23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
March 29, 2026
in Tualang
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

Suasana malam di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya sebuah tempat yang dibangun seolah-olah mirip Shanghai di Cina. Shanghai citraan. Lebih tepatnya kawasan hiburan yang terinspirasi dari suasana distrik kuliner di Shanghai—dengan sentuhan budaya Asia Timur yang kental. Namanya Park Shanghai. Dibuka sejak 2 Juli 2025.

Dibangun di kawasan Pakuwon City, tepatnya di area outdoor Pakuwon City Mall di Surabaya Timur, Park Shanghai menawarkan destinasi kuliner oriental yang beragam. Mengusung konsep Kota Shanghai tempo dulu, kawasan ini menghadirkan deretan restoran dan tenant makanan khas Asia dengan suasana estetik yang unik, dan menjadikannya magnet baru bagi pecinta kuliner dan spot nongkrong di Surabaya Timur.

Tempat ini tidak terlalu besar—tampaknya ia tidak dirancang untuk menampung kerumunan raksasa, melainkan interaksi yang lebih intim. Jalur pedestrian yang melingkar, bangku-bangku taman, serta area terbuka menjadi elemen utama yang menopang fungsi dasarnya sebagai ruang publik.

Namun, yang membuat Park Shanghai berbeda adalah pendekatan visualnya. Gerbang merah dengan lengkungan khas oriental, ornamen dekoratif yang terinspirasi dari arsitektur Tiongkok, serta pemilihan warna yang kontras namun harmonis—semuanya dirancang untuk membangun suasana. Saya kira bukan untuk meniru secara sempurna, tetapi sekadar untuk menghadirkan kesan saja. Luluk, pengunjung dari Bali yang sedang dipotret anaknya berkata, “Kalau difoto kayak bukan di Surabaya.”

Salah satu gerbang masuk Park Shanghai yang bernuansa oriental | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sabtu malam saya berkunjung ke sana. Itu jelas malam yang ramai. Kendaraan membanjir menuju pintu masuk. Sementara tempat parkir sudah berjubel. Petugas mengarahkan mobil-mobil untuk parkir di dalam gedung perbelanjaan. Seorang pengendara tampak mengeluh. Saya memperhatikannya dari depan gerbang Park Shanghai yang sangat khas Negeri Tirai Bambu itu.

Benar. Tempat ini memang ramah untuk wisata keluarga. Tidak hanya menawarkan ragam makanan lezat—dan, jujur, agak mahal untuk ukuran saya—, Park Shanghai juga dirancang sebagai ruang publik terbuka dengan dekorasi lampion, bangunan bergaya oriental, dan pencahayaan malam yang fotogenik. Tak heran jika tempat ini cepat viral dan ramai dikunjungi warga Surabaya maupun pengunjung dari luar kota.

“Saya dari Gresik,” ucap Nuraini yang berwisata bersama anak dan suaminya. Perempuan berkerudung dan berkacamata itu mengaku baru pertama kali ke sini. Ia tahu tempat ini dari media sosial. Dan ia terkesan dengan bangunan-bangunan restoran di Park Shangsai. “Anak saya suka. Katanya kayak di film-film Cina,” katanya sambil tersenyum.

Suasana Ru Wei Xiang, kedai masakan Chinese tradisional non-halal, di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pengaruh budaya populer memang tak bisa diabaikan. Representasi visual tentang Tiongkok—baik melalui film, serial, maupun media sosial—telah membentuk imajinasi kolektif masyarakat. Park Shanghai seolah menjembatani imajinasi itu dengan realitas yang bisa disentuh.

Ya, ornamen arsitekturnya—lengkungan bergaya oriental, pagoda, naga dan panda, bonsai-bonsai, warna merah yang mencolok namun tidak berlebihan, serta detail-detail ukiran dan lampion-lampion itu—mengingatkan kita pada estetika taman klasik di Tiongkok. Meski tidak sebesar taman-taman tematik di kota besar dunia, Park Shanghai tetap menghadirkan pengalaman visual yang cukup kuat untuk menggeser persepsi ruang di Surabaya.

Namun, seperti banyak ruang tematik lainnya, Park Shanghai juga menghadapi tantangan. Beberapa bagian terlihat mulai mengalami keausan—cat yang memudar, fasilitas yang membutuhkan perawatan. Ini adalah pengingat bahwa membangun ruang publik hanyalah langkah awal; menjaga keberlanjutannya adalah pekerjaan yang tak kalah penting.

Suasana malam di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang makna representasi. Apakah taman ini benar-benar merepresentasikan budaya Shanghai atau sekadar interpretasi visual yang disederhanakan? Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki jawaban tunggal, tetapi justru membuka ruang diskusi tentang bagaimana budaya dipahami dan ditampilkan di ruang publik.

Surabaya, sebagai kota pelabuhan, sejak lama menjadi simpul pertemuan berbagai budaya. Jejak komunitas Tionghoa dapat ditemukan di kawasan seperti Kampung Kapasan atau Kya-Kya Kembang Jepun—Kawasan Pecinan Surabaya. Dalam konteks itu, kehadiran Park Shanghai bukanlah sesuatu yang sepenuhnya asing. Ia adalah perpanjangan narasi sejarah—meski dikemas dalam bentuk yang lebih kontemporer.

Namun, berbeda dengan kawasan heritage yang sarat dengan sejarah konkret, Park Shanghai lebih menyerupai simbol. Ia tidak menceritakan masa lalu secara langsung, tetapi mengisyaratkan hubungan lintas budaya yang telah lama terjalin. Atau kehadirannya justru mengaburkan kenyataan masa lalu bagaimana etnis Tionghoa diperlakukan di negara ini.

