12 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
March 29, 2026
in Tualang
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

Suasana malam di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya sebuah tempat yang dibangun seolah-olah mirip Shanghai di Cina. Shanghai citraan. Lebih tepatnya kawasan hiburan yang terinspirasi dari suasana distrik kuliner di Shanghai—dengan sentuhan budaya Asia Timur yang kental. Namanya Park Shanghai. Dibuka sejak 2 Juli 2025.

Dibangun di kawasan Pakuwon City, tepatnya di area outdoor Pakuwon City Mall di Surabaya Timur, Park Shanghai menawarkan destinasi kuliner oriental yang beragam. Mengusung konsep Kota Shanghai tempo dulu, kawasan ini menghadirkan deretan restoran dan tenant makanan khas Asia dengan suasana estetik yang unik, dan menjadikannya magnet baru bagi pecinta kuliner dan spot nongkrong di Surabaya Timur.

Tempat ini tidak terlalu besar—tampaknya ia tidak dirancang untuk menampung kerumunan raksasa, melainkan interaksi yang lebih intim. Jalur pedestrian yang melingkar, bangku-bangku taman, serta area terbuka menjadi elemen utama yang menopang fungsi dasarnya sebagai ruang publik.

Namun, yang membuat Park Shanghai berbeda adalah pendekatan visualnya. Gerbang merah dengan lengkungan khas oriental, ornamen dekoratif yang terinspirasi dari arsitektur Tiongkok, serta pemilihan warna yang kontras namun harmonis—semuanya dirancang untuk membangun suasana. Saya kira bukan untuk meniru secara sempurna, tetapi sekadar untuk menghadirkan kesan saja. Luluk, pengunjung dari Bali yang sedang dipotret anaknya berkata, “Kalau difoto kayak bukan di Surabaya.”

Salah satu gerbang masuk Park Shanghai yang bernuansa oriental | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sabtu malam saya berkunjung ke sana. Itu jelas malam yang ramai. Kendaraan membanjir menuju pintu masuk. Sementara tempat parkir sudah berjubel. Petugas mengarahkan mobil-mobil untuk parkir di dalam gedung perbelanjaan. Seorang pengendara tampak mengeluh. Saya memperhatikannya dari depan gerbang Park Shanghai yang sangat khas Negeri Tirai Bambu itu.

Benar. Tempat ini memang ramah untuk wisata keluarga. Tidak hanya menawarkan ragam makanan lezat—dan, jujur, agak mahal untuk ukuran saya—, Park Shanghai juga dirancang sebagai ruang publik terbuka dengan dekorasi lampion, bangunan bergaya oriental, dan pencahayaan malam yang fotogenik. Tak heran jika tempat ini cepat viral dan ramai dikunjungi warga Surabaya maupun pengunjung dari luar kota.

“Saya dari Gresik,” ucap Nuraini yang berwisata bersama anak dan suaminya. Perempuan berkerudung dan berkacamata itu mengaku baru pertama kali ke sini. Ia tahu tempat ini dari media sosial. Dan ia terkesan dengan bangunan-bangunan restoran di Park Shangsai. “Anak saya suka. Katanya kayak di film-film Cina,” katanya sambil tersenyum.

Suasana Ru Wei Xiang, kedai masakan Chinese tradisional non-halal, di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pengaruh budaya populer memang tak bisa diabaikan. Representasi visual tentang Tiongkok—baik melalui film, serial, maupun media sosial—telah membentuk imajinasi kolektif masyarakat. Park Shanghai seolah menjembatani imajinasi itu dengan realitas yang bisa disentuh.

Ya, ornamen arsitekturnya—lengkungan bergaya oriental, pagoda, naga dan panda, bonsai-bonsai, warna merah yang mencolok namun tidak berlebihan, serta detail-detail ukiran dan lampion-lampion itu—mengingatkan kita pada estetika taman klasik di Tiongkok. Meski tidak sebesar taman-taman tematik di kota besar dunia, Park Shanghai tetap menghadirkan pengalaman visual yang cukup kuat untuk menggeser persepsi ruang di Surabaya.

