21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
March 29, 2026
in Tualang
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

Suasana malam di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya sebuah tempat yang dibangun seolah-olah mirip Shanghai di Cina. Shanghai citraan. Lebih tepatnya kawasan hiburan yang terinspirasi dari suasana distrik kuliner di Shanghai—dengan sentuhan budaya Asia Timur yang kental. Namanya Park Shanghai. Dibuka sejak 2 Juli 2025.

Dibangun di kawasan Pakuwon City, tepatnya di area outdoor Pakuwon City Mall di Surabaya Timur, Park Shanghai menawarkan destinasi kuliner oriental yang beragam. Mengusung konsep Kota Shanghai tempo dulu, kawasan ini menghadirkan deretan restoran dan tenant makanan khas Asia dengan suasana estetik yang unik, dan menjadikannya magnet baru bagi pecinta kuliner dan spot nongkrong di Surabaya Timur.

Tempat ini tidak terlalu besar—tampaknya ia tidak dirancang untuk menampung kerumunan raksasa, melainkan interaksi yang lebih intim. Jalur pedestrian yang melingkar, bangku-bangku taman, serta area terbuka menjadi elemen utama yang menopang fungsi dasarnya sebagai ruang publik.

Namun, yang membuat Park Shanghai berbeda adalah pendekatan visualnya. Gerbang merah dengan lengkungan khas oriental, ornamen dekoratif yang terinspirasi dari arsitektur Tiongkok, serta pemilihan warna yang kontras namun harmonis—semuanya dirancang untuk membangun suasana. Saya kira bukan untuk meniru secara sempurna, tetapi sekadar untuk menghadirkan kesan saja. Luluk, pengunjung dari Bali yang sedang dipotret anaknya berkata, “Kalau difoto kayak bukan di Surabaya.”

Salah satu gerbang masuk Park Shanghai yang bernuansa oriental | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sabtu malam saya berkunjung ke sana. Itu jelas malam yang ramai. Kendaraan membanjir menuju pintu masuk. Sementara tempat parkir sudah berjubel. Petugas mengarahkan mobil-mobil untuk parkir di dalam gedung perbelanjaan. Seorang pengendara tampak mengeluh. Saya memperhatikannya dari depan gerbang Park Shanghai yang sangat khas Negeri Tirai Bambu itu.

Benar. Tempat ini memang ramah untuk wisata keluarga. Tidak hanya menawarkan ragam makanan lezat—dan, jujur, agak mahal untuk ukuran saya—, Park Shanghai juga dirancang sebagai ruang publik terbuka dengan dekorasi lampion, bangunan bergaya oriental, dan pencahayaan malam yang fotogenik. Tak heran jika tempat ini cepat viral dan ramai dikunjungi warga Surabaya maupun pengunjung dari luar kota.

“Saya dari Gresik,” ucap Nuraini yang berwisata bersama anak dan suaminya. Perempuan berkerudung dan berkacamata itu mengaku baru pertama kali ke sini. Ia tahu tempat ini dari media sosial. Dan ia terkesan dengan bangunan-bangunan restoran di Park Shangsai. “Anak saya suka. Katanya kayak di film-film Cina,” katanya sambil tersenyum.

Suasana Ru Wei Xiang, kedai masakan Chinese tradisional non-halal, di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pengaruh budaya populer memang tak bisa diabaikan. Representasi visual tentang Tiongkok—baik melalui film, serial, maupun media sosial—telah membentuk imajinasi kolektif masyarakat. Park Shanghai seolah menjembatani imajinasi itu dengan realitas yang bisa disentuh.

Ya, ornamen arsitekturnya—lengkungan bergaya oriental, pagoda, naga dan panda, bonsai-bonsai, warna merah yang mencolok namun tidak berlebihan, serta detail-detail ukiran dan lampion-lampion itu—mengingatkan kita pada estetika taman klasik di Tiongkok. Meski tidak sebesar taman-taman tematik di kota besar dunia, Park Shanghai tetap menghadirkan pengalaman visual yang cukup kuat untuk menggeser persepsi ruang di Surabaya.

Namun, seperti banyak ruang tematik lainnya, Park Shanghai juga menghadapi tantangan. Beberapa bagian terlihat mulai mengalami keausan—cat yang memudar, fasilitas yang membutuhkan perawatan. Ini adalah pengingat bahwa membangun ruang publik hanyalah langkah awal; menjaga keberlanjutannya adalah pekerjaan yang tak kalah penting.

Suasana malam di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang makna representasi. Apakah taman ini benar-benar merepresentasikan budaya Shanghai atau sekadar interpretasi visual yang disederhanakan? Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki jawaban tunggal, tetapi justru membuka ruang diskusi tentang bagaimana budaya dipahami dan ditampilkan di ruang publik.

Surabaya, sebagai kota pelabuhan, sejak lama menjadi simpul pertemuan berbagai budaya. Jejak komunitas Tionghoa dapat ditemukan di kawasan seperti Kampung Kapasan atau Kya-Kya Kembang Jepun—Kawasan Pecinan Surabaya. Dalam konteks itu, kehadiran Park Shanghai bukanlah sesuatu yang sepenuhnya asing. Ia adalah perpanjangan narasi sejarah—meski dikemas dalam bentuk yang lebih kontemporer.

Namun, berbeda dengan kawasan heritage yang sarat dengan sejarah konkret, Park Shanghai lebih menyerupai simbol. Ia tidak menceritakan masa lalu secara langsung, tetapi mengisyaratkan hubungan lintas budaya yang telah lama terjalin. Atau kehadirannya justru mengaburkan kenyataan masa lalu bagaimana etnis Tionghoa diperlakukan di negara ini.

