22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Kuta, Menemukan Soekarno: Kepemimpinan Putra Daerah dan Toleransi Sebagai Wajah Kebangsaan

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
February 18, 2026
in Esai
Melihat Kuta, Menemukan Soekarno: Kepemimpinan Putra Daerah dan Toleransi Sebagai Wajah Kebangsaan

Foto-foto: I Gusti Made Darma Putra

KUTA adalah sebuah ruang pertemuan, sebuah Taman Sari keberagaman sebagaimana imajinasi Bung Karno, hamparan di mana berbagai bunga bangsa dan dunia tumbuh dengan warna, aroma, dan karakternya masing-masing. Di Kuta budaya, keyakinan, tradisi, dan cara hidup dari berbagai penjuru bertemu dalam satu lanskap sosial yang hidup. Namun, di balik dinamika itu, Kuta sesungguhnya tidak hanya membutuhkan toleransi sebagai sikap saling membiarkan. Ia membutuhkan keselarasan sebagai kesadaran bersama, di mana setiap perbedaan tidak sekadar berdampingan, tetapi saling memberi makna dalam satu kesatuan kehidupan.

Kuta bukan hanya ruang ekonomi dan pariwisata, tetapi juga ruang kebudayaan yang terus bernegosiasi dengan zaman. Modernitas datang tanpa henti, membawa arus global yang kuat, cepat, dan sering kali tanpa akar. Dalam situasi seperti ini, kebhinekaan dapat menjadi kekuatan, tetapi juga bisa menjadi kerentanan jika tidak dirawat dengan kesadaran kultural. Karena itu, Kuta membutuhkan keseimbangan, sebuah kemampuan untuk tetap terbuka terhadap dunia, namun tidak tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan yang menjadi fondasinya.

Denyut kebhinekaan itu terasa hangat dalam suasana persiapan Tahun Baru Imlek di Vihara Dharmayana Kuta. Di ruang suci tersebut, umat Buddha bersembahyang dengan khidmat, sementara masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan turut hadir dengan sikap hormat. Tidak ada sekat yang tegang, tidak ada jarak yang kaku. Yang hadir justru rasa kebersamaan yang alami. Inilah gotong royong dalam maknanya yang paling halus, bukan hanya kerja bersama secara fisik, tetapi kesediaan batin untuk menjaga ruang hidup bersama.

Gotong royong seperti ini sesungguhnya adalah inti dari gagasan besar Bung Karno tentang Pancasila, perasan dari semangat kolektif yang menyatukan “Aku” dan “Kamu” menjadi “Kita”. Di Kuta, gotong royong tidak selalu tampak dalam bentuk kerja bakti atau aktivitas komunal yang kasat mata. Ia hadir dalam bentuk yang lebih kultural, sikap saling menghormati, memberi ruang, dan menjaga harmoni di tengah perbedaan. Di sinilah pluralitas menemukan jiwanya.

Dalam lanskap sosial yang kompleks seperti Kuta, kepemimpinan tidak bisa hanya berjalan dalam logika administratif. Seorang pemimpin tidak cukup hanya mengatur, mengawasi, atau menjalankan fungsi birokrasi. Ia harus hadir sebagai penjaga keseimbangan sosial dan kultural. Ia harus mampu menjadi penyambung lidah rakyat, mendengar bukan hanya suara yang terucap, tetapi juga rasa yang tidak selalu terkatakan.

Dimensi kepemimpinan kultural inilah yang tercermin pada putra daerah, sosok I Gusti Anom Gumanti, SH. Kehadirannya di tengah ruang-ruang kebhinekaan menunjukkan bahwa memimpin bukan semata soal kewenangan, tetapi soal kedekatan rasa. Ia tidak hanya melihat masyarakat sebagai angka statistik atau kelompok administratif, tetapi sebagai manusia dengan nilai, harapan, dan identitas budaya yang harus dihormati. Sikap kepemimpinan seperti ini menjadikan masyarakat merasa diakui, dilihat, dan dimiliki oleh sistem yang menaunginya.

Kepemimpinan yang “ngerti” dan “ngerasa” seperti ini memiliki akar dalam filsafat kepemimpinan Nusantara. Dalam Kakawin Arjuna Wiwaha tersirat ajaran sukaning rat kininkinira, bahwa tugas utama seorang pemimpin adalah mengusahakan kebahagiaan dunia. Kebahagiaan yang dimaksud bukan sekadar kesejahteraan material, tetapi suasana hidup yang damai, harmonis, dan berkeadilan. Kebahagiaan kolektif lahir ketika masyarakat merasa aman dalam identitasnya, dihargai dalam perbedaannya, dan dilindungi dalam kehidupan bersama.

