12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

Kadek Surya Jayadi by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
in Tualang
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana yang meski sudah berusia tak lagi muda, mengantarkan mahasiswa ke tujuan dengan tangguh menembus perbukitan Bugbug . Semangatnya tak kalah dengan semangat mahasiswa baru angkatan 2025. Seolah alam pun paham jika semangat itu tak layak digubris oleh hujan, dan menunda hujan yang biasanya turun dengan mudah dan lebatnya. Pemandangan di perjalanan pun tersaji, bentang perbukitan yang indah seolah memberikan semangat kepada mahasiswa sejarah Unud. Lelah pun terbayar olehnya. 

Kami tiba di Bodhakeling sekitar pukul 08.30 wita. Bus terparkir di halaman Griya Jelantik Bodhakeling.  Peserta yang baru turun dari bus langsung disambut oleh suasana yang tentunya berbeda dari apa yang mereka amati sebelumnya di Denpasar atau Jimbaran. Bagi sebagian mahasiswa, suasanya justru mengingatkan pada kampung halaman mereka nan jauh.

Membedah Toponimi & Sejarah Bodhakeling

Bodhakeling itulah nama yang tersurat dalam paparan yang disampaikan oleh Ida Wayan Oka Granoka. Tentu ada dasar mengapa nama tersebut digunakan, yang berbeda dari penulisan pada umumnya dan administratifnya Budakeling. Bodhakeling lebih merepresentasikan sekaligus menegaskan jika Budha yang berkembang di sini merupakan ajaran kaBodha-an yang berbeda dari Budha yang dikenal di Cina, berikut sebarannya. Ini pun menegaskan jika persolan toponimi menjadi pintu masuk yang penting dan perlu dicermati untuk memahami sejarah lokal sebuah desa.

Sejarah desa Bodhakeling erat kaitannya dengan Dang Hyang Astapaka, pendeta Buddha yang berasal dari Keling Jawa Timur. Dia diutus ke Bali menggantikan ayahnya Dang Hyang Angsoka, yang diminta oleh Dalem Waturenggong untuk memimpin upacara Homa di kerajaan Gelgel. Setelah upacara berlangsung Dang Hyang Astapaka tidak kembali ke Keling dan menetap di Bali sebagai purohita.  

Pasca mangkatnya Dalem Waturenggong, dinamika politik terjadi di kerajaan Gelgel, pemberontakan Gusti Batan Jeruk, yang menyebakan Dang Hyang Astapaka memilih untuk berpindah menuju Timur. Dalam perjalannya beliau beristirahat di Bukit Penyu. Di sana  Dang Hyang Astapaka menyaksikan pijar sinar, yang kemudian dicarinya arah pijar siner tersebut. Pijar sinar tersebut berasal kini dikenal dengan nama Pura Taman Tanjung. Namanya berasal dari tancapan tongkat Astapaka yang berasal dari kayu Tanjung yang kemudian tumbuh rimbun. Di bawah pohon Tanjung inilah Dang Hyang Astapaka membangu pasraman. Beliau juga membangun tempat pemujaan yang kini dikenal sebagai Pura Taman Sari.

Letusan Gunung Agung 1702 memuntahkan lahar panas yang mengalir di sungai yang kini dikenal sebagai Embah Api. Aliran lahar juga menghancurkan pasraman yang didirikan Dang Hyang Astapaka. Pasraman inilah kemudian dipindahkan ke arah barat, menepi dengan kuburan, yang kemudian menjadi cikal bakal Bodhakeling, atau yang lazim ditulis Budakeling.  Nama tersebut merupakan pengingat daripada asal kelahiran Dang Hyang Astapaka, sebagai pendeta Buddha yang berasal dari Keling, Jawa Timur.

Dialog Interfaith di Hari Valentine

Demikian inti narasi yang menjadi awalan daripada dialog interfaith yang diselenggarakan oleh dosen dan keluarga mahasiswa sejarah (KEMAS) dalam agenda Kunjungan Situs Sejarah 2026. Narasi historiografi tradisi itu sesungguhnya merupakan tonggak penting untuk memahami dinamika Bodhakeling selanjutnya.  Meminjam istilah budayawan I Wayan Westa, yang mengibaratkan Bodhakeling sebagai mandala kampus yang melahirkan geneaologi Pedanda Bodha yang tersebar di Bali dan Lombok.

Ajaran Buddha yang diwariskan di Bodhakeling tentunya memiliki keunikan tersendiri, yang merupakan perpaduan antara Buddha Mahayana, Tantrayana, dan Kasogatan. Di sini terjadi penyatuan sinkretik ajaran Siwa dan Buddha yang mana penyatuan ini dikenal dalam karya besar Mpu Tantular, yakni Kakawin Sutasoma, yang salah satu baitnya dipetik sebagai semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhineka Tunggal Ika.