Pagoda setinggi 38 meter yang menjadi landmark Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dinding bangunan yang penuh gambar di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya berjalan pelan sambil mengabadikan beberapa bangunan. Langit sangat gelap. Tak ada satu bintang pun terlihat. Oh, bintang memang sudah lama menghilang dari langit Surabaya. Cahanya sudah diganti oleh gemerlap neon-neon gedung bertingkat yang berdesakan di kota metropolitan ini.

Di bangku kayu yang menghadap jalur setapak, saya duduk sejenak, memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi. Seorang anak kecil berlari sambil tertawa, diikuti ibunya yang setengah panik. Di sudut lain, dua remaja sibuk mengambil foto dengan latar lorong pertokoan. Semua orang, dengan cara mereka masing-masing, sedang “bersafari” di sini. Bukan ke Shanghai yang sebenarnya, tentu saja. Tapi ke sebuah versi yang cukup dekat untuk dibayangkan, dan cukup jauh untuk terasa berbeda.

Di dalam kawasan, ada satu dinding yang menarik perhatian saya. Dinding itu penuh dengan gambar, seperti komik. Itu gambar suasana yang meriah. Ada pementasan barongsai, transaksi jual-beli, sampai seorang—bukan sekor—sapi berkaki dua dan bertangan bertarik tambang dengan dua orang pria. Gambar-gambar di dinding itu sangat karikatural dan ikonik. Tak heran jika banyak pengunjung yang menjadikannya sebagai latar foto.

Makan di Restoran Ayam Goreng Pahlawan Nusantara di kawasan Park Shanghai, Surabaya Timur | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya masuk lebih dalam. Menyusuri resto-resto yang tampak seperti pertokoan tua di Cina, dan mendapati ragam kuliner yang bernaung di bawah atap bangunan oriental itu. Ada kedai Ah Pek Kopitiam yang menawarkan suasana nostalgia dengan desain khas kopitiam Peranakan. Interiornya didesain estetik bergaya retro Cina-Melayu yang menjadikannya salah satu spot foto favorit pengunjung. Selain menjadi tempat makan yang nyaman, tampaknya Ah Pek Kopitiam juga cocok untuk nongkrong sore dengan suasana hangat seperti di kedai tua zaman dulu.

Menurut keterangan di halaman digital Pakuwon City, kedaiAh Pek Kopitiam terkenal dengan sajian klasik seperti roti bakar srikaya, telur setengah matang, kopi tarik, nasi Hainan, hingga berbagai mi dan nasi Chinese yang dimasak dengan resep rumahan.

Wah, lihat itu. Ternyata banyak pula restoran non halal di sini. Banyak olahan daging babi yang ditawarkan. Kedai Ru Wei Xiang tampaknya cocok untuk pecinta masakan Chinese tradisional non-halal. Dengan sistem prasmanan, pengunjung dapat memilih langsung aneka lauk yang sudah tersedia di etalase, seperti babi panggang, tumisan oriental, bakpao isi, dan aneka sayuran khas. Sungguh nuansa kaki lima ala Tiongkok daratan.

Saya berhenti di depan restoran ayam goreng. Namanya Ayam Goreng Pahlawan Nusantara. Saya memesan tempat. Ya, sebelum memesan makanan dan minuman, Anda harus memesan tempat lebih dulu. “Masih ada lima antrean, Pak.” Itu dia sebabnya. Banyak orang yang mau makan di resto ini. Sedangkan tempatnya tak cukup menampung semuanya secara bersamaan. Jadi, Anda harus menunggu giliran; menunggu ada meja dan kursi kosong.

“Silakan tunggu di sini dulu, Pak,” ucap pelayan perempuan sambil menunjuk sebuah kursi kecil di samping pintu masuk. Saya duduk. Pelayan itu menutup pintu restoran dan kembali melayani pengunjung yang baru datang. Begitu terus, berulang-ulang, sampai saya mendapatkan meja-kursi dan menyantap ayam goreng lengkap dengan bayam dan labu rebus, sambal bawang, timun, dan kremesan tepung. Ah, pepatah lama itu memang benar: “Ada harga ada rasa”.

Bangunan-bangunan ikonik di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Malam beranjak. Hujan mulai turun. Orang-orang menepi, berteduh di teras-teras resto, menunggu giliran payung yang disediakan petugas kawasan. Seorang petugas kebersihan dengan mantel membelah hujan dan mengorek-orek saluran drainase yang mampet. Hujan makin deras. Tapi lagu-lagu Mandarin tetap lantang terdengar.

Saya meninggalkan Park Shanghai ketika hujan sudah benar-benar tinggal tetes terakhir. Tidak ada perasaan spektakuler, tentu saja, dan tidak ada perasaan “harus kembali lagi”. Tapi ada sesuatu yang tertinggal, semacam kesadaran kecil bahwa kota ini terus berusaha menjadi lebih dari dirinya sendiri, dan tampaknya selalu punya cara membuat warganya memiliki lebih banyak alasan untuk menghabiskan gaji bulanan alih-alih menabungnya. Ah, saya kira, begitulah rayuan kota urban.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: CinakulinermallShanghaiSurabayaTionghoaTiongkok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HINDU NUSANTARA MELAMPAUI EKSKLUSIVITAS SAMPRADAYA.

Next Post

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co