Dalam pemahaman budaya Bali, konsep ini sejalan dengan makna Ratu dari kata rat yang berarti dunia atau jagat, dan tu yang bermakna tunggal. Seorang pemimpin adalah pangawak jagat, yang menyatu dengan dunia dan masyarakatnya. Ia tidak berdiri di atas, tetapi berada di tengah. Ia merasakan denyut kehidupan rakyatnya, memahami kegelisahan mereka, dan menjaga keseimbangan kehidupan sosial dengan kesadaran dharma.

Kepemimpinan seperti ini juga menuntut integritas batin, sebagaimana prinsipsetia pada kata, teguh dalam tanggung jawab, dan tidak mengingkari amanah. Ketika kata dan tindakan berjalan seiring, kepercayaan sosial akan tumbuh. Dan kepercayaan adalah fondasi terpenting dalam merawat kebhinekaan.

Di tengah arus globalisasi yang begitu kuat di Kuta, prinsip Trisakti Bung Karno menjadi semakin relevan, khususnya tentang berkepribadian dalam kebudayaan. Kuta tidak mungkin menutup diri dari dunia, tetapi ia juga tidak boleh kehilangan jiwanya. Identitas budaya lokal harus menjadi filter, bukan penghambat. Kepemimpinan kultural berperan menjaga agar keterbukaan terhadap dunia tetap berjalan seiring dengan kekuatan jati diri.

Jika kebhinekaan hanya dibiarkan berjalan secara alamiah tanpa arah, ia bisa menjadi sekadar keberagaman yang rapuh. Tetapi jika kebhinekaan dirawat melalui kesadaran, teladan, dan kebijakan yang berakar pada nilai budaya, ia akan tumbuh menjadi harmoni yang kuat. Dalam konteks inilah peran pemimpin menjadi sangat strategis, bukan menciptakan keseragaman, tetapi menjaga keseimbangan di antara perbedaan.

Kuta, sebagai ruang pertemuan global, pada akhirnya adalah cermin Indonesia dalam skala kecil. Di sini, dunia bertemu Nusantara. Di sini, modernitas bertemu tradisi. Di sini pula, masa depan kebudayaan diuji setiap hari. Kepemimpinan yang mampu membaca kompleksitas ini bukan hanya akan menjaga stabilitas sosial, tetapi juga memastikan bahwa Kuta tetap menjadi ruang hidup yang manusiawi dan berbudaya.

Pada titik inilah makna sukaning rat menemukan konteksnya yang nyata. Kebahagiaan dunia bukanlah konsep abstrak, melainkan kondisi ketika masyarakat hidup dalam rasa aman, dihargai dalam identitasnya, dan merasakan kehadiran pemimpin yang benar-benar berpihak pada harmoni kehidupan bersama.

Jika Kuta adalah Taman Sari, maka kebhinekaan adalah bunga-bunganya, masyarakat adalah tanah yang menumbuhkannya, dan kepemimpinan adalah tangan yang merawat agar semuanya tetap hidup dalam keseimbangan. Ketika seorang pemimpin mampu hadir sebagai penyeimbang menyelaraskan perbedaan menjadi simfoni harmoni, maka kebudayaan tidak hanya bertahan, tetapi berkembang.

Di tengah gerak zaman yang serba cepat dan sering kali tanpa arah, kepemimpinan kultural menjadi jangkar bagi masa depan. Ia menjaga agar pembangunan tidak kehilangan rasa, agar modernitas tidak menghapus makna, dan agar kebhinekaan tetap menjadi kekuatan, bukan sekadar slogan.

Dan ketika keselarasan itu terjaga antara manusia dan manusia, antara budaya dan zaman, antara pemimpin dan rakyat disitulah sukaning rat tumbuh dengan sendirinya, kebahagiaan dunia yang berakar pada harmoni, hidup subur di Kuta, tempat di mana perbedaan tidak dipertentangkan, melainkan saling memuliakan dalam satu kehidupan bersama. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I GUSTI MADE DARMA PUTRA

Tags: Bung KarnoDesa Adat KutaHari Raya ImlekImlekKutatoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Slamat Trisila: Langkah-langkah Utama Mengubah Data Riset Menjadi Buku Layak Edar

Next Post

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co