Namun, seperti banyak ruang tematik lainnya, Park Shanghai juga menghadapi tantangan. Beberapa bagian terlihat mulai mengalami keausan—cat yang memudar, fasilitas yang membutuhkan perawatan. Ini adalah pengingat bahwa membangun ruang publik hanyalah langkah awal; menjaga keberlanjutannya adalah pekerjaan yang tak kalah penting.

Suasana malam di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang makna representasi. Apakah taman ini benar-benar merepresentasikan budaya Shanghai atau sekadar interpretasi visual yang disederhanakan? Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki jawaban tunggal, tetapi justru membuka ruang diskusi tentang bagaimana budaya dipahami dan ditampilkan di ruang publik.

Surabaya, sebagai kota pelabuhan, sejak lama menjadi simpul pertemuan berbagai budaya. Jejak komunitas Tionghoa dapat ditemukan di kawasan seperti Kampung Kapasan atau Kya-Kya Kembang Jepun—Kawasan Pecinan Surabaya. Dalam konteks itu, kehadiran Park Shanghai bukanlah sesuatu yang sepenuhnya asing. Ia adalah perpanjangan narasi sejarah—meski dikemas dalam bentuk yang lebih kontemporer.

Namun, berbeda dengan kawasan heritage yang sarat dengan sejarah konkret, Park Shanghai lebih menyerupai simbol. Ia tidak menceritakan masa lalu secara langsung, tetapi mengisyaratkan hubungan lintas budaya yang telah lama terjalin. Atau kehadirannya justru mengaburkan kenyataan masa lalu bagaimana etnis Tionghoa diperlakukan di negara ini.

Pagoda setinggi 38 meter yang menjadi landmark Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dinding bangunan yang penuh gambar di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya berjalan pelan sambil mengabadikan beberapa bangunan. Langit sangat gelap. Tak ada satu bintang pun terlihat. Oh, bintang memang sudah lama menghilang dari langit Surabaya. Cahanya sudah diganti oleh gemerlap neon-neon gedung bertingkat yang berdesakan di kota metropolitan ini.

Di bangku kayu yang menghadap jalur setapak, saya duduk sejenak, memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi. Seorang anak kecil berlari sambil tertawa, diikuti ibunya yang setengah panik. Di sudut lain, dua remaja sibuk mengambil foto dengan latar lorong pertokoan. Semua orang, dengan cara mereka masing-masing, sedang “bersafari” di sini. Bukan ke Shanghai yang sebenarnya, tentu saja. Tapi ke sebuah versi yang cukup dekat untuk dibayangkan, dan cukup jauh untuk terasa berbeda.

Di dalam kawasan, ada satu dinding yang menarik perhatian saya. Dinding itu penuh dengan gambar, seperti komik. Itu gambar suasana yang meriah. Ada pementasan barongsai, transaksi jual-beli, sampai seorang—bukan sekor—sapi berkaki dua dan bertangan bertarik tambang dengan dua orang pria. Gambar-gambar di dinding itu sangat karikatural dan ikonik. Tak heran jika banyak pengunjung yang menjadikannya sebagai latar foto.

Makan di Restoran Ayam Goreng Pahlawan Nusantara di kawasan Park Shanghai, Surabaya Timur | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya masuk lebih dalam. Menyusuri resto-resto yang tampak seperti pertokoan tua di Cina, dan mendapati ragam kuliner yang bernaung di bawah atap bangunan oriental itu. Ada kedai Ah Pek Kopitiam yang menawarkan suasana nostalgia dengan desain khas kopitiam Peranakan. Interiornya didesain estetik bergaya retro Cina-Melayu yang menjadikannya salah satu spot foto favorit pengunjung. Selain menjadi tempat makan yang nyaman, tampaknya Ah Pek Kopitiam juga cocok untuk nongkrong sore dengan suasana hangat seperti di kedai tua zaman dulu.