Bahkan jauh sebelum spirit Bhineka Tunggal Ika dalam ajaran Tantular itu menjadi semboyan negara yang menyatukan kemajemukan, ajaran itu sesungguhnya telah dihayati betul di Bodhakeling tidak sebatas penyatuan Siwa-Buddha namun juga bagiamana membangun harmoni dengan Islam. Bagaimana masyarakat Saren Jawa Bodhakeling yang leluhurnya berasal dari Demak, Kyai Jalil yang berhasil menaklukkan amuk sapi warak, hidup berdampingan sejak berabad yang lama. Inilah sebuah fakta yang masih diwariskan kini yang bisa dilihat nyata di sudut-sudut paling remeh temeh sekalipun, entah itu akvitas pasar, penamaan, aktivitas subak, kesenian, dan sebagainya.

Inilah yang menjadikan Prodi Sejarah Unud menjadikan Bodhakeling sebagai lokus yang tepat untuk mengadakan kegiatan kunjungan situs sejarah bertema interfaith atau lintas iman. Dilaksanakannya pun sengaja dipilih pada tanggal 14 Februari 2026, bertepatan dengan hari kasih sayang se-dunia/valentine.

Dari Yoga Intelektual ke Realitas Lapangan

Dialog interfaith yang dilakukan di Griya Jelantik Bodhakeling pun memantik mutiara-mutiara pemikiran dan perenungan yang disampaikan oleh Ida Wayan Oka Granoka, Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., dan Prof. Dr. I Nyoman Wijaya, M.Hum. yang mana dialog tersebut dimoderatori oleh I Kadek Surya Jayadi, M.A.

Sebagai seorang budayawan dan filsuf Bali, Ida Wayan Oka Granoka, menyampaikan beberapa mutiara pemikirannya. Harus diakui jika tidak mudah mencerna buah pemikirannya. Namun ada beberapa hal penting yang disampaikannya, salah satunya (mudah-mudahan penulis tidak keliru) jika sudah seyogyanya fakta interfaith yang dapat dilihat di Bodhakeling ini harus dilihat sebagai solusi integrasi yang berani dikumandangkan, termasuk oleh civitas akademika universitas. Budayawan yang pernah membawa misi kebudayaan ke olimpiade Yunani itu pun, menyebutkan jika dialog yang dilakukan ini sudah semestinya dilihat sebagai sejarah masa depan dan menegaskan jika kunjungan situs sejarah tidak berhenti pada kelampauan juga melihat kebaruannya, “Kunjungan Situs Sejarah Baru” demikian tegasnya.

Senada dengan Granoka, Prof.Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., yang merupakan guru besar sejarah Asia Tenggara, secara tegas menyampaikan jika memahami interfaith/studi lintas iman dalam konteks sejarah, sudah semestinya tidak dibatasi dalam konteks lokal semata, namun perlu ditarik ke dalam skala lebih makro. Dirinya pun mengingatkan pada kontek Buddhisme dalam sejarah nusantara yang pernah menjadi pusat peradaban. Sriwijaya adalah salah satunya. Bali pun memulai peradabannya lewat Buddhisme yang buktinya dapat ditemukan di Pura Pegulingan. Bodhakeling menurut Prof. Ardhana, kaya akan fenomena menarik yang bisa dikajia dari dimensi sejarah maupun interfaith. Salah satunya fenomena masyarakat Islam yang terjadi di Saren Jawa. Biasanya komunitas muslim berada di pesisir, di Bodhakeling justru fenomenanya berada di kawasan pegunungan yang sakral.

Secara kritis Prof. Dr. I Nyoman Wijaya, M.Hum., mengajak kita untuk mempertanyakan ulang kembali  interfaith di Bodhakeling lewat dimensi sejarah. Guru besar yang dikenal sebagai penulis sejumlah biografi sekaligus sejarawan beraliran post-modernism, juga menunjukkan berbagai kasus-kasus menarik yang sebenarnya bisa diteliti di Bodhakeling. Dirinya pun senada dengan Ida Wayan Granoka jika Bodhakeling lah sebenarnya nama yang tepat.

Dialog yang berlangsung kurang lebih 3,5 jam tersebut sesungguhnya kian menegaskan arti penting Bodhakeling yang pantas mendapat ruang khusus dalam khazanah historiografi. Maka-lah wajar pula peneliti-peneliti ternama seperti C.Hooykaas datang ke Bodhakeling untuk melakukan penelitiannya, dan bahkan menginap di Griya Jelantik Bodhakeling. Tentu ini senada dengan yang pengantar awal yang disampaikan oleh moderator jika griya bukan semata direduksi maknanya sebagai pusat ritual, namun juga pusat intelektual.

