28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 24, 2026
in Esai
Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Pagi di Polda Bali: Ketika Hukum Dipanggil

Jumat 24 Maret 2017, gedung Dirkrimsus Polda Bali tidak sekadar menjadi ruang administratif penegakan hukum. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan nilai—antara hukum, martabat adat, dan kegelisahan kolektif.

Kami datang bukan sebagai individu. Kami hadir sebagai bagian dari Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika, dimana sekitar 45 orang lawyer dari berbagai keyakinan bergabung dalam sebuah aksi nyata, bukan sekedar wacana. Sebuah kesadaran bersama bahwa hukum tidak boleh diam ketika kehormatan disentuh.

Kasus yang kami kawal adalah dugaan penghinaan terhadap pecalang—penjaga adat yang bagi masyarakat Bali bukan sekadar aparat keamanan tradisional, tetapi simbol hidup dari kearifan lokal. Ketika simbol itu direndahkan, yang terusik bukan hanya institusi, melainkan rasa harga diri bersama.

Di tengah dinamika itu, hadir seorang figur yang menjadi sorotan publik. Namun sejak awal, kami tidak datang untuk menghakimi siapa pun. Kami datang untuk satu hal sederhana: memastikan hukum bekerja.

Advokat dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Sebagai advokat, kami dituntut untuk berpijak pada fakta dan hukum. Tetapi pengalaman itu mengajarkan saya bahwa hukum tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersentuhan dengan nilai, budaya, dan rasa keadilan yang hidup di masyarakat.

Foto: tangkap layar facebook

Membela pecalang pada saat itu bukan sekadar membela satu kelompok adat. Ia adalah bagian dari menjaga keseimbangan dalam keberagaman Indonesia. Di situlah saya merasakan bahwa profesi advokat memiliki dimensi kebangsaan yang tidak bisa diabaikan.

Kami berdiri di antara dua hal: objektivitas hukum dan sensitivitas sosial. Tidak mudah, tetapi justru di situlah makna profesi ini diuji.

Proses yang Terhenti, Pertanyaan yang Tertinggal

Seiring waktu, proses hukum yang kami harapkan berjalan tuntas justru seperti kehilangan arah. Penetapan tersangka memang terjadi, tetapi langkah berikutnya terasa menggantung.

Sebagai praktisi hukum, saya memahami bahwa tidak semua perkara berujung pada putusan pengadilan. Ada kasus yang berhenti di tengah jalan—karena alasan teknis, strategi, atau dinamika yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Namun sebagai manusia, saya menyimpan pertanyaan: apakah hukum benar-benar berhenti di sana?

Ataukah ia hanya berpindah ruang—dari meja penyidik ke ruang kehidupan yang lebih luas?

Wajah Lain Seorang Aktivis

Waktu memberi jarak. Dan jarak sering kali memberi kejernihan.

Saya mulai melihat sosok yang dulu kami hadapi tidak semata sebagai subjek perkara, tetapi sebagai manusia dengan perjalanan panjang. Ia pernah berada dalam dunia advokasi, koordinator sebuah lembaga bantuan hukum, membela mereka yang tidak bersuara, berdiri untuk keadilan.

Di titik ini, saya belajar bahwa manusia tidak pernah tunggal. Ia tidak bisa diringkas dalam satu peristiwa. Seseorang bisa menjadi pembela di satu fase hidupnya, lalu berada di posisi yang berbeda di fase lain.

Dan mungkin, di antara dua titik itu, ada proses batin yang tidak pernah sepenuhnya kita pahami.

Ketika Hukum Menemukan Jalannya

Bulan dan tahun berlalu. Kasus yang kami dampingi perlahan menjadi kenangan. Namun kehidupan memiliki caranya sendiri untuk menyelesaikan apa yang tampak tertunda.

Ketika kemudian muncul perkara lain yang berujung pada vonis bersalah, saya tidak melihatnya sebagai kelanjutan langsung dari kasus yang kami tangani. Secara hukum, keduanya berdiri sendiri.

Namun secara batin, saya tidak bisa menghindari satu perenungan: bahwa ada hukum yang bekerja melampaui sistem formal.

Hukum manusia bisa tertunda. Tetapi hukum kehidupan berjalan tanpa henti.

Sebagian orang menyebutnya kebetulan. Sebagian lain menyebutnya konsekuensi. Kita mengenalnya sebagai hukum sebab-akibat—sebuah prinsip yang sederhana, tetapi dalam maknanya.

Ikrar Kembali: Sebuah Titik Balik

Perjalanan itu tidak berhenti pada vonis. Setelah menjalani proses hukum, muncul pernyataan kembali kepada nilai-nilai kebangsaan—kesetiaan pada negara dan dasar ideologi.

Bagi saya, ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah momen refleksi. Sebuah titik di mana manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.

Saya tidak melihatnya sebagai perubahan yang instan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang. Karena pada akhirnya, setiap manusia memiliki kemungkinan untuk kembali—kepada dirinya, kepada kesadarannya, kepada nilai yang lebih dalam.

Dan di titik itu, saya tidak lagi melihat “pihak yang berseberangan”. Saya melihat sesama manusia.

Hukum dan Kemanusiaan

Pengalaman ini mengubah cara saya memandang hukum. Hukum tetap penting. Ia adalah fondasi. Namun ia bukan satu-satunya cara untuk memahami manusia.

Di balik setiap perkara, ada cerita yang tidak tertulis dalam berkas. Ada pergulatan batin, ada pilihan, ada konsekuensi.

Sebagai advokat, kami dituntut untuk objektif. Tetapi sebagai manusia, saya tidak bisa menutup mata bahwa setiap orang membawa kompleksitasnya sendiri.

Dan di titik itulah kita semua belajar—bahwa keadilan tidak selalu hitam putih.

Kenangan yang Menjadi Pelajaran

Kini, ketika saya mengingat kembali hari-hari bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika, yang tersisa bukan hanya detail perkara. Yang tersisa adalah pelajaran.

Kami datang dengan semangat membela. Tetapi tanpa kami sadari, kami juga sedang belajar.

Belajar bahwa:

  • hukum tidak selalu bergerak lurus
  • keadilan tidak selalu hadir segera
  • dan manusia tidak pernah sesederhana yang terlihat

Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan saya—bukan hanya sebagai advokat, tetapi sebagai manusia.

Hukum yang Tidak Pernah Usai

Hari ini, saya melihat kembali peristiwa itu dengan kejernihan yang berbeda. Apa yang dulu terasa sebagai ketidakselesaian, kini tampak sebagai bagian dari proses yang lebih luas.

Hukum manusia bisa berhenti. Berkas bisa ditutup. Perkara bisa mengendap. Namun hukum kehidupan tidak pernah benar-benar usai. Ia berjalan dalam diam. Dalam waktu. Dalam peristiwa yang kadang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian.

Hingga pada akhirnya, ia mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri. Dan mungkin, di situlah keadilan menemukan maknanya yang paling dalam.

Tags: advokathukum
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Next Post

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co