Menurut keterangan di halaman digital Pakuwon City, kedaiAh Pek Kopitiam terkenal dengan sajian klasik seperti roti bakar srikaya, telur setengah matang, kopi tarik, nasi Hainan, hingga berbagai mi dan nasi Chinese yang dimasak dengan resep rumahan.

Wah, lihat itu. Ternyata banyak pula restoran non halal di sini. Banyak olahan daging babi yang ditawarkan. Kedai Ru Wei Xiang tampaknya cocok untuk pecinta masakan Chinese tradisional non-halal. Dengan sistem prasmanan, pengunjung dapat memilih langsung aneka lauk yang sudah tersedia di etalase, seperti babi panggang, tumisan oriental, bakpao isi, dan aneka sayuran khas. Sungguh nuansa kaki lima ala Tiongkok daratan.

Saya berhenti di depan restoran ayam goreng. Namanya Ayam Goreng Pahlawan Nusantara. Saya memesan tempat. Ya, sebelum memesan makanan dan minuman, Anda harus memesan tempat lebih dulu. “Masih ada lima antrean, Pak.” Itu dia sebabnya. Banyak orang yang mau makan di resto ini. Sedangkan tempatnya tak cukup menampung semuanya secara bersamaan. Jadi, Anda harus menunggu giliran; menunggu ada meja dan kursi kosong.

“Silakan tunggu di sini dulu, Pak,” ucap pelayan perempuan sambil menunjuk sebuah kursi kecil di samping pintu masuk. Saya duduk. Pelayan itu menutup pintu restoran dan kembali melayani pengunjung yang baru datang. Begitu terus, berulang-ulang, sampai saya mendapatkan meja-kursi dan menyantap ayam goreng lengkap dengan bayam dan labu rebus, sambal bawang, timun, dan kremesan tepung. Ah, pepatah lama itu memang benar: “Ada harga ada rasa”.

Bangunan-bangunan ikonik di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Malam beranjak. Hujan mulai turun. Orang-orang menepi, berteduh di teras-teras resto, menunggu giliran payung yang disediakan petugas kawasan. Seorang petugas kebersihan dengan mantel membelah hujan dan mengorek-orek saluran drainase yang mampet. Hujan makin deras. Tapi lagu-lagu Mandarin tetap lantang terdengar.

Saya meninggalkan Park Shanghai ketika hujan sudah benar-benar tinggal tetes terakhir. Tidak ada perasaan spektakuler, tentu saja, dan tidak ada perasaan “harus kembali lagi”. Tapi ada sesuatu yang tertinggal, semacam kesadaran kecil bahwa kota ini terus berusaha menjadi lebih dari dirinya sendiri, dan tampaknya selalu punya cara membuat warganya memiliki lebih banyak alasan untuk menghabiskan gaji bulanan alih-alih menabungnya. Ah, saya kira, begitulah rayuan kota urban.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: CinakulinermallShanghaiSurabayaTionghoaTiongkok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HINDU NUSANTARA MELAMPAUI EKSKLUSIVITAS SAMPRADAYA.

Next Post

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri
Esai

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

by Angga Wijaya
June 11, 2026
Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional
Lingkungan

Beach Cleaning di Pantai Mertasari, Aksi Peduli Lingkungan Mahasiswa Fakultas Vokasi IPB Internasional

KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
June 11, 2026
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng
Tualang

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
Tempe dan Ekonomi yang Teriris
Esai

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
Fiksi

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat...

by Chusmeru
June 11, 2026
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan
Esai

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

by Chandra Manikan
June 10, 2026
‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan
Panggung

‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
June 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan
Esai

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan
Esai

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan
Ulas Pentas

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

by Rezky Chiki
June 9, 2026
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  
Esai

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co