3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Kuta, Menemukan Soekarno: Kepemimpinan Putra Daerah dan Toleransi Sebagai Wajah Kebangsaan

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
February 18, 2026
in Esai
Melihat Kuta, Menemukan Soekarno: Kepemimpinan Putra Daerah dan Toleransi Sebagai Wajah Kebangsaan

Foto-foto: I Gusti Made Darma Putra

KUTA adalah sebuah ruang pertemuan, sebuah Taman Sari keberagaman sebagaimana imajinasi Bung Karno, hamparan di mana berbagai bunga bangsa dan dunia tumbuh dengan warna, aroma, dan karakternya masing-masing. Di Kuta budaya, keyakinan, tradisi, dan cara hidup dari berbagai penjuru bertemu dalam satu lanskap sosial yang hidup. Namun, di balik dinamika itu, Kuta sesungguhnya tidak hanya membutuhkan toleransi sebagai sikap saling membiarkan. Ia membutuhkan keselarasan sebagai kesadaran bersama, di mana setiap perbedaan tidak sekadar berdampingan, tetapi saling memberi makna dalam satu kesatuan kehidupan.

Kuta bukan hanya ruang ekonomi dan pariwisata, tetapi juga ruang kebudayaan yang terus bernegosiasi dengan zaman. Modernitas datang tanpa henti, membawa arus global yang kuat, cepat, dan sering kali tanpa akar. Dalam situasi seperti ini, kebhinekaan dapat menjadi kekuatan, tetapi juga bisa menjadi kerentanan jika tidak dirawat dengan kesadaran kultural. Karena itu, Kuta membutuhkan keseimbangan, sebuah kemampuan untuk tetap terbuka terhadap dunia, namun tidak tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan yang menjadi fondasinya.

Denyut kebhinekaan itu terasa hangat dalam suasana persiapan Tahun Baru Imlek di Vihara Dharmayana Kuta. Di ruang suci tersebut, umat Buddha bersembahyang dengan khidmat, sementara masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan turut hadir dengan sikap hormat. Tidak ada sekat yang tegang, tidak ada jarak yang kaku. Yang hadir justru rasa kebersamaan yang alami. Inilah gotong royong dalam maknanya yang paling halus, bukan hanya kerja bersama secara fisik, tetapi kesediaan batin untuk menjaga ruang hidup bersama.

Gotong royong seperti ini sesungguhnya adalah inti dari gagasan besar Bung Karno tentang Pancasila, perasan dari semangat kolektif yang menyatukan “Aku” dan “Kamu” menjadi “Kita”. Di Kuta, gotong royong tidak selalu tampak dalam bentuk kerja bakti atau aktivitas komunal yang kasat mata. Ia hadir dalam bentuk yang lebih kultural, sikap saling menghormati, memberi ruang, dan menjaga harmoni di tengah perbedaan. Di sinilah pluralitas menemukan jiwanya.

Dalam lanskap sosial yang kompleks seperti Kuta, kepemimpinan tidak bisa hanya berjalan dalam logika administratif. Seorang pemimpin tidak cukup hanya mengatur, mengawasi, atau menjalankan fungsi birokrasi. Ia harus hadir sebagai penjaga keseimbangan sosial dan kultural. Ia harus mampu menjadi penyambung lidah rakyat, mendengar bukan hanya suara yang terucap, tetapi juga rasa yang tidak selalu terkatakan.

Dimensi kepemimpinan kultural inilah yang tercermin pada putra daerah, sosok I Gusti Anom Gumanti, SH. Kehadirannya di tengah ruang-ruang kebhinekaan menunjukkan bahwa memimpin bukan semata soal kewenangan, tetapi soal kedekatan rasa. Ia tidak hanya melihat masyarakat sebagai angka statistik atau kelompok administratif, tetapi sebagai manusia dengan nilai, harapan, dan identitas budaya yang harus dihormati. Sikap kepemimpinan seperti ini menjadikan masyarakat merasa diakui, dilihat, dan dimiliki oleh sistem yang menaunginya.

Kepemimpinan yang “ngerti” dan “ngerasa” seperti ini memiliki akar dalam filsafat kepemimpinan Nusantara. Dalam Kakawin Arjuna Wiwaha tersirat ajaran sukaning rat kininkinira, bahwa tugas utama seorang pemimpin adalah mengusahakan kebahagiaan dunia. Kebahagiaan yang dimaksud bukan sekadar kesejahteraan material, tetapi suasana hidup yang damai, harmonis, dan berkeadilan. Kebahagiaan kolektif lahir ketika masyarakat merasa aman dalam identitasnya, dihargai dalam perbedaannya, dan dilindungi dalam kehidupan bersama.