Pagoda setinggi 38 meter yang menjadi landmark Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dinding bangunan yang penuh gambar di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya berjalan pelan sambil mengabadikan beberapa bangunan. Langit sangat gelap. Tak ada satu bintang pun terlihat. Oh, bintang memang sudah lama menghilang dari langit Surabaya. Cahanya sudah diganti oleh gemerlap neon-neon gedung bertingkat yang berdesakan di kota metropolitan ini.

Di bangku kayu yang menghadap jalur setapak, saya duduk sejenak, memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi. Seorang anak kecil berlari sambil tertawa, diikuti ibunya yang setengah panik. Di sudut lain, dua remaja sibuk mengambil foto dengan latar lorong pertokoan. Semua orang, dengan cara mereka masing-masing, sedang “bersafari” di sini. Bukan ke Shanghai yang sebenarnya, tentu saja. Tapi ke sebuah versi yang cukup dekat untuk dibayangkan, dan cukup jauh untuk terasa berbeda.

Di dalam kawasan, ada satu dinding yang menarik perhatian saya. Dinding itu penuh dengan gambar, seperti komik. Itu gambar suasana yang meriah. Ada pementasan barongsai, transaksi jual-beli, sampai seorang—bukan sekor—sapi berkaki dua dan bertangan bertarik tambang dengan dua orang pria. Gambar-gambar di dinding itu sangat karikatural dan ikonik. Tak heran jika banyak pengunjung yang menjadikannya sebagai latar foto.

Makan di Restoran Ayam Goreng Pahlawan Nusantara di kawasan Park Shanghai, Surabaya Timur | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Saya masuk lebih dalam. Menyusuri resto-resto yang tampak seperti pertokoan tua di Cina, dan mendapati ragam kuliner yang bernaung di bawah atap bangunan oriental itu. Ada kedai Ah Pek Kopitiam yang menawarkan suasana nostalgia dengan desain khas kopitiam Peranakan. Interiornya didesain estetik bergaya retro Cina-Melayu yang menjadikannya salah satu spot foto favorit pengunjung. Selain menjadi tempat makan yang nyaman, tampaknya Ah Pek Kopitiam juga cocok untuk nongkrong sore dengan suasana hangat seperti di kedai tua zaman dulu.

Menurut keterangan di halaman digital Pakuwon City, kedaiAh Pek Kopitiam terkenal dengan sajian klasik seperti roti bakar srikaya, telur setengah matang, kopi tarik, nasi Hainan, hingga berbagai mi dan nasi Chinese yang dimasak dengan resep rumahan.

Wah, lihat itu. Ternyata banyak pula restoran non halal di sini. Banyak olahan daging babi yang ditawarkan. Kedai Ru Wei Xiang tampaknya cocok untuk pecinta masakan Chinese tradisional non-halal. Dengan sistem prasmanan, pengunjung dapat memilih langsung aneka lauk yang sudah tersedia di etalase, seperti babi panggang, tumisan oriental, bakpao isi, dan aneka sayuran khas. Sungguh nuansa kaki lima ala Tiongkok daratan.

Saya berhenti di depan restoran ayam goreng. Namanya Ayam Goreng Pahlawan Nusantara. Saya memesan tempat. Ya, sebelum memesan makanan dan minuman, Anda harus memesan tempat lebih dulu. “Masih ada lima antrean, Pak.” Itu dia sebabnya. Banyak orang yang mau makan di resto ini. Sedangkan tempatnya tak cukup menampung semuanya secara bersamaan. Jadi, Anda harus menunggu giliran; menunggu ada meja dan kursi kosong.

“Silakan tunggu di sini dulu, Pak,” ucap pelayan perempuan sambil menunjuk sebuah kursi kecil di samping pintu masuk. Saya duduk. Pelayan itu menutup pintu restoran dan kembali melayani pengunjung yang baru datang. Begitu terus, berulang-ulang, sampai saya mendapatkan meja-kursi dan menyantap ayam goreng lengkap dengan bayam dan labu rebus, sambal bawang, timun, dan kremesan tepung. Ah, pepatah lama itu memang benar: “Ada harga ada rasa”.

Bangunan-bangunan ikonik di Park Shanghai Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Malam beranjak. Hujan mulai turun. Orang-orang menepi, berteduh di teras-teras resto, menunggu giliran payung yang disediakan petugas kawasan. Seorang petugas kebersihan dengan mantel membelah hujan dan mengorek-orek saluran drainase yang mampet. Hujan makin deras. Tapi lagu-lagu Mandarin tetap lantang terdengar.

Saya meninggalkan Park Shanghai ketika hujan sudah benar-benar tinggal tetes terakhir. Tidak ada perasaan spektakuler, tentu saja, dan tidak ada perasaan “harus kembali lagi”. Tapi ada sesuatu yang tertinggal, semacam kesadaran kecil bahwa kota ini terus berusaha menjadi lebih dari dirinya sendiri, dan tampaknya selalu punya cara membuat warganya memiliki lebih banyak alasan untuk menghabiskan gaji bulanan alih-alih menabungnya. Ah, saya kira, begitulah rayuan kota urban.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: CinakulinermallShanghaiSurabayaTionghoaTiongkok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HINDU NUSANTARA MELAMPAUI EKSKLUSIVITAS SAMPRADAYA.

Next Post

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co