APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya sebuah tempat yang dibangun seolah-olah mirip Shanghai di Cina. Shanghai citraan. Lebih tepatnya kawasan hiburan yang terinspirasi dari suasana distrik kuliner di Shanghai—dengan sentuhan budaya Asia Timur yang kental. Namanya Park Shanghai. Dibuka sejak 2 Juli 2025.
Dibangun di kawasan Pakuwon City, tepatnya di area outdoor Pakuwon City Mall di Surabaya Timur, Park Shanghai menawarkan destinasi kuliner oriental yang beragam. Mengusung konsep Kota Shanghai tempo dulu, kawasan ini menghadirkan deretan restoran dan tenant makanan khas Asia dengan suasana estetik yang unik, dan menjadikannya magnet baru bagi pecinta kuliner dan spot nongkrong di Surabaya Timur.
Tempat ini tidak terlalu besar—tampaknya ia tidak dirancang untuk menampung kerumunan raksasa, melainkan interaksi yang lebih intim. Jalur pedestrian yang melingkar, bangku-bangku taman, serta area terbuka menjadi elemen utama yang menopang fungsi dasarnya sebagai ruang publik.
Namun, yang membuat Park Shanghai berbeda adalah pendekatan visualnya. Gerbang merah dengan lengkungan khas oriental, ornamen dekoratif yang terinspirasi dari arsitektur Tiongkok, serta pemilihan warna yang kontras namun harmonis—semuanya dirancang untuk membangun suasana. Saya kira bukan untuk meniru secara sempurna, tetapi sekadar untuk menghadirkan kesan saja. Luluk, pengunjung dari Bali yang sedang dipotret anaknya berkata, “Kalau difoto kayak bukan di Surabaya.”

Sabtu malam saya berkunjung ke sana. Itu jelas malam yang ramai. Kendaraan membanjir menuju pintu masuk. Sementara tempat parkir sudah berjubel. Petugas mengarahkan mobil-mobil untuk parkir di dalam gedung perbelanjaan. Seorang pengendara tampak mengeluh. Saya memperhatikannya dari depan gerbang Park Shanghai yang sangat khas Negeri Tirai Bambu itu.
Benar. Tempat ini memang ramah untuk wisata keluarga. Tidak hanya menawarkan ragam makanan lezat—dan, jujur, agak mahal untuk ukuran saya—, Park Shanghai juga dirancang sebagai ruang publik terbuka dengan dekorasi lampion, bangunan bergaya oriental, dan pencahayaan malam yang fotogenik. Tak heran jika tempat ini cepat viral dan ramai dikunjungi warga Surabaya maupun pengunjung dari luar kota.
“Saya dari Gresik,” ucap Nuraini yang berwisata bersama anak dan suaminya. Perempuan berkerudung dan berkacamata itu mengaku baru pertama kali ke sini. Ia tahu tempat ini dari media sosial. Dan ia terkesan dengan bangunan-bangunan restoran di Park Shangsai. “Anak saya suka. Katanya kayak di film-film Cina,” katanya sambil tersenyum.

Pengaruh budaya populer memang tak bisa diabaikan. Representasi visual tentang Tiongkok—baik melalui film, serial, maupun media sosial—telah membentuk imajinasi kolektif masyarakat. Park Shanghai seolah menjembatani imajinasi itu dengan realitas yang bisa disentuh.
Ya, ornamen arsitekturnya—lengkungan bergaya oriental, pagoda, naga dan panda, bonsai-bonsai, warna merah yang mencolok namun tidak berlebihan, serta detail-detail ukiran dan lampion-lampion itu—mengingatkan kita pada estetika taman klasik di Tiongkok. Meski tidak sebesar taman-taman tematik di kota besar dunia, Park Shanghai tetap menghadirkan pengalaman visual yang cukup kuat untuk menggeser persepsi ruang di Surabaya.
Namun, seperti banyak ruang tematik lainnya, Park Shanghai juga menghadapi tantangan. Beberapa bagian terlihat mulai mengalami keausan—cat yang memudar, fasilitas yang membutuhkan perawatan. Ini adalah pengingat bahwa membangun ruang publik hanyalah langkah awal; menjaga keberlanjutannya adalah pekerjaan yang tak kalah penting.


Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang makna representasi. Apakah taman ini benar-benar merepresentasikan budaya Shanghai atau sekadar interpretasi visual yang disederhanakan? Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki jawaban tunggal, tetapi justru membuka ruang diskusi tentang bagaimana budaya dipahami dan ditampilkan di ruang publik.
Surabaya, sebagai kota pelabuhan, sejak lama menjadi simpul pertemuan berbagai budaya. Jejak komunitas Tionghoa dapat ditemukan di kawasan seperti Kampung Kapasan atau Kya-Kya Kembang Jepun—Kawasan Pecinan Surabaya. Dalam konteks itu, kehadiran Park Shanghai bukanlah sesuatu yang sepenuhnya asing. Ia adalah perpanjangan narasi sejarah—meski dikemas dalam bentuk yang lebih kontemporer.
Namun, berbeda dengan kawasan heritage yang sarat dengan sejarah konkret, Park Shanghai lebih menyerupai simbol. Ia tidak menceritakan masa lalu secara langsung, tetapi mengisyaratkan hubungan lintas budaya yang telah lama terjalin. Atau kehadirannya justru mengaburkan kenyataan masa lalu bagaimana etnis Tionghoa diperlakukan di negara ini.