Dalam pemahaman budaya Bali, konsep ini sejalan dengan makna Ratu dari kata rat yang berarti dunia atau jagat, dan tu yang bermakna tunggal. Seorang pemimpin adalah pangawak jagat, yang menyatu dengan dunia dan masyarakatnya. Ia tidak berdiri di atas, tetapi berada di tengah. Ia merasakan denyut kehidupan rakyatnya, memahami kegelisahan mereka, dan menjaga keseimbangan kehidupan sosial dengan kesadaran dharma.

Kepemimpinan seperti ini juga menuntut integritas batin, sebagaimana prinsipsetia pada kata, teguh dalam tanggung jawab, dan tidak mengingkari amanah. Ketika kata dan tindakan berjalan seiring, kepercayaan sosial akan tumbuh. Dan kepercayaan adalah fondasi terpenting dalam merawat kebhinekaan.

Di tengah arus globalisasi yang begitu kuat di Kuta, prinsip Trisakti Bung Karno menjadi semakin relevan, khususnya tentang berkepribadian dalam kebudayaan. Kuta tidak mungkin menutup diri dari dunia, tetapi ia juga tidak boleh kehilangan jiwanya. Identitas budaya lokal harus menjadi filter, bukan penghambat. Kepemimpinan kultural berperan menjaga agar keterbukaan terhadap dunia tetap berjalan seiring dengan kekuatan jati diri.

Jika kebhinekaan hanya dibiarkan berjalan secara alamiah tanpa arah, ia bisa menjadi sekadar keberagaman yang rapuh. Tetapi jika kebhinekaan dirawat melalui kesadaran, teladan, dan kebijakan yang berakar pada nilai budaya, ia akan tumbuh menjadi harmoni yang kuat. Dalam konteks inilah peran pemimpin menjadi sangat strategis, bukan menciptakan keseragaman, tetapi menjaga keseimbangan di antara perbedaan.

Kuta, sebagai ruang pertemuan global, pada akhirnya adalah cermin Indonesia dalam skala kecil. Di sini, dunia bertemu Nusantara. Di sini, modernitas bertemu tradisi. Di sini pula, masa depan kebudayaan diuji setiap hari. Kepemimpinan yang mampu membaca kompleksitas ini bukan hanya akan menjaga stabilitas sosial, tetapi juga memastikan bahwa Kuta tetap menjadi ruang hidup yang manusiawi dan berbudaya.

Pada titik inilah makna sukaning rat menemukan konteksnya yang nyata. Kebahagiaan dunia bukanlah konsep abstrak, melainkan kondisi ketika masyarakat hidup dalam rasa aman, dihargai dalam identitasnya, dan merasakan kehadiran pemimpin yang benar-benar berpihak pada harmoni kehidupan bersama.

Jika Kuta adalah Taman Sari, maka kebhinekaan adalah bunga-bunganya, masyarakat adalah tanah yang menumbuhkannya, dan kepemimpinan adalah tangan yang merawat agar semuanya tetap hidup dalam keseimbangan. Ketika seorang pemimpin mampu hadir sebagai penyeimbang menyelaraskan perbedaan menjadi simfoni harmoni, maka kebudayaan tidak hanya bertahan, tetapi berkembang.

Di tengah gerak zaman yang serba cepat dan sering kali tanpa arah, kepemimpinan kultural menjadi jangkar bagi masa depan. Ia menjaga agar pembangunan tidak kehilangan rasa, agar modernitas tidak menghapus makna, dan agar kebhinekaan tetap menjadi kekuatan, bukan sekadar slogan.

Dan ketika keselarasan itu terjaga antara manusia dan manusia, antara budaya dan zaman, antara pemimpin dan rakyat disitulah sukaning rat tumbuh dengan sendirinya, kebahagiaan dunia yang berakar pada harmoni, hidup subur di Kuta, tempat di mana perbedaan tidak dipertentangkan, melainkan saling memuliakan dalam satu kehidupan bersama. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis I GUSTI MADE DARMA PUTRA

Tags: Bung KarnoDesa Adat KutaHari Raya ImlekImlekKutatoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Slamat Trisila: Langkah-langkah Utama Mengubah Data Riset Menjadi Buku Layak Edar

Next Post

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co