5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
in Tualang
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

Museum Geopark Batur│Foto: tatkala.co/Dede

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di kejauhan, siluet Gunung Batur tampak tenang, seolah tidak pernah menyimpan riwayat letusan panjang. Perjalanan pagi itu membawa saya ke Museum Geopark Batur, sebuah ruang yang tidak sekadar memamerkan benda, tetapi merangkai pengetahuan tentang bumi dan kehidupan di sekitarnya.

Museum ini berlokasi di Jalan Raya Penelokan, Batur, Kintamani, sekitar 8,8 kilometer atau 23 menit perjalanan dari Gunung Batur. Dari kawasan Danau Batur, jaraknya bahkan lebih dekat, sekitar 8 kilometer atau 21 menit perjalanan. Sementara dari Kota Denpasar, membutuhkan waktu satu setengah jam untuk sampai di museum tersebut.

Museum ini diresmikan pada 10 Mei 2017, melanjutkan perjalanan panjangnya sejak masih bernama Museum Gunung Api Batur. Perubahan nama menjadi Museum Geopark Batur datang setelah pengembangan oleh Pemerintah Kabupaten Bangli dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, bersama Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi serta Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten Bangli. Transformasi tersebut menandai pergeseran dari museum lokal menjadi bagian dari narasi taman bumi nasional dan mancanegara, sekaligus menegaskan perannya sebagai pusat informasi tentang manfaat dan bahaya gunung berapi di Indonesia.

Museum Geopark Batur│Foto: tatkala.co/Dede

Begitu memasuki lantai pertama, saya langsung berhadapan dengan miniatur besar Gunung Batur dan Danau Batur. Saya mendekat tanpa sadar, mengikuti lekukan kecil yang menggambarkan aliran lava dan bentuk kaldera. Miniatur itu seperti peta yang menyederhanakan sesuatu yang sebelumnya terasa terlalu besar untuk dipahami. Gunung yang tadi saya lihat dari kejauhan kini terasa lebih dekat.

Di sekelilingnya, informasi tentang sejarah Gunung Batur tersusun rapi. Letusan demi letusan, perubahan demi perubahan, dijelaskan tanpa bertele-tele. Saya membaca perlahan, mencoba membayangkan bagaimana bumi bergerak, lalu membentuk kembali dirinya. Ada jarak yang perlahan hilang, antara saya sebagai pengunjung dan gunung sebagai objek yang selama ini hanya saya pandang dari luar.

Saya melanjutkan ke lantai dua, di mana narasi terasa bergeser. Tidak lagi hanya tentang batu dan magma, tetapi juga tentang kehidupan yang tumbuh darinya. Kekayaan budaya Indonesia dan keanekaragaman hayati, khususnya di Bali, dipresentasikan sebagai bagian dari satu kesatuan. Gunung api, di sini, tidak hanya dilihat sebagai ancaman, tetapi juga sebagai sumber kesuburan dan pembentuk tradisi.

Museum Geopark Batur│Foto: tatkala.co/Dede

Di lantai ini terdapat auditorium yang menayangkan film-film tentang geopark dan gunung api, serta pos pengamatan dengan teropong yang mengarah langsung ke Gunung Batur. Saya tidak sempat singgah ke dua titik itu, tetapi keberadaannya terasa penting, sebagai jembatan antara pengetahuan visual dan pengalaman langsung, antara apa yang dipelajari di dalam ruang dan apa yang bisa diamati di luar.

Langkah saya berlanjut ke bagian lain yang menjelaskan lebih dalam tentang gunung api. Proses pembentukannya, material yang dihasilkan saat letusan, tipe-tipe letusan, hingga persebarannya dijelaskan secara sistematis. Saya berhenti di beberapa titik, membaca lebih saksama. Penjelasan itu tidak terasa berat, justru seperti membuka cara baru untuk melihat sesuatu yang sebelumnya saya anggap sederhana: bahwa gunung tidak hanya berdiri, tetapi bekerja.

Kesadaran itu datang perlahan. Gunung api bukanlah peristiwa acak yang tiba-tiba terjadi, melainkan bagian dari sistem bumi yang memiliki pola. Dalam konteks Indonesia yang berada di jalur cincin api, pemahaman seperti ini menjadi terasa dekat, bahkan relevan. Bukan sekadar pengetahuan tambahan, tetapi sesuatu yang seharusnya dimiliki.

Museum Geopark Batur│Foto: tatkala.co/Dede

Menjelang siang, saya keluar dari museum. Udara masih dingin, tetapi kabut mulai terangkat. Gunung Batur terlihat lebih jelas dari sebelumnya. Saya berdiri sejenak, mencoba menghubungkan apa yang baru saja saya pelajari dengan apa yang ada di depan mata. Gunung itu tetap diam, tetapi kini terasa berbeda. Bukan lagi sekadar pemandangan, melainkan bagian dari cerita yang bisa saya pahami, meski belum sepenuhnya.

Dengan tiket masuk Rp5.000 untuk domestik anak-anak dan Rp10.000 untuk domestik dewasa, serta jam operasional dari Senin hingga Kamis pukul 08.00 hingga 16.00 WITA dan Sabtu hingga Minggu pukul 08.00 hingga 14.00 WITA, sementara Jumat dan hari libur nasional tutup, museum ini mungkin terlihat sederhana. Namun pengalaman yang ditawarkannya tidak sesederhana itu. Ia memberi ruang untuk memahami, bukan hanya melihat.

Saat saya beranjak pergi, satu hal terasa menetap. Di tempat seperti Kintamani, di mana alam terus bergerak dalam diam, memahami bukan lagi pilihan. Ia menjadi cara paling masuk akal bagi masyarakat untuk tetap hidup berdampingan. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: BaturGunung BaturKintamaniMuseum Geopark Batur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Next Post

Pascabencana Banjir Bandang, Komunitas Perempuan Bali Utara Lakukan Bakti Sosial di Dusun Alas Arum, Seririt

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails
Next Post
Pascabencana Banjir Bandang, Komunitas Perempuan Bali Utara Lakukan Bakti Sosial di Dusun Alas Arum, Seririt

Pascabencana Banjir Bandang, Komunitas Perempuan Bali Utara Lakukan Bakti Sosial di Dusun Alas Arum, Seririt

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co