Saya berjalan pelan sambil mengabadikan beberapa bangunan. Langit sangat gelap. Tak ada satu bintang pun terlihat. Oh, bintang memang sudah lama menghilang dari langit Surabaya. Cahanya sudah diganti oleh gemerlap neon-neon gedung bertingkat yang berdesakan di kota metropolitan ini.
Di bangku kayu yang menghadap jalur setapak, saya duduk sejenak, memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi. Seorang anak kecil berlari sambil tertawa, diikuti ibunya yang setengah panik. Di sudut lain, dua remaja sibuk mengambil foto dengan latar lorong pertokoan. Semua orang, dengan cara mereka masing-masing, sedang “bersafari” di sini. Bukan ke Shanghai yang sebenarnya, tentu saja. Tapi ke sebuah versi yang cukup dekat untuk dibayangkan, dan cukup jauh untuk terasa berbeda.
Di dalam kawasan, ada satu dinding yang menarik perhatian saya. Dinding itu penuh dengan gambar, seperti komik. Itu gambar suasana yang meriah. Ada pementasan barongsai, transaksi jual-beli, sampai seorang—bukan sekor—sapi berkaki dua dan bertangan bertarik tambang dengan dua orang pria. Gambar-gambar di dinding itu sangat karikatural dan ikonik. Tak heran jika banyak pengunjung yang menjadikannya sebagai latar foto.

Saya masuk lebih dalam. Menyusuri resto-resto yang tampak seperti pertokoan tua di Cina, dan mendapati ragam kuliner yang bernaung di bawah atap bangunan oriental itu. Ada kedai Ah Pek Kopitiam yang menawarkan suasana nostalgia dengan desain khas kopitiam Peranakan. Interiornya didesain estetik bergaya retro Cina-Melayu yang menjadikannya salah satu spot foto favorit pengunjung. Selain menjadi tempat makan yang nyaman, tampaknya Ah Pek Kopitiam juga cocok untuk nongkrong sore dengan suasana hangat seperti di kedai tua zaman dulu.
Menurut keterangan di halaman digital Pakuwon City, kedaiAh Pek Kopitiam terkenal dengan sajian klasik seperti roti bakar srikaya, telur setengah matang, kopi tarik, nasi Hainan, hingga berbagai mi dan nasi Chinese yang dimasak dengan resep rumahan.
Wah, lihat itu. Ternyata banyak pula restoran non halal di sini. Banyak olahan daging babi yang ditawarkan. Kedai Ru Wei Xiang tampaknya cocok untuk pecinta masakan Chinese tradisional non-halal. Dengan sistem prasmanan, pengunjung dapat memilih langsung aneka lauk yang sudah tersedia di etalase, seperti babi panggang, tumisan oriental, bakpao isi, dan aneka sayuran khas. Sungguh nuansa kaki lima ala Tiongkok daratan.
Saya berhenti di depan restoran ayam goreng. Namanya Ayam Goreng Pahlawan Nusantara. Saya memesan tempat. Ya, sebelum memesan makanan dan minuman, Anda harus memesan tempat lebih dulu. “Masih ada lima antrean, Pak.” Itu dia sebabnya. Banyak orang yang mau makan di resto ini. Sedangkan tempatnya tak cukup menampung semuanya secara bersamaan. Jadi, Anda harus menunggu giliran; menunggu ada meja dan kursi kosong.
“Silakan tunggu di sini dulu, Pak,” ucap pelayan perempuan sambil menunjuk sebuah kursi kecil di samping pintu masuk. Saya duduk. Pelayan itu menutup pintu restoran dan kembali melayani pengunjung yang baru datang. Begitu terus, berulang-ulang, sampai saya mendapatkan meja-kursi dan menyantap ayam goreng lengkap dengan bayam dan labu rebus, sambal bawang, timun, dan kremesan tepung. Ah, pepatah lama itu memang benar: “Ada harga ada rasa”.



Malam beranjak. Hujan mulai turun. Orang-orang menepi, berteduh di teras-teras resto, menunggu giliran payung yang disediakan petugas kawasan. Seorang petugas kebersihan dengan mantel membelah hujan dan mengorek-orek saluran drainase yang mampet. Hujan makin deras. Tapi lagu-lagu Mandarin tetap lantang terdengar.
Saya meninggalkan Park Shanghai ketika hujan sudah benar-benar tinggal tetes terakhir. Tidak ada perasaan spektakuler, tentu saja, dan tidak ada perasaan “harus kembali lagi”. Tapi ada sesuatu yang tertinggal, semacam kesadaran kecil bahwa kota ini terus berusaha menjadi lebih dari dirinya sendiri, dan tampaknya selalu punya cara membuat warganya memiliki lebih banyak alasan untuk menghabiskan gaji bulanan alih-alih menabungnya. Ah, saya kira, begitulah rayuan kota urban.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole





