Dialog selama 3,5 jam ibarat yoga sekaligus inisiasi bagi para mahasiswa baru prodi Sejarah angkatan 2025.  Inisiasi mereka tak lagi dalam bentuk perploncoan, jurit malam,  yang secara tegas dihapus oleh panitia dalam kunjungan situs sejarah tahun ini. Inisiasi mereka kini harus kuat bersila selama itu, sekaligus menahan rasa kantuk mungkin juga rasa lapar. Namun itu semua tak sebarapa dibandingkan sadana yang dilakukan oleh Sutasoma sebagaimana dikisahkan dalam kakawin Sutasoma.

Namun demikian, 3,5 jam inisiasi yang mereka alami, pada akhirnya tidak terasa setelah mereka diajak walking tour secara langsung ke Saren Jawa Bodhakeling yang jaraknya tidak jauh dari Griya Jelantik Bodhakeling. Gambaran yang mereka simak dalam dialog 3,5 jam, terpapar nyata di lapangan. Mereka melihat bagaimana harmoni lintas iman yang terjadi di Bodhakeling. Antusias mereka tampak dari letupan-letupan pertanyaan yang muncul ke informan yang mereka temui. Mereka berlomba mengajukan pertanyaan dengan para dosennya yang juga memiliki banyak amunisi pertanyaan,

Teduh di Bawah Sabo Griya Jelantik: Menenun Rasa Kekeluargaan di Sela Lelah

Griya Jelantik menjadi basecamp para peserta dan panitia Kunjungan Situs Sejarah. Mereka beristirahat di bawah naungan pohon sabo yang tumbuh besar nan rimbun. Dalam istirahatnya para peserta dan panitia menyeka lelah lewat berbagai games yang menarik. Mereka juga bertukar kado sebagai simbolis perekat tali persahabatan yang penuh cinta kasih.

Alam pun merestui kehangatan ini lewat hujan yang tak turun saat itu, sebagaiman biasnya, seolah ingin menyapa keluarga mahasiswa sejarah yang baru ini dalam bentuk kehangatan. Mereka semua pada akhirnya lelap tertidur diiringi mimpi masa depan yang mereka harapkan bisa peroleh di bangku kuliah Prodi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Surya Sevana & Pesan Jati Diri dari Pedanda Buddha

Keesokan paginya Pagi yang cerah diisi dengan kegiatan observasi di sekitaran wilayah Griya Jelantik Bodhakeling. Mereka melalukan wawancara di pasar, mewawancari pedagang, mewawancari ibu-ibu yang berbelanja ke pasar, dan banyak yang mereka sasar. Mereka seolah belum puas dengan yang mereka dapatkan di hari sebelumnya.

Tepat pukul 08.00 wita, mereka semua bertandang ke Griya Karang untuk menyaksikan ritual Surya Sevana Pedanda Budha. Sebagian besar di antara peserta dan panitia, ini adalah pengalaman pertama yang mereka saksikan. Mereka melihat bagiamana gerakan mudra Pedanda Budha. Setelah menyaksikan Pedanda Budha melakukan Surya Sevana, mereka kemudian mendengarkan ceramah dari Pedanda Budha, Ida Pedanda Gede Swabawa Karang Adnyana.

Beliau memaparkan banyak hal kepada peserta, mulai dari sejarah Bodhakeling yang sekaligus mengingatkan mereka pada informasi yang sudah mereka dengarkan sebelumnya. Beliau juga menjelaskan perbedaaan Budha yang diwariskan di Budhakeling dengan Budha Budha lainnya.  Juga menjelaskan kewajiban belaiau sebagai pendeta dan sejumlah informasi lainnya yang memperjelan pemahaman gpeserta kunjungan Situs Sejarah mengenai Bodhakeling.  Sebagai pendeta, Ida Pedanda memberikan pesan kepada mahasiswa sejarah Unud agar tidak pernah lelah untuk belajar, juga semangat untuk mempelajari sejarah sebab belajar sejarah sesungguhnya mengenal jati diri.

***

Bagi Prodi Sejarah Unud, Bodhakeling adalah laboratorium hidup. Di tengah dunia yang semakin bising oleh perbedaan, desa di kaki Gunung Agung ini menawarkan sunyi yang berisi: sebuah pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang selesai dengan dirinya sendiri dan harmonis dengan sesamanya. [T]

Penulis: I Kadek Surya Jayadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa BudakelingProdi Sejarah Unudsejarahsejarah baliUnud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Kuta, Menemukan Soekarno: Kepemimpinan Putra Daerah dan Toleransi Sebagai Wajah Kebangsaan

Next Post

Movin’ On dan Pelajaran tentang Keindahan

Kadek Surya Jayadi

Kadek Surya Jayadi

Lahir di Sempidi 16 Maret 1995. Pernah mengenyam pendidikan di Program Studi Sastra Bali Universitas Udayana. Setamat dari jenjang S-1, ia melanjutkan studi S-2 di Prodi Ilmu Sejarah, Universitas Gadjah Mada. Kini pria yang akrab disapa Dek Uya, bekerja sebagai staff pengajar di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Movin’ On dan Pelajaran tentang Keindahan

Movin’ On dan Pelajaran tentang Keindahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co