25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 24, 2026
in Esai
Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Pagi di Polda Bali: Ketika Hukum Dipanggil

Jumat 24 Maret 2017, gedung Dirkrimsus Polda Bali tidak sekadar menjadi ruang administratif penegakan hukum. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan nilai—antara hukum, martabat adat, dan kegelisahan kolektif.

Kami datang bukan sebagai individu. Kami hadir sebagai bagian dari Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika, dimana sekitar 45 orang lawyer dari berbagai keyakinan bergabung dalam sebuah aksi nyata, bukan sekedar wacana. Sebuah kesadaran bersama bahwa hukum tidak boleh diam ketika kehormatan disentuh.

Kasus yang kami kawal adalah dugaan penghinaan terhadap pecalang—penjaga adat yang bagi masyarakat Bali bukan sekadar aparat keamanan tradisional, tetapi simbol hidup dari kearifan lokal. Ketika simbol itu direndahkan, yang terusik bukan hanya institusi, melainkan rasa harga diri bersama.

Di tengah dinamika itu, hadir seorang figur yang menjadi sorotan publik. Namun sejak awal, kami tidak datang untuk menghakimi siapa pun. Kami datang untuk satu hal sederhana: memastikan hukum bekerja.

Advokat dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Sebagai advokat, kami dituntut untuk berpijak pada fakta dan hukum. Tetapi pengalaman itu mengajarkan saya bahwa hukum tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersentuhan dengan nilai, budaya, dan rasa keadilan yang hidup di masyarakat.

Foto: tangkap layar facebook

Membela pecalang pada saat itu bukan sekadar membela satu kelompok adat. Ia adalah bagian dari menjaga keseimbangan dalam keberagaman Indonesia. Di situlah saya merasakan bahwa profesi advokat memiliki dimensi kebangsaan yang tidak bisa diabaikan.

Kami berdiri di antara dua hal: objektivitas hukum dan sensitivitas sosial. Tidak mudah, tetapi justru di situlah makna profesi ini diuji.

Proses yang Terhenti, Pertanyaan yang Tertinggal

Seiring waktu, proses hukum yang kami harapkan berjalan tuntas justru seperti kehilangan arah. Penetapan tersangka memang terjadi, tetapi langkah berikutnya terasa menggantung.

Sebagai praktisi hukum, saya memahami bahwa tidak semua perkara berujung pada putusan pengadilan. Ada kasus yang berhenti di tengah jalan—karena alasan teknis, strategi, atau dinamika yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Namun sebagai manusia, saya menyimpan pertanyaan: apakah hukum benar-benar berhenti di sana?

Ataukah ia hanya berpindah ruang—dari meja penyidik ke ruang kehidupan yang lebih luas?

Wajah Lain Seorang Aktivis

Waktu memberi jarak. Dan jarak sering kali memberi kejernihan.

Saya mulai melihat sosok yang dulu kami hadapi tidak semata sebagai subjek perkara, tetapi sebagai manusia dengan perjalanan panjang. Ia pernah berada dalam dunia advokasi, koordinator sebuah lembaga bantuan hukum, membela mereka yang tidak bersuara, berdiri untuk keadilan.

Di titik ini, saya belajar bahwa manusia tidak pernah tunggal. Ia tidak bisa diringkas dalam satu peristiwa. Seseorang bisa menjadi pembela di satu fase hidupnya, lalu berada di posisi yang berbeda di fase lain.

Dan mungkin, di antara dua titik itu, ada proses batin yang tidak pernah sepenuhnya kita pahami.

Ketika Hukum Menemukan Jalannya

Bulan dan tahun berlalu. Kasus yang kami dampingi perlahan menjadi kenangan. Namun kehidupan memiliki caranya sendiri untuk menyelesaikan apa yang tampak tertunda.

Ketika kemudian muncul perkara lain yang berujung pada vonis bersalah, saya tidak melihatnya sebagai kelanjutan langsung dari kasus yang kami tangani. Secara hukum, keduanya berdiri sendiri.

Namun secara batin, saya tidak bisa menghindari satu perenungan: bahwa ada hukum yang bekerja melampaui sistem formal.

Hukum manusia bisa tertunda. Tetapi hukum kehidupan berjalan tanpa henti.

Sebagian orang menyebutnya kebetulan. Sebagian lain menyebutnya konsekuensi. Kita mengenalnya sebagai hukum sebab-akibat—sebuah prinsip yang sederhana, tetapi dalam maknanya.

Ikrar Kembali: Sebuah Titik Balik

Perjalanan itu tidak berhenti pada vonis. Setelah menjalani proses hukum, muncul pernyataan kembali kepada nilai-nilai kebangsaan—kesetiaan pada negara dan dasar ideologi.

Bagi saya, ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah momen refleksi. Sebuah titik di mana manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.

Saya tidak melihatnya sebagai perubahan yang instan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang. Karena pada akhirnya, setiap manusia memiliki kemungkinan untuk kembali—kepada dirinya, kepada kesadarannya, kepada nilai yang lebih dalam.

Dan di titik itu, saya tidak lagi melihat “pihak yang berseberangan”. Saya melihat sesama manusia.

Hukum dan Kemanusiaan

Pengalaman ini mengubah cara saya memandang hukum. Hukum tetap penting. Ia adalah fondasi. Namun ia bukan satu-satunya cara untuk memahami manusia.

Di balik setiap perkara, ada cerita yang tidak tertulis dalam berkas. Ada pergulatan batin, ada pilihan, ada konsekuensi.

Sebagai advokat, kami dituntut untuk objektif. Tetapi sebagai manusia, saya tidak bisa menutup mata bahwa setiap orang membawa kompleksitasnya sendiri.

Dan di titik itulah kita semua belajar—bahwa keadilan tidak selalu hitam putih.

Kenangan yang Menjadi Pelajaran

Kini, ketika saya mengingat kembali hari-hari bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika, yang tersisa bukan hanya detail perkara. Yang tersisa adalah pelajaran.

Kami datang dengan semangat membela. Tetapi tanpa kami sadari, kami juga sedang belajar.

Belajar bahwa:

  • hukum tidak selalu bergerak lurus
  • keadilan tidak selalu hadir segera
  • dan manusia tidak pernah sesederhana yang terlihat

Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan saya—bukan hanya sebagai advokat, tetapi sebagai manusia.

Hukum yang Tidak Pernah Usai

Hari ini, saya melihat kembali peristiwa itu dengan kejernihan yang berbeda. Apa yang dulu terasa sebagai ketidakselesaian, kini tampak sebagai bagian dari proses yang lebih luas.

Hukum manusia bisa berhenti. Berkas bisa ditutup. Perkara bisa mengendap. Namun hukum kehidupan tidak pernah benar-benar usai. Ia berjalan dalam diam. Dalam waktu. Dalam peristiwa yang kadang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian.

Hingga pada akhirnya, ia mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri. Dan mungkin, di situlah keadilan menemukan maknanya yang paling dalam.

Tags: advokathukum
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Next Post

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co