjing seperti ini sering kita jumpai di Bali, terutama di depan warung makan. Mereka duduk diam, kadang meringkuk di pojok, kadang menatap penuh harap ke arah meja pengunjung yang sedang makan. Mereka bukan mengemis. Mereka menunggu. Ada sesuatu dalam tatapan mereka yang seolah berkata: “Aku tahu tidak semua manusia kejam. Mungkin kau, ya, mungkin kau akan memberiku sepotong daging, sisa tulang, atau nasi sisa.”

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam masyarakat Bali, anjing adalah makhluk yang akrab. Bahkan dalam struktur rumah tradisional Bali, kita biasa menjumpai anjing duduk di bale, atau tidur di pojok pekarangan, atau melongok dari balik pagar saat ada tamu datang. Mereka bukan sekadar penjaga rumah. Dalam banyak kasus, mereka juga bagian dari keluarga. Mereka diberi nama, kadang diajak bicara seperti anak kecil. Namun hubungan ini tidak selalu menjamin mereka mendapatkan perhatian yang layak, terutama dalam hal makanan dan perawatan.

Inilah paradoksnya: dalam budaya Bali, khususnya dalam narasi Hindu, anjing menempati posisi yang cukup sakral. Kisah Mahabharata mengabadikan simbolisme ini. Yudisthira, raja yang bijak dan adil, digambarkan menuju surga dengan ditemani seekor anjing. Ketika para dewa menolak membiarkan anjing itu ikut, Yudisthira pun menolak masuk surga. Kesetiaan anjing, dan pengakuan Yudisthira atas nilai makhluk itu, menjadi cermin moral, bahwa kemuliaan tidak hanya milik manusia, tapi juga makhluk lain yang hidup bersama kita.

Namun dalam praktik keseharian, kita menyaksikan kontras yang mencolok. Anjing-anjing yang hidup di lingkungan kita sering tampak kurus, penuh luka, bulu rontok, atau pincang karena tertabrak kendaraan. Mereka bertahan hidup dari belas kasihan orang, dari sisa-sisa yang dibuang, atau dari naluri bertahan hidup yang terus diasah oleh kerasnya jalanan.

Sebagian dari kita mungkin berpikir, “Tapi mereka sudah punya tuan.” Ya, betul. Banyak anjing yang tampak liar sebenarnya memiliki pemilik. Tapi kepemilikan di sini tidak selalu berarti tanggung jawab. Kadang anjing itu diberi makan sehari sekali, kadang tidak sama sekali. Mereka dibiarkan berkeliaran, mencari sendiri, menjadi bagian dari pemandangan umum yang makin lama makin kita anggap biasa.

Apakah ini salah sepenuhnya? Tidak juga. Banyak keluarga Bali hidup dalam keterbatasan. Memberi makan manusia saja susah, apalagi hewan peliharaan. Maka yang dilakukan adalah merawat sebisa mungkin, dengan segala kekurangan. Anjing-anjing itu tetap diberi tempat di pekarangan, tetap diajak bicara, tetap dipanggil dengan nama, meski tidak dimandikan sebulan sekali atau diberi vaksin. Mereka tidak ditelantarkan dengan sengaja, tapi juga tidak diurus sepenuhnya.

Namun kenyataan ini tidak lantas menghapus kegelisahan. Ada kebutuhan untuk meninjau ulang relasi kita dengan hewan-hewan yang hidup berdampingan dengan kita. Terutama di tengah makin berkembangnya kesadaran akan kesejahteraan hewan. Apakah kasih sayang tanpa perhatian cukup? Apakah budaya dan spiritualitas bisa tetap kokoh jika tidak tercermin dalam tindakan nyata sehari-hari?

Barangkali sudah saatnya kita menggeser cara pandang, yakni dari sekadar memiliki, menjadi merawat. Dari sekadar mengasihi secara simbolik, menjadi peduli secara praktis. Kita tidak harus menjadi kaya untuk memberi makan anjing yang kita pelihara. Sedikit sisa nasi, sedikit air bersih, bahkan waktu untuk menyapanya bisa menjadi bentuk perawatan yang berarti. Kita tidak perlu menjadi aktivis hewan, cukup menjadi manusia yang tidak membiarkan makhluk lain menderita dalam diam.

Foto anjing yang duduk tenang di trotoar ini adalah potret yang jauh dari dramatis. Ia tidak berdarah, tidak kelaparan sampai tulang rusuk terlihat. Tapi justru dalam ketenangan itulah terasa kedalaman. Ia hidup di ambang, antara peliharaan dan liar, antara diperhatikan dan diabaikan, antara menjadi bagian dari rumah atau hanya pengikut jejak bau dapur.

Saya teringat satu percakapan dengan seorang teman, orang Bali, yang taat beragama. Ketika saya tanya mengapa anjingnya sering terlihat di jalan, ia menjawab, “Dia suka keluyuran. Tapi dia pasti pulang kalau lapar.” Saya sempat diam. Pulang karena lapar, bukan karena dipanggil atau diajak bermain. Anjing itu pulang untuk bertahan hidup, bukan untuk merasa aman. Bukankah ini seperti relasi transaksional, bukan relasi kasih?

Kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita masih belajar. Budaya yang panjang dan kaya seperti budaya Bali tidak selalu berjalan seiring dengan kesadaran kesejahteraan hewan. Tapi budaya juga bukan sesuatu yang kaku. Ia bisa tumbuh, berubah, dan belajar. Kisah Yudisthira dan anjingnya bukan sekadar kisah lama untuk diperingati, tapi cermin untuk direnungi, bahwa, apakah kita sudah cukup layak disebut manusia mulia jika tidak bisa memperlakukan makhluk lain dengan layak?

Anjing-anjing jalanan di Bali adalah saksi bisu dari masyarakat yang sedang bergumul dengan identitasnya—antara adat dan modernitas, antara spiritualitas dan realitas ekonomi. Mereka adalah bagian dari wajah Bali yang tak tertulis dalam brosur pariwisata, tapi hidup di antara kita. Mereka adalah pengingat, bahwa dalam keindahan dan harmoni yang sering kita banggakan, ada makhluk-makhluk kecil yang menunggu sepotong perhatian.

Dan mungkin, suatu hari nanti, anjing-anjing itu tak lagi harus duduk di pinggir trotoar, menunggu belas kasihan. Mungkin mereka akan duduk di bale rumah, perut kenyang, tubuh bersih, dan mata tenang. Bukan karena mereka anjing Bali, tapi karena mereka makhluk hidup—dan kita, manusia, akhirnya memahami apa artinya berbagi dunia dengan mereka. [T[


Denpasar, Agustus 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

“Inguh”, Refleksi Kolektif Masyarakat Bali | Catatan Usai Berkunjung ke Yayasan Bali Bersama Bisa
Toleransi Agama di Bali, Bisakah Terus Bertahan?
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
I Wayan Suardika dan Sastra: Rumah yang Menghidupi, Bukan Sekadar Puisi
Niti Sastra untuk Giri Prasta
Tags: anjing balibali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

Next Post

ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co