7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 24, 2026
in Esai
Jejak Hukum, Jejak Kehidupan: Kenangan Bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Pagi di Polda Bali: Ketika Hukum Dipanggil

Jumat 24 Maret 2017, gedung Dirkrimsus Polda Bali tidak sekadar menjadi ruang administratif penegakan hukum. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan nilai—antara hukum, martabat adat, dan kegelisahan kolektif.

Kami datang bukan sebagai individu. Kami hadir sebagai bagian dari Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika, dimana sekitar 45 orang lawyer dari berbagai keyakinan bergabung dalam sebuah aksi nyata, bukan sekedar wacana. Sebuah kesadaran bersama bahwa hukum tidak boleh diam ketika kehormatan disentuh.

Kasus yang kami kawal adalah dugaan penghinaan terhadap pecalang—penjaga adat yang bagi masyarakat Bali bukan sekadar aparat keamanan tradisional, tetapi simbol hidup dari kearifan lokal. Ketika simbol itu direndahkan, yang terusik bukan hanya institusi, melainkan rasa harga diri bersama.

Di tengah dinamika itu, hadir seorang figur yang menjadi sorotan publik. Namun sejak awal, kami tidak datang untuk menghakimi siapa pun. Kami datang untuk satu hal sederhana: memastikan hukum bekerja.

Advokat dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Sebagai advokat, kami dituntut untuk berpijak pada fakta dan hukum. Tetapi pengalaman itu mengajarkan saya bahwa hukum tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersentuhan dengan nilai, budaya, dan rasa keadilan yang hidup di masyarakat.

Foto: tangkap layar facebook

Membela pecalang pada saat itu bukan sekadar membela satu kelompok adat. Ia adalah bagian dari menjaga keseimbangan dalam keberagaman Indonesia. Di situlah saya merasakan bahwa profesi advokat memiliki dimensi kebangsaan yang tidak bisa diabaikan.

Kami berdiri di antara dua hal: objektivitas hukum dan sensitivitas sosial. Tidak mudah, tetapi justru di situlah makna profesi ini diuji.

Proses yang Terhenti, Pertanyaan yang Tertinggal

Seiring waktu, proses hukum yang kami harapkan berjalan tuntas justru seperti kehilangan arah. Penetapan tersangka memang terjadi, tetapi langkah berikutnya terasa menggantung.

Sebagai praktisi hukum, saya memahami bahwa tidak semua perkara berujung pada putusan pengadilan. Ada kasus yang berhenti di tengah jalan—karena alasan teknis, strategi, atau dinamika yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Namun sebagai manusia, saya menyimpan pertanyaan: apakah hukum benar-benar berhenti di sana?

Ataukah ia hanya berpindah ruang—dari meja penyidik ke ruang kehidupan yang lebih luas?

Wajah Lain Seorang Aktivis

Waktu memberi jarak. Dan jarak sering kali memberi kejernihan.

Saya mulai melihat sosok yang dulu kami hadapi tidak semata sebagai subjek perkara, tetapi sebagai manusia dengan perjalanan panjang. Ia pernah berada dalam dunia advokasi, koordinator sebuah lembaga bantuan hukum, membela mereka yang tidak bersuara, berdiri untuk keadilan.

Di titik ini, saya belajar bahwa manusia tidak pernah tunggal. Ia tidak bisa diringkas dalam satu peristiwa. Seseorang bisa menjadi pembela di satu fase hidupnya, lalu berada di posisi yang berbeda di fase lain.

Dan mungkin, di antara dua titik itu, ada proses batin yang tidak pernah sepenuhnya kita pahami.

Ketika Hukum Menemukan Jalannya

Bulan dan tahun berlalu. Kasus yang kami dampingi perlahan menjadi kenangan. Namun kehidupan memiliki caranya sendiri untuk menyelesaikan apa yang tampak tertunda.

Ketika kemudian muncul perkara lain yang berujung pada vonis bersalah, saya tidak melihatnya sebagai kelanjutan langsung dari kasus yang kami tangani. Secara hukum, keduanya berdiri sendiri.

Namun secara batin, saya tidak bisa menghindari satu perenungan: bahwa ada hukum yang bekerja melampaui sistem formal.

Hukum manusia bisa tertunda. Tetapi hukum kehidupan berjalan tanpa henti.

Sebagian orang menyebutnya kebetulan. Sebagian lain menyebutnya konsekuensi. Kita mengenalnya sebagai hukum sebab-akibat—sebuah prinsip yang sederhana, tetapi dalam maknanya.

Ikrar Kembali: Sebuah Titik Balik

Perjalanan itu tidak berhenti pada vonis. Setelah menjalani proses hukum, muncul pernyataan kembali kepada nilai-nilai kebangsaan—kesetiaan pada negara dan dasar ideologi.

Bagi saya, ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah momen refleksi. Sebuah titik di mana manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.

Saya tidak melihatnya sebagai perubahan yang instan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang. Karena pada akhirnya, setiap manusia memiliki kemungkinan untuk kembali—kepada dirinya, kepada kesadarannya, kepada nilai yang lebih dalam.

Dan di titik itu, saya tidak lagi melihat “pihak yang berseberangan”. Saya melihat sesama manusia.

Hukum dan Kemanusiaan

Pengalaman ini mengubah cara saya memandang hukum. Hukum tetap penting. Ia adalah fondasi. Namun ia bukan satu-satunya cara untuk memahami manusia.

Di balik setiap perkara, ada cerita yang tidak tertulis dalam berkas. Ada pergulatan batin, ada pilihan, ada konsekuensi.

Sebagai advokat, kami dituntut untuk objektif. Tetapi sebagai manusia, saya tidak bisa menutup mata bahwa setiap orang membawa kompleksitasnya sendiri.

Dan di titik itulah kita semua belajar—bahwa keadilan tidak selalu hitam putih.

Kenangan yang Menjadi Pelajaran

Kini, ketika saya mengingat kembali hari-hari bersama Solidaritas Advokat Bhinneka Tunggal Ika, yang tersisa bukan hanya detail perkara. Yang tersisa adalah pelajaran.

Kami datang dengan semangat membela. Tetapi tanpa kami sadari, kami juga sedang belajar.

Belajar bahwa:

  • hukum tidak selalu bergerak lurus
  • keadilan tidak selalu hadir segera
  • dan manusia tidak pernah sesederhana yang terlihat

Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan saya—bukan hanya sebagai advokat, tetapi sebagai manusia.

Hukum yang Tidak Pernah Usai

Hari ini, saya melihat kembali peristiwa itu dengan kejernihan yang berbeda. Apa yang dulu terasa sebagai ketidakselesaian, kini tampak sebagai bagian dari proses yang lebih luas.

Hukum manusia bisa berhenti. Berkas bisa ditutup. Perkara bisa mengendap. Namun hukum kehidupan tidak pernah benar-benar usai. Ia berjalan dalam diam. Dalam waktu. Dalam peristiwa yang kadang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian.

Hingga pada akhirnya, ia mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri. Dan mungkin, di situlah keadilan menemukan maknanya yang paling dalam.

Tags: advokathukum
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

AI: Alat Bantu, Bukan Pembantu

Next Post

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co